Bab V PERTANGGUNGJAWABAN
A. Pelaporan Keuangan
1. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah
Sistem akuntansi keuangan daerah adalah sebuah sistem informasi akuntansi. Akuntansi keuangan daerah sebagai suatu sistem merupakan proses pengolahan data transaksi keuangan daerah dalam rangka penyusunan sebuah laporan keuangan yang berfungsi untuk pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintah daerah. Bagan umum sistem akuntansi keuangan daerah dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 5.1 Bagan Umum Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
a. Masukan (Input) Sistem Akuntansi
Masukan sistem informasi akuntansi adalah dokumen sumber, yang berfungsi sebagai:
1) Media pencatat data. Transaksi yang terjadi harus segera dicatat. Data‐data yang harus dicatat adalah data‐data yang relevan dengan kebutuhan informasi
INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME
Pengambilan Keputusan/
Kebijakan Pemerintah Daerah
• Laporan Keuangan
• Jurnal
• Posting
• Ikhtisar
• Dokumen Sumber Transaksi Keuangan
yang akan disusun. Sebagai contoh, tidak seluruh data berkaitan dengan pihak penerima SPM LS harus dicatat. Dokumen sumber tidak akan mencatat data pihak penerima SPM LS tersebut secara lengkap, karena tidak semua data relevan dengan kebutuhan informasi, sedangkan data nomor rekening bank dan identitas pemegang kuasa rekening ke mana pembayaran akan disetorkan harus dicatat dalam dokumen sumber.
2) Media pengarsipan. Dokumen sumber harus diarsipkan, karena sewaktu‐
waktu diperlukan untuk bahan verifikasi, rekonsiliasi, dan audit.
3) Media komunikasi dan otorisasi. Dokumen sumber menjadi media komunikasi karena digunakan oleh berbagai pihak yang terkait dengan transaksi. Sebagai contoh, dokumen SP2D mengomunikasikan kepada pihak bank tentang jumlah uang yang harus dibayarkan dan kepada siapa. Dokumen sumber menjadi media otorisasi, karena persetujuan seorang otorisator dinyatakan dengan penandatanganan dokumen sumber. Sebagai contoh, Kepala SKPD menyatakan persetujuan pengeluaran biaya perjalanan dinas dengan penandatanganan daftar rincian biaya dan surat perintah perjalanan dinas (SPPD).
4) Media pembakuan operasi. Dokumen‐dokumen sumber biasanya dibuat dalam bentuk formulir tertentu. Item‐item isian dalam formulir menentukan apa yang perlu dicatat dari suatu transaksi, dan di dalam formulir juga dapat ditentukan proses‐ proses yang harus dilaksanakan selanjutnya, misalnya, pada suatu formulir terdapat item isian untuk mencatat pelaksana input dan pelaksana verifikasi, serta tanggal pelaksanaannya.
b. Proses Akuntansi
Proses sistem informasi akuntansi berkaitan dengan jurnal dan register‐register transaksi. Penyusunan jurnal dan register dapat dilaksanakan secara manual atau terkomputerisasi. Proses akuntansi, baik secara manual maupun terkomputerisasi, selalu melalui proses dasar akuntansi seperti pada gambar berikut:
Gambar 5.2 Proses Dasar Akuntansi
Skema pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Transaksi adalah kegiatan organisasi yang berakibat pada perubahan posisi keuangan organisasi. Misalnya, transaksi pembayaran gaji pegawai akan mengakibatkan penambahan jumlah belanja dan pengurangan kas daerah, karena transaksi tersebut dibiayai melalui mekanisme surat perintah membayar langsung (SPM‐LS).
2) Transaksi pembayaran gaji tersebut dicatat dalam dokumen sumber, yaitu daftar gaji, SPM‐LS, dan SP2D (surat perintah pencairan dana). Dokumen yang dapat dijadikan dokumen sumber atas transaksi ini adalah SPM‐LS dan SP2D, sedangkan daftar gaji berfungsi sebagai dokumen pendukung. Berdasarkan SPM‐LS dan SP2D penjurnalan dilaksanakan.
3) Penjurnalan adalah proses untuk mencatat transaksi sesuai perkiraan‐
perkiraan yang berubah posisi atau saldonya secara kronologis. Jurnal pada akuntansi pemerintah adalah jurnal berpasangan, artinya setiap transaksi dilakukan penjurnalan dengan jumlah yang seimbang antara sisi Debet dan Kredit pada perkiraan‐perkiraan terkait.
4) Setelah jurnal tersusun, dilaksanakan posting yaitu proses menempatkan pengaruh‐pengaruh jurnal pada Buku Besar perkiraan yang terkait. Posting dapat dilakukan setiap selesai penjurnalan, bisa juga dilaksanakan setelah terkumpul jurnal untuk periode tertentu. Hasil proses posting adalah Buku Besar.
Transaksi
Dokumentasi
Dokumen Sumber
Penjurnalan
Jurnal
Posting Peringkasan Pengerjaan kertas kerja penyusunan Laporan keuangan
Laporan Keuangan Neraca
Percobaan Buku Besar
5) Proses berikutnya dalam proses dasar akuntansi adalah peringkasan.
Peringkasan adalah menghitung saldo akhir Buku Besar tiap perkiraan.
Kemudian, hasil penghitungan saldo Buku Besar disusun dalam Neraca Percobaan. Neraca Percobaan inilah dasar bagi pengerjaan kertas kerja penyusunan laporan keuangan. Setelah kertas kerja penyusunan laporan keuangan selesai, laporan keuangan dapat dihasilkan.
c. Keluaran (Output) Sistem Akuntansi
Proses dasar akuntansi tersebut menghasilkan output berupa laporan‐laporan keuangan.
d. Hasil (Outcome) Sistem Akuntansi
Laporan Keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintah merupakan laporan keuangan yang andal (reliable). Laporan yang andal mampu menghasilkan sebuah informasi dalam pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintah daerah, serta para pengguna laporan keuangan lainnya seperti DPRD, masyarakat pengusaha, serta para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya.
2. Standar Akuntansi Pemerintah
Standar akuntansi pemerintahan (SAP), sebagaimana diatur dalam PP 71 Tahun 2010, adalah prinsip‐prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. SAP dinyatakan dalam bentuk pernyataan standar akuntansi pemerintahan, yang selanjutnya disebut PSAP. PSAP terdiri dari:
• PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan;
• PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran Berbasis Kas;
• PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas;
• PSAP Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;
• PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan;
• PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi;
• PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;
• PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan;
• PSAP Nomor 09 tentang Akuntansi Kewajiban;
• PSAP Nomor 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Operasi yang Tidak Dilanjutkan;
• PSAP Nomor 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi;
• PSAP Nomor 12 tentang Laporan Operasional.
Undang‐Undang Nomor 17/2003 Pasal 36 ayat (1) menyatakan ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual dilaksanakan selambat‐lambatnya dalam 5 (lima) tahun. Undang‐Undang Nomor 1 Tahun 2004 pasal 70 ayat (2) juga menyatakan ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual dilaksanakan selambat‐lambatnya tahun anggaran 2008.
Berdasarkan hal tersebut maka SAP Akrual dikembangkan dari SAP yang ditetapkan dalam PP 24/2005 dengan mengacu pada International Public Sector Accounting Standards (IPSAS) dan memerhatikan peraturan perundangan serta kondisi Indonesia.
Pada tahun 2010 telah diterbitkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Pertimbangan pengembangan SAP berdasarkan pada PP 24/2005 adalah sebagai berikut:
• SAP yang ditetapkan dengan PP 24/2005 berbasis kas menuju akrual sebagian besar telah mengacu pada praktik akuntansi berbasis akrual,
• Para pengguna yang sudah terbiasa dengan SAP PP 24/2005 dapat melihat kesinambungannya.
Lingkup pengaturan PP Nomor 71 Tahun 2010 mencakup:
a. SAP berbasis akrual dan SAP berbasis kas menuju akrual.
b. SAP berbasis akrual terdapat pada Lampiran I dan berlaku sejak tanggal ditetapkan dan dapat segera diterapkan oleh setiap entitas.
c. SAP berbasis kas menuju akrual pada Lampiran II berlaku selama masa transisi bagi entitas yang belum siap untuk menerapkan SAP berbasis akrual.
Dalam hal penerapan basis akrual, PP 71 tahun 2010 mengatur sebagai berikut.
a. Penerapan SAP berbasis akrual dapat dilaksanakan secara bertahap dari penerapan SAP berbasis kas menuju akrual menjadi penerapan SAP berbasis akrual.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan SAP berbasis akrual secara bertahap pada pemerintah pusat diatur dengan peraturan Menteri Keuangan.
c. Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan SAP berbasis akrual secara bertahap pada pemerintah daerah diatur dengan peraturan Menteri Dalam Negeri.
3. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk mengetahui nilai sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan operasional pemerintahan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang‐undangan.
a. Laporan Realisasi Semester Pertama Anggaran Pendapatan dan Belanja
Kepala SKPD menyusun laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan tersebut disertai dengan prognosis untuk enam bulan berikutnya.Laporan disiapkan oleh PPK‐SKPD dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran untuk ditetapkan paling lama tujuh hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir.
Pejabat pengguna anggaran menyampaikan laporan tersebut kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan realisasi semester pertama APBD, paling lama 10 hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. Selanjutnya PPKD menyusun laporan realisasi semester pertama APBD dengan cara menggabungkan seluruh laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD, paling lambat minggu kedua bulan Juli dan disampaikan kepada sekretaris daerah.
Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk enam bulan berikutnya disampaikan kepada kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Juli tahun anggaran berkenaan untuk ditetapkan. Selanjutnya laporan tersebut disampaikan kepada DPRD paling lambat akhir bulan.
b. Laporan Tahunan
Laporan tahunan terdiri dari laporan keuangan yang disusun oleh SKPD dan laporan keuangan pemerintah daerah yang disusun oleh PPKD.
1) Laporan Keuangan SKPD
SKPD menyusun dan melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD secara periodik yang meliputi:
• Laporan Realisasi Anggaran SKPD;
• Neraca SKPD; dan
• Catatan atas Laporan Keuangan SKPD.
Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan.
Laporan realisasi anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung oleh laporan realisasi anggaran terdiri dari:
a) Pendapatan, adalah penerimaan bendahara umum negara/ daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
b) Belanja, adalah semua pengeluaran oleh bendahara umum negara/daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
c) Transfer, adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. Transfer merupakan bagian dari LRA pemerintah pusat, dalam LRA kementerian negara/lembaga tidak ada bagian transfer.
d) Pembiayaan (financing), adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun‐tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Masing‐masing unsur didefinisikan sebagai berikut.
a) Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber‐
sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
b) Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.
c) Ekuitas dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah.
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam LRA, neraca, dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam SAP serta ungkapan‐ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan hal‐hal sebagai berikut:
a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;
c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan‐kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi‐transaksi dan kejadian‐kejadian penting lainnya;
d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh standar akuntansi emerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan;
e) Mengungkapkan informasi untuk pos‐pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas; dan
f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan pada lembar muka laporan keuangan.
Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun laporan keuangan tersebut sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD pada satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan dan menyampaikannya kepada kepala daerah melalui PPKD paling lambat dua bulan setelah tahun anggaran berakhir.
2) Konsolidasi Laporan Keuangan
Laporan arus kas pemerintah daerah disusun berdasarkan laporan pertanggungjawaban pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas yang diselenggarakan oleh bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran pada tiap SKPD. Laporan‐laporan pertanggungjawaban tersebut dianalisis dan diverifikasi menggunakan catatan pada bendahara umum daerah (BUD) beserta dokumen‐dokumen berupa nota debet dan kredit dari bank/lembaga keuangan/kantor pos yang mengadministrasikan kas daerah. Setelah proses analisis, verifikasi, dan rekonsiliasi, laporan pertanggungjawaban tersebut direkapitulasi untuk menyusun laporan arus kas pemerintah daerah.
Sedikit berbeda, Laporan realisasi anggaran dan neraca pemerintah daerah tidak disusun dengan merekapitulasi LRA dan neraca SKPD‐SKPD, melainkan dengan cara konsolidasi. Perbedaan rekapitulasi dan konsolidasi adalah adanya proses eliminasi perkiraan timbal balik. Perkiraan timbal balik adalah perkiraan yang mencatat transaksi timbal balik antar entitas. Sebagai contoh, rekening timbal balik antara pemerintah daerah dengan SKPD adalah “R/K SKPD” pada Pemerintah Daerah dan “R/K Pemda” pada SKPD. Saldo debet atau saldo kredit pada perkiraan timbal balik menunjukkan adanya hak atau kewajiban suatu entitas kepada entitas lainnya. Misalnya, “R/K Pemda” pada neraca Dinas A bersaldo kredit, maka hal ini berarti Dinas A memiliki kewajiban kepada pemerintah daerah. Contoh lain, “R/K Sekretariat” pada neraca pemerintah daeraqh bersaldo debit, maka hal ini berarti pemerintah daerah memiliki hak kepada sekretariat sebagai SKPD. Dalam proses konsolidasi, perkiraan‐perkiraan timbal balik dieliminasi. Jurnal eliminasi dilaksanakan saat penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. Jadi, merupakan kolom tersendiri pada kertas kerja penyusunan laporan keuangan yang berformat neraca lajur.
3) Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, setiap pemerintah daerah selaku entitas pelaporan wajib menyusun dan menyajikan laporan keuangan dan laporan kinerja. Laporan keuangan pemerintah daerah terdiri dari:
a) Laporan Realisasi Anggaran, b) Neraca,
c) Laporan Arus Kas, yaitu laporan yang menyajikan arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi aset non keuangan, arus kas dari aktivitas pembiayaan, dan arus kas dari aktivitas non anggaran yang diperbandingkan dengan periode sebelumnya.
d) Catatan atas Laporan Keuangan.
Pejabat pengelola keuangan daerah (PPKD) selaku BUD menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah dan menyampaikannya kepada kepala daerah. Laporan keuangan tersebut disampaikan selambat‐lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Laporan keuangan pemerintah daerah tersebut disusun berdasarkan laporan keuangan SKPD serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah. Laporan keuangan disampaikan oleh kepala daerah kepada Badan Pemeriksa Keuangan selambat‐lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Gubernur/bupati/walikota memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan atas laporan keuangan pemerintah daerah serta koreksi lain berdasarkan SAP.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit BPK, PPKD menyusun rancangan peraturan daerah (perda) tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Rancangan peraturan daerah tersebut disampaikan oleh kepala daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selambat‐
lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama dengan DPRD untuk tingkat pemerintah provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri, dan untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota disampaikan kepada gubernur.
Laporan keuangan yang merupakan bagian dari Perda tentang pertanggungjawaban APBD harus dilampiri dengan laporan keuangan BLU bentuk ringkas dan ikhtisar laporan keuangan perusahaan daerah.
Laporan keuangan tahunan pemerintah daerah/satuan kerja perangkat daerah harus disertai dengan pernyataan tanggung jawab yang ditandatangani oleh gubernur/bupati /walikota/kepala SKPD. Surat pernyataan tanggung jawab tersebut memuat pernyataan bahwa pengelolaan APBD telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dengan SAP.
4) Laporan Keuangan Sesuai dengan PP 71 Tahun 2010
Unsur Laporan keuangan berdasarkan PP 71 Tahun 2010 antara lain : a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), tingkat SKPD tidak perlu menyusun.
Pada laporan perubahan saldo anggaran lebih, pos‐pos berikut disajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya:
• Saldo anggaran lebih awal;
• Penggunaan saldo anggaran lebih;
• Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran tahun berjalan;
• Koreksi kesalahan pembukuan tahun sebelumnya;
• Lain‐lain;
• Saldo anggaran lebih akhir.
c) Laporan Operasional (LO)
Merupakan laporan keuangan pokok yang menyajikan pos‐pos sebagai berikut:
• Pendapatan‐LO dari kegiatan operasional;
• Beban dari kegiatan operasional ;
• Surplus/defisit dari kegiatan non operasional, bila ada;
• Pos luar biasa, bila ada;
• Surplus/defisit‐LO
d) Laporan Arus Kas (LAK), tingkat SKPD tidak perlu menyusun.
e) Laporan Perubahan Ekuitas
Merupakan laporan keuangan pokok yang menyajikan pos‐pos sebagai berikut:
• Ekuitas awal;
• Surplus/defisit‐LO pada periode bersangkutan;
• Koreksi‐koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas, misalnya: koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode‐periode sebelumnya dan perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap;
• Ekuitas akhir.
f) Catatan atas laporan keuangan (Calk)
c. Penetapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD, paling lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. Rancangan peraturan daerah tersebut memuat laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan, serta dilampiri dengan laporan kinerja yang
telah diperiksa BPK dan ikhtisar laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah.
Persetujuan bersama oleh DPRD paling lama satu bulan terhitung sejak rancangan peraturan daerah diterima.
d. Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama tiga hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada menteri dalam negeri untuk dievaluasi. Hasil evaluasi disampaikan oleh menteri dalam negeri kepada gubernur paling lama 15 hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.
Apabila menteri dalam negeri menyatakan hasil evaluasi sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang‐undangan yang lebih tinggi, gubernur menetapkan rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan gubernur menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur.
Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama tiga hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur kepada bupati/walikota paling lama 15 hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan tersebut.
Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang‐undangan yang lebih tinggi, bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota.