Bab V PERTANGGUNGJAWABAN
C. Pelaporan Lainnya
SISTEMATIKA LPPD
Kata Pengantar ………. (maksimum 2 halaman)
BAB I PENDAHULUAN
A. Dasar Hukum (dijelaskan undang‐undang tentang pembentukan daerah yang bersangkutan)
B. Gambaran Umum Daerah
1. Kondisi Geografis Daerah; batas administrasi daerah, luas wilayah, topografis dan hal lain yang dianggap perlu
2. Gambaran Umum Demografis; jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, struktur usia, jenis pekerjaan, dan pendidikan
3. Kondisi Ekonomi;
a. Potensi Unggulan Daerah
b. Pertumbuhan Ekonomi/PDRB (tiga tahun terakhir)
BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. Visi dan Misi
B. Strategi dan Arah Kebijakan Daerah C. Prioritas daerah
BAB III URUSAN DESENTRALISASI
A. Prioritas Urusan Wajib Yang Dilaksanakan 1. Program dan Kegiatan
2. Tingkat Pencapaian Standar Pelayanan Minimal (dalam hal SPM belum ada, didasarkan atas pencapaian program dan kegiatan)
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyelenggara Urusan Wajib
4. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan, Jumlah Pejabat Struktural dan Fungsional
5. Alokasi Dan Realisasi Anggaran 6. Proses Perencanaan Pembangunan
7. Kondisi Sarana dan Prasarana Yang Digunakan (lengkap, kurang, mencukupi atau lainnya)
8. Permasalahan dan Solusi
9. Hal Lain Yang Dianggap Perlu Untuk Dilaporkan
B. Prioritas Urusan Pilihan Yang Dilaksanakan 1. Program dan Kegiatan
2. Realisasi Program Dan Kegiatan
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyelenggara Urusan Pilihan
4. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan, Jumlah Pejabat Struktural dan Fungsional
5. Alokasi Dan Realisasi Anggaran
6. Proses Perencanaan Pembangunan Yang Dilaksanakan
7. Kondisi Sarana dan Prasarana Yang Digunakan (lengkap, kurang, mencukupi atau lainnya)
8. Permasalahan dan Solusi
9. Hal Lain Yang Dianggap Perlu Untuk Dilaporkan
BAB IV TUGAS PEMBANTUAN
A. Tugas Pembantuan Yang Diterima 1. Dasar Hukum
2. Instansi Pemberi Tugas Pembantuan 3. Program dan Kegiatan
4. Realisasi Pelaksanaan Program Dan Kegiatan 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Yang Digunakan
6. Satuan Kerja Perangkat Daerah Yang Melaksanakan Tugas Pembantuan 7. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan, Jumlah
Pejabat Struktural dan Fungsional
8. Kondisi Sarana dan Prasarana Yang Digunakan (lengkap, kurang, mencukupi atau lainnya)
9. Permasalahan dan Solusi
10. Hal Lain Yang Dianggap Perlu Untuk Dilaporkan
B. Tugas Pembantuan Yang Diberikan 1. Dasar Hukum
2. Urusan Pemerintahan Yang Ditugaspembantuankan kepada Kabupaten/
Kota Dan Desa Untuk Provinsi atau Kepada Desa ntuk Kabupaten/Kota 3. Sumber dan Jumlah Anggaran
4. Sarana dan Prasarana
BAB V TUGAS UMUM PEMERINTAHAN A. Kerja Sama Antar‐daerah
1. Daerah yang Diajak Kerja Sama 2. Dasar Hukum
3. Bidang Kerjasama 4. Nama Kegiatan
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyelenggara Kerjasama Antar Daerah 6. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan
7. Sumber dan Jumlah Anggaran 8. Jangka Waktu Kerjasama 9. Hasil (output) dari Kerjasama 10. Permasalahan Dan Solusi
11. Hal Lain yang Dianggap Perlu Untuk Dilaporkan
B. Kerjasama Daerah Dengan Pihak Ketiga 1. Mitra yang Diajak Kerjasama 2. Dasar Hukum
3. Bidang Kerjasama 4. Nama Kegiatan
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyelenggara Kerjasama Daerah Dengan Pihak Ketiga
6. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan 7. Sumber dan Jumlah Anggaran
8. Jangka Waktu Kerjasama 9. Hasil (output) dari Kerjasama 10. Permasalahan dan Solusi
11. Hal Lain yang Dianggap Perlu Untuk Dilaporkan
C. Koordinasi Dengan Instansi Vertikal Di Daerah 1. Forum Koordinasi
2. Materi Koordinasi
3. Instansi Vertikal Yang Terlibat 4. Sumber dan Jumlah Anggaran
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyelenggara Koordinasi Dengan Instansi Vertikal Di Daerah.
6. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan 7. Jumlah Kegiatan Koordinasi Yang Dilaksanakan
8. Hasil dan Manfaat Koordinasi 9. Tindak Lanjut Hasil Koordinasi
10. Hal Lain yang Dianggap Perlu Untuk Dilaporkan
D. Pembinaan Batas Wilayah
1. Sengketa Batas Wilayah Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/ Kota dan Provinsi (apabila ada)
2. Solusi Yang Dilakukan Dan Tingkat Penyelesaian (selesai, belum selesai, atau perlu tindak lanjut)
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah Penyelenggara Pembinaan Batas Wilayah 4. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan
E. Pencegahan dan Penanggulangan Bencana
1. Bencana yang Terjadi dan Penanggulangannya
2. Status Bencana (Nasional, Regional/Provinsi atau Lokal/Kabupaten/ Kota) 3. Sumber dan Jumlah Anggaran
4. Antisipasi Daerah Dalam Menghadapi Kemungkinan Bencana 5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Menangani Bencana 6. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat, dan Golongan
7. Kelembagaan yang Khusus Dibentuk Menangani Bencana (apabila ada) 8. Potensi Bencana yang Diperkirakan Terjadi
F. Pengelolaan Kawasan Khusus 1. Jenis Kawasan Khusus
2. Status Kepemilikan Kawasan Khusus (pusat, daerah, BUMN, swasta dan atau kerjasama) dan Dasar Hukum Penetapannya
3. Sumber Anggaran
4. Permasalahan Yang Dihadapi
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Menangani Kawasan Khusus 6. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan
G. Penyelenggaraan Ketenteraman Dan Ketertiban Umum
1. Gangguan yang Terjadi (konflik berbasis SARA, anarkisme, separatisme, atau lainnya)
2. Satuan Kerja Perangkat Daerah Yang Menangani
3. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan 4. Penanggulangan dan Kendalanya
5. Keikutsertaan Aparat Keamanan Dalam Penanggulangan 6. Sumber dan Jumlah Anggaran
BAB VI PENUTUP
2. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban
Laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah yang selanjutnya disebut LKPJ adalah laporan yang berupa informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran atau akhir masa jabatan yang disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD.
Dengan dilaksanakannya pemilihan langsung kepala daerah, sebagaimana diatur dalam Undang‐Undang Nomor 32 Tahun 2004, maka hubungan kerja Kepala Daerah dengan DPRD mengalami perubahan yang cukup mendasar. Pemilihan langsung kepala daerah telah menyebabkan adanya kesetaraan dan kemitraan hubungan antara kepala daerah yang menjalankan fungsi eksekutif dengan DPRD yang menjalankan fungsi legislatif dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Kondisi tersebut menjadi landasan terbentuknya hubungan checks and balances yang lebih seimbang. Dalam kaitan hubungan tersebut maka kepala daerah berkewajiban menyampaikan LKPJ kepada DPRD.
Sistematika LKPJ sesuai dengan PP Nomor 03 Tahun 2007 adalah sebagai berikut.
SISTEMATIKA LKPJ
BAB I PENDAHULUAN
A. Dasar Hukum (dijelaskan undang‐undang tentang pembentukan daerah yang bersangkutan dan perundang‐undangan lainnya yang diperlukan)
B. Gambaran Umum Daerah
1. Kondisi Geografis Daerah; batas administrasi daerah, luas wilayah, topografis dan hal lain yang dianggap perlu
2. Gambaran Umum Demografis; jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, struktur usia, jenis pekerjaan, dan pendidikan 3. Kondisi Ekonomi;
a. Potensi Unggulan Daerah b. Pertumbuhan Ekonomi/PDRB
BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH A. Visi dan Misi
B. Strategi dan Arah Kebijakan Daerah (sesuai RPJMD) C. Prioritas Daerah
BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH A. Pengelolaan Pendapatan Daerah
1. Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah 2. Target dan Realisasi Pendapatan
3. Permasalahan Dan Solusi B. Pengelolaan Belanja Daerah
1. Kebijakan Umum Keuangan Daerah 2. Target Dan Realisasi Belanja
3. Permaslahan Dan Solusi
BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH A. Urusan Wajib Yang Dilaksanakan
1. Program dan Kegiatan
2. Realisasi Pelaksanaan Program Dan Kegiatan 3. Permasalahan dan Solusi
B. Urusan Pilihan Yang Dilaksanakan 1. Program dan Kegiatan
2. Realisasi Pelaksanaan Program Dan Kegiatan 3. Permasalahan dan Solusi
BAB V PENYELENGGARAAN TUGAS PEMBANTUAN A. Tugas Pembantuan Yang Diterima
1. Dasar Hukum
2. Instansi Pemberi Tugas Pembantuan
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah Yang Melaksanakan 4. Program Dan Kegiatan Yang Diterima Dan Pelaksanaannya 5. Sumber Dan Jumlah Anggaran
6. Permasalahan Dan Solusi B. Tugas Pembantuan Yang Diberikan
1. Dasar Hukum
2. Urusan Pemerintahan Yang Ditugaspembantuankan Kepada Kabupaten/
Kota Dan Desa Untuk Provinsi Atau Kepada Desa Untuk Kabupaten/Kota 3. Sumber Dan Jumlah Anggaran
4. Sarana dan Prasarana
BAB VI PENYELENGGARARAAN TUGAS UMUM PEMERINTAHAN A. Kerjasama Antar Daerah
1. Kebijakan dan Kegiatan
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan 3. Permasalahan dan Solusi
B. Kerjasama Daerah dengan Pihak Ketiga 1. Kebijakan dan Kegiatan
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan 3. Permasalahan dan Solusi
C. Koordinasi Dengan Instansi Vertikal di Daerah 1. Kebijakan dan Kegiatan
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan 3. Permasalahan dan Solusi
D. Pembinaan Batas Wilayah 1. Kebijakan dan Kegiatan
2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan 3. Permasalahan dan Solusi
E. Pencegahan dan Penanggulangan Bencana
1. Bencana Yang Terjadi dan Penanggulangannya
2. Status Bencana (Nasional, Regional/Provinsi atau Lokal/ Kabupaten/Kota) 3. Sumber dan Jumlah Anggaran
4. Antisipasi Daerah dalam Menghadapi Kemungkinan Bencana 5. Potensi Bencana yang Diperkirakan Terjadi
F. Pengelolaan Kawasan Khusus
1. Jenis Kawasan Khusus yang Menjadi Kewenangan Daerah 2. Sumber Anggaran
3. Permaslahan yang Dihadapi dan Solusi
G. Penyelenggaraan Ketenteraman dan Ketertiban Umum
1. Gangguan yang Tejadi (konflik berbasis SARA, anarkisme, separatisme, atau lainnya)
2. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Menangani Ketenteraman dan Ketertiban Umum
3. Jumlah Pegawai, Kualifikasi Pendidikan, Pangkat dan Golongan 4. Sumber dan Jumlah Anggaran
5. Penaggulangan dan Kendalanya
6. Keikutsertaan Aparat Keamanan dalam Penanggulangan
BAB VII PENUTUP
3. Informasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
Informasi laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat melalui media yang tersedia di daerah. Sebagai kepala daerah hasil pilihan rakyat, kepala daerah berkewajiban menginformasikan laporan penyelenggaran pemerintahan daerah yang telah dilaksanakan kepada masyarakat sebagai perwujudan adanya tranparansi dan akuntabilitas. Informasi LPPD kepada masyarakat disampaikan bersamaan dengan penyampaian LPPD kepada pemerintah. Muatan informasi LPPD merupakan ringkasan LPPD. Masyarakat dapat memberikan tanggapan atas informasi LPPD sebagai bahan masukan perbaikan penyelenggaraan pemerintahan.
~
Bab VI PENGAWASAN
Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari bab ini, peserta diklat diharap mampu menjelaskan dampak audit internal terhadap tata kelola sektor publik.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dijelaskan bahwa pengawasan intern adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, pemantauan, evaluasi, dan kegiatan pengawasan lainnya berupa asistensi, sosialisasi dan konsultansi terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik.
A. PERAN APARATUR PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH
Aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) adalah instansi pemerintah yang dibentuk dengan tugas melaksanakan pengawasan intern di lingkungan pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah, terdiri atas Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), inspektorat jenderal kementerian, inspektorat/unit pengawasan intern pada kementerian negara, inspektorat utama/inspektorat lembaga pemerintah non kementerian, inspektorat/unit pengawasan intern pada kesekretariatan lembaga tinggi negara dan lembaga negara, inspektorat provinsi/kabupaten/kota, dan unit pengawasan intern pada badan hukum pemerintah lainnya sesuai dengan peraturan perundang‐undangan.
Bagi manajemen, APIP adalah kebutuhan. Semakin kompleksnya tugas dan fungsi yang diemban oleh instansi pemerintah, sulit bagi pimpinan unit (manajemen) untuk melaksanakan pengawasan secara langsung terhadap seluruh aktivitas organisasi, sehingga diperlukan unit pengawasan intern yang diperankan oleh APIP.
Peran dan kontribusi APIP terhadap manajemen tersurat dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008, di mana unsur‐unsur SPIP meliputi:
1. Lingkungan Pengendalian
Agar tujuan organisasi tercapai, para pimpinan instansi harus menciptakan dan memelihara lingkungan dalam organisasi yang menetapkan perilaku posistif dan dukungan terhadap pengendalian manajemen dan kesadaran para pimpinan instansi. Lingkungan pengendalian menentukan mutu pengendalian intern, karena merupakan cerminan sikap semua pihak yang terkait dengan organisasi terhadap pentingnya pengendalian dan organisasi itu sendiri
2. Penilaian Risiko
Untuk memberikan jaminan memadai akan tercapainya tujuan organisasi, para pimpinan instansi harus melaksanakan penilaian risiko manajemen. Penilaian risiko ini merupakan upaya untuk meminimalkan kekeliruan dan ketidakberesan dalam pelaksanaan kegiatan dan fungsi organisasi. Ketika para pimpinan instansi dapat menilai risiko‐risiko yang dihadapi, maka perancangan dan implementasi prosedur pengendalian dan pengelolaan risiko dapat dilaksanakan dengan baik.
3. Kegiatan Pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan, prosedur, teknik, dan mekanisme yang memberi arah pada para pimpinan dan membantu mereka meyakini bahwa tindakan‐tindakan yang perlu telah dilakukan untuk mengantisipasi risiko.
4. Informasi dan Komunikasi
Pengelolaan instansi akan lebih baik, jika pihak‐pihak yang terkait dengan organisasi dapat berkomunikasi dan saling berbagi informasi melalui sistem komunikasi dan informasi akuntansi yang memadai. Para pimpinan instansi dan pihak‐pihak ekstern juga dapat memperoleh informasi yang relevan dan handal bagi kebutuhan pengambilan keputusan, sehingga instansi dapat dikelola dengan baik.
5. Pemantauan Pengendalian Intern
Sistem pengendalian intern memiliki sifat dinamis, karena itu efektifitas dan efisiensinya harus dipantau. APIP bertanggung jawab atas pelaksanaan pemantauan ini.
Untuk mewujudkan lingkungan pengendalian yang positif dan kondusif, salah satu caranya adalah dengan mewujudkan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif. Dalam PP 60 Tahun 2008 pasal 11 disebutkan bahwa peran APIP yang efektif sekurang‐kurangnya adalah:
1. memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah;
2. memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah; dan
3. memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah.
Menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota bertanggung jawab atas efektifitas penyelenggaraan SPIP di lingkungan masing‐masing. Untuk memperkuat dan menunjang efektifitas tersebut dilakukan:
1. pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah termasuk akuntabilitas keuangan negara.
2. pembinaan penyelenggaraan SPIP.
Pengawasan intern di atas dilaksanakan oleh aparatur pengawasan intern pemerintah dengan cara:
1. Audit
Audit adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar audit, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, efektivitas, efisiensi, dan keandalan informasi pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah.
Audit yang dilaksanakan oleh APIP antara lain meliputi:
a. Audit keuangan, terdiri dari:
1) Audit keuangan merupakan audit atas laporan keuangan untuk memberikan opini secara indepeden. Dalam penugasannya auditor wajib menggunakan
standar pemeriksaan keuangan negara (SPKN) dan/atau standar profesional akuntan publik (SPAP) sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan.
2) Audit terhadap aspek keuangan tertentu (audit atas laporan keuangan bukan untuk memberikan opini), adalah audit atas aspek tertentu pengelolaan keuangan yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah atas dana yang dibiayai oleh APBN/APBD dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa pengelolaan keuangan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan sebagaimana ketentuan yang berlaku. Contohnya antara lain:
a) Audit atas bagian dari laporan keuangan/informasi keuangan;
b) Audit atas laporan pendapatan dan biaya;
c) Audit atas laporan penerimaan dan pengeluaran kas;
d) Audit atas laporan aktiva tetap, permintaan anggaran;
e) Audit pengelolaan keuangan dana dekonsentrasi;
f) Audit keuangan lainnya.
b. Audit kinerja, adalah audit atas pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah yang terdiri atas audit aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, serta ketaatan pada peraturan. Contoh:
1) Audit dengan sasaran ekonomis, efisiensi, dan efektivitas, serta ketaatan pada peraturan;
2) Post audit dengan sasaran ekonomis, efisiensi, dan efektivitas, serta ketaatan pada peraturan;
3) Audit kinerja atas penyusunan dan pelaksanaan anggaran;
4) Audit kinerja atas penerimaan, penyaluran, dan penggunaan dana;
5) Audit kinerja atas pengelolaan aset dan kewajiban;
6) Audit operasional; dan 7) Audit akuntabilitas.
c. Audit dengan tujuan tertentu merupakan audit selain audit keuangan dan selain audit terhadap aspek keuangan tertentu, contohnya antara lain:
1) Audit ketaatan (compliance audit);
2) Audit investigatif;
3) Audit atas tindak kecurangan/fraud audit;
4) Audit atas kegiatan melawan hukum/illegal act audit;
5) Mengumpulkan data dan/atau informasi intelijen;
6) Fraud audit/illegal act audit/audit atas tindak kecurangan/KKN/audit forensik/audit investigatif (sebagai kelanjutan sebelumnya);
7) Memproses penyelesaian TP/TGR;
8) Melakukan audit atas berbagai indikasi pemborosan;
9) Audit khusus terhadap adanya pengaduan masyarakat terkait dugaan penyimpangan pemeriksaan terhadap kasus kehilangan aset;
10) Membantu aparat penegak hukum (APH) dengan memberikan keterangan ahli/pendampingan pemberian keterangan ahli dalam peradilan kasus hasil pengawasan;
11) Membantu APH melakukan penghitungan kerugian keuangan negara (audit PKKN);
12) Pemeriksaan dan pengecekan atas pengaduan kasus dugaan penyimpangan;
13) Audit atas pengelolaan aset;
14) Memberikan kesaksian dalam peradilan kasus hasil pengawasan non keuangan seperti kasus perceraian, indisipliner pegawai, dan kasus perselingkuhan;
15) Audit atas kepegawaian;
16) Mengkaji sistem pengendalian manajemen objek pengawasan;
17) Pengendalian intern terhadap ketaatan hukum dan peraturan atas proses tender, akuntansi, hibah, bantuan, dan kontrak;
18) Audit ketaatan atas hukum dan peraturan;
19) Audit komprehensif atas aspek pengelolaan keuangan, kepegawaian, dan aset;
20) Audit penyesuaian harga;
21) Audit klaim;
22) Pemeriksaan serentak;
23) Audit lingkungan;
24) Audit sosial: audit bantuan kegiatan (seperti, bantuan langsung tunai/BLT);
25) Audit khusus dalam rangka serah terima jabatan (sertijab)/alih jabatan;
26) Pemeriksaan dalam rangka berakhirnya masa jabatan kepala daerah;
27) Audit atas catatan‐catatan akuntansi intern (internal accounting records);
28) Audit buril, seperti: melaksanakan verifikasi, pengujian, dan penilaian dokumen;
29) Pemeriksaan berkala, pemeriksaan sewaktu‐waktu, maupun pemeriksaan terpadu;
30) Audit teknologi informasi;
31) Audit dengan tujuan tertentu berdasarkan permintaan instansi tertentu;
32) Audit yang bertujuan untuk memberikan pendapat atas pengendalian intern organisasi auditi (an Opinion on the Internal Control in the Charity);
33) Audit atas pinjaman/hibah luar negeri (PHLN);
34) Pemeriksaan pelaksanaan kebijakan;
35) Pemeriksaan dokumen legalisasi data;
36) Pemeriksaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), seperti visa on arrival;
37) Audit untuk tujuan tertentu lainnya, seperti: telaah staf atas penelaahan usulan hukuman disiplin, pelarian napi, keberatan hukuman disiplin, dugaan KKN, penyalahgunaan wewenang.
2. Reviu
Reviu adalah penelaahan ulang bukti‐bukti suatu kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan. Contoh kegiatan reviu yang dilaksanakan oleh oleh APIP antara lain:
a. Reviu atas laporan keuangan;
b. Reviu atas sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP);
c. Reviu atas rencana kegiatan dan anggaran (RKA);
d. Reviu atas usulan revisi yang mengubah plafon anggaran;
e. Reviu atas aspek keuangan tertentu;
f. Reviu aspek kinerja tertentu;
g. Reviu periodik atas pengelolaan keuangan;
h. Reviu atas aspek tertentu penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan;
i. Reviu atas hasil kajian pengawasan tertentu.
3. Evaluasi
Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan hasil/prestasi suatu kegiatan dengan standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan, dan menentukan faktor‐faktor yang memengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan.
Contoh kegiatan evaluasi yang dilaksanakan oleh APIP antara lain:
a. Evaluasi dan penilaian atas efektivitas proses tata kelola;
b. Evaluasi dan penilaian atas efektivitas manajemen risiko;
c. Evaluasi dan penilaian atas efektivitas penerapan sistem pengendalian intern;
d. Evaluasi atas efektivitas suatu program;
e. Evaluasi kelembagaan;
f. Evaluasi kebijakan;
g. Evaluasi strategi pelaksanaan kegiatan;
h. Evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (AKIP).
4. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penilaian kemajuan suatu program/kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Contoh kegiatan pemantauan yang dilaksanakan oleh APIP antara lain:
a. Pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan;
b. Pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan;
c. Pemantauan realisasi penyerapan anggaran;
d. Pemantauan capaian kinerja instansi pemerintah;
e. Pemantauan dana dekonsentrasi;
f. Pemantauan persidangan perkara pidana.
5. Kegiatan Pengawasan Lainnya
Kegiatan pengawasan lainnya dan kegiatan yang tidak memberikan penjaminan kualitas, antara lain konsultansi, sosialisasi, dan asistensi. Contoh:
a. Melaksanakan penyuluhan/sosialisasi di bidang pengawasan;
b. Memberikan konsultansi di bidang pengawasan;
c. Melaksanakan bimbingan teknis/asistensi/pendampingan di bidang pengawasan;
d. Melaksanakan bantuan teknis di bidang pengawasan;
e. Melaksanakan pemetaan/mapping di bidang pengawasan;
f. Melaksanakan penugasan penelitian di bidang pengawasan;
g. Mengkompilasi laporan sekelompok objek pengawasan dan atau kegiatan yang sejenis;
h. Pengujian terhadap laporan berkala dan/atau sewaktu‐waktu dari unit/satuan kerja;
i. Inventarisasi fisik;
j. Cek fisik;
k. Mengumpulkan data dan/atau informasi intelijen non keuangan;
l. Mengkaji aspek tertentu di bidang pengawasan;
m. Mengkaji sistem pengendalian manajemen objek pengawasan;
n. Memaparkan hasil audit (yang merupakan kegiatan tersendiri bukan bagian dari penugasan audit);
o. Menyusun modul diklat, soal ujian, dan mengoreksi hasil ujian di bidang pengawasan;
p. Penatausahaan persediaan/asset;
q. Pengawasan terpadu peningkatan mutu sekolah;
r. Pengawalan: tes pengadaan CPNS, gerakan nasional (Gernas);
s. Pembahasan sebab terjadinya penyimpangan;
t. Penyempurnaan/pengembangan database auditor;
u. Pengawasan dan pendampingan ujian tertulis dalam proses pengadaan CPNS;
v. Sosialisasi penerapan SPIP;
w. Pembinaan di bidang pengawasan terhadap Satker/SKPD; dan x. Menyusun dan memutakhirkan data audit universe.
B. PEMERIKSAAN OLEH BPK
Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah merupakan bagian dari siklus APBD sebelum disahkannya pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah menjadi peraturan daerah. Melalui pemeriksaan yang dilaksanakan oleh BPK, pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah yang diasersi oleh pemerintah daerah melalui laporan keuangan pemerintah daerah akan dinilai kewajarannya.
Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
Ketentuan tentang pemeriksaan oleh BPK diatur dalam Undang‐Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Tanggung Jawab dan Pengelolaan Keuangan Negara. Sedangkan ketentuan tentang Badan Pemeriksa Keuangan sebagai institusi pemeriksa diatur dalam Undang‐Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.