• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pemb ahasan

Tabel 4.14: Homogen dari ketiga sampel minyak.

Uji Minyak N

Subset for alpha = 0.05 1 2 Tukey

HSDa

Kelapa 15 .63593

Sawit 15 .79373

Zaitun 15 .79813

Sig. 1.000 .994

Tabel 4.14 di atas untuk menunjukkan jenis minyak yang memiliki nilai viskositas sama atau homogen. Minyak dengan nilai viskositas sama terlihat pada minyak sawit dan zaitun, sedangkan nilai viskositas yang berbeda terletak pada minyak kelapa. Hal ini dapat dikatakan bahwa viskositas terbesar terjadi pada minyak sawit dan zaitun, sedangkan viskositas terendah terjadi pada minyak kelapa. Gambar 4.4 berikut untuk menunjukkan hubungan ketiga jenis minyak terhadap pengaruh viskositas.

lemak. Lemak berbeda dengan minyak, namun sama-sama dari kelompok trigliserida. Perbedaannya terletak pada keadaan suhu ruang, lemak pada kondisi suhu ruang berada dalam keadaan padat sedangkan minyak berada dalam keadaan cair. Titik didih dari minyak untuk menggoreng umumnya berada pada suhu 200˚C.66

Penelitian ini dilaksanakan 16-22 Oktober 2019 di Laboratorium FMIPA IKIP Mataram yang beralamat Jln. Pemuda 59 A Kota Mataram.

Pengambilan sampel minyak terdiri dari minyak sawit kemasan, kelapa, dan minyak zaitun. Pemilihan minyak sawit ini berdasarkan jumlah merk yang sering digunakan oleh masyarakat luas. Minyak kelapa dibuat langsung oleh peneliti agar kemurniannya tetap terjaga. Minyak zaitun dipilih sesuai dengan kegunaannya untuk memasak, karena fungsi dari masing-masing minyak zaitun berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sampel-sampel tersebut diteliti nilai viskositas (kekentalannya) berdasarkan suhu pemanasan. Viskositas adalah salah satu parameter yang penting karena dapat mempengaruhi kualitas atomisasi khususnya minyak yang digunakan untuk menggoreng.67

Metode yang digunakan pada pengukuran viskositas dalam penelitian ini adalah falling ball. Falling ball atau bola jatuh merupakan salah satu alat untuk mengukur kekentalan (viscometer) dengan

66 Slamet Sudarmadji, Analisa…, hlm. 96.

67 Luis Felipe Ramirez-Verduzco, et all., “Predicting Cetane Number, Kinematic Viscosity, Density and Higher Heating Value of Biodiesel from its Fatty Acid Methyl Ester Composition”, Fuel, Jully 2011, hlm. 109.

memanfaatkan Hukum Stokes.68 Viskositas menggunakan metode ini didasarkan pada aliran yang stabil oleh adanya laju geser yang terjadi pada fluida, jadi bola dijatuhkan secara jatuh bebas dari permukaan fluida.69 Pengukuran dengan metode ini menggunakan tabung yang disebut sebagai tabung viskos dengan volume dari tabung tersebut adalah ±1 L. Namun dalam penelitian ini menggunakan volume 1.1 L atau setara dengan 1100 mL. Prinsip dari metode ini adalah mengukur kecepatan bola ketika tiba pada posisi yang telah ditentukan. Posisi yang dimaksud adalah ketinggian dari fluida yang hendak diukur ukur. Kecepatan bola yang dimaksud adalah kecepatan terminal dimana gaya seret dari bola ketika dijatuhkan seimbang oleh adanya gaya gravitasi.70 Jadi, kecepatan terminal dalam hal ini adalah waktu (sekon) dibagi jarak (meter) dari fluida tersebut.71 Penerapan metode ini hanya terbatas untuk fluida yang sangat kental (Newtonian) seperti pada minyak goreng, karena metode ini lebih teliti apabila dibandingkan dengan metode lain seperti Ostwald dan sebagainya.72

Langkah pertama untuk mengetahui nilai viskositas adalah pengukuran diameter atau jari-jari bola yang akan dijadikan sebagai acuan dalam pengukuran kecepatan terminal, pengukuran tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Hasil dari pengukuran tersebut

68 Carl J Schaschke, “High Pressure Viscosity Measurement with Falling Body Type Viscometers”, International Review of Chemical Engineering, Vol. 2, Nomor 5, September 2010, hlm. 567.

69 Yoko Eguchi and Takeshi Karino, “Measurement of Rheologic of Blood by a Falling- Ball Blood Viscometer”, Annals of Biomedical Engineering, Vol. 36, No. 4, April 2008, hlm. 545.

70 Brice Calvignac., et all, “Development of an Improved Falling Ball Viscometer for High Pressure Measurements with Supercritical CO2”, Journal of Supercritical Fluids, Vol. 55, Nomor 1, 2010, hlm. 2.

71 J.L. Camas-Anzueto, “Measurement of the Viscosity of Biodiesel by Using an Optical Viscometer”, December 2016, hlm. 12.

72 Ahmed Houari, “Determining the Viscosity of Liquids using an Extended Falling Ball Method”, Physics Education, November 2011, hlm. 688.

menunjukkan bahwa diameter bola yang akan digunakan diperoleh nilainya sebesar 32.44 mm. Setelah diketahui diameter bola, langkah selanjutnya adalah menentukan massa jenis bola. Massa jenis bola dapat ditentukan dengan mencari massa bola dan volume bola. Massa bola diukur menggunakan neraca digital, dengan nilainya sebesar 22 gr atau 0.022 kg/m3 sedangkan volume bola setelah dihitung menggunakan persamaan 4.2 diperoleh nilainya sebesar 0.000017 m3. Berdasarkan nilai tersebut sehingga diperoleh massa jenis bola adalah 1294.11 kg/m3. Pemilihan jenis dan ukuran bola sangat menentukan dalam penggunaan metode ini.

Kesulitannya adalah bagaimana peneliti dapat memilih bola yang sesuai dengan kepadatannya agar saat diteliti kecepatan terminal dapat dipertahankan sesuai dengan Hukum Stokes.73 Hal penting yang perlu diketahui adalah bola memiliki sifat dan dimensi sama, apabila dijatuhkan maka bola akan bergerak secara vertikal ke bawah, dan mustahil gerakannya tidak menentu.74

Langkah kedua adalah menentukan jarak atau ketinggian fluida.

Jarak atau ketinggian fluida diberikan pembatas karet atau benang. Jarak atau ketinggian fluida dalam penelitian ini dibuat konstan yaitu 32.5 cm atau 0.325 m. Kesulitan lain dalam penggunaan metode ini adalah jarak antara posisi saat bola mulai dijatuhkan dan ketika bola tiba pada posisi yang telah ditentukan.75 Sehingga dibutuhkan ketepatan dalam menentukan jarak tersebut.

73 Carl J. Schaschke, High…, hlm. 567.

74 Ibid.

75 Ahmed Houari, Determining…, hlm. 688.

Langkah ketiga menentukan volume fluida yang akan diukur dan massa fluida (massa total fluida dan gelas dikurangi dengan massa gelas).

Volume fluida pada penelitian ini dibuat konstan, yaitu sebesar 1,1 L.

Sedangkan massa fluida sebelum dipanaskan dan setelah dipanaskan memiliki nilai yang berbeda-beda, seperti data pada tabel 4.1 sebelumnya.

Data tersebut digunakan untuk menghitung massa jenis fluida. Nilai massa jenis fluida dari minyak sawit, kelapa, dan zaitun dapat ditunjukan oleh tabel 4.3 sebelumnya.

Langkah keempat adalah mulai menjatuhkan bola ke dalam tabung viskos yang telah diisi oleh fluida (minyak). Sebelum itu, peneliti perlu menyediakan stopwatch. Ketika bola mulai dijatuhkan dari posisi awal maka saat itu stopwatch langsung diaktifkan, dan ketika bola tiba pada posisi akhir stopwatch segera dimatikan. Pengukuran ini dilakukan secara berulang, dalam penelitian ini dilakukan tiga kali pengulangan.

Langkah kelima adalah pengukuran viskositas minyak dengan suhu yang berbeda. Uniknya dari penelitian ini adalah suhu dapat dijadikan sebagai variabel bebas untuk mengamati perubahan viskositas minyak.76 Minyak dipanaskan menggunakan pemanas air atau dapat pula menggunakan magnetic hot plate stirrer. Ketika memanaskan, peneliti selalu mengontrol suhu minyak tersebut menggunakan thermometer manual atau dapat pula menggunakan pirometer. Apabila minyak telah mencapai suhu yang akan diteliti, minyak kemudian dipindahkan ke dalam tabung viskos lalu mulai menjatuhkan bola seperti pada langkah sebelumnya.

76 J.L. Camas-Anzueto, Measurement…hlm. 12.

Hasil penelitian dengan perlakuan suhu pemanasan yang berbeda- beda dari setiap jenis minyak dapat ditunjukan pada tabel 4.7 untuk jenis minyak sawit sebelum dipanaskan memiliki nilai viskositas sebesar 0.885 Ns/m2 setelah dipanaskan dengan suhu berturut-turut 40˚C, 60˚C, 80˚C, dan 100˚C nilai viskositasnya menurun yakni 0.854 Ns/m2, 0.754 Ns/m2, 0.828 Ns/m2, dan 0.646 Ns/m2. Sampel kedua yakni minyak kelapa, sebelum dipanaskan memiliki nilai viskositas sebesar 0.828 Ns/m2 setelah dipanaskan dengan suhu yang sama seperti pada perlakuan sampel sebelumnya nilai viskositas berubah menjadi 0.666 Ns/m2, 0.588 Ns/m2, 0.572 Ns/m2, dan 0.524 Ns/m2. Sampel yang terakhir yakni minyak zaitun, sebelum dipanaskan memiliki nilai viskositas sebesar 0.919 Ns/m2 setelah dipanaskan dengan suhu yang sama nilai viskositasnya berubah menjadi 0.869 Ns/m2, 0.774 Ns/m2, 0.746 Ns/m2, dan 0.680 Ns/m2. Secara signifikansi yang telah dianalisis menyatakan bahwa H0 ditolak (dibuktikan dengan nilai signifikansi dari ketiga sampel minyak adalah 0.000 > 0.05), sehingga secara interpretasi bahwa suhu berpengaruh terhadap nilai viskositas dari ketiga minyak tersebut. Hal ini sesuai dengan teori bahwa terdapat hubungan antara viskositas dan suhu.77

Grafik penurunan viskositas dari beberapa sampel minyak akibat perubahan suhu dengan pengukuran berulang sebanyak tiga kali dapat ditunjukkan berturut-turut oleh grafik 4.1, 4.2, 4.3 dan 4.4. Grafik tersebut menjelaskan bahwa suhu tidak dapat diabaikan terhadap viskositas.78

77 Syed Adnan Qasim., et all, “Low Viscosity Shear Heating in Piston Skirts EHL in The Low Initial Engine Start Up Speeds”, Tribology International, May 2011, hlm. 1137.

78 M. J. Holmes., et all, “Temperature Dependence of Bulk Viscosity in Water Using Acoustic Spectroscopy”, Journal of Physics, 2011, hlm.7.

Metode falling ball mengaplikasikan prinsip Hukum Stokes, apabila minyak memiliki nilai viskositas terbesar maka bola akan sulit atau terhambat untuk jatuh pada posisi akhir sedangkan minyak dengan nilai viskositas terendah akan cepat mengalir atau jatuh pada posisi akhir.79 Terhambatnya bola untuk mengalir karena adanya kerapatan jenis dari fluida, kerapatan jenis sangat sensitiv terhadap suhu.80 Kerapatan jenis akan menurun seiring dengan peningkatan suhu. Teori ini terbukti ketika minyak dipanaskan dengan variasi suhu yang berbeda-beda, saat diukur waktu kecepatan bola yang awalnya lambat untuk mengalir tetapi setelah dipanaskan bola semakin cepat untuk jatuh, data ini dapat ditunjukkan oleh tabel 4.4, 4.5, dan 4.6.

Terbukti bahwa semakin meningkatnya suhu maka semakin rendah nilai viskositas minyak tersebut.81 82 Peningkatan suhu cenderung meningkatkan pertukaran molekul dan mengurangi gaya tarik menarik antara molekul sehingga kekentalan akan berkurang.83

Viskositas tidak hanya dipengaruhi oleh suhu, namun dapat pula dipengaruhi oleh jenis fluida itu sendiri.84 Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis dalam penelitian ini jenis minyak memiliki pengaruh terhadap nilai viskositas. Pernyataan tersebut ditunjukkan oleh jenis sampel yang

79 Oluwole Daniel Makinde, “Second Law Analysis for Variable Viscosity Hydromagnetic Boundary Layer Flow with Thermal Radiation and Newtonian Heating”, Entropy, Jully 2011, hlm. 1452.

80 Bernat Esteban., et all, “Temperature Dependence of Density and Viscosity of Vegetable Oils”, Biomass and Bioenergy, April 2012, hlm. 166.

81 Davood Toghraire, et all., “Experimental Determination of Viscosity of Water Based Magnetite Nanofluid for Application in Heating and Cooling Systems”, Journal of Magnetism and Magnetic Materials, May 2016, hlm. 2.

82 Hasrul Abdi Hasibuan, “Kajian Mutu Karakteristik Minyak Sawit Indonesia serta Proses Fraksinasinya”, Jurnal Standardisasi, Vol. 14, No 1, 2012, hlm. 19.

83 G. Toscano, “Vegetable Oil and Fat Viscosity Forecast Models Based on Iodine Number and Saponification Number”, Biomass and Bioenergy, Jully 2012, hlm. 512.

84 Ibid.

digunakan dalam penelitian ini. Urutan nilai viskositas terbesar hingga terkecil secara berturut-turut adalah minyak zaitun, sawit, dan kelapa. Hal ini dapat ditunjukkan oleh hasil analisis annova satu jalur atau analisis untuk melihat kesamaan atau perbedaan rata-rata nilai viskositas ketiga minyak tersebut (Lampiran: 4), data tersebut menyatakan bahwa secara signifikan minyak kelapa memiliki nilai viskositas yang berbeda jauh dari minyak sawit dan zaitun, sedangkan minyak zaitun dan sawit secara signifikan memiliki nilai yang sama. Minyak sawit memiliki nilai viskositas terbesar karena mengandung asam lemak jenuh yang sedikit sedangkan asam lemak tidak jenuhnya lebih dominan.85 86 Asam lemak tidak jenuh pada minyak sawit sebesar 53.1%, sedangkan asam lemak jenuhnya sebesar 40.3%.87 Sedangkan minyak zaitun termasuk dalam kelompok asam lemak tidak jenuh (MUFA) sebesar 77-84.2%.88 Apabila ditinjau dari segi Sains dan Islam, Rasulullah SAW menjelaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Usaid Al-Anshari berikut ini memberikan petunjuk agar mengkonsumsi minyak zaitun.

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Isa dari ‘Atha` bukan Ibnu Abu Rabbah,

85 Hasrul Abdi Hasibuan, Kajian…, hlm. 19.

86 Moch Dhofir., dkk, “Minyak Kelapa Beraditif Minyak Zaitun sebagai Isolasi Peralatan Tegangan Tinggi”, Jurnal EECCIS, Vol: 2, N0: 2, Oktober 2017, hlm. 69-70.

87 Fitriyono Ayustaningwarno, “Proses Pengolahan dan Aplikasi Minyak Sawit Merah pada Industri Pangan”, Vitasphere, Vol: 2, Agustus 2012, hlm. 5.

88 Tegar Yudhi Susilo, “Khasiat Minyak Zaitun (Olive oil) dalam Meningkatkan Kadar HDL (High Density Lipoprotein) Darah Tikus Wistar Jantan”, (Skripsi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember, Jember, 2012), hlm. 1.

dari Abu Usaid Al Anshari, dia berkata; Rasulullah SAW bersabda:

“Konsumsilah oleh kalian minyak (zaitun), jadikanlah juga sebagai lauk,

dan pakailah juga sebagai minyak, karena sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.” (HR. al Darimi, Sunan al Darimi: No.1963).89 Minyak kelapa memiliki nilai viskositas terendah karena mengandung asam lemak jenuh yang tinggi sebesar 91%, dari persentase tersebut terdapat asam laurik sebesar 45% (asam laurik ini sering disebut sebagai asam lemak rantai pendek atau asam lemak tak jenuh).90 Sehingga dapat dikatakan bahwa minyak kelapa dapat dikatakan sebagai asam lemak jenuh ataupun asam lemak tak jenuh karena terdiri dari rantai pendek dan menengah.9192

Minyak goreng baik dikonsumsi adalah minyak yang memiliki tingkat kualitas tertinggi. Viskositas atau kekentalan merupakan salah satu parameter pengukuran tingkat kualitas minyak, namun perlu dilakukan pengujian kembali karena terdapat parameter lain yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kualitas minyak. Apabila dilihat dari tiga grafik untuk berbagai jenis minyak, nampak bahwa secara kualitatif minyak zaitun memiliki nilai viskositas terbesar dari jenis minyak lain. Secara teori, minyak zaitun memiliki kandungan antioksidan alami yang tinggi sehingga rata-rata radikal bebas relatif sangat kecil dibandingkan jenis minyak lain.93

89 Moh. Erfan Soebahar., dkk, “Mengungkap Rahasia Buah Kurma dan Zaitun dari Petunjuk Hadits dan Penjelasan Sains”, Ulul Albab, 2015, hlm. 203.

90 Moch Dhofir., dkk, Minyak…, hlm. 70.

91 Mevy Alvonita Abast, “Analisis Asam Lemak dalam Minyak Kelapa Murni menggunakan Derivatisasi Katalis Basa”, Jurnal MIPA UNSRAT, Februari 2016, hlm. 30.

92 Arina Novila., dkk., “Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) yang Berpotensi sebagai Anti Kandidiasis”, EduChemia, Vol. 2, No. 2, Juli 2017, hlm. 168.

93 Sri Murni., dkk, “Sifat Elektrooptis sebagai Parameter Indikasi Mutu berbagai Jenis Minyak Goreng Kemasan”, Berkala Fisika, Vol. 15, No. 4, Oktober 2011, hlm. 121.

Penggunaan minyak berulang kali dapat meningkatkan efek toksik yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.94 Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pengunaan minyak berkali-kali sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh, sehingga dengan adanya informasi ini masyarakat mampu meminimalisir penggunaan minyak secara berulang.

94 Nainggolan dan Susanti, Uji…, hlm. 46

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya. Dapat disimpulkan bahwa untuk menganalisis koefisien viskositas menggunakan metode analisis falling ball secara umum ada lima langkah. Langkah pertama, mengukur massa jenis bola. Langkah kedua, menentukan dan mengukur jarak atau ketinggian minyak. Langkah ketiga, mengukur massa jenis minyak (sawit, kelapa, dan zaitun). Langkah keempat, mulai menjatuhkan bola ke dalam tabung viskos yang telah diisi oleh minyak dan mengukur waktu bola pada posisi akhir.

Pengukuran tersebut dilakukan secara berulang sebanyak tiga kali pengulangan. Langkah kelima, memberikan perlakuan suhu yang berbeda- beda (40˚C, 60˚C, 80˚C, dan 100˚C) lalu mengamati waktu bola ketika tiba pada posisi akhir. Pengukuran minyak yang telah mendapatkan perlakuan suhu tersebut juga dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan.

Korelasi antara kualitas minyak goreng dengan viskositas akibat adanya perbedaan suhu adalah ketika minyak dipanaskan pada suhu yang berbeda nilai viskositas ikut berubah sebelum dipanaskan maupun sesudah dipanaskan. Nilai korelasi r dari hasil pengujian dan perhitungan yang diperoleh sebesar -0.616. Artinya terdapat hubungan yang kuat antara suhu dan viskositas, hubungan tersebut berbanding terbalik. Viskositas sangat

sensitif terhadap suhu, artinya semakin tinggi suhu pemanasan minyak maka semakin rendah nilai viskositasnya, sebaliknya semakin rendah suhu pemanasan minyak maka semakin tinggi nilai viskositasnya.

Viskositas tidak hanya dipengaruhi oleh suhu, namun dapat pula dipengaruhi oleh fluida itu sendiri. Terbukti bahwa minyak sawit, kelapa, dan zaitun memiliki nilai viskositas yang berbeda. Minyak zaitun dan sawit memiliki nilai viskositas tertinggi, sedangkan minyak kelapa memiliki nilai viskositas terendah. Hal ini dibuktikan melalui analisis annova, LSD, dan Tukey HSD yang telah dilakukan. Jenis fluida dipengaruhi oleh ikatan molekul atau kerapatan, jadi yang mempengaruhi perbedaan nilai viskositas antara ketiga minyak tersebut karena adanya nilai kerapatan yang berbeda.

B. Saran

Saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan skripsi ini adalah melakukan pengujian lebih dalam lagi, dengan menggunakan metode dan alat yang lain serta sampel yang berbeda dalam mengukur kekentalan (viskositas) minyak.

RANCANGAN JADWAL KEGIATAN

No Kegiatan Waktu Kegiatan Tahun 2019/2020 Juli Agust Sept Oktob Nov Des

1. Penyusunan Proposal  

2. Seminar Proposal 

3. Memasuki Lapangan 

4. Tahap Analisis Data 

5. Penyusunan Skripsi 

6. Konsultasi Skripsi  

7. Ujian Skripsi 

DAFTAR PUSTAKA

Aminah., Rahmawati., Naid, T., & Salma. (2017). Analisis Kadar Arsen (As) Dan Timbal (Pb) Pada Minyak Goreng Pemakaian Berulang Dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom. As-Syifaa. ISSN : 2085-4714, 09(01), 11– 16.

Ardiansyah, D. (2017). Perancangan Dan Penerapan Sensor Kumparan Untuk Percobaan Viskositas Dengan Metode Bola Jatuh. Jurnal Inovasi Fisika Indonesia (IFI). ISSN : 2302-4313, 06(01), 5–9.

Arsis, A. N., Dahlan, D., Suari, M., & Manis, L. (2017). Rancang Bangun Alat Ukur Kekentalan Oli Sae 10-30 Menggunakan Metode Falling Ball Viscometer ( Fbv ) Small Tube. Jurnal Ilmu Fisika (JIF). ISSN : 1979-4657., 9(2), 76–86.

Agus Kironoto, Bambang. 2018. Statika Fluida. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Alwi, Wahidah, Ermawati, dan Husain, Saddam. (2018). Analisis Regresi Logistik Biner untuk Memprediksi Kepuasan Pengunjung pada Rumah Sakit Umum Daerah Majene. Jurnal MSA. 6(1), 21.

Adnan Qasim, Syed., Afzaal Malik, M., Ali Khan, Mumtaz., and A. Mufti, Riaz.

(2011). Low Viscosity Shear Heating in Piston Skirts EHL in the Low Initial Engine Start Up Speeds. Tribology International. 1134-1143.

Abdi Hasibuan, Hasrul. (2012). Kajian Mutu dan Karakteristik Minyak Sawit Indonesia serta Produk Fraksinasinya. Jurnal Standarisasi. 14(1), 13-21.

Alvionita Abast, Mevy., Koleangan, Harry., Pontoh, Julius. (2016). Analisis Asam Lemak dalam Minyak Kelapa Murni menggunakan Derivatisasi Katalis Basa. Jurnal MIPA UNSRAT. 5 (1), 29-31.

Ayustaningwarno, Fitriyono. (2012). Proses Pengolahan dan Aplikasi Minyak Sawit Merah pada Industri Pangan. Vitasphere. ISSN: 2085-7684, 2(1), 1-11.

Camas Anzueto, J. L., Gomez Perez, J., Meza Gordillo, R., Anzueto Sanchez, G.,

Perez Patricio, M., Lopez Estrada, F. R., Abud Archila, M., and Rios Rojas, C. (2016). Measurement of the Viscosity of Biodiesel by Using an Optical Viscometer. Flow Measurement and Instrumentation.

Calvignac, Brice., Rodier, Elisabeth., Jacques Letourneau, Jean., Vitoux, Pauline., Aymonier, Cyril., and Fages, Jacques. (2017). Development of an Improved Falling Ball Viscometer for High Pressure Measurements with Supercritical CO2. Journal of Supercritical Fluids. 55 (1), 96-106.

Damayanti, Y., Lesmono, A. D., & Prihandono, T. (2016). Kajian Pengaruh Suhu terhadap Viskositas Minyak Goreng sebagai Rancangan Bahan Ajar Petunjuk Praktikum Fisika. Jurnal Pembelajaran Fisika. ISSN : 2301-9794, 7(3), 307– 314.

Daniel Makinde, Oluwole. (2011). Second Law Analysis for Variable Viscosity Hydromagnetic Boundary Layer Flow with Thermal Radiation and Newtonian Heating. Entropy. ISSN: 1099-4300, 1446-1464.

Dhofir, Moch., Rahma Dona, Nur., Wibawa, Unggul., dan Nur Hasanah, Rini.

(2017). Minyak Kelapa Beraditif Minyak Zaitun sebagai Isolasi Peralatan Tegangan Tinggi. EECCIS. 2(2), 69-76.

Estiasih, Teti., Harijono., Waziiroh, Elok., dan Fibrianto, Kiki. 2016. Kimia dan Fisik Pangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Esteban, Bernat., Roger Riba, Jordi., Baquero, Grau., Rius, Antoni., and Puig, Rita. (2012). Temperature Dependence of Density and Viscosity of Vegetable Oils. Biomass and Bioenergy. 164-171.

Eguchi, Yoko., and Karino, Takeshi. (2008). Measurement of Rheologic Property of Blood by a Falling Ball Blood Viscometer. Annals of Biomedical Engineering. 36 (4), 544-553

Erfan Soebahar, Moh., dkk. (2015). Mengungkap Rahasia Buah Kurma dan Zaitun dari Petunjuk Hadits dan Penjelasan Sains. Ulul Albab. 16(2), 191-213.

Fitriani, E. W., Imelda, E., Kornelis, C., & Avanti, C. (2016). Karakterisasi dan Stabilitas Fisik Mikroemulsi Tipe A / M dengan Berbagai Fase Minyak.

Pharm Sci Res. ISSN 2407-2354, 3(1), 31–44.

Herlina., Astriyaningsih, E., Siti Windarti, W., & Nurhayati. (2017). Tingkat Kerusakan Minyak Kelapa selama Penggorengan Vakum Berulang pada Pembuatan Ripe Banana Chips (RBC). Jurnal Agroteknologi., 11(02), 186– 193.

Houari, Ahmed. (2011). Determining the Viscosity of Liquids using an Extended Falling Ball Method. Physics Education. 688-691.

Indria Putri, R., Budyanto., & Syafnil. (2016). Kajian Kualitas Minyak Goreng pada Penggorengan Berulang Ikan Lemuru (Sardinella lemuru). Jurnal Agro Industri. ISSN : 2088-5369., 6(1), 1–7.

J Holmes, M., G Parker, N., and W Povey, M J. (2011). Temperature Dependence of Bulk Viscosity in Water Using Acoustic Spectroscopy. Journal of Physics.

J. Schaschke, Carl. (2010). High Pressure Viscosity Measurement with Falling Body Type Viscometers. International Review of Chemical Engineering. 2 (5), 564-576.

K. Graha, Chairinniza. 2010. 100 Questions & AnswersKolesterol. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Lumbantorum, P., & Yulianti, E. (2016). Pengaruh Suhu terhadap Viskositas Minyak Pelumas (Oli). Jurnal Sainmatika. ISSN : 1829 686X., 13(2), 26–34.

Mawaddah, S., & Yufita, E. (2015). Study of Viscosity Measurement by Curved Vibrating Wire Method. Journal of Aceh Physics Society. ISSN : 2355-8229., 4(1), 7–8.

Mujadin, A., Jumianto, S., & Puspitasari, R. L. (2014). Pengujian Kualitas Minyak Goreng Berulang Menggunakan Metoda Uji Viskositas dan Perubahan Fisis. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi. ISSN : 2355-8059, 2(4), 229–233.

Manurung, M. (2018). Perubahan Kualitas Minyak Goreng Akibat Lamanya Pemanasan. Jurnal Kimia. ISSN: 2599-2740, 12(1), 61.

Murdaka, B., Jati, E., & Rizkiana, P. (2015). Studi Penentuan Viskositas Darah Ayam dengan Metode Aliran Fluida di Dalam Pipa Kapiler Berbasis Hukum Poisson. Jurnal Fisika Indonesia. ISSN : 2579-8820, 19(57), 43–47.

Murni, Sri., Sofjan Firdausi, K., Hidayanto, Eko., dan Bawono, Ari. (2012). Sifat Elektrooptis sebagai Parameter Indikasi Mutu berbagai Jenis MInyak Goreng Kemasan. Berkala Fisika. ISSN: 1410-9662, 15 (4), 119-122.

Nainggolan, B., & Susanti, N. (2016). Uji Kelayakan Minyak Goreng Curah dan Kemasan yang Digunakan Menggoreng Secara Berulang. Jurnal Pendidikan Kimia. ISSN : 2085-3653., 8(1), 45–57.

Novasalina Sipayung, A, Analisa Keberadaan Asam Lemak Bebas pada Minyak Goreng Jenis Curah berdasarkan Waktu Pemakaian pada Pedagang Gorengan Kaki Lima di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2012. Skripsi, FKM Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara, 2012.

Novilla, Arina., Nursidika, Arina., dan Mahargyani, Wikan. (2017). Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) yang Berpotensi sebagai Anti Kandidiasis. EduChemia. ISSN: 2502-4787, 2(2), 161-173.

Putri, Lungidta. (2013). Pembuatan Prototipe Viskometer Bola Jatuh Menggunakan Sensor Magnet dan Bola Magnet. J.Oto.Ktrl.Inst. ISSN : 2085-2517., 5(2), 101-111.

Regina, O., Sudrajad, H., & Syaflita, D. (2018). Measurement of Viscosity Uses an Alternative Viscometer. Jurnal Geliga Sains. ISSN 2614-5383., 6(2), 127–132.

Risti Lempang, I., Fatimawali., & C. Pelealu, N. (2016). Uji Kualitas Minyak Goreng Curah dan Minyak Goreng Kemasan di Manado. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi. ISSN : 2302-2493., 5(4), 155–161.

R. Muchtadi, Tien., dan Sugiyono. 2018. Prinsip dan Proses Teknologi Pangan.

Bandung: Alfabeta.

Ramirez Verduzco, Luis Felipe., Esteban Rodriguez, Javier., and Rayo Jaramillo, Alicia del Rayo. (2012). Predicting Cetane Number, Kinematic Viscosity,

Dokumen terkait