Budaya Organisasi
B. Pembahasan Hasil Penelitian
114
langsung budaya organisasi terhadap kesiapan kerja melalui motivasi belajar sebesar 0,068. Sementara itu, besar pengaruh total dapat diketahui denga menambahkan nilai pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung yaitu sebesar 0,110 + 0,068 = 0,178.
115
Kesimpulan hasil penelitian tersebut yaitu dengan adanya efikasi diri yang baik maka akan membantu siswa untuk mencapai motivasi belajar yang baik pula, sehingga siswa dapat menyelesaikan tugas secara optimal. Efikasi diri dengan segala aspeknya memang memberikan kontribusi terhadap motivasi belajar meskipun motivasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor efikasi diri saja. Dengan demikian, motivasi belajar yang dimiliki sesorang akan meningkat dengan didukung efikasi diri yang kuat dari seseorang tersebut.
Selanjutnya, penelitian ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat efikasi diri seseorang maka akan semakin tinggi pula motivasi seseorang tersebut untuk terus belajar. Mengingat efikasi diri merupakan keyakinan yang ada dalam diri seseorang untuk dapat melaksanakan atau menyelesaikan suatu tanggung jawab yang diberikan, maka motivasi untuk terus belajar bagaiamana menyelesaikan tanggung jawab itu akan semakin meningkat. Sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.
2. Pengaruh budaya organisasi terhadap motivasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta
Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur variabel budaya organisasi terhadap variabel motivasi belajar, diperoleh nilai standardized regression weight sebesar 0,409 dan nilai c.r. sebesar 4,238 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan budaya organisasi terhadap motivasi belajar mahasiswa, sehingga hipotesis kedua yang menyatakan terdapat pengaruh budaya organisasi
116 terhadap motivasi belajar dapat diterima.
Hasil ini mendukung penelitian dari Tin Herniyani (2011) yang menyatakan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Budaya organisasi merupakan keseluruhan nilai, norma, kepercayaan, dan opini yang dianut dan dijunjung tinggi oleh anggota-anggota kelompok sehingga budaya organisasi akan memberikan arah dan corak kepada suatu kelompok. Sedangkan motivasi merupakan dorongan yang muncul pada diri seseorang untuk melakukan seseuatu.
Sehingga dengan budaya organisasi yang baik terus dianut akan meningkatkan motivasi dalam diri seseorang untuk terus berkembang dan berprestasi dalam kegiatan apapun.
Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin baik budaya organisasi yang dianut mahasiswa maka semakin tinggi motivasi mahasiswa untuk belajar. Dapat dicermati bahwa mahasiswa yang memiliki budaya organisasi yang baik akan memiliki motivasi lebih dalam menyelesaikan berbagai hal yang dihadapi termasuk dalam hal belajar. Secara langsung budaya organisasi memberikan dampak pada diri sesorang untuk terus memotivasi dirinya agar selalu berprestasi.
3. Pengaruh efikasi diri terhadap kesiapan kerja mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta
Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur variabel efikasi diri terhadap variabel kesiapan kerja, diperoleh nilai standardized regression weight sebesar 0,345 dan nilai c.r. sebesar 3,674 dengan nilai probabilitas
117
sebesar 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan efikasi diri terhadap kesiapan kerja mahasiswa, sehingga hipotesis ketiga yang menyatakan terdapat pengaruh efikasi diri terhadap kesiapan kerja mahasiswa dapat diterima.
Hasil ini mendukung penelitian dari Dede Yuwanto, Marina Dwi Mayangsari, dan Hemy Heryati Anward (2013) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara efikasi diri dengan kesiapan kerja mahasiswa pada program studi psikologi yang sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa semakin tinggi efikasi yang ada dalam diri mahasiswa akan semakin meningkatkan rasa kesiapan diri mahasiswa untuk bekerja. Sebalikya, semakin rendah tingkat efikasi diri maka akan semakin rendah pula rasa kesiapan mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja.
Dengan demikian, penelitan ini membuktikan bahwa semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki seorang mahasiswa maka akan tinggi juga tingkat kesiapan kerja mahasiswa. Hal ini ditunjukkan dengan semakin kuat efikasi atau keyakinan akan kemampuan menyelesaikan suatu pekerjaan, maka mahasiswa tersebut akan memiliki rasa kepercayaan diri dan siap untuk menyongsong dunia kerja yang sebenarnya.
4. Pengaruh budaya organisasi terhadap kesiapan kerja mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta
Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur variabel budaya organisasi terhadap variabel kesiapan kerja, diperoleh nilai standardized
118
regression weight sebesar 0,110 dan nilai c.r. sebesar 1,139 dengan nilai probabilitas sebesar 0,255. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan budaya organisasi terhadap kesiapan kerja mahasiswa, sehingga hipotesis keempat yang menyatakan terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap kesiapan kerja mahasiswa ditolak.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian dari Yunindra Widyatmoko (2014) mengenai keaktifan berorganisasi berpengaruh tehadap kesiapan kerja mahasiswa. Keaktifan berorganisasi erat kaitannya dengan budaya organisasi yang ada di setiap kelompok. Mahasiswa yang memiliki pengalaman mempunyai bekal untuk bersaing dalam dunia kerja. Selain itu, keaktifan berorganisasi berpengaruh positif terhadap kesiapan kerja.
Semakin tinggi nilai budaya organisasi yang dianut oleh seseorang maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan seseorang untuk menyambut dunia kerja. Budaya organisasi yang baik akan selalu dibawa dan diterapkan dimanapun, sehingga seorang mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut untuk terus meningkatkan kesiapan diri demi menyambut dunia kerja yang beragam kondisinya.
5. Pengaruh motivasi belajar terhadap kesiapan kerja mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta
Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur variabel motivasi belajar terhadap variabel kesiapan kerja, diperoleh nilai standardized regression weight sebesar 0,165 dan nilai c.r. sebesar 1,674 dengan nilai probabilitas sebesar 0,094. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh
119
signifikan motivasi belajar terhadap kesiapan kerja mahasiswa, sehingga hipotesis kelima yang menyatakan terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap kesiapan kerja mahasiswa ditolak.
Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian dari Zuniarti dan Budi Tri Siswanto (2013) yang menunjukkan bahwa motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja. Motivasi belajar dapat ditumbuhkan selain dari dalam diri seseorang juga dapat dari pihak lain, seperti keluarga, lingkungan, dan institusi.
Penelitian ini menunjukkan semakin tinggi motivasi belajar yang dimiliki mahasiswa maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan diri mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja. Motivasi belajar yang tinggi menjadikan mahasiswa untuk terus belajar lebih baik lagi demi mempersiapkan diri agar mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
Berdasarkan hasil analisis di atas, hanya variabel efikasi diri yang berpengaruh signifikan terhadap variabel kesiapan kerja mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Sementara itu, variabel budaya organisasi dan variabel motivasi belajar tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel kesiapan kerja mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan secara langsung variabel efikasi diri mempunyai pengaruh sebesar 34,5% terhadap variabel kesiapan kerja mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Meskipun tidak memiliki pengaruh yang signifikan, namun variabel budaya organisasi dapat menyumbang 11% terhadap variabel kesiapan
120
kerja mahasiswa dan variabel motivasi belajar dapat menyumbang 16,5%
terhadap variabel kesiapan kerja mahasiswa.
Sementara itu, secara tidak langsung variabel efikasi diri mempunyai pengaruh sebesar 5,5% terhadap variabel kesiapan kerja mahasiswa melalui motivasi belajar. Hasil lain juga menunjukkan secara tidak langsung variabel budaya organisasi dapat menyumbang 6,8% terhadap variabel kesiapan kerja mahasiswa melalui motivasi belajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.