• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Hasil Belajar Kognitif

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai rata-rata yang diperoleholeh siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Perbedaan hasil belajar tersebut dikarenakan kelas eksperimen diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbingdan kelas kontrol diajarkan dengan metode konvensional (ceramah). Hal ini dapat terjadi karena inkuiri terbimbing memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri dengan bimbingan dari guru. Guru memberikan pertanyaan awal tentang materi yang akan dipelajari dan mengarahkannya ke dalam suatu diskusi kelompok. Pembelajaran inkuiri didasari oleh filosofi kontruktifisme yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.49

Hasil analisis menunjukkan nilai signifikasi model adalah 0,000>0,05 yang berarti bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kognitif siswa. Hal ini dikarenakan model pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan siswa pengalaman-pengalaman belajar secara nyata dan aktif sehingga siswa mendapatkan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar mereka.Model inkuiri terbimbing dapat mendorong siswa secara aktif untuk menggali pengetahuannya sendiri sehingga siswa dapat menjadi pribadi yang lebih aktif, mandiri, serta terampil dalam memecahkan

49Anggareni, N. W., Ristiati, N. P., & Widiyanti, N. L. P. M. Implementasi strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep IPA siswa SMP.

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, Volume 3, Nomor 1, 2013

masalah berdasarkan informasi dan pengetahuan yang didapatkan.

Aktifitas fisik dan mental siswa dalam kegiatan pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.50

Pada kelas yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing,siswa berkesempatan untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa akan termotivasiuntuk belajar dan pada akhirnya akan mengalami peningkatan hasil belajar.51 Model pembelajaran inkuiri terbimbing diterapkan supaya siswa bebas mengembangkan materi yang mereka pelajari.Siswa diberikan kesempatan untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi secara individu maupun berkelompok. Hasil penelitian Marhaeni (2019) melaporkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang belajar menggunakan metode konvensional.52

Model pembelajaran inkuiri terbimbing memberikan siswa pengalaman-pengalaman belajar secara nyata dan aktif sehingga siswa mendapatkan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

50Anam, K. (2015). Pembelajaran Berbasis Inkuiri metode dan aplikasi. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

51Dewi, N. L., Dantes, N., & Sadia, I. W. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar IPA. Jurnal Pendidikan Dasar Ganesha, Volume 3, Nomor 1, 2013

52Marheni, N. P., Muderawan, I. W., Tika, I. N., & Si, M. Studi Komparasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dan Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar Dan Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Pembelajaran Sains SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, Volume 4, Nomor 1, 2014

Natalia (2012) yang melaporkan bahwa penggunaan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan perilaku ilmiah siswa dan hasil belajar biologi siswa.

Selain itu, hal yang menyebabkan model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa adalah kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh modelitu sendiri. Adapun kelebihan-kelebihannya adalah (1) pembelajaran yang menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui model ini dianggap lebih bermakna; (2) memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka; (3) siswa yang memiliki kemampuan belajar yang baik tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.Pembelajaran inkuiri terbimbing juga menyediakan kesempatan kepada siswa untuk dapat bekerjasama dalam kelompok dengan berdiskusi, sehingga terjadi keterkaitan emosional antara siswa satu dengan siswa yang lainnya.

Tingkat pemahaman yang diperoleh siswa di kelas eksperimen lebih mendalam dibandingkan dengan pemahaman siswa di kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional. Siswa kelas eksperimen (diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing) memperoleh rata-rata 63,40 dan kelas kontrol (diajarkan dengan metode konvensional) memperoleh rata-rata 54,26. Presentase perubahan rata- rata kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 16,84%.Pembelajaran di kelas kontrol didominasi oleh guru, transfer pengetahuan dari guru ke

siswa, kegiatan belajar lebih monoton, komunikasi satu arah, sehingga latihan dalam menyelesaikan masalah dan pengajaranberpusat pada guru.53Siswa tidak dibimbing dengan berbagai pertanyaan untuk menganalisis data dan menyimpulkan, tetapi diberikan penjelasan langsung oleh guru dan siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru.54 Akibatnya siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan pola berpikirnya.Pembelajaran langsung tidak dimaksudkan untuk mencapai hasil belajar sosial maupun berpikir tingkat tinggi, namun lebih bertujuan untuk menuntaskan hasil belajar siswa terhadap penguasaan materi.55

2. Kemampuan Berpikir Logis

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai rata-rata yang diperolehsiswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen, namun tidak signifikan. Perbedaan hasil belajar tersebut dikarenakanpembelajaran pada kelas eksperimen tidak lagi berpusat pada guru, tetapi berpusat pada siswa. Model pembelajaran inkuiri terbimbing memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat mempengaruhi kemampuan berpikir logis siswa. Namun, siswa lebih

53Margunayasa, I. G., Dantes, N., Marhaeni, A. A. I. N., & Suastra, I. W. The Effect of Guided Inquiry Learning and Cognitive Style on Science Learning Achievement. International Journal of Instruction,Volume 12, Nomor 1, 2019, hlm. 737-750

54Amijaya, L. S., Ramdani, A., & Merta, I. W. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. Jurnal Pijar Mipa, Volume 13, Nomor 2, 2018, hlm. 94-99

55Sutama, I. N., Arnyana, I. B. P., & Swasta, I. B. J. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Kinerja Ilmiah pada Pelajaran Biologi Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Amlapura.Jurnal Penelitian Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA (online), Volume 4, Nomor 1, 2014

aktif dalam mengembangkan pola pikir mereka. Sedangkan metode konvensional di kelas kontrol, guru lebih aktif memberikan penjelasan materi, sehingga siswa sulit mengembangkan kemampuan mereka dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal dan kemampuan berpikir logis.

Penelitian terdahulumelaporkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir logis, yang dibuktikan dengan kemampuan siswa yang menggunakan inkuiri terbimbing lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan siswa yang menggunakan metode konvensional.56Hasil penelitian terkait dengan kemampuan berpikir logis mahasiswamenunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata kemampuan berpikir logis.57 Terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan berpikir logis siswa, hal ini dibuktikan dengan kemampuan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajarkan dengan metode konvensional.58

Berbeda dengan penelitian terdahulu, pada penelitian ini, hasilanalisis menunjukkan bahwanilai signifikansi model adalah

56Purwanto Andik, “Kemampuan Berpikir Logis Siswa SMA Negeri 8 Kota Bengkulu dengan Menerapkan Model Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Fisika”, Jurnal Exacta, Volume 10, Nomor 2, 2012, hlm. 133-135

57 Wiji dan Wahyu Sopandi Kemampuan Berpikir Logis dan Model Mental Kimia Sekolah Mahasiswa Calon Guru”, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Volume 7, Nomor 1, 2014, hlm. 147- 156

58Purwanto Andik, “Kemampuan Berpikir Logis Siswa SMA Negeri 8 Kota Bengkulu dengan Menerapkan Model Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Fisika”, Jurnal Exacta, Volume 10, Nomor 2, 2012, hlm. 133-135

0,375>0,05 yang berarti bahwa HO diterima. Artinya, penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbingberpengaruh tidak signifikanterhadap kemampuan berpikir logis siswa.

Walaupun model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh tidak signifikan terhadap kemampuan berpikir logis siswa, tetapi secara deskriptif diketahui bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata kelas kontrol, yaitu kelas eksperimen 63,40 dan kelas kontrol 61,47. Presentase perubahan rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah 3,13%. Hal inilah yang memperkuat penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berpikir logis.

Tidak signifikannya hasil analisis ANKOVA disebabkan oleh waktu yang relatif singkat, yakni 4 kali pertemuan. Kemampuan berpikir logis siswa tidak bisa semata-mata meningkat hanya dengan 4 kali pertemuan, akan tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama dan latihan soal yang lebih banyak. Berpikir logis bukan merupakan faktor bawaan, melainkan faktor bentukan dari pengalaman siswa selama proses perkembangan. Proses perkembangan berpikir siswa tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi memerlukan waktu lebih lama dan melalui proses interaksi secara berkesinambungan.59

Hasil penelitian terkait menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan berpikir logis siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada

59Suwanto, Wachidi dan Turdja. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Berpikir Logis dan Prestasi Belajar. Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan, Volume 7, Nomor 2, 2017, hlm. 141-154

kelas kontrol, namun nilai rata-rata kedua kelas tersebut masih berada pada kategori yang sama. Artinya, tidak terdapat perbedaan yang signifikan atas perlakuan yang diberikan. Hal ini disebabkan jadwal pembelajaran kelas eksperimen lebih singkat dari pada kelas kontrol.

Selain itu, keberhasilan dari proses pembelajaran inkuiri terbimbing bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi, tetapi sejauh mana siswa beraktivitas dan berproses dalam menemukan sesuatu.60

60Ana Jayanti dan Bunga Dara Amin. Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Peserta Didik Kelas XI MIA SMA Negeri 2 Barru. Jurnal Sains dan Pendidikan Fisika, Volume 14, Nomor 1, 2018, hlm. 23-28

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai signifikansi model adalah 0,000<0,05 yang berarti bahwa Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar kognitif siswa. Presentase perubahan rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol 16,84%.

2. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai signifikansi model adalah 0,375<0,05 yang berarti bahwa Ho diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh tidak signifikan terhadap kemampuan berpikir logis siswa. Presentase perubahan rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol 3,13%.

B. Saran

1. Disarankan dilakukan penelitian sejenis dengan waktu yang lebih lama.

2. Disarankan dilakukan penelitian dengan kombinasi strategi pembelajaran yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Amijaya, L. S., Ramdani, A., & Merta, I. W. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. Jurnal Pijar Mipa, Vol. 13, No. 2,2018, hlm. 94-99.

Ana Jayanti dan Bunga Dara Amin. Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Peserta Didik Kelas XI MIA SMA Negeri 2 Barru. Jurnal Sains dan Pendidikan Fisika, Volume 14, Nomor 1, 2018, hlm. 23-28

Anam, K. Pembelajaran Berbasis Inkuiri metode dan aplikasi.

Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2015.

Anggareni, N. W., Ristiati, N. P., & Widiyanti, N. L. P. M. Implementasi strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep IPA siswa SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, Vol. 3, No.1, 2013.

Anggriani, Masriani dan Lesatri Ira, “Pengaruh Inkuiri Terbimbing Terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa SMP Negeri 21 Pontianak”, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 7, No. 9, hlm. 1-9.

Arif Firmansyah, Imran dan Sulastri, “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Pelajaran IPS di Kelas V SDN 2 Limbo Makmur Kecamatan Bumi Raya”, Jurnal Kreatif Tadulako Online, Vol. 3, No. 1, hlm. 90-103.

Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2014.

Budi Andriawan, “Identifikasi Kemampuan Berpikir Logis dalam Pemecahan Masalah Matematika pada Siswa Kelas VIII-1 SMP Negeri 2 Sidoarjo”, Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, Vol. 3, No. 2, 2016, hlm. 42-48.

Dani Firmansyah “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Minat Belajar terhadap Hasil Belajar Matematika”, Jurnal Pendidikan Unsika, Vol. 3, No. 1, 2015, hlm. 34-44.

Dewi, N. L., Dantes, N., & Sadia, I. W. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar IPA. Jurnal Pendidikan Dasar Ganesha, Vol. 3, No. 1, 2013.

Diana, N. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Berpikir Logis Mahasiswa dengan Adversity Quotient dalam Pemecahan Masalah. In

Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika (SNMPM), Vol. 2, No.1, 2018, hlm. 101-112.

Edy Purwanto, Linda Nur Ramly dan Andi Nugroho, “Implementasi Model Inquiri Sebagai Upaya Meningkatkan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 7 Yogyakarta pada Mata Pelajaran Sosiologi”, PELITA, Vol.

9, No. 1, 2014, hlm. 49-61.

Fios dan Frederiks, Pengantar Filsafat Ilmu dan Logika,, Jakarta : Salemba Humanika, 2013.

Hadi dan Strisno, Metodologi Research Jilid 3, Yogyakarta : Andi, 2004.

Hamalik, O. Proses belajar mengajar. Bumi Aksara, 2004.

Hamruni, Strategi Pembelajaran, Yogyakarta : Insan Madani, 2012.

Huda Miftahul, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2011.

Hutagalung, A., & Simarmata, U. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Terhadap Hasil Belajar Siswa. INPAFI (Inovasi Pembelajaran Fisika), Vol. 3, No. 1, 2015.

Ikhlasun Dwi Masitoh,Marjono dan Joko Ariyanto, “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X MIA pada Materi Pencemaran Lingkungan di Surakarta”, Bioedukasi, Vo. 10, No. 1, 2017, hlm. 71-79.

I Made Surat, “Pembentukan Karakteristik dan Kemampuan Berpikir Logis Siswa Melalui Pembelajaran Matematika Berbasis Saintifik”, Jurnal Emasains, Vo. 5, No. 1, 2016, hlm. 57-65.

Indah Lestari, “Pengaruh Waktu Belajar dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika”, Jurnal Formatif, Vol.3, No. 2, hlm. 115-125.

Ismah dan Venni Herli Sundi “Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Labschool FIP UMJ”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 4, No. 2, 2018.

Krathwohl, D. R., “A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview”, Theory Into Practice, Vol. 41, No. 4, 2002, hlm. 212-218.

Kurniasih, I., & Sani, B. Ragam pengembangan model pembelajaran untuk peningkatan profesionalitas guru.Jakarta: Kata Pena, 2015. 71-72.

Maisaroh dan Rostrieningsih “Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Active Learning Tipe Quiz Team pada Mata Pelajaran Keterampilan Dasar Komunikasi di SMK Negeri 1 Bogor”, Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, Vol. 8, No. 2, 2010, hlm. 157-171.

Margunayasa, I. G., Dantes, N., Marhaeni, A. A. I. N., & Suastra, I. W. The Effect of Guided Inquiry Learning and Cognitive Style on Science Learning Achievement. International Journal of Instruction, Vol. 12, No. 1, 2019, hlm. 737-750.

Marheni, N. P., Muderawan, I. W., Tika, I. N., & Si, M. Studi Komparasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dan Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar Dan Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Pembelajaran Sains SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, Vol.4, No. 1, 2014.

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2008, hlm. 88.

Ni Ketut Udiani, Marhaeni, dan Putu Arnyana, “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar IPA dengan Mengendalikan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas IV SD No. 07 Benoa kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung”, E-Jurnal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar, Vol.

7, No. 1, 2017, hlm. 70-72

PENDASI: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, Vol. 7, No. 1.

Prayogi Suko. Meningkatkan Kulaitas Proses dan Hasil Belajar Luas Bangun Datar Siswa Kelas 5 SDN Ponolawen 2 Kesesi Pekalongan Melalui Implementasi Metode Discovery” Jurnal Pendidikan UNS, 2007, hlm.12.

Purwanto Andik, “Kemampuan Berpikir Logis Siswa SMA Negeri 8 Kota Bengkulu dengan Menerapkan Model Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Fisika”, Jurnal Exacta, Vol. 10, No. 2, 2012, hlm. 133-135.

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2010, hlm. 42.

Salam, M., Ibrahim, N., & Sukardjo, M. Effects of Instructional Models and Spatial Intelligence on the Mathematics Learning Outcomes after Controlling for Students' Initial Competency. International Journal of Instruction, Vol. 12, No. 3, 2019, hlm. 699-716.

Saniah St., Hala Yusminah dan Taiyeb Mushawwir A., Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Aktivitas, Motivasi dan Hasil Belajar IPA Biologi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Watampone Kabupaten Bone”, Jurnal Bionature, Vol. 17, No. 1, 2017, hlm. 41-47.

Siti Kariawati “Upaya Meningkatkan Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Materi Energi dan Kegunaannya dengan Menggunakan KIP IPA pada Siswa Kelas IV SD Negeri 18 Tongkuono”, Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol.

8, No. 2, 2017, hlm. 125-305.

Sondra Swestyani, Sri Widoretno dan Yudi “Peningkatan Kemampuan Berpikir Logis Melalui Penerapan Discovery Learning pada Materi Sistem Reproduksi di Kelas XI MIA 1 SMA Batik 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015”, Jurnal Pendidikan Biologi, Vol. 7, No. 3, 2015, hlm. 78-87.

Supratiknya, A, Penilaian Hasil Belajar dengan Teknik Nontes, Yogyakarta : Universitas Sanata Darma, 2012, hlm. 5.

Suprijono dan Agus, Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2012, hlm. 5.

Surdin dan Tria Melvin “Hubungan antara Disiplin Belajar di Sekolah dengan Hasil Belajar Geografi pada Siswa Kelas X SMA Negeri 10 Kendari”,Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi, Vol. 1, No. 1, 2017, hlm. 1-14.

Sutama, I. N., Arnyana, I. B. P., & Swasta, I. B. J. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Kinerja Ilmiah pada Pelajaran Biologi Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Amlapura. Jurnal Penelitian Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA (online), Vol. 4, No. 1, 2014.

Suwanto, Wachidi dan Turdja’I, Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Berpikir Logis dan Hasil Belajar (Studi Mata Pelajaran Matematika Kelas V di SDN 03 Gugus 1 Kabupaten Bengkulu Utara”, Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan, Vol. 7, No. 2, 2017, hlm. 141-154.

Udiani, N. K., Marhaeni, D. A. I. N., Arnyana, D. I. B. P., & Si, M. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPA dengan mengendalikan keterampilan proses sains siswa kelas IV SD no. 7 Benoa Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung, 2017.

Utari Sumarno dan Wahyu Hidayat“Kemampuan dan Disposisi Berpikir Logis, Kritis dan Kreatif Matematik”, E-Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Vol. 17, No. 1, 2012, hlm. 17-33.

Widhi Mahatmanti, Khana Fitri Pratiwi, Marsudi dan Nanik Wijayati “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Penilaian Autentik terhadap Hasil Belajar Siswa”, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 13, No. 1, 2019, hlm. 2337-2348.

Wiji dan Wahyu Sopandi “Kemampuan Berpikir Logis dan Model Mental Kimia Sekolah Mahasiswa Calon Guru”, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 7, No.

1, 2014, hlm. 147-156.

Yaman, S. (2005); Fen bilgisi ö÷retiminde probleme dayalÕ ö÷renmenin mantÕksal düúünme becerisinin geliúimine etkisi. Journal of Turkish Science Education, Vol. 2, No. 1, 56-70.

.

Lampiran 1:

Lampiran 2 :

Lampiran 3 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berbasis Inkuiri Terbimbing

Sekolah : MTs. Miftahul Ishlah Kelas/Semester : VIII/II

Mata Pelajaran : IPA

Materi Pokok : Sistem Ekskresi Alokasi Waktu : 8 JP (4 x Pertemuan) A. Kompetensi Inti

KI.1: Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

KI.2: Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam dalam jangkauan pergaulaan dan keberadaannya.

KI.3: Memahami pengetahuan (faktual, konseptual dan prosedural) berdasarkan ingin tahuna tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

KI.4: Mengolah, menyaji dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, ,emodifikasi dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B. Kompetensi Dasar

3.9 Menjelaskan struktur dan fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya dalam menjaga kesehatan diri

Indikator :

1. Menjelaskan struktur dan fungsi organ-organ penyusun sistem ekskresi pada manusia.

2. Mengidentifikasi penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi manusia.

3. Menyebutkan pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan organ-organ sistem ekskresi manusia.

4.9Membuat peta pikiran (mapping mind) tentang struktur dan fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya dalam menjaga kesehatan diri.

Indikator :

1. Membuat peta pikiran tentang gangguan pada sistem ekskresi manusia.

2. Menyusun rencana pola hidup sehat yang harus kita lakukan untuk menjaga kesehatan organ-organ sistem ekskresi manusia.

C. Tujuan Pembelajaran 1. Pertemuan I dan II

a. Melalui gambar yang diberikan oleh guru, siswa mengetahui organ- organ sistem ekskresi manusia.

b. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu mengurutkan struktur dan fungsi dari organ-organ penyusun sistem ekskresi manusia.

c. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu membedakan fungsi dan sisa metabolisme yang dikeluarkan oleh masing-masing organ ekskresi.

d. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu membedakan upaya yang termasuk dalam menjaga kesehatan kulit, ginjal dan hati.

e. Melalui diskusi kelompok, siswa mampu mengurutkan proses pembentukan urine.

2. Pertemuan III

a. Melalui diskusi kelompok, siswa mampu membuat peta pikiran tentang gangguan pada sistem ekskresi manusia.

b. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu memprediksi penyakit yang mungkin terjadi pada sistem ekskresi manusia.

c. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu mengetahui penyebab, gejala-gejala dan cara mengatasi penyakit pada system ekskresi manusia.

3. Pertemuan IV

a. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu mengetahui cara menerapkan pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan organ-organ sistem ekskresi manusia.

b. Melalui inkuiri terbimbing, siswa mampu membedakan pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan kulit, ginjal dan hati.

D. Materi Pembelajaran

1. Pertemuan I dan II : Struktur dan fungsi organ-organ sistem ekskresi manusia.

2. Pertemuan III : Gangguan pada organ-organ sistem ekskresi manusia.

3. Pertemuan IV : Pola hidup untuk menjaga kesehatan organ-organ sistem ekskresi manusia.

E. Metode Pembelajaran

1. Model : inkuiri terbimbing 2. Metode : diskusi kelompok

F. Media, Alat dan Sumber Pembelajaran

1. Media : gambar yang berkaitan dengan sistem ekskresi manusia 2. Sumber belajar

a. LKS siswa berbasis inkuiri terbimbing b. Buku siswa

G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran 1. Pertemuan I

Kegiatan Pembelajaran

Sintak Inkuiri Terbimbing

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu Kegiatan guru Kegiatan siswa

Pendahuluan Tahap 1 : Orientasi

- Guru mengucapkan salam dan

meminta ketua kelas untuk memimpin doa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

- Guru mengecek kehadiran siswa - Guru menyampaikan

tujuan pembelajaran

- Siswa menjawab salam guru dan ketua kelas memimpin doa bersama.

- Siswa

mendengarkan dan memperhatikan guru yang sedang

mengecek kehadiran siswa.

- Siswa

10 menit

- Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok.

Apersepsi :

Guru memperlihatkan gambar berkaitan dengan sistem ekskresi manusia.

mendengarkan guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

- Masing-masing siswa berkumpul dengan teman kelompoknya.

Apersepsi : Siswa

memperhatikan gambar yang diperlihatkan oleh guru.

Kegiatan Inti Tahap 2:

Menyajikan pertanyaan atau masalah

Guru menyajikan masalah dengan memberikan pertanyaan kepada siswa untuk

membangkitkan rasa ingin tahu siswa.

Menanya :

- Apakah kalian tahu bahwa tubuh manusia itu dapat mengeluarkan zat sisa metabolisme yang sudah tidak diperlukan lagi?

- Apa yang kalian ketahui tentang gambar tersebut?

Mengamati : - Masing-masing

kelompok

mengamati gambar yang dibagikan oleh guru.

- Guru meminta siswa untuk

mengerjakan lembar kerja 1.

Siswa menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Mengamati : - Siswa pada masing-

masing kelompok mengamati gambar yang dibagikan oleh guru.

- Siswa mulai mengerjakan lembar kerja 1 bersama dengan teman

kelompoknya.

60 menit

Tahap 3 : Membuat hipotesis

Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang

relevan sesuai dengan permasalahan.

Siswa menentukan hipotesis yang relevan sesuai dengan permasalahan.

Tahap 4 : Mengumpul kan data

Guru membimbing siswa mengumpulkan data untuk

Siswa

mengumpulkan data untuk

Dokumen terkait