BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
persentase jawaban 76-100%, pengetahuan cukup jika persentase jawaban 56-75%, pengetahuan kurang jika persentase jawaban <56.
Dilihat dari karakteristik responden terdapat 7 responden (77.77%) dari 9 responden yang berpengetahuan cukup sebelum dilakukan pendidikan kesehatan dengan rentang usia 20-35 tahun. Menurut Ariani (2014), usia sangat berpengaruh terhadap daya tangkap seseorang. Jika seseorang memiliki usia yang cukup, maka akan memiliki pola pikir dan pengalaman yang matang pula. Usia akan sangat berpengaruh terhadap daya tangkap sehingga pengetahuan diperolehnya akan semakin baik.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Neli (2016) dengan judul “Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas tentang Tanda Bahaya Postpartum di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul” yaitu tingkat pengetahuan ibu nifas dikategorikan cukup sebanyak 11 responden (64,7%) dengan rentang usia antara 20-35 tahun. \
Selain itu berdasarkan paritas didapatkan responden terbanyak merupakan multigravida yaitu 17 (65,4%) responden. Paritas adalah status seorang wanita sehubungan dengan jumlah anak yang pernah dilahirkannya. Dari 17 responden yang memiliki katagori pengetahuan baik saat post test sebanyak 12 responden (46,1%). Tingkat pengetahuan ibu tentang tanda bahaya masa nifas dapat diperoleh dari konseling, pendidikan kesehatan maupun kelas ibu hamil. Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 4 minggu sampai dengan 36 minggu (menjelang persalinan) dengan jumlah peserta
maksimal 10 orang dan salah satu tujuannya adalah meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil (Kemenkes, 2011). Ibu yang pernah melahirkan memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang tanda bahaya nifas di bandingkan ibu yang pertama kali melahirkan. Masa nifas merupakan masa yang rawan karena ibu nifas beresiko mengalami;
perdarahan lewat jalan lahir, keluar cairan berbau dari jalan lahir, bengkak di wajah, tangan serta kaki, sakit kepala, kejang-kejang, demam lebih dari 2 hari, payudara bengkak, merah disertai rasa sakit, dan ibu terlihat sedih, murung dan menangis tanpa sebab/depresi (Buku KIA, 2015).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh (Irawati Naser,2018) tentang Gambaran tingkat pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya nifas di RSUD Sleman Yogyakarta dengan hasil responden sebagian besar berpengetahuan cukup pada paritas 2-4 anak sebanyak 17 orang (51.5%).
Kemudian penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian oleh (Abdul Qudus, 2019) tentang hubungan paritas dan usia ibu dengan pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya nifas di desa Cijagra Bandung dengan hasil Hubungan antara paritas dengan pengetahuan, menunjukkan bahwa nilai ρ
= 0.189 > 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara paritas dengan pengetahuan, berdasarkan uji Chi square menunjukkan hubungan yang tidak signifikan.
Dari 9 responden yang berpengetahuan cukup sebelum dilakukan pendidikan kesehatan, terdapat 6 responden (66,66%) dengan latar belakang ibu tidak bekerja. Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pengetahuan. Seseorang yang bekerja akan sering berinteraksi dengan orang lain sehingga akan memiliki pengetahuan yang baik pula. Pengalaman bekerja akan memberikan pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman belajar dalam bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan yang merupakan keterpaduan menalar secara ilmiah (Ariani, 2014).
Hal penting yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan selain usia, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan dan status ekonomi dan sumber informasi. Sumber informasi adalah sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan informasi, seseorang yang memiliki sumber informasi yang lebih banyak akan memiliki pengetahuan yang luas pula. Pengetahuan bisa didapat media cetak, elektronik, keluarga, teman dan lain-lain (Ariani, 2014).
Menurut (Maulana, Heri, d.j, 2009) pemilihan dan penggunaan media merupakan salah satu komponen penting dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Media mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang oleh karena itu, pemilihan media informasi yang tepat dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap ibu nifas (Azwar, 2009). Pemilihan audiovisual sebagai media pendidikan kesehatan dapat diterima baik oleh responden pada saat pelaksanaan penelitian karena media ini terbilang baru sehingga sebagian besar responden mempunyai keingintahuan yang besar
Menurut Juliantara (2009), media audiovisual adalah alat bantu mengajar yang mempunyai bentuk gambar dan mengeluarkan suara.
Media audiovisual menampilkan unsur gambar dan suara secara bersamaan pada saat mengkonsumsi pesan atau informasi. Kelebihan menggunakan media audiovisual adalah memberikan gambaran yang lebih nyata serta meningkatkan retensi memori karena lebih menarik dan mudah diingat (A.M Sardiman., 2009).
Hasil penelitian setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang tanda bahaya nifas di Rumah Sakit dr. R. Hardjanto Balikpapan bahwa tingkat pengetahuan responden mengalami peningkatan yaitu mayoritas responden berpengetahuan baik sebanyak 17(65,39%) responden. Menurut Arikunto dalam Ariani (2014) tingkat pengetahuan dikatakan baik jika nilai persentase jawaban 76-100%. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo dalam Ariani (2014) yaitu faktor internal yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan serta pekerjaan, dan faktor ekternal yang meliputi lingkungan, sosial budaya, status ekonomi serta sumber informasi.
Berdasarkan analisa peneliti pengetahuan responden tentang tanda bahaya nifas sudah cukup baik, hal ini menunjukkan bahwa responden sudah paham dengan materi tersebut. Dari hasil kuesioner pretest dan post test terlihat ada peningkatan pada beberapa pernyataan. Dampak ketidaktahuan terhadap tanda bahaya nifas adalah saat ibu mengalami masalah yang tidak terdeteksi, sehingga ibu tidak memeriksakan diri ke
petugas atau pelayanan kesehatan kemudian dapat terjadi komplikasi bahkan menyebabkan kematian. Sehingga sangat penting pendidikan kesehatan tentang tanda bahaya masa nifas sejak dini yaitu selama masa kehamilan agar ibu dapat melakukan deteksi dini selama masa nifas.
.
2. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Audiovisual Terhadap Sikap Tanda Bahaya Masa Nifas
Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh penidikan kesehatan menggunakan audiovisual terhadap sikap tentang tanda nifas dengan nilai Asym.Sig (nilai p-value < 0.05) sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan audiovisual terhadap sikap tanda bahaya masa nifas, sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Devi Indrawati, Damayanti, & Nurjanah, 2018) tentang Efektifitas Pendidikan kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Tentang Preeklampsia di Wilayah Kerja Puskemas Kedung Mundu Kota Semarang menghasilkan bahwa ada perbedaan pada sikap responden tentang preeklampsia sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dengan hasil p 0,000 < 0.005 hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan sikap responden sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dilihat dari aktifnya responden bertanya tentang materi yang diberikan.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian oleh M.R Mahmud (2017) tentang efektifitas edukasi dengan media audiovisual terhadap pengetahuan dan sikap tentang gizi seimbang pada siswa usia 11 tahun di SDN Bugangan 03 dan SDN Rejosari 01. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh edukasi gizi dengan media audiovisual terhadap sikap tentang gizi seimbang sesudah diberikan perlakuan dengan nilai (p = 0,080).
Menurut teori Bloom dalam (Notoatmodjo, 2007) dalam proses pendidikan kesehatan ada tiga ranah yang ingin diubah yaitu kognitif afektif dan psikomotor. Beberapa prinsip belajar antara lain bahwa 1) pendidikan kesehatan merupakan proses integral bukan semata-mata berorientasi pada perubahan aspek pengetahuan tetapi pada seluruh aspek manusia yang dapat berespon terhadap perubahan seperti fisik pada ibu postpartum; 2) pendidikan kesehatan merupakan kegiatan aktif, maksudnya melibatkan semua indra dan melakukan ekspresi misalnya mendengarkan secara aktif, visualisasi, memutuskan dan mendemontrasi atau melakukan.
Pengertian sikap yang disampaikan (Budiharto,2008)) adalah kemantapan dari hasil pengolahan berpikir, sifatnya emosional atau afeksi dan jika ada perubahan positif hal ini karena ada suatu kebutuhan yang kuat dan berpengaruh.
Menurut (Wawan & Dewi, 2012) sikap bisa dipengaruhi beberapa faktor karena sikap merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial, sehingga masih bisa bersifat tertutup. Selain itu faktor pengalaman pribadi pun bisa mempengaruhi dimana apa yang telah dan sedang berlangsung akan ikut membentuk sehingga mempengaruhi stimulus sosial, juga faktor pengaruh orang lain dalam mempengaruhi sikap yang berubah, selain pengaruh orang lain adalah media massa dalam menyajikan berita.
Teori yang dikemukakan oleh (S. Notoadmodjo, 2012) yang menyatakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan.
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan sikap menjadi positif.
Berdasarkan analisa peneliti bahwa dengan meningkatnya pengetahuan karena diberikan pendidikan kesehatan menyebabkan peningkatan sikap positif terhadap tanda-tanda bahaya nifas yang dapat terjadi selain itu juga banyak faktor yang mempengaruhi sikap, tidak hanya pengetahuan tetapi juga pengalaman pribadi ataupun pengaruh orang lain yang lebih dominan.
3. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Audiovisual Terhadap Perilaku Tanda Bahaya Masa Nifas
Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh penidikan kesehatan menggunakan audiovisual terhadap perilaku tentang tanda bahaya nifas dengan nilai Asym.Sig (nilai p-value < 0.05) sebesar 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan
audiovisual terhadap perilaku tanda bahaya masa nifas, dapat dilihat dari adanya peningkatan pengetahuan tentang tanda bahaya masa nifas sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dan adanya peningkatan kunjungan masa nifas.
Hasil penelitian yang sejalan adalah penelitian yang dilakukan oleh (Siti Fadilah, 2018) bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang perawatan payudara dengan perilaku pemeriksaan payudara sendiri, p=0,000 (p<0,01). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan (Notoatmodjo, 2007)
Sedangkan menurut (S. Notoadmodjo, 2012) perilaku manusia adalah semua tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati. Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup yang bersangkutan).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan menggunakan audio visual berpengaruh terhadap perilaku ibu untuk melakukan kunjungan nifas, hal tersebut disebabkan karena pendidikan kesehatan akan memberikan informasi mengenai pentingnya mengenali tanda bahaya masa nifas sedini mungkin dengan melakukan kunjungan nifas. Namun terdapat 2 responden yang tidak melakukan kunjungan nifas, dengan alasan merasa sehat dan tidak ada keluhan namun ibu mengatakan
tetap akan waspada jika ada gejala tanda bahaya nifas, akan segera memeriksakan dirinya ke petugas kesehatan. Menurut peneliti 2 responden tersebut sudah memahami tanda bahaya nifas sehingga mewaspadai tanda bahaya nifas yang mungkin muncul. Hal ini sesuai seperti yang dikemukakan oleh (Suprajitno, 2017) bahwa keyakinan seseorang didapat dari pengetahuan, latar belakang pendidikan dan pengalaman masa lalu.
Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.
Perilaku kesehatan ibu nifas terdiri dari 2 macam yaitu perilaku orang sehat atau perilaku orang sakit. Menurut (S. Notoadmodjo, 2012) perilaku orang sehat. Perilaku ini disebut perilaku sehat (healthy behavior) yang mencakup perilaku yang tampak maupun tidak (overt and covert behavior) dalam hal pencegahan penyakit (preventif) dan perilaku dalam upaya meningkatkan kesehatan (promotif). selain itu adalah perilaku orang yang sakit. Perilaku orang yang sakit terjadi pada orang yang sudah mengalami masalah dengan kesehatannya. Perilaku ini disebut dengan perilaku pencarian masalah kesehatan (health seeking behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang untuk memperoleh kesembuhan atas penyakit yang dideritanya. Dalam penelitian ini sasaran yang diinginkan dari pendidikan kesehatan yang diberikan adalah perilaku orang sehat dan perilaku orang sakit artinya ibu nifas walaupun tidak memiliki tanda bahaya masa nifas harus melakukan
pemeriksaan sesuai jadwal kunjungan nifas untuk mendeteksi dini jika ada tanda bahaya masa nifas. Tetapi jika ibu nifas melihat adanya tanda bahaya masa nifas akan segera melakukan pemeriksaan ketempat pelayanan kesehatan meskipun tidak sesuai jadwal kunjungan masa nifas untuk melakukan pemeriksaan awal tanda bahaya masa nifas.
Berdasarkan analisa peneliti dalam penelitian ini terjadi peningkatan perilaku kunjungan ibu nifas ke Rumah Sakit tetapi hal ini kemungkinan juga disebabkan karena peneliti memberikan intervensi pendidikan kesehatan melalui handphone, dan menanyakan alasan ibu tidak datang kontrol, sehingga ibu merasa harus datang ke RS. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang peneliti lakukan melalui handphone, diperoleh informasi bahwa ibu tidak datang kembali ke rumah sakit karena melakukan pemeriksaan kebidan yang menurut responden lebih aman dibandingkan dengan harus ke rumah sakit sehubungan dengan situasi pandemi covid 19.