BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Alih kode merupakan peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalnya penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa daerah. Alih kode merupaka salah satu aspek ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual. Artinya, di dalam masyarakat multilingual hampir tidak mungki seorang penutur menggunakan satu bahasa secara mutlak murni tanpa sedikitpun memanfaatkan bahasa atau unsur bahasa yang lain . di dalam alih kode penggunaan dua bahasa atau lebih itu ditandai oleh: (1) masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesua dengan konteksnya, (b) fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.
Menurut Scotton bahwa alih kode merupakan penggunaan dua varian atau varietas linguistik atau lebih dalam percakan atau interaksi yang sama,
101
sedangkan Nababan berasumsi bahwa konsep alih kode ini mencakup juga kejadian di mana kita beralih dari satu ragam fungsiolek ke ragam lain atau dari satu dialek ke dialek yang lain.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka dapat dikatan bahwa terjadinya alih kode merupakan peristiwa peralihan penggunaan dua bahasa atau lebih yang dapat dilakukan sesuia dengan situasi yang relevan dengan peralihan kode tersebut.
Pembahasan yang dimaksud dalam penelitian ini tidak lepas dari deskripsi hasil analisis data, meliputi: (a) wujud data alih kode yang terjadi dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone; (b) wujud data campur kode yang terjadi dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone;
(c) faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone; dan (d) faktor- faktor penyebab terjadinya campur kode dalam interkasi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone.
1. Wujud Data Alih Kode dalam Interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone
Alih kode yang terjadi pada kegiatan interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone pada umumnya
102
merupakan alih kode yang berwujud internal, yaitu alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Bugis ataupun sebaliknya.
Proses interaksi siswa di pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone, peneliti menemukan beberapa peristiwa tuturan yang merupakan wujud data dari alih kode internal tersebut.
Wujud data alih kode yang ditemukan dalam penelitian ini merupakan wujud data yang berbentuk kata, frasa yang termuat dalam beberapa peristiwa tutur interaksi antarsiswa yang diketgorikan dalam perisitiwa tutur (1) memberitahukan dan menginformasikan; (2) menjelaskan; (3) mengajak;
(4) meyakinkan; dan (5) mengharapkan.
Berdasarkan data dari interaksi yang terjadi antarsiswa yang dianalisis pada hasil penelitian tersebut, maka dapat diindikasikan bahwa wujud alih kode yang dituturkan siswa itu merupakan alih kode yang berwujud internal, yakni peralihan kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Bugis dan sebaliknya.
Hal ini didasarkan pada beberapa data peristiwa tutur siswa dalam berinteraksi.
Wujud data alih kode tersebut dideskripsikan ke dalam frekuensi berbentuk tabel jenis alih kode yang paling dominan dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone.
2. Wujud Data Campur Kode dalam Interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone
103
Menurut Nababan (1984) menyatakan bahwa suatu keadaan berbahasa yang lain ialah bagaimana orang mencampur dua atau lebih ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa.
Kegiatan berinteraksi antarsiswa dalam pelaksanaannya menggunakan bahasa sebagai media penyampai pesan dan tidak menutup kemungkinan menggunakan dua bahasa secara sislih berganti dan dicampur dalam satu tindak tutur sehingga dalam penyampaian pesan membentuk variasi kebahasaan, yakni campur kode.
Dalam berinteraksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone wujud campur kode yang tampak pada penyisipan kata dalam satu tuturan yang dituturkan secara bersamaan.
Wujud data campur kode yang ditemukan dalam interaksi antarsiswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu (1) penyisipan berbentuk campur kata; (2) penyisipan berupa kata campur; dan (3) penyisipan berbentuk unsur-unsur frasa
Dengan demikian, yang terjadi dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone karena adanya hubungan timbal balik antara penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa.
Artinya, penutur yang mempunyai latar belakang sosial dan kebahasaan yang sama cenderung memilih bentuk campur kode.
104
3. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Alih Kode dalam Interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone
Penyebab terjadinya alih kode menurut Fishman (1976: 15 dalam Chaer dan Agusitna 1995:143), yaitu “siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa”. Secara umum penyebab terjadinya alih kode adalah (1) pembicara atau penutur; (2) pendengar atau lawan tutur; (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga; (4) perubahan dari formal ke informal; (5) topik pembicaraan.
Peralihan kode yang terjadi dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone, disebabkan oleh penutur dan lawan tutur yang secara sadar beralih kode dengan maksud untuk mengakrabkan diri dengan lawan biacaranya. Dalam hal ini lawan tutur yang dimaksud adalah lawan tutur yang latar belakang kebahasaannya sama dengan penutur atau lawan tutur yang latar belakang kebahasaannya berlainan dengan penutur. Selanjutnya, penutur ketiga yang datang secara tiba-tiba dapat juga menjadi penyebab siswa beralih kode dengan tujuan untuk menghormati dan menetralisir orang ketiga tersebut.
Pride dan Holmes (dalam Sumarsono 1972:2) merumuskan sosiolinguistik secara sederhana:...the study of language as part of culture and seciety”, yaitu kajian bahasa sebagai bagian dari kebudayaan dan masyarakat. Di sini ada penegasan, bahasa merupakan bagian dari
105
kebudayaan (language in culture), bahasa bukan merupakan suatu yang berdiri sendiri (multilingual).
Berdasarkan konsep yang dikemukakan Fishman tersebut, dapat diuraikan secara singkat bahwa penyebab terjadinya alih kode pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone adalah latar belakang siswa yang berbeda budaya dan daerah yang menuntut mereka untuk melakukan alih kode dan juga sebagai salah satu penyebab terjadinya alih kode.
4. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Campur Kode dalam Interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone
Campur kode yang terjadi dalam interaksi pembelajaran siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone disebabkan oleh adanya kedwibahasaan. Siswa yang mempunyai latar belakang kebahasaan yang berbeda menjadi pemicu terajadinya campur kode. Bukan hanya itu, karena ada beberapa faktor yang juga menjadi penyebab terjadinya campur kode, Fishman (1976: 15 dalam Chaer dan Agustina 1995:143), yaitu “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa”. Secara umum, penyebab alih kode adalah (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal, (5) perubahan topik pembicaraan.
106
Penyebab peristiwa campur kode yang terjadi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone juga disebabkan beberapa hal yang tertera di atas. Penyebab campur kode dalam interaksi siswa tersebut, karena ada beberapa siswa yang bilingualitas dan yang lainnya hanya karena faktor kebiasaan, yaitu kebiasaan mencampur kode bahasa dalam satu tindak tutur.
107
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, bahwa penelitian ini mengkaji alih kode dan campur kode dalam interaksi antarsiswa yang terjadi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone yakni berupa bahasa Bugis, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Wujud alih kode yang digunakan dalam interaksi antrasiswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone rata-rata berbentuk alih kode internal, yaitu alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Bugis atau sebaliknya alih kode dari bahasa Bugis ke bahasa Indonesia baik dalam bentuk kata dan frasa, yaitu (1) penyisipan berupa kata dan (2) penyisipan unsur-unsur bentuk frasa. Wujud ketiga campur kode tersebut menandakan bahwa ada beberapa siswa yang mampu menggunakan dua atau lebih bahasa dalam satu tindak komunikasi.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa data tuturan yang dituturkan oleh siswa. Alih kode internal yang terjadi terdapat dua jenis, selain dari bahasa Indonesia ke bahasa Bugis atau sebaliknya yaitu “Purani mujama tugasmu yang kemarin?”, alih kode internal
108
lainnya yaitu pengalihan ragam dialek, yaitu “janganki ribut nanti marah lagi seperti kemarin”.
2. Faktor penyebab terjadinya campur kode dalam interaksi antarsiswa kelas XI SMA Negeri 1 Salomekko Kabupaten Bone, yaitu (1) bilingualitas, (2) penutur ingin memberi rasa hormat terhadapa lawan tuturnya, (3) adanya ketergantungan terhadap bahasa tertentu , dan (4) kurangnya pemahaman penutur terhadap kaidah bahasa yang sedang digunakan.
B. Saran
Sesuai dengan hasil penelitian ini, disarankan kepada siswa untuk menggunakan kode bahasa yang komunikatif dengan tetap memperhatikan kesesuaian situasi dan kaidah bahasa/kode yang sedang digunakan. Kedua, disarankan pula kepada siswa untuk menggunakan kode bahasa yang sesuai dengan situasi tutur dengan memperhatikan formal atau tidaknya tuturan dan situasi. Bagi peneliti lanjut, agar meneliti secara mendalam ragam bahasa, khususnya alih kode dan campur kode bahasa dalam interaksi antarsiswa supaya dapat mengungkapkan lebih mendalam tentang alih kode dan campur kode bahasa yang digunakan dalam berinteraksi, khususnya kegiatan pendidikan.
109
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
---. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Appel, R., G. Huber, dan G. Meijer. 1976. Sociolinguistiek. Utrech-Antewrpen:
Het Spectrum.
Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge – Mass:Harvard University Press.
Bloomfield, Leonardo. 1993. Language. New York: Holt Rinehart and Wniston.
Bright, W. (Ed). 1971. Sosiolinguistics: Proceding of the Ucla Sosiolinguistics Confrence, 1964. Paris: Mouton & Co.
---. 1992. International Encylopedia of Linguistics. New York – Oxford: University Press.
Chaer, Abdul. 2007. Kajian Bahasa Struktur Internal, Pemakaian dan Pemelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta: Balai Pustaka.
de Saussure, Ferdinand. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Diterjemahkan oleh Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dittmar. Nobert. 1976. Sociolinguistics. London: Edward Arnold. Online (http://www.mickdonald.com). Diakses 22 Juli 2010.
Fasold, Ralph. 1984. The Sociology of Secioty. Oxford: Basil Blackwell.
Online (http://www.mickdonald.com). Diakses 22 Juli 2010.
109
110
Fasold, Ralph. 1990. The Sociology of Language. Oxford. Basil Blackwell.
Online (http://www.mickdonald.com). Diakses 22 Juli 2010.
Fishman, J. A. (Ed.). 1968. Reading in the Sociology of Language. Den Haag – Paris: Mouton.
---. 1967. “Bilingualism With and Without Diglosia: Diglosia With and Without Bilingualism”. JSI. 32: 29 – 38.
---. 1972. The Disciption of Bilingualism. California: Stanford University Press.
---. 1976. The Sociology of Language. Paris: Mouton and The Hauge.
Halim, Amran. 1978. “Sikap Bahasa dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Bahasa Nasional”. Pengajaran Bahasa dan Sastra. Th. VI, No. 6: 11 – 26.
Hartmann, R.R.K. dan F.C. Strok. 1972. Dictionary of Language and Linguistics. London: Applied Science Publisher Ltd.
Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. New York:
Longman. Online (http://www.mickdonald.com). Diakses 22 Juli 2010.
Hudson, R. A. 1996. Sociolinguistics (Second Edition). Cambridge:
Cambridge University Press. Online (http://doeniadevi.wordpress.com).
Diakses 22 Juli 2010.
Hymes, D. 1964. Toward Etnographies of Comminicative Evensts. Online (http://doeniadevi.wordpress.com). Diakses 22 Juli 2010.
---. 1972. “Model of Interaction of Language and Social Life” in Gumpers and Hymes (Ed.). Direction ini Sociolinguistics. New York:
Holt, Rinhart and Winston, Inc.
---. 1975. Foundations Sociolinguistics An Ethnografics Approach.
Philadelphia: University of Pensylvania.
Ibrahim, Abd. Syukur. 1995. Sosiolinguistik: Sajian, Tujuan, Pendekatan, dan Problem. Surabaya: Usaha Nasional.
111
Isman, Jakub. 1978. “Keadaan Kebahasaan di Indonesia dan Implikasinya bagi Pengajaran Bahasa Indonesia.” Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Th. IV. No. 5: 2 – 15.
Kartomihardjo, Soeseno. 1988. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat.
Jakarta: Depdikbud.
Keith, A. 1986. Linguistcs Meaning. Vol. One. New York: Routledge & Kegan Paul.
Kjolseth, R. 1972. The Development of the Sosiology of Language and its Social Implication’s in Sociolinguistics Newletter III. No. 1 7 – 10 and 9 – 24.
Kridalaksana, Harimurti. 1978. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia, Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.
---. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka.
---. 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik.
Jakarta: PT Gramedia.
Labov, William. 1972. Sosiologuistic Patterns. Philadelphia: University Pensylvania Press.
Lambert, W.E. 1976. “A Social Psychology of Bilingualism” Journal of Social Issues 23: 91 – 109.
Lund, Nick. 2003. Language and Thought. London dan New York: Routledge.
Online (http://wenano.blogspot.com). Diakses 21 Juli 2010.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nababan, P.W.J. 1984. Peralihan Pola Perolehan dan Penggunaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia.
---. 1985. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Nababan, P.W.J. 1993. Sosiolinguistik, Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
112
Nuraeni, St. 2009. Alih Kode dan Campur Kode dalam Pemakaian Bahasa Indonesia pada Ranah Keagamaan. Tesis Makassar: Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.
Ohiowutu, Paul. 1996. Sosiolinguistik: Memahami Bahasa dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Kesaint Blanc.
Parera, J.D. 2004. Teori Komunikasi. Jakarta: Erlangga.
Pateda, Mansur. 1987. Linguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Pike, K. L. 1967. Language in Relation to a Unified Theory of Human Behavior, the Hague: Mouton.
Preston, Dennis R. dan Roger W. Shuy (Ed.) 1979. Varieties of American English. Washington, D.C. : English Teaching Division, Education, and Cultural Affairs, International Communication Agency.
Rahardi, R. Kuncana. 2001. Sosiolinguistik, Kode, dan Alih Kode.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Searle, J. R. 1969. Spech Acts: An Essay in The Philosopy of Language.
Cambridge: Cambridge University Press.
Soepomo, Poedjosoedarmo. 1985. “Komponen Tutur” dalam Soejono (Ed.) Perkembangan Linguistik Indonesia. Jakarta: Arca.
Spolsky. Bernard. 2003. Sosiolinguistics. Oxford University Press. Online (http://wenano.blogspot.com). Diakses 21 Juli 2010.
Subroto, Edi D. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural.
Surakarta: Sebelasa Maret University Press.
Subyakto Nababan, Sri Utami. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.
Surakhmad, Winarno. 1980. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.