BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
46
“Pada mata kuliah kewirausahaan biasanya mahasiswa mendapat tugas kelompok maupun individu dari Dosen pengajar sebagai manager dalam kelas untuk membuat sebuah produk barang maupun jasa yang kemudian akan ditawarkan kepada sesama mahasiswa maupun kepada masyarakat sekitar. Tetapi karena kurangnya dorongan dan pengarahan sehingga proses tersebut hanya menjadi penuntas kewajiban saja.”
Pertanyaan ini kemudian juga di jawab oleh informan yang beriisial BB yang dilakukan pada hari Jum’at 4 Desember 2020 menyatakan bahwa:
“hambatannya sejauh ini masih pada tataran tergantung dosen yang mengajarkan, setiap dosen itu berbeda di dalam memberikan pemahaman kepada mahasiswa terkait dengan kurikulum kewirausahaan. Respon mahasiswa sendiri terhadap mata kuliah kewirausahaan itu merespon dengan baik seperti ada beberapa mahasiswa yang setelah menerima pemahaman kemudian mencoba untuk memulai usaha, saya kira itu merupakan respon yang baik.”
Berdasarakan hasil wawancara dengan informan di atas peneliti menarik kesimpulan bahwa banyak mahasiswa mempunyai ide berwirausaha tetapi kurang mendapat dorongan mengenai langkah- langkah apa yang harus dilakukan dalam memulai sebuah usaha. Selain itu mengingat bahwa mahasiswa sebagian besar belum mempunyai sumber pendapatan sendiri menjadi hambatan yang mengakibatkan mahasiswa kurang tertarik dalam memulai sebuah usaha. Padahal jika ada dampingan dari dosen bahkan dengan modal yang kecil pun kita bisa memperoleh keuntungan dengan menggunakan strategi pemasaran yang benar.
Mata kuliah kewirausahaan saat ini telah diterapkan di semua fakultas bahkan di semua perguruan tinggi agar mahasiswa lulusannya tidak hanya mencari pekerjaan tetapi juga memiliki keberanian untuk membuka lapangan pekerjaan. Dalam mata kuliah kewirausahaan, para mahasiswa diajarkan bagaimana membuat sebuah bisnis yang bisa dijalankan di sekitar kampus dan jenis bisnisnya boleh apa saja selama masih wajar. Sebelum menjalankan bisnisnya, mahasiswa diajarkan bagaimana membuat perencanaan bisnis yang kemudian dipresentasikan di hadapan dosen. Perencanaan bisnis berisi visi dan misi perusahaan, latar belakang, deskripsi produk yang akan dijual, strategi pemasaran, system operasional, dan struktur kepengurusan bisnis.
Upaya dalam meningkatkan minat berwirausaha mahasiswa di perguruan tinggi sangat berkaitan dengan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya, seperti tenaga pendidik. Banyaknya pengangguran serta kurangnya minat berwirausaha mahasiswa menjadi kritikan yang keras terhadap peran dari perguruan tinggi. Karena perguruan tinggi merupakan tempat bagi mahasiswa untuk ditanamkan sikap mental berwirausaha sehingga lulusannya bukan hanya ahli dalam suatu bidang akademik saja tapi juga mampu menciptakan wirausahawan-wirausahawan baru yang siap menjadi penyedia lapangan kerja bagi orang-orang disekitarnya.
Upaya dalam menanamkan dan meningkatkan jiwa minat berwirausaha mahasiswa di perguruan tinggi masih terus ditingkatkan dengan menggunakan berbagai cara dan metode yang membuat mahasiswa menjadi tertarik untuk berwirausaha. Bahkan pada tingkat pemerintah melalui kementrian koordinator perekonomian telah
48
memberikan peraturan kepada seluruh lembaga pendidikan yang ada di indonesia, dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi diwajibkan untuk memberikan mata pelajaran atau mata kuliah kewirausahaan tersebut.
Salah satu upaya yang perlu diterapkan dalam meningkatkan minat dan kegiatan mahasiswa yaitu pembentukan pusat studi kewirausahaan kampus seperti Koperasi Mahasiswa (KOPMA) di UMY, Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA) di ITB, Community Entrepreneur Program (CEP) di UGM, Center For Entrepreneurship Development &
Studies (CEDS) di UI, BSI Entrepreneurship Center (BEC) di BSI, dan Center For Entrepreneurship, Change, & Third Sector (CECT) di Universitas Tri Sakti. Melalui media pembentukan pusat studi kewirausahaan kampus tersebut, akan banyak kegiatan yang dapat dilakukan seperti: seminar kewirausahaan, pelatihan, loka karya, praktek usaha, kerjasama usaha dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil wawacara dari dosen beberapa mahasiswa, strategi yang patut untuk di coba di perguruan tinggi dalam meningkatkan minat berwirausaha mahasiswa yaitu, kuliah kewirausahaan, KKP Kewirausahaan, magang kewirausahaan, dan program kreatif mahasiswa.
1. Kuliah kewirausahaan
Strategi pertama yang dapat digunakan yaitu dengan mengadakan mata kuliah kewirausahaan secara terstruktur. Mata kuliah kewirausahaan yang bukan hanya mempelajari tentang landasan teori saja tetapi juga disertai dengan pendidikan karakter.
Berdasarkan hasil wawacara yang dilakukan oleh peneliti diperoleh data bahwa mata kuliah kewirausahaan berperan penting dalam meningkatkan minat berwirausaha mahasiswa baik dalam menambah wawasan tentang berwirausaha, menumbuhkan mental dan semangat berwirausaha, dan meningkatkan motivasi mahasiswa dalam berwirausaha.
2. KKP Kewirausahaan
Strategi kedua yang dapat digunakan yaitu dengan mengadakan program KKP Kewirausahaan. Program ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman secara langsung kepada mahasiswa mengenai praktek kewirausahaan. Data ini diperoleh dari jurnal yang peneliti gunakan sebagai referensi untuk penelitian ini.
Dengan adanya program ini mahasiswa dapat diberikan penyuluhan dari industri-industri kreatif yang bekerja sama dengan perguruan tinggi tersebut. Selain itu mahasiswa juga dilatih untuk membuat produk dan kemudian dipasarkan.
3. Magang kewirausahaan
Strategi ketiga yang dapat digunakan yaitu dengan mengadakan program magang kewirausahaan. Program ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa memperoleh pelatihan secara langsung dari pengusaha-pengusaha di tempat magang tersebut.
Program ini bertujuan untuk melatih mahasiswa dalam memahami resiko-resiko yang mungkin akan dihadapi dengan cara penyelesaiannya. Dengan strategi ini mahasiswa benar-benar akan memperoleh pengalaman melakukan usaha.
50
4. Program kreatif mahasiswa
Strategi keempat yang dapat digunakan yaitu dengan membentuk program kreatif mahasiswa. Para mahasiswa yang telah mempelajari ilmu pengetahuan dasar kewirausaahaan didorong untuk memiliki ide baru sehingga mampu menciptaka dan produk-produk baru yang layak saing dan inovatif. Minat berwirausaha tidak harus sesuatu yang belum pernah dibuat oleh seseorang, tetapi lebih mengembangkan kepada hal yang sudah ada. Ide kreatif mahasiswa dapat dikembangkan melalui dorongan dari dosen-dosen pada program studi.
2. Upaya Yang Dilakukan Mahasiswa Untuk Memulai Startup Bisnis
Proses berwirausaha diawali dengan adanya sebuah minat berwirausaha yang dipengaruhi oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal antara lain :1) Merasa tidak puas dengan pekerjaan yang sedang dilakukan, 2) menyukai tantangan, 3) berani mengambil risiko, 4) Senang mencoba sesuatu yang baru, 5) Keinginan yang kuat untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. 6) dan mempunyai keinginan yang kuat untuk mewujudkan mimpi. Sedangkan faktor eksternal antara lain: 1) Tidak memiliki pekerjaan, 2) Ada sumber daya yang bisa dimanfaatkan seperti mendapatkan investor atau ada lokasi yang strategis. 3) Mengikuti pelatihan hingga memiliki minat yang kuat untuk berwirausaha. 4) ada peluang usaha yang bagus, 5) diajak bekerjasama, 6) dan adanya dorongan dari keluarga, teman atau kerabat.
Semua faktor saling mempengaruhi untuk membentuk karakter seorang wirausahawan.
Menurut penelitian Gurol dan Atsan (2006), seorang mahasiswa yang berwirausaha mempunyai karakter yang suka berinovasi, membutuhkan prestasi, suka mengambil risiko dan mempunyai pengendalian diri yang baik. Sedangkan menurut Meredith (2005), seorang pengusaha harus memiliki karakter yang percaya diri, berorientasi pada masa depan, berorientasi pada hasil, bisa memimpin dan berani mengambil resiko.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh penulis dari beberapa mahasiswa responden yaitu banyak mahasiswa mempunyai ide berwirausaha tetapi kurang mendapat dorongan mengenai langkah- langkah apa yang harus dilakukan dalam memulai sebuah usaha. Selain itu mengingat bahwa mahasiswa sebagian besar belum mempunyai sumber pendapatan sendiri menjadi hambatan yang mengakibatkan mahasiswa kurang tertarik dalam memulai sebuah usaha. Padahal jika ada dampingan dari dosen bahkan dengan modal yang kecil pun kita bisa memperoleh keuntungan dengan menggunakan strategi pemasaran yang benar. Adapun yang menjadi hambatan mahasiswa dalam memulai usaha yaitu minimnya pemahaman maupun pengalaman tentang berwirausaha, kurangnya dorongan atau arahan dari dosen pengajar selaku manager di dalam kelas, terbatasnya modal usaha, takut akan kegagalan, pemilihan ide produk, kurang percaya diri, sehingga mata kuliah kewirausahaan hanya sebatas teori saja tanpa ada pengaplikasian.
52
Tidak sedikit mahasiswa yang telah memulai bahkan melakukan kegiatan start up bisnis hanya saja karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki banyak juga diantaranya yang harus berhenti ditengah jalan. Start up bisnis mahasiswa biasanya berukuran kecil dan awalnya didanai dan dijalankan oleh para pendirinya ataupun satu orang saja.
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab gagalnya start up bisnis di kalangan mahasiswa diantaranya masalah pada pasar, salah satu alasan kenapa start up gagal yaitu karena mahasiswa memiliki pasar yang kecil atau bahkan tidak ada pasar sama sekali untuk produk mereka.
Selanjutnya cara pemasaran yang kurang tepat, salah satu penyebab kegagalan start up yaitu wirausahawan terlalu yakin tentang bagaimana mudahnya untuk mendapatkan pelanggan. Mereka berpikir hanya dengan membuat website, produk atau layanan yang menarik itu akan mendatangkan pelanggan yang banyak. Itu mungkin akan bekerja tapi tidak dalam waktu yang lama. Selanjutnya Karena kekurangan dana, yang menyebabkan usaha start up mengalami kegagalan adalah karena mereka kehabisan uang. Selanjutnya masalah dengan produk, penyebab lain kegagalan start up adalah karena gagal mengembangkan produk yang memenuhi kebutuhan pasar. Selanjutnya karena kurangnya koneksi.
Selanjutnya karena tidak mampu berkompetisi, memulai start up bisnis bukan hanya tentang fokus kepada bisnis seseorang saja tetapi kita harus mampu melihat apakah produk yang kita miliki sudah mampu bersaing dengan produk orang-orang disekitar kita. Selanjutnya pemilihan ide produk, ini merupakan kunci dari start up seorang wirausahawan harus
menganalisa apa yang menjadi kebutuhan pasar sebelum memulai sebuah bisnis. Terjun kedalam dunia bisnis tanpa menganalisa prospek target pasar bukanlah ide yang baik. Selanjutnya pemilihan lokasi usaha, lokasi bisa menjadi masalah pada beberapa sisi bagi pemula start up bisnis. Hal yang paling penting kita harus menyesuaikan konsep usaha dengan lokasinya. Selanjutnya layanan pelanggan, nilai dari layanan pelanggan tidak bisa disepelekan. Banyak start up yang sukses bisa memperoleh daya tarik karena layanan pelanggan yang sangat baik. Bila pelanggan merasa dihargai, mereka akan dating kembali dan menjadi pelanggan tetap.
Mahasiswa yang berada ditahap awal dalam memulai sebuah usaha dapat memulainya dengan membuat perencanaan bisnis. Perencanaan bisnis berisi visi dan misi perusahaan, latar belakang, deskripsi produk yang akan dijual, strategi pemasaran, sistem operasional, dan struktur kepengurusan bisnis, menemukan ide-ide produk terlebih dahulu. Ide produk dapat diperoleh dari hobi ataupun kebutuhan hidup sehari-hari.
Setelah menemukan ide, mahasiswa dapat mencari partner yang dapat diajak untuk bekerja sama dengan melakukan percobaan demi percobaan.
Dalam proses menciptakan dan menjalankan usaha kegagalan tentu akan terjadi, seperti terbatasnya modal yang dimiliki, terbatasnya waktu karena harus berkuliah, perbedaan pendapat dengan partnert dan pendapatan awal yang masih terbilang rugi. Beberapa tantangan tersebut sesuai dengan yang diutarakan oleh Hisrich et. al. (2008), yang mengatakan bahwa pada awal menciptakan usaha, seseorang akan menemui masalah ketidakstabilan lingkungan dan ketidakpastian keuntungan, ketidakpastian
54
konsumen, serta ketidakpastian keuangan. Hal tersebut terjadi karena berbisnis bukanlah bekerja. Pendapatan berbisnis tidak dapat dihitung dengan pasti, mahasiswa wirausahawan juga tidak bisa menghitung berapa orang yang akan membeli produk dan berapa keuntungan yang akan diperoleh.
Meski telah melakukan proses perencanaan bisnis, seorang pemula yang masih berada pada tahap awal bisnis tentu saja tidak lepas dari ketidaksesuaian rencana yang terjadi. Selalu saja ada hal-hal yang terjadi diluar dari perkiraan, untuk itu sangat diperlukan adanya business model canvas. Business model canvas (BMC) merupakan sebuah strategi manajemen yang digunakan untuk merancang perencanaan bisnis perusahaan berdasarkan proposisi nilai perusahaan, produk, infrastruktur, pelanggan dan keuangan. Menggunakan BMC dapat memberikan gambaran kasar dari ide bisnis dan dapat menciptakan struktur rencana bisnis yang baik. Sehingga kita dapat mengurangi risiko kekeliruan dalam perencanaan bisnis. BMC menjadi salah satu strategi manajemen yang populer di kalangan bisnis dan sering dipelajari di universitas. Hal tersebut dikarenakan tampilan BMC yang sederhana dan mudah untuk dipamahi.
55 BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah penulis sampaikan setelah melakukan penelitian, serta menelaah secara seksama maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Meningkatkan minat berwirausaha mahasiswa dapat dilakukan dengan cara melakukan kuliah kewirausahaan yang terstruktur, KKP Kewirausahaan, magang kewirausahaan, dan program kreatif mahasiswa.
2. Upaya mahasiswa dalam memulai bisnis dimulai dengan menemukan ide- ide produk terlebih dahulu, menemukan partner untuk bekerja sama, kemudian proses menciptakan produk.
B. SARAN
Adapun masukan yang berhubungan dengan penelitian dan pembahasan skripsi ini yang perlu diperhatikan demi kebaikan bersamaan yaitu sebagai berikut:
1. Untuk Universitas Muhammadiyah Makassar
Dalam upaya meningkatkan minat berwirausaha mahasiswa dosen juga berperan penting dalam memberi motivasi agar mahasiswa tersebut dapat mengembangkan minatnya dalam berwirausaha. Sehingga ketika lulus dari perguruan tinggi mahasiswa tidak lagi sibuk untuk mencari pekerjaan tetapi bagaimana dia dapat menciptakan peluang kerja.
2. Untuk peneliti selanjutnya
56
Perlu untuk mengadakan penelitian selanjutnya dengan harapan objek penelitiannya bisa lebih diperbesar untuk ruang lingkup yang lebih luas. Tujuan utamanya agar hasil penelitian bisa lebih variatif dan peneliti dapat mengetahui serta membandingkan kendala yang muncul dalam penelitian ini dan juga membandingkan kendala yang dihadapi pada saat penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Anton. 2018. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Minat Berwirausaha Mahasiswa Dengan Pola Pendidikan Soft Skills. (Online). Vol. 3, No.1, (http://scolar.google.co.id, diakses 1 Maret 2020).
Aqmala, D., Suseno, RA. 2020. Faktor-faktor yang membentuk minat berwirausaha mahasiswa program studi manajemen universitas Dian Nusantoro. Jurnal Ekonomi Sumber Daya. (Online). Vol. 22, No.1, (journals.ums.ac.id, diakses 14 Januari 2021).
Arikunto, S. 2013. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Frese, dkk. 2007. The Psychology Of Entrepreneurship. Mahwa, New Jersey:
Lawrence Associates.
Illah, Sailah. 2008. Pengembangan Soft Skills Di Perguruan Tinggi. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (online).
(http://isailah.50webs.com/buku%20pengembangan%20softskills%202 008.pdf, diakses 11 oktober 2020).
Kamal, AH., Thoyyibah, N. 2020. Analisis Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha Santri Pondok Pesantren. At-Taqaddum. (Online).
(http://journal.walisongo.ac.id, diakses 14 januari 2021).
Kasmir. 2006. Kewirausahaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Pustaka.
Lestari, dkk. 2012. Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa di STIE MDP, STMIK MDP, dan STIE MUSI.
Jurnal ilmiah. (Online). Vol. 1 No. 2, (core.ac.uk, diakses 11 Oktober 2020)
Mahesa, AD., Rahardja, E. 2012. Analisis Faktor-Faktor Motivasi Yangmempengaruhi Minat Berwirausaha. Diponegoro Journal of Management. (Online). Vol. 1, No.4, (http://ejournal3.undip.ac.id, diakses 11 Oktober 2020).
Mardiyatmo. 2005. Kewirausahaan. Yogyakarta: Yudhistira.
Mc Clelland, David. 1995. Memacu Masyarakat Berprestasi. Jakarta: Intermedia Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Roesdakarya.
Nasarius, Aban., Tanusi, Gabriel. 2020. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Flores. (Online). Vol. 19 Tahun X Maret 2020.
(download.garuda.ristekdikti.go.id, diakses 14 januari 2021).
Novitasari, Wiwin., dkk. 2017. Minat Berwirausaha Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Boga Universita Pendidikan Indonesia. Repository.
(Online). Vol. 6, No.2, (epository.upi.edu, diakses 11 Oktober 2020).
Rismanandi, Shofi. 2015. Analisis Fakto-Faktor Minat Berwirausaha Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. The Learning University. (Online). (repository.um.ac.id, diakses 11 Oktober 2020).
Rosmiati, dkk. 2015. Sikap, Motivasi, Dan Minat Berwirausaha Mahasiswa. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. (Online). Vol. 17, No.1, (jurnalmanajemen.petra.ac.id, diakses 11 Oktober 2020).
Safari. 2003. Indikator Minat Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Sugiyono. 2009. Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2017. Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Bandung:
Alfabeta. Hal. 294-296.
Supeni, RE., Efendi, Muh. 2017. Minat Mahasiswa Dalam Berwirausaha Perguruan Tinggi swasta Di Kabupaten Jember. Unej E-Proceeding.
(Online). (jurnal.unej.ac.id, diakses 11 oktober 2020).
Suryana. 2003. Kewirausahaan: pedoman praktis, kiat, dan proses menuju sukses. Edisi revisi. Jakarta: Salemba empat.
Susanto, Adi. 2002. Kewirausahaan. Jakarta: Ghalia Indonesia.
L A M P
I
R
A
N
Lampiran 1
Tabel Pedoman Wawancara
NO Rumusan Masalah Pertanyaan Informan
1
Bagaimana peran universitas dalam meningkatkan minat berwirausaha?
1.1. Apakah pemahaman berwirausaha sudah ditanamkan dalam mata kuliah yang diajarkan?
BB, AS, ESA, EC, AR, SH, S, AB, GM.
1.2. Bagaimana strategi dalam memberikan pemahaman berwirausaha yang dilakukan oleh Dosen dalam proses
pembelajaran?
1.3. Apa saja yang menjadi hambatan mahasiswa dalam memahami konsep berwirausaha dalam mata kuliah kewirausahaan?
1.4. Bagaimana respon mahasiswa terhadap mata kuliah
kewirausahaan?
2
Bagaimana upaya mahasiswa dalam memulai usaha start up bisnis?
2.1. Hambatan apa saja yang yang dialami oleh mahasiswa dalam memulai usahanya?
BB, AS, ESA, EC, AR, SH, S, AB, GM.
2.2. Upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut?
2.3. Apa saja faktor-faktor yang menjadi motivasi mahasiswa dalam memulai usaha?
2.4. Apakah pengetahuan dalam berwirausaha itu perlu bagi mahasiswa di Universitas
Muhammadiyah Makassar?
2.5. Apa harapan dan saran yang dapat anda berikan?
Lampiran 2
Transkip Wawancara
Rumusan Masalah 1 1.1 Apakah pemahaman berwirausaha
sudah ditanamkan dalam mata kuliah yang diajarkan?
a. BB: kalau pemahaman mata kuliah itu kan tergantung dari
mahasiswanya, tapi secara keseluruhan proses pembelajaran kewirausahaan itu sudah diajarkan di sem ua fakultas.
b. AS: pemahaman mata kuliah kewirausahaan itu di unismuh penerapannya pada tiap prodi beda- beda tapi semua prodi yang ada di fakultas ekonomi dan bisnis itu kewirausahan I dan kewirausahaan II, jadi 2 semester. Kalau tidak salah semester IV dan V. Jadi
kewirausahaan I itu lebih kepada bagaimana teorinya dulu, ilmu- ilmunya dulu baru nanti di
kewirausahaan II dia fokus kepada terapan. Terapan itu memang aplikasi bagaimana dia bisa
berbisnis dari start up menjadi sesuai minatnya masing-masing.
c. ESA: dalam pemahaman
berwirausaha secara teori dalam perkuliahan sudah terbilang cukup tetapi dalam pengaplikasiannya masih perlu ditingkatkan. Banyak mahasiswa yang mempunyai ide berwirausaha tetapi kurang mendapatkan dorongan mengenai langkah-langkah dalam
berwirausaha.
d. EC: sudah diajarkan, tapi masih kurang dalam pengaplikasiannya.
e. AR: sudah, tetapi belum terlalu spesifik hanya sebatas bagaimana cara kita membuat ide dan
bagaimana cara memasakannya.
f. SH: sudah diajarkan g. S: iya sudah diajarkan h. AB: iya sudah
i. GM: sudah tetapi masih kurang.
1.2 Bagaimana strategi dalam memberikan pemahaman
berwirausaha yang dilakukan oleh dosen dalam proses
pembelajaran?
a. BB: strateginya kalau di unismuh sudah ada kurikulum pembelajaran kewirausahaan, kalau di ekonomi kan sudah jelas 2 semester.
b. AS: strateginya itu banyak sesuai dengan karakternya mahasiswa Karena mahasiswa beda-beda karakternya ada yang memang jiwanya berbisnis ada yang memang tidak suka berbisnis walaupun dia mengambil jurusan di fakultas ekonomi dan bisnis. Dimana ibu juga mengajar di fakultas fkip, di Sospol malah jurusan yang lain itu lebih tertarik berbisnis dibanding yang mengambil jurusan di fakultas ekonomi.
c. ESA: menurut saya strategi pemahaman yang baik bias dilakukan dengan mencontohkan kemudian mengarahkan mahasiswa mulai dari pemilihan usaha sampai mendapatkan profit.
d. EC: cara penyampaiannya baik dan mdah dipahami.
e. AR: strategi dosen yang dilakukan yaitu membuat tugas untuk mebuat produk dan membuat analisis swot dari produk tersebut.
f. SH: memberikan pemahaman tentang pentingnya kewirausahaan, mengarahkan mindset mahasiswa menjadi seorang yang berjiwa entrepreneur, dan memberikan contoh karya nyata kewirausahaan.
g. S: mencoba belajar berwirausaha dengan modal kecil-kecilan, asal ada niat, kemauan, motivasi, inovasi da tidak lupa untuk selalu belajar. Dari pengalaman berwirausaha tersebut bias jadi evaluasi kedepan bilamana ingin berwirausaha dengan modal yang besar.
h. AB: mengirim materi di grup obrolan, menjelaskan secara rinci materi, menanyakan kembali materi yang dibawakan kepada mahasiswa.
i. GM: menjelaskan dengan metode yang tidak monoton, mengajak mahasiswa untuk berkontribusi dan kerja nyata.
1.3 Apa yang menjadi hambatan mahasiswa dalam memahami konsep berwirausaha dalam mata kuliah kewirausahaan?
a. BB: sejauh ini masih pada tataran tergantung dosen yang mengajarkan karena setiap dosen itu berbeda cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa terkait dengan kurikulum kewirausahaan.
b. AS: khususnya kalau di pandemic saat ini karena kita mengajarnya tidak tatap muka kita daringjadi itu agak susah karena kita tidak
bertemu langsung walaupun banyak tugas yang kita berikan, dia
kelapangan tapi ada sesuatu yang missing kalau kita belajarnya online.
Dan terkadang mahasiswa hanya mengikuti mata kuliah karena kewajiban bukan karena mereka ingin tau berbisnis itu seperti apa sehingga saat kita beri tugas itu hanya menggugurkan kewajibannya bukan benar-benar ingin mengetahui ilmunya.
c. ESA: yang menjadi hambatan beberapa mahasiswa kewiraushaan hanya sebatas teori mahasiswa tidak secara spesifik diberi ruang untuk mengembangkan ide usaha dan keberlangsungan usaha tersebut.
d. EC: ada yang kurang
memperhatikan, tetapi senang saat dilakukan kegiatan praktek.
e. AR: hambatan yang dihadapi yaitu minimnya pemahaman dan
pengalaman tentang berwirausaha, sehingga untuk menentukan ide produk yang dibuat masih kurang baik.
f. SH: kurangnya minat mahasiswa g. S: karena belum dipraktekkan secara
langsung . biasanya mahasiswa susah dalam mengimplementasikan teori dengan prakteknya.