BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Dari hasi wawancara di atas menunjukan bahwa untuk mndapatkan balla itu sangat muda karna remaja cukup mempunya uang lima ribu rupiah dia suda bisa mendapatka ballo untuk dia minum bersama dengan kelompoknya.
Dengan harga yang begitu murah remaja suda bebas meminum ballo tampa diketahui orang tuanya.
memakainya dan mudah untuk mendapatkannya, maka dia akan mulai memakainya sehingga menjadi ketagihan dan sulit disembuhkan. Jadi remaja harus berpikir menjau sebelum mencoba yang namanya ballo. Jenis tindakan rasional Weber melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial bahwa remaja minum ballo karna adanya ajakan dari teman untuk minum ballo secara bersama dan remaja meminum ballo karna dia tidak merasa pede. Namun, ada remaja meminu ballo sebagai pelarian kesituasi yang sulit karna menurutnya dengan meminum ballo semua masalah bisa hilang dipikiran. Makanya, biasa remaja didesa paattuku limpoe kecamatan lappariaja sebelum pergi ditempat yang ramai misalnya ada pesta dan lain-lain remaja biasa minum ballo baru pergi karna menurutnya kalau belum minum ballo baru pergi ketempat yang ramai dia merasa tidak pede kalau banyak orang makanya dengan jalan dia minum ballo agar dia pede walaupun banyak orang dan dilakukan secara berkelompok atau kumpul-kumpul sama teman-teman sepermainanya. Di samping itu merasa takut, apabila temannya marah, dan akhirnya kehilangan teman-temannya. namun Ia juga mengatakan bahwa minuman ballo kalau sendiri tidak mampu minum banyak tapi kalau dikerjakan secara ramai-ramai bisa menambakan daya minumnya apabila diminum dengan dosis yang cukup tinggi
Dalam konteks ini, hubungan sosial berkaitan dengan motivasi dan rasionalitas formal. Perilaku Remaja yang masih lugu dan polos, hal tersebut dilihat dari umurnya yang lebih muda di bandingkan teman sepergaulanya. Dari keluguan dan kepolosannya, sering di manfaatkan temanya untuk menemani
berkumpul dengan teman yang lain, mengadakan pesta minum ballo sehingga terjerumus ke dalam hal negatip yang melanggar aturan atau norma yang berlaku dalam lingkungan tersebut seperti teori anomi yang diperkenalkan oleh Durkheim yaitu untuk menggambarkan keadaan yang kacau tampa aturan dalam masyarakat. Masyarakat di desa pattuku limpoe kecamatan lappariaja kabupaten bone mempunyai kepercayaan yaitu, sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian, tanpa menunjukkan sikap pro atau anti. Artinya, jika orang percaya bahwa merokok dan minum-minuman keras tidak baik untuk kesehatan, maka dianggapnya hal itu adalah benar, terlepas dari apakah dia suka atau tidak suka minum-minuman Ballo.
Menurut Maslow, setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada tingkatan paling bawah, dicantumkan berbagai kebutuhan fisiologis (physiological needs).
Kemudian pada tingkatan lebih tinggi dicantumkan kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs). Lalu pada tingkatan berikutnya adalah berbagai kebutuhan akan cinta dan hubungan antar manusia (love and belonging needs). Kemudian kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan (esteem needs).
Dan pada tingkatan yang paling tinggi dicantumkan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (self actualization needs).
Seperti halnya remaja ikut minum minuman ballo demi solidaritas temannya agar tercipta rasa aman. Kebutuhan reamaja Rasa Aman dan Tenteram
(Safety Needs). Sebenarnya tidak bisa dipungkiri, pada awalnya mayoritas dari aktivitas kehidupan manusia ini adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik ini.
Segera setelah kebutuhan dasar terpenuhi, orang mulai ‘cari-cari’. Kebutuhan level kedua, yakni kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs) muncul dan memainkan peranan dalam bentuk mencari tempat perlindungan, membangun privacy individual (kebebasan individu), dengan demikian remaja ikut dalam sebua kelompok agar dia merasa aman dan bebas supaya merasa dicintai dan Disayangi (Belongingness Needs). Ketika kebutuhan fisik akan makan berikut kebutuhan keamanan telah terpenuhi, maka seseorang beralih ke kebutuhan berikutnya yakni kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (love and belonging needs). Dalam hal ini seseorang mencari dan menginginkan sebuah persahabatan, menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan yang lebih bersifat pribadi seperti mencari kekasih atau memiliki anak, itu adalah pengaruh dari munculnya kebutuhan ini setelah kebutuhan dasar dan rasa aman terpenuhi dengan ajakan teman karna takut ditinggalkan sama teman sepermainannya kalau dia tidak ikut dengan aturan kelompoknya seperti halnya minum minum ballo, dari penjelasan teori maslow bahwa remaja ikut dalam aturan kelompoknya agar didalam kelompoknya dia merasa di akui dan dicintai sama kelomponya.
2. Dampak Minuman Ballo Terhadap Remaja
Rentan respon penyalahgunaan minuman keras alkohol yang di desa Pattuku Limpoe Kecamatan Lappariaja kabupaten Bone Seseorang minum-
Namu remaja berpikir Bahwa sesuatu yang dilakukan remaja ini agar pikiranya bisa tenang dengan jalan pergi minum ballo karna denga minum ballo pikiranya yang kacau menjadi tenamg. Namau ada juga remaja meminu ballo karna dengan minum ballo ia merasa hangat tubuhnya. Tindakan remaja meminum ballo sebagai kebutuhan untuk menenangkan pikirannya.
Max weber dengan teorinya tentang rasionalisasi tindakan berpendapat bahwa perilaku manusia merupakan perilaku sosial yang mempunyai tujuan tertentu dan terwujud dalam aktifitasnya. Artinya bahwa perilaku itu harus mempunyai arti bagi pihak-pihak yang terlibat, seperti remaja minum ballo karna ingin mengahantakan tubuhnya hal itu sebagai pemenuhan kebutuhan seseorang yang harus dipenuhi seperti halnya teori kebutuha maslow yang tersohor, yakni teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi demikian juga remaja ingin mengahangatkan tubuh akibat terasa dingin yang dialaminya namun ada juga remaja Seringkali meminum minuman beralkohol ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapi.
Seseorang akan minum-minuman beralkohol pada saat sedang menghadapi konflik, stress dan frustasi sehingga remaja berfikiran bahwa dengan meminum minuma beralkohol dapat mengurangi pemikiran padahal dengan meminum minuman beralkohol dapat merusak tubuh bahkan sampai
membuat remaja berbicara yang tidak terkontrol dengan baik karna factor pengaruh alkohol yang terkandung didalam ballo dan yang lebih paranya akibat dari minum ballo yaitu bisa membuat orang tidak sadar diri akibat mengomsumsi ballo secara berlebihan. Namun remaja menerima ajakan dari kelompoknya untuk berkumpul-kumpul agar mempunyai kesempatan untuk penggunaan alkohol pada waktu bersama-sama teman sebayanya ,misalnya pada waktu pertemuan malam minggu, ulang tahun atau acara pesta lainnya.
Penggunaan ini mempunyai tujuan untuk rekreasi bersama temannya dan sekaligus ajang untuk bertukar pikiran. Namun dampak negative yang ditimbulkan dengan meminum minuman beralkohol seperti yang dikemukakan oleh responden bahwa dengan minum minuma beralkohol bisa membuat seseorang tidak sadar diri akibat pengaru alkohol yang dikandung didalam ballo sehingga menumbalkan ketidak teraturan didalam masyarakat akibat adanya pengaruh alkohol didalam tubuhnya dan bisa menimbulkan konflik antara remaja yang disebapkan karna bicara suda tidak terkontrol lagi akibat kandungan alkohol yang dikomsumsi suda melewati batasnya sehingga remaja menjadi agesif disebapkan alkohol yang terdapat diminuman ballo. Durkheim menggunakan istilah anomie untuk menggambarkan keadaan deregulation di dalam masyarakat. Keadaan deregulasi oleh Durkheim diartikan sebagai tidak ditaatinya aturan-aturan yang terdapat dalam masyarakat dan orang tidak tahu apa yang diharapkan dari orang lain. Keadaan deregulation atau normlessness inilah yang menimbulkan perilaku deviasi. namun selain dampak negatif yang ditimbulkan minuman ballo terdapat juga dampak positif yang ditimbulkan
dengan minum ballo yaitu remaja merasa bahwa dengan meminum ballo bisa meningkatka rasa solidaritas sosial didalam kelompoknya. Namun, Jika dilihat dari segi kesehatan, kebiasaan minum minuman keras tentu akan berdampak negatif terhadap kesehatan.
Peminum biasanya menampilkan ciri fisik yang berbeda dari orang biasanya, perut bagian bawah (sisikan) mereka terlihat buncit sedangkan tubuh mereka sendiri kurus, menurut penuturan orang di daerah tersebut, hal itu kerena mereka minum ballo secara berlebihan. Selain itu mereka memiliki kantung mata hitam akibat terlalu sering bagadang. Sehingga masyarakat memandannya sebagai peminum ballo dan diberikan cap atau julukan kepadanya sebagai peminum ballo. Maksudnya adalah pemberian julukan atau cap yang biasanya negatif kepada seseorang yang telah melakukan penyimpangan primer (primary deviation) misalnya pencuri, penipu, pemerkosa, pemabuk, dan sebagainya. Sebagai tanggapan terhadap cap itu, si pelaku penyimpangan kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangannya sehingga terjadi dengan penyimpangan sekunder (secondary deviation). Alasannya adalah sudah terlanjur basah.
Hal tersebut baru yang terlihat dari luar, belum penyakit-penyakit lain yang juga ditimbulkan akibat kebiasaan minum minuman keras, antara lain penyakit hati, jantung, dan otak. Akibat begadang minum sampai larut malam maka tentu tubuh mereka akan lemas sehingga tidak ada semangat untuk bekerja padahal mereka membutuhkan uang untuk hidup dan membeli alkohol tentunya, begitu pula bagi yang masih sekolah, di sekolah akan mengantuk dan tidak
konsentrasi terhadap pelajaran. Sehingga secara tidak langsung kebiasaan minum ini berdampak pada ekonomi serta tingkat pendidikan mereka yang rendah.
3. Faktor Yang Mendukung Remaja Dalam Mengomsumsi Ballo.
Masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi bukan hanya menuju kearah kemajuan, tetapi dapat pula menuju kearah kemunduran yang menciptkan perilaku menyimpang seperti remaja ikut minum ballo karna dia ingin di akui sama kelompoknya kalau dia jago bisa seperti temannya yang lain yaitu bisa mengikuti peraturan kelompoknya. Kaum remaja pada umumnya sangat terbuka terhadap norma, perilaku, dan nilai-nilai yang berasal dari subkultur berbeda, termasuk subkultur perilaku menyimpang.
Karena itu, perilaku teman-teman dekat merupakan sarana yang paling baik untuk memprediksi apakah perilaku seorang anak muda sesuai dengan norma yang berlaku ataukah perilaku menyimpang.
Teori ini menghubungkan penyimpangan dengan ketidak mampuan untuk menghayati nilai dan norma yang dominan di masyarakat. Ketidakmampuan mungkin disebabkan oleh sosialisasi dalam kebudayaan yang menyimpang.
Teori Sosialisasi menyatakan bahwa seseorang biasanya menghayati nilai-nilai dan norma-norma dari beberapa orang yang dekat dan cocok dengan dirinya. Jadi, bagaimanakah seseorang menghayati nilai-nilai dan norma-norma sosial sehingga dirinya dapat melahirkan perilaku menyimpang. Ada dua penjelasan yang dapat di kemukakan. Pertama, Kebudayaan khusus yang
menyimpang, yaitu apabila sebagian besar teman seseorang melakukan perilaku menyimpang maka orang itu mungkin akan berperilaku menyimpang juga.
Sebagai contoh, remaja ikut minum ballo karna melihat kebiasaan orang tuanya.
Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seseorang tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab-sebab yang menyertainya, karena perilaku menyimpang berkembang melalui suatu periode waktu-waktu tertentu sebagai hasil dari serangkaian tahapan interaksisosial dan adanya kesempatan untuk berperilaku menyimpang.
Adapun sebab atau faktor-faktor terjadinya perilaku menyimpang antara lain yaitu:Hasil Sosialisasi yang Tidak Sempurna (Ketidaksanggupan Menyerap Norma-Norma Kebudayaan) Apabila proses sosialisasi tidak sempurna, maka dapat melahirkan suatu perilaku menyimpang. Proses sosialisasi tidak sempurna terjadi karena nilai-nilai atau norma-norma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam proses sosialisasi yang dijalankan, sehingga seseorang tidak memprhitungkan resiko yang terjadi apabila ia melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Contoh perilaku menyimpang akibat ketidak sempurnaan proses sosialisasi dalam keluarga, tentang anak-anak yang melakukan kejahatan, Proses Belajar yang Menyimpang Proses belajar ini terjadi karena melalui interaksi sosial dengan orang lain terutama dengan orang-orang yang memiliki perilaku menyimpang dan sudah berpengalaman dalam mengomsumsi ballo.
Remaja yang ikut minum ballo karna melihat kebiasaan orang tuanya bahkan sampai orang tuanya sendiri yang mengajaknya untuk minum ballo
secara bersama dengan adanya dorongan atau ajakan orang tua sehingga remaja yang lain mempunyai cela untuk minum ballo secara bersama-sama dengan temannya merupakan sosialisasi subkebudayaan yang menyimpan yang diterapkan oleh orang tuanya sendiri. Namun, ada juga remaja ikut minum ballo secara sembunyi-sembunyi karna takut denga orang tuanya. Sosialisasi yang tidak sempurna ini yang membuat remaja berperilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dilingkungan tempat tinggalnya namun Merton mengambil konsep anomi untuk menjelaskan perbuatan remaja yang tidak ditaatinya aturan dalam masyarakat. Tetapi konsep dari Merton berbeda dengan apa yang dipergunakan oleh Durkheim. Menurut Merton, dalam setiap masyarakat terdapat tujuan-tujuan tertentu yang ditanamkan kepada seluruh warganya. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat sarana-sarana yang dapat dipergunakan. Tetapi dalam kenyataan tidak setiap orang dapat menggunakan sarana-sarana yang tersedia. Hal ini menyebabkan penggunaan cara yang tidak sah dalam mencapai tujuan. Dengan demikian akan timbul penyimpangan- penyimpangan dalam mencapai tujuan seperti penggunaan ballo karna ballo merupakan bahan pokok pembuatan gula merah namun ada oknum-oknum tertentu yang meyalah gunakanya seperti membuat menjadi minum keras dengan secara bebas memperjual belikan kepada remaja.
Penyebaran ballo saat ini sudah sangat mewabah dalam masyarakat di desa pattukuu limpoe Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone. Penyebarannya tidak lagi mengenal status sosial ekonomi serta usia. Ballo adalah minuman yang mengandung alkohol dan dapat menimbulkan ketagihan, bisa berbahaya bagi
pemakainya karena dapat mempengaruhi pikiran, suasana hati dan perilaku, serta menyebabkan kerusakan fungsi-fungsi organ tubuh. Efek yang ditimbulkan adalah memberikan rangsangan, menenangkan, menghilangkan rasa sakit, membius, serta membuat gembira. Efek Samping,bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku.
Faktor yang mendukun remaja dalam mengomsumsi ballo yaitu peredaran ballo didesa pattuku limpoe suda sangat mewabah sehingga remaja sangat mudah mendapatkannya dan mereka yang minum ballo bukan saja dari kalangan remaja melainkan dari kalangan orang tua juga ada yang terlibat dalam mengomsumsi ballo. Namun kontrol dari orang tua bahkan tokoh agama bisa dikataka sangat kurang karna penjualan ballo sangat muda remaja mendapatkanya.
Bagi sebagian remaja mengomsumsi ballo karna paktor ikut-ikutan.
Aktivitas yang mereka lakukan adalah sebuah tindakan rasionalitas terhadap keadaan dan kondisi yang merekka alami dan bukan hanya sekedar pasrah dalam menjalani ”takdir” mereka. Menurut weber, tindakn rasional adalah tindakan manusia yang dapat mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat.
Sehingga menurut weber bahwa tindakan tradisional/Tindakan karena kebiasaan. Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyangnya. Artinya bahwa remaja minum minuma ballo karna remaja melihat ditempat tinggalnya terbiasa
dilakukan oleh orang-orang yang dianggap lebi tua darinya seperti orang tuanya dan orang terdekatnya.
Dengan demikian bahwa remaja bisa saja minum ballo karna melihat kebiasaan yang di lakukan oleh orang tuanya hal inilah yang membuat pandanga peneliti terkejut karna ternyata orang tualah yang membuat anaknya ikut mengomsumsi ballo pada dasarnya orang tua yang harus melindungi anaknya agar tidak terlibat dalam pengunaan minum minuman beralkohol. Namun, didesa pattuku limpoe sosialisasi pemerintah terhadap penggunaan minuman beralkohol sangat minim baik itu dari dari tokoh agama atau dari pihak keamanan sendiri yang mengadakan sosialisasi bahaya minuman beralkohol. Menurut weber bahwa tindakan rasionalitas instrumental (Zwerk Rational) merupakan suatu tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Seperti yang dilakukan remaja utuk mendapatka ballo dengan jalan membeli minuman Ballo namun uang yang dimilikinya tidak cukup, akhirnya mereka berupaya agar uangnya cukup untuk mendapatkan minuman ballo dengan jalan kumpul-kumpul uang atau ceka-ceka dengan temannya. Tindakan ini telah dipertimbangkan dengan matang agar ia mencapai tujuan tertentu. Dengan perkataan lain menilai dan menentukan tujuan itu dan bisa saja tindakan itu dijadikan sebagai cara untuk mencapai tujuannya.
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang berjudul, Fenomena sosial remaja peminum ballo di Desa Pattuku Limpoe Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Fenomena Sosial Remaja Peminum Ballo Di Desa Pattuku Limpoe.
Remaja tergolong yang masih lugu dan polos sehingga keluguan dan kepolosanya, sering di manfatkan temanya untuk menemani berkumpul dengan teman yang lain, mengadakan pesta minum-minuman keras remaja sehingga remaja dapat terjerumus ke dalam masalah miras karena pengaruh dari lingkungan pergaulan dan gagalnya sosialisa orang tuanya karna adanya sosialisa yang salah dari teman sepermainaya. Apabila seseorang telah menjadi terbiasa memakainya dan mudah untuk mendapatkannya, maka dia akan mulai memakainya sehingga menjadi ketagihan dan sulit disembuhkan
2. Dampak minuman ballo terhadap remaja
Rentan respon penyalahgunaan minuman keras alkohol yang di desa Pattuku Limpoe Kecamatan Lappariaja kabupaten Bone Seseorang minum- minuman alkohol mempunyai tujuan tertentu secara individual. Seseorang akan minum-minuman beralkohol pada saat sedang menghadapi konflik, stress dan frustasi sehingga remaja berfikiran bahwa dengan meminum minuma beralkohol dapat mengurangi pemikiran padahal dengan meminum minuman beralkohol
dapat merusak tubuh bahkan sampai membuat remaja berbicara yang tidak terkontrol dengan baik karna factor pengaruh alkohol yang terkandung didalam ballo dan yang lebih paranya akibat dari minum ballo yaitu bisa membuat orang tidak sadar diri akibat mengomsumsi ballo secara berlebihan.
3. Faktor yang mendukung remaja dalam mengomsumsi ballo.
Faktor yang mendukun remaja dalam mengomsumsi ballo yaitu peredaran ballo didesa pattuku limpoe suda sangat mewabah sehingga remaja sangat mudah mendapatkannya dan mereka yang minum ballo bukan saja dari kalangan remaja melainkan dari kalangan orang tua juga ada yang terlibat dalam mengomsumsi ballo. Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seseorang tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab-sebab yang menyertainya, karena perilaku menyimpang berkembang melalui suatu periode waktu-waktu tertentu sebagai hasil dari serangkaian tahapan interaksisosial dan adanya kesempatan untuk berperilaku menyimpang.
B. Saran
Untuk menanggulangi kalangan remaja yang mempunyai kebiasaan minum- minuman keras seharusnya perlu kontrol dari berbagai pihak dalam hal ini masyarakat, orang tua atau keluarga, pendidik, perangkat desa, aparat keamaanan. Karena lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi, kebiasaan minum-minuman keras di kalangan remaja namun jangan pernah berpikir untuk mencoba. Pikiran bahwa “..Aku hanya mencoba dan gampang untuk berhenti….” adalah pikiran yang berbahaya dan salah untuk persoalanpeminum
Ballo. Menghindarkan diri dari meminum Ballo adalah dengan sikap menolak untuk memakainya, karena sadar penuh terhadap konsekwensi yang diakibatkannya. Sikap menolak yang pertama adalah menjauhkan diri dari mereka yang memakai apabila anda merasa akan sulit untuk bisa menolak tawaran.
Sikap menolak yang lain adalah tidak mau ikut-ikutan menikmati barang itu, meskipun sehari-hari tetap bergaul biasa dengan mereka, hanya saja kita tidak usah sungkan-sungkan untuk menyatakan “tidak” jika ditawari untuk ikut memakainya. Jika kita merasa tidak mampu mengatasi bujukan orang yang menginginkanmu menjadi pemakai maka jangan segan-segan minta bantuan atau nasehat dari orang yang kita percayai.Kelola diri, jauhi Ballo, pada prinsipnya para remaja harus melaksanakan kehidupan secara seimbang, yaitu memenuhi berbagai kebutuhan baik fisik, sosial, mental, maupun spiritual.
Bachtiar wardi.2006.Sosiologi Klasik.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Djajoesman, Noegroho. 1999. Mari Bersatu Memberantas Bahaya Penyalahgunaan Narkoba, Jakarta: Kepolisian Negara Republik Indonesia
Kartasasmita, G.1996. Minuman keras di masyarakat. Jakarta: Cides.
Mansyur M. Cholil, Drs, SH. Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa. Surabaya :Usaha Nasional-Indonesia.
Masyhuni, M Zainuddin, 2008, Metode Penelitian: pendekatan Praktis dan Aplikatif. Bandung, Refika Aditama.
Philips, Dianne. 1984. Applied Sociological Perspective. London: Georges Allen and Unwin.
Ponsioen, J.A 1969, The Analysis of Social Change Reconsidered: A sociological study, Third printing; Nenderland: Mount.
Raho, Bernard.2007. Teori Sosiologi Modern.Jakarta: Prestasi Pustaka.
Soekanto,Soerjono.2006.Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sugiono.2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Cv Alfabeta.
Sunarto, Kamanto.2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Group.
Sarwono S., 1997, Sosiologi Kesehatan beberapa Konsep Beserta Aplikasinya, Yogyakarta : UGM Press..
Usman, Purnomo Setiady Akbar, 2009, Metode penelitian sosial, Jakarta Husaini,
Widjaja. 1985. Penyalahgunaan Narkotika. Bandung: cv Armico