BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3) Refleksi
Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II sebagai perbaikan dari tindakan yang dilakukan pada siklus I. Pada siklus II terlihat peningkatan dalam proses belajar mengajar. Hal ini terlihat dari keberanian murid untuk bertanya tentang hal-hal yang kurang dipahami dan keaktifan mereka untuk memberi tanggapan terhadap suatu pertanyaan yang diajukan oleh guru dan kelompok lain.
Selain itu, murid yang melakukan aktivitas lain saat proses pembelajaran berlangsung semakin berkurang, mereka terlihat senang menerima pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe Numbered Heads Together.
Murid mulai berani tampil di depan teman-temannya. Kepercayaan diri murid meningkat. Selain itu, murid yang lain mulai serius untuk memperhatikan temannya yang tampil melaporkan hasil diskusinya setelah secara berkelompok menganalisa dan menyelesaikan soal-soal kelompok, dan mereka aktif untuk mengemukakan pendapat mereka.
Secara umum hasil yang dicapai murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamaatan Bissappu Kabupaten Bantaeng setelah pelaksanaan tindakan melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together mengalami peningkatan dari kategori sedang menjadi kategori tinggi.
menyelesaikan soal-soal mata pelajaran IPS pada murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamaatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Nana Sudjana (1989: 111) bahwa hasil belajar adalah hasil belajar yang diperoleh murid adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh murid, harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh murid.
Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai murid. Pada siklus I belum mencapai hasil yang diharapkan, karena belum sesuai dengan target yang ditetapkan. Diawal pertemuan banyak kendala yang dihadapi murid dalam proses pembembelajaran antara lain murid masih bingung dalam menyelesaikan soal atau evaluasi yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran cooperative Learning tipe Numbered Heads Together dimaksudkan agar murid mampu menyelesaikan soal – soal. Setelah melakukan refleksi pada siklus I, maka harus dilakukan kegiatan yang dianggap perlu demi peningkatan hasil belajar pada siklus II. Hasil belajar adalah perubahan perilaku murid akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar.
Dengan melihat dari persentase ketuntasan belajar yang mengalami peningkatan, maka jelas terlihat bahwa hasil belajar IPS murid kelas V SDN NO.
20 Tala-Tala Kecamaatan Bissappu Kabupaten Bantaeng telah mencapai tuntas.
Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar IPS murid kelas VI V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamaatan Bissappu Kabupaten Bantaeng meningkat setelah diterapkannya Model Pembelajaran cooperative Learning tipe Numbered Heads Together. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar IPS murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamaatan Bissappu Kabupaten Bantaeng yang diajar melalui penerapan model pembelajaran cooperative
Learning tipe Numbered Heads Together. Pada siklus I sebesar 64,31 dan siklus II sebesar 80,87. Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar IPS murid yang diajar melalui penerapan model pembelajaran cooperative Learning tipe Numbered Heads Together mengalami peningkatan nilai dari siklus I ke siklus II.
Pada siklus I peneliti lebih mendorong murid untuk mencintai pelajarannya terlebih dahulu, selama kegiatan pembelajaran berlangsung murid yang sebelumnya menanggapi pelajaran dengan cuek, secara perlahan beberapa yang mulai ada kemauan untuk mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan adanya tugas yang diberikan pada setiap akhir pertemuan sampai pada akhir siklus I telah dapat terlihat kesenangan pada murid untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Akibatnya hasil belajar murid mencapai skor rata-rata 64,35 dan jika dimasukkan ke dalam kategori distribusi frekuensi ketuntasan hasil belajar berada pada kategori sedang.
Setelah diadakan refleksi kegiatan pada siklus I, maka dilakukan beberapa perbaikan kegiatan yang dianggap perlu, salah satunya memperbanyak kesempatan kepada murid untuk menjawab pertanyaan dan berpendapat. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar murid sehingga dapat meningkatkan hasil belajar murid pada siklus II.
Pada siklus II, terlihat bahwa kemauan murid untuk belajar mengalami peningkatan, di mana murid yang dulunya belum mampu menjawab pertanyaan yang ditanyakan peneliti, kini sudah mulai berlomba-lomba untuk menjawab pertanyaan. Murid juga sudah percaya diri untuk mengeluarkan pendapatnya dan mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, dan menjelaskan serta memaparkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Witheringthon (1952) dalam buku Sukmadinata (2004 : 155) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang
dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Pendapat yang hampir sama yang dinyatakan oleh Crow and Crow dan juga hilgard. Menurut Crow and Crow (1958) dalam Sukmadinata (2004:155-156) belajar merupakan diperolehnya kebiasaan- kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Belajar dikatakan berhasil jika murid mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya. Dan menurut Hilgard (1962) belajar merupakan suatu proses dimana suatu prilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap situasi.
Setelah diberikan tes akhir siklus II, skor rata-rata yang dicapai adalah 80,87 dan jika dimasukkan ke dalam distribusi frekuensi ketuntasan belajar berada pada kategori tinggi dibandingkan dengan akhir siklus I.
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan pemahaman melalui penerapan model pembelajaran cooperative Learning tipe Numbered Heads Together dari siklus I ke siklus berikutnya pada mata pelajaran IPS di kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamaatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Hal ini terlihat dari ketuntasan nilai hasil belajar siswa yang telah mencapai indikator keberhasilan selama dua siklus. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dan berada pada kategori baik. Peningkatan juga terjadi pada aktivitas mengajar guru dalam menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together yang mencapai kategori sangat baik dan peningkatan jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi guru disarankan untuk menjadikan Model pembelajaran Koopertif tipe NHT sebagai salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar agar siswa dapat terlibat aktif dalam pembelajaran tanpa ada yang merasa terabaikan.
2. Guru diharapkan lebih menguasai penerapan model NHT agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan hasilnya pun lebih maksimal.
58
3. Diharapkan kepada peneliti lain dalam bidang kependidikan agar meneliti lebih lanjut tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT karena dapat meningkatkan keterampilan sosial dan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah
Beserta Contoh-contohnya. Yogyakarta: Gava Media.
Djumingin, Sulastriningsih. 2011. Strategi dan Aplikasi Model Pembelajaran Inovatif Bahasa dan Sastra. Makassar: Badan Penerbit UNM.
---. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Araska.
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Irham, Muhammad dan Wiyani, N.A. 2013. Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Isjoni. 2013. Cooperative Learning: Efektivitas Pembelajaran Kelompok.
Bandung: Alfabeta.
Komalasari, Kokom. 2013. Pembelajaran Kontekstual, Konsep dan Aplikasi.
Bandung: RefikaAditama.
Kustawan, Dedy. 2013. Analisis Hasil Belajar: Program Perbaikan dan Pengayaan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. Bandung: Luxima.
Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI.
Rusman. 2013. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru:
Algesindo
Slavin, R. E. 2005. Cooperative Learning: Teori, Riset, dan Praktik.
Diterjemahkan oleh NuralitaYusron. Bandung: Nusa Media.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana.
Trianto.2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
---. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Jakarta:
Kencana.
---. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Hardiyanti, Ledi. 2011. Peningkatan Hasil Belajar Murid Kelas IV dalam Mata Pelajaran IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) di SD InpresSapiria Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa. Skripsi. Makassar: Program Studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan UNM.
Ikram. 2013. Skripsi. Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Token Pada Murid Kelas IV SD Inpres Bontorannu Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.
Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ma’ruf. 2006. Penimgkatan Kualitas Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Remedial Dengan Tutor Sebaya. Skripsi. FKIP Unismuh Makassar.
Paiman, Restiany. 2013. Peningkatkan Hasil Belajar Murid Melalui Penerapan ModelPembelajaranNumbered Head Together (NHT) Pada Mata
Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Negeri Mangkura III Kota Makassar. Skripsi. Makassar: Program Studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan UNM.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
Sekolah :SDN NO. 20 Tala-Tala
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Semester :V (Lima) /I (Satu)
Alokasi Waktu :2X 35 menit ( 1 X Pertemuan ) Pertemuan/Siklus : I/I
A. Standar Kompetensi
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha, dan islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
B. Kompetensi Dasar
1.1 Mengenal makna peninggalan peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia
C. Indikator 1. Kognitif
Proses
Mendiskripsikan peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia
Produk
Menjelaskan kerajaan- kerajaan Hindu di Indonesia dan peninggalan sejarahnya
2. Afektif
Karakter
Murid bersikap religius, disiplin, teliti dan kerja sama dalam proses pembelajaran
Keterampilan social
Murid aktif menjawab pertanyaan guru serta aktif menyumbangkan idea atau pendapat dalam proses pembelajaran
3. Psikomotorik
Mampu mengungkapkan pendapat tentang peninggalan – peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia.
1. Kognitif
Proses
Setelah proses pembelajaran murid dapat mendiskripsikan peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia
Produk
Selama proses pembelajaran murid dapat menjelaskan kerajaan- kerajaan Hindu di Indonesia dan peninggalan sejarahnya
2. Afektif
Karakter
Selama proses pembelajaran murid dapat bersikap religius, disiplin, teliti, dan kerja sama dalam proses pembelajran
Keterampilan social
Murid dapat aktif menjawab pertanyaan guru serta aktif menyumbangkan idea atau pendapat dalam proses pembelajaran.
3. Psikomotorik
Selama proses pembelajaran murid mampu mengungkapkan pendapat tentang Peninggalan sejarah kerajaan Budha di Indonesia.
E. Materi Pembelajaran
Peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia
F. Alokasi waktu : 2 X 35 menit (1 x pertemuan)
G. Model / Metode Pembelajaran 1. Model pembelajaran:
Numbered Heads Together 2. Metode pembelajaran:
a. Ceramah b. Penugasan c. Diskusi
H. Kegiatan Pembelajaran
NO. TAHAPAN KEGIATAN
Pengorganisasian
KETERLAKSANAAN Waktu Murid
A. KEGIATAN AWAL 20Menit 5 4 3 2 1
1. Memulai pelajaran dengan mengucapkan salam dan mengajak murid untuk berdoa.
2. Mengecek kehadiran murid (absensi).
3. Menciptakan suasana yang menyenangkan dan memberi motivasi kepada murid.
4. Menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
6
6
4
4
Klasikal
Klasikal
Klasikal
Klasikal
B. KEGIATAN INTI 70Menit
1. Guru menjelaskan materi dan memperlihatkan media tentang Peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia.
2. Murid dibagi ke dalam kelompok, setiap murid dalam setiap kelompok mendapat nomor.
3. Setiap kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/
mengetahui jawabannya.
4. Guru memanggil salah satu murid
20
8
`10
10
Individual
Klasikal
Klasikal
Klasikal
dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari kelompok lain, kemudian guru menunjuk murid bernomor yang lain.
6. Kesimpulan.
12
10
Klasikal
Klasikal
C. KEGIATAN AKHIR 15Menit
1. Memberikan penghargaan terhadap kelompok yang telah bekerja sama dengan hasil yang memuaskan.
2. Memberikan pesan-pesan moral dan mengucapkan salam penutup.
8
7
Klasikal
Klasikal
Ket. Keterlaksanaan : 5= Sangat Baik 4= Baik
3= Kurang Baik 2= Tidak Baik 1= Sangat tidak baik I. Penilaian
1. Prosedur Penilaian
a. Penilaian proses belajar dilaksanakan pada saat murid mengerjakan LKS,dengan menggunakan lembar observasi.
b. Penilaian hasil belajar dengan menggunakan alat evaluasi/tertulis (Terlampir)
2. Tekhnik
Tes dan Unjuk Kerja 3. Bentuk
Tes Uraian dan Format Penilaian Unjuk Kerja.
4. Soal dan Instrumen
Terlampir
Penilaian Kognitif
1. Diskusikanlah dengan teman kelompokmu Peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia?
2. Sebutkan Peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia?
Penilaian Afektif
No Nama Murid
Aspek Penilaian Rasa Ingin
tahu
Kerjasama Membantu Teman yang Kesulitan 1 Risal
2 Sandra 3 Kiki
Nama Siswa Dst.
Nilai :
4 = Sangat Baik 3 = Baik
2 = Cukup 1 = Kurang
Penilaian Psikomotorik
No Nama Murid Aspek Penilaian
Sesuai Prosedur Teliti Rapi 1 Risal
2 Sandra 3 Kiki
Nama Siswa Dst.
Nilai :
4 = Sangat Baik 3 = Baik
2 = Cukup 1 = Kurang
Sumber : Siti Syamsiyah,dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial, hal.
3-6
Media : Gambar kerajaan.
Program tindak lanjut
1. Siswa yang memperoleh nilai KD < KKM mengikuti remedial.
2. Siswa yang memperoleh nilai KD ≥ KKM lanjut ke KD berikutnya melalui kegiatan pembelajaran individual (individual learning)
Bantaeng, 08 September 2014
Disetujui,
Guru Kelas V Mahasiswa
Indrayani, S.Pd Israyani Nur Wahyuninsi
NIP. 19790105 2008 01 2016 NIM. 10540 4275 10
Mengetahui:
Kepala Sekolah
ST. Nurhayati, S.Pd NIP. 19551212 198411 2003
A. Standar Kompetensi
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Buddha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
B. Kompetensi Dasar
1.1 Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia.
C.Indikator
Menjelaskan peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia.
Menuliskan peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia
Peninggalan Sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia
Padamulanya, nenek moyang kita belum mengenal agama. Mereka menganutkepercayaan animisme dan dinamisme. Keduanya tidak diketahui mana yang lebih dulu ada. Animisme adalah kepercayaan pada roh-roh halus, sedangkan dinamismeadalah kepercayaan pada benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib.Sampai akhirnya lahir agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu- Buddha masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari India dan Cina.Agama Hindu mengenal adanya Tri Murti, yaitu Brahma sebagai pencipta alam,
Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam, dan Dewa Syiwa sebagai perusakalam.
Kitab agama Hindu adalah Weda.
Di dalam tata kehidupan, masyarakatHindu menganut tingkatan yang disebut kasta. Ada empat kasta, yaitu kasta brahmana (kaum ahli agama), kasta ksatria (golongan raja dan bangsawan), kasta waisya (pedagang), dan kasta sudra (rakyat biasa dan budak). Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia dan peninggalan sejarahnya, antara lain sebagai berikut.
MATERI AJAR
Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini berdiripada tahun 400 Masehi. Raja pertamanya adalah Kudungga, kemudian digantikan Aswawarman. Raja terkenal dari Kutai adalah Mulawarman.
Mulawarman memuja Dewa Syiwa, maka ia beragama Hindu. Peninggalan Kerajaan Kutai adalah Prasasti Kutai yang terpahat pada tiang batu yang disebut yupa yang ditemukan di aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Prasati tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.
Gambar Prasasti Yupa
2. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Jawa. Letaknya di Bogor, Jawa Barat. Berdiri pada tahun 450 Masehi. Rajanya yang terkenal bernama Purnawarman. Purnawarman memuja Dewa Wisnu, maka ia menganut agama Hindu.
Peninggalan sejarah berupa tujuh prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskertamenggunakan huruf Pallawa, di antaranya Prasasti Ciaruteun (terdapat jejak telapak kaki Purnawarman), Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti Lebak.
Gambar Prasasti Ciaruteun 3. Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram terletak di daerah Yogyakarta. Raja yang pertama adalah Raja Sanna, kemudian digantikan oleh Raja Sanjaya. Kerajaan ini dikenal dari sebuah prasasti di desa Canggal, barat Magelang. Prasasti ini tertulis tahun 732 Masehi. Ditulis dengan huruf Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta.
4. Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri terletak di tepi sungai Brantas, Jawa Timur, beribu kota di Daha. Raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri adalah Bameswara, Jayabaya, Sarweswara, Aryyeswara, Gandra, Kameswara, dan Kertajaya. Raja Bameswara memerintah tahun 1115– 1130. Ia dikenal sebagai Raden Panji Asmarabangun danpermaisurinya Sri Kiranavatu atauDewi Candra Kirana. Ia
menetapkan lambang kerajaan berupa Candrakapala (tengkorak bertaring).
Peninggalan sejarah Kerajaan Kediri, antara lain Prasasti Pandeglang, PrasastiPenumbangan, Prasasti Hantang, Prasasti Talan, Prasasti Jepun, Prasasti Kahyunan, Prasasti Weleri, Prasasti Angin, dan Prasasti Semanding.
5. Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari terletak diTumapel, Malang, Jawa Timur. Didirikan oleh Ken Arok tahun 1222 setelah mengalahkan Raja Kertajaya Kediri. Ken Arok dinobatkan Brahmana sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang menunjukkan Singasari adalah kerajaan Hindu. Kisah Ken Arok tertulis di dalam Kitab Pararaton. Ken Arok memerintah sampai tahun 1227. Raja-raja yang pernah berkuasa antara lain Sri Rajasa Sang Amurwahbumi (Ken Arok), Anusapati (1227 – 1248 M), Tohjaya (1248 M), Ranggawuni (1248 – 1268 M) dan Kertanegara (1268 – 1292 M).
Peninggalan sejarah Kerajaan Singasari antara lain Candi Singasari (makamKertanegara), Candi Kidal (makam Anusapati), Candi Jago, Candi Kangenan (makam Ken Arok), dan Candi Katang Lumbang (makam Tohjaya)
.6. Kerajaan Majapahit dan Peranan Gajah Mada
Kerajaan Majapahit terletak di selatan Sungai Brantas yang berpusat di Trowulan, Mojokerto. Didirikan oleh Raden Wijaya tahun 1294, yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Raden Wijaya adalah keturunan dari Kertanegara yang dibunuh oleh Jayakatwang.
Puncak kejayaan KerajaanMajapahit adalah semasa Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. HayamWuruk artinya ayam muda, karena naik tahta pada waktu usianya masih muda (umur 16 tahun) dan bergelar Rajasanegara.
Cita-cita Gajah Mada ingin mempersatukan wilayah Nusantara diucapkan dalam Sumpah Amukti Palapa. Gajahmada seorang ahli hukum, dia menyusun Kitab Kutara Manawa, yang berisi tentang tata pemerintahan dan perang. Gajah Mada wafat tahun 1364 M dan Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 M.
Peninggalan sejarah Majapahit berupa karya sastra dan candi. Karya sastra yang dihasilkannya, di antaranya Kitab Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kitab Arjunawiwaha (Mpu Kanwa), Kitab Sutasoma (Mpu Tantular). Adapun Candi yang ditinggalkan antara lain Candi Panataran (Blitar), Candi Sumberjati, Candi Sawentar, Candi Tikus di Trowulan, Candi Jabung, Candi Tigawangi, dan Candi Surawana (Kediri).
MEDIA PEMBELAJARAN
A. Standar Kompetensi
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha, dan islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
B. Kompetensi Dasar
1.1 Mengenal makna peninggalan peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
C. Indikator
Menjelaskan peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia.
Menuliskan peninggalan sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia Petunjuk :
-Berkelompoklah menurut kelompok yang sudah di tentukan
-Carilah informasi tentang tugas yang diberikan diberbagai sumber belajar -Kerjakan tugas sesuai perintah dan kerjakan dengan sungguh-sungguh
agar hasil belajarmu memuaskandan di temple di papan unjuk kerja.
Petunjuk: Jawablah pertanyaan dengan singkat dan benar
1. Tuliskan kerajaan Hindu tertua di Indonesia, kapan berdirinya, dimana letaknya, dan siapa pemimpinnya?
LEMBAR KERJA SISWA
(LKS)
3. Sebutkan dan jelaskan kepercayaan yang dianut nenek moyang kita sebelum mengenal agama?
4. Jelaskan secara singkat proses masuknya agama Hindu di Indonesia?
5. Jelaskan secara singkat usaha- usaha Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara seperti yang tertuang dalam Sumpah Palapa! Tercapaikah cita- citanya? Apa buktinya dan jelaskan!
Nama Kelompok : ...
Anggota : 1.
2.
3.
4.
5.
1. Kerajaan Hindu tertua di indonesia adalah Kerajaan Kutai, kerajaan ini berdiri pada tahun 400 masehi dan terletak di tepi Sungai mahakam, kalimantan Timur. Raja pertama Kerajaan Kutai adalah Kundungga, kemudian digantikan oleh Aswawarman. Raja Kutai yang terkenal adalah Mulawarman.
2. 2 Kerajaan Hidu dan peninggalannya, yaitu:
a. Kerajaan Tarumanegara, peninggalan berupa tujuh prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Barat.
b. Kerajaan Kediri, peninggalannya adalah Prasasti Pandeglang, Prasasti Penumbangan, Prasasti Hantang, dll.
3. Kepercayaan yang dianut nenek moyang kita sebelum mengenal agama ada dua yaitu: animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan pada roh-roh halus, sedangkan Dinamisme adalah kepercayaan kepada benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib.
4. Agama Hindu masuk di Indonesia tidak melalui kekerasan atau penaklukan. Dari berbagai peninggalan yang ada diketahui bahwa Hindu
LEMBAR JAWABAN
pedagang India.
5. Usaha Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara dilakukan dengan cara membangun angkatan laut yang kuat. Armada angkatan laut Majapahit dipimpin oleh Mpu Nala, dengan kekuatan armada angkatan lautnya, akhirnya Majapahit berhasil memperluas wilayah kekuasaannya.
Tahun 1340 M, Dompo dapat ditaklukkan. Kemudian menyusul Bali pada tahun 1343 M. Raja Bali bernama Baduhulu tewas dalam pertempuran itu.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
Sekolah :SDN NO. 20 Tala-Tala
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Semester :V (Lima) /I (Satu)
Alokasi Waktu :2X 35 menit ( 1 X Pertemuan ) Pertemuan/Siklus : II/I
A. Standar Kompetensi
1. Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha, dan islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia.
B. Kompetensi Dasar
1.2 Mengenal makna peninggalan peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia
C. Indikator 1. Kognitif
Produk
Mendiskripsikan peninggalan sejarah Kerajaan Budha di Indonesia
Proses
Menjelaskan kerajaan- kerajaan Budha di Indonesia dan peninggalan sejarahnya
2. Afektif
Karakter
Murid bersikap religius, disiplin, teliti dan kerja sama dalam proses pembelajaran
Keterampilan social
Murid aktif menjawab pertanyaan guru serta aktif menyumbangkan idea atau pendapat dalam proses pembelajaran
3. Psikomotorik
Mampu mengungkapkan pendapat tentang peninggalan – peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia.