BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diatas maka di peroleh thitung
= 5,326 selanjutnya untuk membandingkan dengan ttabel maka perlu terlebih diketahui derajat kebebasan (dk) seperti berikut :
Nilai ttabel dengan taraf signifikan = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 23 maka diperoleh yaitu 1,714 pada tabel distribusi (lampiran C 2 halaman 129).
Berdasarkan hasil pengujian, jelas terlihat bahwa nilai t hitung (5,326) ˃ ttabel
(1,714), dengan demikian H0 ditolak dan H1diterima. Oleh karena itu, berdasarkan uji hipotesis ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash efektivitas pada peningkatan hasil belajar peserta didik mata pelajaran IPA di SMP Negeri 43 Bulukumba.
63
interaktif berbasis macromedia flash dengan bantuan alat yaitu laptop dan LCD.
Selama proses pembelajaran dari awal sampai akhir pertemuan peneliti mengisi lembar observasi peserta didik, setelah materi pembelajaran selesai dilakukan tes akhir pembelajaran (posttest) yang terdiri dari 10 butir soal berupa pilihan ganda dan selanjutnya pengisian angket respon peserta didik sebelum menutup pertemuan terakhir dalam penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMP Negeri 43 Bulukumba maka diperoleh data-data yang telah dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial telah dipaparkan.
Hasil observasi aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash pada peserta didik kelas VII A SMP Negeri 43 Bulukumba menunjukkan bahwa persentase aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung secara keseluruhan dari 7 item aspek aktivitas kepada 24 orang peserta didik yaitu pada pertemuan pertama sebesar 79,76 % yang berada pada kategori baik dan pada pertemuan kedua sebesar 82,73 % yang juga berada pada kategori baik.
Berdasarkan persentase tersebut maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar peserta didik selama pembelajaran berlangsung dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua terjadi peningkatan dan persentase aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran pada pertemuan pertama dan kedua berada pada kategori baik dengan interval persentase yaitu 75%-100% sehingga diperoleh hasil bahwa keadaan lingkungan sekolah serta proses kegiatan belajar mengajar di kelas berada pada keadaan yang baik. Oleh karena itu, aktivitas belajar peserta didik yang baik dapat mendukung dan melancarkan proses pembelajaran di kelas.
SMP Negeri 43 Bulukumba memiliki nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 70. Berdasarkan hasil analisis deskriptif data hasil belajar pretest peserta didik yaitu sebelum menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash pada materi pencemaran lingkungan mata pelajaran IPA diperoleh nilai maksimum tes hasil belajar pretest peserta didik yaitu 70 dan minimum tes hasil belajar pretest peserta didik yaitu 10.
Rata-rata nilai hasil belajar pretest peserta didik yaitu 35,83 dan standar deviasinya yaitu 13,160 dengan rinciannya terdapat 95,83% berada pada kategori sangat rendah, 0% berada pada kategori rendah, 4,17% berada pada kategori sedang, 0% berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi dimana persentase ketuntasannya yaitu sebesar 95,83 % kategori tidak tuntas dan 1 orang peserta didik dengan persentase sebesar 4,17 % kategori tuntas sedangkan setelah menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash pada materi pencemaran lingkungan mata pelajaran IPA diperoleh nilai maksimum hasil belajar peserta didik yaitu 100 dan nilai minimum hasil belajar peserta didik yaitu 60. Nilai rata-rata tes hasil belajar posttest peserta didik yaitu 81,25 dan standar deviasinya yaitu 10,347 dengan rinciannya yaitu 0 % yang berada pada kategori sangat rendah, 4,16 % berada pada kategori rendah, 25 % berada pada kategori sedang, 33,34 % berada pada kategori tinggi dan 37,5 % berada pada kategori sangat tinggi dimana persentase ketuntasannya yaitu sebesar 4,17 % kategori tidak tuntas dan 23 orang peserta didik dengan persentase sebesar 95,83
% kategori tuntas. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta
65
didik meningkat setelah diberikan perlakuan yaitu pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash.
Untuk memperkuat analisis deskriptif di atas maka selanjutnya dilakukan analisis inferensial untuk membuktikan hipotesis yang diajukan. Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji pasyarat yakni uji normalitas sehingga diperoleh nilai rata-rata hasil belajar pretest peserta didik menunjukkan nilai Pvalue > α yaitu 0,080 > 0,05 dan nilai hasil belajar posttest peserta didik menunjukkan nilai Pvalue > α yaitu 0,052 > 0,05. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa nilai hasil belajar pretest peserta didik dengan nilai hasil belajar posttest peserta didik berdistribusi normal.
Dari data hasil uji prasyarat di atas yang mnyatakan bahwa kedua kelompok data tedistibusi normal maka pengujan data dapat dilanjutkan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan uji-t sehingga diperoleh thitung sebesar 5,326 dari perhitungan yang telah dilakukan dan dengan taraf signifikan = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 23 maka diperoleh ttabe sebesar 1,714 pada tabel distribusi. Berdasarkan hasil tersebut maka diketahui bahwa nilai t hitung (5,326) ˃ ttabel (1,714), dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima. Oleh karena itu, berdasarkan uji hipotesis ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash efektivitas pada peningkatan hasil belajar peserta didik mata pelajaran IPA di SMP Negeri 43 Bulukumba.
Berdasarkan serangkaian analisis yaitu analisis deskriptif dan inferensial diatas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash efektivitas pada peningkatan hasil belajar peserta
didik, dengan demikian salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar pada pencemaran lingkungan adalah dengan menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa penggunaan macromedia flash dalam pembelajaran dapat membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, dapat memudahkan peserta didik dalam memahami materi pelajaran, peserta didik lebih mudah untuk mengingat materi yang diajarkan, dan memudahkan peserta didik menjawab soal-soal latihan sebagai pemantapan pemahaman materi serta memberikan pengalaman baru sehingga peserta didik menjadi termotivasi (Utama dkk, 2012).
Setelah mengakhiri pertemuan dalam penelitian ini, peserta didik mengisi angket respon peserta didik yang telah diberikan kepada peserta didik setelah proses pembelajaran menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash selesai. Angket respon peserta didik terdiri dari 7 deskripsi yang berasal dari beberapa aspek atau indikator, responden angket respons peserta didik sebanyak 24 orang peserta didik.
Berdasarkan analisis angket respon peserta didik yang dilakukan maka diperoleh hasil analisis secara keseluruhan peserta didik terhadap penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash yaitu hasil analisis tersebut ditunjukan dari rata-rata persentase respon peserta didik yaitu 89,7 % yang berada dalam kategori 81% – 100% dengan interpretasi sangat positif dimana terdiri dari 21 orang peserta didik dengan respon sangata positif dan 3 orang peserta didik dengan respon positif.
67
Dengan demikian efektivitas penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash dalam proses pembelajaran pada materi pencemaran lingkungan menurut responden menunjukkan bahwa media ini mampu meningkatkan proses belajar peserta didik. Hasil analisis angket respons peserta didik dengan beberapa aspek atau indikator menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash sangat baik karena dapat memudahkan peserta didik dalam memahami materi, tidak membosankan bagi peserta didik, meningkatkan motivasi peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran, dan memudahkan peserta didik menyimpulkan materi yang didapatkan melalui media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash tersebut.
68 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasakan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa:
1. Observasi Aktivitas Peserta Didik
Rata-rata persentase aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung secara keseluruhan dari 7 item aspek aktivitas kepada 24 orang peserta didik yaitu pada pertemuan pertama berada pada kategori baik dan pada pertemuan kedua juga berada pada kategori baik sehingga diketahui bahwa keadaan lingkungan sekolah serta proses kegiatan belajar mengajar di kelas berada pada keadaan yang baik.
2. Tes Hasil Belajar
Nilai rata-rata hasil belajar pretest peserta didik sebelum adanya pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash pada materi pencemaran lingkungan mata pelajaran IPA dan nilai rata-rata hasil belajar posttest peserta didik setelah adanya pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash pada materi pencemaran lingkungan mata pelajaran IPA mengalami kenaikan. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash efektivitas pada
69
peningkatan hasil belajar peserta didik mata pelajaran IPA di SMP Negeri 43 Bulukumba.
3. Angket Respon Peserta Didik
Rata-rata persentase respon peserta didik berada dalam interpretasi sangat positif dimana terdiri dari 21 orang peserta didik dengan respon sangata positif dan 3 orang peserta didik dengan respon positif. Sehingga diketahui bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis macromedia flash dalam proses pembelajaran pada materi pencemaran lingkungan menurut responden menunjukkan bahwa media ini mampu meningkatkan proses belajar peserta didik
B. Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi sekolah, melalui penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas guru, dan pada akhirnya kualitas sekolah, memberikan sumbangsih yang berharga dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang target kurikulum yang sedang berjalan.
2. Bagi pendidik, penelitian ini membuktikan bahwa proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPA sangat membutuhkan media pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
3. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya memperhatikan waktu dalam pembelajaran sehingga hasil yang didapatkan lebih efisien dan efektif. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik dari penelitian ini maka diharapkan bagi yang akan melakukan penelitian seperti ini hendaknya menyiapkan komputer kepada setiap peserta didik agar penelitian lebih maksimal.
71
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, A. K. 2007. Media Pembelajaran. Makassar : Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Anggara. 2008. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Arsyad, A. 2014. Media Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Pers.
Cahyono, Eko. 2010. Deskripsi Penggunaan Macromedia Flash Sebagai Media dalam Pembelajaran Fisika.
Damopolii1, D., Bito, N., & Resmawan. 2019. Efektivitas Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Pada Materi Segiempat. ALGORITMA Journal of Mathematics Education (AJME). Vol 1, No. 2, 74-985.
Devi,P. K. 2010. Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran IPA Untuk Guru SMP. Bandung: PPPPTK IPA.
Haling, A. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar : Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Handhika, J. 2012. Efektifitas Media Pembelajaran IM3 Ditinjau Dari Motivasi Belajar. IKIP PGRI Madiun, Indonesia. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia.
JPII, 01, 109-114.
Hamalik, O. 2014. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Harahap, Ongku Desix B. 2021. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Macromedia Flash dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS). Vol 3, No. 3, 955-961.
Hidayat, T. & Paluppi, A. E. 2013. Penerapan Media Pembelajaran Berbasis Macromedia Flash 8 Melalui Pembelajaran Langsung Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar pada Pelajaran Mesin Cnc Tu 2a Siswa Kelas XI Tpm 3 Di SMK Negeri 3 Boyolangu, JPTM, 02, 63-71.
Jayadi, 2008. Penggunaan Jurnal Belajar dengan Macromedia Flash dalam Pembelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Siswa Kelas X di SMA Negeri 2 Surakarta. Universitas Sebelas Maret.
Jihad, A., & Haris, A. 2013.Evaluasi Pembelajaran. Yogyakrta : Multi Pressindo.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014. Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VII SMP/MTs. Jakarta.
Kosasih, E. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013. Bandung : Yrama Widya.
Lailiyah, N. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Flash untuk Pembelajaran Keterampilan Menuliskan Kembali Cerita Siswa Kelas IV SD. JPGSD. Vol. 06, No. 07, 1150 – 1159.
Lestari, N. 2020. Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif. Klaten : Penerbit Lakeisha.
Lutfiyah, & Sulisawati, D. 2019.Efektivitas Pembelajaran Matematika Menggunakan Media Berbasis E-Learning. Jurnal Pendidikan Matematika.Vol. 02, No, 1, 2614-732X.
Muhibbin, S. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Pelajar.
Mukhtar & Iskandar. Desain Pembelajaran Berbasisis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru). Jakarta : Gaung Persada.
Munadi, Y. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta : Gaung Persada Press.
Musfiqon. 2012. Pengembangan Media & Sumber Pembelajaran. Jakarta : Prestasi Pustakaraya.
Nawawi, H. H. 1983. Metode Penelitian Deskriptif. Yogyakarta : Tiara Wacana.
Nurhayati. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar : Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Priyonggo, F. V. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Macromedia Flash untuk MateriSistem Gerak pada Manusia Kelas VIII.
Ejournal-Pensa. Vol 06, No. 02, 198 – 203.
Pujiastutik, H 2019. Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran E-Learning Berbasis Web Pada Mata Kuliah Belajar Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal Teladan. Vol 4 No 1, 25-36.
73
Rusman, Kurniawan, D., & Riyana, C. 2015. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi : Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sadiman, A. S., Raharjo, R., Haryono, A., & Rahardjito. 2005. Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya). Jakarta : CV.
Rajawali.
Sakti, I., Puspasari, Y. M., & Risdianto, E. 2012. Pengaruh Model Pembalajaran Langsung (Direct Instruction) Melalui Media Animasi Berbasis
Macromedia Flash Terhadap Minat Belajar dan Pemahaman Konsep Fisika Siswa di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. Jurnal Exacta, 10, 1- 10.
Sanjaya, W. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup.
2012. Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Sari, I. N., Saputro, S. &Ashadi. 2013. Pengembangan Multimedia Pembelajaran Berbasis Macromedia Flash Sebagai Sumber Belajar Mandiri pada Materi Koloid Kelas XI IPA SMA dan MA, Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), 02, 152-157.
Sudjana, N., & Ahmad R. 2002. Media Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
2012. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Trianto, 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik : Konsep, Landasan Teoritis – Praktis dan Implementasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka.
, 2014. Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan
Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta : Bumi Aksara.
Utama, N. P., Nilawasti, Z. A., & Vionanda, D. 2012. Penggunaan Macromedia Flash 8 Pada Pembelajaran Dimensi Tiga. Jurnal Pendidikan Matematika, 01, 51-59.
Yuliana, N., Pratiwi D. D., & Anwar S. 2018. Pengembangan Media Interaktif Matematika Berbasis Macromedia Flash. Jurnal Pendidikan Matematika.
Vol. 3, No. 2, 50-60.
Yusuf, L. N. S., & Sugandhi, N. M. 2018. Perkembangan Peserta Didik. Depok : Rajawali Pers.
75
LAMPIRAN A
PERSURATAN
LAMPIRAN A 1
SURAT IZIN PENELITIAN DARI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
77
LAMPIRAN A 2
SURAT IZIN PENELITIAN DARI PEMERINTAH KABUPATEN
BULUKUMBA
79
81
LAMPIRAN A 3
SURAT KETERANGAN TELAH
MELAKSANAKAN PENELITIAN
83
LAMPIRAN B
MEDIA PEMBELAJARAN DAN INSTRUMEN
PENELITIAN
LAMPIRAN B 1
MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS
MACROMEDIA FLASH
85
1. Frame pembuka/Opening
2. Frame Home
3. Frame tujuan pembelajaran
4. Frame materi
87
5. Frame Video
6. Frame Evaluasi
LAMPIRAN B 2
PENILAIAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS
MACROMEDIA FLASH
89
91
93
95
LAMPIRAN B 3
RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN (RPP)
PENCEMARAN LINGKUNGAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P )
Satuan Pendidikan : SMPN 43 BULUKUMBA Kelas / Semester : VII / 2
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Materi Pokok : Pencemaran Lingkungan Sub Materi Pokok : - Definisi Pencemaran
- Pencemaran Air - Pencemaran Udara - Pencemaran Tanah Alokasi Waktu : 5 JP (2 Pertemuan)
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat menjelaskan konsep lingkungan dan komponen- komponennya.
B. PENDEKATAN MODEL PEMBELAJARAN
Pendekatan dan model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah:
Metode : Saintifik (Scientific)
Model : Discovery Learning
C. MEDIA, ALAT DAN SUMBER BELAJAR 1. Media / Alat Pembelajaran
- Komputer dan LCD 2. Sumber Belajar
- Buku Guru dan Buku Siswa ’Ilmu Pengetahuan Alam’, Cetakan Ke- 3, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016.
- Buku referensi lain yang relevan - Internet.
97
F. MATERI PEMBELAJARAN
Pembelajaran dan penilaian topik Pencemaran Lingkungan memerlukan waktu 5 jam pelajaran atau 2 TM (Tatap Muka) dengan asumsi 5 JP/minggu diorganisasikan menjadi dua kali TM, yakni masing-masing 3 dan 2 JP sebagai berikut:
TM Ke- Materi JP
1. Definisi Pencemaran Lingkungan
Pencemaran Air
2
2. Pencemaran Udara
Pencemaran Tanah 3
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN PERTEMUAN KE- 1 (2 JP)
Definisi Pencemaran Lingkungan a. Materi untuk Guru
1) Pengertian pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia. Akibatnya, kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
2) Pencemaran lingkungan terjadi akibat dari kumpulan kegiatan manusia (populasi) dan bukan dari kegiatan perorangan (individu).
Selain itu pencemaran dapat diakibatkan oleh faktor alam, contoh gunung meletus yang menimbulkan abu vulkanik.Seperti meletusnya Gunung Merapi.
3) Zat yang dapat mencemari lingkungan dan dapat mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup disebut polutan. Polutan ini dapat berupa zat kimia, debu, suara, radiasi, atau panas yang masuk ke dalam lingkungan.
Kapan suatu zat dapat dikatakan sebagai polutan? Zat dapat dikatakan polutan apabila
a) kadarnya melebihi batas kadar normal atau ambang batas;
b) berada pada waktu yang tidak tepat;
c) berada pada tempat yang tidak semestinya.
4) Pencemaran ada tiga macam, yaitu pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran tanah
Pencemaran Air a. Materi untuk Guru
1) Pencemaran air, yaitu masuknya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
2) Air dikatakan tercemar apabila air itu sudah berubah, baik warna, bau, derajat keasamannya (pH), maupun rasanya. Dengan kata lain, air tercemar apabila terjadi penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normalnya.
3) Pencemaran air dapat terjadi pada sumber mata air, sumur, sungai, rawa-rawa, danau, dan laut. Bahan pencemaran air bisa berasal dari limbah industri, limbah rumah tangga, dan limbah pertanian.
4). Faktor-Faktor Penyebab Pencemaran (Sumber Polutan) Air 5) Dampak Pencemaran Air
6) Cara Penanggulangan Pencemaran Air
Pengolahan limbah bertujuan untuk menetralkan air dari bahan-bahan tersuspensi dan terapung, menguraikan bahan organik biodegradable, meminimalkan bakteri patogen, serta memerhatikan estetika dan lingkungan. Pengolahan air limbah dapat dilakukan sebagai berikut.
99
b. Kegiatan Pembelajaran
No Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan
1. Guru melakukan apersepsi dan motivasi dengan menunjukkan kepada Peserta Didik beberapa contoh lingkungan yang asri, bersih, dan rapi, serta lingkungan sebaliknya yang kotor dan juga tidak tertata yang ada di sekitar lingkungan sekolah atau di tempat lain yang belum pernah dilihat Peserta Didik.
2. Guru menyampaikan kepada Peserta Didik tujuan pembelajaran yang akan dipelajari yaitu definisi pencemaran dan juga macam-macam pencemaran lingkungan.
3. Guru menyampaikan kepada Peserta Didik nilai yang diperoleh setelah mempelajari bab ini.
Inti
1. Guru meminta Peserta Didik untuk mengamati foto-foto ataupun video yang ada di power point yang dibuat guru tentang pencemaran yang ada di sekililing kita.
2. Peserta Didik mengamati aktivitas manusia ataupun kejadian lain yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan.
3. Peserta Didik membuat pertanyaan tentang apa yang telah diamati terkait definisi pencemaran dan juga macam-macam pencemaran lingkungan.
4. Guru membimbing Peserta Didik untuk membaca buku siswa dan mencari informasi sebanyak mungkin untuk mendapatkan informasi definisi dan pencemaran lingkungan.
5. Guru juga memberikan kesempatan kepada Peserta Didik untuk mencari sumber informasi lain baik melalui buku penunjang lainnya ataupun Internet.
Penutup
Guru bersama dengan Peserta Didik membuat kesimpulan bersama tentang definisi pencemaran lingkungan dan juga macam-macam
2
pencemaran lingkungan
PERTEMUAN KE- 2(3 JP) Pencemaran Udara
a. Materi untuk Guru
Udara adalah salah satu faktor abiotik yang mempengaruhi kehidupan komponen biotik (makhluk hidup). Udara mengandung senyawa- senyawa dalam bentuk gas, di antaranya mengandung gas yang amat penting bagi kehidupan, yaitu oksigen. Dalam atmosfer bumi terkandung sekitar 20% oksigen yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Oksigen berperan dalam pembakaran senyawa karbohidrat di dalam tubuh organisme melalui pernapasan. Reaksi pembakaran tidak hanya terjadi di dalam tubuh, namun kita pun sering melakukannya, seperti pembakaran sampah atau lainnya. Hasil sampingan dari pembakaran menghasilkan senyawa karbon (CO dan CO) yang akan dibuang ke udara.
Pencemaran udara didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana udara mengandung senyawa-senyawa kimia atau substansi fisik maupun biologi dalam jumlah yang memberikan dampak buruk bagi kesehatan manusia, hewan , ataupun tumbuhan. Selain itu, juga akan merusak keindahan alam serta kenyamanan, atau merusak barang- barang perkakas (properti).
1) Pencemaran Udara Primer 2) Pencemaran Udara Sekunder Pencemaran tanah
a. Materi untuk Guru
Pencemaran tanah adalah suatu keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub- permukaan, kecelakaan kendaraan
101
pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Tidak jauh berbeda dengaa pencemaran air dan udara, ternyata pencemaran tanah juga banyak sekali penyebabnya di antaranya seperti ini.
1) Limbah domestik 2) Limbah industri 3) Limbah pertanian b. Kegiatan Pembelajaran
No Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan
1. Guru melakukan apersepsi dan motivasi dengan menunjukkan kepada Peserta Didik beberapa contoh udara yang tercemar.
2. Guru menyampaikan kepada Peserta Didik tujuan pembelajaran yang akan dipelajari, yaitu pencemaran udara dan dampaknya.
3. Guru menyampaikan kepada Peserta Didik nilai yang diperoleh setelah mempelajari bab ini.
Inti
1. Guru meminta Peserta Didik untuk mengamati foto-foto ataupun video yang ada di power point yang dibuat guru tentang pencemaran udara yang ada di sekeliling kita.
2. Peserta Didik mengamati aktivitas manusia ataupun kejadian lain yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara.
3. Peserta Didik membuat pertanyaan tentang apa yang telah diamati terkait pencemaran udara dan juga dampaknya.
4. Guru membimbing Peserta Didik untuk membaca buku siswa dan mencari informasi sebanyak mungkin untuk mendapatkan informasi tentang pencemaran udara serta dampak dan cara penanggulangannya.
5 Guru juga memberikan kesempatan kepada Peserta Didik untuk mencari