• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Status Gizi (Halaman 124-200)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Pengaruh Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Ketahanmalangan Siswa Kelas VII Di MTS Nurul Islam Sekarbela.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VII di MTS Nurul Islam Sekarbela, pengujian hipotesis menunjukkan hasil bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Ketahanmalangan (Y1) dengan hasil analisis nilai sig.=

0,001 < 0,05. Atau dapat juga dianalisis melalui perhitungan nilai Fhitung dan Ftabel. Nilai Fhitung sebesar 8,290 dan nilai Ftabel sebesar 3,21. Sebagaimana dasar pengambilam keputusan yang dikutip dari buku V. Wiratna Sujarweni jika nilai Fhitung > Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Karena nilai Fhitung > Ftabel yaitu 8,290 > 3,21, maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Adapun nilai koefisien determinasi (R-square) sebesar 0,283 atau 28,3% dan berada dalam kategori yang lemah.

Hasil analisis tersebut sama dengan hasil observasi awal peneliti kepada peserta didik kelas VII (responden), dimana terlihat lebih banyak (mayoritas) peserta didik yang memiliki status gizi baik (normal). Selanjutnya, untuk pola asuh orang tua memperoleh hasil yang sedikit berbeda, dimana hasil wawancara sebelumnya mayoritas peserta didik menyatakan bahwa orang tua mereka menerapkan pola asuh demokratis (pola asuh orang tua yang

106

memberikan kebebasan, namun tetap diawasi). Sedangkan hasil analisis perhitungan dari instrumen penelitian yaitu angket (kuesioner) menunjukkan hasil bahwa mayoritas peserta didik memiliki pola asuh orang tua yang berjenis pola asuh permisif (pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan tanpa diawasi).

Berdasarkan pembahasan terkait hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa mayoritas (dominan) pola asuh yang diterapkan oleh peserta didik di MTs Nurul Islam Sekarbela ini yaitu pola asuh permisif. Hal ini, dimungkinkan dipengaruhi, jika dilihat dari sisi saat teknik mengisi dan pengalaman yang dirasakan oleh peserta didik. Sisi pandang pertama yaitu berdasarkan teknik pengisian angket (kuesioner), Dimana secara teknik ketika peserta didik membaca butir pernyataan, belum tentu mereka dapat memahami butir item pernyataan angket tersebut, sehingga terkadang mereka bertanya kepada temannya dan akhirnya mereka pun malah mengikuti jawaban temannya. Ataupun mereka tidak mengikuti temannya, melainkan ketika mereka membaca item angket tersebut mereka memang kurang memahami. Sehingga mereka acuh-tak acuh dalam mengisi angket pernyataan tersebut.

Sedangkan sisi pandang yang kedua, yaitu berdasarkan pengalaman yang pernah mereka alami dan rasakan. Dengan kata lain, jawaban atau respon yang telah diberikan mereka adalah kondisi yang sesuai dengan pengalaman dan ingatannya, yang kemudian terkadang mereka menghubungkan dengan

107

pengalaman yang masih tertinggal dalam memori ingatan mereka tentang pola pengasuhan orang tuanya.

Menurut Khumaerah faktor pola asuh dari orang tua berpengaruh, sebab dia menemukan hasil penelitian terkait faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak antara lain: usia anak, status gizi anak dan pola asuh orang tua. Sedangkan jenis kelamin anak tidak berpengaruh.104

Kemudian, untuk hasil ketahanmalangan peserta didik berada dalam kategori sedang. Hasil ini sesuai dengan wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran, dimana hasil wawancara menyatakan bahwa ketika guru memberikan suatu pertanyaan, peserta didik tidak langsung menjawab atau menanggapinya. Melainkan, mereka berpikir terlebih dahulu dan mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh gurunya tersebut.

Lingkungan tempat tinggal seseorang dapat berpengaruh dalam penyesuaian (adaptasi) serta pemberian respon (jawaban) suatu kesulitan yang dihadapinya. Pengaruh lingkungan yang dalam hal ini yaitu pola pengasuhan orang tua harus memberikan dampak yang positif bagi seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Gest dan lainnya, menyatakan bahwa walaupun seseorang tidak menyukai kesulitan atau kemalangan yang diakibatkan oleh

104 Khumaerah dkk, Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Anak, Journal Of Islamic Nursing , Volume 2 Nomor 1, Juli 2017). hlm 23.

108

pola hubungan dengan orang tua, namun permasalahan orang tua secara langsung turut serta dalam perkembangan ketahanmalangan seorang anak.105

Ada beberapa faktor lain yang juga dapat mempengaruhi adversity quotient menurut stoltz:

a. Genetika, yaitu peninggalan genetis tidak akan menentukan nasib seseorang. Namun, beberapa penelitian baru menyatakan bahwa genetika sangat mungkin mendasari perilaku.

b. Keyakinan, yaitu dapat mempengaruhi seseorang dalam menghadapi suatu masalah serta membantu untuk mencapai suatu tujuan hidup.

c. Bakat, yaitu seseorang yang memiliki pengetahuan, pengalaman, kompetensi, serta keterampilan.

d. Hasrat atau kemauan, yaitu dorongan, motivasi, ambisi, semangat untuk mencapai tujuan hidup.

e. Karakter, kinerja dan kecerdasan

f. Kesehatan, yaitu kondisi jasmani dan rohani yang sehat akan mendukung seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah.

g. Pendidikan, yaitu bisa membentuk kecerdasan, kebiasaan, perilaku, keterampilan dan lainnya.

105Emy Dian Mastura, “Pengaruh Lingkungan Belajar Siswa Terhadap Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual Dan Adversity Quotient Siswa Di MAN 1 Tulungagung Dan Man 3 Tulungagung”, Tesis, (Program Magister Pendidikan Agama Islam, IAIN Tulungagung, 2020), hlm. 112.

109

2. Pengaruh Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII Di MTS Nurul Islam Sekarbela.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VII di MTS Nurul Islam Sekarbela, pengujian hipotesis menunjukkan hasil bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) tidak berpengaruh terhadap Hasil Belajar (Y2), dengan hasil analisis nilai sig.=

0,849 > 0,05. Atau dapat juga dianalisis melalui perhitungan nilai Fhitung dan Ftabel. Nilai Fhitung sebesar 0,165 dan nilai Ftabel sebesar 3,21. Sebagaimana dasar pengambilam keputusan yang dikutip dari buku V. Wiratna Sujarweni jika nilai Fhitung > Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y) dan sebaliknya jika nilai Fhitung <

Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Karena nilai Fhitung < Ftabel yaitu 0,165 < 3,21, maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen (X) secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Adapun nilai koefisien determinasi (R-square) = 0,008 atau 0,8%.

Jadi, dapat dikatakan bahwa tidak ada pengaruh antara status gizi dan pola asuh orang tua terhadap hasil belajar peserta didik kelas VII di MTs Nurul Islam Sekarbela. Diduga bahwa masalah gizi pada peserta didik masih tergolong pada tahap ringan sehingga tidak terlalu mengganggu kemampuan belajarnya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa status gizi kurang, gizi lebih dan obesitas tidak termasuk sebagai salah satu faktor penentu hasil

110

belajar, jadi peserta didik yang mempunyai status gizi baik belum tentu mendapatkan hasil belajar yang baik.

Status gizi merupakan penentu utama dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. Hal ini dimaksudkan bahwa status gizi mempunyai fungsi penting dalam menciptakan kecerdasan. Kelebihan ataupun kekurangan komponen substansi gizi dapat mengakibatkan terjadinya learning disabilities (gangguan belajar) yang dapat berpengaruh langsung terhadap kesuksesan proses pembelajaran yang termasuk pada hasil belajar dan prestasi belajar.

Tetapi, apabila diamati dari hasil riset ini status gizi tidak berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Pada riset ini, terdapat aspek (unsur) lain yang lebih erat demi menjadi pemutus keberhasilan proses pembelajaran yang termasuk pada hasil belajar dan prestasi belajar prestasi belajar siswa.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fauzan Efendi (2012) dengan hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara status gizi dan tingkat prestasi belajar siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Indramayu. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar (rxy) = 0,125 > rtabel (0,195). Hal ini diduga karena masalah gizi siswa di SMK N 2 Indramayu masih dalam tahap ringan sehingga tidak mempengaruhi prestasi belajar, selain itu dikarenakan ada faktor lain yaitu faktor psikologi (minat, bakat, motivasi), faktor sosial, dan pendekatan belajar (metode dan strategi belajar), yang lebih kuat daripada

111

status gizi yang mampu memepengaruhi prestasi belajar siswa di SMK N 2 Indramayu.106

Penelitian lain yang dilakukan oleh Maman Achdiyat (2020), menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tiap-tiap pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan pada temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar matematika siswa.107 Selain itu, Ernani Yunita Sari dan Rosalia Susila Purwanti (2015), juga menyatakan bahwa Tidak ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa SD Se-gugus III Seyegan Sleman Yogyakarta. Dari keempat pola asuh orang tua, tidak ada pola asuh yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar IPS karena tidak ada perbedaan yang signifikan.108

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulita Eka Yuliastuti, Tritjahjo Danny Soesilo dan Yustinus Windrawanto

,

pola asuh orang tua merupakan faktor eksternal motivasi belajar pada anak, sehingga kontribusi pengaruh pola asuh orang tua lebih sedikit dibandingkan faktor internal (dalam diri anak) dalam motivasi belajar seorang anak. Ada dua faktor yang

106 Fauzan Efendi, “Hubungan Status Gizi dengan Tingkat Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Indramayu”. Skripsi, (Universitas Negeri Yogyakarta: Prodi Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan, 2012), hlm. 7

107 Maman Achdiyat, Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa, Prosiding Seminar Nasional dan Diskusi Panel Pendidikan Matematika, (Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI), hlm. 409-418.

108 Ernani Yunita Sari dan Rosalia Susila Purwanti , Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas V SD Se-Gugus III Seyegan Sleman Tahun Ajaran 2014/2015, (Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta, 2015), hlm. 1.

112

berpengaruh yaitu; Pertama, faktor internal meliputi; faktor fisik (nutrisi atau gizi, kesehatan, dan fungsi panca indera) dan faktor psikologis (faktor yang berhubungan dengan aspek-aspek yang mendorong atau menghambat aktivitas belajar pada peserta didik). Kedua, faktor eksternal berupa faktor sosial (yaitu faktor yang berasal dari manusia di sekitar lingkungan peserta didik) dan faktor non-sosial (yaitu faktor yang berasal dari keadaan atau kondisi fisik di sekitar peserta didik. Faktor ini meliputi keadaan udara (cuaca panas atau dingin), waktu (pagi, siang, atau malam), tempat (sepi, bising, atau kualitas sekolah tempat belajar), dan fasilitas belajar).109

Setelah melihat beberapa referensi, peneliti berpendapat bahwa pola asuh yang cocok, tepat dan baik adalah pola asuh demokratis. Karena jenis pola asuh ini, orangtua menghargai dan memahami keadaan anak. Sehingga anak akan merasa nyaman, bersikap mandiri, cerdas, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar serta memiliki kepribadian yang baik. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian terdahulu yang menjelaskan tentang pola asuh demokratis. Adapun penelitian-penelitian tersebut yaitu;

Penelitian pertama dilakukan oleh Kaswandi (2014), mengatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pola asuh demokratis orang tua terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah

109 Maulita Eka Yuliastuti, Tritjahjo Danny Soesilo dan Yustinus Windrawanto, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII di SMP Kristen 2 Salatiga, Jurnal Psikologi Konseling, Vol. 15 No. 2, (Program Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana, 2019), hlm. 20.

113

Menengah Atas Negeri 2 Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, dengan distribusi pola asuh orang tua terhadap hasil belajar siswa adalah 0.450 ×100% = 45%

dan selebihnya dipengaruhi oleh variabel lain.110

Selanjutnya, Istina Rakhmawati (2015) juga menyebutkan bahwa dari ketiga jenis pola asuh, yang paling baik dan cocok untuk diterapkan dalam mengasuh anak adalah pola asuh demokratis. Pola asuh tipe demokratis ini adalah pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan serta bimbingan kepada anak. Anak dapat berkembang secara wajar dan mampu berhubungan secara harmonis dengan orang tuanya. Anak akan bersifat terbuka, bijaksana karena adanya komunikasi dua arah. Sedangkan orang tua bersikap obyektif, perhatian, dan memberikan dorongan positif kepada anaknya. Pola asuh demokratis ini mendorong anak menjadi mandiri, bisa mengatasi masalahnya, tidak tertekan, berperilaku baik terhadap lingkungan, dan mampu berprestasi dengan baik. Pola pengasuhan ini dianjurkan bagi orang tua.111

Selain itu, Faiqotul Husna (2018) menyatakan bahwa dari hasil rekapitulasi kategori menggunakan rumus mean dan standar deviasi serta acuan skor perhitungan maka dapat disimpulkan bahwa pola asuh demokratis dengan prosentase 58,974% berkategori tinggi dan pada acuan perhitungan

110 Kaswandi, “Pegaruh Pola Asuh Demokrsi Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa Di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bukit Batu Kabupaten Bengkalis”, Skripsi, (Pekanbaru:

UIN SUSKA, 2014), hlm. 78-79.

111 Istina Rakhmawati, “Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak”, Konseling Religi: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 6, No. 1, (Jawa Tengah: SMP 1 Undaan Kudus, 2015), hlm. 32-33.

114

menunjukkan bahwa skor angket pola asuh demokratis lebih tinggi daripada pola asuh permisif dan pola asuh otoriter.

Santrock berpendapat bahwa, salah satu peran aktif orang tua adalah mengasuh anak. Pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dengan anak dalam berinteraksi, serta berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Kemampuan interpersonal dan pengendalian emosional sangat diperlukan orang tua dalam melakukan kegiatan pengasuhan untuk memberikan rasa nyaman pada anak. Pola asuh yang tepat akan mempengaruhi tingkat kemandirian anak dalam belajar.112

Muhibbin Syah, memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik di sekolah, dimana secara garis besar bisa terdiri atas tiga unsur, antara lain:

a. Faktor Internal, merupakan faktor yang berasal dari dalam peserta didik, yakni;

1) Keadaan (kondisi) fisik yang prima, bugar, kuat akan berguna serta mempersembahkan hasil belajar yang baik bagi peserta didik. Namun, jika kondisi fisik yang kurang optimal akan berdampak pada proses pembelajarannya.

112 Febri Yunanda Putra, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Tingkat Kemandirian Personal HYGIENE Anak Usia Prasekolah di Desa Balung Lor Kec. Balung Kab. Jember,” (Skripsi, UNEJ, Jember, 2012), 3.

115

2) Keadaan psikologis, dimana kondisi ini mempengaruhi perhatian, keinginan, dorongan serta kemampuan seseorang dalam meraih suatu kesuksesan di waktu mendatang.

b. Faktor eksternal, merupakan faktor yang berasal dari luar peserta didik, yaitu keadaan lingkungan sekitar peserta didik. Berikut ini merupakan unsur-unsur yang berpengaruh antara lain:

1) Faktor sosial, meliputi; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

2) Faktor non sosial, yaitu kondisi serta letak bangunan sekolah, kondisi dan letak rumah tempat tinggal keluarga, media, sarana, sumber belajar, kondisi cuaca serta waktu belajar yang dipakai oleh peserta didik. Unsur-unsur yang telah dipaparkan sebelumnya dianggap ikut menetapkan fase kesuksesan dalam proses belajar peserta didik di sekolah.

c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), merupakan tipe cara atau usaha belajar peserta didik yang mencakup; strategi dan metode yang diterapkan oleh peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran. Jadi, dalam riset atau penelitian ini menerangkan bahwa semakin baik status gizi peserta didik belum tentu dapat memperoleh nilai tinggi dalam urusan proses pembelajaran yang termasuk pada hasil belajar dan prestasi belajar.

Sebaliknya, jika semakin buruk status gizi peserta didik, maka belum pasti memperoleh nilai rendah. Maknanya, status gizi tidak menjadi unsur atau

116

faktor pemutus dalam kesuksesan peserta didik memperoleh hasil belajar dan prestasi belajar yang baik, dengan umur peserta didik yang menempuh fase remaja, diperkirakan terdapat banyak faktor-faktor atau unsur-unsur selain dari status gizi yang lebih kuat yang mengakibatkan hasil belajar dan prestasi belajar peserta didik seperti yang telah dipaparkan pada awalnya.113

113 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008). hlm. 139.

117 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan untuk setiap hipotesis yang diajukan bahwa:

1. Ada Pengaruh Antara Status Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Ketahanmalangan Siswa Kelas VII di MTs Nurul Islam Sekarbela dengan nilai koefisien determinasi (R-square) sebesar 28,3% tetapi berada dalam kategori yang lemah dan 71,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Atau dapat diartikan bahwa Ha1 diterima dan H01 ditolak.

2. Tidak Ada Pengaruh Antara Status Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII di MTs Nurul Islam Sekarbela dengan nilai koefisien determinasi (R-square) = 0,8%. Terdapat faktor lain yang mungkin berpengaruh misalnya seperti; metode pembelajaran, model pembelajaran, strategi pembelajaran, kurikulum yang berlaku, faktor lingkungan baik masyarakat maupun teman bermain (teman sebaya) dan lain sebagainya. Atau dapat diartkan bahwa Ha2 ditolak dan H02 diterima.

B. Saran

1. Bagi Peserta Didik

Untuk peserta didik kelas VII yang berada di MTS Nurul Islam Sekarbela agar;

118

a. Menjaga pola hidup sehat dan kondisi tubuh agar selalu sehat dan bugar, sehingga proses transfer pembelajaran dapat berjalan dengan optimal dan menghasilkan hasil belajar yang memuaskan.

b. Selalu mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya dalam mengendalikan diri dalam menghadapi suatu masalah, selalu berusaha mencari penyebab permasalahan yang terjadi, tidak mudah terpengaruh, menganggap suatu masalah sebagai hal yang terjadi hanya sementara waktu.

2. Bagi orang tua

Untuk memberikan asupan makanan yang sehat demi menjaga dan memperbaiki status gizi anak. Selain itu, memberikan pola pengasuhan yang baik bagi anak.

3. Bagi guru

Untuk dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan cara menyesuaikan penerapan model dan metode pembelajaran yang sesuai.

4. Bagi sekolah

Untuk dapat menyiapkan sarana dan prasarana yang layak agar proses pembelajaran berjalan optimal.

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Untuk peneliti berikutnya, agar melakukan kontrol terhadap faktor-faktor atau unsur-unsur yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Abudayya. Diet, Nutritional Status And School Performance Among Adolescents In Gaza Strip. Eastern Mediterranean Health Journal: University Of Oslo, 2011.

Akbar, Ikhsan. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap prestasi belajar pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 17 Pekanbaru. Skripsi. Pekanbaru: UIN SUSKA, 2015.

Ali, Mohammad, dkk. Arah Kompetensi Generasi Indonesia Menuju 2045, Cetakan I.

Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2020.

Ali, Muhammad. Kontribusi Status Gizi dan Motivasi Belajar Terhadap Kesehatan Jasmani Mahasiswa Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Jambi.

Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, 2011.

Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Anas, Muhammad. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Biologi Peserta Didik Kelas VIII MTsN 2 Maros. Jurnal Binomial, Vol II, No 1, 2019.

Anggraeni, Tanaya Puspa. Hubungan Antara Pola Asuh Permisif dengan Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency) Kelas XI di SMA 1 Mejobo Kudus. Prosiding Berkala Psikologi.Vol. 1, 2019.

Anitah, Sri. Media Pembelajaran. Surakarta: Panitia Sertifikat Guru Rayon 13 FKIP UNS Surakarta, 2009.

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. Palembang: DirJen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2002.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2013.

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. Palembang: DirJen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2002.

Atok, Chresensia Christana. Dampak Gaya Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pertasi Belajar IPA Siswa Kelas VII B “Appreciation” SMP Joannes Bosco Semester Genap Tahun Ajaran 2014/2015. Skripsi: Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Pendidikan: Universitas Dharma Yogyakarta, 2015.

Azis, dkk. Hubungan Asupan Zat Gizi Dan Status Gizi Dengan Hasil Belajar IPA Siswa Pesantren MTs di Kabupaten Buru. Jurnal IPA Terpadu, Vol. I, No. 2, 2019.

Bakri, Bachyar, dkk. Konsep Dasar Timbulnya Masalah Gizi. dalam Monica Ester:

Penilaian Status Gizi. Edisi 1. Jakarta: EGC, 2002.

Buku Indeks Pembangunan Manusia 2020 oleh Badan pusat statistika, April 2021 Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. DKI Jakarta: Rineka Cipta, 2017.

Echols John M. dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia An English Indonesia Dictionary. Jakarta : PT. Gramedia, 1993.

Effendy, Fauzan. Hubungan Status Gizi Dengan Tingkat Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Indramayu. Skripsi: Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan: Universitas Negeri Yogyakarta, 2012.

Fadhilah, Nurul, dkk. Hubungan Antara Daya Ketahanmalangan Dan Minat Belajar Dengan Kompetensi Pengetahuan Matematika Siswa. Eduhumaniora Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru, Vol XII, No.1, 2020.

Faizatussholihah. Hubungan Antara Adversity Quotient Dengan Penyesuaian Sosial Mahasiswa Perantau Asal Sumatera Angkatan 2013-2016 UIN Maulana Malik

Ibrahim Malang. Skripsi. Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2017.

Fajar, Ibnu , dkk. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC, 2002.

Fakih, Muhammad. Aspek Keperdataan Dalam Pelaksanaan Tugas Tenaga

Keperawatan Di Bidang Pelayanan Kesehatan Di Provinsi Lampung. Disertasi Program Doktor. Yogyakarta: UGM, 2012.

Fatih, M. Pengaruh Pola Asuh Dan Self Efficacy Terhadap Hasil Belajar IPA Pada Siswa SDN Kepanjen Kidul 3 Kota Blitar. Skripsi, Malang: UM, 2013.

Gerungan, W, A. Psikologi Sosial. Bandung: PT Rafika Aditama, 2004.

Gerungan. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama, 2010.

Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 19.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2011.

Gibney, Michael J. Public Health Nutrition. Jakarta: EGC, 2008.

Gunarsa, Singgih D. dan Yulia. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:

BPK Gunung Mulia, 1995.

Hadis Abdul dan Nurhayati. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2010.

Halimah, Siti. Pengaruh Kemandirian dan Ketahanmalangan (Adversity Quotient) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Belajar Matematika Pada Siswa SMA Muhammadiyah 18 Sunggal Tahun Pelajaran 2019/2020. Skripsi:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara: Medan, 2019.

Hamalik, Omar. Proses Belajar Mengajar. Semarang: Bumi Aksara, 2011.

Dalam dokumen Status Gizi (Halaman 124-200)

Dokumen terkait