BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
2. Uji Prasyarat/Asumsi Klasik
98
99 Tabel 4.11
Hasil Analisis Uji Linearitas Variabel Nilai Deviation
From Linearity
α = 0,05 Keterangan Status Gizi (X1)
terhadap
Ketahanmalangan (Y1)
0,094 0,094 > 0,05 Terdapat hubungan yang
linear Pola Asuh Orang Tua
(X2) terhadap Ketahanmalangan (Y1)
0,961 0,961 > 0,05 Terdapat hubungan yang
linear Status Gizi (X1)
terhadap Hasil Belajar (Y2)
0,579 0,579 > 0,05 Terdapat hubungan yang
linear Pola Asuh Orang Tua
(X2) terhadap Hasil Belajar (Y2)
0,142 0,142 > 0,05 Terdapat hubungan yang
linear c. Uji Multikolinearitas
Menurut Imam Ghozali tidak terjadi gejala multikolinearitas jika nilai tolerance > 0,100 dan nilai VIF < 10,00.101 Hasil analisis menunjukkan bahwa status gizi (X1) dan pola asuh orang tua (X2) terhadap ketahanmalangan (Y1) serta status gizi (X1) dan pola asuh orang tua (X2) terhadap hasil belajar (Y2), sama-sama memiliki nilai tolerance 0,999 >
0,100 dan nilai VIF sebesar 1,001 < 10,00. Sehingga sebagaimana dasar pengambilan keputusan yang dikutip dari buku Imam Ghozali, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
101 Ibid, Imam Ghozali, hlm. 107-108
100
Tabel 4.12
Hasil Analisis Uji Multikolinearitas
Variabel Nilai
Tolerance >
0,100
Nilai VIF <
10,00
Keterangan Status Gizi terhadap
Ketahanmalangan
0,999 1,001
Tidak Terjadi Gejala Multikolinearitas Pola Asuh Orang Tua
terhadap Ketahanmalangan
0,999 1,001 Status Gizi terhadap Hasil
Belajar
0,999 1,001 Pola Asuh Orang Tua
terhadap Hasil Belajar
0,999 1,001 d. Uji Heteroskedastisitas Scatterplots
Menurut Imam Ghozali tidak terjadi heteroskedastisitas, jika tidak ada pola yang jelas (bergelombang, melebar) pada gambar scatterplots, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu y.102 Hasil analisis variabel Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) terhadap Ketahanmalangan (Y1) serta Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) terhadap Hasil Belajar (Y2) sama-sama menunjukkan bahwa titik-titik berada di atas dan di bawah angka nol, tidak membentuk pola sebagaimana bergelombang, melebar dan titik-titiknya acak (random).
Maka sebagaimana dasar pengambilan keputusan yang dikutip pada buku Imam Ghozali, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
102 Ibid, Imam Ghozali, hlm. 139.
101
Tabel 4.13
Hasil Analisis Uji Heteroskedastisitas
Variabel Hasil Analisis Keterangan
Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap
Ketahanmalangan
Tidak ada pola yang jelas, titik-titik menyebar secara
acak, serta titik-titik berada di atas dan di bawah angka 0 (nol)
Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Status Gizi dan Pola
Asuh Orang Tua terhadap Hasil Belajar 3. Uji Hipotesis
a. Uji Signifikansi Parsial (Uji Statistik t)
Menurut Imam Ghozali (2011: 101), jika nilai sig. < 0,05 maka artinya variabel independen (X) secara parsial (sendiri-sendiri) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Hasil analisis dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.14
Hasil Analisis Uji t Parsial
Variabel Signifikansi (0,05) Keterangan Status Gizi terhadap
Ketahanmalangan
Sig.= 0,824 > 0,05 Tidak Berpengaruh secara parsial Pola Asuh Orang Tua
terhadap Ketahanmalangan
Sig.= 0,000 < 0,05 Berpengaruh secara parsial Status Gizi terhadap Hasil
Belajar
Sig.= 0,960 > 0,05 Tidak Berpengaruh secara parsial Pola Asuh Orang Tua
terhadap Hasil Belajar
Sig.= 0,570 > 0,05 Tidak Berpengaruh secara parsial b. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Menurut Imam Ghozali, jika nilai sig. < 0,05 maka artinya variabel independen (X) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Dapat juga dilakukan dengan perhitungan menurut
102
V. Wiratna Sujarweni (2014: 154), jika nilai Fhitung > Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y).103
1) Pengujian pada Ha1 yaitu “Pengaruh Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Ketahanmalangan Siswa Kelas VII Di MTS Nurul Islam Sekarbela”
Adapun hasil analisis berdasarkan perhitungan Imam Ghozali, menunjukkan bahwa nilai sig.= 0,001 < 0,05. Jadi, sebagaimana yang dikutip dari buku Imam Ghozali dapat disimpulkan bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Ketahanmalangan (Y1).
Sedangkan hasil analisis berdasarkan perhitungan V. Wiratna Sujarweni, menunjukkan nilai Ftabel = 3,21 dan nilai Fhitung = 8,290.
Rumus untuk mencari Ftabel = (k; n-k) = (2; 45-2) = (2; 43). Maka sebagaimana yang dikutip dari buku V. Wiratna Sujarweni dapat disimpulkan bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Ketahanmalangan (Y1) karena nilai Fhitung > Ftabel atau 8,290 > 3,21.
103 V. Wiratna Sujarweni, SPSS Untuk Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2014), hlm. 154.
103
2) Pengujian pada Ha2 yaitu “Pengaruh Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII Di MTS Nurul Islam Sekarbela”.
Adapun hasil analisis berdasarkan perhitungan Imam Ghozali, menunjukkan bahwa nilai sig.= 0,849 > 0,05. Jadi, sebagaimana yang dikutip dari buku Imam Ghozali dapat disimpulkan bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) tidak berpengaruh terhadap Hasil Belajar (Y2).
Sedangkan hasil analisis berdasarkan perhitungan V. Wiratna Sujarweni, menunjukkan nilai Ftabel = 3,21 dan nilai Fhitung = 0,165.
Rumus untuk mencari Ftabel = (k; n-k) = (2; 45-2) = (2; 43). Maka sebagaimana yang dikutip dari buku V. Wiratna Sujarweni dapat disimpulkan bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Ketahanmalangan (Y1) karena nilai Fhitung < Ftabel atau 0,165 < 3,21.
Untuk lebih jelasnya rangkuman hasil analisis dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.15
Hasil Analisis Uji F Simultan
Variabel Signifikansi (0,05) Keterangan Status Gizi dan Pola Asuh
Orang Tua terhadap Ketahanmalangan
sig.= 0,001 < 0,05 atau nilai Fhitung > Ftabel =
8,290 > 3,21
Berpengaruh secara simultan Status Gizi dan Pola Asuh
Orang Tua terhadap Hasil
Sig.= 0,849 > 0,05 atau nilai Fhitung > Ftabel =
Tidak Berpengaruh
104
Belajar 0,165 < 3,21 secara simultan c. Nilai Koefisien Determinasi (R-square) dan Interpretasi
1) Koefisien determinasi (R-square)
Nilai koefisien determinasi (R-square) dapat dilihat dari pengolahan data regresi linear berganda di tabel Model Summary pada nilai R-square. Hasil pengolahan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi pada Ha1 sebesar 0,283. Sedangkan pada Ha2
nilai koefisien determinasi sebesar 0,008.
2) Interpretasi
Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi pada Ha1 di atas didapatkan nilai 0,283. Nilai tersebut menggambarkan bahwa status gizi dan pola asuh orang tua berpengaruh sebesar 28,3% terhadap ketahanmalangan (Y1) tetapi berada dalam kategori yang lemah, dan 71,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Sedangkan pada perhitungan koefisien determinasi pada Ha2 di atas didapatkan nilai 0,008 (0,8%). Nilai tersebut menggambarkan bahwa status gizi dan pola asuh orang tua tidak berpengaruh terhadap hasil belajar (Y2) tetapi dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. (Lihat lampiran 4)
105 C. Pembahasan
1. Pengaruh Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Ketahanmalangan Siswa Kelas VII Di MTS Nurul Islam Sekarbela.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VII di MTS Nurul Islam Sekarbela, pengujian hipotesis menunjukkan hasil bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Ketahanmalangan (Y1) dengan hasil analisis nilai sig.=
0,001 < 0,05. Atau dapat juga dianalisis melalui perhitungan nilai Fhitung dan Ftabel. Nilai Fhitung sebesar 8,290 dan nilai Ftabel sebesar 3,21. Sebagaimana dasar pengambilam keputusan yang dikutip dari buku V. Wiratna Sujarweni jika nilai Fhitung > Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Karena nilai Fhitung > Ftabel yaitu 8,290 > 3,21, maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Adapun nilai koefisien determinasi (R-square) sebesar 0,283 atau 28,3% dan berada dalam kategori yang lemah.
Hasil analisis tersebut sama dengan hasil observasi awal peneliti kepada peserta didik kelas VII (responden), dimana terlihat lebih banyak (mayoritas) peserta didik yang memiliki status gizi baik (normal). Selanjutnya, untuk pola asuh orang tua memperoleh hasil yang sedikit berbeda, dimana hasil wawancara sebelumnya mayoritas peserta didik menyatakan bahwa orang tua mereka menerapkan pola asuh demokratis (pola asuh orang tua yang
106
memberikan kebebasan, namun tetap diawasi). Sedangkan hasil analisis perhitungan dari instrumen penelitian yaitu angket (kuesioner) menunjukkan hasil bahwa mayoritas peserta didik memiliki pola asuh orang tua yang berjenis pola asuh permisif (pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan tanpa diawasi).
Berdasarkan pembahasan terkait hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa mayoritas (dominan) pola asuh yang diterapkan oleh peserta didik di MTs Nurul Islam Sekarbela ini yaitu pola asuh permisif. Hal ini, dimungkinkan dipengaruhi, jika dilihat dari sisi saat teknik mengisi dan pengalaman yang dirasakan oleh peserta didik. Sisi pandang pertama yaitu berdasarkan teknik pengisian angket (kuesioner), Dimana secara teknik ketika peserta didik membaca butir pernyataan, belum tentu mereka dapat memahami butir item pernyataan angket tersebut, sehingga terkadang mereka bertanya kepada temannya dan akhirnya mereka pun malah mengikuti jawaban temannya. Ataupun mereka tidak mengikuti temannya, melainkan ketika mereka membaca item angket tersebut mereka memang kurang memahami. Sehingga mereka acuh-tak acuh dalam mengisi angket pernyataan tersebut.
Sedangkan sisi pandang yang kedua, yaitu berdasarkan pengalaman yang pernah mereka alami dan rasakan. Dengan kata lain, jawaban atau respon yang telah diberikan mereka adalah kondisi yang sesuai dengan pengalaman dan ingatannya, yang kemudian terkadang mereka menghubungkan dengan
107
pengalaman yang masih tertinggal dalam memori ingatan mereka tentang pola pengasuhan orang tuanya.
Menurut Khumaerah faktor pola asuh dari orang tua berpengaruh, sebab dia menemukan hasil penelitian terkait faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak antara lain: usia anak, status gizi anak dan pola asuh orang tua. Sedangkan jenis kelamin anak tidak berpengaruh.104
Kemudian, untuk hasil ketahanmalangan peserta didik berada dalam kategori sedang. Hasil ini sesuai dengan wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran, dimana hasil wawancara menyatakan bahwa ketika guru memberikan suatu pertanyaan, peserta didik tidak langsung menjawab atau menanggapinya. Melainkan, mereka berpikir terlebih dahulu dan mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh gurunya tersebut.
Lingkungan tempat tinggal seseorang dapat berpengaruh dalam penyesuaian (adaptasi) serta pemberian respon (jawaban) suatu kesulitan yang dihadapinya. Pengaruh lingkungan yang dalam hal ini yaitu pola pengasuhan orang tua harus memberikan dampak yang positif bagi seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Gest dan lainnya, menyatakan bahwa walaupun seseorang tidak menyukai kesulitan atau kemalangan yang diakibatkan oleh
104 Khumaerah dkk, Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Anak, Journal Of Islamic Nursing , Volume 2 Nomor 1, Juli 2017). hlm 23.
108
pola hubungan dengan orang tua, namun permasalahan orang tua secara langsung turut serta dalam perkembangan ketahanmalangan seorang anak.105
Ada beberapa faktor lain yang juga dapat mempengaruhi adversity quotient menurut stoltz:
a. Genetika, yaitu peninggalan genetis tidak akan menentukan nasib seseorang. Namun, beberapa penelitian baru menyatakan bahwa genetika sangat mungkin mendasari perilaku.
b. Keyakinan, yaitu dapat mempengaruhi seseorang dalam menghadapi suatu masalah serta membantu untuk mencapai suatu tujuan hidup.
c. Bakat, yaitu seseorang yang memiliki pengetahuan, pengalaman, kompetensi, serta keterampilan.
d. Hasrat atau kemauan, yaitu dorongan, motivasi, ambisi, semangat untuk mencapai tujuan hidup.
e. Karakter, kinerja dan kecerdasan
f. Kesehatan, yaitu kondisi jasmani dan rohani yang sehat akan mendukung seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah.
g. Pendidikan, yaitu bisa membentuk kecerdasan, kebiasaan, perilaku, keterampilan dan lainnya.
105Emy Dian Mastura, “Pengaruh Lingkungan Belajar Siswa Terhadap Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual Dan Adversity Quotient Siswa Di MAN 1 Tulungagung Dan Man 3 Tulungagung”, Tesis, (Program Magister Pendidikan Agama Islam, IAIN Tulungagung, 2020), hlm. 112.
109
2. Pengaruh Status Gizi dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII Di MTS Nurul Islam Sekarbela.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VII di MTS Nurul Islam Sekarbela, pengujian hipotesis menunjukkan hasil bahwa Status Gizi (X1) dan Pola Asuh Orang Tua (X2) secara simultan (bersama-sama) tidak berpengaruh terhadap Hasil Belajar (Y2), dengan hasil analisis nilai sig.=
0,849 > 0,05. Atau dapat juga dianalisis melalui perhitungan nilai Fhitung dan Ftabel. Nilai Fhitung sebesar 0,165 dan nilai Ftabel sebesar 3,21. Sebagaimana dasar pengambilam keputusan yang dikutip dari buku V. Wiratna Sujarweni jika nilai Fhitung > Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen (Y) dan sebaliknya jika nilai Fhitung <
Ftabel maka artinya variabel independen (X) secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Karena nilai Fhitung < Ftabel yaitu 0,165 < 3,21, maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen (X) secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y). Adapun nilai koefisien determinasi (R-square) = 0,008 atau 0,8%.
Jadi, dapat dikatakan bahwa tidak ada pengaruh antara status gizi dan pola asuh orang tua terhadap hasil belajar peserta didik kelas VII di MTs Nurul Islam Sekarbela. Diduga bahwa masalah gizi pada peserta didik masih tergolong pada tahap ringan sehingga tidak terlalu mengganggu kemampuan belajarnya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa status gizi kurang, gizi lebih dan obesitas tidak termasuk sebagai salah satu faktor penentu hasil
110
belajar, jadi peserta didik yang mempunyai status gizi baik belum tentu mendapatkan hasil belajar yang baik.
Status gizi merupakan penentu utama dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. Hal ini dimaksudkan bahwa status gizi mempunyai fungsi penting dalam menciptakan kecerdasan. Kelebihan ataupun kekurangan komponen substansi gizi dapat mengakibatkan terjadinya learning disabilities (gangguan belajar) yang dapat berpengaruh langsung terhadap kesuksesan proses pembelajaran yang termasuk pada hasil belajar dan prestasi belajar.
Tetapi, apabila diamati dari hasil riset ini status gizi tidak berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Pada riset ini, terdapat aspek (unsur) lain yang lebih erat demi menjadi pemutus keberhasilan proses pembelajaran yang termasuk pada hasil belajar dan prestasi belajar prestasi belajar siswa.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fauzan Efendi (2012) dengan hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara status gizi dan tingkat prestasi belajar siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Indramayu. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar (rxy) = 0,125 > rtabel (0,195). Hal ini diduga karena masalah gizi siswa di SMK N 2 Indramayu masih dalam tahap ringan sehingga tidak mempengaruhi prestasi belajar, selain itu dikarenakan ada faktor lain yaitu faktor psikologi (minat, bakat, motivasi), faktor sosial, dan pendekatan belajar (metode dan strategi belajar), yang lebih kuat daripada
111
status gizi yang mampu memepengaruhi prestasi belajar siswa di SMK N 2 Indramayu.106
Penelitian lain yang dilakukan oleh Maman Achdiyat (2020), menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tiap-tiap pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar matematika. Berdasarkan pada temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar matematika siswa.107 Selain itu, Ernani Yunita Sari dan Rosalia Susila Purwanti (2015), juga menyatakan bahwa Tidak ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPS siswa SD Se-gugus III Seyegan Sleman Yogyakarta. Dari keempat pola asuh orang tua, tidak ada pola asuh yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar IPS karena tidak ada perbedaan yang signifikan.108
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulita Eka Yuliastuti, Tritjahjo Danny Soesilo dan Yustinus Windrawanto
,
pola asuh orang tua merupakan faktor eksternal motivasi belajar pada anak, sehingga kontribusi pengaruh pola asuh orang tua lebih sedikit dibandingkan faktor internal (dalam diri anak) dalam motivasi belajar seorang anak. Ada dua faktor yang106 Fauzan Efendi, “Hubungan Status Gizi dengan Tingkat Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Indramayu”. Skripsi, (Universitas Negeri Yogyakarta: Prodi Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan, 2012), hlm. 7
107 Maman Achdiyat, Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa, Prosiding Seminar Nasional dan Diskusi Panel Pendidikan Matematika, (Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI), hlm. 409-418.
108 Ernani Yunita Sari dan Rosalia Susila Purwanti , Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas V SD Se-Gugus III Seyegan Sleman Tahun Ajaran 2014/2015, (Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta, 2015), hlm. 1.
112
berpengaruh yaitu; Pertama, faktor internal meliputi; faktor fisik (nutrisi atau gizi, kesehatan, dan fungsi panca indera) dan faktor psikologis (faktor yang berhubungan dengan aspek-aspek yang mendorong atau menghambat aktivitas belajar pada peserta didik). Kedua, faktor eksternal berupa faktor sosial (yaitu faktor yang berasal dari manusia di sekitar lingkungan peserta didik) dan faktor non-sosial (yaitu faktor yang berasal dari keadaan atau kondisi fisik di sekitar peserta didik. Faktor ini meliputi keadaan udara (cuaca panas atau dingin), waktu (pagi, siang, atau malam), tempat (sepi, bising, atau kualitas sekolah tempat belajar), dan fasilitas belajar).109
Setelah melihat beberapa referensi, peneliti berpendapat bahwa pola asuh yang cocok, tepat dan baik adalah pola asuh demokratis. Karena jenis pola asuh ini, orangtua menghargai dan memahami keadaan anak. Sehingga anak akan merasa nyaman, bersikap mandiri, cerdas, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar serta memiliki kepribadian yang baik. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian terdahulu yang menjelaskan tentang pola asuh demokratis. Adapun penelitian-penelitian tersebut yaitu;
Penelitian pertama dilakukan oleh Kaswandi (2014), mengatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pola asuh demokratis orang tua terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah
109 Maulita Eka Yuliastuti, Tritjahjo Danny Soesilo dan Yustinus Windrawanto, Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII di SMP Kristen 2 Salatiga, Jurnal Psikologi Konseling, Vol. 15 No. 2, (Program Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana, 2019), hlm. 20.
113
Menengah Atas Negeri 2 Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, dengan distribusi pola asuh orang tua terhadap hasil belajar siswa adalah 0.450 ×100% = 45%
dan selebihnya dipengaruhi oleh variabel lain.110
Selanjutnya, Istina Rakhmawati (2015) juga menyebutkan bahwa dari ketiga jenis pola asuh, yang paling baik dan cocok untuk diterapkan dalam mengasuh anak adalah pola asuh demokratis. Pola asuh tipe demokratis ini adalah pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan serta bimbingan kepada anak. Anak dapat berkembang secara wajar dan mampu berhubungan secara harmonis dengan orang tuanya. Anak akan bersifat terbuka, bijaksana karena adanya komunikasi dua arah. Sedangkan orang tua bersikap obyektif, perhatian, dan memberikan dorongan positif kepada anaknya. Pola asuh demokratis ini mendorong anak menjadi mandiri, bisa mengatasi masalahnya, tidak tertekan, berperilaku baik terhadap lingkungan, dan mampu berprestasi dengan baik. Pola pengasuhan ini dianjurkan bagi orang tua.111
Selain itu, Faiqotul Husna (2018) menyatakan bahwa dari hasil rekapitulasi kategori menggunakan rumus mean dan standar deviasi serta acuan skor perhitungan maka dapat disimpulkan bahwa pola asuh demokratis dengan prosentase 58,974% berkategori tinggi dan pada acuan perhitungan
110 Kaswandi, “Pegaruh Pola Asuh Demokrsi Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa Di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bukit Batu Kabupaten Bengkalis”, Skripsi, (Pekanbaru:
UIN SUSKA, 2014), hlm. 78-79.
111 Istina Rakhmawati, “Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak”, Konseling Religi: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Vol. 6, No. 1, (Jawa Tengah: SMP 1 Undaan Kudus, 2015), hlm. 32-33.
114
menunjukkan bahwa skor angket pola asuh demokratis lebih tinggi daripada pola asuh permisif dan pola asuh otoriter.
Santrock berpendapat bahwa, salah satu peran aktif orang tua adalah mengasuh anak. Pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dengan anak dalam berinteraksi, serta berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Kemampuan interpersonal dan pengendalian emosional sangat diperlukan orang tua dalam melakukan kegiatan pengasuhan untuk memberikan rasa nyaman pada anak. Pola asuh yang tepat akan mempengaruhi tingkat kemandirian anak dalam belajar.112
Muhibbin Syah, memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik di sekolah, dimana secara garis besar bisa terdiri atas tiga unsur, antara lain:
a. Faktor Internal, merupakan faktor yang berasal dari dalam peserta didik, yakni;
1) Keadaan (kondisi) fisik yang prima, bugar, kuat akan berguna serta mempersembahkan hasil belajar yang baik bagi peserta didik. Namun, jika kondisi fisik yang kurang optimal akan berdampak pada proses pembelajarannya.
112 Febri Yunanda Putra, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Tingkat Kemandirian Personal HYGIENE Anak Usia Prasekolah di Desa Balung Lor Kec. Balung Kab. Jember,” (Skripsi, UNEJ, Jember, 2012), 3.
115
2) Keadaan psikologis, dimana kondisi ini mempengaruhi perhatian, keinginan, dorongan serta kemampuan seseorang dalam meraih suatu kesuksesan di waktu mendatang.
b. Faktor eksternal, merupakan faktor yang berasal dari luar peserta didik, yaitu keadaan lingkungan sekitar peserta didik. Berikut ini merupakan unsur-unsur yang berpengaruh antara lain:
1) Faktor sosial, meliputi; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
2) Faktor non sosial, yaitu kondisi serta letak bangunan sekolah, kondisi dan letak rumah tempat tinggal keluarga, media, sarana, sumber belajar, kondisi cuaca serta waktu belajar yang dipakai oleh peserta didik. Unsur-unsur yang telah dipaparkan sebelumnya dianggap ikut menetapkan fase kesuksesan dalam proses belajar peserta didik di sekolah.
c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), merupakan tipe cara atau usaha belajar peserta didik yang mencakup; strategi dan metode yang diterapkan oleh peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran. Jadi, dalam riset atau penelitian ini menerangkan bahwa semakin baik status gizi peserta didik belum tentu dapat memperoleh nilai tinggi dalam urusan proses pembelajaran yang termasuk pada hasil belajar dan prestasi belajar.
Sebaliknya, jika semakin buruk status gizi peserta didik, maka belum pasti memperoleh nilai rendah. Maknanya, status gizi tidak menjadi unsur atau