• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Analisis tentang Internalisasi Budaya Sekolah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa di MTsN 3 Ponorogo

MTsN 3 Ponorogo adalah lembaga pendidikan formal yang berbasis keagamaan yang tentunya memiliki harapan untuk menciptakan generasi muda yang memiliki karakter religius dalam pribadinya. Hal ini selaras dengan adanya visi MTsN 3 ini, yaitu Mewujutkan MTs N 3 Ponorogo Unggul dalam IMTAQ dan IPTEK serta peduli lingkungan.

Dengan adanya visi misi ini membuktikan bahwa MTsN 3 Ponorogo merupakan lembaga pendidikan yang mengutamakan pendidikan karakter religius bagi setiap siswa dan sudah berjalan sejak lama.

Penanaman karakter religius sangatlah penting bagi siswa terlebih lagi tantangan di zaman digital seperti ini dimana siswa harus pandai untuk memfilter hal apa saja baik dan buruk bagi dirinya sendiri dan sebagai bekalnya di kemudian hari.

Sebagai upaya pembentukan karakter religius di madrasah dapat dilakukan dengan implementasi budaya sekolah. Beberapa hal yang mengindikasikan berhasilnya pembentukan karakter religius siswa melalui implementasi budaya sekolah di MTsN 3 Ponorogo. Menurut Fathurrohman (2015) ada beberapa langkah dalam menciptakan budaya religius di sekolah antara lain. Pertama, kegiatan rutin sekolah merupakan kegiatan yang dilakukan siswa secara konsisten dan

berkesinambungan, kegiatan rutin ini berupa pengembangan kebudayaan religius secara terus-menerus.50

Pengembangan budaya tersebut sudah terlaksana baik di MTsN 3 Ponorogo dengan terdapat kerjasama dari semua komponen pendidikan di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan budaya sekolah dengan menanamkan karakter pada siswa sesuai dengan nilai-nilai religi.

Kegiatan rutin di MTsN 3 Ponorogo ini diterapkan pada 2 kegiatan yaitu kegiatan rutin harian dan dan mingguan.

a. Kegiatan Rutin Harian

Kegiatan rutin harian ialah pelaksanaan aktivitas pembiasaan yang dilaksanakan setiap hari oleh siswa siswi di MTsN 3 Ponorogo diantaranya yaitu 5S (senyum, sapa, salam, sopan dan santun), berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, melantunkan asmaul husna, membaca Al-Qur’an, dan sholat berjama’ah. Dalam pelaksanaan dilaksanakan mulai dari pagi masuk sekolah hingga saat pulang sekolah.

Penerapan budaya 5S sangatlah penting dilaksanakan di sekolah, karena program ini dapat menciptakan suasana saling menghormati antar sesama dalam suatu interaksi di sekolah.

Budaya 5S di madrasah ini sudah dilaksanakan dengan baik dengan

50 Fathurrohman, M. (2015). Budaya Religius dalam Peningkatan Mutu Pendidikan:

Tinjauan Teoritik dan Praktik Kontekstualisasi Pendidikan Agama di Sekolah. Yogyakarta:

Kalimedia

keterlibatan seluruh warga sekolah didalamnya yang membentuk interaksi positif bagi siswa.

Kegiatan yang dilakukan setelah memasuki kelas yaitu melantunkan asmaul husna yang dibaca secara bersama-sama kemudian. Berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran dilaksanakan dengan tujuan agar siswa lebih memahami nilai-nilai agama islam dengan selalu membiasakan anak untuk berdoa dalam memulai segala aktivitas.

Pelaksanaan membaca al-Qur’an dilakukan setelah berdoa bersama dan membaca asmaul husna. Tartil al-Qur’an dilakukan pada jam pertama yaitu jam 06.50 sampai 07.35 dengan pembimbingan dari wali kelas apabila terdapat siswa yang belum bisa membaca al-Qur’an maka akan dilakukan pengelompokkan dan pembimbingan tersendiri.

Kegiatan sholat yang dilaksanaan secara berjamaah ini sesuai dengan sabda rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh imam bukhori dan muslim yang artinya “sholat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding sholat sendiri”.

b. Kegiatan Rutin Mingguan

Kegiatan rutin mingguan adalah pelaksanaan pembiasaan yang dilakukan secara rutin setiap satu minggu sekali di MTsN 3 Ponorogo ini diantaranya yaitu Jum’at taqwa dan Infaq Jum’at.

Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari pagi hari dengan dimulai

dengan berdoa dan dilanjut dengan membaca surat yasin dan diakhiri dengan doa bersama.

Salah satu program pembiasaan yang dapat dilakukan di sekolah yaitu melalui kegiatan infaq jumat. Selain menanamkan nilai-nilai karakter, infak Jumat juga bermanfaat untuk pribadi sendiri serta orang lain, karena dapat menumbuhkan kepedulian terhadap sesama manusia.51 Dalam pelaksanaannya di MTsN 3 ini dilaksanakan ketika waktu istirahat perwakilan dari osis bertugas untuk berkeliling memberikan kotak amal kepada masing-masing kelas untuk diisi sesuai keikhlasan mereka.

Kedua, Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang tidak terjadwal yang dilakukan secara langsung pada waktu itu juga.52 Hal ini telah nampak dan terlihat pada pelaksanaan budaya sekolah, seperti diantaranya memberikan salam dan menyapa ketika bertemu, memberikan peringatan kepada siswa jika tidak melaksanakan ibadah, dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Selain itu, dalam pelaksanaannya di MTsN 3 Ponorogo juga diperlukan peranan dari bapak/ibu guru selalu memberikan peringatan atau nasihat yang ditujukkan kepada siswa apabila ditemui siswa yang melakukan hal yang kurang tepat, seperti contoh ketika siswa makan atau minum dengan berdiri maka secara

51 Annisa Titis Mardiana and Firman Robiansyah, “PEMBINAAN KARAKTER SISWA MELALUI PROGRAM JUMAT AMAL : STUDI KASUS DI SEKOLAH DASAR NEGERI 5 GUNUNG AGUNG,” no. 38 (n.d.): 84.

52 Nurkholis, Manjemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi (Jakarta: PT.

Gramedia Widiarsana Indonesia, 2003) 46

spontan bapak atau ibu guru yang melihat langsung mengingatkannya untuk duduk.

Ketiga, Keteladanan adalah perilaku dan sikap warga sekolah yang dicerminkan melalui tindakan-tindakan yang baik dalam memberikan contoh, dengan tujuan untuk menjdi panutan bagi warga sekolah lainnya.53 Berdasarkan data yang diperoleh di MTsN 3 Ponorogo ini semua komponen sekolah baik guru, tenaga kependidikan dan kepala sekolah memberikan keteladanan yang baik. Dalam pelaksanaan budaya sekolah ini tidak terlepas dari peran semua warga sekolah salah satunya dengan memberikan keteladanan yang baik dengan memberikan contoh perilaku atau tindakan secara nyata. Sehingga, semua tindakan warga sekolah harus sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di sekolah tersebut.

Guru merupakan sosok yang menjadi panutan siswa di sekolah sehingga apapun yang dilaksanakan guru akan dicontoh oleh siswanya.

Bapak-ibu guru menunjukkan sikap yang simpatik dengan memberikan bimbingan, nasehat serta motivasi dan memberikan keteladanan baik di dalam ataupun diluar pembelajaran, seperti ketika guru berpapasan dengan rekan guru lainnya maupun tenaga kependidikan guru selalu mengucapkan salam kemudian berjabat tangan dan dalam interaksinya guru menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan baik menggunakan bahasa Jawa krama ataupun bahasa Indonesia. Hal ini ditunjukkan agar

53 Rifqi Amin, Pengembangan Pendidikan Agama Islam.

siswa dapat dijadikan contoh ketika siswa berpapasan dengan teman lainnya atau dengan guru dan selalu menjaga ucapannya dengan menggunakan bahasa yang baik dan sopan bukan menggunakan bahasa yang kasar. Selain itu, keteladanan yang diberikan terlihat saat pelaksanaan sholat berjamaah guru segera menuju guru segera menuju masjid untuk mengkondisikan siswa dan melakukan pengawasan sholat berjamaah sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Keempat, pengkondisian lingkungan dapat diartikan sebagai langkah sekolah dalam menata lingkungan fisik atupun lingkungan non- fisik yang ada demi menciptakan suasana mendukung terlaksananya pendidikan karakter. Di MTsN 3 Ponorogo pengkondisian lingkungan berjalan dengan baik. Dengan adanya penataan lingkungan yang baik kana akan memberikan kenyamanan siswa dalam melaksanakan kegiatan dalam sekolah. hal ini terlihat dengan adanya sarana dan prasarana yang ada di madrasah seperti adanya perpustakaan yang didalamnya menyediakan berbagai macam buku bacaan bagi siswa, adanya alat-alat peraga ibadah, pada setiap kelas seperti pengeras suara (spiker) dan al-qur’an, adanya perpustakaan yang menyediakan bacaan kemudian terdapat juga beberapa poster dan juga terdapat slogan yang ada di dalam kelas yang berisikan motivasi guna mendukung dan menguatkan pembentukan karakter religius siswa.

Pengkondisian lingkungan adalah aktivitas yang dilakukan secara sengaja untuk menyediakan sarana fisik sekolah guna mendukung

pengembangan karakter melalui budaya sekolah. Pengkondisian lingkungan ini bertujuan agar tercipta suasana kehidupan sekolah yang baik, sehingga warga sekolah dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari dengan nyaman. Bentuk pengkondisian awal sekolah antara lain:

penyediaan perlengkapan sholat, Al-Quran, penyediaan tempat sampah di setiap kelas, penempatan jam dinding di gerbang sekolah, penyediaan sumber air di depan kelas, poster berisi kata-kata motivasi yang dipajang di koridor sekolah dan halaman kelas.54

Berdasarkan teori Kemendiknas (2011) menjelaskan bahwa pengembangan budaya sekolah sebagai kegiatan pengembangan diri, yaitu melalui kegiatan rutin di sekolah, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian.55 Pengintegrasian visi dan misi dengan kegiatan pembudayaan sekolah merupakan salah satu upaya pembentukan karakter yang kuat pada siswa. Penataan kegiatan siswa di sekolah diatur sedemikian rupa, sehingga mengefektifkan tujuan pendidikan nasional.

Hal ini sesuai dengan hasil yang diperoleh dari lapangan bahwa pembentukan karakter yang terdapat di MTsN 3 Ponorogo meliputi kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan dan pengkondisian lingkungan. Kegiatan rutin sendiri dibagi 2 ada yang dilaksanakan setiap hari yaitu budaya 5S, membaca doa sebelum dan sesudah pembelajaran, membaca al-Qur’an, melantunkan asmaul husna, sholat jamaah serta

54 Furkhan Nuril, Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah (Jogjakarta: ]Magnum Pustaka Utama, 2013).119

55 Kementerian Pendidikan Nasional, “Panduan Pendidikan Karakter Di Sekolah Menengah Pertama,” Pendidikan Karakter Di SMP, 2010, 124.

terdapat kegiatan jum’at taqwa dan infaq jum’at yang dilaksanakan setiap seminggu sekali. Untuk kegiatan spontan sendiri dilakukan ketika guru bertemu dengan siswa yang dilakukan secara langsung pada waktu itu juga seperti contoh memberikan salam dan menyapa ketika bertemu, mengingatkan untuk melaksanakan ibadah, mengingatkan apabila menemui siswa yang melakukan hal yang kurang tepat. Kemudian dalam upaya pembentukan karakter di madrasah tentunya diperlukan keterlibatan dari semua personalia baik guru ataupun staf kependidikan yang berperan yaitu melalui keteladanan yang diberikan kepada siswa dengan tujuan agar dijadikan contoh oleh siswanya. Pengkondisian lingkungan yang dilakukan seperti adanya sarana dan prasarana yang mendukung sebagai upaya agar tercipta suasana madrasah yang nyaman dan kondusif dalam implementasi pembentukan karakter melalui budaya sekolah.

Selanjutnya dalam pembentukan karakter religius tentunya terdapat beberapa faktor yang berpengaruh di dalamnya religius meliputi faktor internal dalam pribadi siswa seperti kesadaran dari diri siswa sendiri yaitu niatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kemudian faktor eksternal dari luar pribadi siswa yaitu adanya peran bapak ibu guru dalam membimbing dan memotivasi siswa, adanya tata tertib atau peraturan madrasah, adanya kegiatan dan program pembiasaan di madrasah, keteladanan dan nasihat baik dari guru ataupun dari seluruh komponen pendidikan didalamnya, serta lingkungan

madrasah yang mendukung mulai dari ketersediaan sarana dan prasarana, suasana madrasah dan interaksi di dalamnya.

Disamping faktor yang mendukung juga terdapat faktor penghambat pembentukan karakter religius siswa yang meliputi faktor internal berasal dari pribadi siswa sendiri seperti rasa malas dari siswa, kurangnya kesadaran, latar belakang pendidikan siswa, dan penggunaan smartphone yang berlebihan. Kemudian faktor eksternal yang berasal dari luar pribadi siswa yaitu lingkungan keluarga siswa kurang nya kesadaran dan perhatian orang tua dan pengaruh lingkungan pergaulan siswa. Dari faktor ini sesuai dengan pendapat Marzuki (2015) bahwa lingkungan keluarga terutama orang tua menjadi tempat pertama dalam membentuk karakter anak.dalam keluarga.56 Sehingga, dalam penanaman karakter religius ini diperlukan kerjasama yang baik antara orangtua di rumah dan sekolah dalam keberhasilan pembentukan karakter religius siswa, serta adanya dukungan dari lingkungan masyarakat yang ikut berpengaruh dalam pembentukan karakter siswa.

2. Analisis tentang Kontribusi Budaya Sekolah Terhadap Karakter Religius Siswa di MTsN 3 Ponorogo

Kontribusi adalah sumbangsing yang diperoleh dari suatu hal, yang berperan dalam mewujudkan sesuatu hal menjadi lebih baik dan efisien.57 Hasil kontribusi budaya sekolah yang dimaksudkan dalam hal

56 Marzuki, Pendidikan Karakter Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2015). 69

57 Zurriyati Ezy and Mudjiran, “Kontribusi Perhatian Orang Tua Dan Motivasi Belajar Terhadap Keterlibatan Siswa Dalam Belajar (Student Engagement) Di Sekolah Dasar” 5, no. 3 (2021): 1555–63.

ini ialah dampak akhir dari rangkaian pelaksanaan budaya yang ditanamkan pada siswa MTsN 3 Ponorogo. Budaya sekolah sebagai suatu ciri khas yang memuat nilai-nilai karakter yang telah dibangun sejak lama perlu dilestarikan dan dipertahankan keunikanya agar tidak hilang. Penerapan budaya sekolah secara continue dan rutin akan menghasilkan dampak berupa pembiasaan pada diri siswa. Terutama dari beberapa program budaya sekolah yang diterapkan di MTsN 3 Ponorogo ini berkontribusi pada karakter religius siswa.

Beberapa hasil kontribusi budaya sekolah pada karakter religius siswa di MTsN 3 Ponorogo. Budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan dan santun) akan melahirkan nilai kesantunan pada siswa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kesantunan atau santun diartikan halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan.58 Indicator santun meliputi a) Berkata-kata dengan halus, b) Berperilaku dengan sopan, dan c) Berpakaian sopan.59 Budaya 5S ini memiliki kontribusi dalam membentuk karakter religius siswa yaitu dalam nilai santun, hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya indikator santun yaitu berkata-kata dengan halus terlihat ketika siswa berinteraksi dengan guru menggunakan kata-kata yang baik dengan menggunakan bahasa jawa krama atau dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta tidak berkata-kata kotor dan kasar. Berperilaku dengan sopan

58 Kamus Bahasa Indonesia/Tim Penyusun. Kamus Pusat Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008

59 Marzuki. Pendidikan karakter Islam. Jakarta : Amzah, 2015. 101

terlihat saat siswa bertemu dengan guru ataupun tenaga kependidikan di sekolah siswa menundukkan kepala sebagai bentuk hormat dan sopan kepada orang yang lebih tua, kemudian selalu menyapa dan memberikan salam ketika berpapasan. Berpakaian sopan terlihat siswa yang menggunakan baju seragam sesuai dengan aturan ketentuan sekolah, dengan menutup aurat dan menggunakan jilbab yang sesuai dengan sekolah. Dengan budaya 5S ini akan menanamkan akhlak kepada anak- anak untuk tertib, sopan santun dan juga ramah akan tercipta interaksi yang antar siswa, guru dan seluruh warga madrasah.

Budaya berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran akan melahirkan nilai tawakal pada siswa. Tawakkal adalah pasrah kepada Allah SWT setelah berusaha, tawakkal tidak berarti menyerah pada keadaan dan tidak mau mencoba lagi, tapi tawakkal berarti kita sudah berusaha semaksimal mungkin.60 Pertama, mengandalkan Allah, dan kedua yaitu mencari penyebab. Jika seorang hamba benar-benar percaya kepada Allah dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan pikiran serta seluruh kekuatannya akan lebih kuat dan mendorongnya untuk menghadapi tantangan dan tantangan berat. cobaan, segala usahanya tanpa keluhan. Tawakkal tidak akan sempurna tanpa kekuatan akal dan kekuatan iman, karena dengan keduanya, akal menemukan kedamaian.61

60 Rosihon Anwar, Akidah Akhlak, (Bandung: Cv Pustka Setia, 2008), hlm. 45-46.

61 Abu Isa Abdullah, Mutiara Faidah Kitab Tauhid, cet.4, (Jakarta: Pustaka Muslim, 2011), hlm. 52.

Budaya ini memiliki kontribusi dalam membentuk karakter religius siswa yaitu dalam nilai tawakal, hal ini dibuktikan dengan menyerahkan semua keputusan kepada Allah SWT. dalam artian ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin selanjutnya kita hanya bisa berdoa dan meyakini bahwa segala sesuatu yang baik sudah diatur oleh Allah swt.

begitupun dalam pelaksanaan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran yaitu meningkatkan kesadaran siswa. Dimana nilai religi disini berupa kebiasaan siswa menjadi lebih terbiasa untuk selalu mengawali dan mengakhiri aktivitas dengan berdoa. Sehingga, tawakal berpengaruh pada perilaku keseharian seseorang, bahwa untuk mencapai kesuksesan memerlukan ikhtiar, usaha dan do’a. Serta dalam budaya ini juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas kehadirat- Nya serta mengharapkan karunia-Nya untuk keberkahan segala aktivitas yang dilakukan.

Budaya melantunkan asmaul husna akan melahirkan nilai ketaatan pada siswa yang memiliki indicator a) Melaksanakan perintah Allah secara ikhlas seperti sholat, puasa atau bentuk ibadah yang lain b) Meninggalkan larangan Allah seperti berbuat syirik, mencuri, berzina, minum-minuman keras, dan lainnya. Budaya ini memiliki kontribusi dalam membentuk karakter religius siswa dibuktikan Budaya melantunkan asmaul husna berupa peningkatan kesadaran dan nilai sikap pada siswa, yaitu dengan menerapkan nilai-nilai asmaul husna berkontribusi pada perkembangan siswa yaitu mampu menggugah jiwa

untuk melakukan ibadah sunnah lainnya. Salah satunya dengan melaksanakan sholat dhuha dan rajin membaca al-Qur’an. Dengan begitu juga maka pengetahuan keagamaan siswa pun ikut meningkat.

Dilihat dari tujuan tujuan pembacaan asmaul husna sendiri yaitu mengembangkan nilai religius dalam peserta didik seperti lebih mengenal dan mencintai Allah sang pencipta. Dengan begitu maka mereka mengetahui 99 nama-nama Allah Swt. dan pengetahuan siswa akan meningkat.

Budaya membaca al-Qur’an akan melahirkan nilai ketaatan pada siswa yang memiliki indicator Melaksanakan perintah Allah secara ikhlas seperti sholat, puasa atau bentuk ibadah yang lain b) Meninggalkan larangan Allah seperti berbuat syirik, mencuri, berzina, minum-minuman keras, dan lain sebagainya. Budaya ini memiliki kontribusi dalam membentuk karakter religius siswa dibuktikan dengan membaca al-Qur’an termasuk pada salah satu indikator yaitu melaksanakan perintah Allah secara ikhlas.

Dalam kitab al-Burhan az-Zarkasyi disebutkan bahwa kesempurnaan tartil yaitu dengan membaca dengan seksama pengucapan dan huruf jelas, satu huruf tidak tercampur dengan huruf lainnya, tartil sempurna. Sedangkan tajwid berarti mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan suatu huruf, baik dari hak-haknya

maupun hukum yang ada karena hak-hak tersebut terpenuhi. 62 Sehingga, dengan kegiatan membaca al-Qur’an ini akan berdampak pada peningkatan kelancaran membaca Al-Qur’an, tartil dan tajwid siswa pada masing-masing siswa. Serta siswa memiliki kesadaran yang lebih utama untuk membaca Al-Qur'an, tidak hanya membaca tetapi juga mempelajarinya. Selain kefasihan membaca, para siswa juga meningkatkan tartil dan tajwid mereka.

Budaya doa bersama menciptakan nilai ketaatan kepada siswa.

Ketaatan ibadah adalah ketaatan dan pengabdian manusia kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya kemudian menjalin hubungan yang serasi dan serasi dengan sesama (ibadah mahdhah dan ghoiru mahdhah).63 Indikator taat kepada Allah meliputi yaitu a) Melaksanakan perintah Allah secara ikhlas seperti sholat, puasa atau bentuk ibadah yang lain b) Meninggalkan larangan Allah seperti berbuat syirik, mencuri, berzina, meminum khamar, dan larangan lainnya. Dalam sholat berjamaah ini terlihat siswa melaksanakan perintah Allah berupa menjalankan kewajiban untuk melaksanakan sholat. Terlihat dalam pelaksanaanya siswa yang menuju masjid saat waktu sholat tiba. Pelaksanaan sholat berjamaah yang dapat meningkatan kesadaran siswa untuk beribadah terutama dilakukan dengan berjamaah. Sehingga, akan tercipta

62 Syeikh Muhammad al-Mahmud, Hidayatul Mustafid fi Ahkam at-Tajwid, (Semarang:

Pustaka al-Alawiyyah),4

63 Pengurus Wilayah and Ipnu Jateng, “KESEHATAN MENTAL MAHASISWA UIN WALISONGO Dawam Mahfud , Mahmudah , Wening Wihartati” 35, no. 1 (2015): 35–51.

konsistensi beribadah siswa yaitu dengan selalu melaksanakan sholat dengan berjamaah. Dari budaya ini juga tercermin nilai ketaqwaan dari perilaku siswa yang terbiasa melaksanakan shalat fardhu dan sunnah tepat waktu dan berjamaah seperti shalat Dhuhur dan Dhuha.

Budaya jum’at taqwa melahirkan nilai ketaatan pada diri siswa.

Pengertian taqwa secara umum adalah sikap mental orang-orang mukmin dari kepatuhannya dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT serta menjauhi segala larangan Nya atas dasar kecintaan semata.64 Indikator taat kepada Allah meliputi yaitu a) Melaksanakan perintah Allah secara ikhlas seperti sholat, puasa atau bentuk ibadah yang lain b) Meninggalkan larangan Allah seperti berbuat syirik, mencuri, berzina, minum-minuman keras, dan larangan-larangan lainnya.65 Budaya ini memiliki kontribusi dalam membentuk karakter religius siswa yaitu dalam nilai ketaatan kepada Allah, hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan jum’at taqwa yang diisi dengan membaca surat yasin dan membaca doa ini termasuk salah satu bentuk amalan yang bernilai ibadah serta menambah kesadaran siswa berupa siswa yang lebih mengetahui keutamaan membaca yasin hari jum’at sehingga, dengan begitu siswa akan selalu terbiasa. Selain itu, nilai juga tercermin dari perilaku siswa yang dibiasakan menggunakan pakaian yang sopan.

64 Muchlinawati Muchlinawati, “Pendidikan Karakter Berbasis Iman Dan Taqwa Terhadap Peserta Didik,” Bidayah : Studi Ilmu-Ilmu Keislaman, 2020, 1,

https://doi.org/10.47498/bidayah.v11i1.334.

65 Marzuki. Pendidikan karakter Islam. Jakarta : Amzah, 2015. 101

Khususnya jum’at taqwa siswa diwajibkan menggunakan baju muslim dengan ketentuan sopan, santun dan menutup aurat.

Budaya infak jum’at melahirkan nilai keikhlasan pada diri siswa.

ikhlas dapat berarti sebuah maksud yang hanya menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan dengan tujuan taqqorub kepada-Nya, serta mengesampingkan hal-hal selain Allah, baik berupa penghormatan, pujian, atau pun pandangan dari orang lain. Menurut Al Ghazali yang menjadi indikator ikhlas merujuk pada dua unsur penting, yaitu: Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan Mencari keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.66 Budaya ini memiliki kontribusi dalam membentuk karakter religius siswa yaitu dalam nilai keikhlasan, hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan jum’at infak dimana siswa beramal dengan tujuan semata-mata mendekatkan diri kepada allah dan mengharap keridhoan-Nya tanpa mengharap pengakuan dari orang lain.

Karakter ikhlas terlihat saat sekolah memutuskan untuk melaksanakan infak dengan niat karena Allah ta’ala dan sebagai bentuk rasa syukur, dan membantu sesama yang lebih membutuhkan.Serta diikuti juga dengan rasa peduli didik peduli terhadap siswa lain yang masih kekurangan dengan memberikan shodaqoh.

66 Muhammad Mahmud, “Konseptualisasi Ikhlas,” Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., no. 1997 (1967): 5–24.

Dokumen terkait