• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, nilai atau hasil kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas IV MI Al-Amin Pejeruk pada pembelajaran IPA mengalami peningkatan setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis masalah. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah menjadikan peserta didik menjadi lebih aktif. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah melibatkan peserta didik untuk mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif dalam belajar, menumbuhkan motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.83 Hal ini terlihat dari aktivitas peserta didik yang meningkat pada setiap pertemuannya hal ini tidak lepas dari peran guru yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah yanng mempengaruhi aktivitas peserta didik.54

Setelah penggunaan model pembelajaran berbasis masalah, hasil dari kemampuan berpikir kritis dan keaktifan belajar peserta didik meningkat. Hal ini dapat dilihat dari proses belajar dan hasil tes yang telah dilakukan. Data perbandingan kemampuan berpikir kritis per kategori pada siklus I dan II dapat dilihat pada Gambar 4.5.

83 Ridwan Abdullah Sani, Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2017), hlm. 134.

Gambar 4.5

Grafik Perbandingan Kemampuan Brfikir Kritis Siklus I dan II Berdasarkan gambar tersebut, terdapat perbandingan kemampuan berpikir kritis siklus I dan siklus II, dimana ketuntasan klasikal pada siklus I mencapai (75%) yakni 13 peserta didik dengan kategori kritis dan 2 peserta didik dengan kategori sangat kritis dengan nilai rata-rata kelas 69. Selanjutnya pada siklus II, ketuntasan klasikal mencapai (90%) dimana 9 peserta didik berada pada kategori kritis dan 9 peserta didik berada pada kategori sangat kritis dengan nilai rata-rata kelas mencapai 78.

Adapun perbandingan ketuntasan berpikir kritis peserta didik siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Gambar 4.6.

0 4 8 12 16 20

Cukup Kritis

Kritis Sangat Kritis

Siklus 1 5 13 2

Siklus 2 2 9 9

25%

65%

10% 10%

45% 45%

Jumlah Siswa

Data Kemampuan Berfikir Kritis Siklus I dan II

Gambar 4.6

Grafik Perbandingan Ketuntasan Brfikir Kritis Siklus I dan II Pada gambar tersebut, dapat dilihat ketuntasan berpikir kritis peserta didik pada siklus I sebanyak 15 orang peserta didik yang tuntas dari 20 peserta didik yang mengikuti tes. Pada siklus II dari 20 peserta didik yang mengikuti tes, terjadi peningkatan peserta didik yang tuntas sebanyak 18 orang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah memiliki pengaruh yang positif terhadap hasil dari kemampuan berpikir kritis peserta didik. Sesuai dengan hasil penelitian yang sebelumnya yaitu Yulas Feriyati dengan judul “peningkatan kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran IPA melalui pembelajaran berbasis masalah siswa kelas IV SD Negeri Karangtalun 1 Tanon Sragen”, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari hasil rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa pra siklus yaitu 51,39 menjadi 67,82 pada siklus I dan 82,87 pada siklus II.

Banyaknya siswa yang tuntas pada pra siklus hanya 3 siswa dengan presentase 16,67% meningkat menjadi 9 siswa dengan presentase 50,00 pada siklus I dan menjadi 17 siswa dengan presentase 94,44% pada siklus II. Hal ini

0 4 8 12 16 20

Tuntas Tidak

Tuntas

Siklus 1 15 5

Siklus 2 18 2

75%

25%

90%

10%

Jumlah Siswa

Data Hasil Ketuntasan Berpikir Kritis Siklus I dan II

menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Karangtalun 1 Tanon Sragen.8455

Sukron dengan judul “Pengaruh model Problem Based Learning terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SDN 1 Sajira pada mata pelajaran IPA konsep ekosistem”, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji hipotesis pretes maupun postes kelas kontrol maupun kelas eksperimen menggunakan uji t terdapat pengaruh model problem based learning terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA konsep ekosistem terlihat dari nilai rata-rata hasil pretes maupun postes yang diperoleh kelas eksperimen sebagai kelompok yang diberikan perlakuan yang menunjukkan peningkatan dari 53,68 pada pretes menjadi 62,78 dimana hal ini menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 9,1%, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model problem based learning terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA konsep ekosistem.8556

Penerapan model PBL telah terbukti dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran berbasis masalah lebih melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator. Peningkatan ketuntasan hasil kemampuan

84 Yulas Feriati, Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis pada Mata Pelajaran IPA melalui Pempelajaran Berbasis Masalah Siswa Kelas IV SD Negeri Karangtalun 1 Tanon Sragen, (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012/2013), Hlm, 100.

85 Sukron, Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SDN 1 Sajir pada Mata Pelajaran IPA Konsep Ekosistem, (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Hlm, 61.

berpikir kritis peserta didik dilalui dengan 5 tahapan, yaitu tahap orientasi peserta didik kepada masalah dimana peserta didik mengamati dan memahami masalah yang disampaikan guru, tahap mengorganisasi peserta didik, peserta didik diminta untuk membagi tugas dan mencari informasi, tahap membimbing penyelidikan individu dan kelompok, peserta didik diminta untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah dengan mengumpulkan informasi, tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, peserta didik diminta untuk memprsentasikan hasil diskusi bersama kelompok, dan terakhir tahap menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, dimana peserta didik diminta untuk melakukan refleksi dari hasil presentasi dengan sama-sama menyimpulkan hasil presentasi.

Model pembelajaran berbasis masalah berperan penting dalam proses pembelajaran karena peserta didik dituntut untuk menyelesaikan masalah, dan peserta didik juga dituntut untuk memberikan pendapat dari hasil pemikiran masing-masing. Selain itu, model pembelajaran berbasis masalah dapat memberikan peserta didik waktu menyelesaikan masalah dari guru sehingga peserta didik dapat menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. hal ini memberikan dampak positif karena peserta didik mendaptkan ilmu pengetahuan yang lebih yang bisa mereka dapatkan dalam proses pembelajaran.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis terlihat dari peningkatan jumlah siswa yang berada pada kategori kritis dan sangat kritis pada tiap siklusnya. Hal itu juga terlihat

dari aktivitas guru dan peserta didik yang meningkat dimana siklus I persentase aktivitas guru 70% dalam kategori baik dan aktivitas peserta didik mencapai 66% dalam kategori aktif. Pada siklus II meningkat menjadi 96% dalam kategori sangat baik untuk aktivitas guru dan 96% dalam kategori sangat aktif untuk aktivitas peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas guru yang sebelumnya pada siklus I belum membimbing peserta didik untuk setiap tahap dari model pembelajaran berbasis masalah. Akan tetapi pada siklus II guru sudah membimbing peserta didik dalam melaksanakan tahap-tahap dari model pembelajaran berbasis masalah.

Berdasarkan dari data observasi aktivitas guru dan peserta didik serta data hasil kemampuan berpikir kritis pada siklus I dan siklus II terlihat adanya peningkatan hasil dari kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan disimpulkan bahwa Penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada pembelajaran IPA Kelas IV MI Al-Amin Pejeruk Tahun Ajaran 2019/2020 dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari meningkatnya ketuntasan klasikal berpikir kritis peserta didik pada setiap siklusnya yaitu pada siklus I sebesar 75% dan pada siklus II meningkat sebesar 90%. Ketuntasan klasikal kemampuan berpikir kritis telah melebihi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sebesar 85% peserta didik berada pada kategori kritis dan sangat kritis. Selain itu, peningkatan dapat dilihat dari presentase aktivitas guru pada setiap siklus. Pada siklus I presentase aktivitas guru sebesar 70% meningkat pada siklus II sebesar 96%. Adapun pada siklus I presentase aktivitas peserta didik sebesar 41% dan meningkat pada siklus II sebesar 76%. Presentase aktivitas guru dan peserta didik juga telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Maka penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya karena telah memenuhi indikator keberhasilan pada siklus II.

Dari kesimpulan di atas, ditunjukkan adanya peningkatan hasil dari kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan diterapkannya model pembelajaran berbasis masalah, karena guru yang menyediakan waktu berpikir kepada peserta didik meningkatkan respon peserta didik menjadi lebih aktif

dalam proses pembelajaran karena peserta didik dituntut untuk menyelesaikan masalah, dan peserta didik juga dituntut untuk memberikan pendapat dari hasil pemikiran masing-masing. Selain itu, model pembelajaran berbasis masalah dapat memberikan peserta didik waktu menyelesaikan masalah dari guru sehingga peserta didik dapat menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas.

B.Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui model pembelajaran berbasis masalah pada pembelajaran IPA kelas IV MI Al-Amin Pejeruk, maka disarankan hal-hal sebagai berikut:

1. Bagi peserta didik, nilai sikap, pengetahuan dan keterampilan telah baik dan sebaiknya dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi dengan menaati aturan kegiatan dalam pembelajaran.

2. Bagi guru, pemilihan model pembelajaran sangat menentukan keberhasilan dari kegiatan pembelajaran. Hendaknya model pembelajaran berbasis masalah digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam merencanakan kegiatan pembelajaran khususnya pada pembelajaran IPA.

3. Bagi kepala madrasah, agar segera mengambil kebijakan tingkat lembaga mengingat manfaat model pembelajaran berbasis masalah sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Hendaknya model PBL diterapkan secara insentif di kelas-kelas yang memang memerlukan model.

4. Bagi peneliti selanjutnya, jika ingin melakukan penelitian yang sama, disarankan untuk mempertimbangkan penelitian ini dengan mempersiapkan sajian materi dan dapat menyempurnakan kekurangan atau kelebihan yang ada dalam penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir, Ahmad Fauz, Endri Yulianto,dkk, Dasar-dasar Pendidikan, Jakarta:

Kencana, 2014.

Asih Widi Wisudawati, Eka Sulistyowati, Metodologi Pembelajaran IPA, Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2017.

Amos Neolaka, Grace Amialia, Landasan Pendidikan, Depok: Kencana, 2017.

Bahtiar, Strategi Belajar Mengajar Sains (IPA), Mataram: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, 2015.

Benedikta Meryana, Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar, (Skripsi Universitas Sanata Dharma Yogyajarta, 2017.

Buku Seri Tematik Terpadu SD/MI Kelas 4.

Dokumentasi MI Al-Amin Pejeruk Tahun 2019/2020.

Donni Juni Priansa, Kinerja dan Profesionalisme Guru, Bandung: CV Alfabeta, 2018.

Garinda Sukma, Penerapan Model Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA, Skripsi UIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya 2018.

Jumanta Hamdayama, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter, Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.

Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011.

Lili Kasmini, Penerapan Metode Terbimbing Untuk Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pembelajaran IPA, Banda Aceh 2016.

Lusendico Saragih, Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Konvensional, Medan, 2017.

Lukman Hakim, Implmentasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pada Lembaga Pendidikan Madrasah, 2015.

Nur Fitri Amalia, Kemampuan Berpikir Kritis dan Rasa Ingin Tahu Melalui Model PBL, Semarang 2016.

Observasi, Pejeruk, 1 November 2019.

QS. Al-Insyirah [94]: 5.

Rahajeng Normadhita, Skripsi Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar siswa Kelas IV Pembelajaran IPA, Yogyakarta, 2018. Hlm 8.

Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, Jakarta:PT Grafindo Persada, 2012.

Ridwan Abdullah Sani, Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2017.

Rusman, Model-Model Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2016.

Suharsimi, Arikunto, Suhardjo, Supardi, Penelitian Tindakan Kelas,Jakarta:PT Bumi Aksara, 2017

Sobry Sutikno, Manajemen Pendidikan, Lombok: Holistica Lombok, 2012.

Soleh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2017.

Sukron, Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Skripsi, PGMI UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 2014.

Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015.

Tukiran Taniredja, Irma Pujiati, Nyata, Penelitian Tindakan Kelas,Bandung:CV Alfabeta, 2013.

Wahab Jufri, Belajar dan Pembelajaran Sain, Bandung:Pustaka Reka Cipta, 2017.

Yulas Feriati, “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis pada Mata Pelajaran IPA melalui Pempelajaran Berbasis Masalah Siswa Kelas IV SD Negeri Karangtalun 1 Tanon Sragen”, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012/2013.

Lampiran 1

Daftar Nama Siswa Kelas IV MI Al-Amin Pejeruk Tahun Ajaran 2019/2020

No. Nama Siswa Jenis Kelamin

L/P

1. Adila Syasyafira P

2. Andin Apria P

3. Ahmad Khaerul Ikhsan L

4. Dinda Kirana P

5. Deny Try Maulana L

6. Dinda Safitri P

7. Humaira Fitriani P

8. Husnul Wardani P

9. Husna Ghitsna P

10. Jumadil Awal L

11. Kasih Maulidiya Putri P

12. M. Arkan L

13. Mufida Humaira P

14. M. Fatihul Kiram L

15. M. Furqan Ansori L

16. Indah Permata Hati P

17. Naura Zharief P

18. Nurul Rafika P

19. Ori Mutia P

20. Putri May Islami P

Jumlah = 20 Ket. : L = 6 P = 14

Lampiran 2

Daftar Nama Kelompok Kelas IV MI Al-Amin Pejeruk

Kelompok: 1 1. Kasih Maulidiya putri 2. Adila Syasyafira 3. Ahmad Khaerul ikhsan 4. Deni Try Maulana

Kelompok: 2 1. Mufida Humaira 2. Andin Apria 3. Jumadil Awal 4. M. Arkan

Kelompok 3:

1. Dinda Kirana 2. Dinda Safitri 3. Humaira Fitriani 4. Husnul Wardani

Kelompok 4:

1. Husna Ghitsna 2. M. Fatihul Kiram 3. M. Furqan Ansori 4. Indah Permata Hati

Kelompok 5:

1. Naura Zharief Fahira 2. Nurul Rafika

3. Ori Mutia 4. Putri May Islami

Lampiran 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I PERTEMUAN 1 dan 2

Satuan Pendidikan : MI AL-AMIN PEJERUIK AMPENAN Kelas / Semester : IV / II

Tema 8 : Cita-citaku

Sub Tema 1 : Aku dan Cita-citaku Alokasi Waktu : 2x35 Menit / 2x Pertemuan

A.KOMPETENSI INTI (KI)

KI 1: Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya .

KI 2: Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru .

KI 3: Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati mendengar, melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, Madrasah.

KI 4: Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B.KOMPETENSI DASAR (KD) & INDIKATOR Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

3.2 Membandingkan siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup serta mengaitkannya dengan upaya pelestariannya.

4.2 Membuat skema siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup yang ada di lingkungan sekitarnya, dan poster upaya pelestariannya.

Indikator

3.2.1 Mengidentifikasi siklus hidup makhluk hidup.

4.2.1 Membuat skema tahapan pertumbuhan hewan dan tumbuhan.

C.TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Peserta didik melakukan pengamatan, mengidentifikasi siklus makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan baik

2. Peserta didik mampu membuat skema siklus makhluk hidup yang ada disekitarnya dengan benar.

D.MATERI PEMBELAJARAN

Siklus Hidup Hewan

Hewan juga memiliki siklus hidup seperti pada manusia dan tumbuhan.

Siklus hidup sama artinya dengan daur hidup. Siklus hidup hewan adalah rangkaian proses tahapan hidup yang dilalui oleh hewan mulai dari telur, menetas (bagi hewan ovipar, jika bagi hewan vivipar, maka mulai dari anak hewan), masa remaja, dan dewasa. Siklus hidup pada beberapa kelompok hewan berbeda-beda. Ada beberapa hewan yang dalam hidupnya mengalami metamorfosis (perubahan bentuk) dan ada yang tidak mengalami metamorfosis. Daur hidup tanpa metamorfosis merupakan proses pertumbuhan yang tidak mengalami perubahan bentuk tubuh. Contohnya, kucing, ayam, bebek, ikan, burung, dan masih banyak lainnya.

c) Siklus Hidup Ayam

Berikut ini beberapa tahapan pertumbuhan pada ayam:

1) Ayam menghasilkan anak dengan cara bertelur. Telur ayam dierami selama kira-kira 21 hari agar dapat menetas.

2) Setelah pertumbuhan bakal anak ayam di dalam telur sempurna, telur menetas menjadi ayam.

3) Makin lama anak ayam tumbuh besar. Bulu-bulu halus berubah menjadi bulu-bulu seperti induknya. Setelah dewasa ayam berkembang biak dan menghasilkan telur. Dari telur ini, siklus hidup ayam yang baru dimulai kembali.

Metamorfosis adalah pertumbuhan pada hewan berupa bentuk hewan muda yang berbeda dengan hewan dewasa. Berdasarkan perubahan bentuk hewan, metamorfosis dibagi menjadi dua, yaitu metamorfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna.

a) Metamorfosis sempurna

Hewan yang mengalami metamorfosis sempurna mempunyai bentuk yang berbeda pada setiap tahap pertumbuhannya. Contohnya, kupu- kupu, lalat, katak, nyamuk, dan kumbang.

1. Siklus Hidup Kupu-kupu

a. Kupu-kupu yang siap bertelur akan mencari tanaman yang cocok untuk meletakan telurnya.

b. Telur kupu-kupu menetas, keluarlah larva atau ulat.

c. Pada fase ini, larva akan berbubah menjadi kepompong dan menggunakan benang khusus dari dalam dirinya proses ini berlangsung selama 10-15 hari.

d. Setelah keluar dari kepompong, kupu-kupu akan bergerak ke atas dan siap untuk terbang.

b) Metamorfosis tidak sempurna

Hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna mempunyai bentuk hampir sama pada setiap tahap pertumbuhannya.

Metamorfosis tidak sempurna pada hewan tidak mengalami tahap pupa. Contohnya, kecoak, rayap, dan belalang.

1. Siklus Hidup Belalang a. Dimulai dari fase telur.

b. Telur menetas menjadi nimfa. Nimfa dalah belalang kecil yang belum memiliki sayap.

c. Setelah melewati fase nimfa selama satu bulan proses metamorfosis belalang kemudian dilanjutkan dengan fase belalang muda.

d. Setelah itu, belalang muda tumbuh menjadi belalang dewasa.

E.METODE PEMBELAJARAN

 Pendekatan : Saintifik.

 Model : Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL).

 Metode : Diskusi, presentasi, tanya jawab, dan penugasan.

F. MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN

Media : Poster/gambar, LKS, buku tema.

Sumber Belajar : Buku Pedoman Guru Tema 6 Cita-citaku kelas 4, Buku Pedoman Siswa Tema 6 Cita-citaku kelas 4.

G. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Pertemuan 1 (2 x 35 menit)

Kegiatan Deskripsi Kegiatan

Alokasi Waktu Pendahuluan Guru masuk kelas dengan mengucapkan

salam

Guru memulai pembelajaran dengan mengajak peserta didik berdoa bersama

Guru mengabsensi kehadiran peserta didik

Guru menyampaikan apersepsi Orientasi peserta didik kepada masalah

10 menit

Kegiatan Deskripsi Kegiatan

Alokasi Waktu

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

Guru menyampaikan gambaran sederhana terkait dengan materi pembelajaran siklus hidup hewan

Guru memotivasi peserta didik agar terlibat aktif dalam pemecahan masalah Kegiatan Inti Mengorganisasikan peserta didik

Guru meminta peserta didik membentuk kelompok menjadi 5 kelompok

Guru membagikan LKS kepada peserta didik

Guru memastikan setiap anggota kelompok memahami tugas masing- masing

Membimbing penyelidikan individu dan kelompok

Guru mengawasi kegiatan belajar peserta didik

Guru membimbing peserta didik mengumpulkan informasi terkait dengan masalah dari sumber belajar seperti buku tema kelas 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru meminta peserta didik untuk

45Menit

Kegiatan Deskripsi Kegiatan

Alokasi Waktu berdiskui bersama kelompok

Guru meminta peserta didik bertukar pikiran bersama teman kelompok terkait solusi pemecahan masalah

Guru meminta peserta didik menyajikan hasil diskusi dalam bentuk presentasi Penutup Menganalisis dan mengevaluasi proses

pemecahan masalah

Guru dan peserta didik melakukan tanya jawab terkait hasil presentsi

Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat (refleksi) terkait dengan hasil presentasi

Guru bersama peserta didik membuat kesimpulan terkait dengan hasil presentsai

Guru memberi apresiasi kepada peserta didik dengan bertepuk tangan

Guru bersama peserta didik menutup kegiatan pembelajaran dengan sama-sama mengucapkan kalimat Alhamdulillah.

15 menit

Pertemuan 2 (2 x 35 menit)

Kegiatan Deskripsi Kegiatan

Alokas

Waktu Pendahuluan Guru masuk kelas dengan mengucapkan

salam

Guru memulai pembelajaran dengan mengajak peserta didik berdoa bersama

Guru mengabsensi kehadiran peserta didik

Guru menyampaikan apersepsi Orientasi peserta didik kepada masalah

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

Guru menyampaikan kembali gambaran sederhana terkait dengan materi pembelajaran siklus hidup hewan.

Guru menjelaskan daur hidup hewan tanpa metamorfosis dan daur hidup hewan dengan metamorfosis

Guru memotivasi peserta didik agar terlibat aktif dalam pemecahan masalah

10 menit

Kegiatan Inti Mengorganisasikan peserta didik

Guru kembali meminta peserta didik membentuk kelompok menjadi 5 kelompok

Guru membagikan LKS kepada peserta didik

45Men it

Kegiatan Deskripsi Kegiatan

Alokas

Waktu

Guru memastikan setiap anggota kelompok memahami tugas masing- masing

Membimbing penyelidikan individu dan kelompok

Guru mengawasi kegiatan belajar peserta didik

Guru membimbing peserta didik mengumpulkan informasi terkait dengan masalah

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru meminta peserta didik untuk berdiskui bersama kelompok

Guru meminta peserta didik bertukar pikiran bersama teman kelompok terkait pemecahan masalah

Guru meminta peserta didik menyajikan hasil diskusi dalam bentuk presentasi Penutup Menganalisis dan mengevaluasi proses

pemecahan masalah

Guru dan peserta didik melakukan tanya jawab terkait hasil presentasi

15 menit

Kegiatan Deskripsi Kegiatan

Alokas

Waktu

Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat (refleksi) terkait dengan hasil presentasi

Guru bersama peserta didik membuat kesimpulan terkait dengan hasil presentasi

Guru memberi apresiasi kepada peserta didik dengan bertepuk tangan

Guru bersama peserta didik menutup kegiatan pembelajaran dengan sama-sama mengucapkan kalimat Alhamdulillah.

H. PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN a. Penilaian Sikap

Teknik penskoran Skor maksimal 4x6 = 24 Skor minimum 4x1 = 4

Nilai = S ya

S Ma a � 100

Adapun penskoran dalam penilaian afektif menggunakan 4 predikat, yaitu:

No Predikat Kriteria Skor

1 A Sangat Baik 4

2 B Baik 3

3 C Cukup 2

4 D Kurang 1

 Lembar Penilaian Sikap

No

Nama Peserta

Didik

Jujur Disiplin Tanggung

Jawab Peduli Seman gat

Percaya Diri 1 Adila

2 Andin 3 Ikhsan

Jumlah skor Nilai

b.Penilaian Pengetahuan: LKS

Penilaian dilakukan dengan menghitung jumlah jawaban benar dari soal yang tersedia.

Penilaian = S ya

S Ma a � 100

Konversi Nilai Predikat Klasifikasi

81-100 A Sangat baik

66-80 B Baik

51-65 C Cukup

0-50 D Kurang

Dokumen terkait