• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH PASCASARJANA (Halaman 106-119)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Islam mengajarkan manusia untuk melakukan kegiatan ekonomi yang benar. Segala sumber daya alam dan manusia harus dikelola dan dimanfaatkan dengan baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya alam dan sumber daya manusia pedagang yaitu dengan melakukan kegiatan atau transaksi jual-beli. Transaksi jual-beli merupakan kegiatan atau transaksi yang dilakukan oleh penjual kepada pembeli dengan menawarkan barang dengan harga tertentu.

Seorang pedagang harus menjual barang-barang yang baik dan halal, yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat atau konsumen sehingga barang-barang yang dijual tidak mubazir dan laris di Pasar. Para pedagang di Pasar Pekkabata menjual barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat seperti bahan kebutuhan pokok yaitu beras, ikan, dan buah-buahan. Barang-barang tersebut diperoleh secara langsung dari petani, pekebun, pemancing, dan pelaut, serta diperoleh dengan menggunakan ekspedisi atau jasa pengiriman.

Rata-rata para pedagang di Pasar Pekkabata ada yang sudah menjual dalam waktu 1 tahun bahkan ada yang sudah menjual sampai 20 tahun. Para pedagang memulai aktivitasnya pada waktu subuh, pagi hari sampai dhuhur atau sampai barangnya habis terjual. Aktivitas yang dilakukan sebelum memulai menjual yaitu mencari tempat bagi pedagang yang tidak memiliki tempat tetap, menggantung tenda, mengatur barang-barang, dan mempersiapkan semua peralatan yang mereka butuhkan dalam melakukan transaksi.

Setelah segala hal yang dibutuhkan untuk menjual telah disiapkan maka para pedagang mulai berdagang. Mereka berdagang dengan cara mereka masing- masing, ada yang dengan berteriak-teriak memanggil pembeli adapula yang menjual yang biasa-biasa saja yaitu menunggu pembeli yang ingin membeli.

Ketika ada pembeli yang merasa tertarik dengan barang yang dijual oleh pedagang, maka terjadilah proses tawar-menawar antara penjual dan pembeli baik terkait dengan harga maupun yang terkait dengan jumlah barang yang akan diberikan. Apabila keduanya merasa cocok dan sepakat maka transaksi jual-beli akan terjadi.

Transaksi jual-beli di Pasar Pekkabata yang dilakukan antara penjual dan pembeli adalah jenis transaksi yang dilakukan secara tunai. Hal itu disebabkan pembayaran yang dilakukan antara pedagang dan pembeli dalam transaksi tersebut menggunakan uang kartal baik yang berupa uang kertas maupun uang logam. Di mana saat pembeli membayar barang yang dibeli dari pedagang, mereka menggunakan uang kertas dan terkadang ada yang mencampur dengan uang logam. Begitupun dengan pedagang, apabila ada kelebihan dari uang pembeli maka mereka juga akan mengembalikannya dalam bentuk uang kertas dan kadang juga uang logam.

Para pedagang di Pasar Pekkabata melakukan pembayaran secara tunai menggunakan uang, dan tidak menggunakan pembayaran secara non tunai menggunakan kartu debit, kredit dan e-Money, hal ini disebabkan bahwa di Pasar Pekkabata belum ada mesin yang dapat digunakan untuk menggesek kartu-kartu tersebut.

Segala bentuk dan proses transaksi yang dilakukan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata diharapkan sesuai dengan nilai-nilai ekonomi syariah. Kaitannya dengan nilai-nilai ekonomi syariah para pedagang di Pasar Pekkabata, dapat ditelusuri dari pemikiran Adiwarman A. Karim. Pemikiran Adiwarman A. Karim tentang nilai-nilai ekonomi syariah secara universal mengarah pada kajian tentang perekonomian dari segala bidang, termasuk jual-beli.

Nilai-nilai ekonomi syariah yang dimaksud Adiwarman A. Karim yaitu nilai tauhid, nilai nubuwwah (kenabian), nilai khilafah, nilai ’adl (keadilan), dan nilai ma’ad (hasil).

a. Nilai tauhid

Nilai tauhid mengandung arti bahwa Allah SWT., adalah pemilik hakiki, sedangkan manusia adalah pemegang amanah untuk menjadi pemilik sementara yakni manusia bertanggungjawab untuk mengelola dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di bumi dengan tujuan yang baik dan halal. Nilai tauhid dalam transaksi jual-beli dimaksudkan bahwa para pedagang melakukan praktik jual- beli yang baik dan halal. Dengan begitu, para pedagang menjual barang yang baik dan halal bukan barang yang zatnya diharamkan dan dilarang dalam syariat seperti daging babi dan miras. Barang yang dijual harus bersumber dari tempat yang halal bukan bersumber dari tempat yang dilarang dan diharamkan seperti tempat perjudian dan tempat penjualan atau penyewaan barang-barang yang haram. Barang dagangan harus diperoleh dengan cara yang halal bukan dengan

cara yang diharamkan seperti pencurian atau perampokan. Selain itu, aktivitas atau kegiatan yang dilakukan harus senantiasa ditujukan untuk sesuatu yang baik dan halal sebagaimana anjuran agama Islam bukan ditujukan untuk sesuatu yang diharamkan seperti berfoya-foya, judi dan mabuk-mabukan.

Terkait dengan aspek-aspek nilai tauhid tersebut, para pedagang di Pasar Pekkabata telah menjual barang-barang yang halal dan dibutuhkan oleh para konsumen karena barang yang dijual adalah bahan kebutuhan pokok yaitu berbagai jenis ikan, beras dan buah-buahan. Barang dagangan yang dijual oleh para pedagang di Pasar Pekkabata juga bersumber dari tempat yang halal dan barang dagangan tersebut diperoleh dengan cara yang halal. Hal ini dikarenakan para pedagang memperoleh barang yang bersumber dan dibeli langsung dari petani, pekebun, dan pedagang. Barang dagangan tersebut kemudian diambil secara langsung dan adapula yang dikirim melalui ekspedisi atau jasa pengiriman.

Selain menjual barang dagangan yang halal dan memperoleh barang dagangan yang bersumber dari tempat yang halal dan dengan cara yang halal, praktik atau transaksi jual-beli yang dilakukan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata juga ditujukan untuk sesuatu yang baik. Di mana dalam hal ini, para pedagang pada umumnya berdagang dengan tujuan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, untuk biaya sekolah anak-anak, dan untuk menambah modal serta mengembangkan usaha mereka. Tujuan para pedagang di Pasar Pekkabata tersebut tidak bertentangan dan melanggar syariat karena ditujukan untuk sesuatu yang baik yang tidak diharamkan dan dilarang dalam syariat.

b. Nilai ’adl (keadilan)

Nilai ‘adl (keadilan) mengandung arti bahwa tidak ada unsur kedzaliman antara pihak yang satu dengan pihak yang lain dalam kegiatan perekonomian.

Salah satu hal yang menjadi bentuk kedzaliman dalam jual-beli yang dilakukan

oleh pedagang yaitu apabila pedagang menetapkan harga yang semena-mena.

Penetapan harga yang semena-mena dapat merugikan masyarakat, dan perbuatan tersebut sama dengan memakan harta dengan cara yang batil. Manusia dilarang memakan harta sesama dengan cara yang batil melainkan harus ada unsur kerelaan antara kedua belah pihak.

Selain tidak berbuat dzalim dengan menetapkan harga yang semena-mena kepada pembeli, seorang pedagang juga dilarang untuk melakukan transaksi yang mengandung unsur gharar dan maysir, dan seorang pedagang tidak boleh menyembunyikan cacat barang dagangannya. Hal ini berarti bahwa seorang pedagang tidak dilarang untuk menjual barang yang cacat akan tetapi yang tidak diperbolehkan adalah menyembunyikan atau tidak terbuka kepada pembeli terkait dengan kualitas dan detail barang yang diperdagangkan.

Terkait dengan nilai keadilan tersebut, para pedagang di Pasar Pekkabata memberikan dan menawarkan harga yang sama kepada setiap pembeli yang membeli secara ecer, sedangkan untuk langganan dan pedagang diberikan harga lebih murah karena mereka ingin menjual kembali barang tersebut. Harga yang ditetapkan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata tersebut tidak mendzalimi pembeli melainkan memberikan harga sesuai dengan porsinya masing-masing dan penetapan harga tersebut bukan merupakan penetapan harga yang semena- mena yang dapat merugikan semua pembeli.

Para pedagang di Pasar Pekkabata dalam melakukan transaksi jual-beli tidak mengandung unsur gharar dan maysir. Hal itu disebabkan bahwa para pedagang di Pasar Pekkabata melakukan transaksi jual-beli secara riil atau nyata, barang yang diserahkan kepada pembeli dan uang yang diterima dari hasil penjualan barang dagangan bersifat riil atau ada dan diserahkan pada saat transaksi berlangsung. Selain itu, transaksi jual-beli yang dilakukan oleh para

pedagang di Pasar Pekkabata tidak mengandung unsur permainan yakni pihak penjual tidak harus menanggung beban pihak pembeli ataupun sebaliknya. Akan tetapi, apabila ada kerugian yang diperoleh sebagai hasil dari transaksi jual-beli maka kerugian yang ada ditanggung oleh masing-masing pihak.

Selain itu, para pedagang di Pasar Pekkabata tidak menyembunyikan cacat barang dagangannya. Hal itu disebabkan bahwa para pedagang dalam melakukan transaksi dengan pembeli selalu menjelaskan tentang kualitas barang dagangannya dan memberikan waktu serta izin kepada pembeli untuk melihat dan memeriksa barang dagangan yang dijual untuk menghindari berbagai anggapan pembeli tentang kesengajaan para pedagang di Pasar Pekkabata menyembunyikan cacat barang dagangannya.

c. Nilai nubuwwah (kenabian)

Nilai nubuwwah (kenabian) dalam bidang ekonomi mengandung arti bahwa pelaku ekonomi harus meneladani sifat-sifat nabi Muhammad saw., dalam setiap aktivitasnya. Sifat-sifat tersebut yaitu sifat siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh, dan fathanah. Dalam hal jual-beli, kejujuran pedagang dapat diketahui dari cara para pedagang menggunakan takaran atau timbangan. Allah Swt., memerintahkan untuk menyempurnakan timbangan dan takaran sebagaimana dalam QS. ar-Rahman//55: 9.















Terjemahnya:

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.205

Ayat tersebut memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa berbuat adil dan tidak mengurangi takaran atau timbangan.

205Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya…, h. 531.

Sifat amanah seorang pedagang dalam melakukan transaksi jual-beli dapat dilihat dari keterbukaan pedagang terkait dengan kualitas dan harga barang dagangannya. Keterbukaan seorang pedagang dapat dilihat dari penjelasannya tentang kualitas dan harga barang yang dijual sehingga pembeli percaya dan merasa tertarik untuk membeli barang dagangannya. Sementara sifat tabligh seorang pedagang dapat dilihat dari komunikasi pedagang dengan pembeli dan keramahan seorang pedagang dalam melayani pembeli. Sedangkan sifat fathanah seorang pedagang dapat dilihat dari cara-cara atau Strategi yang digunakan dalam menjual atau memasarkan barang dagangannya.

Terkait dengan nilai nubuwwah (kenabian) tersebut, para pedagang di Pasar Pekkabata baik pedagang ikan, pedagang beras, maupun pedagang buah- buahan dalam melakukan transaksi jual-beli di Pasar Pekkabata masih ada beberapa pedagang yang sengaja menyetel takarannya atau timbangannya meskipun maksud dan tujuannya bukan untuk menipu akan tetapi secara tidak langsung dengan menyetel takaran atau timbangan yang digunakan dalam berdagang dapat mempengaruhi jumlah atau massa barang dagangan. Sehingga hal tersebut dapat merugikan pembeli karena menerima jumlah barang yang kurang.

Para pedagang di Pasar Pekkabata baik pedagang ikan, pedagang beras, maupun pedagang buah-buahan juga terbuka tentang kualitas dan harga barang dagangan. Hal itu disebabkan bahwa para pedagang di Pasar Pekkabata dalam melakukan transaksi dengan pembeli selalu menjelaskan tentang kualitas dan harga barang dagangannya kepada pembeli meskipun para pembeli tidak bertanya apalagi ketika pembeli bertanya kepada pedagang.

Para pedagang di Pasar Pekkabata memiliki komunikasi yang baik dengan konsumen dan pedagang yang lainnya. Selain itu, para pedagang di Pasar

Pekkabata juga memiliki sikap yang ramah dalam melayani pembeli sehingga pembeli bisa terhibur dan tidak merasa bosan ketika berbelanja.

Para pedagang di Pasar Pekkabata dalam berdagang menggunakan Strategi yang mampu menarik perhatian pembeli atau pelanggan sehingga barang-barang yang diperdagangkan bisa lebih laris. Strategi yang digunakan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata yaitu memberikan harga yang murah, menjual barang yang bagus, menggunakan takaran yang tepat, bersikap ramah kepada pembeli, dan melebihkan atau menambah takaran barang dagangan.

d. Nilai khilafah

Nilai khilafah dalam bidang ekonomi mengandung arti tanggung jawab manusia sebagai khalifah yang diberi amanah (kepercayaan) untuk memanfaatkan dan mengelola serta mengembangkan sumber daya alam dengan cara yang benar dan memberikan kesempatan kepada yang lain untuk berusaha dan berkarya. Selain tanggung jawab manusia sebagai khalifah, dalam nilai khilafah ini juga diakui peran pemerintah untuk melakukan intervensi atau campur tangan dalam kegiatan perekonomian terutama dalam transaksi jual-beli di Pasar. Pemerintah boleh melakukan intervensi apabila terjadi kenaikan harga yang dilakukan secara semena-mena oleh pedagang, atau dengan kata lain pemerintah boleh melakukan intervensi (campur tangan) apabila di Pasar terjadi kecurangan dan ketidakadilan yang dapat mendzalimi pihak lain terutama dalam masalah harga. Akan tetapi, apabila kenaikan harga dan kedzaliman tersebut tidak terjadi maka pemerintah tidak boleh melakukan intervensi (campur tangan) yang akan mengakibatkan kerugian bagi pihak penjual maupun pembeli.

Terkait dengan nilai khilafah tersebut, para pedagang di Pasar Pekkabata telah memberikan kesempatan kepada pedagang lain untuk berusaha. Hal itu disebabkan bahwa para pedagang di Pasar Pekkabata tidak keberatan dan tidak

mempermasalahkan adanya pedagang baru dan pedagang lain yang barang dagangannya lebih laris karena para pedagang di Pasar Pekkabata menganggap bahwa rezeki masing-masing orang berbeda dan sudah ditentukan oleh Allah Swt.,

Kegiatan jual-beli di Pasar Pekkabata tidak rentan terjadi kecurangan dan ketidakadilan dalam masalah harga terutama masalah kenaikan harga di waktu- waktu tertentu. Hal itu disebabkan bahwa kenaikan harga yang terjadi di Pasar Pekkabata dipengaruhi oleh faktor-faktor yang alami seperti kurangnya persediaan barang dan adanya kenaikan harga barang dari produsen. Maka dari itu, pemerintah atau petugas yang bertugas di Pasar Pekkabata tidak melakukan campur tangan terkait dengan masalah kenaikan harga. Akan tetapi, pemerintah yang bertugas tetap mengawasi keadaan dan menjaga keamanan di Pasar Pekkabata.

e. Nilai ma’ad (hasil)

Nilai ma’ad (hasil) mengandung arti sebagai laba atau keuntungan, baik laba dunia maupun laba akhirat. Dunia merupakan tempat bagi manusia untuk bekerja dan beraktivitas (beramal saleh), namun akhirat tetap lebih baik daripada dunia. Oleh karena itu, Allah Swt., melarang manusia untuk terikat pada dunia.

Jika dibandingkan dengan kesenangan di akhirat, kesenangan dunia tidaklah seberapa. Segala aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah kegiatan perekonomian harus ada unsur keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Laba dunia dalam bidang ekonomi dapat berupa barang, uang dan jasa, sedangkan laba di akhirat tidak dapat dilihat secara kasat mata dan ganjarannya tidak diperoleh secara langsung. Laba di akhirat ini dapat diperoleh dengan menggunakan laba yang didapat di dunia, yaitu dengan menyisihkan dan

menyedekahkan sebagian keuntungan yang diperoleh kepada orang-orang yang membutuhkan.

Terkait dengan nilai ma’ad (hasil tersebut), para pedagang di Pasar Pekkabata dalam melakukan transaksi jual-beli memperoleh keuntungan atau laba dari hasil penjualannya yaitu berupa barang dan uang. Keuntungan lain yang dapat dirasakan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata ketika berdagang yaitu dapat mempererat hubungan dan silaturahmi para pedagang dengan orang-orang yang ada di Pasar Pekkabata baik hubungan sesama pedagang maupun hubungan dengan pembeli atau langganan. Hubungan tersebut tidak hanya terjalin ketika para pedagang berada di Pasar akan tetapi ketika para pedagang berada di tempat lain juga.

Salah satu cara untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat oleh para pedagang di Pasar Pekkabata yaitu sebagian keuntungan yang diperoleh yang berupa barang atau uang disisihkan dan disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Para pedagang di Pasar Pekkabata menyumbangkan sebagian pendapatan atau keuntungannya ke mesjid, kepada anak yatim, kepada keluarga dan orang yang membutuhkan.

Berdasarkan hasil analisa tentang nilai-nilai ekonomi syariah pada pedagang di Pasar Pekkabata tersebut maka dapat dipahami bahwa indikator nilai tauhid dalam praktik jual-beli pada pedagang ikan, pedagang beras, dan pedagang buah-buahan di Pasar Pekkabata dapat dilihat dari aspek atau indikator bahwa zat barang yang diperdagangkan adalah barang yang baik dan halal, bersumber dari tempat yang baik dan halal, diperoleh dengan cara yang baik dan halal, dan ditujukan untuk sesuatu yang baik dan halal.

Indikator nilai ‘adl (keadilan) dalam praktik jual-beli pada pedagang ikan, pedagang beras, dan pedagang buah-buahan di Pasar Pekkabata dapat dilihat dari

aspek atau indikator bahwa para pedagang tersebut tidak semena-mena dalam menetapkan harga, pedagang dalam melakukan kegiatan jual-beli tidak mengandung unsur gharar dan maysir, dan tidak tadlis (menyembunyikan cacat barang) dalam melakukan kegiatan jual-beli.

Indikator nilai nubuwwah (kenabian) dalam praktik jual-beli pada pedagang ikan, pedagang beras, dan pedagang buah-buahan di Pasar Pekkabata dapat dilihat dari aspek atau indikator bahwa para pedagang dalam berdagang menggunakan takaran atau timbangan yang tepat, terbuka kepada pembeli tentang kualitas dan harga barang dagangan, selalu bersikap ramah dalam melayani pembeli, dan memiliki Strategi berdagang yang tepat untuk menarik perhatian pembeli.

Indikator nilai khilafah dalam praktik jual-beli pada pedagang ikan, pedagang beras, dan pedagang buah-buahan di Pasar Pekkabata dapat dilihat dari aspek atau indikator bahwa bahwa pedagang memberikan kesempatan kepada pedagang yang lain dalam berusaha atau berdagang, dan para pedagang tidak mengesampingkan peranan pemerintah dalam kegiatan jual-beli khususnya intervensi pemerintah apabila terjadi kenaikan harga yang semena-mena dari para pedagang.

Adapun indikator nilai ma’ad (hasil) dalam praktik jual-beli pada pedagang ikan, pedagang beras, dan pedagang buah-buahan di Pasar Pekkabata dapat dilihat dari aspek atau indikator yaitu para pedagang dalam melakukan kegiatan jual-beli memperoleh keuntungan yang berupa uang dan barang, keuntungan lain yang diperoleh dengan berdagang yaitu dapat mempererat tali silaturahmi dengan pedagang lain dan pembeli, dan dengan keuntungan yang diperoleh maka para pedagang dapat bersedekah atau menyumbang kepada orang-orang yang membutuhkan.

Para pedagang di Pasar Pekkabata yang melakukan transaksi jual-beli menerapkan nilai-nilai ekonomi syariah. Diterapkannya nilai-nilai ekonomi syariah bertujuan untuk menciptakan perekonomian yang lebih baik, dan untuk memastikan bahwa transaksi ekonomi yang dilakukan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ekonomi syariah. Kaitannya dengan penerapan nilai-nilai ekonomi syariah oleh para pedagang di Pasar Pekkabata dapat ditelusuri dari pemikiran Budi Winarno dalam teorinya yaitu teori penerapan bahwa nilai-nilai ekonomi syariah dapat diterapkan apabila nilai-nilai ekonomi syariah tersebut telah dilaksanakan oleh para pelaku ekonomi dalam menciptakan perekonomian yang lebih baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ekonomi syariah, atau dengan kata lain telah memenuhi indikator-indikator penerapan sebagai berikut:

1. Pelaksana adalah seseorang atau sekelompok orang yang bertindak (pelaksana). Pelaksana dalam kegiatan jual-beli di Pasar yaitu para pedagang yang berdagang di Pasar tersebut.

2. Tindakan adalah sesuatu yang harus dilakukan atau sesuatu yang ingin diterapkan. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para pedagang di Pasar dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan selama berdagang.

3. Tujuan yaitu sesuatu yang ingin dicapai setelah melakukan tindakan. Tujuan yang dicapai dengan menerapkan nilai-nilai ekonomi syariah yaitu menciptakan perekonomian yang baik dan memastikan bahwa kegiatan ekonomi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ekonomi syariah.

Kaitannya dengan indikator-indikator penerapan tersebut, pelaksana yang dimaksud dalam transaksi jual-beli di Pasar Pekkabata yaitu para pedagang di Pasar Pekkabata diantaranya pedagang ikan, pedagang beras, dan pedagang buah- buahan. Para pedagang di Pasar Pekkabata sebagai pelaksana nilai-nilai ekonomi ekonomi syariah yang meliputi nilai tauhid, nilai nubuwwah (kenabian), nilai

khilafah, nilai ’adl (keadilan), dan nilai ma’ad (hasil) melakukan berbagai tindakan untuk menerapkan nilai-nilai ekonomi syariah.

Tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata yaitu menjual barang yang baik dan halal, memperoleh barang-barang dagangan dari tempat yang baik dan halal, memperoleh barang-barang dagangan dengan cara yang baik dan halal, melakukan sesuatu dengan tujuan untuk kebaikan dan untuk sesuatu yang halal yang tidak bertentangan dengan syariat, tidak semena-mena dalam menetapkan harga, tidak menyembunyikan cacat barang, tidak maysir dan tidak gharar, terbuka kepada pembeli tentang harga dan kualitas barang dagangan, memperlakukan setiap pembeli secara adil, menggunakan takaran atau timbangan yang baik dan tepat, komunikasi yang baik dengan para pembeli, memberikan kesempatan yang sama kepada pedagang yang lain untuk berusaha, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk orang yang membutuhkan.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata tersebut menjadikan kegiatan jual-beli di Pasar Pekkabata berjalan secara aman dan damai. Transaksi yang dilakukan oleh para pedagang berjalan lancar dan tenang. Selain itu, hubungan atau silaturahmi antara pedagang yang satu dengan yang lain, dan antara pedagang dengan pembeli terjalin dengan baik.

103 BAB V PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada Bab IV di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Proses transaksi jual-beli yang dilakukan oleh pedagang di pasar Pekkabata yaitu para pedagang menawarkan barang dagangan kepada pembeli.

Kemudian pembeli akan menawar harga maupun jumlah barang yang akan diberikan kepada pedagang. Apabila dalam proses tawar-menawar tersebut diperoleh kesepakatan maka terjadilah transaksi jual-beli.

2. Nilai-nilai ekonomi syariah belum sepenuhnya diterapkan oleh para pedagang di Pasar Pekkabata. Hal ini disebabkan bahwa masih ada indikator dalam nilai nubuwwah yang belum dilakukan oleh beberapa pedagang yaitu indikator siddiq/kejujuran dalam hal penggunaan takaran atau timbangan disebabkan masih ada beberapa pedagang yang menyetel takarannya.

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan penelitian nilai-nilai ekonomi syariah dalam transaksi jual-beli yang telah dilakukan memiliki implikasi yang sangat tinggi.

Adapun implikasi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Nilai-nilai ekonomi syariah menjadi pedoman dalam setiap transaksi terutama transaksi jual-beli, karena nilai-nilai ekonomi syariah dapat menciptakan perekonomian yang baik.

2. Penerapan nilai-nilai ekonomi syariah memerlukan kesiapan para pelaku ekonomi terutama pedagang untuk melaksanakannya sehingga kegiatan perekonomian dapat dipastikan tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Dalam dokumen PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH PASCASARJANA (Halaman 106-119)

Dokumen terkait