BAB IV HASIL PENELITIAN
F. Pembahasan
diperoleh untuk pernyataan ketigapuluhenam yaitu modul ini bermanfaat bagi saya adalah 61,8% (mahasiswa menyatakan setuju).
Tabel 18 menunjukkan bahwa persentase sebaran skor hasil angket motivasi belajar mahasiswa adalah 74,2%. Menurut Tabel 3.3 kriteria interpretasi skor motivasi belajar mahasiswa diperoleh bahwa tingkat motivasi belajar mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan dengan modul berbasis konstruktivisme termasuk kategori tinggi.
menyajikan materi dan kemampuan prasyarat yang telah dimiliki mahasis wa, pen yaj ian mat eri melibatkan mahasi swa secara akti f menemukan konsep matematika, membuat mahasiswa termotivasi untuk bertanya, secara visual penyajian dan penulisan konsep, ide, istilah, rumus, dan kesimpulan disajikan dengan jelas, tidak memberi kesan bahwa matematika merupakan kumpulan rumus dan soal-soal, penyajian gambar jelas dan menarik, dan gambar yang disajikan adalah gambar yang dikenal mahasiswa.
a. Modul
Modul yang dikembangkan sudah valid berdasarkan hasil penilaian dari validator. Penilaian modul terbagi dari aspek, yaitu aspek materi, aspek penyajian, dan aspek bahasa dan keterbacaan.
Hasil validasi modul untuk aspek materi yang dirumuskan tergolong valid. Dapat disimpulkan bahwa materi yang disajiakn pada modul memuat indikator, memuat unsur konstruktivisme, materi memuat konsep, memuat penjelasan dan contoh-contoh soal, konsepk o n s e p d i p e r t e g a s d e n g a n g a m b a r , t a b e l , g r a f i k / t a b e l d a n cerita/ilustrasi, materi dapat meningkatkan kualitas perkuliahan, contoh dan soal-soal dapat mendorong kreativitas berpikir mahasiswa serta contoh dan latihan sesuai dengan masalah yang diberikan.
Hasil validasi modul untuk aspek penyajian yang dirumuskan tergolong valid.begitu juga untuk hasil validasi modul untuk aspek bahasa dan keterbacaan yang dirumuskan tergolong valid dan tuntutan yang terkandung didalamnya jelas sekali. Dapat disimpulkan bahwa kalimat yang digunakan sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, melibatkan
mahasiswa, komunikatif, dan menggunakan bentuk dan ukuran huruf sesuai dengan karakteristik mahasiswa.
b. Satuan Acara Perkuliahan (SAP)
SAP yang dikembangkan sudah valid berdasarkan hasil penilaian dan validator ditelaah lagi dari segi komponen SAP dan aspek kegiatan perkuliahan.
2. Praktikalitas Modul Berbasis Konstruktivisme
Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan perkuliahan dengan modul berbasis konstruktivisme, angket praktikalitas untuk mahasiswa dan hasil wawancara dengan mahasiswa, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis konstruktivisme sudah praktis. Berikut ini dipaparkan tentang praktikalitas modul berbasis konstruktivisme di kelas uji coba.
a. Hasil Observasi Pelaksanaan Perkuliahan
L e m b a r o b s e r v a s i h a n y a d i g u n a k a n u n t u k m e l i h a t keterlaksanaan SAP sesuai dengan rencana yang telah dirancang oleh peneliti, apakah sudah sesuai dengan SAP yang dirancang dan juga apa ada kendala yang ditemui sewaktu pelaksanaanya.
Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan perkuliahan dengan menggunakan modul berbasis konstruktivisme telah sesuai dengan rancangan SAP yang dikembangkan. Keterpakaian modul pada pertemuan pertama Perkuliahan berjalan lancar sesuai dengan silabus, mulai dari tahap pemahaman konsep sampai tahap pengerjaan latihan. Pertemuan kedua,
mahasiswa yang tidak aktif Pertemuan ketiga, perkuliahan berjalan sesuai dengan silabus. Mahasiswa bersemangat untuk mengerjakan latihan. Kendala yang dihadapi yaitu waktu yang direncanakan tidak mencukupi sehingga latihan tidak terselesaikan dengan tuntas.
Secara umum kendala yang ditemukan pada saat pelaksanaan adalah waktu yang disediakan tidak mencukupi. Untuk mengatasi kekurangan waktu maka perlu diberikan waktu tambahan agar semua modul bisa terlaksana dengan baik di kelas.
b. Hasil Angket Praktikalitas untuk Mahasiswa
Berdasarkan hasil angket p raktikali tas yang diisi ol eh mahasiswa, diperoleh modul berbasis konstruktivisme sangat praktis untuk digunakan. Menurut mahasiswa modul ini membuat mereka berkemauan tinggi untuk belajar, menarik minat mereka untuk belajar,
dan materi yang ada pada modul membuat mereka mudah mengerti.
c. Hasil Wawancara dengan Mahasiswa Mengenai Praktikalitas Modul Berbasis Konstruktivisme
Berdasarkan hasil wawancara dengan mahasiswa terhadap penggunaan modul secara umum dapat dinyatakan bahwa: penggunaan bahan ajar praktis dan menarik, karena contoh-contoh soal yang dapat dij adi kan pedom an dal am pengerj aan soal, s erta rangkum an, ilustrasi/gambar yang menarik.
Dengan menggunakan modul, siswa lebih bersemangat dalam belajar, tanpa ada
paksaan karena diberikan kesempatan untuk belajar dengan kemampuannya masing-masing.
3. Efektifitas Modul Berbasis Konstruktivisme
Efektifitas modul berbasis konstruktivisme dilihat dari segi aktivitas dan motivasi belajar mahasiswa.
a. Aktivitas Mahasiswa
Untuk menjawab pertanyaan "bagaimanakah aktivitas mahasiswa selama perkuliahan dengan menggunakan modul berbasis konstruktivisme? Telah dilakukan deskripsi dan analisis data tentang aktivitas mahasiswa. Berdasarkan hasil observasi aktivitas mahasiswa selama perkuliahan menunjukkan bahwa modul berbasis k o ns t r u kt i vi s m e da p a t m e m u n cu l k a n ak t i vi t a s p os i t i f d an mengurangi munculnya aktivitas negatif mahasiswa.
A k t i v i t a s ya n g p a l i n g s e r i n g m u n c u l d a n b e r h a s i l dilaksanakan di kelas adalah membaca modul dan mengerjakan latihan- latihan pada modul. Kegiatan ini dominan muncul pada setiap pertemuan.
Menurut Sardiman (2001:95) "pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas". Jadi dengan adanya aktivitas mahaiswa seperti bersemangat dalam membaca dan mengerjakan latihan, menunjukkan interaksi dalam perkuliahan di kelas. Sedangkan aktivitas mahasiswa lainnya, seperti mengajukan pertanyaan, sedikit sekali dalam perkuliahan.
Secara umum modul berbasis konstruktivisme sudah dapat mengaktifkan mahasiswa, mahasiswa tidak hanya menggunakan penjelasan dosen. Mereka belajar mengemukakan pendapat, menjelaskan jawaban kepada temannya,
bertanya dan menjawab pertanyaan teman. Oleh karena itu, tanpa adanya aktivitas proses belajar dalam kelas tidak akan terlaksana dengan baik. Seperti yang diungkapkan Sardiman (2007: 97) bahwa dalam belajar sangat diperlukan aktivitas, karena tanpa aktivitas proses bbelajar tidak mungkin berlangsung dengan baik.
b. Motivasi Mahasiswa
P ert an yaan "B agai m ana mot ivas i mahas i s wa s et el ah mengikuti perkuliahan Aijabar 2 dengan menggunakan modul b e r b a s i s k o n s t r u k t i v i s m e d i S T K I P T a p a n u l i S e l a t a n Padangsidimpuan?" telah terjawab, berdasarkan deskripsi dan analisis data tentang motivasi belajar mahasiswa. Pernyataan yang terdapat dalam angket motivasi belajar dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu minat dalam belajar menggunakan modul, relevansi soal yang ada pada modul dengan materi, harapan mahasiswa setelah menggunakan modul, dan kepuasan.
Berikut ini pembahasan masing-masing kelompok angket motovasi belajar mahasiswa.
a) Minat dalam belajar menggunakan modul
Angket motivasi menunjukkan minat mahasiswa dalam belajar dengan menggunakan modul tergolong tinggi. Pada Pada awal membaca modul ada sesuatu yang menarik bagi mereka, karena modul juga memuat gambar yang juga dapat membantu dalam memahami materi dan mengerjakan soal, gaya tulisan modul tidak membosankan, keanekaragaman soal mampu menarik perhatian mahasiswa.
Hampir sebagian mahasiswa mengatakan bahwa mereka
bersemangat dalam belajar. Bagi mahasiswa pintar, dengan adanya kunci jawaban untuk latihan membuat mereka tertantang untuk mengerjakannya (seperti diungkapkan saat wawancara d e n g a n m a h a s i s w a ) . N a m u n , m e n u r u t m a h a s i s w a ya n g berkemampuan rendah materi dalam modul masih bersifat abstrak yang membuat mereka sulit untuk bertahan dengan modul.
b) Relevansi soal pada modul dengan materi perkuliahan
Menurut mahasiswa, mereka dapat menghubungkan materi yang ada pada modul dengan soal yang ada. Modul juga relevan dengan kebutuhan dan kemampuan mahasiswa, sehingga jarang soal pada modul yang susah dipahami.
c) Harapan mahasiswa setelah menggunakan modul
Harapan mahasiswa pada umumnya, dengan menggunakan modul dalam perkuliahan dapat membantu mereka dalam perkuliahan, dengan demikian mereka dapat berhasil dalam tes. Untuk mencapai hasil tes yang baik tersebut mereka bersungguhsungguh dan konsentrasi dalam belajar.
Dengan adanya modul, mereka semakin paham mata kuliah Aljabar 2. Karena mahasiswa paham dengan materi perkuliahan, mereka mampu membuat kesimpulan setelah menggunakan modul.
d) Kepuasan
Seseorang akan termotivasi jika pekerjaan yang dilakukan sukses.
Begitu juga dengan mahasiswa, ia merasa puas dan semakin termotivasi jika soal yang ada pada modul bisa dikerjakan. Perilaku mahasiswa yang
motivasinya baik adalah ia selalu hadir setiap pertemuan dan jarang malas- malasan ketika perkuliahan berlangsung. Disamping itu, kepuasan mahasiswa setelah menggunakan modul terlihat pada paham atau tidaknya dengan tentang Aljabar 2.
F. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian pengembangan ini adalah pelaksanaan modul yang dilakukan pada satu lokal. Ada beberapa keterbatasan dalam pengembangan modul antara lain:
1. Observer tidak dapat mencatat secara detail aktivitas apa saja yang dilakukan oleh mahasiswa
2. Waktu pelaksanaan yang kurang memadai dalam penggunaan modul berbasis konstruktivisme
3. Modul berbasis konstruktivisme belum tentu sesuai dengan p e r g u r u a n t i n g g i l a i n k a r e n a p e n e l i t i m e r a n c a n g n ya berdasarkan kemampuan mahasiswa STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan.
4. Proses menvalidasi modul hanya dilakukan satu kali.
5. Angket motivasi tidak divalidasi untuk tiap pertanyaan, hanya divalidasi secara keseluruhan (aspek minat, relevansi, harapan dan kepuasan).
A. Kesimpulan
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan pada modul berbasis konstruktivisme untuk mahasiswa di prodi pendidikan matematika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan. Dari hasil pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Hasil validasi dari para validator menunjukkan bahwa modul berbasis konstruktivisme yang dikembangkan sudah valid. Yakni, isi modul telah sesuai dengan kompetensi utama dan silabus yang dirancang, serta komponen modul telah sesuai dengan unsur pengembangan yang ditetapkan.
2. Modul berbasis konstruktivisme untuk perkuliahan Aljabar 2 sudah praktis. Hal ini terlihat dari pelaksanaan perkuliahan dengan modul sudah sesuai rencana, isi modul sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, dan perkuliahan dengan modul lebih efesien waktu.
3. Modul berbasis konstruktivisme dapat dikatakan efektif. Ini dilihat dari adanya peningkatan aktivititas dan motivasi belajar mahasiswa selama perkuliahan berlangsung.
B. Implikasi
Penelitian ini telah menghasilkan modul Aljabar 2 di prodi Pendidikan Matematika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan. Pada dasar penelitian
88
Dengan menggunakan model pembelajaran ini maka mahasiswa akan aktif selama proses pembelajaran berlangsung karena mahasiswa dapat menemukan sendiri jawaban dari rumusan masalah yang diberikan.
C. Saran
Berdasar kesimpulan dan Implikasi di atas, dapat disarankan hal sebagai berikut:
1. Pembelajaran Matematika sebaiknya bervariasi dan tidak monoton, sehingga hasil pembelajaran lebih maksimal.
2. Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, maka seorang dosen harus mampu membuat modul pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mahasiswanya, dan hendaknya dosen berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran sehinggga mahasiswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran dan mampu menemukan sendiri konsep matematika tersebut.
3. Para dosen dapat mengembangkan modul pembelajaran berbasis Konstruktivisme pada materi atau mata kuliah yang lainnya.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Purwanto, Ngalim. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Erman, Suherman dkk. 2004. Common Textbook Strategi Pembelajaran Matematika Kotemporer. Bandung: JICA-Universitas Pendidikan Indonesia.
Hall, Gene and Jones, H.L . (1976). Competency-Based Education: A process for the improvement of education. New Jersey: Englewood Cliffs. Inc dalam Muslich, M. (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Hisyam, Zaini dkk. 2002. Desain Pembelajaran di Perguruan tinggi. Yogyakarta:
Center For Teching Staff Development (CTSD) IAIN Sunan Kalijaga.
Keller JM. 1993. Motivational design of Instruction. Dalam Reigulth, Charles M.
(Ed.), Instructional Design Theories and Model: An Overview of Their Current status. London: Law Rence erldaum Associaties Publishers.
Kemp, Jerrol E. 1994. Proses Perancangan Pengajaran. Bandung: ITB Bandung.
MI Al Amin Dempelan. 2010. “Konstruktivisme dalam Pembelajaran Matematika”.(http://midempelan.wordpress.com/2010/11/14/konstru ktivisme-dalam-pembelajaran-matematika, diakses Juni 2012)
Pupuh F dan Sobry MS. 2007. Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam. Bandung: Aditama.
Refnywidialistuti. 2012. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Problem Based Learning (PBL) pada Materi Pecahan di Kelas IV SD Negeri 14 Pematang Panjang Kecamatan Sijunjung. Tesis Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang. (tidak dipublikasikan).
Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan, dan penelitian Pemula. Bandung: Alfabeta
Rosjidan dkk. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri 90
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sardiman AM, 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Silbermen, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston: Allyn an Bacon.
Sovya, Anni. 2012. Pengembangan Buku Kerja Berbasis Konstruktivisme untuk Perkuliahan Kalkulus Peubah Banyak 2 di STKIP PGRI Sumatera Barat. Tesis Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
(tidak dipublikasikan).
Sudjana. 2001. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan-Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sunardi H. 2002. "Pengaruh sistem pengajaran dengan Modul Terhadap Hasil Belajar Dan Kaitannya Dengan Status Pekerjaan Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas PGRI Adi Buana Surabaya": Jurnal Prosiding Konferensi Nasional Matematika, XI (VII Edisi Khusus): 421- 426. Universitas Negeri Malang.
Surapranata, S. (2009). Analisis, Valisitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya offset.
Suryosubroto. 1983. Sistem Pengajaran dengan Modul. Yoyakarta: Bina Aksara.
Trianto, 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Uzer, Usman. 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya, Vembrianto ST. 1981. Pengajaran Modul. Yogyakarta: Paramita.
Wahyudin. 1989. Aljabar Modern. Bandung: Tarsito.
Yasmin Nyimas. 2007. "Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika