• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen A K M A L - ADOC.PUB (Halaman 84-91)

BAB IV HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan

Tabel 10. Uji Hipotesis Ketiga

Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat t hitung = 11.09 dan t tabel = 2.14 pada dk (n-1) =14, jika t hitung lebih besar dari t tabel yang berarti hipotesa ketiga dapat diterima . Berarti terdapat perbedaan yang signifikan terhadap keterampilan teknik dasar sepakbola siswa SSB Cendana-Pekanbaru antara pendekatan latihan teknik elementer dengan latihan modifikasi dalam bentuk permainan pada akhir latihan yang dapat diterima kebenarannya.

Dalam metode latihan elementer melakukan latihan teknik secara bagian – bagian yang merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi dalam bentuk urutan gerak yang sederhana dan mudah, sampai ketingkat yang lebih sulit dan kompleks. Disini dapat dijelaskan misalnya untuk melakukan passing dengan kaki dalam, siswa/pemain akan dijarkan dari awal sikap kaki, possisi badan, perkenaan bola, sikap badan setelah bola dipassing, dst. Bagian-bagian ini lah yang dipelajari secara terpisah-pisah dan akhirnya siswa dapat melakukan gerakan tersebut dengan koordinasi gerakan yang benar. Setiap elemen-elemen gerakan inilah yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum dilanjutkan pada gerakan berikutnya. Menurut Ibrahim (1991:42) mengemukan kebaikan metode latihan bagian yaitu: (a) siswa betul –betul menghayati serta bagaimana pelaksanan dari setiap elemen gerakan dalam satu teknik. (b) jika struktur gerakan agak kompleks akan memunginkan hasil latihan yang maksimal. Dalam hal ini siswa/pemain akan lebih mengusai fase-fase dari suatu teknik yang ada, akan mendapatkan kualitas gerakan yang lebih baik, latihan dalam metode bagian akan memberikan kemudahan kepada siswa untuk memahami konsep dari keseluruhan teknik, kesalahan dalam melakukan gerakan akan lebih mudah diperbaiki.

Hipotesis kedua pendekatan metode modifikasi dalam bentuk permainan memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa sepakbola SSB Cendana-Pekanbaru. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian hipotesis terhadap pendekatan modifikasi dalam bentuk permainan dengan membandingkan hasil mean yang diperoleh pada awal

latihan 10.84 detik dan hasil mean setelah latihan 9.66 detik yang terjadi peningkatan rata-rata 1.18 detik sedangkan hasil analisis uji t adalah 5.82. Hal berarti bahawa terdapat pengaruh yang signifikan metode latihan modifikasi dalam bentuk permainan terhadap keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa SSB Cendana-Pekanbaru pada akhir latihan.

Metode modifikasi dalam permainan dilakukan dengan bentuk penyederhanaan peraturan pertandingan atau perlombaan, peralatan yang dipakai, jumlah peserta, cara mendapatkan kemenangan dan lainnya. Pendekatan pembelajaran modifikasi ini memberikan ruang dan kesempatan seluas-luasnya untuk aktif bergerak . Tugas guru dan pelatih memberikakan kesempatan tersebut melalui strategi pembelajaran yang menarik edukatif, variatif dan inovatif. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Rider dalam Kiram (1995:46) bahwa kemampuan dan keterampilan gerak individu adalah hasil dari sejauh mana seorang dapat menerima secara kognitif ke dalam aktifitas gerak yang akan terwujud bentuk keterampilan gerak.

Proses yang dilakukan selama latihan siswa dapat menerima secara kognitif dan mewujudkannya dalam keterampilan gerak yang mana akan terjadi peningkatan bila mengikuti latihan secara terprogram. Seorang pemain sepakbola dituntut juga kemampuan koognitif dalam berlatih teknik dan juga dalam penerapannya sesuai dengan kebutuhan didalam situasi bermain sepakbola.

Hal ini sesuai pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Exspal Suhendri yang berjudul “ Hubungan Integensi dan Koordinasi Mata Kaki dengan

Keterampilan bermain Sepakbola “ menyatakan bahwa apabila seorang pemain mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi maka keterampilan bermain sepakbola cenderung lebih tinggi, sebaliknya apabila tingkat intelegensi seorang pemain rendah maka keterampilan sepakbola cenderung akan rendah.

Kemampuan intelegensi ini akan terlihat juga pada saat siswa / pemain berlatih dan bermain, ada siswa yang cepat dalam menguasai suatu teknik dasar dan ada pula siswa/ pemain itu yang lambat untuk dapat menguasai teknik dasar sepakbola, begitu juga dalam bermain ada pemain cepat dalam mengambil keputusan dan juga ada yang lambat untuk mengambil tindakan dalam situasi- situasi bermain sepakbola.

Berlatih dengan metode modifikasi dalam bentuk permainan, tanpa disadari siswa lebih banyak aktif melakukan gerakan yang telah dilakukan secara berulang-ulang sehingga diharapkan akan lebih mampu mengembangkan teknik, yang sesuai kebutuhan dalam bermain sepakbola dan juga siswa akan mengenal situasi-situasi dasar yang terdapat saat bermain yaitu : bertahan, mengusai bola dan menyerang untuk meciptakan gol.

Selanjutnya menurut Kiram, (2001: 36) mengatakan” metode Global lebih efisien dan efektif untuk usia anak sekolah dasar terutama untuk mengajarkan olahraga yang bersifat permainan”, artinya untuk permainan sepakbola lebih baik ajarkan/dilatih dalam bentuk bermain, karena siswa/ pemain pada usia ini mempunyai hasrat bermain yang tinnggi.

Disamping itu berlatih dengan metode modifikasi dalam bentuk permainan, akan membuat pemain menemukan sendiri sehingga pemain akan

lebih memahami kaitan-kaitan teknik yang dipelajari untuk suatu permainan sepakbola. Metode ini juga akan memberikan ruang bagi pemain untuk memunculkan kreatifitas yang dapat diaplikasikan dalam permainan sepakbola.

Melalui metode latihan modifikasi dalam bentuk permainan juga memberikan motivasi tersendiri kepada pemain/siswa karena latihan tersebut sudah mengarah pada tujuan permainan yang sebenarnya. Motivasi yang datang dari dalam diri siswa/pemaian secara otomatis akan muncul melalui latihan menggunakan metode modifikasi dalam permainan, karena siswa dapat menyalurkan hasrat ingin bermain dan bergerak yang merupakan kebutuhan alami anak usia remaja tersebut. Usaha yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan kelompok bukan untuk kepentingan individu. Secara tidak langsung masing-masing indivu bertanggungjawab untuk melakukan gerakan dalam bermain agar teman dalam kelompok merasa puas dengan kemampuan yang dimiliki, apalagi pemain tersebut dapat menciptakan gol untuk kemenangan team mereka. Artinya motivasi individu dan kelompok sangat menonjol dalam permainan untuk mempertahankan keunggulan teamnya.

Siswa/ pemain juga memilki kebutuhan berprestasi. Menurut Elida Prayetno (1989) “ ada siswa yang memilki motivasi rendah dan ada pula yang bermotivasi tinggi” Siswa/ pemain yang memiliki motivasi yang tinggi akan menunjukan keinginan untuk sukses lebih tinggi, yang akan berdampak pada pemain lain di dalam kelompoknya.

Berdasarkan hasil penelitian juga didapatkan, hipotesis ketiga diterima kebenarannya, setelah membandingkan kedua metode latihan tersebut.

Terdapatnya perbedaan yang signifikan tehadap keterampilan teknik dasar sepakbola siswa SSB Cendana-Pekanbaru antara pendekatan latihan teknik elementer dengan latihan modifikasi dalam bentuk permainan pada akhir latihan setelah diberikan perlakuan selama 6 minggu (15 x Pertemuan) .

Melihat dari besarnya perbedaan mean kedua kelompok tersebut , maka melalui metode modifikasi dalam bentuk permainan memberikan pengaruh yang lebih baik jika dibandingkan dengan latihan metode elementer. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata waktu yang diperoleh oleh kelompok pendekatan modifikasi dalam bentuk permainan terdapat meansnya sebesar 9.66 detik sedangkan kelompok yang dilakukan melalui pendekatan elementer didapat meannya sebesar 9.96 detik terjadi peningkatan rata-rata 0.30 detik sedangkan hasil analisis uji t adalah 11.09 dengan taraf signifikan 0.05 didapat t tabel = 2.14 pada dk (n-1) = 2.14.

Permainan sepakbola merupakan olahraga yang harusnya didukung oleh teknik yang baik agar permainan ini lebih menarik. Di dalam melatih keterampilan bermain sepakbola pemain harus dapat menyesuaikan gerakan dalam perubahan situasi yang sering kali harus dilakukan dengan cepat dan respon yang efektif, memiliki banyak tindakan yang berbeda serta harus memiliki motivasi yang tinggi. Dengan modifikasi dalam bentuk permainan anak akan merasakan situasi yang berbeda-beda, tempo permainan, mempersepsikan gerakan yang akan dilakukan serta pengambilan keputusan dengan tepat dan cepat untuk dapat menciptakan gol. Dalam metode modifikasi bermain pemain juga akan dihapkan pada berbagai situasi yang membuatnya mendapat tantangan

untuk menguasai situasi tersebut. Situasi dalam bermain ini akan memberikan peluang bagi pemain untuk mengembangakan kemampuan berfikir dan bertindak secara tepat. Untuk itu pemain harus dapat mengusai keterampilan teknik dasar secara baik, karena kesalahan dalam melakukan suatu teknik akan memberikan resiko kehilangan bola untuk teamnya. Contohnya bila terjadi kesalahan dalam melakukan passing bola maka bola akan dikuasai oleh lawan .

Pemain juga harus memiliki motivasi yang datang dari dalam diri sendiri yang akan muncul dengan menggunakan pendekatan latihan modifikasi dalam bentuk permainan. Karena hasrat ingin bermain dan bergarak pemain pada usia ini sangat tinggi sekali, yang akan memotivasi mereka untuk melakukan gerakan teknik bermain sepakbola secara individu maupun untuk taem. Secara tidak langsung seorang pemain juga akan merasa bertanggungjawab dalam melakukan gerakan agar teman dalam team merasa puas dengan kemampuan yang dia miliki, yang akan memicu pemain untuk bermain sebaik mungkin.

Melalui pendekan latihan elementer, program latihan sudah ditentukan oleh pelatih, sehingga apa yang akan dilakukan telah diatur secara tersruktur sehingga kurang memberi peluang pada pemain untuk berfikir secara kreatif.

Karena gerakan yang akan dilakukan sudah disusun sedemikian rupa, pemain akan melakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan pelatih. Kreatifitas pemain kurang muncul karena seorang pemain harus lama menunggu giliranya untuk melakukan tugas gerakan tersebut. Dalam menunggu giliran tidak ada aktifitas pemain selain hanya memperhatikan temannya melakukan suatu gerakan. Hal ini dapat menimbulkan kebosanan kepada pemain, apalagi fasilitas

bola yang tersedia sangat sedikit, sehingga pemain tersebut harus menunggu lama untuk menunggu giliranya. Rendahnya kemampuan pengusaan teknik dasar melalui pendekan metode elementer juga disebabkan kurang bersemangatnya pemain dalam melakukan latihan karena gerakan yang dilakukan berulang-ulang sehingga menimbulkan membosankan.

Dengan demikian, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara jelas terdapat perbedaan yang berarti antara kedua pendekan metode elementer dan modifikasi dalam bentuk permainan. Pendekan latihan modifikasi dalam bentuk permainan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemain yang dilatih melalui pendekan elementer.

Dalam dokumen A K M A L - ADOC.PUB (Halaman 84-91)

Dokumen terkait