• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen A K M A L - ADOC.PUB (Halaman 65-71)

BAB III METODELOGI PENELITIAN

G. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah data primer yaitu keterampilan tehnik dasar sepak bola pemain SSB Cendana Pekanbaru dengan menggunakan tes dan pengukuran oleh Jean Bontz Test. Hasil tes awal digunakan untuk membagi sampel menjadi dua group yang dilakukan dengan teknik matching, sehingga satu group berjumlah 15 pemain. Selanjutnya kedua group

tersebut diadakan pengundian untuk menentukan kelompok yang akan diperlakukan dengan latihan elementer dan kelompok yang akan diperlakukan dengan latihan modifikasi dalam bentuk permainan. Setelah 15 kali melakukan

   

latihan maka diakhir akhir latihan , sampel akan mengikuti test akhir dengan alat test yang sama pada test awal sebelumnya.

Alat-alat serta pelaksanaan instrumen tes dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

A. Alat perlengkapan tes:

1. Alat Perlengkapan Tes a. Lapangan sepak bola.

b .Papan pantul ukuran 3.66 meter x 0.60 meter sebanyak dua buah.

c. Bola kaki satu buah dengan ukuran: lingkaran 68-70 cm, 410-450 gram dan ukuran udara 0,6-1.1 ATM.

d. Bendera kecil empat buah.

e. Kertas blangko tes.

f. Stop watch.

g. Gawang ukuran 3 merter x 2 meter.

B. Pelaksanan Tes.

Cara pelaksanaan tes ini dimulai dari pemain dengan menggunakan bola berdiri dibelakang garis start. Setelah aba ” ya ” siswa tersebut mendribel bola secepatnya sampai pada batas pertama, kemudian bola dipassing ke papan pantul sambil berlari lagi berusaha menahan dan mengontrol bola tersebut. Selanjutnya pemain mendribel bola kembali sampai batas ke dua, pemain tersebut kemudian menendang bola kegawang yang diikuti dengan lari secepatnya untuk melewati garis finish/gawang. Pada start aba- aba ” ya ” stop watch dihidupkan dan pada

   

saat pemain melintasi garis finish / garis gawang stop watch dimatikan. Angka waktu yang tertera di stop watch itulah hasil tes individu

Tes keterampilan teknik dasar sepak bola dilakukan sebanyak dua kali, yaitu satu kali dengan kaki kanan dan satu kali dengan kaki kiri, waktu yang diperoleh dari kedua pelaksanaan tersebut dijumlahkan, yang akan dijadikan data hasil tes keterampilan tehnik dasar sepak bola. Pelaksanaan tes dilakukan diawal dan diakhir perlakuan dengan satuan waktu detik. Untuk lebih jelasnya bentuk tes tersebut bisa dilihat pada lampiran: 5

B. Penyusunan Jadwal Latihan

Agar latihan yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar maka diperlukan penyusunan jadwal latihan yang meliputi:

1. Lamanya latihan secara keseluruhan.

2. Banyaknya hari latihan.

3. Lamanya latihan dalam satu kali pertemuan.

Lamanya latihan secara keseluruhan dalam penelitian ini adalah sebanyak 15 kali pertemuan dan banyaknya hari latihan setiap minggu adalah tiga kali, yaitu pada hari Senin, Rabu dan Jum'at. Selanjutnya dalam satu kali pertemuan ditetapkan waktu latihan setiap sore hari dari jam 16.00 - 17.30. Dalam pelaksanaan latihan inti setiap 10 menit anak melaksanakan kegiatan diselingi dengan istirahat dan pengarahan selama 5 menit, kemudian latihan dilanjutkan kembalidengan kegiatan inti lainnya.

   

Di samping penyusunan jadwal latihan, juga disusun jadwal pelaksanaan tes pengelompokan serta tes akhir. Untuk lebih jelasnya tentang rincian jadwal latihan dapat dilihat pada lampiran: 6.

d. Jenis Program Latihan

Sebelum melakukan kegiatan penelitian, terlebih dahulu disusun disain dan program latihan, dalam hal ini adalah program pendekatan latihan Elementer dan program latihan modifikasi dalam permainan sepakbola. Hutasuhut dan Bachtiar (1985) menjelaskan bahwa: "Dalam proses belajar prinsip-prinsip yang harus diperhatikan adalah: 1) Membimbing murid melalui langkah-langkah belajar menuju kepada perubahan tingkah laku, 2) Memberikan informasi yang lengkap untuk membantu gerakan-gerakan yang ditampilkan, 3) Memberikan kesempatan kepada murid untuk merealisasikan gerakan, 4) Koreksi dan umpan balik, 5) Kegiatan tingkat belajar optimal dari langkah-langkah belajar.

Berpedoman pada kutipan diatas maka program latihan meliputi : a. Materi pemanasan.

b. Materi Latihan.

c. Materi penenangan.

Dalam pembagian waktu pelaksanaan latihan maka disamakan antara kelompok 1 dan 2 dalam memberikan latihan pemanasan, sedangkan dalam pelaksanaan latihan (latihan inti) maka dibedakan antara kelompok 1 dan kelompok 2, hal ini berarti kelompok 1 melakukan latihan dengan pendekatan elementer dan kelompok 2 menggunakan metode latihan dengan pendekatan

   

Modifikasi dalam bentuk permainan. Untuk lebih jelasnya program latihan dapat dilihat dalam lampiran 1.

a. Prosedur Kerja

Adapun prosedur pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Mengurus surat izin penelitian untuk menggunakan SSB Cendana Rumbai sebagai eksperimen.

2. Mempersiapkan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian

3. Mempersiapkan tenaga pembantu yang akan diperlukan selama penelitian 4. Memberikan keterangan singkat mengenai pelaksanaan latihan dan dampak dari

pelaksanaan penelitian

5. Mempersiapkan alat perlengkapan untuk mengumpulkan data seperti: meteran, stopwatch, bendera, blanko nilai dan alat-alat tulis.

6. Pengambilan sample dengan cara total sampling.

7. Mengadakan pre tes terhadap siswa yang menjadi sampel dengan bantuan guru olahraga.

8. Eksperimen dibagi menjadi dua kelompok, yaitu masing-masing kelompok terdiri dari 15 orang dengan cara matching.

9. Mengumpulkan data dan mengadakan pre tes terhadap siswa sample dengan bantuan guru olah raga.

10. Menyusun program latihan yang akan diberikan kepada eksperimen.

11. Memberikan perlakuan pada eksperimen

12. Melakukan post test keterampilan bermain sepakbola.

13. Menyusun dan mengolah data serta menginterprestasikannya untuk menyusun bahan laporan.

   

14. Penyusunan draft laporan untuk didiskusiksn dan revisi seperlunya

Program latihan kelompok I (pendekatan latihan Elementer) dan kelompok II (pendekatan latihan Modifikasi), mempunyai komponen yang sama meliputi: materi latihan, jumlah pertemuan dan lamanya waktu latihan. Perlakuan yang membedakan program di atas ialah bentuk latihannya. Kelompok I latihan yang bersifat pengulangan gerakan sedangkan kelompok II bermain dalam kelompoknya di lapangan kecil dengan menggunakan peraturan yang sederhana, sehingga mudah dan menarik dilakukan oleh siswa. Desain latihan menggunakan metode Pendekatan Elementer dan Modifikasi dapat dilihat pada lampiran: 7.

H. Tehnik Analisa Data

Sesuai dengan tujuan dan hipotesis dalam penelitian ini maka pengujian data yang diperoleh akan dianalisa melalui tehnik analisa data uji ” t ” .Sebelum menggunakan analisis uji “ t “ tersebut data perlu diolah dengan analisis uji normalitas sebaran dengan mempergunakan uji Liliefor, dan data juga perlu dianalisis uji homogenitas untuk menentukan apakah kedua kelompok sampel berasal dari populasi yang homogen.

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data

1. Data Pre Test

Data yang diperoleh dari hasil tes akhir sebelum dilakukan pengolahan maka perlu diverifikasi terlebih dahulu. Sebanyak 30 orang siswa SSB Cendana yang telah dikelompokan sebelumnya menjadi dua kelompok eksperimen yaitu kelompok yang dilatih dengan metode elementer dan kelompok yang dilatih dengan metode modifikasi dalam bentuk permainan, telah diperlakukan sebanyak 15 kali pertemuan. Apakah ada yang tidak memenuhi persyaratan datanya untuk diolah, ternyata semua siswa dapat mengikuti Pre Test dan Post Test sesuai dengan yang diprogramkan dalam penelitian. Artinya dari kedua kelompok eksperimen elementer dan kelompok modifikasi dalam bentuk permainan diperoleh data yang memenuhi persyaratan untuk diolah seperti yang terdapat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1 Hasil Perhitungan Statistik Dasar Kelompok Perlakuan Pre Tes dan Post Tes Subjek Elementer

Pre Test

Modifikasi Pre test

Elementer Post Test

Modifikasi Post test

N 15 15 15 15

Mean 10.82 10.84 9.96 9.66

Std.Deviasi 1.48 1.42 0.81 0.73

Range 1.1 1.2 0.6 0.5

Minimum 8.43 8.85 8.38 8.68

Maksimum 13.68 14.42 11.20 10.85

1.1.Kelompok metode elementer

Berdasarkan data penelitian kelompok metode elementer pada tabel 1 waktu teringgi 13.68 detik dan waktu terendah adalah 8.43 detik. Distribusi skor menghasilkan rata-rata 10.82 detik. Berdasarkan uraian diatas skor mean , memperlihatkan skor yang tidak jauh berbeda, sehingga skor pendekatan metode elementer membentuk distribusi normal. Disrtribusi frekuensi skor dari data kelompok metode Elementer adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Disrtribusi Frekuensi Skor Pre Test untuk Kelompok Pendekatan Elementer

Kelas Interval Frekuensi Absolut ( fa)

Frekuensi relatif (fr)

8.43 - 9.52 3 20

9.53 - 10.62 4 27

10.63 - 11.72 4 27

11.73 - 12.82 2 13

13.83 - 13.92 2 13

Jumlah 15 100

Berdasarkan tabel 2 dari 15 orang sampel kelompok metode Elementer ada 3 orang (20 %) yang memiliki skor 8.43 – 9.52 detik, dan 4 orang (27 %) yang memiliki skor 9.53 – 10.62 detik dan ada 4 orang (27 %) yang memilki skor 10.63 - 11.72 detik, 2 orang (13 %) yang memiliki skor 11.73 - 12.82 detik, serta 2 orang (13 %) yang memilki skor 13.83 - 14.92 detik. Berdasarkan uraian data diatas dapat disimpulkan bahwa dari 15 orang dari kelompok metode Elemeter yang mendapatkan skor sama dan diatas rata-rata 7 orang (47 %)

Untuk lebih jelasnya frekuensi penyebaran skor dapat dilihat pada histogram di bawah ini:

Gambar 16. Grafik Histogram Skor Pre Test untuk Kelompok Metode Elementer 1.2. Kelompok metode modifikasi dalam bentuk permainan

Berdasarkan data penelitian kelompok metode modifikasi dalam bentuk permainan pada tabel 2 waktu teringgi 14.42 detik dan waktu terendah adalah 8.85 detik. Distribusi skor menghasilkan rata-rata 10.84 detik. Berdasarkan uraian diatas skor mean , memperlihatkan skor yang tidak jauh berbeda, sehingga skor pendekatan metode modifikasi dalam bentuk permainan membentuk distribusi normal.

Disrtribusi frekuensi skor dari kelompok metode Modifikasi dalam bentuk bermain adalah sebagai berikut:

3

4 4

2 2

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

Frekwensi Absolut

8.43 - 9.52 9.53 - 10.62 10.63 - 11.72 11.73 - 12.82 13.83 - 14.92

Interval

frekwensi Absolut

Tabel 3. Disrtribusi Frekuensi Skor Pre Test untuk Kelompok Metode Modifikasi dalam Bentuk Permainan

Kelas Interval

Frekuensi Absolut (fa)

Frekuensi relatif (fr)

8.85 - 10.04 5 33

10.05 - 11.24 5 33

11.25 - 12.44 4 27

12.45 - 13.64 0 0

13.65 - 14.84 1 7

Jumlah 15 100

Berdasarkan tabel 3 dari 15 orang sampel kelompok metode Modifikasi dalam bentuk permainan ada 5 orang (33 %) yang memiliki skor 8.85 – 10.04 detik, dan 5 orang (33 %) yang memiliki skor 10.05 - 11.24 detik, 4 orang (27

%) yang memilki skor 11.25 - 12.44 detik, 0 orang (0 %) yang memiliki skor 12.45 - 13.64 detik, dan 1 orang (7 %) yang memilki skor 13.65 - 14.84 detik.

Berdasarkan uraian data diatas dapat bahwa dari 15 orang dari kelompok metode Modifikasi dalam bentuk permainan yang mendapatkan skor diatas rata 8 orang (53 %). Untuk lebih jelasnya frekuensi penyebaran skor dapat dilihat pada histogram di bawah ini:

Gambar 17. Grafik Histogram Skor Pre Test untuk Kelompok Pendekatan Metode Modifikasi dalam bentuk Permainan

2. Data Post Test (Dua kelompok setelah diberikan per1akuan) 2.1. Kelompok Pendekatan Elementer.

Berdasarkan data penelitian pada tabel 2 untuk kelompok elementer waktu teringgi 11.20 detik dan waktu terendah adalah 8.38 detik. Distribusi skor menghasilkan rata-rata 9.96 detik. Berdasarkan uraian diatas skor mean , memperlihatkan skor yang tidak jauh berbeda, sehingga skor pendekatan elementer membentuk distribusi normal. Untuk melihat disrtribusi frekuensi skor dari kelompok metode Elementer dapat dilihat tabel 5 sebagai berikut:

5 5

4

0

1

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

Frekwensi Absolut

8.85 - 10.04 10.05 - 11.24 11.25 - 12.44 12.45 - 13.64 13.65 - 14.84 Interval

Frekwensi Absolut

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Skor Post Test pada Kelompok Latihan Metode Elementer

Kelas Interval

Frekuensi Absolut (fa)

Frekuensi relatif (Fr)

8.38 - 8.97 1 7

8.98 - 9.57 3 20

9.58 - 10-17 6 40

10.18 - 10.77 1 7

10.78 - 11.37 4 27

Jumlah 15 100

Berdasarkan tabel 4 dari 15 orang sampel kelompok latihan metode Elementer terdapat 1 orang (7 %) yang memiliki skor 8.38 – 8.97 detik, dan 3 orang (20 %) yang memiliki skor 8.98 - 9.57 detik, 6 orang (40 %) yang memilki skor 9.58 - 10-17 detik, 1 orang (7 %) yang memiliki skor 10.18 - 10.77 detik, dan 4 orang (27 %) yang memilki skor 10.78 - 11.37 detik.

Berdasarkan uraian data diatas dapat disimpulkan bahwa 15 orang dari kelompok Elemeter yang mendapatkan skor di atas rata-rata 9 orang (60 %).

Untuk lebih jelasnya distribusi skor tersebut diatas dilihat pada gambar grafik histogram skor di bawah ini:

Gambar 18. Grafik Histogram Skor Post Test pada Kelompok Pendekatan Elementer 2.2. Kelompok Modifikasi Dalam Bentuk Permainan

Berdasarkan data penelitian pada tabel 2 waktu teringgi 10.85 detik dan waktu terendah adalah 8.61 detik. Distribusi skor menghasilkan rata-rata 9.66 detik. Berdasarkan uraian diatas skor mean, memperlihatkan skor yang tidak jauh berbeda, sehingga skor pendekatan modifikasi dalam bentuk permainan membentuk distribusi normal.

Untuk melihat distribusi frekuensi skor dari data kelompok latihan metode modifikasi dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut:

1

3

6

1

4

0 1 2 3 4 5 6

Frekwensi Absolut

8.38 - 8.97 8.98 - 9.57 9.58 - 10-17 10.18 - 10.77 10.78 - 11.37 Interval

Frekw ensi Absolut

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Skor Post Test pada Kelompok Metode Modifikasi dalam Bentuk Permainan

Kelas Interval

Frekuensi Absolut (fa)

Frekuensi relatif (fr)

8.61 - 9.10 4 27

9.11 - 9.60 4 27

9.61 - 10.10 2 13

10.11 - 10.60 3 20

10.61 - 11.10 2 13

Jumlah 15 100

Berdasarkan tabel 5 dari 15 orang sampel kelompok pendekatan Modifikasi dalam bentuk permainan terdapat 4 orang (27 %) yang memiliki skor 8.61 - 9.10 detik, dan 4 orang (27 %) yang memiliki skor 9.11 - 9.60 detik, 2 orang (13 %) yang memilki skor 9.61 - 10.10 detik, 3 orang (20 %) yang memiliki skor 10.11 - 10.60 detik, dan 2 orang (13 %) yang memilki skor 10.61 - 11.10 detik. Berdasrkan uraian data diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat 15 orang dari kelompok metode Modifiakasi dalam bentuk permainan yang mendapatkan skor di atas rata 10 orang (67 %).

Untuk lebih jelasnya frekuensi distribusi skor dapat dilihat pada histogram kelompok metode modifikasi dalam bentuk permainan gambar di bawah ini.

Gambar 19. Grafik Histogram Skor Pada Post Test Kelompok Pendekatan Modifikasi dalam bentuk Permainan.

B. Pengujian Persyaratan Analisis 1.Uji Normalitas

Pengujian analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Uji t dan Uji beda mean untuk sampel yang berhubungan (dependent sample). Uji t untuk sampel yang berhubungan analisa statistiknya terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis normalitas.

Pengujian normalitas dalam penelitian ini dilakukan untuk melihat serta menguji asumsi, apakah distribusi dari sampel pada masing-masing kelompok mendekati atau sebaran data normal. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Lilliefors yang didasarkan pada kurva normal dengan taraf signifikan 0,05.

Dengan membandingkan Lo ( L observasi ) dan L tabel dengan kriteria: jika Lo lebih

4 4

2

3

2

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

Frekwensi Absolut

8.61 - 9.10 9.11 - 9.60 9.61 - 10.10 10.11 - 10.60 10.61 - 11.10 Interval

Frekw ensi Absolut

besar dari Ltabel berarti populasi berdistribusi tidak normal, sebaliknya jika Lo

lebih kecil atau sama dengan Ltabel berarti populasi berdistribusi normal.

Rangkuman hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Uji Normalitas

Kelompok perlakuan Lo (L observasi) Ltabel Kesimpulan Post test elementer 0.0630 0.220 Normal Post test modifikasi 0.0516 0.220 Normal

Berdasarkan data pada tabel 6 kelompok elementer memilki Lo lebih kecil dari pada Ltabel dengan demikian dapat dikatakan data sampel berasal dari yang berdistribusi normal, dan kelompok modifikasi dalam bentuk permainan juga memilki Lo lebih kecil dari pada Ltabel dengan demikian dapat dikatakan data sampel berasal dari yang berdistribusi normal. Untuk lebih jelasnya Uji Normalitas (Lilliefors) dapat dilihat pada lampiran 10.

2. Uji Homgenitas

Pengujian homgenitas varians adalah untuk menguji data yang sampel apakah berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Untuk menguji homogenitas varians terhadap dua kelompok sampel dapat dilakukan dengan Uji F. Dengan menggunakan derajat kebebasan ( n 1 – 1),( n 2 – 1) dan taraf signifikansi 0,05 pada distribusi F. Kelompok sampel memilki varians yang homogen jika Fhitung lebih kecil dari Ftabel. Rankuman uji homogenitas varians dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7 Uji Homogenitas

Varians X1 Varians X2 Kesimpulan

0.648641 0.527127 Fhitung 1.23

Ftabel 2.48 Homogen

Dengan derajat kebebasan (15 – 1), (15 – 1) dan taraf signifikansi 0,05 pada tabel Disrtibusi F terbaca batas signikansi Ftabel adalah 2.48 serta Fhitung nya 1.23. Mengingat Fhitung lebih kecil dari Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa kedua varians tersebut homogen. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok sampel tersebut berasal dari populasi yang homogen.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat hasil pengujian homogenitas pada lampiran 11.

C. Pengujian Hipotesis

1. Hipotesis Pertama

Dalam penelitian ini, hipotesis pertama adalah bahwa: latihan teknik dasar dengan cara elementer memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa sepakbola SSB Cendana-Pekanbaru. Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan mengunakan analisis komparasi yaitu analisis yang digunakan untuk melihat perbedaan mean antara dua variabel dengan menggunakan uji beda mean atau uji t (t-test). Jika t

hitung lebih besar dari t tabel dengan derajat kebebasan n-1 (dk),taraf signifikansi α= 0.05 berarti hipotesa diterima. Untuk lebih jelasnya hipotesis dapat dilihat pada tabel 8 dan hasil analisis pada lampiran 12.

Tabel 8. Uji hipotesis Pertama

Subjek Pre test Elementer Post test Elementer

Mean 10.82 9.96

thitung 4.45

ttabel 2.14

Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat t hitung = 4.45 lebih besar dari

t tabel = 2.14 pada dk (n-1) =14, yang berarti hipotesa latihan teknik dasar dengan cara elementer memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa sepakbola SSB Cendana- Pekanbaru yang dapat diterima kebenarannya.

2. Hipotesis Kedua

Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah melalui pendekan latihan modifikasi dalam bentuk permainan memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa sepakbola SSB Cendana-Pekanbaru. Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan mengunakan analisis komparasi yaitu analisis yang digunakan untuk melihat perbedaan mean antara dua variabel dengan menggunakan uji beda mean atau uji t (t-test). Jika t hitung lebih besar dari t tabel dengan derajat kebebasan n-1 (dk),taraf signifikansi α= 0.05 berarti hipotesa diterima. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 9 dan hasil analisis pada lampiran 13.

Tabel 9 Uji Hipotesis Kedua

Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat t hitung = 5.82 lebih besar dari t tabel = 2.14 pada dk (n-1) =14, yang berarti hipotesa melalui pendekan latihan modifikasi dalam bentuk permainan memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa SSB Cendana-Pekanbaru, dapat dibuktikan kebenarannya.

3. Hipotesis Ketiga

Hipotesis ketiga adalah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap keterampilan teknik dasar sepakbola siswa SSB Cendana-Pekanbaru antara pendekatan latihan teknik elementer dengan latihan modifikasi dalam bentuk permainan pada akhir latihan. Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan mengunakan analisis komparasi yaitu analisis yang digunakan untuk melihat perbedaan mean antara dua variabel dengan menggunakan uji beda mean atau uji t (t-test). Jika hasilnya t hitung lebih besar dari t tabel dengan derajat kebebasan n-1 (dk),taraf signifikansi α= 0.05 berarti hipotesa diterima. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 10 dan hasil analisis pada lampiran 14.

Subjek Pre test Modifikasi Post test Modifikasi

Mean 10.84 9.66

thitung 5.82

ttabel 2.14

Tabel 10. Uji Hipotesis Ketiga

Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat t hitung = 11.09 dan t tabel = 2.14 pada dk (n-1) =14, jika t hitung lebih besar dari t tabel yang berarti hipotesa ketiga dapat diterima . Berarti terdapat perbedaan yang signifikan terhadap keterampilan teknik dasar sepakbola siswa SSB Cendana-Pekanbaru antara pendekatan latihan teknik elementer dengan latihan modifikasi dalam bentuk permainan pada akhir latihan yang dapat diterima kebenarannya.

D. Pembahasan

Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan di atas menunjukan bahwa semua hipotesis dapat diterima. Hipotesis pertama metode latihan elementer memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa sepakbola SSB Cendana-Pekanbaru. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian hipotesis terhadap pendekatan elementer dengan membandingkan hasil mean yang diperoleh pada awal latihan 10.82 detik dan hasil mean setelah latihan 9.96 detik yang terjadi peningkatan 0,86 detik. Hal ini berarti bahwa terdapat kemajuan yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada akhir latihan.

Subjek Post Test Elementer Post test Modifikasi

Mean 9.96 9.66

thitung 11.09

ttabel 2.14

Dalam metode latihan elementer melakukan latihan teknik secara bagian – bagian yang merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi dalam bentuk urutan gerak yang sederhana dan mudah, sampai ketingkat yang lebih sulit dan kompleks. Disini dapat dijelaskan misalnya untuk melakukan passing dengan kaki dalam, siswa/pemain akan dijarkan dari awal sikap kaki, possisi badan, perkenaan bola, sikap badan setelah bola dipassing, dst. Bagian-bagian ini lah yang dipelajari secara terpisah-pisah dan akhirnya siswa dapat melakukan gerakan tersebut dengan koordinasi gerakan yang benar. Setiap elemen-elemen gerakan inilah yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum dilanjutkan pada gerakan berikutnya. Menurut Ibrahim (1991:42) mengemukan kebaikan metode latihan bagian yaitu: (a) siswa betul –betul menghayati serta bagaimana pelaksanan dari setiap elemen gerakan dalam satu teknik. (b) jika struktur gerakan agak kompleks akan memunginkan hasil latihan yang maksimal. Dalam hal ini siswa/pemain akan lebih mengusai fase-fase dari suatu teknik yang ada, akan mendapatkan kualitas gerakan yang lebih baik, latihan dalam metode bagian akan memberikan kemudahan kepada siswa untuk memahami konsep dari keseluruhan teknik, kesalahan dalam melakukan gerakan akan lebih mudah diperbaiki.

Hipotesis kedua pendekatan metode modifikasi dalam bentuk permainan memberikan pengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa sepakbola SSB Cendana-Pekanbaru. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian hipotesis terhadap pendekatan modifikasi dalam bentuk permainan dengan membandingkan hasil mean yang diperoleh pada awal

latihan 10.84 detik dan hasil mean setelah latihan 9.66 detik yang terjadi peningkatan rata-rata 1.18 detik sedangkan hasil analisis uji t adalah 5.82. Hal berarti bahawa terdapat pengaruh yang signifikan metode latihan modifikasi dalam bentuk permainan terhadap keterampilan teknik dasar sepakbola pada siswa SSB Cendana-Pekanbaru pada akhir latihan.

Metode modifikasi dalam permainan dilakukan dengan bentuk penyederhanaan peraturan pertandingan atau perlombaan, peralatan yang dipakai, jumlah peserta, cara mendapatkan kemenangan dan lainnya. Pendekatan pembelajaran modifikasi ini memberikan ruang dan kesempatan seluas-luasnya untuk aktif bergerak . Tugas guru dan pelatih memberikakan kesempatan tersebut melalui strategi pembelajaran yang menarik edukatif, variatif dan inovatif. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Rider dalam Kiram (1995:46) bahwa kemampuan dan keterampilan gerak individu adalah hasil dari sejauh mana seorang dapat menerima secara kognitif ke dalam aktifitas gerak yang akan terwujud bentuk keterampilan gerak.

Proses yang dilakukan selama latihan siswa dapat menerima secara kognitif dan mewujudkannya dalam keterampilan gerak yang mana akan terjadi peningkatan bila mengikuti latihan secara terprogram. Seorang pemain sepakbola dituntut juga kemampuan koognitif dalam berlatih teknik dan juga dalam penerapannya sesuai dengan kebutuhan didalam situasi bermain sepakbola.

Hal ini sesuai pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Exspal Suhendri yang berjudul “ Hubungan Integensi dan Koordinasi Mata Kaki dengan

Keterampilan bermain Sepakbola “ menyatakan bahwa apabila seorang pemain mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi maka keterampilan bermain sepakbola cenderung lebih tinggi, sebaliknya apabila tingkat intelegensi seorang pemain rendah maka keterampilan sepakbola cenderung akan rendah.

Kemampuan intelegensi ini akan terlihat juga pada saat siswa / pemain berlatih dan bermain, ada siswa yang cepat dalam menguasai suatu teknik dasar dan ada pula siswa/ pemain itu yang lambat untuk dapat menguasai teknik dasar sepakbola, begitu juga dalam bermain ada pemain cepat dalam mengambil keputusan dan juga ada yang lambat untuk mengambil tindakan dalam situasi- situasi bermain sepakbola.

Berlatih dengan metode modifikasi dalam bentuk permainan, tanpa disadari siswa lebih banyak aktif melakukan gerakan yang telah dilakukan secara berulang-ulang sehingga diharapkan akan lebih mampu mengembangkan teknik, yang sesuai kebutuhan dalam bermain sepakbola dan juga siswa akan mengenal situasi-situasi dasar yang terdapat saat bermain yaitu : bertahan, mengusai bola dan menyerang untuk meciptakan gol.

Selanjutnya menurut Kiram, (2001: 36) mengatakan” metode Global lebih efisien dan efektif untuk usia anak sekolah dasar terutama untuk mengajarkan olahraga yang bersifat permainan”, artinya untuk permainan sepakbola lebih baik ajarkan/dilatih dalam bentuk bermain, karena siswa/ pemain pada usia ini mempunyai hasrat bermain yang tinnggi.

Disamping itu berlatih dengan metode modifikasi dalam bentuk permainan, akan membuat pemain menemukan sendiri sehingga pemain akan

Dalam dokumen A K M A L - ADOC.PUB (Halaman 65-71)

Dokumen terkait