BAB III
Adapun menurut Notoatmodjo berdasarkan bentuk respons terhadap stimulus maka perilaku dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Perilaku tertutup
Respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup. Respons ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut namun belum dapat diamati secara jelas.
b. Perilaku terbuka
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau respon yang dengan mudah atau dapat diamati oleh orang lain.
Remaja menurut departemen pendidikan Nasional merupakan usia muda atau mulai dewasa, sedangkan remaja menurut William adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, batasan usia remaja juga berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.
Kemudian menurut Hurlock, remaja adalah usia transisi, seseorang individu yang telah meninggalkan usia anak-anak yang lemah dengan penuh ketergantungan, akan tetapi hal tersebut belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun masyarakat.
Berdasarkan uaraian diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa remaja ialah usai transisi, seorang individu telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah serta penuh ketergantungan yang belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tangung jawab.
Remaja di lingkungan aik ampat bawak gunung yang bermain game online rata-rata memainakan gamenya dengan waktu 9 jam dalam satu hari. Ketergantungan remaja dalam bermain game online dapat mempengaruh perilaku dalam kehidupannya sehari-hari, para pemainnya mampu berlama-lama duduk hanya untuk memainkan game tersebut serta akan bertahan lama tanpa adanya gangguan dari siapapun yang bisa merusak konsentrasinya dalam bermain game online tersebut.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, dimana peneliti menemukan beberapa dampak game online terhadap remaja baik dari dampak positif maupun dampak negatif yaitu:
a. Dampak negatif game online terhadap perilaku interaksi sosial pada remaja lingkungan aik ampat bawak gunung
1. Berkata kotor
Berkata kotor/kasar sering kali diucapkan oleh para pemain game karena hal sepele seperti pada saat mereka bermain game kemudian mengalami kekalahan. Padahal dalam Islam Allah SWT tidak menyukai ucapan kotor/buruk hal tersebut sudah dijelaskan dalam Qur’an surah An-Nisa’ ayat 148.72
Artinya: “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (dizalimi). Allah itu Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (Q.S An-Nisa’ [4]: 148).
2. Berbohong
Para pemain game juga sering kali berbohong demi mendapatkan apa yang ia inginkan, minsalnya untuk membeli paket internet mereka rela membohongi orang tua dengan alasan untuk keperluan sekolah padahal mereka meminta uang untuk membeli kuota demi memenuhi kesenangan mereka. Hal tersebut jelas-jelas Allah telah menjelaskan dalam Qur’an surah Ali Imran ayat 61.73
Artinya: “Ketahuilah laknat Allah atas orang-orang yang suka berbohong atau berdusta”. (Q.S Ali-Imran [3]: 61)
3. Membantah orang tua
Para pemain game juga sering membantah orang tua mereka apabila mereka disuruh untuk melakukan hal
72 QS. An-Nisa’ [4]: 148.
73 QS Ali Imran [3]: 61.
kebaikan, padahal berkata “Ah” saja tidak boleh apalagi lebih dari itu. Larangan berkata “Ah” pada orang tuapun sudah tertera dalam Qur’an surah Al Isra ayat 23.74
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau dua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Q.S Al Isra’
[3]: 23).
4. Melalaikan ibadah solat
Dengan bermain game online secara berlebihan tentunya akan menimbulkan sifat ketergantungan pada remaja dalam penggunaannya, sehingga akan menyita waktu dan melalaikan pelaksanaan ibadah shalat yang awalnya hanya menunda namun kelamaan mereka akan meninggalkannya. Adapun ayat yang menjelaskan tentang orang-orang yang melalaikan shalat pada Qur’an surah Al- Maun ayat 4-5.75
Artinya: “Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya”.(Q.S Al- Ma’un [107]: 4-5).
b. Dampak positif game online terhadap perilaku interaksi sosial pada remaja lingkungan aik ampat bawak gunung
1. Memiliki banyak teman
Dalam permainan game online mereka akan memiliki banyak teman meskipun tidak pernah saling sapa dalam dunia nyata akan tetapi mereka bisa menjalin pertemanan lewat dunia maya. Karena dalam permainan game online ada istilah
74 QS. Al Isra’ [3]: 23.
75 QS. Al-Maun [107]: 4-5.
mabar (main bareng) dimana dalam permainan game online ini mereka tidak hanya bisa bermain dengan teman sekitarnya akan tetapi mereka juga bisa bermain dengan orang luar daerah maupun orang luar negri. Hal tersebutlah yang membuat mereka mempunyai banyak teman.
2. Mengurangi stress
Setres rupanya tidak hanya dialami oleh orang tua, akan tetapi juga anak-anak. Bermain game memang mampu menjadi jalan keluar untuk melepas tekanan untuk untyk mengurangi tingkat setres. Pasalnya memainkan game akan membuat permainan merasa senang dan berpikir lebih seru saat menyelesaikan sebuah permainan.
B. Upaya Orang Tua Dalam Mengatasi Dampak Game Online Terhadap Perilaku Interaksi Sosial Pada Remaja Di Lingkungan Aik Ampat Bawak Gunung
Orang tua merupakan pendidik utama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah pertama kali anak menerima pendidikan.
Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkat tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik terutama dalam mendidik perilaku anak.
karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.76
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada rasa kasih sayang terhadap anak-anak, dan yang diterimanya dari kodrat. Orang tua adalah pendidiksejati, pendidik karena kodratnya.
76 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, (Jakarta, Cet.X, 2012), hlm. 35.
Oleh karena itu, kasih sayang orang tua terhadap anak-anak hendaklah kasih sayang yang sejati pula.77
Jadi dapat dipahami bahwa orang tua adalah ayah dan ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak dari segala aspek kehidupannya terutama berperilaku dalam agama, berperilaku dengan orang tua, teman sebaya, serta orang yang lebih tua.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, dimana peneliti menemukan beberapa upaya orang tua dalam mengatasi dampak game online yaitu sebagai berikut:
1. Memberikan Nasihat
Nasihat adalah suatu cara yang harus dilakukan oleh orang tua yang bertujuan untuk mengingatkan seseorang bahwa segala macam bentuk perbuatan seorang anak pasti ada sanksi serta akibatnya atau menganjurkan suatu hal tertentu yang juga disertai ancaman.
Tujuan nasihat yang sebeneranya yaitu merupakan suatu hal yang berhubungan dengan hal yang baik, dan dapat diartikan sebagai teguran, petunjuk, ajaran, pelajaran, anjuran yang pokoknya bersifat baik untuk anak.
2. Memberikan batasan waktu anak untuk bermain gadget
Mengatur waktu secara rapi dan efektif bukanlah pekerjaan yang snagat mudah apalagi berupaya untuk mentaatinya secara konsisten. Banyak orang tua yang memberikan batasan jam bermain game online bagi anaknya. Misalnya aturan di rumah menetapkan bahwa batas terakhir bermain game online adalah pada jam 9 malam setelah mereka selasai melakukan aktifitas- aktifitas penting, seperti belajar mengaji, sholat dan lainnya.
Tetapi kenyataannya, banyak remaja yang tidak peduli dengan aturan tersebut.78
77 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm.80.
78 Rayadi, Analisis Peran Orang Tua Terhadap Kebiasaan Anak Bermain Game Online di Desa Tanjung Bugis, (Artikel, Jurusan Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjung Pura Pontianak, 2018).
BAB IV