• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMA SOSIAL BUDAYA MEDIA DIGITAL

C. Pembahasan

Gaya hidup hedonisme sudah menjadi semangat pada zaman ini. suatu pola hidup yang aktivitasnya hanya untuk mencari kesenangan dan kenikmatan materi, berkeyakinan akan pentingnya harta dalam hidup dan menjadikan materi sebagai sumber kepuasan dan ketidakpuasan. Orang-orang yang menganut aliran hedonis umumnya memiliki penampilan yang modis, dan sangat memperhatikan penampilan serta boros. Penganut hedonisme berasal dari kalangan berada dan memiliki banyak uang karena banyaknya materi yang dibutuhkan sebagai penunjang gaya hidupnya. Gaya hidup hedonis, konsumtif dan fantatif ini akibat dari pengaruh era globalisasi dan era informasi (Prastiwi, 2020).

3. Dominasi Budaya Asing

Media digital memungkinkan orang untuk mengetahui, mengenal serta mempelajari budaya negara lain. Negara-negara yang unggul pada industry kreatif, mempergunakn media digital dalam mempromosikannya.

Fenomena K-Pop atau Budaya Barat yang digandrungi anak muda menunjukkan bahwa media digital sangat kuat dalam memberikan pengaruh pada gaya hidup, perilaku bahkan kebiasaan masyarakat. Di satu sisi budaya tradisional kurang dikenal bahkan diminati oleh anak muda.

Perubahan budaya memberikan dampak pada banyak hal, termasuk pada pergeseran nilai dan norma. Salah satunya adalah hubungan antara pria dan wanita saat ini diekspresikan secara terbuka baik di media sosial maupun di masyarakat.

Sementara itu, Samovar & Porter (2009) mengatakan bahwa media digital dapat mengakibatkan perubahan pada enam unsur budaya:

1. Perubahan pada kepercayaan (belief), nilai (values), dan sikap (attitudes).

Media digital telah mengubah hubungan seseorang dengan sang pencipta, tidak lagi dianggap sebagai hubungan individual. Seseorang dapat berbagi pengalaman rohaninya atau ucapan rasa syukur terhadap pecipta dengan orang lain maupun kelompok misalnya dengan menggunakan Facebook atau Twitter.

Media sosial juga dapat mengubah nilai-nilai dalam masyarakat, misalnya budaya masyarakat Indonesia dikenal dengan budaya sopan santun. Dengan media sosial, terjadi pergeseran nilai karena seseorang dapat memberi kritik tajam, hujatan, bahkan makian secara langsung terhadap individu atau kelompok lain tanpa memikirkan konsekuensi pada sang terhujat. Media sosial juga menyebabkan perubahan sikap pada masyarakat. Salah satu contohnya adalah seseorang tak lagi menganggap pertemuan langsung atau silaturahmi sebagai sesuatu yang penting, karena dapat dilakukan hanya dengan chatting di media sosial. Sikap acuh tak acuh dan tidak peduli pada lingkungan sekitar juga merupakan dampak dari penggunaan media sosial yang banyak ditemukan.

2.Pandangan dunia (worldview)

Cara pandang sempit (tradisional) yang berubah menjadi cara pandang global (modern). Hal inilah yang sering mengakibatkan geger budaya. Sebagai contoh gaya berpacaran remaja di luar negeri yang cenderung bebas dan diupload pada Facebook atau media sosial lainnya, telah banyak diterapkan oleh remaja Indonesia, walaupun sebenarnya sangat bertentangan dengan budaya sekitar.

3.Organisasi sosial

Organisasi sosial yang dibentuk di media sosial seperti Facebook tidak lagi bersifat resmi dan terikat seperti di dunia nyata. Seorang anggota organisasi sosial di Facebook dapat sangat aktif maupun pasif, tidak ada

keterikatan dan rasa tanggung jawab seperti pada dunia nyata. Tetapi justru hal inilah yang membuat sebagian besar masyarakat merasa tertarik untuk bergabung dengan organisasi pada media sosial.

4.Tabiat manusia (human nature)

Status pada Facebook maupun media sosial lain sering menunjukkan tabiat narsis, egosentris, ingin merasa lebih dari yang lain dan ingin menonjolkan kelebihan diri sendiri. Banyak juga yang terlihat berusaha membuka kekurangan dan memojokkan orang lain.

Tabiat buruk yang dahulu ditutupi, sekarang jelas terpampang pada media sosial seseorang dengan atau tanpa disadari oleh pemilik akun tersebut.

5.Orientasi kegiatan (activity orientation)

Orientasi kegiatan yang bersifat positif antara lain mengupload kegiatan untuk tujuan bisnis, perdagangan atau kegiatan sosial. Orientasi kegiatan yang bersifat negatif antara lain mengupload suatu kegiatan dengan tujuan pamer, atau membangun citra diri.

6.Persepsi tentang diri sendiri dan orang lain (perseption on self and others)

Perilaku pengguna Facebook yang berusaha membangun konsep diri mereka sendiri dengan menuliskan status pada laman Facebook mereka.

Mengekspos diri sendiri untuk mendapat perhatian orang lain, misalnya dengan mengunduh (upload) foto untuk berlomba mendapatkan “like” dari orang lain.

Konsep di atas disampaikan oleh Samovar dengan memperhatikan perkembangan penggunaan sosial media yang sangat digandrungi banyak orang dari berbagai kelas dan usia.

Problema sosial budaya disoroti Hannes dengan mencetuskan teori Ecumene. Hanners, dalam Martono (2016) menyampaikan bahwa ecumene merupakan kawasan interaksi, interpretasi, dan pertukaran budaya yang berlangsung secara terus menerus. Budaya tradisional muncul dalam batas komunitas, terpaku pada ruang dan waktu tertentu dan diciptakan, diperagakan, dan dicipta ulang dalam interaksi langsung secara tatap muka. Budaya

modern melintasi jarak, ruang, dan waktu melalui teknologi komunikasi dan transportasi tanpa terikat pada ruang dan waktu. Aliran budaya dalam ecumene tidak timbal balik, akan tetapi hanya satu arah. Pesan budaya berasal dari inti (negara maju), sedangkan negara pinggiran hanya sebagai penerima.

Menurut Hanners (Martono, 2016), aliran budaya sepihak bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan meliputi seluruh dimensi budaya dan semua wilayah geografis. Hanners menggambarkan empat kemungkinan yang akan terjadi sehubungan adanya penyatuan budaya dimasa mendatang. Pertama, homogenisasi global. Budaya barat akan mendominasi di seluruh dunia. Seluruh dunia akan menjadi jiplakan gaya hidup, pola konsumsi, nilai dan norma serta gagasan dan keyakinan masyarakat barat. Pada kondisi ini, keunikan budaya lokal (pribumi) akan lenyap karena dominasi budaya barat. Kedua, kejenuhan yang merupakan versi khusus dari proses homegenisasi global. Tekanannya adalah pada dimensi waktu. Perlahan-lahan, masyarakat pinggiran akan menyerap pola budaya barat, yang semakin menjenuhkan mereka. Dalam jangka panjang, setelah melewati bebarapa generasi, bentuk, makna, dan penghayatan budaya lokal akan lenyap di kalangan masyaraakt pinggiran. Ketiga, kerusakan budaya pribumi dan kerusakan budaya barat yang diterima. Bentrokan antara budaya pribumi dan budaya barat, semakin merusak nilai budaya barat yang diterima. Kerusakan ini akan terjadi melalui beberapa mekanisme. Mekanisme pertama adalah budaya penerima akan menyaring produk budaya barat yang canggih dan hanya menerima yang bernilai murahan. Penyebabnya adalah masyarakat pribumi tidak siap menerima budaya barat yang canggih dan selera mereka masih rendah. Di pihak penyalur, ada kecenderungan dumping, artinya menjual kelebihan produk kultural bermutu paling buruk ke daerah pinggiran. Mekanisme kedua adalah adanya penyalahgunaan nilai budaya yang diterima, yang disesuaikan dengan cara hidup lokal yang sudah mapan.

Keempat, kedewasaan, yaitu penerimaan budaya barat melalui dialog dan pertukaran yang lebih seimbang daripada penerimaan sepihak. Masyarakat pribumi

menerima unsur barat secara selektif, memperkayanya dengan nilai lokal tertentu, dalam menerima gagasan barat, masyarat pinggiran memberikan interpretasi lokal.

Akibatnya akan terjadi peleburan atau amalgamasi antara unsur budaya yagn datang dan yang menerima.

Budaya global berperan merangsang dan menantang perkembangan nilai budaya lokal, sehingga akan terjadi proses spesifikasi budaya lokal. Unsur lokal dan unsur impor dipertahankan dan perannya ditingkatkan oleh pengaruh budaya barat. Agen penghubung dalam proses ini adalah para wiraswastawan budaya lokal. Hasil akhir proses tersebut adalah percampuran budaya. Budaya di seluruh dunia sebenarnya memperhatikan asalusul campuran, hasil sintesis yang sudah kehilangan keasliannya. Proses ini terjadi karena terjalinnya hubungan sejak lama antara inti dan penggiran (Martono, 2016).

Pandangan berbagai ahli di atas memperkuat bahwa media digital bukan sekedar menjadi kebutuhan hidup manusia tetapi juga menciptakan problematika bilamana dipergunakan secara berlebihan dan tidak bijak dalam pemanfaatan.

Daftar Pustaka

Martono, N. (2016). Sosialisasi Perubahan Sosial, Persepktif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial. Jakarta:

Rajawali.

McLuhan, M. (1994). Understanding Media: The Extensions of Man. MIT press.

Mutiah, (2017). Transformasi Komunikasi Interpersonal di

Era Digital, Link:

https://www.researchgate.net/publication/319737268_

Transformasi_Komunikasi_Interpersonal_di_era_Digita link:

Prastiwi, I. E. (2020). Budaya Hedonisme dan Konsumtif dalam Berbelanja Online Ditinjau dari Perpektif Ekonomi Syariah, Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 6(03), 2020, 731-736

Rogers, E, M. R, (1986). Communication Technology, The New Media in Society, The Free Press Collier Macmillan Publisher, London.

Samovar, LA, Porter, R.E, McDaniel, E.R. (2010).

Communication Between Cultures. Cengage Learning, America.

Suryani, M., & Achiria, S. (2019). Gaya Hidup Hedonisme dalam Konsumsi Ditinjau dari Perspektif Ekonomi Islam (Pada Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam IAIN Kota Bengkulu). Al-Intaj : Jurnal Ekonomi Dan

Perbankan Syariah, 5(2), 238.

https://doi.org/10.29300/aij.v5i2.2092 Profil Penulis

Meilani Dhamayanti, merupakan dosen Bina Nusantara University. Latar belakang pendidikan linier Ilmu Komunikasi yang diambil dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran. Adapun Pendidikan terakhir Doktoral diambil dari Universitas Padjadjaran. Selain itu memiliki pengalaman bekerja di dunia jurnalistik pada salah satu media nasional dan INGO (Internasional Non Government ) selama 15 tahun. Aktif di berbagai konferensi serta penulisan karya ilmiah.

BAB 10

PROBLEMATIKA SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT KONSUMEN

Muhammad Hasan

A. Faktor Sosial dan Budaya dalam Perilaku Konsumsi