BAB IV PENYAJIYAN DATA DAN ANALISIS
C. Pembahasan Temuan
a. Menjadikan masjid sebagai sentral penyiaran agama.
b. Mengadakan rutinan pengajian c. Mengajak pasien
dan memberikan bimbingan kepada pasien untuk sholat
mengajarkan agama yang sangat kuat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran ulama Fiqh, Hadist, Tafsir, Tauhid, Tasawuf, yang hidup antara abad ke 7- 13 masehi. Kitab-kitab yang dipelajari meliputi Tauhid, Tafsir, Hadist, Fiqh, Usul Fiqh, Tasawuf, bahasa Arab (Nahwu, Shorf, Balaghah, dan Tajwid), Mantiq dam Akhlak.78
Menurut M. Dian Nafi’ Dkk. Pesantren mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, kepelatihan pengembangan masyarakat, dan sekaligus menjadi simpul budaya, maka itulah pondok pesantren. Biasanya peran-peran itu tidak langsung terbentuk, melainkan melewati tahap demi tahap. Setelah sukses sebagai lembaga pendidikan pesantren bisa pula menjadi lembaga keilmuan, kepelatihan, dan pemberdayaan masyarakat.
Keberhasilannya membangun integrasi dengan masyarakat barulah memberinya mandat sebagai lembaga bimbingan keagamaan dan simpul budaya.79
Hasil temuan yang ditemukan oleh peneliti dalam Peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga pendidikan dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember bahwa Pesantren Nurul Huda tidak menyelenggarakan pendidikan formal akan tetapi ada pendidikan non formalnya yang secara khusus mengajarkan agama teruatama pada pasien, sebagai lembaga
78 Sudar, Khazanah Intelektual Pesantren (Cipinang Melayu: CV Maloho Jaya Abadi, 2009), 443.
79 Ahmad Mutohar, Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam dan Pesantren (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 167.
pendidikan dalam mengatasi gangguan kejiwaan pesantren Nurul Huda melakukan perawatan kepada pasien, membaca dzikir, menagajak Pasien Sholat, dan Memberi Nasehat kepada pasien tentang ibadah terutama Bab Sholat.
2. Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Sosial Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan Di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Pesantren sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak dari segala lapisan masyarakat Muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat sosial-ekonomi orang tuanya. Sementara itu, setiap hari pesantren menerima tamu yang datang dari masyarakat umum. Mereka membawa berbagai macam masalah kehidupan maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat dan pelayanan kepentingan umum.80
Berdasarkan hasil temuan yang dilakukan oleh peneliti, dapat dipahami bahwa peran Pesantren nurul huda sebagai lembaga sosial merupakan hal yang sangat penting yang harus dilakukan oleh pengasuh pesantren. Seorang kyai harus memahami keadaan masyarakat setempat tanpa melihat status sosial dan ekonominya. Dan juga pesantren siap menerima masyarakat dari berbagai macam permasalahan Masyarakat.
80 Sudar, Khazanah Intelektual Pesantren (Cipinang Melayu: CV Maloho Jaya Abadi, 2009), 444.
Bahkan, menurut masyarakat setempat Pesantren tersebut juga terbuka untuk masyarakat umum baik yang ingin menimba ilmu ataupun yang meminta amalan khidzib terhadap Kyai.
Peran pesantren Nurul Huda dalam mengatasi gangguan kejiwaan Menerima Pasien Gangguan kejiwaan tanpa melihat status sosial- ekonominya dan Menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar agar jika ada permasalahan terutama pada pasien gangguan kejiwaan masyarakat dapat membantu.
3. Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Penyiaran Agama Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan Di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi masyarakat umum. Kyai, ustad, dan santri-santri senior pada umumnya memiliki daerah dakwah masing-masing.81
Masjid pada hakekatnya merupakan sentral kegiatan muslimin baik dalam dimensi ukhrowi maupun duniawi dalam ajaran Islam, karena pengertian yang lebih luas dan maknawi masjid memberikan indikasi sebagai kemampuan seorang abdi dalam mengabdi kepada Allah SWT yang disimbolkan dengan adanya masjid.
Didunia pesantren masjid dijadikan ajang atau sentral kegiatan pendidikan islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional.
81 Sudar, Khazanah Intelektual Pesantren (Cipinang Melayu: CV Maloho Jaya Abadi, 2009), 444.
Dalam konteks yang lebih jauh masjidlah yang menjadi pesantren pertama, tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dapat juga dikatakan masjid identik dengan pesantren. Seorang kyai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya pertama-tama akan mendirikan masjid didekat rumahnya.82
Berdasarkan hasil temuan yang dilakukan oleh peneliti, dapat dipahami bahwa peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga penyiaran agama adalah bagaimana pesantren sebagai sentral penyiaran agama bagi warga pesantren atau pun masyarakat sekitar. Di pesantren Nurul Huda masyarakat umum melaksanakan ibadah di masjid pesantren, dan juga untuk pasien yang sudah bisa berkomunikasi dan mau beribadah. Bahkan, kyai fatah juga memperkenankan siapa saja yang ingin berguru ke beliau baik meminta amalan ataupun membantu beliau menghadapi pasien di Pesantren. masyarakat setempat menjadikan masjid di Pesantren sebagai pusat sarana ibadah seperti pelaksanaan sholat Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha, dan acara tertentu lainnya.
Peran pesantren Nurul Huda sebagai Lembaga penyiaran agama dalam mengatasi gangguan kejiwaan adalah Menjadikan masjid sebagai sentral penyiaran agama, Mengadakan rutinan pengajian, Mengajak pasien dan memberikan bimbingan kepada pasien untuk sholat
82 As’ari, Transparansi Manajemen Pesantren Menuju Profesionalisme (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 54.
A. Kesimpulan
1. Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Pendidikan Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan Di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga pendidikan dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember adalah pesantren menyelenggarakan pendidikan non formal yang secara khusus mengajarkan agama kepada pasien yang sudah sembuh, ataupun kepada masyarakat setempat yang ingin belajar di pesantren. Seperti, fiqh dan tauhid. Merawat pasien, membaca dzikir, menagajak Pasien Sholat, dan Memberi Nasehat kepada pasien tentang ibadah terutama Bab Sholat.
2. Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Sosial Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan Di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga sosial dalam mengatasi gangguan kejiwaan yaitu menerima pasien yang berasal dari daerah manapun tanpa melihat status sosial ataupun keadaan ekonominya, Menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar agar jika ada permasalahan terutama pada pasien gangguan kejiwaan masyarakat dapat membantu.
3. Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Penyiaran Agama Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan Di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember
Peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga penyiar agama dalam mengatasi gangguan kejiwaan yaitu penggunaan fasilitas pesantren seperti mushollah atau masjid sebagai sarana ibadah masyarakat umum ataupun santri, Menjadikan masjid sebagai sentral penyiaran agama, Mengadakan rutinan pengajian, memberikan bimbingan kepada pasien dan pasien yang sudah sembuh.
B. Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan diatas, penulis ingin memberikan saran-saran yang ditunjukkan kepada:
1. Kyai (Pengasuh Pesantren)
a. Selalu sabar dalam merawat, memberi motivasi kepada pasien.
b. Tetaplah berkoordinasi terhadap seluruh lapisan masayarakat supaya ketika ada problematika masyarakat dapat membantu.
c. Jadikan masjid sebagai sentral penyiaran agama dengan tetap rutin mengadakan kegiatan keagamaan dan selalu memberikan bimbingan tentang keagamaan terhadap pasien
2. Ustadz
a. Jangan pernah bosan dalam membantu kyai mengajarkan agama Islam kepada pasien, merawat, dan memberi motivasi.
b. Bantu kyai berkoordinasi dengan masyarakat dengan baik
c. Menjaga masjid agar tercipta sentral penyiaran agama dengan tetap konsisten dengan kegiatan kegiatan keagaaman dan bimbingan terhadap pasien.
3. Masyarakat
a. Masyarakat sekitar sangat berperan penting karena berdekatan dengan pesantren oleh karena itu masyarakat berilah dukungan kepada pesantren untuk mewujudkan pasien belajar ilmu agama.
b. Selalu menanyakan masalah yang ada didalam pesantren sehingga dapat dipecahkan bersama.
c. Mengikuti seluruh kegiatan yang ada dimasjid.
4. Pasien yang sudah sembuh
a. Membantu kyai dalam merawat dan memberi motivasi
b. Berbaur dengan masyarakat dan jangan minder karena pernah gangguan kejiwaan.
c. Ikut rutinan keagamaan, membantu memberikan bimbingan keagamaan kepada yang belum sembuh.
DAFTAR PUSTAKA
As’ari. 2013. Transparansi Manajemen Pesantren Menuju Profesionalisme.
Jember: STAIN Jember Press
Burhanuddin, Yusak. 1999. Kesehatan Mental. Bandung: CV Pustaka Setia Creswell, John W. 2015. Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Depag RI. 1986. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: PT. Intermasa Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi pesantren. Jakarta: LP3ES
IAIN Jember. 2015. Pedoman Penulisan Karya Ilmiyah. Jember: IAIN Jember Press
Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3 Gangguan Gangguan Kejiwaan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Katona, Cornelius. 2012. At a Glance Psikiatri. Jakarta: Penerbit Erlangga
Kusdiana, Ading. 2014. Sejarah Pesantren Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945). Bandung: HUMANIORA, 2014) Moleong, J. Lexy. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Mustajab. 2015. Masa Depan Pesantren. Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang
Mutohar, Ahmad. 2013. Manifesto Pendidikan Islam dan Pesantren. Jember:
STAIN Jember Press
Nata, Abudin. 2000. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Satori, Dja’man. Komariah, Aan. 2013. Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta
Soekanto, Soerjono. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI-Press
Sudar. 2009. Khazanah Intelektual Pesantren Cipinang Melayu : CV. Maloho Jaya Abadi
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Usman, Husaini. 2006. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara
MATRIK PENELITIAN
JUDUL VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR SUMBER DATA METODE
PENELITIAN FOKUS PENELITIAN
Peran Pesantren Nurul Huda Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curah Waru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Jember
1. Peran Pesantren
2. Gangguan Kejiwaan
1. Pesantren sebagai lembaga pendidikan 2. Pesantren
sebagai lembaga sosial 3. pesantren
sebagai lembaga penyiaran agama 1. Gangguan
Kejiwaan
a. Pendidikan formal b. Pendidikan non formal
a. Kyai b. Santri
a. Masjid
a. Gangguan pada fungsi berfikir
b. Gangguan pada fungsi perasaan (gangguan emosional)
1. Informan a. Pengasuh
pesantren b. Ustad c. Masyarakat d. Pasien yang
sudah sembuh 2. Dokumentasi 3. Kepustakaan
literatur yang terkait dengan penelitian, baik buku, jurnal dan lain-lain.
1. Jenis penelitian : Penelitian Kualitatif 2. Pendekatan
penelitian:
Pendekatan Grounded Theory 3. Metode
pengumpulan data:
a. Observasi b. Wawancara c. Dokumentasi 4. Keabsahan data:
Triangulasi sumber
1. Bagaimana peran pesantren Nurul Huda sebagai
lembaga pendidikan dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curah Waru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Jember?
2. Bagaimana peran pesantren Nurul Huda sebagai
lembaga sosial dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curah Waru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Jember?
3. Bagaimana peran pesantren Nurul Huda sebagai
lembaga penyiaran agama dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curah Waru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Jember?
SEKRETARIAT
RUMAH PENGASUH
RUMAH PENGASUH
MASJID KOLAM
ASRAMA ASRAMA
ASRAMA
PINTU MASUK PONDOK
U
HA LAMA N PESANTRE N
DENAH PONDOK
PESANTREN NURUL HUDA
Wawancara Dengan Pengasuh Pesantren
1. Bagaimana peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga pendidikan dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?
2. Bagaimana peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga sosial dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?
3. Bagaimana peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga penyiaran agama dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?
4. Apa saja penyebab dari gangguan kejiwaan?
5. Bagaimana kyai memilih atau menerima santri yang mengalami gangguan kejiwaan?
6. Apa kendala kyai selama mengatasi para santri yang mengalami gangguan kejiwaan?
Wawancara Dengan Ustad
1. Bagaimana cara ustadz mengajar orang yang mengalami gangguan kejiwaan?
2. Apa saja yang di ajarkan kepada orang yang mengalami gangguan kejiwaan?
3. Bagaimana cara menanamkan kebiasaan orang sehat akal kepada orang yang mengalami gangguan kejiwaan?
4. Apa saja kegiatan yang dilakukan di pesantren untuk semua santri dalam kesehariannya?
5. Apa ada tolak ukur santri bisa dikatakan sembuh dari gangguan kejiwaannya?
6. Apakah ada kegiatan khusus terhadap orang yang mengalami gangguan kejiwaan?
tanggapan masyarakat sekitarnya ketika sudah sembuh?
Wawancara Dengan Masyarakat Setempat
1. Bagaimana pandangan anda dengan adanya pesantren nurul huda?
2. Apa bentuk partisipasi masyarakat setempat terhadap pesantren?
3. Apa pandangan anda terhadap pasien yang sudah sembuh dari gangguan kejiwaannya?
Wawancara Dengan Pasien Yang Sudah Sembuh
1. Bagaimana tanggapan saudara terhadap pengasuh dalam mengatasi santri yang mengalami gangguan kejiwaan?
2. Bagaimana tanggapan saudara terhadap ustad dalam mengatasi gangguan kejiwaaan?
3. Apa yang anda rasakan ketika anda kembali dalam keadaan seperti biasanya?
4. Apa yang anda peroleh selama anda menjadi santri di pesantren nurul huda?
DOKUMENTASI
Lokasi Pesantren NURUL HUDA dan Masjid Sebagai Pusat sarana pesantren dan sarana beribadah masyarakat.
Kantor sekretariat PP Nurul Huda dan Asrama Nurul Huda.
Kolam untuk tempat mandi orang yang mengalami gangguan kejiwaan.
Pasien yang sedang beristirahat dan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan berat dalam keadaan di kerangkeng.
Pasien yang sedang bersantai sore hari di depan asrama dan di depan masjid.