• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyajian Data dan Analisis

Dalam dokumen peran pesantren nurul huda dalam mengatasi (Halaman 65-77)

BAB IV PENYAJIYAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data dan Analisis

6 AFN Lumajang

7 SW Senduro – Lumajang

8 KSR Nganjuk

9 SN Mumbul Sari – Jember

10 SA Probolinggo

11 FG Gresik

12 SGT Magelang

13 EP Puger – Jember

14 HK Wuluhan – Jember

15 KD Gambirono – Jember

16 KRM Malang

17 SSL Lumajang

18 DHLN Cirebon

19 AM Lumajang

20 SLH Balung – Jember

21 HSN Senduro - Lumajang

Selain itu Kyai Fatah memberikan data pasien 4 tahun terakhir sejak beliau menggantikan kepemimpinan Kyai Mustajab Kholil.

Tabel 4.3

Data Jumlah Pasien 4 Tahun Terakhir

NO TAHUN JUMLAH

1 2014 53 Orang

2 2015 40 Orang

3 2016 30 Orang

4 2017 21 Orang

penelitian yang disajikan dalam bentuk pola, tema, kecenderungan, dan motif yang muncul dari data. Disamping itu, temuan dapat berupa penyajian kategori, sistem klasifikas, dan tipologi.

Penyajian data dan analisis data merupakan bagian yang memuat tentang uraian hasil penelitian di pesantren Nurul Huda, dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh disesuaikan dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan yaitu: a) Bagaimana peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga pendidikan dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?, b) Bagaimana peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga sosial dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?, c) Bagaimana peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga penyiaran agama dalam mengatasi gangguan kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?.

Data yang peneliti peroleh dideskripsikan sebagai berikut:

1. Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Pendidikan dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember

Pesantren sebagai lembaga pendidikan, Pesantren menyelenggarakan pendidikan formal, (madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi), dan pendidikan non formal yang secara khusus mengajarkan agama yang sangat kuat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran

ulama Fiqh, Hadist, Tafsir, Tauhid, Tasawuf, yang hidup antara abad ke 7- 13 masehi. Kitab-kitab yang dipelajari meliputi Tauhid, Tafsir, Hadist, Fiqh, Usul Fiqh, Tasawuf, bahasa Arab (Nahwu, Shorf, Balaghah, dan Tajwid), Mantiq dam Akhlak.58

Peran Pesantren Nurul Huda sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan non formal mengajarkan tentang agama kepada pasien yang gangguan kejiwaan, merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang kyai kepada pasien dengan cara membiasakan para pasien untuk berperilaku layaknya orang sehat jiwanya. Seperti mandi atau membersihkan diri setiap harinya. Dan pasien juga diberikan minuman yang sudah dibacakan dzikir atau bacaan-bacaan tertentu dan memberikan bimbingan keagamaan bagi pasien yang sudah dapat berkomunikasi dengan cara menyuruh sholat berjama’ah di masjid.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Kyai Abdul Fatah selaku pengasuh pesantren.59

“Saya ketika merawat pasien di Pesantren ini, tidak hanya membiasakan mandi untuk menjaga kebersihan. Akan tetapi, setiap pasien dibacakan Hizib dan juga di berikan minuman khusus kepada para pasien dan saya berusaha mengajak komunikasi dengan pasien bagi pasien yang sudah dapat berkomunikasi saya suruh sholat berjama’ah.”

Dari pernyataan diatas, terlihat jelas bahwa pasien tidak hanya diberlakukan untuk membersihkan diri akan tetapi juga membacakan hizib

58 Sudar, Khazanah Intelektual Pesantren (Cipinang Melayu: CV Maloho Jaya Abadi, 2009), 443.

59 Sumber data: Wawancara dengan pengasuh pesantren Nurul Huda kyai Abdul Fatah, tanggal 07 Oktober 2017.

dan sholat. Hal ini membuktikan bahwa kyai Abdul Fatah juga menanamkan nilai-nilai spiritual kepada para pasien.

Pesantren adalah lembaga yang berfungsi untuk membentuk para anggotanya agar bertaqwa kepada Allah SWT60, dipesantren Nurul Huda untuk menjadikan pasien bertaqwa kepada Allah SWT mengadakan pengajian rutin ditiap malam Jum’at yaitu dzikir dan mengaji yasin.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan kyai Abdul Fatah selaku pengasuh pesantren.61

“Malam jum’at disini mengadakan rutunitas dzikir dan menggaji yasin bersama ini semua untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT”.

Dalam membantu mengatasi pasien banyak kendala mengingat pasien berasal dari latar belakang gangguan kejiwaan yang tidak sama.

Dan ketika pasien sudah agak sembuh, ustad disini juga membantu kyai dalam mengajarkan ibadah kepada pasien. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz Parman yang membantu kyai.62

“Saya disini hanya membantu kyai dalam mengatasi gangguan kejiwaan. Dan bagi pasien yang sudah agak sembuh diberikan arahan mengenai ibadah meskipun ibadahnya tidak terlalu rutin”

Dari pernyataan diatas jelas bahwa ustadz juga berperan penting dalam membantu pasien untuk menanamkan nilai-nilai spiritualitas kepada pasien.

60 Moh Achyat Ahmad, Mengapa Saya Harus Mondok di Pesantren? (Pasuruan: Pustaka Sidogiri Pesantren Sidogiri, 1430 H), 184.

61 Sumber data: Wawancara dengan pengasuh pesantren Nurul Huda kyai Abdul Fatah, tanggal 07 Oktober 2017.

62 Sumber data : Wawancara dengan ustadz Parman, 08 Oktober 2017.

Berkembangnya pesantren Nurul Huda juga tidak lepas dari peran serta atau dukungan dari masyarakat setempat. Baik dalam hal sarana menuntut ilmu ataupun sebagai sarana dalam menyembuhkan pasien gangguan kejiwaan. Hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh bapak Mustofa.63

“Adanya Pesantren disini saya rasa sangat baik dan sekaligus sebagai solusi bagi orang yang menderita gangguan kejiwaan, bahkan bagi masyarakat umum yang sehat akal pun bisa menuntut ilmu agama di Pesantren ini”.

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa masyarakat mendukung dengan adanya sekolah non formal di Pesantren untuk siapa saja yang ingin nyantri di Pesantren.

Pasien yang sudah sembuh juga merasa sangat bersyukur dan lebih memperbaiki keadaan spiritualnya. Bahkan, masih ada yang masih bermukim di Pesantren untuk membantu Kyai Abdul Fatah dalam mengatasi pasien yang lain. Hal ini sebagai mana yang disampaikan oleh bapak Ishan selaku pasien yang sudah sembuh.64

“Alhamdulillah saya merasa sangat bersyukur karena bisa sembuh berkat Kyai Abdul Fatah. Dan saya pun bisa memperdalam ibadah saya sebagaimana yang diajarkan beliau kepada saya”.

Dari hal diatas dapat kita pahami bahwa pasien disini dapat memperbaiki nilai spiritualnya berkat ajaran atau nasehat yang diajarkan oleh pengasuh.

63 Sumber data : wawancara dengan masyarakat sekitar bapak Mustofa, Tanggal 15 Oktober 2017.

64 Sumber data : Wawancara dengan pasien yang sudah sembuh Bapak Ishan, Tanggal 21 Oktober 2017.

2. Peran Pesantren Nurul Huda sebagai Lembaga Sosial dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember

Pesantren sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak dari segala lapisan masyarakat muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat sosial- ekonomi orang tuanya. Sementara itu, setiap hari pesantren menerima tamu yang datang dari masyarakat umum. Mereka membawa berbagai macam masalah kehidupan maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat dan pelayanan kepentingan umum.65

Peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga sosial, merupakan hal yang perlu di lakukan oleh seorang kyai. Dalam hal ini kyai menampung dari segala lapisan masyarakat, tanpa membeda-bedakan tingkat sosial-ekonomi. Pesantren Nurul Huda menerima masyarakat denggan berbagai permasalahan salah satunya gangguan kejiwaan. kyai menerimanya dengan tanpa melihat status sosialnya yaang terpenting ada harapan untuk sembuh.

Dari adanya peran pesantren sebagai status sosial, kyai selaku pengasuh Pesantren penting untuk memahami hal ini. Sesuai dengan hasil wawancara yang diungkap oleh Kyai Abdul Fatah selaku pengasuh pesantren.66

“Saya disini menerima siapapun yang mau menjadi pasien, yang terpenting ada harapan untuk sembuh. Dan juga ada pasrahan

65 Sudar, Khazanah Intelektual Pesantren (Cipinang Melayu: CV Maloho Jaya Abadi, 2009), 444

66 Sumber data : Wawancara dengan pengasuh pesantren Nurul Huda kyai Abdul Fatah, tanggal 28 Oktober 2017.

penuh terhadap pesantren agar ketika ada hal yang tidak diinginkan orang terdekatnya bisa menerima dengan baik”.

Jadi, pengasuh pesantren disini bisa memahami keadaan sosial dari ekonomi dari para pasien. Yang terpenting ada harapan sembuh selama dipasrahkan kepada pesantren.

Bahkan, santri yang sudah sembuh dari pesantren ini ada yang mengabdikan diri dan ada juga yang pulang kerumah masing-masing namun masih berkomunikasi dengan baik dengan kyai. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh ustad Parman.67

“Santri disini yang sudah sembuh ada yang mengabdikan diri di Pesantren sekaligus membantu kyai, dan ada juga yang pulang kerumah masing-masing. Namun, tetap berkomunikasi dengan kyai”.

Dari pernyataan tersebut dapat dipahami dari keterangan ustadz bahwa kyai tidak melarang santri dari kalangan manapun yang ingin menimba ilmu ataupun membantu beliau.

Masyarakat setempat pun sebagai pelaku sosial, perlu mendukung dan memahami apa yang ada di Pesantren. Bahkan, harus siap untuk memberikan kontribusi kepada pesantren baik berupa tenaga, financial dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh bapak H.

Yasin.68

“Pengasuh pesantren disini menurut saya sudah sangat bagus, karena beliau dapat menampung para pasien dari berbagai lapisan masyarakat dan memperlakukan mereka dengan baik”.

67 Sumber data: Wawancara dengan ustad Parman, Tanggal 08 Oktober 2017.

68 Sumber data : Wawancara dengan masyarakat sekitar bapak H. Yasin, Tanggal 22 Oktober 2017.

Setiap hari pesantren Nurul Huda menerima tamu yang datang dari masyarakat umum. mereka membawa berbagai macam masalah kehidupan terutama masayarakat yang mengalami gangguan kejiwaan. sebagaimana dikatakan oleh bapak Hakim.69

“Dipesantren Nurul Huda menerima orang yang mengalami gangguan kejiwaan dari berbagai daerah bukan hanya dari jember saja melainkan dari luar kota bahkan dari luar jawa timur pun ada”

Dari pernyataan diatas sudah jelas bahwa dalam pandangan masyarakat bahwa peran pesantren sebagai lembaga sosial sudah tepat karena tidak membedakan status sosial masyarakat bahkan bukan hanya sekitar jember yang ditampung melainkan dari luar kota pun diterima oleh kyai.

Pasien yang sudah sembuh juga harus memberikan kontribusi yang baik terhadap Pesantren. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur karena sudah sembuh dari gangguan kejiwaan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Ishan selaku pasien yang sudah sembuh.70

“Alhamdulillah saya masih bisa membantu kyai dalam menangani pasien yang ada disini, dan juga bisa membantu untuk bersih- bersih disini. Bahkan, bisa berkomunikasi seperti biasa dengan masyarakat setempat”.

Dari hal tersebut dapat kita pahami bahwa pasien bisa berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya.

69 Sumber data : wawancara dengan masyarakat sekitar bapak Hakim, tanggal 29 Oktober 2017

70 Sumber data : Wawancara dengan pasien yang sudah sembuh bapak Ishan, Tanggal 21 Oktober 2017.

Pengasuh pesantren Nurul Huda selalu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kyai Abdul Fatah.71

“Pasien gangguan kejiwaan sering kali kabur dari pesantren, kalau saya sendiri yang mencari maka tidak mungkin, untuk itu saya perlu bantuan masyarakat sekitar untuk membantunya”.

Selain itu, yang disampaikan oleh bapak Umar.72

“Pasien di Pesantren Nurul Huda seringkali kabur dari pesantren ketika warga sini melihat orang gila kabur maka kami laporkan kepada Kyai Fatah”.

Dari pernyataan diatas dapat dipahami bahwa hubungan antara pengasuh pesantren dan masyarakat sangat membutuhkan komunikasi yang seimbang.

3. Peran Pesantren Nurul Huda sebagai Lembaga Penyiaran Agama dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember

Pesantren Sebagai lembaga penyiaran agama,masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi masyarakat umum. Kyai, ustad, dan santri-santri senior pada umumnya memiliki daerah dakwah masing-masing.73

Peran pesantren Nurul Huda sebagai lembaga penyiaran agama disini seperti musholla ataupun masjid yang ada di pesantren tidak hanya digunakan oleh orang yang berada dilingkungan pesantren. Akan tetapi, digunakan untuk masyarakat umum sebagai sarana ibadah.

71 Sumber data : Wawancara dengan pengasuh pesantren kyai Abdul Fatah, 28 Oktober 2017.

72 Sumber data : Wawancara dengan Masyarakat bapak Umar, 28 Oktober 2017.

73 Sudar, Khazanah Intelektual Pesantren (Cipinang Melayu: CV Maloho Jaya Abadi, 2009), 444

Hal ini sebagaimana yang di ungkapkan oleh Kyai Abdul Fatah selaku pengasuh pesantren.74

“Masjid disini boleh di gunakan oleh warga setempat untuk sarana ibadah sehari-hari, yang terpenting tetap menjaga keamanan dan kebersihan pesantren. Dan untuk Pasien yang sudah agak sembuh saya perkenankan untuk beribadah dimasjid”.

Dari pernyataan tersebut, sudah sangat jelas bahwa kyai tidak melarang warga setempat untuk beribadah di masjid atau mushollah pesantren. Asalkan tetap menjaga keamanan dan kebersihan yang ada di pesantren.

Sarana Pesantren pun perlu di bersihkan dengan baik dan perlu ada yang menjaga, karena dikhawatirkan akan kotor dan tidak suci. Karena jika tempat tersebut nyaman, warga setempatpun akan nyaman ketika beribadah di masjid. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz Parman.75

“Saya disini membantu kyai untuk menjaga santri, pasien, dan menjaga kebersihan masjid, agar warga setempat nyaman ketika beribadah dimasjid”.

Dari pernayataan diatas jelas bahwa pesantren sebagai lembaga penyiaran agama bisa dipakai secara nyaman oleh masyarakat umum, kyai, santri ataupun pasien yang sudah sembuh.

74 Sumber data: Wawancara dengan pengasuh pesantren Nurul Huda kyai Abdul Fatah, tanggal 28 Oktober 2017.

75 Sumber data : Wawancara dengan ustadz Parman, 08 Oktober 2017.

Adanya pesantren pun sangat diterima oleh masyarakat setempat, karena bisa di gunakan sebagai sarana ibadah yang baik. Hal ini yang disampaikan oleh bapak Mustofa.76

“Masyarakat disini dalam melaksanakan ibadah di masjid sangat nyaman karena sebagai pahala ibadah dan sekaligus dapat menimba ilmu dari kyai dan meminta wejangan dari beliau”.

Dari pernyataan tersebut dapat di pahami bahwa, pesantren sebagai lembaga penyiar agama bisa dilaksanakan oleh kyai dengan menyampaikan dakwah atau nasehat kepada masyarakat setempat.

Di masjid pesantren Nurul Huda disetiap malam Jum’at mengadakan rutinan yaitu mengadakan pengajian yang didalamnya membaca dzikir dan mengaji alqur’an bukan hanya warga setempat yang ikut rutinan itu melainkan pasien yang sudah bisa berkomunikasi dan mau ikut rutunitas tersebut. Hal ini yang disampaikan oleh pengasuh pesantren Nurul Huda kyai Abdul Fatah.77

“Disini tiap malam jum’at mengadakan dzikir dan mengaji rutin disetiap malam jum’at ba’dah maghirib, yang menghadiri masyarakat sekitar dan tidak hanya masyarakat sekitar yang menghadirinya melainkan pasien saya yang sudah bisa berkomunikasi dan mau mengikutinya”.

Dari penyataan tersebut dapat dipahami bahwa, tidak hanya masyarakat umum yang diajak untuk meninggikan agama Allah akan tetapi pasien juga diajak untuk meninggikan agama Allah SWT.

76 Sumber data : Wawancara dengan masyarakat sekitar bapak Mustofa, Tanggal 15 Oktober 2017.

77 Sumber data : Wawancara dengan pengasuh pesantren Nurul Huda kyai Abdul Fatah, 28 Oktober 2017

Tabel 4.4 Temuan Penelitian

No Fokus Penelitian Temuan Penelitian

1 Bagaimana Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Pendidikan Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?

Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Pendidikan Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember :

a. Merawat Pasien b. Membaca Dzikir

c. Mengajak Pasien Sholat d. Memberi Nasehat

kepada pasien tentang ibadah terutama Bab Sholat.

2 Bagaimana Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Sosial Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?

Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Pendidikan Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember :

a. Menerima Pasien Gangguan kejiwaan tanpa melihat status sosial-ekonominya b. Menjalin hubungan yang

baik dengan masyarakat sekitar.

2 Bagaimana Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Penyiaran Agama Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember?

Peran Pesantren Nurul Huda Sebagai Lembaga Sosial Dalam Mengatasi Gangguan Kejiwaan di Dusun Curahwaru Desa Gambirono Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember :

a. Menjadikan masjid sebagai sentral penyiaran agama.

b. Mengadakan rutinan pengajian c. Mengajak pasien

dan memberikan bimbingan kepada pasien untuk sholat

Dalam dokumen peran pesantren nurul huda dalam mengatasi (Halaman 65-77)

Dokumen terkait