• Tidak ada hasil yang ditemukan

31

dengan kata-kata kasar, menunjukkan ekspresi wajah memerah dan tegang. Pandangan matanya tajam, rahang terkatup erat, dan tangan terkepal. Nada suara yang tinggi, tampak gelisah dan melukai orang lain

Setelah subjek Ny. A menerima terapi dzikir, beberapa indikator tersebut menurun. Meskipun subjek masih mengucapkan kalimat ancaman, wajah tetap tegang, mengepal tangan, dan masih tampak gelisah serta mengeluarkan suara dengan nada tinggi.

Terapi dzikir membantu mengurangi beberapa indikator perilaku kekerasan pada subjek Ny. S dan Subek Ny. A. Meskipun keduanya masih menghadapi seperti keinginan untuk melukai orang, mengepalkan tangan, wajah tegang, serta gelisah, intensitas atau keparahan gejala tersebut telah berkurang setelah terapi. Terapi dzikir tampak sangat berpengaruh dalam menurunkan aspek perilaku kekerasan, namun belum sepenuhnya dari indikator menghilang.

32

ancaman, berbicara kata-kata kasar, wajah memerah dan tegang, pandangan tajam,mengatup rahang dengan kuat, mengepalkan tangan, mengeluarkan suara dengan nada tinggi/keras, tampak gelisah, merasa ingin memukul orang lain/melemper/memukul benda.

Pada subjek Ny. A, didapatkan bahwa pasien megungkapkan kalimat ancaman, berbicara kata-kata kasar, wajah memerah dan tegang, pandangan tajam,mengatup rahang dengan kuat, mengepalkan tangan, mengeluarkan suara dengan nada tinggi/keras, tampak gelisah, memukul orang lain.

Namun setelah diberikan terapi dzikir selama 6 kali didapatkan hasil terhadap Ny. S masih merasakan keinginan melukai orang, tangan masih terkepal, wajah tetap memerah dan tegang, serta masih tampak gelisah.

Sedangkan Ny. A masih mengucapkan kalimat ancaman, wajah tetap tegang, mengepal tangan, dan masih tampak gelisah serta mengeluarkan suara dengan nada tinggi.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yuliana & Pratiwi, 2021) (Yuliana 2021) bahwa ada pengaruh peningkatan dalam kemampuan mengontrol perilaku kekerasan setelah diberikan terapi spiritual dzikir.

Apabila terapi spiritual dilakukan secara terus menerus dan jika pasien sering mengikuti jadwal terapi keagamaan maka akan semakin memberikan pengaruh yang kuat untuk membantu pasien mengontrol perilaku kekerasan dan menenangkan dirinya. Dengan demikian pasien pun akan semakin percaya diri dan merasa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiriual dzikir

33

merupakan bentuk keyakinan dalam hubungan dengan yang maha kuasa.

Terapi spiritual juga mampu membantu pasien mendekatkan diri kepada Allah SWT, memaknai arti hidup, meredakan emosi, mengurangi stressor, gejala-gejala yang muncul pada pasien serta memperbaiki kualitas hidup pasien. Tindakan spiritual dapat dilakukan dengan cara berdzikir dapat menurunkan depresi atau stress dengan menurunkan produksi hormon kartisol yang dipengaruhi oleh thalamus melalui ciliculus superior dan coliculus interior dengan merangsang sistem endokrin. Hal ini membuat sistem saraf otonom seimbang dan mempengaruhi kondisi tubuh yang akan membuat tekanan darah menurun, pernafasan jadi lebih teratur dan aktivitas otak seperti pengalihan dari rasa cemas dan tegang menjadi lebih tenang.(Amalia et al., 2023)

Hal ini diperkuat lagi dengan penelitian (Agus Triyani et al., 2019)Agus Triyani ( 2019) bahwa terapi psikoreligius seperti dzikir dengan cara beristighfar dan sholat dapat diberikan pada gangguan jiwa ringan maupun berat. Dengan adanya pemenuhan kebutuhan spiritual membuat jiwa seseorang menjadi merasa tentram, damai sehingga membawa pengaruh positif bagi pasien perilaku kekekrasan.

Berdasarkan hasil penelitian, teori dan penelitian terkair, peneliti berasumsi bahwa ada pegaruh secara signifikan pada pasien yang diberikan pendekatan spiritual dengan tidak diberikan pendekatan spiritual.

Pendekatan spiritual memiliki dampak yang signifikan terhadap pasien perilaku kekerasan. Yang dimana dengan cara mengajarkan cara melatih

34

terapi psikoreligius dzikir.

Terapi dzikir ini memberikan efek menenangkan pada pikiran dan tubuh. Proses pengulangan kata-kata tertentu dalam dzikir menciptakan ritme yang menenangkan, membantu subjek merasa lebih rileks dan tenang. Efek menenangkan ini membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan, yang sering kali menjadi pemicu utama perilaku agresif dan kekerasan. Ketika seseorang merasa lebih tenang, mereka cenderung tidak mudah terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan.

Selain itu, dzikir meningkatkan kesadaran diri dan refleksi pribadi.

Terapi dzikir memungkinkan subjek untuk lebih fokus pada diri mereka sendiri, meningkatkan kesadaran akan pikiran dan emosi mereka. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, subjek dapat lebih mudah mengenali dorongan-dorongan negatif seperti marah atau frustrasi dan mengendalikannya sebelum berubah menjadi tindakan kekerasan. Ini membantu mereka mengembangkan kontrol diri yang lebih baik dan mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku kekerasan.

Terapi dzikir juga memperdalam hubungan seseorang dengan spiritualitas atau keyakinan mereka. Melalui dzikir, subjek memperkuat nilai-nilai spiritual seperti kesabaran, kasih sayang, dan pengendalian diri.

Nilai-nilai ini bertentangan dengan perilaku kekerasan, sehingga dengan memperkuat nilai-nilai tersebut, subjek lebih cenderung bertindak dengan cara yang damai dan penuh kasih..

Selain itu, dzikir membantu dalam pengaturan emosi. Dengan

35

berlatih dzikir secara teratur, individu belajar mengelola emosi mereka dengan lebih efektif. Mereka menjadi lebih mampu mengendalikan perasaan marah, frustrasi, atau emosi negatif lainnya. Emosi yang lebih teratur memiliki risiko yang lebih rendah untuk terlibat dalam tindakan kekerasan. Tepai dzikir membantu subjek tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh situasi yang memicu emosi negatif.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dzikir dapat menurunkan aktivitas sistem saraf yang bertanggung jawab atas respons "fight or flight".

Respons ini adalah respons stres yang membuat seseorang siap untuk menghadapi ancaman dengan cara melawan atau melarikan diri. Dengan ini, dzikir membantu individu merasa lebih tenang dan tidak mudah terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan. Respon stres yang lebih rendah berarti subjek lebih mampu mengendalikan diri dalam situasi yang menantang atau memicu stres.

35 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dengan terapi psikoreligius dzikir dalam penanganan pada pasien perilaku kekerasan, sehinggan Ny, S dan Ny. A menunjukkan bahwa pemberian terapi dzikir dapat mengurangi tanda dan gejala perilaku kekerasan seperti :tidak memukul orang orang lain, dan tidak berbicara dengan kata-kata kasar.

Dokumen terkait