• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Pertanian di Kabupaten Gianyar

Dalam dokumen Untitled - Universitas Udayana (Halaman 72-82)

BAB III KEBIJAKAN PERTANIAN DI KABUPATEN GIANYAR

3.2 Pembangunan Pertanian di Kabupaten Gianyar

tahun 2014 mengalami peningkatan dan stagnan pada tahun 2015 mencapai 6,112 ton/ha.

Demikian juga halnya dengan jumlah produksi. Tahun 2006, produksi padi sawah mencapai 189.294,62 ton gabah keringgiling (GKG).

Tahun berikutnya mengalami penurunan sampai tahun 2008. Patut disyukuri, tahun 2015 jumlah produksi tertinggi mencapai 192.518,00 ton GKG dengan produktivitas 6,112 ton/ha. Hal ini harus tetap dipertahankan dan bila memungkinkan terus ditingkatkan dengan berbagai program, seperti tetap tersedianya air irigasi, subsidi sarana produksi pertanian, serta berbagai upaya untuk menanggulangi terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian.

Gambar 3.3 Areal Persawahan di Wilayah Kabupaten Gianyar

Tabel 3.1. Luas Penen, Produksi dan Rata-rata Produktivitas Padisawah di Kabupaten Gianyar Tahun 2006-2015

No Tahun Luas (ha) Produksi (Ton) Rata-rata

Produktivitas (Ton/ha)

1 2006 30.490 189.298,62 6,234

2 2007 29.342 177.696,26 6,056

3 2008 29.126 175.425,90 6,023

4 2009 30.458 182.799,30 6,002

5 2010 29.871 184.441,69 6,175

6 2011 30.095 186.865,80 6,209

7 2012 29.888 173.590,63 5,808

8 2013 31.090 184.592,44 5,937

9 2014 30.519 186.532,13 6,112

10 2015 30.990 192.518,00 6,112

Sumber : BPS Kab. Gianyar 2016

B. Produksi Jagung

Produksi jagung di Kabupaten Gianyar berfluktuasi dari tahun 2006 sampai tahun 2012 dan menurun terus dari tahun 2013 sampai tahun 2015. Kondisi ini sangat memprihatinkan, disertai dengan rata produksi (produktivitas) sangat menurun hanya mencapai 2,931 ton/ha.

Tabel 3.2. Luas Panen, Produksi dan Rata-rata Produktivitas Jagung diKabupaten Gianyar Tahun 2006 – 2015

Tahun Luas Panen (ha) Produksi (Ton) Rata-rata Produktivitas

(Ton/ha)

2006 282 1.559,87 5,531

2007 205 971,01 4,737

2008 277 1.431,39 5,167

2009 316 1.248,02 3,949

2010 421 2.169,71 5,218

2011 326 1.971,97 6,049

2012 614 3.248,97 5,291

2013 239 853,23 3,570

2014 247 724,00 2,931

2015 186 727,07 2,931

Sumber : BPS Kab. Gianyar 2016

Gambar 3.4 Areal Tanaman Jagung di Kabupaten Gianyar

Jika dibandingkan berdasarkan produktivitasnya, pada tahun2011 produktivitasjagung mencapai nilai tertinggi yaitu sebesar 6,049 ton/ha.

Kemudian terus menurun sampai tahun 2015 hanya mencapai2,93I ton/ha. Hal ini diperparah lagi dengan turunnya luas panen, sehingga total produksi tahun 2015 hanya mencapai 727,07 ton. Diharapkan dengan adanya program “upsus pajale” (upaya khusus padi, jagung, dan kedele) total produksi dan produktivitas jagung bisa meningkat.

C. Produksi Umbi-umbian

Ubi kayu dan ubi jalar termasuk 2 (dua) diantara enam komoditi nasional palawija yang mendapat perhatian pemerintah. Ubi kayu dan ubi jalar selain sebagai bahan makanan masyarakat, juga marupakan bahan dasar tepung untuk keperluan pembuatan kue. Seiring dengan kemajuanjaman, keberadaannya terkadang kurang menarik minat masyarakatsebagai penambah penghasilan rumah tangga. Kecenderungan petanimenanam ubi kayu dan ubi jalar hanya untuk produksi daunnya dari pada umbinya.Karena daunnya bisa dipanen setiap hari, sedangkan umbinya hanyabisa dipanen setiap enam bulan.

Gambar 3.5 Produksi Ubi Kayu dan Ubi Jalar di Kabupaten Gianyar

Secara umum produksi ubi kayu di Kabupaten Gianyar juga berfluktuasi. Pada tahun 2015 produksi ubi kayu sebanyak 3.815,90 ton dengan produkivitas terendah 16,257 ton/ha. Namun karena luas panen meningkat, maka total produksi juga meningkat dibanding tahun 2014.

Tebel 3.3. Luas Panen dan Produksi Ubi Kayu di KabupatenGianyar Tahun 2006- 2015

Tahun LuasPanen

(Ha) Produksi

(Ton) Rata-rataProduksi (Ton/Ha)

2006 291 7.565,54 25,998

2007 307 7.757,70 28,006

2008 223 4.634,58 20,783

2009 262 5.438,75 20,759

2010 310 6.519,36 21,030

2011 235 4.119,78 17,531

2012 258 4.397,00 17,043

2013 236 4.782,30 20,264

2014 179 2.910,00 16,257

2015 247 3.815,90 15,449

Sumber : BPS Kab. Gianyar 2016

Tidak berbeda dengan produksi ubi kayu, produksi ubi jalar juga mengalami fluktuasi. Penurunan total produksi yang sangat tajam terjadi dari tahun 2014 ke tahun 2015 hanya mencapai 746,05 ton, dengan produktivitas terendah hanya mencapai 5,921 ton/ha.

Tabel 3.4. Luas Panen dan Produksi Ubi Jalar di Kabupaten Gianyar Tahun 2006-2015

Tahun Luas Panen

(Ha) Produksi (Ton) Rata-rata Produksi (Ton/Ha)

2006 469 7946,02 16,942

2007 405 5982,02 14,770

2008 295 4520,79 15,325

2009 353 8803,98 24,940

2010 468 8565,91 18,303

2011 380 2115,27 5,556

2012 447 7447,47 16,661

2013 325 5694,33 17,521

2014 198 2660,92 13,439

2015 126 746,05 5,921

Sumber : BPS kab. Gianyar 2016

D. Produksi Kacang Kacangan

Produksi kacang tanah di Kabupaten Gianyar terus mengalamipenurunan sejak 3 (tiga) tahun terakhir. Pada tahun 2014 produksi kacang tanah sebesar 168 Ton dengan luas panen seluas 120 hektar. Sedangkan pada tahun 2013 produksi kacang tanah sebesar 405,33 Ton, dengan luas panen seluas 295 hektar. Terjadi penurunan produksi dan luas areal dari tahun 2013 ke tahun 2014. Syukurnya tahun 2015 terjadi peningkatan luas areal dan peningkatan produksi menjadi 198,80 ton.

Tabel 3.5. Luas Panen dan Produksi Kacang Tanah diKabupaten Gianyar Tahun 2006- 2015

Tahun Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Rata-rata Produksi (Ton/Ha)

2006 520 866,25 1,666

2007 831 1.376,03 1,656

2008 556 674,48 1,213

2009 486 897,89 1,848

2010 485 580,41 1,197

2011 304 580,40 1,204

2012 463 662,00 1,430

2013 295 405,33 1,374

2014 120 168,00 1,400

2015 142 198,80 1,400

Sumber : BPS Kab. Gianyar 2016

Produksi kedelai pada tahun 2015 mengalami penurunan dibanding tahun 2014. Penurunan terjadi pada luas areal penanaman maupun pada produktivitasnya. Kondisi di lapangan, petani cenderung menanam padi pada lahan sawahnya selama kondisi air irigasi memungkinkan. Petani beranggapan, menanam padi jauh lebih menguntungkan dibanding dengan palawija seperti kacang tanah, kedele, dan jagung.

Tabel 3.6. Luas Panen dan Produksi Kedelai diKabupatcn Gianyar Tahun 2006- 2015

Tahun LuasPanen (Ha) Produksi (Ton) Rata- rataProduksi (Ton/Ha)

2006 772 1.239,11 1,605

2007 822 1.570,55 1,911

2008 878 1.507,18 1,717

2009 1.760 2.955,08 1,679

2010 507 824,63 1,626

2011 313 824,63 1,625

2012 696 947,95 1,362

2013 391 523,16 1,338

2014 1.025 1.466,78 1,431

2015 928 988,32 1,065

Sumber : BPS Kab. Gianyar 2016

Gambar 3.6 Tanaman Kedelai di Kabupaten Gianyar

E. Produksi Buah-buahan dan Sayur-sayuran

Dari beberapa komoditas tanaman buah-buahan, tanaman jeruk merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Gianyar dan terus mengalami peningkatan produksi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Sentratanaman jeruk di Kabupaten Gianyar terdapat di Kecamatan Payangan dan Kecamatan Tegallalang. Selain tanaman jeruktanaman pisang juga merupakan tanaman yang diminati olehpetani, ini dapat dilihat dari produki yang'dihasilkan sekitar 7.815 Ton selama tahun 2014 mengalami peningkatan sekitar 509 Tonjika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tanaman buah-buahan yang mengalami peningkatan produksi pada tahun 2014jika dibandingkan tahun 2013 antara lain tanaman duku/langsat, nenas, salak, sirsak, sukun dan melinjo.

Gambar 3.7. Sentra Tanaman Jeruk di Kabupaten Gianyar

Sementara tanamanbuah-buahan yang mengalami penurunan produksi jika dibandingkan tahun sebelumnya adalah alpukat, mangga rambutan, jambu biji, papaya. Tanaman yang mengalamipenurunan produksi yang cukup tajam yaitu tanaman duriansekitar 8.055 Ton.

Sedangkan untuk komoditisayuran yang mengalami peningkatan antara lain kubis dan cabai besar dengan masing-masing peningkatan sebesar 103,5 Ton dan 13,5 Ton.

Belum optimalnya produktivitas tanaman pangan di atas, perlu dilakukan usaha memantapkan ketahanan pangan secara mandiri guna terpenuhinya pasokanpangan dan terjaminnya akses pangan sesuai kebutuhan bagi seluruh masyarakatdengan mengandalkan produksi sendiri dan kemampuan daya beli masyarakat(Sayafa’aat dkk, 2005).

Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atassub-sistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Kinerja dari masing-masing sub- sistemtersebut tercermin dalam hal stabilitas pasokan pangan, akses masyarakat terhadappangan, serta pemanfaatan pangan (food utilization) termasuk pengaturan menu dandistribusi pangan dalam keluarga. Apabila salah satu atau lebih, dari ke tiga sub-sistemtersebut tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi masalah kerawanan pangan yangakan berdampak peningkatan kasus gizi kurang dan/atau gizi buruk. Dalam kondisidemikian, daerah dapat dikatakan belum mampu mewujudkan

ketahanan pangan. Aspek ketersediaan pangan berkaitan dengan fungsi utama pertanian sebagaipenghasil pangan.

Keberhasilan program pertanian akan menjamin terpenuhinyapangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas, kualitas,keragaman, dan keamanannya. Ketersediaan pangan yang cukup tidak menjamin ketahanan pangan.Pendekatan ketersediaan pangan sebagai gambaran ketahanan pangan menjadi kurangtepat jika tidak memperhitungkan akses individu atau rumah tangga terhadap pangan.Bahkan pendekatan ketersediaan pangan secara implisit mengasumsikan bahwaaksesibiltas setiap individu atau rumah tangga terhadap pangan yang tersedia tidakmengalami hambatan. Kenyataan menunjukkan bahwa asumsi ini yang sulit dipenuhi diIndonesia (Saragih, 2001). Dengan demikian selain upaya peningkatan produksi panganuntuk meningkatkan ketersediaan pangan perlu juga upaya untuk meningkatkanaksesibilitas rumah tangga terhadap pangan. Guna menjaga dan meningkatkankemampuan produksi pangan daerah diperlukan kebijakan yang kondusif meliputi insentifuntuk berproduksi secara efisien dangan pendapatan yang memadai, serta kebijakanperlindungan dari persaingan usaha yang merugikan petani. Menurut Saragih (2001) kebiasaan atau pola makan bukan merupakan sesuatuyang tidak dapat dirubah. Jika ada sesuatu yang terarah dan dilaksanakan secarakonsisten, maka kebiasaan makan nasi dapat dirubah. Mengembalikan pola konsumsikepada pangan lokal melalui diversifikasi konsumsi merupakan pilihan strategis untukmeningkatkan pemanfaatan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pangan beras, sehingga secara bertahap dapat menciptakan kemandirian pangan di Kabupaten Gianyar.

Upaya diversifikasi konsumsi pangan lokal harus dilakukan mulai dari merubahpersepsi masyarakat yang keliru mengenai pangan lokal sebagai pangan inferior, tidakbergensi menjadi pangan yang superior dan bergisi. Selain itu perlu upayamengembangkan sistem pengolahan pangan lokal menjadi lebih praktis, menarik danbergizi. Perlu ada gerakan bersama untuk cinta dan bangga konsumsi pangan lokal.Upaya ini harus dikemas dalam suatu sistem yang terpadu dan terkoordinasi mulai darisistem

pengadaan benih, pengusahaan, pengolahan, pemasaran, dan konsumsi panganlokal.

Dalam dokumen Untitled - Universitas Udayana (Halaman 72-82)