Bab 11. Model Pembangunan Ekonomi ( P.Seimbang & P.Tidak Seimbang)
12.5 Asal mula Ekonomi Dualistis
(Dualistic of Economics)
Diakhir abab ke 19 negara-negara industri baru Eropa barat telah meluaskan imperialisnya hampir merata diseluruh belahan dunia terutama di negara sedang berkembang Amerika selatan, Afrika dan Asia pada saat itu kecuali Jepang. Seluruh daratan dibenua Asia dan benua Afrika serta Amerika Latin merupakan daerah koloni dari negara Eropa Barat pengecualian Amerika Serikat, Kanada dan Australia serta Afrika Utara adalah daerah migrasi baru bagi penduduk Eropa saat itu. Seperti diketahui, mulanya mereka datang hanya untuk berdagang tetapi kemudian memperoleh kekuasaan mutlak. Sehingga bangsa Eropa dapat memperoleh hasil bumi yang lebih banyak serta kemudian memerintahkan rakyat untuk menanam bahan yang mereka butuhkan. Misalnya di Indonesia, dahulu petani diharuskan menanam kopi, gula, teh dan rempah-rempah untuk kepentingan Belanda. Sama halnya juga terdapat di koloni Portugis (Afrika selatan) dimana para petani diharuskan untuk menanam kopi di Angola dan kapas di Mozambique. Sementara hasil pertanian harus dijual kepada penjajah dengan harga yang sudah ditentukan lebih dahulu oleh pembeli. Hal ini tentu akan menyebabkan berkurangnya produksi pertanian penyediaan bahan makanan pokok.
Negara sedang berkembang pada akhir abad 19, dimana produksi serta ekspor terutama adalah produksi primer yaitu bahan makanan dan bahan mentah. Bahan tersebut merupakan satu-satunya yang di ekspor. Semua kegiatan perekonomian dalam negeri terutama hanya ditujukan untuk ekspor sementara kepentingan penduduk setempat tidak diperhatikan. Kian lama ekspor mereka hanya tertuju kepada beberapa bahan mentah yang diperlukan bagi kolonialis saja sehingga tidak banyak jenisnya bahkan sering hanya satu jenis saja. keadaan ini akan mengganggu kestabilan perekonomian karena sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga dunia. Pada masa itu perekonomian negara sedang berkembang sangatlah terpadu dengan perekonomian dunia yang di kuasai oleh negara-negara Eropa barat.
Investasi di negara sedang berkembang oleh negara kolonialis ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri yang berarti target ekspor kolonialis. Contoh Investasi di sektor pertambangan misalnya emas di Uni Afrika Selatan, tembaga di Chili, Rhodesia dan Congo. Timah di Ceylon dan Malaysia serta minyak bumi dari Indonesia dan Ceylon serta hasil dari daerah lain sebagainya. Maka investasi dibidang transport hanya ditujukan untuk melancarkan pengangkutan barang eksplorasi dari pedalaman ke negeri mereka sendiri. Sedangkan investasi yang ditujukan untuk pasar dalam negeri berkembang sangat kecil. Hal ini agar NSB tetap tergantung kepada perekonomian negara penjajah. Akibat dari politik tersebut permintaan efektif (effective demand) tidak ada, karena rendahnya produktivitas. Memang ada beberapa industri yang didirikan seperti pabrik tekstil di India, tetapi hal ini pun tidak banyak menolong untuk meningkatkan perekonomian di negara tersebut. Keengganan untuk mengadakan investasi juga karena kebanyakan investasi itu berasal dari sektor swasta, jadi mereka akan memilih proyek yang menguntungkan serta hasil produksinya memiliki nilai jual di pasar dunia serta keuntungan yang diperoleh tidak kembali ditanamkan di NSB.
Jadi sifat pokok dari perekonomian di negara sedang berkembang adalah
“ekonomi dualistis”. Yaitu industri ekspor yang terpadu dengan perekonomian dunia, yang sudah menggunakan sistem moderen dan di samping itu masih ada kegiatan yang dikelola dengan tingkat subsisten ( pertanian tradisional dan kerajinan). Kedua sektor kegiatan ini memproduksir barang untuk pasar lokal dan terpisah dari perekonomian pasar moderen. Keseluruhan hal tersebut dapat dipisahkan menjadi dua bahagian besar priode pembangunan ekonomi di NSB yaitu sebagai berikut :
1. Periode Antara Perang Dunia I dan II “Turunnya Kekuatan Barat”
Akibat perang tersebut telah membawa beberapa dampak perang bagi NSB yaitu : a. Menaikkan permintaan akan bahan mentah untuk industri dipasar dunia serta
meningkatnya produksi bahan makanan pokok ditingkat lokal NSB.
b. Pengurangan ekspor barang primer ke negara maju akibat terganggunya kelancaran transportrasi bahan baku.
Keadaan ini mendorong NSB untuk membuka industrialisasi. Seperti Chili, Uni Afrika Selatan, India dan China. dalam mengisi kekosongan ekonomi. Krisis ekonomi di NSB mencapai keadaan terburuk, dibanding tahun 1930 ketika produksi karet di Malaysia, Indonesia dan Ceylon dan lainnya justru mengalami perkembangan pesat.
Pada tahun 1932 ekspor menurun drastis, tidak ada lagi yang berani memberikan pinjaman untuk investasi kecuali pinjaman dari pemerintah terutama untuk membangun fasilitas prasarana umum. Pendapatan dari ekspor tidak ada lagi, faktor produksi banyak yang menganggur. Keadaan inilah yang mendorong NSB untuk membangun industri dasar supaya tidak tergantung lagi pada luar negeri. Sektor Industri diharapkan untuk menampung pengangguran. Pembangunan Industrialisasi dimulai, meski mempunyai ekonomi dualistis, tetapi usaha ke arah perbaikan kestabilan ekonomi sudah dilakukan.
2. Periode Sesudah Perang Dunia II “Pembangunan Internasional”
Setelah perang dunia ke II berakhir maka perubahan pandangan terhadap pembangunan ekonomi juga terjadi. Negara maju menyadari bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu tujuan penting harus dicapai bersama. Statement ini dituangkan dalam Atlantic Charter, Agustus 1941, dimana istilah kebebasan untuk berkeinginan ( freedom of needs ) suatu hak asasi. Hal ini berpengaruh terhadap semangat pemimpin negara besar. Mereka berpendapat bahwa kemiskinan akan menyebabkan ketidakstabilan perekonomian terhadap NSB yang selama perang dunia belangsung berperan mensuply negara induk berupa bahan pokok yang ditentukan oleh Amerika dan United kingdom dalam perdagangan Combined Commodity Board, yang terdiri dari wakil dari negara sekutu penghasil bahan mentah serta makanan.
Negara maju membelinya dengan cara kredit. sementara Impor barang konsumsi dan barang kapital ke NSB terbatas sekali, karena sebagian besar digunakan untuk keperluan perang. Upaya untuk membantu NSB dibentuk oleh Bank Internasional untuk rekonstruksi dan pembangunan International (Bank For Reconstruction and Development) Bank tersebut bertujuan mendorong investasi di NSB dengan jalan mengadakan jaminan. Juga didirikannya badan dunia lain seperti FAO (Food and Agriculture Organization) yang memikirkan menaikkan produksi bahan makanan dunia.
Juga ITO (International Trade Organization) yang salah satu tujuannya memajukan perdagangan serta menekankan pada penggunaan maksimum dari sumber manusia dan alam dunia. Terutama di NSB, hal itu akan menguntungkan semua negara. Di samping itu ITO juga mengajukan adanya acara kerja sama Internasional, dalam kegiatan memberi bantuan teknis bagi persiapan perencanaan pembangunan internasional dalam mengalokasikan sumber keuangan dan teknik. ITO juga menstabilisir harga produksi primer dengan jalan membentuk pasar komoditas dunia.
Belakangan ITO berubah nama menjadi WTO ( World Trade of Organization ).
Segera sesudah perang dunia II berakhir, keadaan di NSB tidak banyak mengalami kemajuan karena devisa yang mereka punyai selama perang itu tidak banyak manfaatnya. Hal ini karena harga barang impor dari Amerika naik dua kalil ipat sehingga pembangunan ekonomi mereka mengalami kelambatan, bahkan terkadang devisa digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif. Hal ini di sebabkan karena banyak beredarnya majalah dan film-film Amerika misalnya, yang menggambarkan tingkat komsumsi tinggi, sehingga timbul keinginan masyarakat NSB untuk menirunya (International minded). Hal ini terasa sekali di negara Amerika Latin dan Asia Tenggara.
Keadaan ekspor produksi barang primer nampak cendrung menurun karena adanya persaingan dari bahan sintetis. Di samping itu juga adanya sikap lebih hemat dalam penggunaan sumber alam dan juga adanya proteksi dari negara maju. Dasar untuk pertukaran dari negara sedang berkembang makin lemah terutama untuk hasil pertanian primer, karena penawaran bersifat tidak elastis. Lain halnya dengan harga barang industri negara maju, nampak terus naik karena adanya kecendrungan inflasi.
Bantuan dari Amerika untuk negara sedang berkembang memang ada, tetapi terbatas sekali dibandingkan dengan semua harapan yang hendak dicapai oleh negara tersebut.
Bantuan berupa kapital saja tidaklah cukup bila tidak disertai dengan faktor pendukung lainnya seperti ketrampilan, tenaga manusia dan kemampuan memimpin sesuai dengan rencana pembangunan. Faktor disebutkan terakhir inilah yang sangat kurang sekali di negara sedang berkembang.
Soal latihan bab 12.
1.a Sebut perbedaan diantara model pembangunan dipaksakan dan didorong.
b.Sebut perbedaan diantara model pembangunan dipaksakan dan spontan.
c.Sebut perbedaan diantara model pembangunan didorong dan spontan.
2.a Sebut persamaan diantara model pembangunan dipaksakan dan didorong.
b.Sebut persamaan diantara model pembangunan dipaksakan dan spontan.
c.Sebut persamaan diantara model pembangunan didorong dan spontan.
3.a Bagaimana dan mengapa pembangunan ekonomi di NSB bisa menjadi dualistis?
b. Apa persoalan pokok dalam pembangunan ekonomi di NSB ?
c. Dari 3 model pembangunan yaitu spontan, didorong dan dipaksakan apa saja prihal positif atas ke 3 model tersebut yang perlu diambil bagi pembangunan di NSB?
Bab. 13 Model Pembangunan Ekonomi
Topik : Model Pembangunan Sektoral Bidang Pertanian.
13.1. Peranan Sektor Pertanian.
Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi, sangatlah penting, hal ini disebabkan sebahagian besar masyarakat NSB berkerja di sektor pertanian sehingga sektor ini selalu mendapat perhatian khusus didalam penyusunan perencanaan pembangunan. Kaedahnya sektor pertanian di NSB memiliki beberapa ciri-ciri yang spesifik ( oleh sesuatu keunggulan ) dari sektor industri seperti :
1, Menyediakan kebutuhan pokok masyarakat desa dan masyarakat kota.
Sektor pertanian dipedesaan umumnya menyediakan kebutuhan hidup pokok dari seluruh masyarakat di NSB, sehingga pertambahan jumlah konsumsi dari masyarakat kota harus diimbangi penambahan produksi pertanian. Masalah yang dihadapi pertanian di NSB umumnya menyangkut pemasaran hasil produksi dimana jika harga produksi pertanian naik, misalnya akibat dari musim kemarau, maka masyarakat kota akan mengimport kekurangan kebutuhan pokok tersebut sementara jikalau harga produksi pertanian turun misalnya akibat panen raya, masyarakat kota tidak memperdulikannya, sikap egoisme dari masyarakat kota di NSB tersebut hanya mengakibatkan produksi total dari pertanian diNSB selalu gagal memenuhi target nasional produksi pertanian.
2. Menyediakan bahan baku bagi keperluan industri.
Sektor pertanian perkebunan merupakan sektor yang menyediakan bahan baku bagi industri pertanian, disini yang selalu terlihat dari kelemahan sektor pertanian seperti kenaikan akan permintaan tidak dapat diimbangi dengan penambahan penawaran seketika sehingga petani tidak dapat banyak menikmati keuntungan yang maksimal ( batasan alam akan produksi ). Selain itu petani selalu menghadapi masalah permodalan ketika hendak bercocok tanam.
3. Menyediakan input tenaga kerja bagi sektor industri dan sektor lainnya.
Dua pertiga dari masyarakat NSB adalah berkerja disektor pertanian, sehingga apabila diperlukan sejumlah tenaga kerja bagi sektor industri, maka sejumlah pekerja dari sektor pertanian akan ditarik dengan cara perbedaan tingkat upah antar sektor ekonomi.
4. Dapat dengan seketika menyerap tenaga kerja (pengangguran) dalam jumlah yang besar jikalau terjadi resesi ekonomi ( sektor penyangga sosial ).
Sektor pertanian sebagai lahan pekerjaan tidak memerlukan kualifikasi pekerja seperti pendidikan formal atau pengalaman khusus, sehingga mudah menyerap tenaga kerja, berbeda dengan sektor lain yang memerlukan kualifikasi, sehingga masalah yang muncul dari hal ini biasanya adalah masalah pengangguran terselubung atau pengangguran tidak kentara.
5. Merupakan sumber modal utama bagi pertumbuhan ekonomi moderen.
Memang tidak semua negara harus terlebih dahulu membangun sektor pertaniannya, contohnya seperti Singapore dan Korea selatan, kedua negara Asia tersebut perekonomiannya tumbuh dari sektor jasa dan industri, namun kebanyakan negara maju pertumbuhan ekonominya dimulai dari pembangunan sektor pertanian dimana pembentukan modal merupakan proses investasi yang bersumber dari pendapatan atau keuntungan produksi pertanian,.