Bab 15. Syarat Umum Pembangunan Ekonomi
15.6. Penyerapan Modal
Setiap masyarakat disuatu negara akan mempunyai batas kemampuan dalam penyerapan modal (capital absorbtion capacity). Kapasitas ini ditentukan oleh dua hal yaitu : disatu pihak ditentukan ada atau tidaknya faktor produksi komplementer yang bekerja sama dengan modal, dan di lain pihak, oleh syarat yang diperlukan untuk menghindari inflasi dalam mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran. Pada umumnya keterbatasan kapasitas menyerap modal di NSB disebabkan : Kurangnya teknologi. Kurangnya tenaga ahli, Tingkat mobilitas yang rendah. Terbatas jumlah tenaga mampu dan terampil menjalankan usaha, sehingga mengakibatkan turunnya produktivitas modal marjinal (marginal productivity of capital) nilainya lebih besar di NSB dari pada negara maju. Tetapi bila investasi ditambah terus maka marginal productivity akan turun dengan cepat, karena adanya rintangan (bottlenecks) dalam produksi.
Apabila akumulasi modal bertambah dengan cepat, maka tindakan diperlukan ialah mencoba untuk menaikkan tersedianya faktor lain yang bekerja sama dengan modal.
Bila rintangan telah dapat diatasi maka investasi dapat ditentukan berdasar kriteria investasi rasional. Sekali perkembangan itu bergerak kearah maju, maka kapasitas untuk menyerap modal semakin besar. Variasinya sebagai berikut :
Kalau akumulasi modal melebihi kemampuan penyerapan, seperti terjadi di NSB, maka setiap tambahan investasi cenderung menimbulkan inflasi. Hal ini karena fasilitas yang tersedia belum cukup. Padahal pembangunan ekonomi akan terganggu jika terjadi inflasi. Namun sebetulnya inflasi tersebut merupakan tabungan paksa dan bahkan inflasi yang mempunyai laju sedang sangatlah baik untuk perkembangan. Tetapi meskipun ada dorongan inflasi, karena dalam masyarakat selalu ada sumber yang belum digunakan dengan baik maka inflasi tersebut praktis tidak bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya harus dicari sumber ekonomi atau faktor komplementer mendukung faktor produksi baru. Tetapi kebijakan menetapkan harga yang lebih tinggi sangat perlu untuk memindahkan sumber dari konsumsi ke investasi. Namun demikian, inflasi tetap saja pembentukan modal yang salah arah ( misdirection of capital formation ). Misalnya, arah investasi ke sektor pertanian, tetapi karena harga-harga naik, investasi yang paling menguntungkan pada waktu itu ialah perdagangan, maka investasi selanjutnya tidak lagi ke sektor pertanian, tetapi untuk spekulasi perdagangan. Lagi pula sekali inflasi muncul biasanya sukar mengendalikannya. Keadaan ini pernah dialami oleh Brazillia, Chili dan Indonesia. Sehingga dapat dikatakan bahwa sangat berbahaya untuk membiayai investasi dengan cara inflasi karena alasan objektif :
1. Tabungan sukarela tidak banyak. 2. Pinjaman jangka panjang kurang banyak.
3. Menyebabkan investasi yang salah arah, di mana proyek yang lebih produktif adalah jangka pendek sifatnya sebab tidak stabilnya harga.
4. Efisiensi produksi berkurang, karena keuntungan mudah diperoleh (inflasi) 5. Menyebabkan adanya alokasi yang salah terhadap faktor-faktor produksi
Kalau akumulasi modal lebih kecil dari pada kemampuan negara untuk menyerap modal maka akan timbul kesulitan terutama di bidang neraca pembayaran karena membutuhkan devisa untuk impor barang yang diperlukan. Jadi tingkat perrtumbuhan hanya akan berkisar kepada kemampuan ekspor dan impornya saja. Impor terutama untuk waktu dekat berupa barang konsumsi dan bukan barang modal. Namun harga barang impor cenderung naik sehingga biaya untuk menghasilkan barang ekspor naik.
Akibatnya ekspor menurun dan impor barang modal akan semakin menurun juga. Dalam hal ini pemerintah sedikit banyak dapat mengatasi keadaan yaitu, dengan mengadakan pembatasan impor, peraturan devisa, pajak masuk barang konsumsi (impor) dan sebagainya. Jadi untuk pembangunan ekonomi harus ada kemampuan dari dalam masyarakat untuk dapat menyerap tambahan modal dan stabilitas ekonomi.
15.7 Stabilitas Dan Nilai Lembaga Lembaga yang Ada.
Kelima faktor tersebut diatas ( 15.2. sampai 15.6) adalah bersifat ekonomi.
Sedangkan stabilitas dan nilai lembaga-lembaga yang ada bersifat nonekonomi. Namun faktor ini tidak kalah penting dalam peranan yang dimainkannya untuk pembangunan ekonomi. Pola investasi merupakan hasil pertimbangan politis, kebudayaan, agama, dan lain-lainnya. Jadi pokoknya syarat-syarat psikologis dan sosiologis untuk pembangunan sama pentingnya dengan syarat ekonomis. Pembangunan ekonomi dapat melaju cepat bila diciptakan kebutuhan-kebutuhan baru, motif-motif baru, metode produksi baru, demikian pula lembaga yang ada dalam masyarakat. Bila ada halangan agama mengenai pembangunan tersebut, maka sebaiknya diadakan penyesuaian dengan tingkat pembangunannya. Harus disadari bahwa manusia dapat mengusai alam. Alam harus dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang lebih baik dan tujuan ini haruslah merupakan bagian dari kebudayaan manusia.
Untuk merubah adat istiadat atau cara hidup lama ; haruslah berhati-hati sebab setiap ada perubahan gaya hidup dimasyarakat harus selekasnya diperhatikan apakah sebab dan dampaknya. Perhatian itu dari cara dan kebiasaan hidup manakah yang harus diubah, kemudian bagaimana cara mengubahnya, misalnya dengan pendidikan, atau dengan demontrasi visual, hal ini harus sering dilakukan tetapi dengan hati-hati.
Sebab kemakmuran ekonomi itu hanyalah sebagian saja dari kemakmuran sosial.
Konsekuensinya, kriteria ekonomi dari investasi (economic criteria of investment) tidaklah cukup untuk digunakan sebagai patokan kebijaksanaan investasi. Misalnya untuk investasi di sektor industri yang menumbuhkan banyak tenaga ahli maka layak bila mengirimkan anak-anak pada usia muda ke sekolah di mana mereka tidak hanya mendapat kepandaian tetapi juga mendapatkan nilai baru. Untuk menggunakan mesin, komputer yang canggih, Semuanya ini dimaksudkan untuk menambah jumlah wiraswasta. Jadi cara hidup yang lama harus ditinggalkan dan diganti dengan yang baru dan disesuaikan dengan kebutuhan. Mereka dididik hingga dapat membuka fikiran dan kemudian diharapkan dapat menemukan hal baru yang dapat menaikkan produktivitas.
Wiraswasta diharapkan, mempunyai sifat dan kemampuan : 1. Memiliki kemampuan untuk mengenali peluang dalam berbagai pasar.
2. Memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan alternatif dengan kreatifitas.
3. Memiliki kemampuan mengkombinasi elemen secara rasional dalam keputusannya.
Jadi wiraswasta harus dapat mandiri dalam mengatasi kesulitan yang ada dan bertanggung jawab terhadap tindakannya. Keadaan sosial dan ekonomi mempengaruhi kemampuan wiraswasta ini. Dalam masyarakat yang tradisinya masih kuat, maka segala perbuatan/tindakan orang dalam masyarakat tersebut masih terikat dengan tradisinya.
Masyarakat semacam ini tidak banyak diharapkan untuk menghasilkan wiraswasta. Lain halnya dalam masyarakat dinamis, orang terdorong untuk menemukan cara-cara baru.
Di negara sedang berkembang perlu diciptakan dorongan untuk menggairahkan motif wiraswasta ini. Usaha tersebut sangat kompleks tidak hanya organisasi sosial lainnya seperti kasta, sistem irigasi, sistem kredit dan sistem panen. Sehingga keadaan sosial dan ekonomi memungkinkan untuk diadakan pembangunan. Jadi persoalan bukan sejauh mana perubahan ekonomi itu dapat dilakukan tetapi sejauh mana perubahan-perubahan kebudayaan itu dapat diterima oleh penduduk dan berapa kecepatannya sehingga pembangunan ekonomi dapat dilaksanakan.
Catatan : Latihan soal untuk bab 15, tersaji pada halaman 110.
i. Kata Pengantar.
Diktat mata kuliah “Ekonomi Pembangunan” edisi satu, ditulis untuk keperluan Mahasiswa Universitas Medan Area dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan dengan beban kredit 2 SKS pada Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum. Tujuan dari penulisan diktat ini adalah sebagai upaya untuk dapat memberikan pemahaman lebih mendasar dari pemaparan yang sederhana mengenai pembangunan di Negara Sedang Berkembang seperti Indonesia, Sehingga contoh soal ataupun contoh kasus yang diberikan telah disesuaikan dengan kenyataan dan kondisi pada saat penulisan.
Konsep penulisan diktat adalah didasarkan dari pengalaman penulis didalam mengasuh mata kuliah Ekonomi Pembangunan di Fakultas Ekonomi Universitas Medan Area semenjak tahun 1992. Ditambah dengan pengalaman dalam mengikuti ceramah, diskusi dan seminar serta kuliah mengenai Ekonomi pembangunan, baik didalam atau diluar negeri, Namun demikian tetap disadari akan adanya sesuatu kekurangan atau ketidak jelasan didalam penyampaian materi diktat ini, maka untuk itu alangkah baiknya jika Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Ekonomi Pembangunan juga membaca buku-buku Ekonomi Pembangunan lainnya agar dapat lebih baik memahami materinya.
Secara ringkas pada Bab 1 diberikan pemahaman umum mengenai Ilmu Ekonomi, sebab buku diktat ini juga dipakai oleh mahasiswa Fakultas Hukum sehingga alur sejarah mengenai ilmu Ekonomi juga perlu dipahami dari awalnya. Sedangkan pada Bab 2 mengulas tentang indikator perekonomian, diteruskan Bab 3 mengulas tentang arti dan keseimbangan ekonomi sebagai tujuan akhir dari pembangunan. Selanjutnya pada Bab 4 dibahas mengenai teori dasar pembangunan ekonomi dari model klasik hingga model ekonomi modern, dilanjutkan dengan Bab 5 yang menguraikan tentang perencanaan pembangunan. Pada Bab 6,7,8,9,10 dibicarakan mengenai masalah- masalah pokok dihadapi oleh N.S.B dan pada Bab 11,12,13,14 dibicarakan mengenai model-model serta konsep pembangunan di Negara Sedang Berkembang. Terakhir pada bab 15 membahas syarat syarat dalam pembangunan.
Ucapan terima kasih yang tidak terhingga disampaikan kepada seluruh keluarga dan kerabat yang telah banyak membantu dalam penulisan diktat ini. Khususnya kepada ketiga ananda tercinta yakni Tara, Andri serta Anggi yang mana mereka telah memberi waktu kepada penulis untuk menyelesaikan diktat edisi satu ini, kemudian terimakasih kepada istriku tercinta Drg.Lina Herlina yang telah memberikan dorongan motivasi untuk menulis diktat kuliah sederhana ini. Akhirnya ucapan terima kasih sebesarnya kepada Almamater-ku “Universitas Medan Area” yang telah memberi fasilitas dalam penulisan.
Medan, 06 Agustus 2004.
Penulis, M. Akbar Siregar
v Daftar Kepustakaan.
Adelman Irma, Theories Of Economic Growth and Development , Stanford University Press California - 1961.
Bank Indonesia, Seanza Lectures , Development Studies,1980.
---, Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Sumatera Utara 2000.
Badan Pusat Statistik, Indikator Sosial Ekonomi Nasional, 2000.
---, Sumatera Utara Dalam Angka, BPS Medan, Katalog BPS No.1403.12, 2000. (BPS - 2000).
Bendavid and Vall Avrom, Regional Economics Development, Analysis For Practioners, 1991, Fourth edition, New York,1991.
Benyamin Higgins, Economics Development Problem Principle and Policies, Norton & Co, 1975.
Blakelly Edward, Planning Economics Development Theory and Practice, Second
Edition (1989).
Boediono, Teori Pertumbuhan Ekonomi , BPFE, Jogyakarta, 1982.
Charles.K.Wilber, The Political Economy of Development and Under Development, Third Edition, Random House inc,1983.
Fried.R.Glahe & Dwight.R.Lee, Micro Economics Theory and Applications, Harcourt Brace Jovanich inc ,1981.
Hall Hill, Ekonomi Indonesia, RajaGrafindo, Jakarta, 2001.
Harian Bisnis Indonesia, Evaluasi APBN 1998/1999 dan RAPBN 1999/2000, 12 April 2000.
Jhon.R.Weeks , Population and Introduction To Concepts and Issues, Woodsworth Publishing & Co.
Krugman Paul. R & Maurice Obstfield, Ekonomi Internasional,
Terjemahan Edisi 2, Rajawali Pers,Jakarta. 1991.
Laurence H.Meyer, Macro Economics A Model Building Aproach, South Western Publishing 1980.
Lewis.C.Solmon, Economics, Third Edition, Addison Wesley Publishing & Co,1980.
Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan, Edisi ke 2. Penerbit STIE- YPKN.
Jogjakarta-1992.
---, Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, BPFE, Yogyakarta, 1999.
Llyod.G.Reynolds, Macro Economics Analysis and Policy ,” 5th Edition,
Richard.D.Irwin.Inc 1985.
Michael.P.Todaro, Economics Development In the third World, Fourth edition, Longman Pers, NewYork – London. 1988.
M.L, Jhingan, Ekonomi Pembangunan Dan Perencanaan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000.
Meirr Gerald M & Baldwin R.E, Economics Development Theory History and Policy, Jhon Willey Co, 1960.
Norman Gemmell, Ilmu Ekonomi Pembangunan beberapa Survai, LP3ES,1986.
Paul A.Samuelson & William Nordhaus, Economics, 13 th edition, Mc Grawhill Inc, New York, 1989.
Tulus Tambunan, Transformasi Ekonomi di Indonesia, Teori dan Penemuan Empiris, Salemba Empat, Edisi Pertama, Jakarta, 2001.
William.H.Branson, Macro Economics Theory & Policy, 2nd Edition.AITBS 2001.
World Bank, Working Paper, The Quality Of Growth, Alih Bahasa, Marcus Prihminto, P.T Gramedia Pustaka 2001.
World Development Report (1990), Ofxord University Pers 1990.