14.1 Interprofessional Education (IPE)
Pelaksanaan praktik kolaborasi interprofesional dapat dibentuk sejak dalam pembelajaran melalui pendidikan interprofesional. Salah satu tujuan penerapan pendidikan interprofesional adalah bahwa mahasiswa dari berbagai pendidikan profesi kesehatan berlatih dalam pendidikan dan keterampilan mereka, juga berproses mengeksplorasi batasan dari praktik profesi mereka. Pada saat bersamaan, masing-masing mahasiswa dari berbagai pendidikan profesi akan belajar bagaimana menciptakan hubungan interprofesional yang efektif melalui berbagai pengetahuan dan keterampilan kolaboratif.(Putriana and Saragih, 2020)
Masalah kesehatan yang kompleks membutuhkan pelayanan kesehatan yang kompleks pula untuk menyelesaikannya. Penyelesaian masalah kesehatan yang kompleks tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja, namun juga secara global sehingga dibutuhkan keterlibatan antar profesional. Pendidikan interprofesional adalah suatu kegiatan yang dapat tercipta ketika terdapat dua atau lebih mahasiswa profesi dengan latar belakang pendidikan berbeda yang belajar tentang, dari dan bekerjasama satu sama lain guna mencapai tujuan yang sama untuk memungkinkan kolaborasi yang efektif dan meningkatkan hasil kesehatan. Pendidikan interprofesional merupakan bentuk pembelajaran di mana berfokus pada belajar dengan, dari, dan tentang masing-masing profesi sehingga dapat mengembangkan kerjasama antara dua atau lebih profesi kesehatan, demi terwujudnya pelayanan pasien yang lebih optimal.(O’Leary, Salmon and Clifford, 2020)
Prinsip – prinsip pendidikan interprofesional antara lain :
1. Mengutamakan kebutuhan pasien, keluarga dan komunitas dengan berpedoman pada best practices sepanjang proses pengajaran dan pembelajaran guna meningkatkan mutu pelayanan dan kesejahteraan mereka.
2. Setiap profesi mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan bekerja dengan tanpa memandang kekuasaan dan status antar profesi.
3. Untuk kepentingan belajar dan bekerja, antar profesi harus menghormati keunikan, perbedaan, dan keanekaragaman setiap profesi dengan cara berkontribusi yang spesifik dari tiap profesi dalam proses pembelajaran dan praktik.
4. Mendorong kesetaraan antar profesi dalam lingkungan belajar dengan cara menyepakati aturan-aturan dasar, serta menanamkan nilai-nilai dan kaidah-kaidah interprofesional dalam proses pembelajarannya.
Pendidikan interprofesional dalam pelayanan kesehatan dapat diciptakan melalui peran antar kelompok mahasiswa profesi seperti bidan, perawat, dokter, dokter spesialis kandungan, ahli gizi, farmasi, psikolog, dan profesi lainnya. Beberapa manfaat pendidikan interprofesional bagi mahasiswa antara lain :
1. Mahasiswa mendapatkan gambaran tentang peran mereka sebagai tenaga kesehatan 2. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk membandingkan peran mereka dengan
profesi kesehatan lainnya
3. Mahasiswa mendapatkan kesempatan interaksi positif antar profesi lain dan juga tim 4. Mahasiswa terdorong untuk saling belajar dengan, dari, dan tentang berbagai profesi
175 5. Meningkatkan pemahaman tentang pengetahuan dan keterampilan yang memerlukan
kerja secara kolaborasi
6. Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang masalah yang dihadapi antar tim 7. Mahasiswa mendapatkan kesempatan mengeksplorasi bagaimana pengelolaan konflik
dan menyelesaikan masalah
8. Mahasiswa dapat berdiskusi tentang kolaborasi interprofesional baik dengan sesama mahasiswa, perawat, klien, keluarga dan masyarakat
9. Mahasiswa memahami pentingnya kolaborasi interprofesional dalam profesi dan lingkungan kerja guna memberikan pelayanan yang maksimal untuk pasien/klien
14.2 Interprofessional Collaboration (IPC)
Interprofessional Collaboration (IPC) atau kolaborasi interprofesional adalah proses dalam mengembangkan dan mempertahankan hubungan kerja yang efektif antara mahasiswa, praktisi, pasien/keluarga serta masyarakat untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan.(Keumalasari, Yetti and Hariyati, 2021) Tujuan pelaksanaan kolaborasi interprofesional ini dipusatkan pada kepentingan dan kebutuhan pasien sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik antar profesi dan juga dengan klien. Kompetensi dari praktik kolaborasi interprofesional menurut Canadian Interprofessional Health Collaborative (2010) meliputi : 1. Komunikasi interprofesional
2. Pemahaman peran masing-masing profesional termasuk pengetahuan dan keterampilan 3. Pelayanan berdasarkan kebutuhan pasien/klien
4. Kemampuan bekerja dalam tim (berkolaborasi/bersama) 5. Kemampuan leadership
6. Kemampuan menyelesaikan konflik antar profesional
Upaya meningkatkan keselamatan pasien dapat diciptakan dengan penerapan kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan. Kolaborasi interprofesional ini bermanfaat untuk mencegah tumpang tindihnya peran para profesional kesehatan dalam penyelesaikan masalah pasien, mengurangi tingkat komplikasi dan keselamatan, mengurangi lama perawatan serta menurunkan angka perawatan. Beberapa studi mengungkapkan bahwa kegiatan kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan ini memiliki dampak positif dalam hal efisiensi (misalnya lama rawat inap, biaya) dan efektivitas (misalnya kepuasan pasien, hasil klinis).(Aquino et al., 2016)
Kegiatan kolaborasi interprofesionalisme tidak hanya dilangsungkan dalam pemberian pelayanan dalam satu tempat pelayanan kesehatan namun juga dapat dilangsungkan antar tingkatan layanan dalam suatu komunitas. Hal ini terutama diperlukan ketika ibu hamil memerlukan layanan yang lebih kompleks dari satu tingkat perawatan ke tingkat perawatan lainnya. Bidan komunitas merupakan provider yang ditempatkan di lingkungan praktik untuk memberikan perawatan primer, sementara provider di rumah sakit memberikan perawatan sekunder dan tersier. Bidan komunitas dan dokter spesialis kandungan di layanan sekunder dan tersier adalah pemberi layanan profesional yang mandiri. Namun demikian, mereka perlu mengoordinasikan kegiatan untuk mendukung ibu selama kehamilan seperti berbagi informasi terkait kondisi kesehatan ibu hamil.
Salah satu contoh kegiatan kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kebidanan kehamilan adalah program Antenatal Terpadu (ANC Terpadu). Program pelayanan ANC Terpadu adalah pelayanan kehamilan komprehensif yang terintegrasi dengan program pelayaan kesehatan lain guna mewujudkan pelayanan antenatal yang berkualitas. Program yang terintegrasi dengan program ANC Terpadu antara lain :(Kemenkes RI, 2021)
1. Program gizi termasuk pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil, pemberan tablet tambah darah, penanggulangan ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK);
2. Program pengendalian HIV, Sifilis dan Hepatitis B
3. Program pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM)
176 4. Program kesehatan jiwa
5. Program pengendalian malaria pada daerah yang endemis 6. Program pengendalian Tuberculosis (TBC)
Gambar 14. 1: Alur Pelayanan Antenatal Terpau di Puskesmas
Sumber : Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu(Kementrian Kesehatan RI, 2020) Dalam pelaksanaannya ANC Terpadu melibatkan berbagai profesi seperti bidan, dokter, dokter gigi, ahli gizi, ahli laboratorium medik, tenaga kesehatan masyarakat, hingga psikolog.
Kolaborasi berbagai tenaga kesehatan sangatlah penting untuk menunjang keberhasilan program tersebut. Kolaborasi antar profesi kesehatan akan menigkatkan akses dan koordinasi terkait asuhan atau pelayanan yang akan di berikan kepada pasien/klien sebagai sebuah tim.
Sikap profesional, kemampuan manajerial, pelayanan yang optimal, dan fokus kepada tujuan layanan akan membuat kolaborasi interprofesional semakin berhasil.(Lemaking and Jap, 2019) Dalam pelaksanaannya, kegiatan IPE dan IPCP tidak selalu berjalan dengan lancar. Kedua kegiatan tersebut sangat dipengaruhi oleh sikap profesionalisme antar tenaga kesehatan dan mahasiswa kesehatan. Cara pandang serta pola pikir yang berbeda antar tenaga kesehatan merupakan salah satu penghambat kegiatan IPE dan IPCP. Misalnya persepsi atau cara pandang sebuah arahan dari dokter kepada perawat, yang mana masih ada perbedaan cara pandang arahan tersebut sebagai kolaborasi ataukah perintah. Faktor lain yang dapat sebagai penghambat kegiatan IPE dan IPCP adalah stereotype bahwa suatu profesi lebih inferior dibandingkan profesi lainnya. Hal ini terjadi karena perbedaan tingkat pendidikan dan pengetahuan, dimana hal tersebut akan mempengaruhi kemampuan anggota profesi dalam menginterpretasikan masalah kesehatan hingga penanganan terhadap pasien. Hambatan tersebut dapat diatasi dengan diadakannya pertemuan rutin antar profesi atau pemanfaatan dan optimalisasi kegiatan ronde atau visite bersama.(Hasibuan, 2019)
14.3 Latihan Soal
1. Keuntungan pendidikan interprofesional bagi mahasiswa adalah a. Timbul gap antar mahasiswa profesi
b. Mahasiswa berkonflik dengan dirinya sendiri c. Kepercayaan diri mahasiswa menurun
d. Belajar tentang kerjasama tim dan kepemimpinan e. Saling bersikap acuh tak acuh antar profesi
2. Dampak kegiatan kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan adalah a. efisiensi lama rawat inap dan biaya perawatan
b. kepuasan pasien minimal
c. tenaga kesehatan saling menjatuhkan satu sama lain d. perawatan pasien berbasis kebutuhan provider
177 e. pendapatan pelayanan kesehatan meningkat
3. Kunci dari praktik kolaborasi interprofesional adalah a. Mampu dalam bekerja tanpa melibatkan tim b. Menyelesaikan pelayanan diluar kompetensi
c. Kemampuan menyelesaikan konflik antar profesional d. Pelayanan berpusat pada pemberi layanan
e. Mengabaikan etika profesi
4. Seorang bidan di pelayanan kesehatan primer memfasilitasi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan ANC Terpadu yang melibatkan dokter, ahli gizi, dan psikolog. Kegiatan yang dilakukan oleh Bidan tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan ..
a. Pemeriksaan rutin
b. Kolaborasi interprofesional c. Pengkajian awal
d. Kolaborasi internal e. Pemeriksaan eksternal
5. Pelayanan kolaborasi interprofesional tidak tidak akan berhasil jika tenaga kesehatan memiliki sikap
a. Profesional,
b. Kemampuan manajerial, c. Pelayanan yang optimal, d. Acuh-tak acuh
e. Fokus kepada tujuan layanan
178