BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran merupakan perpaduan dari dua kata yaitu aktivitas belajar dan mengajar. Pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang
15Saprin Efendi Dkk, “Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SD Negeri 064025 Kecamatan Medan Tuntungan”, Edu Religia, Vol. 2, Nomor 2, April-Juni 2018, h. 268.
terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung yang digunakan dalam proses belajar mengajar.16
Selain itu, dalam Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pada bab I pasal 1 dikemukakan bahwa: “Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.17 Pendapat lain mengatakan bahwa pembelajaran adalah Proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.18
Sedangkan Pendidikan Agama Islam terdiri dari tiga kata yakni pendidikan yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran da pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik. Kemudian agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia serta lingkungannya. Dan Islam adalah agama yang diajarkan oelh
16Muhaimin, Paradigma Pengertian Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 92.
17Uu Ri No. 20. Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003), h. 4.
18E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi ; Konsep, Karakteristik Dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 100.
Nabi Muhammad SAW.Berpedoman kepada kitab suci Al-qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.19 Pendapat lain mengatakan pendidikan agam islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya (kaffah), mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani atau rohani.20
Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas mengenai pengertian Pendidikan Agama Islam maka peneliti mengambil beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut:
1) Muhaimin yang mengutip GBPP PAI, bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam menyakini, memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.21
19Jumiarti dan Abdul Sattar Daulay, “Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Di SMK Negeri 1 Siabu Kabupaten Mandaling Natal”, Jurnal Darul Ilmi, Vol. 7, Nomor 1, Juni 2019, h. 140-141.
20Robiatul Adawiyah dan Hasan Baharun, “Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikannasional (Telaah Epistimologi Terhadap Problematika Pendidikan Islam)”, Jurnal Ilmiah Didaktika, Vol.19, Nomor 1, Agustus 2018, h. 37.
21Muhaimin, dkk, Strategi Belajar Mengajar, Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama, (Surabaya: Citra Media, 1996), h.1.
2) A.Tafsir Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.22
3) Sedangkan M. Arifin mendefinisikan Pendidikan Agama Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar). Jadi Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat.23
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa yang dimaksud pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang dilakukan oleh pendidik yang diarahkan kepada mengembangkan potensi dan pembentukan kepribadian peserta didik sesuai dengan ajaran Agama Islam.
b. Tujuan Pembelajaran PAI
Pada dasarnya tujuan Pendidikan Agama haruslah mencakup tiga hal yaitu: pertama tujuan bersifat teleologik, yakni kembali kepada
22Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h.130.
23Aat Syafaat; Sohari Sahrani; Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 11-16.
Tuhan, kedua tujuan bersifat aspiratif, yaitu kebahagiaan dunia sampai akhirat, dan ketiga tujuan bersifat direktif yaitu menjadi makhluk pengabdi kepada Tuhan. Oleh sebab itu apapun mata pelajarannya, maka dalam merumuskan tujuan Pendidikan Agama Islam haruslah mencakup ketiga hal tersebut yaitu agar peserta didik menjadi manusia yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk selalu kembali kepada Tuhan, dan menjadi manusia yang mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan keterampilannya untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, dan dengan keluasan ilmu pengetahuannya tersebut dapat menjadikannya sebagai manusia yang taat dan shalih, sehingga apabila kesemuanya dimiliki peserta didik, titik akhirnya adalah mewujudkan peserta didik menjadi insan kamil.24
Maka secara umum dalam kajian ini tujuan Pendidikan Agama Islam dapat digambarkan menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus.
1) Tujuan Umum
Tujuan umum pembelajaran Pendidikan Agama Islam dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
a) Membentuk akhlak yang mulia. Tujuan ini telah disepakati oleh orang-orang Islam bahwa inti dari pendidikan Islam
24Ade Imelda Frimayanti, “Implementasi Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8, Nomor 11, Tahun 2017, h. 240.
adalah mencapai akhlak yang mulia, sebagaimana misi kerasulan Muhammad SAW.
b) Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan dunia dan akhirat
c) Mempersiapkan peserta didik dalam dunia usaha (mencari rizki) yang professional
d) Menumbuhkan semangat ilmiah kepada peserta didik untuk selalu belajar dan mengkaji ilmu
e) Mempersiapkan peserta didik yang profesional dalam bidang teknik dan pertukangan.25
Sementara itu Imam Syafe’i dalam jurnalnya merumuskan tujuan umum pendidikan Islam dari Al-Qur`an kedalam empat bagian, yaitu:26
a) Mengenalkan peserta didik posisinya diantara makhluk ciptaan Tuhan serta tanggungjawabnya dalam hidup ini b) Mengenalkan kepada peserta didik sebagai makhluk
sosial serta tanggungjawabnya terhadap masyarakat dalam kondisi dan sistem yang berlaku
c) Mengenalkan kepada peserta didik tentang alam semesta dan segala isinya. Memberikan pemahaman akan penciptaanya serta bagaimana cara mengolah dan memanfaatkan alam tersebut
d) Mengenalkan kepada peserta didik tentang keberadaan alam maya (ghaib).
25Zakiah Dradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 29.
26Imam Syafe’i, “Tujuan Pendidikan Islam”, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 6, Nomor 2, November 2015, h. 6.
Selain itu, tujuan dari pendidikan Islam adalah diperolehnya pencapaian hasil yang berkepribadian Islam yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sehingga sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah SWT. yang taat dan memiliki ilmu pengetahuan yang seimbang dengan dunia akhirat sehingga terbentuklah manusia muslim yang paripurna serta berjiwa tawakkal secara total kepada Allah SWT.27
2) Tujuan Khusus
Adapun selain tujuan umum yang telah disebutkan sebelumnya, maka pembelajaran Pendidikan Agam Islam juga memiliki tujuan khusus antara lain yaitu:
a) Memperkenalkan kepada peserta didik tentang aqidah islam, dasar-dasar agama, tata cara beribadat dengan benar yang bersumber dari syari’at islam.
b) Menumbuhkan kesadaran yang benar kepada peserta didik terhadap agama termasuk prinsip-prinsiup dan dasar-dasar akhlak yang mulia
c) Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta Alam, malaikat, rasul, dan kitabkitabnhya
27Muhammad Rusmin B, “Konsep Dan Tujuan Pendidikan Islam” Jurnal Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN Alauddin Makassar, Vol. 6, Nomor 1, Januari - Juni 2017, h. 80.
d) Menumbuhkan minat peserta didik untuk menambah ilmu pengetahuan tentang adab, pengetahuan keagamaan, dan hukum-hukum Islam dan upaya untuk mengamalkandengan penuh suka rela
e) Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada Al-Qur`an;
membaca, memahami, dan mengamalkannya
f) Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam
g) Menumbuhkan rasa rela, optimis, percaya diri, dan bertanggung jawab
h) Mendidik naluri, motivasi, dan keinginan generasi muda dan membentenginya dengan aqidah dan nilai-nilai kesopanan.28 c. Problematika Pembelajaran PAI
Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi proses dan hasil interaksi belajar mengajar terdapat dua faktor yang sangat menentukan yaitu faktor guru sebagai subjek pembelajaran dan peserta didik sebagai objek pembelajaran.
1) Faktor Pendidik
a) Seorang guru (pendidik) yang tidak dapat menanamkan jiwa saling mempercayai dan persaudaraan terhadap peserta didik
28Imam Syafe’i, “Tujuan Pendidikan Islam”, Jurnal Pendidikan Islam….,h.7.
b) Tidak adanya kerjasama antara pendidik dengan orang tua peserta didik, sehingga menimbulkan pertentangan antara pendidikan yang disampaikan guru di sekolah dengan pendidikan yang dilakukan orang tua di rumah
c) Banyaknya pendidik yang kurang memiliki rasa pengabdian yang tinggi karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahtraan hidup para pendidik, maka dari itu kesejahtraan guru harus diutamakan.29
Adapun kesulitan lain yang dihadapi pendidik adalah:
a) Kesulitan dalam menghadapi adanya perbedaan individu peserta didik, yang disebabkan perbedaan IQ (kecerdasan), watak dan latar belakangnya
b) Kesulitan dalam menentukan materi yang cocok dengan peserta didik yang dihadapinya
c) Kesulitan dalam memilih metode yang tepat atau sesuai dengan materi yang dibawakannya
d) Kesulitan dalam memperoleh alat-alat pelajaran
e) Kesulitan dalam mengadakan evaluasi dan kesulitan dalam melaksanakan rencana yang telah ditentukan, karena kadang- kadang kekurangan waktu.
29Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Pendidikan Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2016), h. 34.
2) Faktor Peserta Didik
a) Peserta didik mempunyai tingkat pengetahuan agama yang tidak sama. Adakalanya peserta didik yang memasuki sekolah sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan agama yang didapatkannya melalui pendidikan orang tuanya di rumah atau mendapat dasar-dasar pengetahuan yang didapatkannya dari jenjang sekolah yang telah dilaluinya, Dengan demikian kesenjangan antara peserta didik yang telah memiliki dasar- dasar ilmu pengetahuan agama yang memadai dengan peserta didik yang belum memiliki dasar-dasar ilmu pengetahuan agama, akan menjadi masalah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, seperti yang diungkapkan Zuhairini dkk :
Bahwasanya anak yang sudah dilahirkan membawa fithrah beragama dan kemudian tergantung pada pendidikan selanjutnya kalau mereka mendapatkan pendidikan agama dengan baik, maka mereka akan menjadi orang yang taat beragama, dan sebaliknya bila benih agama yang dibawanya itu tidak dipupuk dan dibina dengan baik, maka anak akan menjadi orang yang tidak beragama.30
b) Peserta didik memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang berbeda.
Anak didik yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi akan lebih mudah menerima pelajaran agama dibandingkan peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan
30Zuhairini Dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 31-32.
lebih rendah. Masalah ini juga akan menyebabkan faktor munculnya problem pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan oleh pendidik.
c) Peserta didik yang kurang bersungguh-sungguh dalam belajar agama. Maksudnya adalah peserta didik tersebut mempelajari agama bukan untuk membekali dirinya dengan pengetahuan agama sebagai sarana untuk melaksanakan ibadah kepada Allah swt, tetapi mempelajari agama hanya untuk mendapatkan nilai.
d) Problem peserta didik yang paling mendasar ada pada keluarga peserta didik tersebut. Dalam arti, jika keluarga peserta didik tersebut tingkat keagamaannya baik, maka secara langsung perkembangan pendidikan agama anak akan baik pula.
Sebaliknya jika tingkat keagamaan keluarganya minim maka perkembangan anak didik akan berbeda jauh dengan hal diatas Jadi, tingkat keberagaman keluarga terutama orang tua akan sangat berpengaruh dalam pendidikan keagamaan anak.31 Adapun problematika pembelajaran PAI dengan metode Daring yang timbul dari pendidik antara lain yaitu:
a) Konten materi yang disampaikan secara Daring belum tentu bisa dipahami semua peserta didik. Sebab konten materi ini
31Nur Aedi, Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Gosyen Publishing, 2016), h. 90.
disajikan dalam bentuk e-book yang disajikan per bab, materi berbentuk powerpoint, dan dalam bentuk video pembelajaran.
b) Kemampuan guru terbatas dalam menggunakan teknologi pada pembelajaran Daring. Tidak semua guru mampu mengoperasikan komputer atau gadget untuk mendukung kegiatan pembalajaran, baik dalam tatap muka langsung, terlebih lagi dalam pembalajaran Daring
c) Keterbatasan guru dalam melakukan kontrol saat berlangsungnya pembelajaran Daring. Hal ini antara lain disebabkan aplikasi yang digunakan tidak menyajikan menu forum diskusi untuk menjelaskan atau menanyakan materi.32 Adapun problematika pembelajaran PAI dengan metode Daring yang datang dari peserta didik itu sendiri antara lain yaitu:
a) Peserta didik kurang aktif dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran Daring meskipun mereka didukung dengan fasilitas yang memadai dari segi ketersediaan perangkat komputer, handphone/gadget, dan jaringan internet.
b) Peserta didik tidak memiliki perangkat handphone/gadget yang digunakan sebagai media belajar Daring, kalaupun ada, itu milik orangtua mereka. Jika belajar Daring, mereka harus
32Asmuni, “Problematika Pembelajaran Daring Di Masa Pandemi Covid-19 Dan Solusi Pemecahannya”, Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan, Vol. 7, Nomor 4, Oktober 2020, h. 283-284.
bergantian menggunakannya dengan orangtua, dan mendapat giliran setelah orangtua pulang kerja. Ada yang pulang di siang hari, sore hari, bahkan malam hari. Sementara itu umumnya jadwal pembelajaran Daring di sekolah dilakukan mulai pagi hari hingga siang hari.
c) Sejumlah peserta didik tinggal di wilayah yang tidak memiliki akses internet. Mereka tidak dapat menerima tugas yang disampaikan oleh guru baik melalui whatsapp atau kelas maya d) Mengingat perjalanan BDR sudah berlangsung sekitar enam
bulan sejak pertengahan Maret 2020, menurut beberapa peserta didik, terlalu lama BDR membuat mereka malas dan membosankan.33