• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pengertian Pembiayaan

Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti koperasi simpan pinjam syariah, bank syariah kepada nasabah. Pembiayaan secara luas berarti financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain.

Menurut Kementerian Negara Koperasi dan UKM Deputi Bidang Pembiayaan Asdep Urusan Asuransi dan Jasa Keuangan Tahun 2009.

Pembiayaan diberikan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil

2. Tujuan Pembiayaan

Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai Islam.

21

Menurut Zimah : 2005 tujuan pembiayaan adalah :

Pembiayaan tersebut harus dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang industri, pertanian, dan perdagangan untuk menunjang kesempatan kerja dan menunjang produksi dan distribusi barang- barang dan jasa-jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

3. Faktor Penentu Dalam Pemberian Pembiayaan

Untuk mendapatkan keyakinan tentang calon penerima pembiayaan, pihak koperasi syariah melakukan penilaian dengan kriteria-kriteria tertentu agar mendapatkan nasabah yang benar-benar layak untuk mendapatkan pembiayaan, penilaian itu dilakukan dengan analisis 5C yaitu :

a. Character (karakter akhlaknya)

Yaitu sifat atau watak seseorang. Sifat dan watak dari orang-orang yang akan diberikan pembiayaan benar-benar harus dapat dipercay. Untuk membaca watak dan sifat calon penerima pembiayaan baik itu latar belakang pekerjaan maupun yang sifatnya pribadi seperti gaya hidup, keadaan keluarga, hobi dan jiwa social.

b. Condition of economy (kondisi usaha)

Koperasi simpan pinjam syariah harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh calon penerima pembiayaan. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses berjalannya usaha calon penerima pembiayaan. Usaha yang dijalankan anggota harus.

22

c. Capacity (kemampuan manajerial)

Yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan penerima pembiayaan untuk melakukan pembayaran. Kemampuan diukur dengan catatan prestasi penerima pembiayaan di masa lalu yang didukung dengan pengamatan di lapangan atas sarana usahanya seperti toko, karyawan, alat- alat, pabrik serta metode kegiatan. Calon anggota pembiayaan mempunyai kemampuan manajerial, handal dan tangguh dalam menjalankan usaha.

d. Capital (modal)

Calon anggota pembiayaan harus mampu mengatur keuangan dengan baik. Pengusaha harus dapat menyisihkan sebagian keuntungan usahanya untuk menambah modal sehingga skala usahanya dapat ditingkatkan. Dan perlu diwaspadai apabila struktur permodalannya berasal dari luar maka hal itu akan menimbulkan kerawanan pembiayaan bermasalah.

e. Collateral (jaminan)

Yaitu jaminan yang dimiliki calon penerima pembiayaan. Penilaian ini bertujuan untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu resiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi, maka jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajiban.

4. Penyaluran Pembiayaan pada Koperasi Simpan Pinjam Syariah

Dalam penyaluran pembiayaan Koperasi Simpan Pinjam Syariah dapat dibedakan berdasarkan tujuan penggunaan dan jenis pembiayaan (Nur S.

Buchari : 2009) dibagi menjadi:

23

a. Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dana usaha bagi pembeli/ pengadaan/ penyediaan unsur-unsur barang dalam rangka perputaran usaha.

b. Pembiayaan investasi, yaitu pembiayaan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan pengadaan sarana/prasarana usaha (aktiva tetap)

c. Pembiayaan multi guna, yaitu pembiayaan yang dapat digunakan untuk sewa suatu barang, talangan dana, maupun biaya jasa suatu pengurusan keperluan anggota.

5. Skema Pembiayaan pada koperasi Simpan pinjam Syariah

Skema pembiayaan adalah suatu akad yang dipilih dengan berdasarkan objek penggunaan dana koperasi simpan pinjam oleh anggota koperasi syariah yang menggunakannya. Skema pembiayaan pada koperasi simpan pinjam syariah (Buchari : 2009) meliputi :

a. Skema produk bagi hasil, terdiri dari : 1) Penyaluran dana Mudharabah

Definisi secara fiqih mudharabah disebut juga muqaradhah yang berarti.

Secara muamalah berarti pemilik modal (shahibul maal) menyerahkan modalnya kepada pekerja/pedagang/pelaku usaha (mudharib) untuk diputar sebagai usaha, sedangkan keuntungan usaha itu dibagi menurut kesepakatan bersama. Definisi menurut koperasi syariah dari akad mudharabah adalah bentuk kerjasa sama antara koperasi syariah selaku pemilik dana (shahibul maal) dengan anggotanya yang bertindak sebagai pengelola usaha yang produktif dan halal.

24

2) Penyaluran dana musyarakah

Definisi secara fiqih, musyarakah berasal dari kata syirkah yang berati percampuran. Menurut istilah fikih musyarakah berarti akad antara orang-orang yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan. Jenis syirkah terbagi beberapa golongan yaitu :syirkah Al Inan (penggabungan modal dua orang atau lebih yang tidak harus sama jumlahnya dan keuntungannya dibagi proporsional dengan jumlah modal masing-masing berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak). Syirkah Al Mufawadhah (persyarikatan modal dua orang atau lebih yang harus sama jumlahnya dan keuntungannya dibagi rata). Syirkah Al Abdan (persyarikatan dalam bentuk kerja yang hasilnya dibagi sama. Syirkah Wujuh (persyarikatan tanpa modal).

b. Skema produk jasa, terdiri dari : 1) AlIjaroh

Definisi secara fikih, ijaroh adalah pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikanbarang itu sendiri.

2) Ijarahmuntahiya bittamlik (IMBT)

Definisi secara fikih adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Pada dasarnya produk ijarah muntahiyah bittamlik (IMBT) dengan ijaroh

25

biasa memiliki kesamaan yaitu obyek sewa barang. Pada ijaroh biasa barang yang disewa tetap menjadi milik koperasi syariah sedang pada akad IMBT pad akhir sewa barang diberikan kepada penyewa yang dinyatakan diawal akad.

c. Skema produk Kebajikan :

1) AlQardh, Definisi secara fikih qard atau disebut iqrad secara etimologi berarti pinjaman. Secara termilogi muamalah adalah memiliki sesuatu yang harus dikembalikan dengan mengganti yang sama.

2) AlQardul Hasan

Al Qadrul Hasan (AQH) secara operasional sama dengan Al Qardh.

Definisi secara fikihnya pun sama dengan qard atau disebut iqrad yang didasarkan pada perbuatan saling tolong menolong. Yang membedakannya adalah sumber dananya. Pada Al Qadrul Hasan sumber dana yang dipinjamkan bersumber dari dana ZIS sementara Qard bersumber dari dana modal koperasi syariah atau laba yang disisihkan.

6. Aspek-Aspek Dalam Analisis Pembiayaan

Pedoman analisis pembiayaan ini memberikan arahan dan panduan melakukan analisis suatu permohonan fasilitas pinjaman agar pemberian pinjaman yang diberikan Koperasi diberikan secara tepat sesuai dengan kaidah-kaidah pemberian pinjaman yang sehat, dan menghindarkan kemungkinan resiko pembiayaan bermasalah, dan terdiri dari :

26

a. Aspek Ekonomis

Analisis ekonomis bertujuan untuk meneliti dan memberikan gambaran sampai sejauh mana kemungkinannya suatu permohonan pinjaman dapat dipertimbangkan oleh Koperasi. Analisis ekonomis ini merupakan bahan bagi penyusun memo kesimpulan hasil analisis yang merupakan salah satu dasar, pertimbangan bagi komite pinjaman dalam mengambil keputusan terhadap permohonan pinjaman yang diajukan oleh calon anggota. Analisis ekonomis dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis secara kualitatif, misalnya mencakup jenis usaha, jangkauan pemasaran, tata kelola usaha dan lain lain. Sedangkan analisis kuantitatif menekankan pemakaian analisa catatan keuangan calon peminjam dengan metode analisis ratio keuangan serta analisa terhadap faktor ekonomi lainnya.

Selanjutnya dilakukan penelaahan sampai sejauh mana kewajaran data tentang beberapa aspek usaha calon nasabah dan penentuan level of signifikansinya.

b. Aspek Yuridis

Pelaksanaan suatu analisa yuridis suatu permohonan pinjaman harus didasarkan pada persyaratan-persyaratan yuridis dari data-data yang disampaikan nasabah. Mengingat kelemahan yuridis tidak hanya berakibat pada resiko waktu, namun juga menjurus pada resiko akhir yang bersifat finansial, bahkan mungkin juga resiko tindak pidana, maka persyaratan yuridis harus dilakukan secara ketat dan sempurna dengan menutup semua celah-celah yang memungkinkan peminjam atau pihak manapun untuk

27

menghindar dari kewajiban dan tanggung jawab terhadap Koperasi atas pinjaman yang diterimanya. Dalam hal jaminan, yang diperhatikan tidak saja kebenaran hak atau nilai jaminan itu sendiri, namun juga apakah jaminan tersebut betul-betul bebas dari ikatan pada pihak lain sehingga apabila terjadi kegagalan atas pengembalian pinjaman tersebut, dapat bebas melakukan eksekusi atau menguasai jaminan tersebut. Untuk analisis yuridis ini, kaidah yang digunakan sebagai dasar adalah kaidah-kaidah hukum positif yang berlaku di Indonesia, dengan ruang lingkup menyangkut aspek kewenangan nasabah sebagai subyek hukum, kelengkapan dan kesahan surat-surat jaminan dan pengikatannya, serta aspek yuridis lain yang berkaitan dengan kelengkapan dan kesahan dokumen yang diperlukan dalam melakukan transaksi dengan Koperasi

c. Aspek Penilaian Jaminan

Jaminan adalah barang/benda ataupun sesuatu yang dapat disamakan dengan itu, di mana nilainya dapat diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang diserahkan oleh calon peminjam/nasabah kepada Koperasi sebagai atas fasilitas pinjaman atau fasilitas lain yang diperoleh.

Fungsi jaminan ini yang utama adalah sebagai alat pengaman ataupun alat untuk menghindari resiko akhir yang mungkin akan terjadi atas fasilitas yang diberikan. Jenis-jenis jaminan yang dapat diterima sebagai jaminan pinjaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

28

1) Tanah

2) Bangunan-bangunan berupa : rumah tinggal, gedung kantor, gedung pabrik, kios/toko tempat usaha.

3) Kendaraan bermotor.

7. Penyebab Kredit macet/Pembiayaan macet

Suyatno (1997) menyebutkan penyebab mecetnya kredit dapat berupa hal-hal yang bersifat teknis perusahaan maupun kejadian diluar kemampuan perusahaan (faktor eksternal/forse majeure), yaitu sebagai berikut :

a. Faktor Internal 1) Aspek Pemasaran

Aspek pemasaran merupakan penyebab kesulitan yang sering sulit diatasi. Ada satu ungkapan yang mengatakan “ menjual lebih sulit dari pada membuat“. Jadikurang lakunya produk yang dihasilkan dapat disebabkan karena kondisi perusahaan.

2) Aspek Pengaturan Keuangan

Kebijaksanaan yang kurang serasi dalam mengatur alat likuid perusahaan dan permodalan, khususnya modal pihak ketiga dapat menimbulkan kesulitan yang dapat mengganggu likuiditas ataupun rentabilitas.

3) Aspek Dana

Kesulitan keuangan mungkin disebabkan kekurangan dana untuk skala perusahaan tersebut baik dana untuk keperluan modal kerja maupun tambahan investasi.

29

4) Aspek Teknis

Hal-hal yang menyebabkan kesulitan di dalam kaitan dengan teknis ini dapat merupakan kondisi intern, misalnya : desain model, dan sebagainya yang tidak menarik lagi dan ketuaan mesin. . Di samping itu ada pula sebab-sebab ekstern, misalnya: perkembangan teknologi, seperti penciptaan mesin-mesin baru sehingga operasi perusahaan tidak efisien lagi dan produknya sudah ketinggalan dan kesulitan bahan baku.

5) Aspek Manajemen

Kesulitan yang diakibatkan oleh organisasi dan manajemen, antara lain berupa: konflik diantara pimpinan, tenaga yang kurang terampil dan kurangberpengalaman, itikad yang tidak baik, seperti manipulasi dan korupsi sertatidak efisien (pemborosan bahan, kelebihan tenaga kerja dan sebagainya).

b. Faktor Eksternal

1) Kebijakan Pemerintah (devaluasi atau menurunnya nilai rupiah, revaluasiatau menaiknya nilai rupiah, kenaikan BBM, kenaikan bahan baku, peraturanpemerintah dalam rangka peremajaan alat-alat).

2) Perkembangan Teknologi.

3) Persaingan.

4) Bencana Alam.

30

8. Penggolongan Kualitas Pembiayaan

Menurut Budisantoso & Triandaru (2006) penggolongan kualitas kredit berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan bunga digolongan menjadi 5 kelompok yaitu: lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.

a. Lancar, yaitu kondisi pembayaran tepat waktu, perkembangan rekening baik dan tak ada tunggakan serta sesuai syarat kredit 30 hari.

b. Dalam perhatian khusus, yaitu tunggakan pokok/bunga sampai 90 hari dan jarang mengalami cerukan.

c. Kurang lancar, yaitu kondisi tunggakan pokok/bunga di atas 90 hari sampai dengan 120 hari dan cerukan berulang kali khususnya untuk menutup rugi operasional dan arus kas

d. Diragukan, yaitu kondisi tunggakan pokok/bunga di atas 120 hari sampai dengan 180 hari dan cerukan permanen khususnya untuk menutupi rugi dan kekurangan arus kas.

e. Macet, yaitu kondisi tunggakan pokok/ bunga lebih dari 180 hari.

9. Analisa Kemampuan Bayar

Kemampuan bayar adalah suatu analisa yang mendalam atas kelayakan kemampuan calon debitur dari aspek keuangan sehingga bank memiliki keyakinan dalam mengambil keputusan pemberian suatu fasilitas kredit (Faisaln : 2009).

Data-data yang dibutuhkan dalam menganalisa kemampuan memabayar yang membutuhkan pasilitas pembiayaan dari koperasi antara lain:

31

a. Data aset yang dimiliki b. Kas dan dana di Bank c. Data piutang

d. Data persediaan e. Hutang dagang f. Hutang di Bank g. Data pendapatan

h. Data harga pokok penjualan i. Biaya operasional untuk usaha j. Biaya hidup

k. Kewajiban pinjaman l. Biaya lain-lain.

Perhitungan kemampuan membayar calon debitur atau yang membutuhkan pembiayaan sebagai berikut :

a. Membandingkan seluruh pendapatan dengan seluruh pengeluaran baik untuk usaha maupun untuk kebutuhan pribadi pemilik.

b. Selisih pendapatan dan pengeluaran menunjukkan kemampuan membayar calon debitur.

c. Hasil positif menunjukkan calon debitur layak dibiayai.

d. Besarnya pembiayaan dihitunng dengan metode perhitungan angsuran e. Perhitungan pendapatan dan pengeluaran dapat menggunakan asumsi yang

konservatif.

32

Dokumen terkait