Daerah lembab
3.11. Pemboran Inti/Pemboran Mesin
Maksud dari pemboran inti dalam kepentingan penyelidikan geologi
khususnya geologi teknik adalah untuk mengetahui kondisi bawah tanah, meliputi dari jenis batuan, sifat fisik, daya dukung (SPT) dan tingkat permeabilitasnya (K).
Untuk jenis tanah dapat diambil contoh tanah tidak terganggu (US) untuk diketahui sifat mekanika tanahnya. Secara komprehensip data tersebut dapat digambarkan dalam log bor geologi.
1. Pemboran geologi teknik.
Dasar teori pemboran geologi teknik ada 2 jenis yaitu pemboran mesin dan bukan mesin. Pemboran mesin adalah semua jenis pemboran yang menggunakan penggerak dari tenaga mesin. Sistim pemboran mesin ini batang bor diputar secara mekanis dan putarannya diteruskan ke mata bor pada dasar lubang bor (Gambar 3 – 9). Inti batuan yang terpotong akan tertinggal dalam tabung inti dan diangkat kepermukaan untuk dianalisa, diuji dan di simpan dalam kotak contoh
Secara umum penggunaan pemboran mesin ini adalah metode yang umum dilakukan dalam penyelidikkan tanah/batuan. Mata bor ada bermacam-macam penggunaanya tergantung jenis tanah/batuan, alat bor dan kapasitas pemboran yang dikehendaki. Dalam teknik pemboran yang benar, seluruh inti bor dapat terambil dan pengujian setempat juga dapat dilaksanakan.
a. Kegunaan.:
- penyelidikan bahan tambang/endapan mineral - mengetahui struktur geologi suatu daerah
- penyelidikan tanah dasar(bangunan sipil)
- pembuatan sumur eksplorasi & eksploitasi air tanah
- Pembuatan lubang pengeringan air dalam tambang bawah tanah - Pembuatan lubang peledakan batuan
b. Peralatan :
Mesin bor & penggerak lengkap dengan peralatannya; mesin pompa lumpur/air; mata bor (Core bit, diamond core bit dll); Core barrel(penginti);
Kotak inti.
c. Prosedur pelaksanaan:
Untuk perlapisan permukaan (lempung, lanau, pasir & kerikil lepas) dimulai dengan bor spiral(1 7/8” ), closed spiral (2 ½”) atau spiral auger dengan pemboran sistim kering dari tiap 40 cm s/d 2/3 m dan di perbesar diameter 4
1/8” untuk persiapan memasang pipa pelindung (Casing) 4 ½”).
Tabel 3 -6. Daftar peralatan bor & ukuran
NAMA UKURAN
LUAR (mm)
ALAM mm)
BERAT (KG/M)
ROT
E A B N EW
AW BW NW
33.4 41.4 48.5 60.4 35.0 44.5 54.0 66.7
21.4 28.6 35.8 50.8 22.2 36.6 44.5 57.2
4.56 5.66 6.58 7.44 4.66 4.88 6.40 8.93 CASING
NX AX BX NX
46.1 57.2 73.00
88.9
38.2 500.8
62.8 77.8
2.68 4.46 8.45 11.61
EX 38.2 22.2
BIT AX BX NX
49.3 600.4
76.2
28.6 41.4 54.0
2. Percobaan penetrasi standar (SPT)
Percobaan ini dengan peralatan split spoon, alat penumbuk (Gambar 3- 10) untuk mengetahui kekuatan lapisan tanah/batu.
Pelaksanaan:
- bersihkan lubang bor sampai dasarnya
- masukkan split spoon(tabung belah) sampai dasar - sambung batang bor dengan alat penumbuk(63,5 kg)
- angkat alat penumbuk 75 cm dan jatuhkan ke kepala penumbuk.
- hitung jumlah tumbukan setiap turun 15/10cm dari 45/30cm.
- Angkat split spoon perlahan-lahan
- N dihitung jumlah tumbukan dari 15 cm ke II & III atau 10 cm ke II & III
Gambar 3-9. Sistim pemboran
SPT pada tanah (Kohesif & Non kohesif) digunakan untuk eksplorasi rutin semua jenis pondasi. Hubungan antara N dengan kepadatan relatif tanah non kohesif (pasir, kerikil, cangkang dll) dan konsistensi relatif tanah kohesif (lempung, lanau, gambut dll) terlihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 3 -.7. Hubungan harga N dengan kepadatan relatif
JENIS TANAH HARGA
( N )
KEPADATAN RELATIF
NON KOHESIF (pasir, kerikil, cangkang)
0 – 4 5 – 10 11 – 24 25 – 50
> 50
Sangat lepas Lepas Sedang Padat
Sangat padat
KOHESIF (lempung, lanau, gambut )
0 – 1 2 – 4 5 – 8 9 – 15 16 – 30 31 – 60
> 60
Sangat lembek Lembek Teguh Kenyal Sangat kenyal Keras
Sangat keras
Gambar 3 -10. Peralatan SPT
3. Permeabilitas (K)
Maksud dan tujuannya untuk mengetahui harga K adalah kemampuan batuan / tanah untuk dapat meluluskan air dibaah tekanan/tanpa tekanan.
Faktor-faktornya:
Ukuran butir
Sifat aliran pori, yaitu kekentalan air
Angka pori tanah/batuan
Bentuk dan tata letak pori
Derajat kejenuhan
Metoda pengukuran : Laboratorium dan Lapangan
Dasar teori: Hukum Darcy’ 1856: Kecepatan suatu sat cair (V) melalui suatu medium yang berpori berbanding lurus dengan gradien hidrolik (i)
Gambar 3-11. Percobaan Darcy Manfaat uji permeabilitas :
a. Mengevaluasi jumlah rembesan
b. Mengevaluasi gaya angkat/ renbesan dibawah struktur hidrolik untuk analisis stabilitas
c. Menyediakan kontrol terhadap kecepatan rembesan sehingga partikel tanah berbutir halus tidak tererosi dari masa tanah
i = Gradien hidrolik Q = Debit aliran A = Luas penampang aliran V = kecepatan aliran air t = waktu pelaksanaan pengukuran K = Koefisien permeabilitas h = tinggi tekan
i = h/L ~ V = KiA (ml/dt) ~ V = Q/t ~ K = V/iA
h(tinggi-tekan) Contoh tanah
tanah
d. Studi mengenahi laju penurunan dimana perubahan volume tanah terjadi pada saat air tersingkir dari rongga tanah pada saat rongga terjadi pada suatu gradien energi tertentu.
e. Mengendalikan rembesan dari tempat penimbunan bahan-bahan limbah yang berbahaya.
Cara pengujian :
Uji laboratorium dan uji lapangan
A. Pengujian laboratorium untuk harga K biasanya kurang dapat diandalkan walaupun prosedur dan peralatan sudah diperhatikan.
Faktor-faktornya :
1. Tanah di lapangan umumnya berlapis (sulit ditiru di laboratorium)
2. Pada pasir, nilai K vertikal(Kv) dan K horisontal(Kh) sangat berbeda, bahkan mencapai tingkat Kh=10 – 1000, akibat proses sedimentasi. Struktur tanah di lapangan akan berubah/hilang untuk di laboratorium.
3. Ukuran contoh untuk pengujian di laboratorium sangat kecil 4. Apabila K kecil dan adanya penguapan - K besar
5. Untuk hemat waktu gradien hidrolik laboratorium delta h/L sering dibuat 5/> , pada hal di lapangan mungkin bernilai 0,1 – 2
Cara pengukuran :
1. Constant head test (Uji tinggi konstan).
Tinggi konstan h
L Q/t
Aht
K QL
cm/dt.
A = Tabung berisi air dan mendapat tambahan air agar mempunyai tinggi permukaan yang tetap.
B = Tabung berisi contoh batuan
dengan panjang contoh L (cm)dan luas penempang A
C = Tabung penempang air untuk mengukur volume air yang tertampung Q (cm3) selama waktu tertentu (t)
Gambar 3-12. Uji tinggi konstan
M.A.T Q/t
2. Falling head test .(Uji tinggi jatuh) Rumus yang digunakan : K = 2,3
t1) - A(t0
aL log
h1 ho
A
ho L B h1
C
A = Tabung dengan luas A &
berskala
B = Tabung berisi contoh batuan dengan panjang L & luas A terletak di dalamnya
C = Tabung penampungan air melimpah
t = Waktu penurunan dari ho – h1 Gambar 3-13. Uji tinggi jatuh
B. Uji di Lapangan
Beberapa cara pengujian di lapangan antara lain : - Uji pompa,
- Pengujian ujung terbuka(Open end test), - Pengujian perkolasi,
- Pengujian packer
1. Uji Pemompaan Sumur (Well Pumping Test )
Pengujian ini dilakukan karena pada dasarnya karena adanya dua macam aliran yaitu : aliran langgeng (equilibrium) dan aliran tak langgeng (non equilibrium)
A = luas permukaan (silinder) A = sr2i = s/dr
Hukum Darcy : h2 /t = Kai h1
r1 r2 Rumus : K = 2,3
2) h1 2 (h2
r2/r1 10 Q/tLog
Lubang bor observasi Sumur dipompa
Gambar 3-14. Uji pemompaan sumur
2. Open End Test
Pengujian dilakukan pada batuan yang mudah runtuh dan dasar lubang bor terbuka untuk di uji karena dinding tertutup casing.
Persyaratan:
Tebal lapisan lulus air di atas dan dibawah ujung pipa pelindung harus paling sedikit 10 r ( r = jari-jari lubang bor), lakukan minimal 5 kali pentahapan pengujian.
Dengan mempertahankan tinggi air pada casing dengan pemompaan sebesar Q (debit air) , maka K = Q/5,5 rh.
Q
Hg1 Muka tanah 2r M.A.T 1
Hg2
10r L
10 r M.A.T 2
Gambar 3-15. Open end test 3. Pengujian Perkolasi
Pengujian ini dilakukan apabila batuannya lunak tetapi tidak mudah runtuh.
Pelaksanaannya: bersihkan lubang bor, masukkan air kelubang bor sampai penuh (konstan dipermukaan casing). kemudian air dibiarkan turun sendiri dan hitung penurunan air dalam casing/lubang bor dalam waktu t
Rumus : K =
1) 0 t 2L(t
r2
Ln
r L Ln
h2 h1
untuk L > 8r
H g1 = H gravity pada MAT1 Hg2 = H gravity pada MAT 2
Q = debit air diatur konstan pada casing 2r = diameter lubang bor
h = H gravity
L = Panjang lapisan yang diuji Open
hole Casing
Meter air Pengatur debit air
r = jari-jari lubang bor/casing L = panjang lubang yang di test h = tinggi muka air dalam lubang t = Waktu penurunan
h Muka tanah
ho h2 ho M.A.T h1
h1 h2 L
MAT t o t1 t2 Gambar 3-16. Pengujian perkolasi 4. Pengujian Packer
Pengujian ini dilakukan pada batuan keras sehingga dapat menahan tekanan packer dan dapat menggunakan 1 packer untuk menguji dibawah packer (single packer) dan 2 packer untuk menguji diantaranya (Double packer).
Pelaksanaanya air di pompakan dengan tekanan konstan langsung kedalam lapisan batuan melalui sebuah pipa, selama 15 menit, kemudian uji ulang dengan tekanan yang berbeda-beda, yaitu 33% P max; 66 % P max; 100% P max; 66 % P max; 33 % P max.
1 Lugeon Unit (LU) : adalah banyaknya air yang masuk dalam massa batuan dengan 1 liter/menit/meter pada tekanan 10 kg/cm2.
Q 103 LU =
HL Rumus K =
r L ln LH 2
Q
; L > 10r; K =
2r 1 L h- Sin LH 2
Q
; 10r > L > r
Q = Debit air masuk lubang dalam cm3/min H = Total head
L = Panjang lubang yang di uji.
Hg
Muka tanah
Hs
MAT 1 Hd
L
L/2
MAT 2 Gambar 3-17. Pengujian Packer
Untuk tidak jenuh , H = P + (Hd – L/2) + Hg Jenuh , H = P + Hs + Hg
Keterangan : H = Total head P = Tekanan
Hd = Kedalaman lubang
L = Panjang lubang yang di uji Hg = Tinggi tekanan dari muka tanah
Hs = Static water head(MAT ke muka tanah)
Sin h–1 = Arc hyperbolic sinc , Sin h-1 x = Ln (x + x2 + 1)
Pengatur debit air utk P
Casing
Packer P
Tabel 3 – 8. Nilai relatip untuk permeabilitas (Tersaghi & Peck)
K (m/dt)
Nilai relatip Material Geologi 10-3
10-5 10-7 10-9
< 10-9
Sangat permeabel Cukup permeabel Kurang permeabel Sangat kurang permeabel Impermeabel
Kerikil kerakal, berdiaklas Pasir, pasir halus Pasir berlanau Lanau lempung
Tabel 3- 9. Kisaran harga k terhadap macam tanah
MACAM TANAH K (Cm/dt)
Pasir non lempung Pasir halus
Pasir lanau Lanau Lempung
10-2 – 5 x 10-3 5 x 10-2 – 10-3 2 x 10-3 – 10-4 5 x 10-4 – 10-5
3-6 – 10-9 3. Log bor geologi teknik.
Log bor geologi teknik merupakan data geologi yang digambar secara komprehensip dari beberapa data : Kedalaman dan ketebalan batuan, Harga SPT, Harga Permeability (K), Kedalamaman simple (US). (Gambar 3-18).Hasil perolehan pemboran juga didata yaitu % perolehan inti (CR) hasil panjang inti dibagi jumlah target kedalaman kali 100% dan jumlah panjang inti > 10 cm dibagi kedalaman pemboran kali 100 % (RQD). Data CR ini akan mencerminkan teknik pemborannya bagus atau memang kondisi batuannya banyak rekahan atau hancuran(breksi sesar) sedangkan RQD ini akan menunjukkan kualitas batuan.
Gambar 3-18. Log bor geologi teknik