• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Gejala Gerakan Tanah

Dalam dokumen kupdf.net buku pengantar kuliah geologi teknik (Halaman 115-128)

PENGELOMPOKA

4. Grouting

4.14. Pengenalan Gejala Gerakan Tanah

Gejala adanya gerakan tanah yang perlu diwaspadai adalah :

(a). Lereng-lereng rawan longsor( Gambar 4 – 21) - Lapisan tanah atau batuan yang miring ke arah luar

- Tumpukan tanah gembur dan lolos air (lempung pasiran , pasir lempungan dan pasir)

- Munculnya rembesan air pada lereng (b). Hujan pemicu longsoran

- hujan deras

- Hujan tidak deras tetapi turun terus-menerus hingga malam - Waspadai retakan pada lereng saat atau setelah hujan

- Retakan merupakan gejala awal lereng akan longsor (Gambar 4 – 22)

Gambar 4 – 22 Kelabilan lereng

Gambar 4 – 23 Foto retakan tanah

Gambar 4 – 24 Foto jalan longsor (c). Jangan lakukan

Mendirikan bangunan di atas lereng rawan longsor, Melakukan penggalian di sekitar kaki lereng, mencetak kolam / sawah beririgasi di atas dan pada lereng rawan longsor, aktivitas getaran di sekitar lereng rawan longsor, menebang pohon pada dan sekitar lereng yang rawan longsor,tinggal di bawah lereng rawan longsor saat hujan turun.(Gambar 4 – 25)

117

Gambar 3 – 4 : sketsa ger

Gambar 4 – 25, Jangan lakukan

(d) . Lakukan tindakan segera

Tutup retakan dengan lempung atau material kedap air, Hindari air meresap ke dalam lereng dan atur draiase lereng : buat paritan air hujan supaya menjauhi lereng, dan tancapkan bambu yang telah dilubangi kedua ujungnya kedalam lereng, Segera lapor ke aparat desa atau kelurahan setempat, Apabila retakan terus berkembang meskipun telah ditutup, segeralah mengungsi saat hujan turun.(Gambar 4 -26)

Gambar 4 – 26 : Waspadalah dan tindakan segera

(e). Kriteria Tingkat Kerawanan

Tingkat kerawanan dapat dibagi 5 yaitu: Sangat rawan, Rawan, Menengah, Rendah dan Aman. Kriterianya berdasarkan kemiringan sudut lereng batuan terkena struktur dan ketebalan tanah. Secara rinci dapat dilihat pada table 4 – 9, dibawah ini dan

Tabel 4 - 9: Zona Kerawanan Terhadap Bencana Longsor

TING KAT KERAWA

N AN

KRITERIA SARAN PEMANFAATAN LAHAN

1.

Sangat rawan

Tingkat kerawanan sangat tinggi,

Perkampungan terancam longsoran, kemiringan lereng > 30º – 50º.

Batuan terpotong-potong oleh struktur kekar dan patahan. Ketebalan tanah

> 4 m. Sudah terjadi retakan tanah dan longsoran di beberapa titik

Tidak disarankan untuk pemukiman, akan tetapi dengan persyaratan khusus dapat untuk pemukiman. Syaratnya telah dilakukan penelitian mengenal daya dukung dan kestabilan lereng tanah, jenis konstruksi, pola drainase, pola terasering dan pola tanam. Disarankan untuk ditanami tanaman budidaya atau untuk dihutankan (pilih jenis tanaman yang berakar tunggang dan ringan, dengan jarak tanam antar pohon lebih dari 10 m, disela- selanya ditanami rumput atau tanaman budidaya yang pendek dan berakar tunggang), hindari penggalian serta

pencetakan ladang dan sawah pada lereng.

2.

Rawan

Tingkat kerawanan tinggi. Hutan campuran, kebun dan ladang terancam longsor.

Keriringan lereng lebih dari 45º dan batuan banyak terpotong-potong oleh stuktur patahan dan kekar. Sudah terjadi retakan tanah dan longsoran di beberapa titik

Tidak layak untuk pemukiman. Pada lereng perlu ditanami dengan tanaman penguat(tanaman kayu ringan yang berakar tunggang dengan jarak tanaman antar pohon lebih dari 10 m, disela-selanya ditanami rumput atau tanaman budidaya yang pendek). Hindari penggalian serta pencetakan ladang dan sawah.

3.

Menengah

Tingkat kerawanan menengah,

perkampungan terancam longsor, terdapat di daerah dengan

kemiringan lereng 20º – 50º dengan ketebalan tanah > 4 m dan belum banyak ditemukan titik longsor.

Dapat digunakan sebagai pemukiman dengan syarat telah dilakukan penelitian mengenal daya dukung tanah dan

kestabilan lereng, jenis konstruksi dan pola drainase, pola terasering dan pola tanam pada lereng. Layak untuk lahan pertanian dan perkebunan, dapat untuk pemukiman dengan konstruksi ringan (kayu/bambu);

perlu dibuat drainase untuk mengeringkan air saat hujan (berupa parit di bagian atas lereng, serta berupa bambu-bambu yang dilubangi dan ditancapkan pada bagian bawah lereng, untuk menguras air hujan yang meresap ke dalam lereng dan menyalurkan air tersebut ke jalan air/lembah terdekat) ; disarankan dibuat teras-teras pada lereng dengan

perbandingan tinggi dan lebar teras 1 : 2.

4.

Rendah

Tingkat kerawanan rendah dengan potensi longsoran kecil.

Kemiringan lereng lebih dari 45 , tetapi kondisi batuan stabil dan tidak terpotong oleh struktur patahan atau kekar, lapisan tanah penutup kurang dari 1 m.

Layak untuk hutan, cukup layak untuk kebun dan ladang, cukup layak huni, dengan syarat dibuat drainase untuk mengeringkan lereng saat hujan(parit pada permukaan dan bambu yang dilubangi pada lereng) dan dibuat teras-teras pada lereng.

5.

Aman

Ancaman longsor sangat kecil.

Layak huni dan untuk lahan pertanian;

perlu dibuat drainase untuk menyalurkan air limpasan dari atas ke arah sungai; perlu penghijauan.

4-15. Analisis Karakteristik Medan

Analisis karakteristik medan yang mempunyai pengaruh terhadap terjadinya tanah longsor dilakukan dengan pengharkatan dan pembobotan pada setiap variabel medan yang meliputi tektur dan ketebalan solum tanah, tingkat pelapukan batuan, struktur perlapisan batuan, Struktur geologi sesar, kemiringan lereng, drainase, stabilitas lereng, penggunaan lahan dan kerapatan vegetasi(Tabel 4 -10).

Penentuan interval klas kerawanan tanah longsor ditentukan berdasarkan perhitungan jumlah nilai maksimal dikurangi jumlah nilai minimal skor dibagi jumlah klas. Ada tiga klas yang digunakan yaitu klas rendah, sedang dan tinggi (Tabel 4-11).

Tabel 4 -10 Pembobotan parameter pengaruh tanah longsor

N No

Faktor Pengaruh

Parameter Pengaruh Bobot

Skor mak

Skor Min

1 Bentuk lahan Proses 50 10

2 Lereng Kemiringan lereng 50 10

3 Geologi Tingkat pelapukan batuan 5 1

Struktur perlapisan batuan 5 1

Struktur geologi sesar* 50 10

4 Tanah Ketebalan solum tanah 5 1

Tektur tanah 5 1

Drainase 5 1

Stabilitas 5 1

5 Lahan Penggunaan lahan 5 1

Kerapatan vegetasi 5 1

Jumlah 190 38

*Sukartono 2004 modifikasi PSBA UGM, 2001

Tabel 4-11 Klas kerawanan tanah longsor

No Interval Total Skor

Kriteria Kerawanan Klas

1 28 – 65 Rendah 1

2 66 – 102 Sedang 2

3 103 - 140 Tinggi 3

Sumber : Analisis PSBA UGM 2001

Analisis resiko didasarkan pada kombinasi antara tingkat kerawanan tanah longsor dan jumlah kerugian yang ditimbulkan. Tingkat kerugian dihitung berdasarkan nilai ekonomi serta perkiraan jiwa teramcam. Tingkat resiko dalam penelitian ini di titik beratkan pada jumlah jiwa terancam dan dihitung berdasar

rata-rata kepadatan penduduk pada area pemukiman di suatu desa dikalikan indeks kerawanan (Tabel 4-12).

Tabel 4 -12: Indeks kerawanan tanah longsor

No Tingkat Kerawanan

Indeks

Kerawanan Penjelasan

1 Rendah 0 Daerah aman ancaman korban jiwa tidak ada

2 Sedang 0.5 Daerah kurang aman, potensi terhadap ancaman korban jiwa

3 Tinggi 1 Daerah tidak aman, ancaman korban jiwa tinggi

Sumber : Analisis PSBA UGM 2001

Klasifikasi risiko tanah longsor dilakukan sebagaimana terlihat dalam Tabel (4-13). Dari kondisi geologi dapat diketahui sebaran macam satuan geologi teknik (batuan dan tanah), analisis saringan maupun tebal tanah yang ditunjukkan pada penampang geologi teknik maupun sifat karakteristik dan keteknikan (Gambar 4 – 21).

Tabel 4 - 13: Kriteria tingkat resiko akibat tanah longsor

No Jumlah jiwa yang terancam

TTingkat Resiko

1 Tanpa Rendah

2 1 – 10 Sedang

3 > 10 Tinggi

Sumber : Analisis PSBA UGM 2001

Pembobotan klas kerawanan dari faktor-faktor pengaruh terjadinya gerakan tanah, dimasukkan dalam Tabel pembobotan, maka akan dibuat dibuat Peta

kerentanan gerakan tanah dengan 6 zona kondisi geologi disusun dari atas stabil dan kebawah makin tidak setabil(Gambar 4 – 27) maupun secara sederhana dibuat 3 zona kerentanan gerakan tanah dengan warna hijau tingkat kerawanan rendah berarti aman, kuning tingkat kerawanan sedang untuk hati-hati dan merah tingkat kerawanan tinggi berarti perlu diwaspadai atau termasuk bahaya bila ada hujan lebat/tidak reda selama 3 hari.(Gambar 4 – 28) dan diskripsi lengkap pada tabel keterangan (Tabel 4 – 14).

Gambar 4 – 27: Peta Zona kerentanan gerakan tanah(Barbara, 1996)

Gambar 4 – 28, Peta kerentanan gerakan tanah

Tabel 4 – 14 : Keterangan peta zona kerentanan gerakan tanah

NOSIMBOL ZONA KERENTA NAN DISKRIPSI

1

RENDAH

Daerah ini mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadinya gerakan tanah, sehingga jarang terjadi adanya gerakan tanah.

Bahkan bila kondisi kelerengan diganggu tidak akan membentuk gerakan tanah, karena tanah di daerah ini umumnya telah teguh.

Gerakan tanah yang terjadi dijumpai di lereng-lereng sungai karena adanya gerusan aliran air sungai. Tebal tanah berkisar 0,2 – 4 m.

Terdapat pada daerah datar sampai terjal, lereng umunya berkisar antara 5 % s/d 15 %, di lembah sungai bagian atas kadang lereng sampai Plosan > 50 %, wilayahnya meliputi Durendoyong Desa Blimbing

Batuan terdiri dari endapan pasir, tuf, tuf pasiran kadang dari Formasi Halang.. Lahan umumnya digunakan sebagai sawah, tegalan dan pemukiman

2

MENENGAH

Daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadinya gerakan tanah, sehingga kadang-kadang terjadi adanya gerakan tanah, bila kondisi kelerengan diganggu, Karena tanah di daerah ini umumnya sebagian masih merupakan tanah lepas-lepas yang menumpang di batuan dasarnya. Gerakan tanah dijumpai di lereng-lereng yang terjal dan mengarah ke lembah sungai. Penyebab gerakan tanah di zona ini umumnya disebakan oleh kondisi tanah yang belum teguh, kelerengan tinggi, dan arus air yang deras pada musim penghujan. Tebal tanah berkisar antara 0,5 – 5 m.

Terdapat pada daerah bergelombang sampai terjal, lereng umumnya berkisar antara 30-50 % s/d >70 %, di lembah sungai, wilayahnya meliputi Juru tengah, Pucung, Kebonsaak, Doglek, Pangepon, Sebrang Kulon, Bruno Kulon, Sabrang Wetan, G. Sipatok.

Batuan terdiri dari breksi andesit dengan disipan tuf pasiran, dari Formasi Penaron. Lahan umumnya digunakan sebagai tegalan hutan sejenis, dan pemukiman

3

TINGGI

Daerah ini mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadinya gerakan tanah, sehingga sering terjadi adanya gerakan tanah.

Gerakan tanah lama maupun baru akan sering terjadi. Faktor penyebab gerakan tanah di daerah ini karena kondisi batuan terpotong-potong sesar, kekar, tanah lapuk yang menumpang di batuan segar, kelerengan terjal dan sebagian terjadi karena adanya pengundulan hutan. Tebal tanah berkisar 0,3 – 2 m.

Terdapat pada daerah bergelombang sampai terjal, lereng umumnya berkisar antara 50-70 % s/d >70 %, di lembah sungai, wilayahnya meliputi Sembir, Brondong, Bruno wetan, kkota kecamatan Bruno, G. Wayang lor, Kalibade, G. tanggul asih, Desa Brunosari, ngabean, pakisarum, keniten.

Batuan terdiri dari breksi andesit dengan disipan tuf pasiran, dari Formasi Penaron. Lahan umumnya digunakan sebagai tegalan hutan sejenis, dan pemukiman

BAB V

Dalam dokumen kupdf.net buku pengantar kuliah geologi teknik (Halaman 115-128)

Dokumen terkait