• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencatatan Realisasi LuasTanam Per Provinsi

Dalam dokumen MODUL PELAKSANAAN OPERASI JARINGAN IRIGASI (Halaman 46-50)

BAB III KEGIATAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

3.2 Pelaksanaan Operasi Jaringan Irigasi

3.2.9 Pencatatan Realisasi LuasTanam Per Provinsi

Petugas dinas provinsi yang membidangi irigasi setingkat subdin PSDA melaksanakan pencatatan rekapitulasi dari blangko 12-O yang diisi oleh petugas Dinas Provinsi/ Balai yang membidangi irigasi/sumber daya air.

Pencatatan ini dilakukan setiap satu tahun sekali setelah MT-III. Blangko ini adalah informasi mengenai rencana luas tanam, realisasi tanam, dan areal terkena musibah.

3.2.10 Prosedur Operasi Bangunan Air a) Bangunan Utama

Pengoperasian bangunan utama termasuk pengoperasian pintu pengambilan, pintu penguras dan pintu pembilas.

1) Debit yang melimpah diatas mercu bendung

Debit sungai dapat diukur pada bendung dengan mengukur tinggi air yang melimpah diatas bendung ditambah dengan debiet yang masuk lewat pintu pengambilan. Pencatatan debiet sungai di lokasi bendung sangat penting untuk mempelajari tersedianya air dan pengoperasian bangunan utama.

Debit yang lewat diatas mercu bendung dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

C = Koefisien debiet (1,30)

Le = Panjang efektif bendung (26,84 m)

H = Tinggi air diatas mercu (pembacaan papan duga)

Mengukur debit sungai dilakukan satu kali setiap hari pada keadaan debit normal. Selama periode banjir pengukuran debietnya paling tidak 3 kali sehari dan selama banjir besar satu kali setiap satu jam. Debit yang lewat diatas mercu bendung ditunjukkan pada tabel dibawah.

2) Pengoperasian pintu pengambilan

Prinsip dasar dari pengoperasian pintu pengambilan adalah untuk memberikan sejumlah air kedalam saluran dan untuk mengurangi jumlah endapan yang masuk kedalam saluran. Prosedur operasi pintu pengambilan adalah:

36 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

(a) Sampah, reruntuhan, pohon dan lain-lain, yang berada dimuka pintu pengambilan harus dikeluarkan.

(b) Debit pengambilan tidak boleh lebih besar dari saluran induk.

Catat debit pengambilan dua kali sehari, setel pintu dengan semestinya untuk memperoleh debit yang dikehendaki dengan perhitungan taraf muka air sungai.

(a) Setiap 3-5 hari sekali tentukan besarnya debiet dan apakah factor K harusdirubah. Bila perlu rencanakan kembali debiet pengambilan dan atur kembali pintu pengambilan.

(b) Selama pekerjaan pengurasan berlangsung dengan membuka pintu penguras, pintu pengambilan harus ditutup untuk menghindarkan masuknya air yang mengandung konsentrasi endapan yang tinggi.

(c) Jumlah debiet yang lewat pintu pengambilan dapat diketahui dengan membaca papan duga yang ada pada bangunan ukur Parshall Flume dan mengatur tinggi bukaannya.

Tabel 3.3. Operasi Pintu

NO.

TINGGI AIR DIATAS MERCU BENDUNG

P I N T U

PINTU PENGURAS PINTU PENGAMBILAN

H Cm A B

1 H  0 Tutup Buka Penuh

2 O  H  45 Cm Tutup Buka sesuai

Kebutuhan 3 45 Cm  H  85 Cm

BANJIR KECIL Buka 10 Cm Buka sesuai

Kebutuhan 4 85 Cm  H  285 Cm

BANJIR BIASA Buka 10 Cm Buka sesuai

Kebutuhan 5 H  285 Cm

BANJIR BESAR Tutup Tutup

6 BANJIR SURUT

H  140 Cm Buka Penuh Buka sesuai

Kebutuhan

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 37 3) Pengurasan lumpur di depan pintu pengambilan

(a) Selama terjadi banjir

(1) Selama terjadi banjir pintu pengambilan ditutup sama sekali atau dibuka sedikit untuk sekedarmengalirkan debiet ke saluran. Pintu penguras harus terus ditutup guna mencegah timbulnya turbelensi pintu pengambilan.

(2) Apibila banjir mulai surut, pintu penguras harus dibuka penuh tetapi pintu pengambilan harus tetap ditutup.

(3) Pintu penguras harus dibuka perlahan-lahan untuk mencegah erosi disebelah hilir bangunan.

(4) Setelah pengurasan selesai buka kembali pintu pengambilan secukupnya guna memenuhi kebutuhan air irigasi.

(b) Dalam keadaan normal

Apabila debiet sungai lebih besar dari kebutuhan debiet untuk irigasi pintu penguras harus dibuka sebagian (5-10 cm atau lebih) untuk menguras endapan Lumpur yang ada didepan pintu pengambilan.

Apabila debit sungai lebih dari kebutuhan debit untuk irigasi, maka pintu penguras harus ditutup dan pengurasan lumpur yang terkumpul di depan pintu pengambilan harus dilaksanakan secara berkala yaitu sekali dalam setengah bulan.

Untuk pengurasan lumpur secara berkala dapat diikuti prosedur dibawah ini:

(1) Tutuplah pintu pengambilan.

(2) Biarkan muka air semakin naik dimuka pintu penguras.

(3) Bukalah pintu penguras paling sedikit setengah bukaan untuk memperoleh daya kuras yang cukup besar. Apabila memungkinkan, pengurasan itu dilakukan selama setengah jam.

(4) Tutup pintu penguras.

(5) Biarkan lumpur yang terkacau itu mengendap dulu dan muka air menjadi naik, lalu buka kembali pintu pengambilan.

38 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI

b) Bangunan Pelengkap 1) Bangunan Pelimpah

Bangunan Pelimpah adalah suatu bangunan pengaman untuk jaringan saluran. Kelebihan air dapat masuk kedalam saluran selama terjadi banjir dari bendung dan pembuang masuk (drain inlet). Kelebihan air dapat merusak saluran apabila tidak dibuang sebagaimana mestinya.

Pengoperasian bangunan pelimpah adalah sebagai berikut:

(a) Apabila air mulai meluap diatas ambang pelimpah, bukalah pintu pembuangnya sedikit demi sedikit sampai air tidak melimpah lagi diatas ambang.

(b) Selama musim hujan ketika turun hujan lebat pada malam hari pintu- pintu pembuang dapat dibuka sedikit untuk persiapan banjir dimalam hari.

Untuk menguras endapan lmpur dari dasar saluran,pintu pembuang harus dibuka secara berkala, misalnya sebulan sekali atau bergantung pada adanya endapan lmpur selama kurang dari lima menit.

2) Bangunan Bagi / Sedap

Pengoperasian bangunan bagi / sadap adalah sangat penting artinya bagi pembagian air irigasi secara efektif dan efisien. Pengoperasian yang benar atas bangunan bagi / sadap dapat menjamin bukan cuma untuk memperpanjang umur pelayanan bangunan, tetapi juga untuk keamanan saluran.

Prosedur pengoperasian bangunan sadap sebagai berikut:

(a) Permukaan air pada bangunan bagi / sadap harus dijaga agar tetap sama atau hampir mendekati taraf muka air normal dengan cara mengaturnya dengan pintu pengatur air.

(b) Apabila terdapat batu disebelah hulu dan hilir bangunan bagi / sadap yang tidak mungkin dikuras harus dikeluarkan dengan tangan.

(c) Stang pemutar pintu harus dikunci dan pintu-pintu harus dioperasikan hanya oleh PPA.

(d) Jumlah air yang dialirkan melalui pintu saluran harus diatur sesuai dengan rencana pembagian air yang telah disetujui. Tanpa seijin

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI 39 atau perintah dari Juru atau Kepala UPTD, PPA dilarang mengubah debit yang dialirkan.

(e) Jumlah debit yang dialirkan melalui setiap bangunan bagi / sadap harus diukur dengan pintu ukur yang ada. Data harus dicatat setiap hari dan dilaporkan kepada Dinas dengan mengisi blangko 06-O.

Dalam dokumen MODUL PELAKSANAAN OPERASI JARINGAN IRIGASI (Halaman 46-50)

Dokumen terkait