• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Latar Belakang

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 43 KOSAKATA SERAPAN SEBAGAI BENTUK KONTAK BAHASA DI JALAN PROTOKOL LUHAK NAN TIGO SUMATERA BARAT

Idrus, Lady Diana Yusri, Alex Darmawan Universitas Andalas

Abstrak

Pada penelitian ini, dibahas kosakata serapan di sepanjang jalan protokol kabupaten/kota Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang membahas dan memaparkan bentuk, asal-usul, perubahan serta alasan yang melatarbelakangi terbentuknya kosakata serapan yang terdapat di sepanjang jalan protokol kabupaten/kota Sumatera Barat. Tujuan penelitian untuk mengetahui apa saja kosakata serapan yang terdapat di jalan protokol kabupaten/kota Sumatera Barat, berasal dari kosakata apa dan bahasa apa kosakata serapan tersebut serta mendeskripsikan alasan penyerapan kosakata tersebut.

Data penelitian ini adalah kosakata serapan yang terdapat di sepanjang jalan protokol 3 kabupaten/kota Sumatera Barat yang meliputi Kab. Tanah Datar, Kota Bukittinggi, dan Kota Payakumbuh. Teori yang dipakai adalah teori kontak bahasa yang dikemukakan Thomason (2001), teori perubahan bahasa yang dikemukakan Beard (2004), serta aturan penulisan kata serapan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Penelitian ini adalah penelitian kulitatif karena data penelitian ini adalah fenomena bahasa yang ada di tengah masyarakat. Analisis pada penelitian ini terdiri atas beberapa tahap. Tahap pertama, penentuan kosakata serapan. Tahap kedua, penentuan asal-usul kosakata serapan.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia yang digunakan masyarakat Minang di Sumatera Barat mendapat pengaruh dari bahasa asing dengan ditemukannya kosakata serapan dari berbagai bahasa lain sebagai bukti adanya kontak bahasa dan akulturasi budaya. Adapun sumber bahasa asing kosakata yang terdapat di sepanjang jalan protokol 3 kabupaten/kota Sumatera Barat adalah bahasa Perancis, bahasa Sanskerta, bahasa Latin, bahasa Arab, bahasa Jepang, bahasa Cina, dan bahasa Inggris.

Kata kunci: kontak bahasa, kosakata serapan, Luhak Nan Tigo, Sumatera Barat

I. PENDAHULUAN

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 44 Hal ini sesuai dengan pernyataan Thomason (2001:2) bahwa kontak bahasa dapat terjadi meskipun pengguna dua bahasa atau lebih tidak berada di tempat yang sama.

Adanya kontak suatu bahasa dengan bahasa lain menimbulkan perubahan pada bahasa tersebut. Ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Aitchison (2001:3) bahwa semua yang ada dalam alam semesta ini dalam tahap berubah. Bahasa pun termasuk pada sesuatu yang ada di alam semesta yang selalu berubah (Keller, 2005:2 dan Machida, 2009:63). Perubahan itu salah satunya akibat adanya pengaruh bahasa lain yang berlangsung dalam waktu yang lama. Misalnya, bahasa Indonesia yang digunakan saat ini, tentunya tidak sama dengan bahasa Indonesia yang digunakan 50 tahun yang lalu.

Kontak bahasa sebenarnya tidak terjadi dalam diri penutur secara individual, namun dalam situasi konteks sosial, baik dalam situasi belajar bahasa kedua, proses pemerolehan bahasanya maupun ketika mempraktikkan bahasa tersebut. Weinreich (1979) berpendapat bahwa kontak bahasa dapat terjadi karena adanya penggunaan dua bahasa atau lebih sehingga terjadi persentuhan antara bahasa-bahasa yang mengakibatkan adanya kemungkinan pergantian pemakaian bahasa-bahasayang digunakan penutur dalam konteks sosialnya, sedangkan Suwito(1983) berpendapat bahwa kontak bahasa adalah suatu peristiwa yang terdapat penggunaan dua bahasa atau lebih serta terjadi persentuhan bahasa- bahasa yang digunakan oleh si penutur yang diakibatkan oleh adanya konteks sosial. Chaer dan Agustina (2010:84) berpendapat bahwa peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa adalah peristiwa- peristiwa bilingualism, diglosia, alih kode,campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa.

Salah satu bentuk kontak bahasa yang menyebabkan perubahan bahasa adalah kata serapan. Beard (2004:90) mengemukakan bahwa kata serapan (loan word) merupakan kosakata baru dari suatu bahasa yang berasal dari bahasa lain.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang kosakata barunya banyak berasal dari bahasa lain. Misalnya, kata ‘komputer’ yang berasal dari kata

computer’ dari bahasa Inggris. Contoh lainnya ialah kata ‘antena’ yang berasal dari kata ‘antenne’ yang berasal dari bahasa Belanda. Kosakata baru dalam bahasa

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 45 Indonesia yang diserap dari bahasa lain, tidak diterima begitu saja. Ada perubahan dan penyesuaian yang dilakukan terhadap kata asal sehingga menjadi kata baru dalam bahasa Indonesia. Pada contoh di atas, terdapat perubahan satuan terkecil bahasa yang disebut fonem, yaitu perubahan fonem /c/ menjadi fonem /k/ pada kata computer, sedangkan pada contoh kata ‘antene’ terdapat penghilangan fonem /n/.

Kosakata serapan pada contoh di atas merupakan istilah baru dalam bahasa Indonesia. Pembentukan istilah merupakan salah satu upaya pengembangan dan pemodernan bahasa dan kegiatan peristilahan merupakan bagian pengembangan bahasa (dalam Ferguson 1968, Garvi 1973, Neustupny 1983, Moeliono 1985).

Haugen (1983:373) menjelaskan bahwa bahasa modern mampu memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kosakata baru. Pemodernan bahasa berkaitan dengan pengembangan bahasa yang bertujuan untuk memutakhirkan bahasa sehingga dapat dipakai sebagai alat komunikasi dalam pelbagai bidang kehidupan masyarakat modern (dalam Moeliono 1989:157 dan Alwi 2003:13).

Adapun sumber data penelitian ini adalah kosakata serapan yang terdapat di sepanjang jalan protokol kabupaten/kota di Sumatera Barat. Alasan pemilihan jalan protokol sebagai lokasi pengumpulan data karena jalan-jalan itu merupakan jalan yang sering diakses berkaitan dengan budaya merantau masyarakat Minang yang mendiami Sumatera Barat. Budaya merantau ini menyebabkan mobilitas masyarakat Minang tinggi, baik mobilitas di dalam Provinsi Sumatera Barat maupun mobilitas dari dan ke provinsi lain karena merantau itu ada merantau yang jauh dan ada merantau yang dekat (Kato 2005:13-15). Adapun daerah yang dijadikan lokasi penelitian yaitu sepanjang jalan protokol 3 kabupaten/kota Sumatera Barat yang meliputi Kabupaten Tanah Datar, Kota Bukittinggi, dan Kota Payakumbuh. Alasan pemilihan kabupaten/kota tersebut karena kabupaten/kota utama di Sumatera Barat yang memiliki sejarah panjang yang dengan jalan utama di masing-masingyang sering dilalui oleh penduduk setempat atau penduduk penduduk dari daerah lain dalam beraktivitas sehari-hari. Tiga daerah ini merupakan daerah tradisional Luhak Nan Tigo. Keberadaan orang- orang yang mobilitasnya tinggi yang melalui sepanjang jalan tersebut pastinya

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 46 berpengaruh terhadap penggunaan kata-kata yang digunakan, di antaranya pada iklan, spanduk, nama took, dan lain-lain.

Berdasarkan penjelasan di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah asal-usul kosakata serapan yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo yang meliputi Luhak Tanah Datar, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Agam. Di Luhak Tanah Datar, dibatasi hanya pada kosakata serapan di sepanjang JalanJendral Sudirman, Jalan Soekarno Hatta, dan Jalan Hamka. Di Luhak Lima Puluh Kota, dibatasi hanya pada Jalan Tan Malaka, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Diponegoro, Jalan Khatib Sulaiman, dan Jalan M. Yamin. Di Luhak Agam, dibatasi hanya pada kosakata serapan di sepanjang Jalan St. Syahrir, Jalan Sudirman, Jalan Prof Dr. Hamka, Jalan Raya Bukittinggi-Payakumbuh. Adapun rincian pertanyaan penelitian adalah:

a) Apa saja kosakata serapan yang ada dalam bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

b) Dari mana asal kosakata serapan yang ada dalam bahasa Indonesiayang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

c) Apa perubahan fonetis dan fonemis kosakata serapan dari bahasa sumber ke bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

Mengacu pada permasalahan di atas, tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1) Untuk menemukan kosakata serapan yang ada dalam bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat.

2) Untuk menjelaskan asal kosakata serapan yang ada dalam bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

3) Untuk mendeskripsikan perubahan fonetis dan fonemis kosakata serapan dari bahasa sumber ke bahasa Indonesia yang ada dalam bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

4) Untuk mendeskripsikan perubahan makna kosakata serapan dari bahasa sumber ke bahasa Indonesia yang ada dalam bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 47 5) Untuk mendeskripskan latar belakang penyerapan kosakata serapan yang

ada dalam bahasa Indonesia yang terdapat di sepanjang jalan protokol Luhak nan Tigo Sumatera Barat?

Penelitian ini penting karena selama ini belum ada yang meneliti kosakata serapan bahasa Indonesia di Sumatera Barat. Keberadaan penelitian ini mengisi kekosongan penelitian bahasa Indonesia berkaitan dengan asal-usul kosakata bahasa Indonesia atau pembentukan kosakata bahasa Indonesia. Dilihat dari aspek teoritis dan praktis, manfaat dari penelitian ini dalam aspek teoritis dapat digunakan untuk pengembangan ilmu linguistik yang berkaitan dengan perubahan fonetis dan fonemis bidang fonologi serta pembentukan kata di bidang morfologi.

Sementara itu, manfaat praktisnya memberikan konstribusi dalam hal perencanaan bahasa Indonesia ke depannya dalam bidang sosiolinguistik, baik menyangkut status maupun pemerolehan bahasa. Selain itu, dengan mengetahui adanya keberagaman bahasa yang membangun bahasa Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Jadi, dari penelitian ini akan diketahui budaya-budaya (bahasa-bahasa) yang pernah mengadakan kontak dengan budaya Indonesia. Selanjutnya, dengan mengetahui keberagaman budaya yang memengaruhi budaya Indonesia itu, dapat dipikirkan langkah-langkah untuk dapat merevitalisasi nilai-nilai budaya lokal serta membangun pemahaman baru atas berbagai persoalan yang tengah terjadi di masyarakat yang beragam dalam menjaga persatuan, kedamaian, dan ketenteraman dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan rencana strategis penelitian induk Universitas Andalas yang bertujuan membangun karakter bangsa Indonesia dengan merevitalisasi kearifan lokal yang beraneka ragam yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Multikulturalisme yang ada dalam masyarakat tidak menyebabkan konflik, tetapi meningkatkan toleransi dan menjadi karakter dan identitas sosial yang kuat bagi masyarakat.