• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulisan Unsur Serapan

II. LANDASAN TEORI

2.4 Penulisan Unsur Serapan

Aturan penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia tertuang dalam Permendikbud No. 50 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Dalam Permendikbud ini dipaparkan secara rinci cara penulisan kosakata kata asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Dalam hal ini, penyerapan diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini peneliti lakukan pada tahun 2014. Peneliti membahas perubahan makna yang terjadi akibat kontak bahasa yang menghasilkan kosakata baru sebagai kata serapan pada bahsa Jepang.

Penelitian itu diseminarkan pada Seminar Internasioanl Leksikologi dan

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 52 Leksikografi yang diselenggarakan di Universitas Indonesia tahun 2014. Hasil penelitian yang mendapatkan masukan dan komentar dari peserta seminar dijadikan makalah yang dipublikasikan dalan jurnal Kotoba (2015) dengan hasil penelitian bahwa Gairaigo sebagai salah satu jenis kata dalam bahasa Jepang merupakan bentuk fenomena perubahan bahasa pada bahasa Jepang. Gairaigo merupakan kosakata serapan dari bahasa asing yang ditulis menggunakan katakana. Penggunaan gairaigo ini sudah sangat umum di Jepang sehingga terkadang menggantikan kosakata asli dalam bahasa Jepang. Kemudian, diteliti gairaigo yang terdapat pada judul-judul berita di surat kabar online berbahasa Jepang, yaitu Asahi Shinbun, Mainichi Shinbun, dan Yomiuri Shinbun. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan makna yang terjadi antara kata awal (kata asing) dan kata baru dalam bahasa Jepang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gairaigo bahasa Jepang ada yang mengalami perubahan makna extension (perluasan), narrowing (penyempitan), shift (pergantian atau pergeseran), amelioration (ameliorasi), pejoration (peyorasi). Ada juga gairaigo yang maknanya persis sama dengan makna asal katanya.

Kemudian, pada penelitian kali ini, yang dikaji adalah perubahan bentuk kosakata serapan tersebut yang meliputi aspek fonologi dan fonetik. Ini jelas berbeda dengan penelitian yang pernah peneliti lakukan.

Ada juga Nasution (2004) yang melakukan penelitian tentang kata serapan.

Penelitian kata serapan yang dilakukannya melihat perubahan makna leksikal yang terjadi pada kata serapan bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Nasution mengemukakan bahwa perubahan yang terjadi pada saat kata dari bahasa lain tidak hanya terdapat pada aspek fonologi dan fonetiknya saja, bahkan terjadi perubahan pada tataran makna. Bentuk perubahan makna setelah kosakata bahasa Arab diserap ke bahasa Indonesia adalah meluas, menyempit, berubah sama sekali, membaik, dan memburuk.

Penelitian yang dilakukan oleh Nasution ini mempunyai persamaan dengan yang peneliti lakukan, yaitu pengamatan tentang perubahan bunyi dari bahasa sumber ke bahasa Indonesia. Perbedaannya, peneliti mengkaji sampai ke alasan penyerapan kata, sementara Nasution tidak melakukannya. Selain itu, data

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 53 yang digunakan oleh Nasution ialah kosakata serapan yang berasal dari bahasa Arab, sedang data pada penelitian ini ialah kosakata di berbagai media di sepanjang jalan protokoldi Luhak nan Tigo Sumatera Barat.

Lebih lanjut, Syafar (2012) dalam tesisnya “Kata Serapan Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia: Kajian Morfologi dan Semantik” meneliti kata serapan dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris. Data dalam penelitian diperoleh dari surat kabar, terutama bidang ekonomi, politik, dan budaya. Syafar menggunakan teori Haugen (1972), yakni (a) proses pemasukan dan (b) proses penyulihan. Analisis morfologis dibagi menjadi tiga golongan utama, yaitu kata simpleks, kata kompleks, dan majemuk. Kata dasar meliputi nomina, verba, dan adjektiva. Kata kompleks telah mengalami proses morfologis berupa afiksasi.

Afiksasi pada bahasa Inggris terdiri atas bentukan nomina dan bentukan adjektiva, sedangkan afiksasi bahasa Indonesia meliputi bentukan nomina dan verba dengan afiksasi. Kata majemuk serapan dari bahasa Inggris berupa adjektiva dan nomina.

Syafar juga membahas perubahan makna kata serapan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia. Wujud perubahan makna yang ditemukan adalah perubahan makna total, perubahan makna menyempit, perubahan makna total, perubahan makna amelioratif dan perubahan makna peyoratif. Terdapat beberapa alasan penyerapan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia, yaitu alasan (a) kehematan, kemudahan dan kesingkatan, (b) gengsi, (c) memenuhi kebutuhan register tertentu, (d) nuansa makna, dan (e) memenuhi kebutuhan eufemisme.

Perbedaan penelitian ini dengan yang dilakukan Syafar ialah datanya yang benar-benar masih mentah, yang berasal dari penggunaaan bahasa Indonesia alami oleh masyarakat pengguna bahasa di Sumatera Barat. Kajiannya pun lebih rinci, dimulai dari kajian fonetik dan fonologi. Sementara Syafar, tidak melakukan kajian fonetik dan fonologi dari data yang bahasa sumbernya sudah ditetapkan bahasa Inggris.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian yang dilaksanakan dengan metode kualitatif. Creswell (2003:74) mengatakan bahwa penelitian kualitatif paling tepat digunakan dalam memahami serta mengeksplorasi suatu konsep atau fenomena.

Prosiding Seminar Nasional “Jepang dan Indonesia dalam Perspektif Humaniora”, 07 November 2018 54 Tujuan penelitian kualitatif untuk menemukan asal-usul kata dari data yang dianalisis sehingga dapat menjelaskan fakta secara mendalam dan jelas. Penelitian kualitatif dipilih karena digunakan untuk memaparkan atau memberi gambaran asal-usul kata, perubahan kata, dan faktor yang melatarbelakangi terjadinya penyerapan kata tersebut. Kekualitatifan penelitian ini berkaitan dengan data penelitian yang tidak berupa angka-angka, tetapi berupa kata atau frasa.

Teknik yang digunakan dalam penyediaan data penelitian adalah teknik simak. Sudaryanto (1993:133) menyebut teknik simak dengan penyimakan karena pengambilan data dilakukan dengan menyimak penggunaaan data yang ada.

Teknik simak ini juga berlaku untuk data tertulis. Peneliti memperhatikan setiap kata serapan yang terdapat dalam sumber data, yakni papan nama, spanduk, brosur, pamflet, dan poster yang terdapat di sepanjang jalan protokol yang terdapat tiga kabupaten/kota Sumatera Barat yang meliputi Kab. Tanah Datar, Kota Bukittinggi, dan Kota Payakumbuh Sumatera Barat.

Analisis data dilakukan dengan teknik padan translasional dan artikulatoris.

Teknik padan yang dilakukan mengacu pada pengertian yang dikemukan Sudaryanto (1993:13), yaitu teknik dengan alat penentunya berada di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Dengan demikian, teknik pada translasional adalah teknik yang alat penentunya di luar bahasa yang bersangkutan.