7.1. LATAR BELAKANG
Jumlah UMKM di Indonesia yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan lebih dari 63.934 UPI (KKP, 2014). Saat ini masih banyak UMK di bidang perikanan yang lemah dalam manajemen, akses terhadap informasi pasar, teknologi dan sumberdaya manusia (SDM).
Selain itu, produk perikanan yang dihasilkan UMK masih sulit menembus pasar karena kualitas, kuantitas dan kontinuitas hasil produksi masih belum stabil serta ketidakmampuan dalam mengakses modal. Di pasar antara penjual dan pembeli akan melakukan transaksi. Transaksi adalah kesepakatan dalam kegiatan jual-beli. Syarat terjadinya transaksi adalah ada barang yang diperjual belikan, ada pedagang, ada pembeli, ada kesepakatan harga barang, dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan pelaku usaha perikanan, maka diperlukan kerjasama antar berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi/lembaga penelitian, lembaga penyuluhan, lembaga pelatihan, dan pengusaha/swasta untuk memberikan pelayanan langsung kepada pelaku usaha perikanan yang masih lemah. Kerjasama ini berupa peningkatan keterampilan dan
52 pengetahuan pelaku usaha, layanan informasi, akses pasar, dan mediasi. Fasilitasi pemasaran merupakan tahapan akhir dari kegiatan branding produk perikanan.
Penyuluh Perikanan memfasilitasi akses pasar produk perikanan dengan beberapa tujuan pasar, antara lain :
1. Pasar Tradisional
Pasar tradisional adalah pasar yang bersifat tradisional dimana para penjual dan pembeli produk hasil perikanan dapat mengadakan tawar menawar secara langsung.
Barang-barang yang diperjual belikan adalah barang yang berupa barang kebutuhan pokok.
2. Pasar Modern
Pasar modern adalah pasar yang bersifat modern dimana barang-barang diperjual belikan dengan harga pas dan dengan layanan sendiri.
Tempat berlangsungnya pasar ini adalah di mal, plaza, dan tempat-tempat modern lainnya.
Pasar modern merupakan pengembangan dari ritel tradisional. Nama retailer di Indonesia yang saat ini terus berkembang antara lain : a) Hypermarket : Carrefour, Giant, Hypermart,
Lotte Mart;
b) Supermarket : Hero, Giant, Superindo, Yogya, Robinson, Food Mart, Food Hall, Carrefour Express, Ranch Market (Farmers Market), Grand Lucky, Kemchicks;
53 c) Health & Beauty Stores (Specialty Stores) : Guardian, Century, All Fresh, Total Buah, Toko Diskon, K24, Carrefour Market;
d) Convenience Stores / Minimart : Indomaret, Alfamart, Seven Eleven-711, Circle K (Perumahan), Yomart, Bright (Pom Bensin), Starmart (Apartment-Gedung Perkantoran);
e) Wholesale : Lotte Mart (dulu Makro);
f) Department Stores : Metro, Sogo, Sarinah.
3. e- commerce
Tidak dapat dipungkiri bahwa iklim usaha dan konsumsi masyarakat saat ini mulai beralih ke sistem eletronik (online system). Dengan bermodalkan akses internet, pelaku usaha perikanan sudah dapat memasarkan produknya tanpa harus mengeluarkan modal yang besar seperti pasar tradisional. e- commerce mendorong percepatan dan pengembangan sistem perdagangan usaha pemula (start-up), pengembangan usaha, dan percepatan logistic pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan.
Berdasarkan data KUKM, 2017, kontribusi produsen UMKM yang bergabung dengan platform e-commerce di Indonesia masih di bawah 8% dari total pasar e-commerce. Sisanya adalah pengepul atau trader yang menjual barang dari produsen besar di luar negeri
54 Berangkat dari potensi peran penyuluh perikanan dalam memfasilitasi akses pasar, maka Pusat Pelatihan dan Penyuluhan menyusun Pedoman Teknis Akses Pasar sebagai acuan bagi Penyuluh Perikanan sebagai bentuk pendampingan dan penyuluhan bagi pelaku Utama/pelaku usaha agar mampu melakukan berbagai strategi supaya meningkat produktivitas, efesiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya.
7.2. TUJUAN
Tujuan Penyusunan Pedoman Akses Pasar KP adalah sebagai berikut :
a) sebagai acuan fasilitasi akses pasar dan permodalan bagi pelaku utama dan pelaku usaha;
b) sebagai pedoman bagi Penyuluh Perikanan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya melakukan pendampingan dan penyuluhan Pelaku Utama dan pelaku usaha KP.
7.3. Tahapan Pendampingan Fasilitasi Akses Pasar
Dalam rangka mengakses pasar bagi pelaku utama dan pelaku usaha sector kelautan dan perikanan, maka Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP menyusun tahapan dan langkah-langkah yang dilakukan
55 Penyuluh Perikanan dalam memfasilitasi akses pasar sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi calon pembeli dan penjual.
2. Mengidentifikasi target pasar, lokasi pasar, dan internet marketing
3. Mengembangkan branding produk perikanan yang hendak diperjualbelikan.
4. Melakukan promosi secara konsisten, kontinyu, dan kreatif.sebagai sarana untuk memperkenalkan produk perikanan kepada konsumen.
5. memfasilitasi permintaan serta penawaran oleh kedua pihak.
6. Memfasilitasi interaksi diantara pembeli dan penjual (pelaku usaha) baik itu secara langsung ataupun tidak langsung; dan 7. Mengembangkan jaringan pemasaran.
56 VIII. FASILITASI AKSES INFORMASI
TEKNOLOGI
8.1. Latar Belakang
Kegiatan penyuluhan perikanan diharapkan mampu menjadi salah satu katalisator dalam upaya mengerakkan sumberdaya manusia yang handal dan profesional sebagai modal dasar bagi pembangunan kelautan dan perikanan.
Penyuluhan perikanan diselenggarakan oleh berbagai pihak dan dalam perkembangannya telah mengalami proses transformasi, dari penyuluhan yang berorientasi pengetahuan, sikap dan keterampilan telah berkembang pada kegiatan penyuluhan yang berorientasi peningkatan produksi dan bisnis perikanan dengan pendekatan partisipatif. Permasalahan mendasar dalam kegiatan usaha dalam peningkatan produksi dan bisnis pelaku utama/usaha perikanan, masih rendahnya kompetensi SDM dalam mengakses informasi teknologi (IPTEK), untuk mengatasi kondisi yang demikian, maka diperlukan fasilitasi pendampingan agar pelaku utama/usaha perikanan mampu mendapatkan akses informasi teknologi secara mandiri cepat dan tepat.
57 Dalam percepatan untuk mendapatkan akses informasi teknologi dapat difasilitasi pendampingan melalui akses
a. media cetak (surat kabar, majalah brosur, tabloid, leaflet, dll);
b. media elektronik/IT (cyber extension/internet, televisi, radio, film, dll);
c. mengakses langsung ke instansi/lembaga penghasil informasi teknologi (perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga pelatihan dan penyuluhan, dll).
8.2. Tujuan
Tujuan fasilitasi pendampingan akses informasi teknologi adalah;
a. Agar pelaku utama/pelaku usaha mau dan mampu mengakses informasi teknologi dari sumber iptek yang tepat dan cepat;
b. Agar pelaku utama/usaha perikanan mau dan mampu membiasakan diri secara mandiri mengakses iptek baik dari media cetak, media elektronik maupun mengakses langsung kepada lembaga IPTEK.
58 8.3. Tahapan
1. Tahapan pendampingan akses informasi teknologi dari media cetak tahapannya adalah:
a) mengidentifikasi materi sesuai kebutuhan;
b) pencarian media dapat diperpustakaan lembaga negara, pustaka lembaga yang menangani IPTEK atau di toko buku.
c) memilih media yang dapat dipertanggung jawabkan misalnya dengan memeriksa penerbit, penulis, dan sumber teknologi, hasil teknologi (tradisional, baru/hasil penelitian)
d) membaca/mempelajari isi iptek dan diskusikan (pelaku utama/usaha dengan kelompok, atau penyuluh);
e) Sebelum teknologi diterapkan pada skala usaha yang besar sebaiknya diujicoba untuk mendapatkan informasi kesesuaian hasil.
2. Tahapan mengakses informasi teknologi dari media elektronik (cyber extension/internet, televisi, radio, film, dll)
a) Mengidentifikasi materi sesuai kebutuhan;
b) Memilih media elektronik sesuai dengan kebutuhan sasaran penyuluhan
c) Mendiskusikan materi dengan kelompok.
d) Sebelum menerapkan teknologi pada skala usaha yang besar sebaiknya diuji coba
59 terlebih dahulu untuk mendapat informasi kesesuaian hasil.
3. Tahapan mengakses langsung ke Instansi/lembaga penghasil informasi teknologi (perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga pelatihan dan penyuluhan, dll) adalah:
a) mengidentifikasi dan menetapkan materi sesuai kebutuhan;
b) menelusuri dan menetapkan lembaga/instansi penghasil teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pelaku utama/usaha perikanan;
c) menghubungi dan menjelaskan kepada kontak person terkait kebutuhan informasi teknologi sesuai materi yang telah ditetapkan;
d) mengkomunikasikan jadwal siapa dan kapan saja yang mewakili lembaga/instansi bisa dihubungi baik melalui telepon, whats app, internet atau dikunjungi ke kantornya.
e) menghubungi/berkomunikasi
menyampaikan informasi kebutuhan informasi teknologi kepada lembaga/instansi yang dihubungi dan menghimpun semua informasi yang diberikan;
f) informasi teknologi yang telah dihimpun dibahas dan didiskusikan dengan kelompok dan penyuluh.
60 g) sebelum menerapkan teknologi pada skala usaha yang besar sebaiknya diuji coba terlebih dahulu untuk mendapat informasi kesesuaian hasil.
61 IX. SOSIALISASI PER UNDANG- UNDANGAN TERKAIT KELAUTAN DAN
PERIKANAN 9.1. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sumber daya alam yang melimpah harus dikelola secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan umum khususnya masyarakat kelautan dan perikanan. Wilayah laut sebagai bagian terbesar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki posisi dan nilai strategis dari berbagai aspek kehidupan yang mencakup politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan merupakan modal dasar pembangunan nasional.
Pengelolaan sumber daya kelautan dilakukan melalui sebuah kerangka hukum untuk memberikan kepastian hukum dan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Diantara produk hukum yang perlu disosialisasikan adalah terkait penangkapan ikan ilegal (Illegal Fishing) yang melanggar hukum yang ditetapkan di perairan suatu negara. Kegiatan Illegal Fishing yang umum terjadi di perairan Indonesia diantaranya;
penangkapan ikan tanpa izin, mengunakan izin palsu, menggunakan alat tangkap yang dilarang dan penangkapan jenis ikan (spesies) yang tidak sesuai dengan ijin yang diberikan.
62 Illegal Fishing menjadi ancaman terhadap kelestarian sumberdaya ikan karena hasil tangkapan tidak termonitor, baik jenis, ukuran maupun jumlahnya, mengakibatkan kerugian secara ekonomis hilangnya sebagian devisa negara dan peluang kerja nelayan Indonesia (lokal) berkurang karena kapal-kapal illegal adalah kapal-kapal asing yang menggunakan ABK asing.
Permasalahan illegal fishing di Indonesia tersebut, diperlukan langkah penanganan dan pencegahan (preventif) guna mengurangi kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia. Untuk itu, peranan penyuluh perikanan sebagai agen perubahan (agent of change) memiliki peran penting dalam mengurangi kerugian yang lebih besar bagi negara akibat illegal fishing
Dengan melibatkan penyuluh perikanan dalam mensosialisasikan produk hukum terkait perikanan diharapkan dapat melakukan perubahan sikap dan perilaku negatif masyarakat nelayan serta menumbuhkan kesadaran dan perilaku konservatif untuk kelestarian dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan dan bertanggungjawab.
Selain itu, ada beberapa peraturan lain terkait pengelolaan sumber daya ikan agar berkelanjutan dan produk hokum lain. Agar
63 produk hukum tersebut dapat terpublikasikan, dapat dipahami dan dapat diterima oleh pelaku utama/pelaku usaha perikanan dilapangan, maka perlu sosialisasi produk hukum terkait perikanan dengan melibatkan penyuluh perikanan.
Dengan melibatkan penyuluh perikanan dalam mensosialisasikan produk hukum terkait perikanan diharapkan dapat melakukan perubahan sikap dan perilaku negatif masyarakat nelayan serta menumbuhkan kesadaran dan perilaku konservatif untuk kelestarian dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan dan bertanggungjawab.
9.2. Tujuan
Sebagai bentuk penyadaran kepada masyarakat melalui penyerbarluasan produk peraturan perundang-undangan kepada masyarakat sehingga memudahkan masyarakat mengetahui dan memahami informasi dari produk hukum terbaru terkait perikanan.
9.3. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Dalam rangka mensosialisasikan regulasi dan peraturan terkait sektor kelautan dan
perikanan, beberapa hal ini dapat dilakukan oleh Penyuluh Perikanan :
64 1) mencari sumber informasi pada :
http://infohukum.kkp.go.id/index.php/
hukum/
Beberapa peraturan yang perlu disosialisasikan :
a. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 39/Permen-KP/2017 tentang Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan;
b. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1/Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.);
c. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 2/Permen-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
d. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 56/Permen-KP/2014 Tentang Penghentian Sementara (Moratorium) Perizinan Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
65 2) Mengidentifikasi kebutuhan sasaran yang
sesuai kepada regulasi atau peraturan yang telah ditetapkan;
3) Memberikan pemahaman dan penyadaran kepada pelaku utama dan pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan. Beberapa metoda dalam proses ini :
a. Menyediakan berbagai media sosialisasi, seperti, brosur, leaflet, poster, CD, dan sebagainya, serta mendistribusikan media tersebut Memasang poster pada papan papan pengumuman dan menyediakan brosur.
1) Leaflet sering juga disebut pamphlet merupakan sehelai kertas dari bahan agak kaku yang mudah dilipat sebagai sarana untuk menginformasi dan mengkomunikasikan produk, jasa, layanan, proses atau prosedur tertentu.
2) Poster berbeda dengan media komunikasi lainnya yakni bahwa poster harus dapat dibaca orang yang sedang bergerak (berkendara atau berjalan kaki) sedangkan brosur, booklet dirancang untuk dibaca secara khusus, sambil duduk atau diam sesaat sambil berdiri. Oleh karena itu poster harus dapat menarik perhatian pembacanya seketika, dan
66 dalam hitungan detik, pesannya harus dimengerti.
3) Billboard adalah bentuk media komunikasi luar ruang dengan ukuran besar yang diletakkan di tempat tertentu yang tinggi dan ramai dilalui orang.
4) Banner yang ukurannya dua hingga empat kali lipat poster atau bahkan lebih besar lagi. Banner ini tidak ditempel di dinding melainkan dipasang pada dudukannya sehingga mudah dipindah pindah. Banner umumnya di pasang di ruang layanan umum
b. Menayangkan pada blogger dan/atau web pada internet.
67 X. PENDAMPINGAN PELESTARIAN SUMBER
DAYA LINGKUNGAN
10.1. Latar Belakang
Lingkungan adalah kawasan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan yang mempengaruhi perkembangan kehidupan baik langsung maupun tidak langsung. Pelestarian Lingkungan merupakan upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan dampak negatif yang ditimbulkan suatu kegiatan, serta menjaga kestabilan lingkungan untuk menjadi tempat hidup manusia, hewan dan tumbuhan.
Lingkungan bisa kita bedakan menjadi lingkungan biotik, abotik dan sosial. Biotik adalah makhluk hidupnya (manusia, hewan dan tumbuhan) sementara abiotik adalah yang bukan makhluk hidup (udara, tanah, air, gedung, jalan raya, rumah dan lain - lain). Yang ketiga lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem interaksi yang besar peranannya dalam membentuk karakter kepribadian seseorang. Pengkategorian lingkungan ini sangat saling terkait dan saling mempengaruhi.
Pengelolaan sumber daya alam seharusnya mengacu kepada aspek konservasi
68 dan pelestarian lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang hanya berorientasi ekonomi hanya membawa efek positif secara ekonomi tetapi menimbulkan efek negatif bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pembangunan tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek etika dan sosial yang berkaitan dengan kelestarian serta kemampuan dan daya dukung sumber daya alam.
Pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin.
Pemanfaatan sumber daya alam seharusnya memberi kesempatan dan ruang bagi peran serta masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam satu dekade ini, secara umum, sumber daya alam dan lingkungan hidup banyak mengalami tekanan di hampir seluruh wilayah tanah air. Tekanan lingkungan hidup didominasi oleh berbagai bencana alam, kerusakan sumber daya alam, dan menurunnya fungsi lingkungan hidup sebagai unsur penting dalam penyangga kehidupan. Pengelolaan sumber daya hutan dihadapkan pada permasalahan makin berkurangnya luasan
69 hutan dan rusaknya ekosistem Perairan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disebabkan maraknya penebangan ilegal dan konversi lahan. Hal serupa juga terjadi dalam pengelolaan sumber daya kelautan. Illegal fishing (terutama di Zona Ekonomi Eksklusif-ZEE) dan penambangan pasir laut illegal merugikan negara.
Permasalahan lainnya adalah pencemaran dan rusaknya ekosistem pesisir dan laut di beberapa wilayah. Deforestrasi hutan mangrove, degradasi terumbu karang, dan padang lamun di kawasan pesisir dan laut mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati laut.
10.2. Tujuan
Dengan memperhatikan permasalahan dan kondisi sumber daya perairan dan lingkungan hidup dewasa ini, maka tujuan pendampingan pelestarian sumber daya perairan dan lingkungan hidup ditujukan pada upaya: (1) mengelola sumber daya perairan, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya, (2) memberdayakan masyarakat dan kekuatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya perairan dan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, (3) memelihara kawasan konservasi yang sudah
70 ada dan menetapkan kawasan konservasi baru di wilayah tertentu, dan (4) mengikutsertakan masyarakat dalam rangka menanggulangi permasalahan lingkungan.
10.3. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan a) Penyadaran Masyarakat
Penyadaran masyarakat melalui kampanye dan penyuluhan secara langsung dan terus menerus. Upaya kampanye dan penyuluhan yaitu :
a. Memberikan penyadaran dan pemahaman tentang bahaya pencemaran laut
b. Memberikan penyadaran dan pemahaman tentang pemanfaatan sumberdaya ikan yang lestari dan berkelanjutan
c. Mendorong masyarakat untuk hidup bersih guna menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup
d. Mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam pengendalian pencemaran laut
e. Kampanye dan penyebarluasan informasi terhadap seluruh lapisan masyarakat f. Penyuluhan dan penyadaran langsung
terhadap masyarakat untuk hidup bersih guna pengendalian pencemaran laut dan guna menjaga kelestarian fungsi lingkungan perairan pesisir dan laut.
71 b) Mendampingi Rehabilitasi Kawasan
Penerapan penanaman mangrove atau vegetasi pantai lainnya yang dapat berfungsi sebagai pengendali pencemaran laut atau untuk rehabilitasi kawasan pantai secara keseluruhan. Diharapkan dengan semakin banyaknya vegetasi mangrove dapat meningkatkan wilayah-wilayah tempat ikan melakukan spawning ground.
c) Sosialisasi Pengaturan Pengelolaan Sumberdaya Ikan
Kondisi potensi sumberdaya ikan yang sudah mengalami over fishing harus segera diberlakukan pengaturan pemanfaatan sumberdaya ikan sebagai berikut :
a. Sosialisasi Pembatasan alat tangkap (restriction on gears)
Ditujukan untuk melindungi sumberdaya ikan dari penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak atau destruktif. Disamping itu, kebijakan ini juga dapat dilakukan dengan alasan sosial politik untuk melindungi nelayan yang menggunakan alat tangkap yang kurang atau tidak efisien.
b. Sosialisasi Penutupan area (closed season) Kebijakan ini pada dasarnya mempunyai pengertian menghentikan kegiatan penangkapan ikan di suatu perairan. Kebijakan ini dapat bersifat permanen, atau dapat juga berlaku dalam
72 kurun waktu tertentu. Dampak dari kebijakan ini relatif sama dengan kebijakan penutupan musim. Dalam hal ini terdapat beberapa negara menerapkan kebijakan ini untuk kapal ikan dengan ukuran tertentu dan atau alat tangkap tertentu.
c. Sosialisasi Pembatasan ukuran ikan yang didaratkan
Bentuk kebijakan ini pada hakekatnya lebih ditujukan untuk mencapai atau mempertahankan struktur umur yang paling produktif dari stok ikan. Hal ini dilakukan dalam rangka memberi kesempatan pada ikan yang masih muda untuk tumbuh, dan bertambah nilai ekonominya serta kemungkinan berproduksi sebelum ikan tersebut ditangkap. Kebijakan ini akan berdampak pada komposisi dari hasil tangkapan dan ukuran individu ikan yang tertangkap.
d) Sosialisasi Penataan Zona Wilayah Laut Untuk pemanfaatan sumberdaya ikan yang lestari dan berkelanjutan, perlu dilakukan penataan ruang wilayah pesisir, pantai dan laut bagi kesesuaian pemanfaatannya. Penataan ruang dan zona meliputi lokasi yang sesuai bagi konservasi (zona inti), pemanfaatan (penangkapan ikan, budidaya, dan wisata), serta penyangga.
73 e) Sosialisasi dan Pendampingan Mata
Pencaharian Alternatif
Pengurangan jumlah unit usaha penangkapan ikan dalam rangka menjaga kelestarian sumberdaya ikan karena pemanfaatannya sudah overexploited, memberikan dampak pada berkurangnya jumlah tenaga kerja pada usaha perikanan tangkap dan harus beralih pada usaha lainnya. Untuk mengatasi permasalahan ini perlu dikembangkan mata pencaharian alternatif. Program ini dapat berjalan melalui kegiatan : (1) identifikasi dan uji coba usaha skala kecil; (2) memberikan dukungan teknis dibidang keterampilan pengelolaan usaha skala kecil; (3) menyediakan bantuan permodalan ; dan (4) membantu perluasan jaringan pemasaran.
74 XI. PENDAMPINGAN BANTUAN
PEMERINTAH 11.1. Latar Belakang
Sesuai Permen KP Nomor 70 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum Dalam Rangka Penyaluran Bantuan Pemerintah Di Kementerian Kelautan Dan Perikanan yang didefinisikan sebagai bantuan pemerintah adalah bantuan yang tidak memenuhi kriteria bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah kepada perseorangan, kelompok masyarakat atau lembaga pemerintah atau non pemerintah.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan bentuk Bantuan Pemerintah bidang kelautan dan perikanan sebagai berikut :
a. pemberian penghargaan;
b. pemberian beasiswa;
c. bantuan operasional;
d. bantuan sarana/prasarana;
e. bantuan rehabilitasi/pembangunan gedung/ bangunan;
f. bantuan pembayaran premi asuransi jiwa, asuransi perikanan, dan asuransi pergaraman; dan
g. bantuan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dan konservasi.
75 Pemberian Bantuan Pemerintah dapat diserahkan kepada perorangan dan/atau kelompok yang memenuhi kriteria sesuai peraturan yang ditetapkan Pemerintah,
Undang-Undang Nomor 7 tahun 2016 tentang perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam mengamanahkan bahwa bantuan pemerintah merupakan salah satu bentuk pemberdayaan kepada para pelaku utama dan pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan. Sementara itu pendampingan dan penyuluhan merupakan salah satu strategi pemberdayaan. Sehingga peran Penyuluh Perikanan dalam melakukan pendampingan Bantuan Pemerintah merupakan kepentingan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam melakukan pemberdayaan kepada para pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan.
Dalam rangka pendampingan Bantuan Pemerinah, Penyuluh Perikanan memiliki peran penting mulai hulu sampai hilir, meliputi identifikasi, verifikasi dan pendampingan pasca pemberian bantuan.
11.2. Tujuan
Tujuan Pedoman Pendampingan Bantuan pemerintah adalah sebagai acuan :
76 1. Bagi Penyuluh Perikanan dalam melakukan pendampingan dan penyuluhan atas Bantuan Pemerintah yang diberikan kepada pelaku utama dan pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan; dan
2. Bagi stakeholders dalam mensinergikan bantuan pemerintah dalam menyalurkan bantuan pemerintah kepada calon penerima.
11.3. Tahapan Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan pendampingan Bantuan Pemerintah oleh penyuluh Perikanan sebagai berikut :
1. Identifikasi calon penerima Bantuan Pemerintah
a) Mengumpulkan data primer dan data sekunder terkait calon penerima Bantuan Pemerintah;
b) Mendampingi penguatan kelompok penerima bantuan menjadi koperasi sektor kelautan dan perikanan dan/atau kelompok berbadan hukum;
2. Melakukan verifikasi calon penerima Bantuan Pemerintah
a) Melakukan survei dan kroscek lapangan terhadap calon penerima bantuan yang ditetapkan Pemerintah;