BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
4. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pada dasarnya tujuan penyusunan APBD sama halnya dengan tujuan penyusunan APBN. APBD disusun sebagai pedoman penerimaan dan pengeluaran penyelenggaraan negara di daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. Dengan APBD maka pemborosan, penyelewengan, dan kesalahan dapat dihindari.
Dasar hukum dalam penyelenggaraan keuangan daerah dan pembuatan APBD adalah sebagai berikut:
1) UU No. 32 Tahun 2003 tentang Pemerintah Daerah
2) UU No. 33 Tahun 2003 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
3) PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggung jawaban Keuangan Daerah
4) Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggung jawaban Keuangan Daerah serta Tata Cara Pengawasan, Penyusunan, dan Perhitungan APBD
18
Menurut ketentuan Undang-Undang No. 29 Tahun 2008, pendapatan asli daerah yaitu sumber keuangan daerah yang di gali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Menurut Ardhani (2011 : 17) mendefinisikan tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah sumber yang dapat membiayai atau sumber pembiayaan pemerintah daerah dalam menciptakan pembangunan daerah. Maka dari itu pemerintah pusat mengharapkan agar pemerintah daerah bisa mengembangkan dan meningkatkan hasil dari PAD dengan maksimal untuk membiayai segala pembangunan atau infrastuktur, sarana prasarana daerah pada APBD. Semakin baik PAD suatu daerah maka semakin besar pula alokasi belanja modalnya..
Dari pengertian di atas, biasa dipahami bahwa untuk mengoptimalkan penerimaan pendapatan asli daerah diperlukan upaya yang maksimal dalam menggali potensi daerah untuk dijadikan sebagai sumber penerimaan dan kemudian diatur dalam suatu peraturan daerah yang harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ).
Selanjutnya dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 dikemukakan bahwa sumber pendapatan asli daerah terdiri dari:
1) Hasil pajak daerah 2) Hasil retribusi daerah
3) Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan
4) Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Sumber keuangan daerah menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2000, tentang Pemerintah Daerah pasal 3 dikemukakan sebagai berikut:
1) Pendapatan asli daerah yang terdiri dari:
a) Pajak daerah b) Retribusi daerah
c) Hasil perusahaan daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan
d) Lain-lain penerimaan yang sah.
2) Dana perimbangan terdiri dari:
a) Bagian daerah dari penerimaan pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumber daya alam.
b) Dana Alokasi Umum ( DAU ), yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka desentralisasi dan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah, DAU suatu daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal ( fiscal gab ) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah ( fiscal need ) dan potensi daerah ( fiscal capacity ).
c) Dana Alokasi Khusus ( DAK ), yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membantu membiayai kebutuhan
20
tertentu, DAK dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan- kegiatan khusus di daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu untuk mendorong percepatan pembangunan daerah.
d) Pinjaman daerah, yaitu semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali, tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan.
e) Lain-lain penerimaan yang sah.
Untuk jelasnya, berikut ini akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:
1) Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) dapat berasal dari:
a) Pajak daerah dalam hal ini adalah pajak yang dipungut menurut peraturan yang ditetapkan untuk pembiayaan rumah tangga sendiri sebagai badan publik.
b) Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus di sediakan dan diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan, sehingga bias disimpulkan bahwa retribusi daerah adalah retribusi yang dipungut daerah karena adanya suatu balas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah.
c) Bagian laba dari perusahaan daerah adalah untuk mendorong pembangunan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dianggap cara efisien untuk penyediaan layanan masyarakat dan untuk menghasilkan penerimaan dari pemerintah daerah, badan usaha milik daerah yang bergerak dibidang niaga dan layanan umum.
d) Penerimaan dari dinas-dinas, pendapatan ini diperoleh dari dinas-dinas atau instansi pemerintah yang ada di daerah itu sendiri.
e) Penerimaan lain-lain, sumbangan ini mencakup penerimaan dari hasil penjualan alat-alat bekas, penerimaan dari sewa bunga simpanan dan giro di bank serta penerimaan dari pendapatan daerah dan sebagainya.
2) Dana perimbangan yang berasal dari:
a) Penerimaan negara dari pajak bumi dan bangunan dibagi dengan imbangan 10% untuk pemerintah pusat dan 90% untuk daerah.
b) Penerimaan negara dari bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dibagi dengan imbangan 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah.
c) Penerimaan negara dari sumber daya alam sektor kehutanan, sektor pertambangan umum, dan sektor perikanan dibagi dengan imbangan 20% untuk pemerintah pusat dan 50% untuk daerah.
d) Pemerintah negara dari sumber daya alam sektor pertambangan minyak dan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan dibagi dengan imbangan sebagai berikut:
22
1) Penerimaan negara dan pertambangan minyak yang berasal dari wilayah daerah setelah dikurangi komponen pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dibagi dengan imbangan 85% untuk pemerintah pusat dan 15% untuk daerah.
2) Penerimaan negara dari pertambangan gas alam yang berasal dari wilayah daerah setelah dikurangi komponen pajak sesuai ketentuan yang berlaku dibagi dengan imbangan 70% untuk pemerintah pusat dan 30% untuk daerah.
3) Pinjaman Daerah
Penerimaan pinjaman ini dimanfaatkan baik untuk pengeluaran rutin maupun untuk pengeluaran pembangunan. Ada beberapa unsur utama pinjaman yang terbuka untuk pemerintah daerah di Indonesia yaitu:
a) Pinjaman dari sumber dalam negri untuk membiayai sebagai anggarannya.
b) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman, serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.
c) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah.
d) Pinjaman yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk penyetaraan modal daerah.
e) Pinjaman dari pemerintah daerah untuk membangun sarana umum.
f) Dan lain-lain yang erat hubungannya dengan hal tersebut.
Di masa yang lalu, pembiayaan pembangunan didanai dari tabungan pemerintah yang merupakan kelebihan penerimaan dalam negeri dari pengeluaran rutin. Dalam era otonomi, pembiayaan di daerah terdiri dari pembiayaan yang berasal dari anggaran dekonsentrasi, anggaran tugas pembantuan, dana alokasi khusus dan dana alokasi umum.
Anggaran denkonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.
Dana alokasi umum adalah sejumlah dana yang harus dialokasikan pemerintah pusat kepada setiap daerah otonom di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. Dana alokasi umum merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD.
Dana alokasi khusus adalah alokasi anggaran pendapatan dan belanja negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintahan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Dana alokasi khusus didalam dana perimbangan, disamping dana alokasi umum.
24