• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Belajar Kooperatif

PENDEKATAN PEMBELAJARAN

G. Pendekatan Belajar Kooperatif

Disiplin diri (Self Regulation)

Mengerti akan pola pikirnya sendiri

Membuat rencana yang efektif

Membuat dan mengguakan sumber-sumber yang diperlukan

Sangat peka terhadap umpan balik

Berpikir kritis (Critical Thinking)

Tepat dan selalu berusaha agar tepat

Jelas dan selalu berusaha agar jelas

Berpikir terbuka

Menahan diri untuk tidak implusif

Memperlihatkan prinsip warna jika memang diperlukan

Peka terhadap perasaan dan tingkat pengetahuan orang lain

Berpikir kreatif (Creative Thinking)

Tetap melaksanakan tugas walaupun hasilnya belum jelas benar

Berusaha sekuat tenaga dan semampunya

Selalu mempunyai dan berusaha mencapai standar yang ideal yang ditetapkan untuk dirinya

Mempunyai cara-cara untuk terlibat situasi dari perspektif lain selain yang ada.

Disiplin diri (Self Regulation)

Mengerti akan pola pikirnya sendiri

Membuat rencana yang efektif

Membuat dan mengguakan sumber-sumber yang diperlukan

Sangat peka terhadap umpan balik

Berpikir kritis (Critical Thinking)

Tepat dan selalu berusaha agar tepat

Jelas dan selalu berusaha agar jelas

Berpikir terbuka

Menahan diri untuk tidak implusif

Memperlihatkan prinsip warna jika memang diperlukan

Peka terhadap perasaan dan tingkat pengetahuan orang lain

Berpikir kreatif (Creative Thinking)

Tetap melaksanakan tugas walaupun hasilnya belum jelas benar

Berusaha sekuat tenaga dan semampunya

Selalu mempunyai dan berusaha mencapai standar yang ideal yang ditetapkan untuk dirinya

Mempunyai cara-cara untuk terlibat situasi dari perspektif lain selain yang ada.

G. Pendekatan Belajar Kooperatif

Pendekatan Belajar Kooperatif sangat dikenal pada tahun 1990’an (Duffy Cunningham, 1996). Oxford Dictionary (1992)

mendefinisikan kooperatif sebagai “bersedia untuk membantu”

(to be of assistance or be willing to assist). Kooperatif juga bekerjasama untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Menurut Sjavin (1987), belajar kooperatif dapat membantu siswa dalam mendefiniskan struktur motivasi dan organisasi untuk menumbuhkan kemitraan yang bersifat kolaboratif.

Pengelompokkan siswa merupakan salah satu strategi yang dianjurkan sebagai cara siswa untuk saling berbagi pendapat berargumentasi dan mengembangkan berbagai alternatif pandangan dalam upaya konstruksi pengetahuan. Tiga konsep yang melandasi metode kooperatif:

1. Team Reward,: tim akan mendapat hadiah bila mereka mencapai kriteria tertentu yang ditetapkan.

2. Individual accountability: keberhasilan tim tergantung dari hasil beberapa individual dari semua anggota tim.

Pertanggungjawaban berpusat pada kegiatan anggota tim dalam membantu belajar satu sama lain dan memastikan bahwa setiap anggota untuk siap kuis atau penilaian lainnya tanpa bantuan teman sekelompoknya.

3. Equal opportunities for success: setiap siswa memberikan kontribuasi kepada timnya dengan cara memperbaiki hasil belajarnya sendiri yang terdahulu. Kontribusi dari semua anggota kelompok dinilai.

Pendekatan belajar kooperatif menganut 5 prinsip utama:

1. Saling ketergantungan positif: arti ketergantungan dalam hal ini adalah keberhasilan kelompok merupakan hasil kerja keras seluruh anggota. Setiap anggota berperan aktif dan mempunyai andil yang sama terhadap keberhasilan kelompok.

2. Tanggungjawab perseorangan: Tanggungjawab perseorangan muncul ketika seorang anggota kelompok bertugas untuk menyajikan yang terbaik dihadapan guru dan teman sekelas lainnya. Anggota yang tidak bertugas

dapat melakukan pengamatan terhadap situasi kelas, kemudian mencatat hasilnya agar dapat didiskusikan dalam kelompoknya.

3. Interaksi tatap muka: bertatap muka merupakan satu kesempatan yang baik bagi anggota kelompok untuk berinteraksi memecahkan masalah bersama disamping membahas materi pelajaran. Anggota dilatih untuk menjelaskan masalah belajar masing-masing, juga memberi kesempatan untuk mengajarkan apa yang dikuasainya kepada teman satu kelompok

4. Komunikasi antar anggota: model belajar kooperatif juga menghendaki agar para anggota dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompoknya, pengajar perlu mengajarkan cara- cara berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung kemampuan mereka untuk saling mendengarkan dan kemampuannya mereka untuk mengutarakan pendapatnya. Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk berlatih mengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana pendapat orang lain tanpa menyinggung perasaan orang tersebut.

5. Evaluasi proses secara kelompok: perlu dijadwalkan khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif.

Cooperative learning juga merupakan model pembelajaran yang menekannkan aktifitas kolaboratif siswa dalam belajar yang benama kelompok, mempelajari materi tentang memecahkan masalah secara kolektif kooperatif.

Pendekatan belajar kooperatif menuntut adanya modifikasi tujuan informasi pembelajaran dari sekedar penyampaian

dapat melakukan pengamatan terhadap situasi kelas, kemudian mencatat hasilnya agar dapat didiskusikan dalam kelompoknya.

3. Interaksi tatap muka: bertatap muka merupakan satu kesempatan yang baik bagi anggota kelompok untuk berinteraksi memecahkan masalah bersama disamping membahas materi pelajaran. Anggota dilatih untuk menjelaskan masalah belajar masing-masing, juga memberi kesempatan untuk mengajarkan apa yang dikuasainya kepada teman satu kelompok

4. Komunikasi antar anggota: model belajar kooperatif juga menghendaki agar para anggota dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompoknya, pengajar perlu mengajarkan cara- cara berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung kemampuan mereka untuk saling mendengarkan dan kemampuannya mereka untuk mengutarakan pendapatnya. Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk berlatih mengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana pendapat orang lain tanpa menyinggung perasaan orang tersebut.

5. Evaluasi proses secara kelompok: perlu dijadwalkan khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif.

Cooperative learning juga merupakan model pembelajaran yang menekannkan aktifitas kolaboratif siswa dalam belajar yang benama kelompok, mempelajari materi tentang memecahkan masalah secara kolektif kooperatif.

Pendekatan belajar kooperatif menuntut adanya modifikasi tujuan informasi pembelajaran dari sekedar penyampaian

informasi menjadi kontruktif pengetahuan melalui belajar berkelompok. Meskipun demikian, prinsip ini sering kali tidak nampak jelas, karena dari beragai literatur tentang belajar kooperarif dan kolaboratif, informasi petunjuk dan pelaksanaan belajar kooperatif pada umumnya menitik beratkan pada struktur dan manajemen pembelajaran. Hal ini bisa dilihat dalam distribusi gender, jumlah siswa dalam kelas, serta strategi pembagian tugas sehingga semua siswa aktif mengerjakan tugas.

Model- model Belajar Kooperatif

Model STADS (student Team A Chievement Division), dengan prosedur sebagai berikut:

1. Sajian guru meliputi sajian pokok permasalahan, konsep, kaidah dan prinsip-prinsip bidang ilmu. Penyajian dalam bentuk ceramah atau tanya jawab

2. Diskusi kelompok dilakukan berdasarkan permasalahan yang disampbaikan oleh guru, oleh sekelompok siswa yang heterogen. Peran guru mengatasi konflik antar anggota sangat diperlukan. Diskusi bertujuan untuk mendalami topik-topik yang disajikan dosen .

3. Setelah pendalaman materi, dilakukan tes, kuis ,silang tanya jawab antar kelompok siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa.

4. Dalam silang tanya, guru memberikan penguatan dalam dialog tersebut.

Model JIGSAW II, dengan prosedur sebagai berikut :

1. Siswa secara individu maupun kelompok (heterogen) mengkaji bahan ajar

2. Dibentuk kelompok ahli (homogen) untuk diskusi pendalaman materi bahan ajar yang dibaca

3. kembali ke kelompok asal (heterogen), siswa menjadi penentu terhadap satu sama lain. Terjadi pembentukan pengetahuan secara berkelompok (social construction of knowledge)

4. tes kuis untuk mengukur kemampuan siswa secara individual

5. diskusi terbuka, sementara guru memberikan penguatan

Model TGT (Teams Games Tournament), dengan prosedur sebagai berikut :

1. Dalam identifikasi masalah siswa dan guru mencoba mengajukan masalah kasus yang berkaitan dengan materi konsep yang sudah dipelajari dalam pertemuan sebelumnya atau melalui membaca di rumah

2. Masalah dipecahkan bersama dalam kelompok

3. Hasil pemecahan masalah disajikan dalam bentuk turnamen, ada kompetisi untuk penyajian/pemecahan masalah yang terbaik. Guru dan beberapa siswa berperan sebagai penilai.

4. Untuk mengukur kemampuan siswa dilakukan kuis belajar kooperatif sangat tepat untuk digunakan dalam penyelesaian studi kasus, proyek penelitian dan tugas interaktif yang dimediasikan oleh computer. Belajar kooperatif bermanfaat untuk meningkatkan sikap positif pembelajaran terhadap lingkungan belajar termasuk guru, kemajuan kerja sama, kemampuan nalar, keterlibatan emosional. Interaksi antar pembelajaran dan dukungan social.

Keterampilan interpersonal merupakan faktor penting yang perlu dibina dalam belajar kooperatif. Keterampilan interpersonal diperlukan untuk membangun dan memelihara hubungan antar pribadi yang saling menguntungkan. Para

3. kembali ke kelompok asal (heterogen), siswa menjadi penentu terhadap satu sama lain. Terjadi pembentukan pengetahuan secara berkelompok (social construction of knowledge)

4. tes kuis untuk mengukur kemampuan siswa secara individual

5. diskusi terbuka, sementara guru memberikan penguatan

Model TGT (Teams Games Tournament), dengan prosedur sebagai berikut :

1. Dalam identifikasi masalah siswa dan guru mencoba mengajukan masalah kasus yang berkaitan dengan materi konsep yang sudah dipelajari dalam pertemuan sebelumnya atau melalui membaca di rumah

2. Masalah dipecahkan bersama dalam kelompok

3. Hasil pemecahan masalah disajikan dalam bentuk turnamen, ada kompetisi untuk penyajian/pemecahan masalah yang terbaik. Guru dan beberapa siswa berperan sebagai penilai.

4. Untuk mengukur kemampuan siswa dilakukan kuis belajar kooperatif sangat tepat untuk digunakan dalam penyelesaian studi kasus, proyek penelitian dan tugas interaktif yang dimediasikan oleh computer. Belajar kooperatif bermanfaat untuk meningkatkan sikap positif pembelajaran terhadap lingkungan belajar termasuk guru, kemajuan kerja sama, kemampuan nalar, keterlibatan emosional. Interaksi antar pembelajaran dan dukungan social.

Keterampilan interpersonal merupakan faktor penting yang perlu dibina dalam belajar kooperatif. Keterampilan interpersonal diperlukan untuk membangun dan memelihara hubungan antar pribadi yang saling menguntungkan. Para

anggota kelompok harus membangun rasa saling percaya melalui komunikasi yang terbuka antar anggota, keadilan bagi semua anggota dan dukungan yang pantas dan jujur dari semua yang berkepentingan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.