berfungsi mengembangkan kemampuan dan membangaun watak serta peradaban bangsa, yang bermartabat yang bertujuan untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia ynag beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis seta bertanggung jawab,45
Munculnya berbagai pemikiran dan kebijakan tentang pembinaan pendidikan agama Islam secara terpadu pada sekolah umum, pengembngan dan peningkatan kualitas madrasah, pesantren, kegiatan pesantren kilat serta pendidikan agama Islam disekolah menengah umum, dan sebagainya, adalah beberapa contoh menifestasi dari usaha-usaha tersebut di atas.
Namun demikian, dalam beberapa hal agaknya pemikiran konseptual pengembangan pendidikan agama Islam dan beberapa kebijakan yang diambil kadang-kadang terkesan menggebu-gebu, idealis, romantis, atau bahkan kurang realistis, sehingga para pelaksana dilapangan kadang-kadang mengalami beberapa hambatan dan kesulitan untuk merealisasikannya atau bahkan etensitas atau pelaksanaan efektivitasnya masih dipertanyakan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kejelasan dan lemahnya pemahaman paradigma (jendela pandang) pengembangan pendidikan agama Islam itu sendiri, yang berimplikasi pada kesalahan orientasi dan langkah, atau ketidakjelasan wilayah dan arah pengembangannya.
Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan diskripsi tentang pengembangan pendidikan agama Islam melalui potret atau pemetaan paradigma yang ada dan memperjelas oreintasi dan wilayah dari masing-masing paradigma tersebut, sehingga pemikiran dan kebijakan yang terkesan yang menggebu-gebu, idealis dan kurang realistis, dapat ditelaah ulang dan dikoreksi kembali. Selanjutnya dapat dikontrusi paradigma mana yang sekitarnya relevan untuk dikembangkan dalam menatap masa depan bangsa Indonesia menuju masyarakat madani.
45Undang-Undang Nomor:20/2003,Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Dari hasil kajian penulis tantang paradigma pengembangan pendidikan Islam,46 ditemukan ada tiga peta paradigma pengembangan pendidikan agama Islam, yaitu paradigma dikotomois, paradigma Mechanism, paradigma organism atau sistemik.
1. Pendekatan Dikotomis
Di dalam paradigma ini, aspek kehidupan dipandang dengan sangat sederhana, dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit. Segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan, seperti laki-laki dan perempuan, ada dan tidak ada, bulat dan tidak bulat, pendidikan keagamaan dan non keagamaan atau pendidikan agama dan pendidikan umum, demikian seterusnya. Pandangan dikotomis tersebut pada giliranya dikembangkan dalam melihat dan memandang aspek kehidupan dunia dan akhirat saja atau kehidupan rohani saja. Seksi yang mengurusi masalah keagamaan disebut sebagai seksi kerohanian. Dengan demikian pendidikan keagamaan dihadapkan dengan pendidikan non-keagamaan, pendidikan keislaman dan non keislaman, pendidikan agama dengan pendidikan umum, demikian seterusnya.
Pendidikan (agama) Islam seolah-olah hanya mengurusi persoalan ritual dan spiritual, sementara kehidupan ekonomi, politik, seni budaya, ilmu pengentahuan dan ilmu pengentahuan serta seni, dan sebagainya dianggap sebagai urusan duniawi yang menjadi bidang garap pendidikan non-agama. Pandangan dikotomis inilah yang menimbulkan dualisme dalam sistem pendidikan istilah pendidikan agama dan pendidikan umum, atau ilmu agama dan ilmu umum sebenarnya muncul dari paradigma dikotomis tersebut.
Adanya perubahan dan/atau penyempitan pengertian ulama dan puqaha, sebagai orang yang hanya mengerti soal-soal keagamaan belaka, sehingga tidak termasuk ke dalam barisan kaum intelektual, juga merupakan implikasi dari pandanagan dikotomis tersebut. Menurut azra,47 pemahaman senacam itu muncul ketika umat Islam Indonesia mengalami penjajahan yang sangat panjang, dimana umat Islam
46Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Mengefekkan Pendidikan Agama di Sekolah.
(Bandung: Remaja Rosdakarya,2002) Cet. II. hal
47 Azra Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru.
(Jakarta: Logos, 1999), hal
mengalami keterbelakangan dan disentegrasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Perbenturan umat Islam dengan pendidikan dan kemajuan barat memunculkan kaum intelektual baru (cendikiawan sekular. Dalam proses pendidikannya, mereka mengalami brain washing (cuci otak) dari hal-hal yang berbau Islam, sehingga mereka terjadi teralienasi (terasing) dari ajaran-ajaran Islam dan muslim sendiri. Bahkan terjadi gap antara kaum intelektual baru (sekular) dengan intelektual lama (ulama), dan ulama dikonotasikan sebagai kaum sarungan yang hanya mengerti soal-soal keagamaan dan buta dalam masalah keduniaan.
Paradigma dikotomis mempunyai implikasi terhadap pengembangan pendidikan agama Islam yang lebih berorientasi pada keakhiratan, sedangkan masalah dunia dianggap tidak penting, serta menekankan pada pendalaman al-‘ulum al-diniyah (ilmu-ilmu keagamaan) yang merupakan jalan pintas untuk menuju kebahagiaan akhirat, sementara sains (ilmu pengentahuan) dianggap terpisah dari agama. demikian pula pendekatan yang digunakan lebih bersipat keagamaan yang normatif, doktriner dan absolutis. Peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku (actor) yang loyal (setia), memiliki sikap commitment (keberpihakan), dan didekasi (pengabdian) yang tinggi terhadap agama yang dipelajari. Sementara itu kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris, rasional, analitis-keritis, dianggap dapat menggoyahkan iman, sehingga perlu ditindih oleh pendekatan keagamaan yang normatif dan doktriner tersebut.
Paradigma tersebut sering tersebut dalam realitas sejarah pendidikan Islam. Pada periode pertengahan, lembaga pendidikan Islam (terutama madrasah sebagai pendidikan tinggi atau al-jami’ah) tidak pernah menjadi universitas yang difungsikan semata-mata untuk mengembangkan tradisi penyelidikan bebas berdasarkan nalar. Ia banyak diabdikan kepada al-‘ulum al-diniyah (ilmu-ilmu agama) dengan penekanan pada fiqih, tafsir dan hadits. Sementara ilmu-ilmu non-agama (keduniaan), terutama ilmu-ilmu alam dan eksakta sebagai akar pengembangan sains dan teknologi, sejak awal perkembangan madrasah dan al-jami’ah sudah berada dalam posisi marginal.
Islam memang tidak pernah membedakan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum (keduniaan), dan/atau tidak berpandangan dikotomis mengenai ilmu
pengentahuan. Namun demikian, dalam realitas sejarahnya justru suprimasi lebih diberikan pada ilmu-ilmu agama (al-‘ulum al-diniyah) sebagai jalan tol untuk menuju Tuhan.
Sebelum kehancuran teologi mu’tazilah pada masa khalifah al-ma’mun(198- 218 H/813-833M), mempejalari ilmu-ilmu umum (kajian nalar dan empiris) ada dalam kurikulum madrasah, tetapi ada juga pemakruhan atau bahkan lebih eronis lagi
“pengharaman” penggunaan nalar setelah runtuhnya Mu’tazilah ilmu-ilmu yang dicurigai itu dihapuskan dari kurikulum madrasah. Mereka yang berminat mempelajari ilmu-ilmu umum dan mempunyai semangat scientificinquiry (penyelidikan ilmiah) guna membuktikan kebenaran ayat-ayat kauniyah, terpaksa harus belajar sendiri-sendiri atau dibawa tanah, karena dipandang sebagai ilmu-ilmu subversif yang dapat menggugat kemapanan doktrin sunni terutama dalam kalam dan fiqih. Adanya madrasah al-thib (sekolah kedokteran) juga tidak dapat mengembangkan ilmu kedokteran dengan bebas, karena sering digugat Fuqaha’, misalnya tidak diperkenankan menggunakan organ-organ mayat sekalipun dibedah untuk diselidiki. Demikian pula rumah sakit riset dibagdad dan kairo, karena dibayangi legalisme fiqih yang kaku akhirnya harus berkonsentrasi pada ilmu kedokteran teoritis dan perawatan.
Mengapa legalisme fiqih atau syariah dan/atau ortodoksi agama serta semangat intoleransi. Terhadap para saintis (dari kalangan ulama Islam dan apalagi non muslim) begitu dominan dalam lembaga pendidikan Islam? Menurut azra,48 karena:
(1) pandangan tentang ketinggian syariah atau ilmu-ilmu keagamaan, sebagai “jalan tol” untuk menuju Tuhan; (2) lembaga-lembaga pendidikan Islam secara institusional dikuasai oleh mereka yang ahli dalam bidang-bidang keilmuan keagamaan, sehingga kelompok saintis, (Dar al-‘ilm) tidak mendapat dukungan secara institusional, justru Fuqaha’ berhadapan dengan tantangan saintis, sehingga kaum saintis tidak berdaya menghadapi Fuqaha’ yang mengklaim legitimasi religius sebagai the Quardian of
48Azra Azyumardi, Pendidikan Tinggi Islam Dan Kemajuan Sains (Sebuah Pengantar), Dalam: Charles Michael Stanton, Pendidkan Tinggi Dalam Islam (Terj. Afandi & Hasan Asari ).
Jakarta: logos, 1994, hal
God’s given law (pelindung/penguasa syariah); (3) hampir seluruh madrasah/al- jami’ah didirikan dan dipertahankan dengan dana wakap dari para dermawan dan penguasa politik muslim. Motivasi kesalehan mendorong para dermawan untuk mengarahkan madrasah pada lapangan ilmu-ilmu agama yang lebih banyak mendatangkan pahala, sementara itu penguasa politik tertentu atau motivasi murni untuk menegakkan ortodoksi sunni, sering mendikte madrasah/ al-jami’ahuntuk tetap dalam kerangka ortodoksi (kerangka syariah).
Bertolak dari kenyataan sejarah tersebut, maka kemunduran peradapan Islam serta kelatarbelakangan sains dan teknologi didunia Islam, disamping karena faktor dari dalam diri umat Islam sendiri, yang kurang peduli terhahap kebebasan penalaran intelektual dan kurang menghargai kajian rasional-impiris atau semangat pengembangan ilmiah dan filosifis. Dengan kata lain, paradigma dikotomis dijadikan sebagai titik tolak dalam pengembangan pendidikan.
2. Pendekatan Mekanisme
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia49, secara etimologi mechanism berarti:
hal kerja mesin, cara kerja suatu organisasi, atau hal saling bekerja seperti mesin, yang masing-masing bergerak sesuai dengan fungsinya. Paradigma mechanisme memandang kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya, bagaikan sebuah mesin yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen-elemen, yang masing-masing menjalankan fungsinya sendiri-sendiri, dan antara satu dengan lainnya bisa saling berkonsultasi atau tidak.
Aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan itu sendiri terdiri atas; nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai estetik, nilai biofisik, dan lain lain. Dengan demikian, aspek atau nilai agama merupakan salah satu aspek atau nilai kehidupan dari aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan lainnya.
Hubungan antara nilai agama dengan nilai-nilai lainnya kadang-kadang bersifat
49Depdikbud RI,Kamus Besar Bahasa Indonesia: Jakarta:Balai Pustaka, 1996
horizonlateral (indenpendent) atau bersifat lateral-sekuensial, tetapi tidak sampai kepada vertikal linier.
Relasi yang bersifat horizontal lateral (indenpendent), mengandung arti bahwa beberapa mata pelajaran yang ada dan pendidikan agama mempunyai hubungan sederajad yang independent, dan tidak saling berkonsultasi. Relasi yang bersifat lateral-sekuensial berarti diantara masing-masing mata pelajaran tersebut mempunyai relasi sederajad yang bisa saling berkonsultasi. Sedangkan relasi vertikal-linier berarti mendudukkan pendidikan agama sebagai sumber nilai atau sumber konsultasi, sementara seperangkat mata pelajaran yang lain adalah termasuk pengembangan nilai-nilai insani yang mempunyai relasi vertikel-linier dengan agama.
Dalam konteks tersebut, menurut pengamatan penulis, selama di sekolah-sekolah masih ada proses sekularisasi ilmu, yakni pemisahan antara ilmu agama dan pengetahuan umum. Nilai-nilai keimanan dan ketakwaan seolah-olah hanya merupakan bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam, sementara mata pelajaran yang lain mengajarkan bidang ilmunya seolah-olah tidak ada hubungannya dengan masalah nilai keimanan dan ketakwaan.
Paradigma tersebut tampak dikembangkan pada sekolah menengah umum yang didalamnya diberikan seperangkat mata pelajaran atau ilmu pengetahuan, salah satunya adalah mata pelajaran pendidikan agama yang hanya diberi 2 atau 3 jam pelajaran per minggu, dan didudukkan sebagai mata pelajaran umum, yakni sebagai upaya pembentukan keperibadian yang religius.
Kebijakan tentang PAI sebagai mata pelajaran umum, atau sebagai upaya pembentukan keperibadian yang religius, adalah sangat prospektif dalam membangun watak, moral, peradaban bangsa yang bermartabat. Namun demikian, dalam realitasnya pendidikan agama Islam sering termarginalkan, bahkan guru PAI di sekolah umum pun kadang-kadang terhambat kariernya untuk menggapai jabatan fungsional tertinggi (guru besar)
Kebijakan tentang pembinaan pendidikan agama Islam secara terpadu disekolah umum misalnya, antara lain menghendaki agar pendidikan agama dan sekaligus para guru agamanya mampu memandukan antara mata pelajaran agama dengan pelajaran
umum. Kebijakan ini akan sulit diimplementasikan pada sekolah umum yang cukup puas hanya mengembangkan pola relasi horizontal-lateral (independent). Barangkali kebijakan tersebut relatif mudah diimplimentasikan pada lembaga pendidikan yang mengembangkan pola lateral-sekuesial. Hanya saja implikasi dari kebijakan tersebut adalah para guru agama harus menguasai ilmu agama dan memahami substansi ilmu- ilmu umum, sebaliknya guru umum dituntut untuk mengusai ilmu-ilmu umum (bidang keahliannya) dan memahami ajaran dan nilai-nilai agama. Bahkan guru dituntut untuk mampu menyusun buku-buku teks keagamaan yang dapat menjelaskan hubungan antara keduanya.
Namun demikian kadang-kadang dirasakan adanya kesulitan, terutama ketika berhadapan dengan dasar pemikiran yang berbeda, sehingga terjadi konflik antara keduanya. Contoh sederhana adalah menyangkut asal usul manusia. Sains yang diajarkan disekolah bertolak dari asal pemirikaran bahwa manusia berasal dari kera, sementara pendidikan agama tidak demikian. Psikologi behavioristik bertolak dari hasil penelitian terhadap sejumlah hewan untuk diterapkan kepada manusia, sementara pendidikan agama dari hasil pemahaman terhadap wahyu (kitab suci). Ilmu ekonomi bertolak dari pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang serakah (kapitalisme), sehingga bagaimana seseorang yang memiliki modal sedikit tetapi mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar, yang berbeda halnya dengan pendidikan agama, demikian seterusnya.
Suasana tersebut kadang-kadang menimbulkan ketegangan pada diri peserta didik, terutama jika kedua-duanya (baik pendidikan agama maupun pendidikan umum) saling memaksakan kebenaran pandangannya. Agama memang bertolak dari keimanan terhadap kebenaran wahyu ilahi, sedangkan ilmu pengetahuan bertolak dari fenomena empiris. Dari sini peserta didik tampaknya diuji pandangannya. Ketika pandangan agama mendominasi pemikirannya, kadang-kadang ada kecenderungan untuk bersikap pasif dan statis atau fatalistik, sedangkan bila ilmu pengetahuan mendominasi pemikirannya, maka ada kecenderungan untuk bersikap split of personality. Jangan-jangan munculnya budaya KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) antara lain sebagai akibat dari pengembangan pendidikan agama Islam yang
menggunakan paradigma Mechanism tersebut, terutama yang menerapkan pola relasi horozontal-lateral (independent) dan lateral-sekuinsial.
3. Pendekatan Organisme
Meminjam istilah Biologi, organism dapat berarti susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan,50. Dalam konteks pendidikan Islam paradigma organism bertolak dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu sistem yang terdiri atas dari komponen-komponen bersama dan bekerjasama secara terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius atau dijiwai oleh ajaran nilai-nilai agama.
Pandangan semacam itu menggaris bawahi pentingnya kerangka pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrines dan fundamental values yang tetuang dan yang terkandung dalam Al-Qur’an danAl-Sunnah Shahihah sebagai sumber pokok. Ajaran dan nilai-nilai ilahi/ agama/ wahyu didudukkan sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek-aspek kehidupan lainnya didudukan sebagai nilai-nilai insani yang mempunyai hubungan vertikal-linier dengan nilai Ilahi/agama.
Melalui upaya semacam itu, maka sistem pendidikan diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai dan menerapkan ilmu pengetahaun, teknologi dan seni, memiliki kematanag profesional, dan sekaligus hidup didalam nilai-nilai agama.
Paradigma tersebut tampaknya mulai dirintis dan dikembangkan dalam sistem pendidikan dimadrasah, yang dikdeklarasikan sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Kebijakan pengembangan madrasah berusaha mengakomodasikan tiga kepentingan utama, yaitu: (1) sebagai wahana untuk membina ruh atau praktik hidup ke Islaman; (2) memperjelas dan memperkokoh keberadaan madrasah sederajad dengan sistem sekolah, sebagai wahana pembinaan warga negara yang cerdas, berpengetahuan, berkeperibadian serta produktif; dan (3) mampu merespons
50Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka, 1996
tuntutan-tuntutan masa depan, dalam arti sanggup melahirkan manusia yang memiliki kesiapan memasuki era globalisasi, industralisasi maupun era informasi.51
Secara konseptual-teoretis pendidikan agama di Sekolah berfungsi sebagai:
1) Pengembangan iman dan ketakwaan kepada Allah Swt. Serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin;
2) Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat;
3) Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial;
4) Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengalaman ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari;
5) Pencegahan dari hal-hal negatif budaya asing yang dihadapinya sehari-hari;
6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan non-nyata), sistem dan fungsionalnya; dan
7) Penyaluran untuk mendalami pendidikan agama ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
PAI disekolah umum, menurut keputusan Dirjin Dikti Depdiknas RI Nomor:
38/DIKTI/Kep/2002 tentang rambu-rambu mata pelajaran pengembangan keperibadian di sekolah menengah umum, merupakan salah satu mata pelajaran kelompok pengembangan keperibadian, visi mata pelajaran ini menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan peserta didik mengembangkan keperibadiannya. Sedangkan misinya adalah membantu peserta didik agar mampu mewujudkan nilai besar agama dalam menerapkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan
Dilihat dari fungsi PAI di sekolah serta visi dan misi PAI disekolah tersebut, maka secara konseptual-teoretis PAI disekolah dikembangkan ke arah paradigma organisme atau sistemik, yang ingin menjadikan PAI sebagai sumber nilai dan pedoman bagi peserta didik untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat,
51Fadjar, A. Malik, Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan ,1998, hal 54
serta bagi penyelenggaraan program studi sekolah umum dan membantu peserta didik agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Namun demikian, realitasnya dilapangan menunjukkan bahwa pada umumnya PAI disekolah umum dikembangkan dengan menggunakan paradigma dikotomis atau mekanisme, dan jarang menggunakan paradigma organisme atau sistemik52. Hal ini tidak jauh berbeda dengan keadaan pendidikan agama Islam di sekolah umum/madrasah.
Fenomena pengembangan pendidikan agama Islam disekolah menengah umum tampaknya sangat bervariasi. Dalam arti cukup puas dengan pola horizontal-lateral (independent), yakni bidang studi (non-agama) kadang-kadang berdiri sendiri tanpa dikonsultasikan dan berintraksi dengan nilai-nilai agama, dan ada yang mengembangkan pola relasi lateral-sekuensial, yakni bidang studi (non-agama) dikonsultasikan dengan nilai-nilai agama. Ada pula yang mengembangkan pola vertikel-linier, mendudukan agama sebagai sumber nilai atas sumber konsultasi dari berbagai bidang studi. Namun demikian, pada umumnya dikembangkan ke pola horizontal-lateral (independent), kecuali bagi lembaga pendidikan tertentu yang memiliki komitmen, kemampuan, atau political will dalam mewjudkan relasi/hubungan lateal-sekuensial dan vertikal-linier.
Menurut Tilar,53 bahwa penelitian, pemikiran dan gagasan-gagasan dari para ahli yang terpisah-pisah (horozontal-lateral/independent) atau tidak bertolak belakang dari paradigma organisme tersebut, dapat berbahaya dalam eksistensi kehidupan manusia. Hal ini dapat dilihat dari bahaya praktik bio-teknologi kloning terhadap manusia. Tetapi hal ini merupakan indikasi perlunya seseorang berhati-hati di dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang terlepas dari nilai-nilai agama. Karena itu sekolah menengah umum masa depan perlu dikembangkan ke arah integrasi nilai-
52Tim STAIN, Hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum. Malang: STAIN, 2003
53Tilaar, H.A.R.,Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Tera Indonesia, 1998, hal 76
nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik yang merupakan karakteristik dari masyarakat madani di era global.
Paradigma organisme atau sistemik ini dapat dilakukan apabila para guru memahami keterkaitan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dengan mata pelajaran/bidang studi yang dibinanya. Dalam konteks ini ada dua permasalahan yang dihadapi para guru, yaitu: (1) para guru dan guru harus melek (menguasai) bidang ilmunya; dan (2) para guru/guru harus mampu menerjemahkan bidang ilmu tersebut dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang terkandung dalam ajaran agama Islam. Paradigma tersebut seyogyanya berjalan secara alamiah, tidak melalui proses yang mengada-ada. Sebab, dalam kenyataan ada beberapa konsep ilmu pengetahuan yang tidak bisa diterjemahkan kedalam nilai-nilai tersebut. Melalui paradigma tersebut bukan berarti pokok bahasan harus di legalkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits, melainkan dari setiap pokok bahasan tersebut diambil hikmah yang dapat diambil peserta didik bagi kehidupan (nilai spritual)-Nya.
Dengan demikian, diperlukan upaya spiritualisasi pendidikan dalam pembelajaran atau berupaya menginternaliasi nilai-nilai atau spirit. Agama melalui proses pendidikan ke dalam seluruh aspek pendidikan di sekolah-sekolah menengah umum.
Hal ini dimaksud untuk memadukan nilai-nilai sains dan teknologi serta seni dengan keyakinan dan kesalehan dalam diri peserta didik. Ketika belajar biologi misalnya, maka pada waktu yang sama diharapkan pelajaran itu dapat meningkatkan keyakinannya kepada Allah, karena didalam ajaran agama diterangkan bahwa Tuhanlah yang telah menciptakan keanekaragaman di muka bumi ini dan semuanya tunduk pada hukum-Nya.
Berbagai krisis multidimensional yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia memang tidak bisa hanya dilihat dan diatasi melalui pendekatan mono dimensional.
Namun demikian, karena segala krisis tersebut berpangkal dari krisis akhlak atau moral, maka pendidikan agama dipandang sebagai masalah yang sangat vital dalam membangun watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Untuk itu, diperlukan pengembangan pendidkan agama yang lebih kondusif dan prospektif terutama di sekolah menengah umum. Paradigma pengembangannya perlu direkontruksi, dari