• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural

Dalam dokumen pembelajaran pendidikan agama islam (Halaman 53-60)

B. Kajian Teori

4. Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural

5) Peradaban Islam pada Masa Modern c. Materi Pendidikan Agama Islam Kelas XII

Berikut ini susunan materi yang ada pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas XII Semester 1 dan Semester 2,49

Semester 1

1) Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Toleransi 2) Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Etos Kerja 3) Iman kepada Hari Akhir

4) Perilaku-Perilaku Terpuji (Adil, Rida dan Amal Saleh) 5) Hukum Islam tentang Pernikahan

6) Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia Semester 2

1) Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Iptek 2) Iman kepada Qada dan Qadar 3) Persatuan dan Kerukunan

4) Isyraf, Tabzir, Ghibah, dan Fitnah 5) Hukum Waris dalam Islam 6) Islam di Dunia

konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan agama.50 Muhaemen el Ma’haddi berpendapat bahwa pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.51 Sedangkan Paulo Freire mendefinisikan pendidikan multikultural bukan menara gading yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Melainkan pendidikan multikultural mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan suatu kelas social sebagai akibat dari kekayaan dan kemakmuran yang diperolehnya.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan menggunakan perbedaan-perbedadan kultural yang ada pada setiap siswa seperti perbedaan etnis, agama, Bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah dan juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap humanis, pluralis, dan demokratis dalam lingkungannya.

Pendidikan dengan wawasan multikultural dalam rumusan Sonia Nieto adalah proses pendidikan yang komprehensif dan mendasar bagi semua peserta didik. Jenis pendidikan seperti ini

50 Khairiah, Multikultural dalam Pendidikan Islam, (Bengkulu: 2020), 90

51 Khairiah, Multikultural dalam Pendidikan Islam, 186

menentang segala bentuk diskriminasi di sekolah dan masyarakat dengan menerima pluralitas yang terefleksikan diantara peserta didik.

Pendidikan Islam multikultural adalah sikap menerima kemajemukan ekspresi budaya manusia dalam memahami pesan utama agama, terlepas dari rincian anutannya. Basis utamanya dieksplorasi dengan melandaskan pada ajaran Islam, sebab dimensi Islam menjadi dasar pembeda sekaligus titik tekan dari kontruksi pendidikan ini.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :











































“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat : 13)

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam merupakan suatu agama yang tidak pernah mengajarkan kekerasan.

Islam yang dibawa Rasulullah SAW, merupakan agama yang mendatangkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil’ Alamin).

Islam tidak hanya mendatangkan rahmat bagi pemeluk Islam itu sendiri, namun juga mendatangkan rahmat bagi seluruh alam ini.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas dalam ayat di atas sebagai antisipasi kemungkinan timbulnya sikap saling mencemooh dan merendahkan antar golongan satu dengan yang lainnya. Karena

Tindakan mencemooh dan merendahkan orang lain merupakan cikal dan sumber konflik sosial.

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural

Pendidikan PAI berbasis multikultural mempunyai beberapa tujuan, secara umum merumuskan lima tujuan utama, yakni:

1) Membantu seluruh peserta didik agar menjadi manusia yang bermanfaat yang beragam ras dan budaya.

2) Mengajarkan peserta didik agar menghargai nilai-nilai dan budaya orang lain di samping nilai dan budayanya sendiri.

3) Membantu seluruh peserta didik untuk mengalami sendiri hidup di dalam persamaan dan perbedaan sebagai manusia dengan cara-cara yang terpuji.

4) Memberikan pengalaman kepada peserta didik agar berkerja sama dengan orang yang berbeda budaya sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan.52

c. Pendekatan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural

Sebagai usaha untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka diperlukan pendekatan-pendekatan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam pengajaran pendidikan agama Islam berbasis multikultural, yakni:

52 Suryana. Pendidikan Multikultural (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 89

1) Pendekatan Aditif

Pendekatan aditif adalah sebuah pendekatan pendidikan multikultural yang mengambil bentuk penambahan muatan- muatan, konsep, tema dan perspektif ke dalam kegiatan pembelajaran.

2) Pendekatan Kontribusi

Pendekatan kontribusi adalah pendekatan yang dilakukan melalui pembelajaran diluar kelas, seperti event perayaan hari besar keagamaan, perayaan sumpah pemuda, hari kartini, dan puncak tema. Yakni dengan kegiatan tersebut dikenalkan berbagai bentuk budaya nusantara mulai dari rumah adat, makanan khas, pakaian adat dari berbagai suku etnis di Indonesia.

3) Pendekatan Transformasi

Pendekatan transformasi adalah pembelajaran yang menjadikan interaksi antarsiswa sehingga menumbuhkan sikap saling menghargai, kebersamaan, dan cinta sesame melalui pengalaman belajar.53

d. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Multikultural

Nilai-nilai pendidikan multikultural penting diajarkan kepada peserta didik. Menurut Yaya Suryana dan Rusdiana terdapat beberapa nilai yang harus diperhatikan dalam pendidikan multikultural, yaitu:54

53 Mustafida Fita. Pendidikan Islam Multikultural (Depok: PT Raja Grafindo Persada. 2020), 94-96.

54 Imam Mashuri. Fakultas Tarbiyah IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi. 2020. Pembelajaran PAI Berbasis Multikultural Dalam Rangka Toleransi Umat Beragama. Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam. Vol 4, No 2 (Januari 2020). 97.

1) Nilai toleransi, yaitu sikap menghormati, menerima pandangan, keyakinan, kebiasaan dan pendapat orang lain yang berbeda dengan dirinya.

2) Nilai kesetaraan, yaitu mengakui adanya persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban sebagai sesama manusia.

Dalam hal ini, di dalam proses pendidikan seharusnya pendidik menganggap semua peserta didik itu sama tidak membedakan antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain.

3) Nilai persatuan, yaitu membentuk pemahaman, pikiran, dan sikap yang mengutamakan keutuhan dan kedaulatan, kebersamaan dan kerjasama.

4) Nilai persaudaraan, yaitu sikap kekeluargaan yang lahir dari rasa persaudaraan dan menjadi bagian dari kelompok dan masyarakat itu sendiri. Dengan adanya rasa kekeluargaan ini akan muncul rasa kesetia kawanan, rasa persaudaraan dengan berbagai suku bangsa, etnis, golongan, dan agama, serta memahami akan arti perbedaan.

5) Nilai keadilan, yaitu memberikan hak kepada seseorang sesuai dengan porsinya masing-masing. Sehingga adanya keseimbangan dan keharmonisan antara menuntut hak dengan menjalankan kewajiban, mengakui adanya potensi yang sama dalam berekspresi dan mengakui adanya kesempatan yang sama dalam pelayanan publik.

Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci. Karenanya, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas sehingga mampu bertanya, menganalisis, dan mengontruksi objek yang diteliti dengan jelas.55 Di sini peneliti mengumpulkan data dari lapangan dengan mengadakan penyelidikan secara langsung di lapangan untuk mencari berbagai masalah yang relevansinya dengan penelitian ini.

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif karena penelitian ini menekankan makna dan proses sehingga data yang dihasilkan berbentuk deskriptif bukan angka-angka yang berupa kata- kata tulisan atau lisan dari informan yang dapat diamati.

Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti melakukan kajian secara mendalam untuk mendeskripsikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tabanan tahun ajaran 2022/2023.

55 Albi Anggito dan Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Sukabumi: CV Jejak.

2018), 8

Dalam dokumen pembelajaran pendidikan agama islam (Halaman 53-60)