• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Agama Islam

BAB II KERANGKA TEORI

B. Pendidikan Agama Islam

ini hanya bersifat superfisial saja. Meskipun ada beberapa anak-anak yang seakan menunjukkan perilaku yang sangat religius, misalnya rajin melaksanakan ritual keagamaan (misalnya sholat dalam agama islam), tetapi apa yang mereka lakukan itu pada umumnya baru merupakan kebiasaan saja. Pemahaman dan penghayatan secara mendalam tentang ajaran agama masih belum ada. Mereka menjalankan agama masih bersifat ritualistik semata. Bagi pendidikan agama, hal ini merupakan proses belajar yang sangat baik agar orang menjadi religius.25

Ahmad Tafsir mendefenisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.26

Mata pelajaran pendidikan agama Islam secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan Al-hadits, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah, dan Sejarah Kebudayaan Islam, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya.

Abdul Madjid dan Dian Andayani “ pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama islam, yang dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan umat beragama sehingga terwujut kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut Zakiyah Darajat pendidikan agama islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengsuh peserta didik agar senantiasa memahami ajaran agama islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pendangan hidup.27

Menurut Tayar Yusuf pendidikan agama islam adalah usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan

26 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 12

27 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran. hlm. 12

keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.28

Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar terencana yang dilakukan oleh pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Pada dasarnya tujuan akhir pendidikan agama islam identik dengan tujuan hidup orang islam. Hal ini selaras dengan tujuan diciptakannya manusia sebagai hamba Allah. Sebagaiman yang disebutkan dalam Al- Qur’an bahwa

$tΒuρ àMø)n=yz

£Ågø:$#

}§ΡM}$#uρ āωÎ)

Èβρ߉ç7÷èu‹Ï9

∩∈∉∪

Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ( Q.S. Az-Zariyat : 56 )29

Menurut PUSKUR Depdiknas, tujuan PAI adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya

28 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran. Hlm. 12

29 Al-Qasbah, Al-Qur’an Hafalan Super Mudah Untuk Pemula…523

kepada Allah Swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Visi PAI di sekolah umum adalah terbentuknya sosok anak didik yang memiliki karakter, watak, dan kepribadian dengan landasan iman dan ketakwaan serta nilai-nilai akhlak atau budi pekerti yang kukuh, yang tecermin dalam keseluruhan sikap dan perilaku sehari-hari, untuk selanjutnya memberi corak bagi pembentukan watak bangsa.

Sedangkan Misi PAI, Djamas menyebutkan sebagai berikut.30 1. Melaksanakan pendidikan agama sebagai bagian integral dari

keseluruhan proses pendidikan di sekolah.

2. Menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah dengan mengintegrasikan aspek pengajaran, pengamalan serta aspek pengalaman bahwa kegiatan belajar mengajar di depan kelas diikuti dengan pembiasaan pengamalan ibadah bersama di sekolah, kunjungan dan memperhatikan lingkungan sekitar serta penerapan nilai dan norma akhlak dalam perilaku sehari-hari.

3. Melakukan upaya bersama antara guru agama dan kepala sekolah serta seluruh unsur pendukung pendidikan di sekolah untuk mewujudkan budaya sekolah (school culture) yang dijiwai oleh suasana dan disiplin keagamaan yang tinggi yang tecermin dari aktualisasi nilai dan norma keagamaan dalam keseluruhan interaksi antarunsur pendidikan di sekolah dan di luar sekolah.

30 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 18.

4. Melakukan penguatan posisi dan peran guru agama di sekolah secara terus-menerus baik sebagai pendidik maupun sebagai pembimbing dan penasihat, komunikator, serta penggerak bagi terciptanya suasana dan disiplin keagamaan di sekolah.31

Ditilik dari tujuan, visi, dan misi PAI tersebut di atas, tampak bahwa secara implisit PAI memang lebih diarahkan ke “dalam” yakni peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan praktik atau ritual ajaran agama, sedangkan yang berkaitan dengan penyiapan peserta didik memasuki kehidupan sosial, terutama dalam kaitan dengan realitas kemajemukan beragama kurang mendapat perhatian.32 Hal tersebut makin tampak jelas dari beberapa indikator yang menjadi karakteristik PAI, sebagaimana disebut Nasih sebagai berikut.

1. PAI mempunyai dua sisi kandungan, yakni sisi keyakinan dan sisi pengetahuan.

2. PAI bersifat doktrinal, memihak, dan tidak netral.

3. PAI merupakan pembentukan akhlak yang menekankan pada pembentukan hati nurani dan penanaman sifat-sifat ilahiah yang jelas dan pasti.

4. PAI bersifat fungsional.

5. PAI diarahkan untuk menyempurnakan bekal kemampuan peserta didik.

6. PAI diberikan secara komprehensif.33

Dari berbagai keterangan dan uraian di atas tentang pendidikan agama Islam, maka dapatlah disimpulkan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah agar peserta didik menjadi muslim sejati yang memiliki pengetahuan luas, nilai, sikap, tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan

31 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran hlm.19

32 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran hlm.19

33 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran hlm.19

Islam, bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama yang mendapat Ridlo Allah SWT.

C. Pariwisata dan Perubahan Sosial 1. Pariwisata

Marpaung dan Bahar bahwa Pariwisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan seseorang untuk sementara waktu yang dilakukan secara berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi untuk menikmati kegiatan pertamasyaan atau rekreasi untuk memenuhi keinginan. Sedangkan menurut Heriawan. pariwisata merupakan kegiatan yang bersenang-senang yang mengeluarkan uang dan melakukan tindakan konsumtif.34

Sementara itu, Gamal. berpendapat bahwa pariwisata merupakan proses kepergian sementara menuju tempat lain diluar tempat tinggalnya yang dilakukan karena adanya berbagai kepentingan, baik kepentingan ekonomi, sosial, sejarah, politik, agama, kesehatan maupun lainnya.35

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang di sediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah

34 Dewi, Gesti Mutiara,” Arahan Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Adaptasi Teori Siklus Hidup Pariwisata di Kabupaten Ponorogo.Institut Teknologi Sepuluh Nopember.(2018) diakses tanggal 5 Agustus 2021, https://repository.its.ac.id/id/eprint/54168

35 Dewi, Gesti Mutiara,” Arahan Pengembangan Pariwisata…13

Menurut Yoeti. terdapat faktor-faktor yang menjadi batasan dalam definisi pariwisata, yakni:

1. Perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu.

2.

Perjalanan yang dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain.

3.

Perjalanan yang dilakukan harus berkaitan dengan pertamasyaan atau rekreasi.

4.

Orang yang melakukan perjalanan tidak mencarai nafkah ditempat yang dikunjunginya.36

Berdasarkan uraian definisi pariwisata menurut para ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa pariwisata merupakan perjalanan berpindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk sementara waktu dengan tujuan untuk rekreasi atau tamasya, bukan untuk mencari nafkah. Pariwisata perlu di dukung dengan ketersediaan fasilitas. Fasilitas pariwisata dapat disediakan oleh masyarakat, pemerintah, dan swasta.

2. Perubahan Sosial

Menurut Gillin dan Gillin, sebagaimana dikutip setiadi dan Kolip, perubahan sosial merupakan suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima yang disebabkan berbagai hal. Dalam makna perubahan sosial tercakup berbagai ekspresi mengenai struktur seperti norma, nilai, dan fenomena kultural.37

Perubahan social adalah suatu gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat, perubahan sosial merupakan

36 Dewi, Gesti Mutiara,” Arahan Pengembangan Pariwisata…14

37 Mustain,” Agama di Tengah Arus Industri pariwista,” 29

gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat, gejala itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.38

Aspek sosial menyangkut kesiapan masyarakat terhadap perubahan yang akan terjadi dari pengembangan daerah wisata. Jika masyarakat memahami kehadiran pengembangan pariwisata, maka akan berdampak positif bagi setiap anggota masyarakat yang akhirnya akan tercipta suasana baru yang aman dan terpelihara sesuai harapan bersama.

Sebaliknya, jika masyarakat tidak siap maka kehadiran wisatawan dengan budaya yang berbeda dapat menimbulkan culture shock bagi masyarakat lokal, sehingga masyarakat dapat kehilangan tanda dan simbol-simbol agama yang sudah melekat dalam kehidupan kesehariannya. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat dalam pembangunan pariwisata yang tercermin melalui sikap dan partisipasinya, haruslah menjadi faktor yang benar- benar diperhatikan dalam pengembangan pariwisata.39

Perubahan-perubahan yang terjadi akibat adanya pariwisata di daerah sekotong merupakan masalah yang harus disikapi dengan dengan penuh kesadaran. Adapun perubahan tersebut dikategorikan kedalam perubahan kecil dan besar.

Perubahan kecil dan besar mempunyai batas-batas yang sangat relatif. Perubahan kecil diartikan sebagai perubahan yang terjadi pada

38 Qomarudin,” Perubahan Sosial dan Peran Masyarakat dalam Pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan Karimun Jawa,” UN Semarang, no 2 ( Juni 2013 ): 42, diakses 04 Maret 2019, http://jurnal .unnes.ac.id/sju/index.php/jess

39 Unggul Priyadi, Pariwisata Syariah: Prospek dan Perkembangan (Yogyakarta:UPP STIM YKPN, 2016),130

unsure struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Contohnya, perubahan model pakaian, rambut, sepatu dan lain-lain yang tidak berpengaruh signifikan terhadap masyarakat keseluruhan sebab tidak menmbulkan perubahan pada lembaga kemasyarakatan.

Sedangkan perubahan besar adalah sebuah perubahan yang terjadi pasa unsur-unsur struktur sosial yang memberi pengaruh langsung bagi masyarakat. Perubahan sosial budaya tidak akan berubah dengan sendirinya. Perubahan sosal budaya dapat berubah karena ada penyebabnya.kemungkinan perubahan terjadi karena ada sesuatu yang baru dan sesuatu yang lama dianggap tidak berfungsi lagi.40

Perubahan sosial yang terjadi pada individu atau kelompok merupakan hasil dari interpretasi atas kenyataan yang sedang terjadi.

Interpretasi itu kemudian menghasilkan definisi bersama mengenai struktur dan institusi sosial. Sehingga menghasilkan proses akulturasi budaya. Akulturasi yang mengacu pada adanya pengaruh satu kebudayaan kepada kebudayaan lain atau saling mempengaruhi antara dua kebudayaan, yang mengakibatkan pada terjadinya perubahan pada kebudayaan tertentu.41

40 Baharuddin,” Bentuk-Bentuk Perubahan dan Sosial budaya,” no 2 ( Desember 2015 ):

185, diakses 04 Maret 2019, https://jurnaliainpontianak.or.id

41 Mustain,” Agama di Tengah Arus Industri pariwista,” 30

D. Kerangka Berfikir

k

Berdasarkan kerangka berfikir diatas memberikan penjelasan bahwa kondisi masyarakat Sekotong Barat pada mulanya memiliki pemahaman yang sangat kuat. Namun setelah adanya kegiatan pariwisata, keadaan agama mereka mulai bergeser. Sehingga nilai-nilai agama pun mulai melemah. Oleh kerena itu, upaya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sekotong Barat untuk mempertahankan nilai-nilai agama tersebut yaitu dengan membangun kembali peran Pendidikan Agama Islam melalui tradisi-tradisi, budaya islam serta melalui lembaga-lembaga pendidikan agama baik yang formal maupun non formal. Sehingga pada kesimpulannya bahwa kondisi Agama masyarakat desa Sekotong Barat dapat dipertahankan sampai saat ini.

Kondisi Awal

Agama masyarakat mulai melemah Agama masyarakat sangat kuat

Tindakan Pelestarian nilai-nilai agama

Kondisi akhir

Membangun kembali peran aktif PAI

Agama masyarakat kembali meningkat

35 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif merupakan salah satu dari jenis penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berlangsung dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi. Penelitian ini menafsirkan dan menguraikan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi di dalam suatu masyarakat, pertentangan antara dua keadaan atau lebih, hubungan antar variable yang timbul, perbedaan antar fakta yang ada serta pengaruhnya terhadap suatu kondisi, dan sebagainya.42

B. Fokus Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, peneliti akan membatasi penelitiannya dala satu atau lebih variable. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut focus, yang bersifat pokok terhadap masalah yang bersifat umum. Focus penelitian ini dimaksudkan untuk membatasi studi kualitatif sekaligus membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan yang tidak relevan. Pembatasan dala penelitian kualitatif ini lebih didasarkan pada tingkat kepentingan dari masalah yang dihadapi dalam penelitian ini.

42Agung Prasetyo,” pengertian-penelitian-deskriptif-kualitatif,” 07 September 2016, diakses 04 Maret 2019, https://www.linguistikid.com.

Fokus dalam penelitian ini meliputi:

1) Bagaimana kondisi religiusitas masyarakat sekotong Lombok Barat?

2) Bagaimana peran Pendidikan Agama Islam dalam melestarikan nilai-nilai agama di kawasan wisata Sekotong Barat ?

Dalam penelitian kualitatif hal pertama yang harus dilakukan sebelum mengumpulkan data adalah menentukan key informan (informasi kunci).

Pemilihan informan didasarkan atas kompetensi mereka dan bukan atas representativeness (keterwakilan).43 Informan dipilih dengan teknik Purposive Sampling (sampel yang bertujuan sesuai dengan yang di harapkan )dan Snowball Sampling (mengumpulkan data yang dimulai dari satu orang kemudian menjadi banyak orang sebagai sumber data).44 Sehingga kriteria pemilihan informan didasarkan pada kapasitasnya dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Pilihannya adalah pada siapa yang paling mungkin memberikan data yang memadai untuk menjelaskan permasalahan yang sedang diteliti.

C. Sumber Data

Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

1) Data primer

Data Primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung. penelitian yang diperoleh melalui wawancara

43 Bernard, Research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approaches (Walnut Creek: AltaMira Press, 1995), 165

44 Babbie, The Practice of Social Research (California: Wadsworth Publishing Company, 1998), 194-196.

dengan menggunakan alat bantu seperti pedoman wawancara atau juga menggunakan teperecorder atau juga dengan kertas yang sudah disiapkan sebelumnya.45

2) Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau diambil secara tidak langsung dari sumbernya. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari dokumentasi, buku-buku, jurnal-jurnal, Koran, website, surat kabar, media sosial, makalah dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

Pemahaman terhadap kedua jenis data di atas diperlukan sebagai landasan dalam menentukan teknik serta langkah-langkah pengumpulan data penelitian.46

D. Teknik pengumpulan data

Kegiatan pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode:

1) Observasi

Observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar.

Sementara itu, Hadari, mengartikan observasi adalah pengamatan atau pencatatan secara sistemik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi itu sendiri memiliki dua bagian yakni observasi tidak

45 “http://eprints.uny.ac.id” purposive sampling dalam penelitian kualitatif”, diakses 06 April 2019,

46 Cahya Suryana,” Data dan Jenis Data Penelitian” 2010, diakses 26 Februari 2019, http://csuryana.wordpress.com

langsung dan observasi partisipan. Observasi langsung merupakan observasi dimana seorang peneliti masuk langsung ke dalam masyarakat tersebut. Bisa melihat secara langsung mengenai kegiatan dan lokasi penelitian atau dibantu dengan alat-alat lain seperti kamera dan lain-lain.

Sedangkan observasi partisipan yaitu pengamatan dengan melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat yang diteliti.47

Tujuan observasi dalam penelitian yaitu lokasi yang menjadi pusat kegiatan-kegiatan keagamaan yang terdapat di kawasan wisata Sekotong, seperti masjid, musholla, dan tempat pemakaman, tempat acara kepaten madrasah, dan tempat-tempat kegiatan keagamaan yang lain terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan keagamaan.

2) Wawancara

Wawancara adalah suatu bagian yang terpenting dari bagian survey, tanpa wawancara peneliti akan kehilangan informasi yang hanya diperoleh dengan jalan bertanya langsung dengan responden. Data ini merupakan tulang punggung suatu penelitian atau interview. Untuk itu

“metode wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada satu dua orang atau lebih berhadapan secara langsung.

47 “http://eprints.uny.ac.id,” purposive sampling dalam penelitian kualitatif”, diakses 06 April 2019,

Esterbeg mengemukakan beberapa macam wawancara yaitu:

1. Wawancara terstruktur (Structured interview).

Dalam wawancara terstruktur ini, peneliti atau pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya pun telah disiapkan.

2. Wawancara Semiterstruktur (Semiistructure Interview).

Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in- dept interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide- idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.

3. Wawancara tak berstruktur (unstructured interview).

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.48

Dari beberapa macam wawancara diatas peneliti memfokuskan untuk menggunakan atau memilih jenis wawancara tak berstruktur, dengan

48 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2010), hlm.145

demikian peneliti hanya menyiapkan pedoman atau garis-garis besar pertanyaan yang dapat berkembang di lapangan.

Data-data yang digali dengan wawancara adalah terkait dengan informasi tentang perubahan-perubahan dalam aspek ritual dan sosial keagamaan yang terjadi pada masyarakat muslim yang tinggal di kawasan wisata Sekotong. Untuk mendapatkan data-data yang sesuai, penulis ingin mewawancarai beberapa informan diantaranya yaitu:

1. Kepala Desa Sekotong Barat selaku kunci informan 2. Penghulu Desa sekotong Barat

3. Kepala Dusun Desa Sekotong Barat

4. Sahli M.Pd (Pelaku pariwisata/ketua BPD Desa Sekotong Barat), 5. Samsul Hafiz M.M.Pd (kepala Jihadul Akbar Batu kumbu/tokoh

masyarakat),

6. Lalu Dedi Irawan S.Pd.I (Guru Madrasah/ tokoh pemuda)

7. Nurdin S.Pd (Kepala Madrasah Subulussalam tembowong / Tokoh masyarakat)

Selain itu juga terkait dengan bentuk-bentuk kegiatan ritual dan sosial keagamaan yang sebelumnya dilakukan dan kemudian hilang, yang masih bertahan, dan yang baru muncul.

3) Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mengetahui jumlah pengunjung yang datang ke sekotong misalnya pada bulan desember 2018 lalu mencapai ±10.000 pengunjung, dan pada pertengahan bulan Januari 2019

mencapai ±5000 pengunjung secara keseluruhan, terjadi penurunan akibat bencana gempa yang menimpa daerah Lombok. Oleh karena itu, para pengunjung baik mancanegara maupun lokal merasa takut dengan adanya musibah yang menimpa Lombok beberapa bulan yang lalu.49 Sedangkan untuk menggali data-data yang bersumber dari dokumen terkait dengan data kependudukan, kegiatan ritual dan sosial keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat muslim yang tinggal di kawasan wisata Sekotong. Dokumen dimaksud dapat berupa tulisan dan foto-foto kegiatan ritual dan sosial keagamaan.

E. Metode Analisis Data

Selanjutnya peneliti menerapkan metode analisis data penelitian kualitatif yang mencakup tiga kegiatan, yaitu reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Ketiga kegiatan tersebut saling berhubungan dan berlangsung terus selama penelitian dilakukan.

Reduksi data oleh peneliti mencakup proses memilih, memilah, menfokuskan, menyederhanakan, mengabstraksi, dan mentransformasikan data mentah yang diperoleh dari lapangan. Hasil yang dicapai dari reduksi data adalah data yang lebih mudah dikendalikan dan memberi gambaran yang lebih tajam. Display data mencakup kegiatan untuk lebih mengendalikan data dengan membuatkan berbagai macam matriks, grafik, dan bagan. Kesimpulan dilakukan peneliti dengan berpijak pada pola, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang kerap muncul, hipotesis, dan lain-lain. Kesimpulan pada awalnya

49 Wawancara dengan Sahli M.Pd. tanggal 14 Maret 2019

bersifat tentatif, dan terus diverifikasi, baik dengan trianggulasi metode dan sumber, perpanjangan kehadiran, dan mendiskusikan temuan yang ada dengan pihak-pihak yang berkompeten.50

Miles dan Hubermen, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) serta Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing / verification).51

Analisis data kualitatif model Miles dan Hubermen terdapat 3 (tiga) tahap:

1. Tahap Reduksi Data

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan pola nya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan elektronik seperti komputer, dengan memberikan kode-kode pada aspek tertentu.

50 Mustain,” Agama di Tengah Arus Industri pariwista,” 26

51 “http://sangit26.blokspot.com” Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Miles dan Huberman-Pendidikan dan Guru, diakses 06 April 2019,

Dokumen terkait