BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pendidikan dalam Perspektif Teoretis dan Praktis
6. Pendidikan dalam tinjauan sosiologi pendidikan
Mencermati apa yang dikemukakan oleh para ahli psikologi sosial di atas maka terungkaplah banyak hal yang semestinya menjadi perhatian oleh orang dewasa ketika mendidik anaknya atau mendidik muridnya. Dalam psikologi sosial terdapat banyak teori-teori yang dapat dijadikan sebagai pijakan dalam kaitannya dengan pendidikan (kemitraan pendidikan). Teori-teori tersebut sangat membantu dalam menjelaskan (eksplanasi) gejala-gejala yang nampak sehingga dapat bermanfaat untuk meramalkan (prediksi) hasil dari proses pendidikan yang direncanakan atau sementara dilaksanakan.
mengatakan bahwa: ”masyarakat sulit berpartisipasi dalam membangun pendidikan, masyarakat masih menganggap sekolah bukan hal yang menjanjikan”, menandakan bahwa pengaruh masyarakat terhadap pendidikan dianggap tidak signifikan.
Interaksi sosial merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan masyarakat.
Sementara pendidikan adalah naluri setiap manusia, karena manusia adalah makhluk berpikir. Dalam proses interaksi sosial, adalah hal yang tak mungkin terelakkan adanya saling pengaruh-memengaruhi keduanya. Damsar (2011:10) menggambarkan hubungan ini sebagai berikut.
: hubungan inklusif : hubungan timbal-balik
Gambar 2.1. Hubungan antara Masyarakat dan Pendidikan Sumber:Damsar (2011: 10)
Gambar 2.1. di atas dapat dijelaskan dengan tiga hubungan. Pertama, pendidikan dapat memengaruhi pendidikan dan atau masyarakat dapat memengaruhi pendidikan. Kedua, pendidikan dapat memengaruhi interaksi sosial dan atau interaksi sosial dapat memengaruhi pendidikan. Ketiga, masyarakat dan interaksi sosial memiliki hubungan yang inklusif yaitu banyak ragam proses maupun pola interaksi sosial yang dapat terjadi di dalam masyarakat, tidak hanya satu (eksklusif).
Masyarakat
Pendidikan Interaksi sosial:
Proses dan pola
Interaksi sosial sebagai sebuah proses memunculkan ragam fenomena. Ada yang bersifat positif atau mendukung pendidikan dan ada pula yang menjadi kendala dalam pendidikan atau bersifat negatif. Kedua fenomena ini sudah pasti terjadi karena dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individu. Setiap individu memiliki pribadi unik yang menjadi pembeda dengan individu lainnya. Menurut Sigmund Freud (Natawidjaja, 2007: 62-63) bahwa dalam diri setiap individu terdapat tiga elemen yaitu:
(1) id yang merupakan elemen biologis yang mendorong manusia untuk mendapatkan kenikmatan (dikuasai oleh prinsip kenikmatan), (2) ego yaitu struktur kepribadian yang berhubungan dengan realitas/logis (dikuasai oleh prinsip realitas, dan (3) superego yaitu tempat kesadaran dan keyakinan akan nilai-nilai berada (dikuasai oleh prinsip moral). Perbedaan pada individu dapat melahirkan sinergitas dengan baik namun tidak jarang pula menimbulkan terjadinya konflik sosial.
a. Interaksi sosial
Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial lebih menonjol dari pada keberadaannya sebagai makhluk individu. Bahkan jika ditinjau dari kemandiriannya, ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu adalah makhluk sosial dan bukan makhluk individu. Keberadaan manusia yang tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan manusia lain merupakan alasan kuat bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Pendapat lain tentang manusia diungkapkan oleh Kuypers (dalam Santoso, 2014) bahwa hakikat manusia ada tiga. Pertama, manusia sebagai makhluk individu yang memiliki aktivitas bersifat individu seperti mempunyai indra, memiliki minat, dan
pengalaman. Kedua, manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa saling berhubungan. Ketiga, manusia sebagai makhluk berketuhanan yang membutuhkan hubungan dengan Tuhannya sesuai norma agama yang diyakini. Perbedaan-perbedaaan individu dalam berbagai sifat dan potensi menjadi penyebab manusia ”dipaksa” oleh keberadaannya untuk berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi menjadikan manusia dapat memenuhi kebutuhannya, dengan interaksi akan membuat manusia mampu menutupi kekurangannya. Jadi interaksi sosial adalah keniscayaan bagi seorang manusia atau individu.
Interaksi sosial yang terjadi disebabkan oleh adanya dorongan dari setiap individu. Dorongan itu disebut dorongan sosial (Santoso, 2014). Apa dorongan sosial itu? Secara rinci disebutkan faktor-faktor yang menjadi pendorong terjadinya interaksi sosial. Pertama, perasaan lapar dan haus (hunger and thirst) yaitu dorongan yang memaksa individu untuk bertingkah laku memenuhi sendiri kebutuhannya namun sering memaksa menjalin interaksi dengan individu lain. Kedua, tingkah laku karena jenis kelamin (sex behavior) yakni kodrat yang diterima, baik laki-laki maupun perempuan menyebabkan mereka melakukan interaksi guna memenuhi tugas manusia melestarikan jenisnya. Ketiga adalah penyerangan (agression) yaitu kondisi manusia yang tidak lepas dari ancaman agresi individu lain sehingga terjadi interaksi menyerang-bertahan. Keempat faktor ketergantungan (dependency) yang memaksa manusia berinteraksi dengan manusia lain karena kebutuhannya tergantung pada individu lain. Contoh: ketergantungan seorang bayi terhadap ibunya. Kelima adalah kekuasaan (dominance) yaitu keadaan yang mendorong manusia menguasai individu
lain. Contoh: seorang ibu yang menguasai bayinya dalam pengasuhan atau bayi dikuasai oleh orangtuanya.
Interaksi sosial yang terjadi antar individu mulai dari anak-anak sampai orang dewasa ditandai dengan simbol-simbol. Seorang anak yang bermain perang-perangan dengan menggunakan kostum dengan meniru super hero dan meniru suara senjata yang meledak memperkenalkan dirinya sebagai super hero sungguhan kepada individu lain.
Seorang remaja putri di Sleman Yogyakarta (sumber SCTV, 2015) dianiaya dengan sadis oleh sekelompok remaja putri teman sekolahnya hanya persoalan tatto hello kitty.
Tatto hello kitty dianggap sebagai kebanggaan pribadi/kelompok sehingga ketika ada orang lain yang sebaya dengannya menggunakan tatto yang sama maka dianggap sebagai saingan yang harus dihukum atau disingkirkan.
Interaksi sosial juga terjadi di sekolah dan di dalam kelas. Interaksi sosial di sekolah ada yang disebut dengan interaksi edukasi. Interaksi edukasi merupakan interaksi yang dirancang dalam suasana pendidikan. Menurut Idi (2011:85) bahwa interaksi sesama peserta didik berbeda dengan interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan orang dewasa (pendidik). Lebih lanjut dijelaskan bahwa interaksi antara sesama peserta didik sama sekali tidak mempunyai kontribusi bagi pendidikan atau bukan interaksi edukasi. Alasannya pertama, peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain masih dalam posisi ketergantungan sosial, kedua, mereka satu sama lainnya belum ada tanggung jawab, dan ketiga antara mereka belum ada kewibawaan.
Oleh karena itulah interaksi edukasi hanya bisa terjadi apabila peserta didik berada dalam pembimbingan atau pengawasan pendidik/guru (orang dewasa). Menurut
Idi (2011:86) bahwa interaksi edukasi membawa banyak manfaat bagi peserta didik.
Pertama, interaksi memungkinkan terjadinya pendidikan. Kedua, interaksi merupakan sarana untuk wawasan diri. Ketiga, interaksi menimbulkan cita-cita. Keempat, interaksi memberi pengaruh secara diam-diam.
Interaksi sosial dalam hal pendidikan kelihatan sederhana. Namun menurut Idi (2011:88) interaksi sosial merupakan proses yang cukup kompleks. Menurutnya, interaksi sosial didasari oleh berbagai faktor. Pertama adalah imitasi yaitu dorongan untuk meniru orang lain. Faktor imitasi bahkan disebut sebagai faktor satu-satunya yang melandasi interaksi sosial. Kedua adalah sugesti yaitu dorongan bagi seseorang untuk bersikap sebagaimana harapan oleh pemberi sugesti. Dengan sugesti orang dengan sengaja memberikan pandangan, saran, norma, atau pendapat agar orang yang diberi sugesti menerima dan bertindak sesuai arahan. Ketiga adalah identifikasi, yang merupakan faktor pendorong untuk menjadi identik atau sama dengan orang lain.
Biasanya terjadi kecenderungan orang bertindak identik dengan orang yang terhormat, orang yang dikagumi, atau orang lain yang dianggap mulia. Keempat adalah simpati, yaitu faktor perasaan tertarik terhadap orang lain. Dengan adanya simpati maka akan terjalin saling pengertian yang mendalam sehingga menimbulkan rasa sosial untuk mendukung ataupun membantu.
b. Teori ruang kelas
Ruang kelas merupakan tempat interaksi sosial mini dalam arti yang sebenarnya.
Di kelas terdiri dari barbagai individu dengan multi latar yang berbeda. Ada dua hal
besar yang membedakan peserta didik di kelas yaitu perbedaan fisik dan psikis. Di kelas peserta didik merupakan himpunan berbagai suku, warna kulit, raut muka, gaya berbusana, postur badan, bahasa tubuh, cara berkomunikasi yang dikelompokkan sebagai perbedaan fisik. Begitu pula dari segi psikis, di kelas merupakan himpunan berbagai macam watak, keinginan, kesukaan, kestabilan emosi, kemampuan kognisi, dan perbedaan psikis lainnya.
Menurut Damsar (2011:104-110) terdapat beberapa pendekatan sosiologi tentang ruang kelas. Pertama, pendekatan interaksi, yaitu pendekatan interaksi yang memberikan perhatian khusus terhadap pengamatan pada metode pembelajaran dalam mengelola ruang kelas yang efisien dan efektif. Kedua, pendekatan interpretatif yaitu pendekatan yang terjadi sebelum adanya respon dari sebuah stimulus. Dua orang yang bertemu muka kemudian salah satu dari keduanya tersenyum, maka senyum yang ia terima terlebih dahulu diinterpretasi ”apa arti senyum itu” baru kemudian diberikan respon. Dalam pendekatan ini terjadi apa yang disebut dengan interaksi simbolik.
Semua simbol yang dilakukan dalam berkomunikasi merupakan isyarat stimulus yang perlu diterjemahkan sebelum direspon. Ketiga, pendekatan radikal. Menurut Damsar (2011:108) salah satu teori yang terpenting dalam pendekatan radikal adalah teori pelabelan (labelling theory). Menurutnya, teori ini disebut radikal karena ia mempertanyakan sesuatu yang dipandang ”memang seharusnya demikian.” Lebih lanjut dikatakan oleh Damsar bahwa teori pelabelan menekankan pada signifikansi label (nama, reputasi) yang diberikan pada diri seseorang. Teori pelabelan ini berkaitan dengan konsep diri sehingga pertanyaan untuk pelabelan seseorang adalah ”mengapa
seseorang dilabelkan seperti itu?” dan bukan ”bagaimana seseorang itu mendapatkan label tersebut?”
Masalah yang biasa terjadi di sekolah adalah konflik antar kelas. Banyak motif yang menjadi alasan terjadinya konflik antar kelas atau kelompok dalam sebuah sekolah. Seperti dijelaskan di atas, bahwa interaksi simbolik yang terjadi menjadi salah satu pemicu masalah. Sekelompok peserta didik yang menyatu karena alasan simbolik sering merasa disaingi oleh seseorang atau kelompok meniru apa yang menjadi simbol kebanggaannya. Persaingan seperti ini dapat saja meluas menjadi konflik kekerasan atau tindakan kriminal. Menurut Idi (2011:128) jika ada masalah antar kelas/kelompok dalam sebuah sekolah setidaknya ada beberapa cara untuk mengatasinya. Pertama, pemberian informasi, diskusi kelompok, atau hubungan pribadi. Seorang guru bisa memberikain informasi tentang hakikat perbedaan, dan bagaimana keberadaan suatu kelompok terhadap kelompok lainnya. Kedua, guru dapat menceritakan bagaimana setiap kelompok itu sangat berpengaruh terhadap kelompok lain. Ketiga, menanamkan nilai-nilai toleransi antar peserta didik. Keempat, guru membuka kesempatan seluas- luasnya untuk melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial yang luas dapat dilakukan dengan melibatkan keluarga peserta didik sehingga terjalin ikatan batin yang lebih kondusif. Kelima, guru dapat menggunakan teknik bermain peran atau sosiodrama.
Peristiwa dalam kehidupan masyarakat dapat diambil sebagai tema dari pementasan sosiodrama. Keenam, guru memanfaatkan kegiatan ekstra kurikuler secara optimal.
Menguatkan apa yang telah diuraikan pada interaksi sosial, ditemukan fakta- fakta pendukung bahwa banyak peristiwa yang tidak manusiawi dan tidak sesuai
dengan status seseorang sebagai pelajar atau peserta didik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Krneta dan Šević (2015), bahwa di sekolah pun banyak terjadi perilaku anti sosial, perilaku tidak pantas di sekolah, dan kisah-kisah kekerasan seperti yang disebutkan berikut:
“Results of the study showed that the most common forms were: (1) Antisocial behaviour: stealing, lying for personal gain, smoking, drinking and gambling;(2) Inappropriate behaviour in school: bored during classes; coming to school without adequate accessories and books for classes; not paying attention in classes and disturbing others in doing so; being late for school and coming to classes after the teacher; (3) Acts of violence: conflicts with peers;
insulting others; cursing and yelling in public areas; being involved in group fights; intentionally physically assaulted others.” (Krneta dan Šević, 2015) Hasil temuan penelitian di atas dikatakan bahwa perilaku anti sosial yang terjadi pada komunitas pelajar seperti; mencuri, berbohong, merokok, minum minuman keras dan berjudi. Perilaku yang tidak pantas di sekolah seperti; rasa bosan selama di kelas;
datang ke sekolah tanpa aksesoris yang memadai dan tidak membawa buku di kelas, tidak ada perhatian pada pelajaran di kelas, mengganggu orang lain di kelas, terlambat datang ke sekolah dan datang setelah guru sudah ada di kelas. Temuan tersebut menunjukkan betapa besar tantangan pendidikan yang dihadapi oleh orangtua, guru, dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan.