• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan dalam perspektif politik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pendidikan dalam Perspektif Teoretis dan Praktis

7. Pendidikan dalam perspektif politik

dengan status seseorang sebagai pelajar atau peserta didik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Krneta dan Šević (2015), bahwa di sekolah pun banyak terjadi perilaku anti sosial, perilaku tidak pantas di sekolah, dan kisah-kisah kekerasan seperti yang disebutkan berikut:

“Results of the study showed that the most common forms were: (1) Antisocial behaviour: stealing, lying for personal gain, smoking, drinking and gambling;(2) Inappropriate behaviour in school: bored during classes; coming to school without adequate accessories and books for classes; not paying attention in classes and disturbing others in doing so; being late for school and coming to classes after the teacher; (3) Acts of violence: conflicts with peers;

insulting others; cursing and yelling in public areas; being involved in group fights; intentionally physically assaulted others.” (Krneta dan Šević, 2015) Hasil temuan penelitian di atas dikatakan bahwa perilaku anti sosial yang terjadi pada komunitas pelajar seperti; mencuri, berbohong, merokok, minum minuman keras dan berjudi. Perilaku yang tidak pantas di sekolah seperti; rasa bosan selama di kelas;

datang ke sekolah tanpa aksesoris yang memadai dan tidak membawa buku di kelas, tidak ada perhatian pada pelajaran di kelas, mengganggu orang lain di kelas, terlambat datang ke sekolah dan datang setelah guru sudah ada di kelas. Temuan tersebut menunjukkan betapa besar tantangan pendidikan yang dihadapi oleh orangtua, guru, dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan.

luhur lainnya, maka tidak ada yang menganggapnya keliru ataupun salah. Adapun yang membedakan dari keberadaan nilai-nilai luhur tersebut adalah ketika sudah memasuki area teknis. Teknis yaitu bagaimana caranya, metodenya, pendekatannya, ataupun media apa yang digunakan untuk mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut. Dalam hal inilah apa yang disebut pedagogis (ilmu mendidik) memiliki peran yang sangat penting. Lalu di posisi manakah penguasa mesti menempatkan diri? Tentulah mereka harus berada pada posisi sebagai ”penjaga”, bagaimana agar nilai-nilai luhur yang hendak dicapai itu ”tidak terganggu” oleh kepentingan yang bertentangan dengan nilai- nilai luhur tersebut. Begitu pula penguasa selain menjadi penjaga, yang tak kalah pentingnya adalah sebagai ”pencipta” suasana kondusif untuk memudahkan dan mempercepat tujuan yang diinginkan.

Kondisi Indonesia dalam bidang pendidikan telah menuai banyak pujian maupun kritikan. Berbicara tentang kualitas pendidikan misalnya, sudah ada yang pantas dibanggakan meskipun tidak sedikit yang mengatakan bahwa kualitasnya masih jauh dari harapan. Berbagai macam analisis para ahli yang meninjau aspek-aspek yang menjadi penyebabnya. Tentang kualitas ini, Rohman (2013: 78-79) menyimpulkan bahwa paling tidak, ada tiga faktor penyebab kualitas pendidikan (sekolah) di Indonesia belum meningkat yaitu:

a. Pendidikan nasional menggunakan education production function.

Pendekatan ini meletakkan lembaga sekolah berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila semua input dipenuhi maka output yang dikehendaki secara otomatis

terpenuhi. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian karena output yang diinginkan tidak terbukti sesuai harapan meskipun kebutuhan input telah ditunaikan. Dalam hal ini menyadarkan bagi pendidik bahwa objek manusia tidak dapat disamakan dengan objek benda mati. Manusia memiliki karakteristik hidup yang kaya dengan keragaman.

Keragaman dari berbagai keunikan masing-masing individu.

b. Penyelenggaraan pendidikan nasional cenderung bersifat sentralistik-birokratik Sekolah ditempatkan sebagai penyelenggara pendidikan yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi meskipun kadangkala tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Akibatnya, sekolah kehilangan kemandirian, insisiatif, motivasi untuk memajukan dirinya mencapai kualitas.

c. Penyelenggaraan pendidikan masyarakat belum berpartisipasi secara optimal Partisipasi masyarakat amat sederhana dalam pendidikan. Partisipasi masyarakat masih terbatas pada dukungan terhadap input berupa dana, meskipun sebenarnya memungkinkan pada partisipasi yang lebih jauh. Masyarakat belum terlibat pada proses pendidikan seperti dalam hal monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas.

Berbicara tentang kualitas pendidikan persekolahan maka secara umum banyak orang memahaminya secara sempit. Menurut Arcaro (2005), ada dua hal pemahaman umum orang kebanyakan tentang kualitas yaitu: (1) kualitas dikaitkan dengan pembiayaan, semakin besar anggaran untuk suatu sekolah maka semakin tinggi kualitasnya, (2) kualitas sekolah dikaitkan dengan prestasi output berupa hasil belajar

berdasarkan hasil ujian. Padahal menurut Arcaro (2005) bahwa kualitas tidak hanya menyangkut hal-hal seperti digambarkan pada dua pemahaman di atas tetapi ada hal yang lebih kualitatif. Hal kualitas yang dimaksud adalah berkaitan dengan cita-cita atau harapan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan dan politik adalah dua hal yang saling berhubungan erat. Menurut Sirozi (2010: 1) lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk perilaku politik masyarakat, begitu pula lembaga dan proses politik membawa dampak besar bagi karakteristik pendidikan. Abernethy dan Coombe menuliskan:

”In general, the political significance of education in contemporary societies increases with the degree of change a society in undergoing. The massive changes which developing countries have already experienced and those, whether induced of not, which are in process, render all the more conspicuous the reciprocal relationship between politics and education in these areas.”

(Abernethy dan Coombe, 1965: 287).

Dikatakan bahwa secara umum politik pendidikan dalam masyarakat kontemporer meningkat signifikan seiring perubahan yang sedang terjadi. Proses perubahan besar yang dialami oleh negara berkembang baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja telah memperlihatkan hubungan timbal balik antara politik dan pendidikan.

Dua pandangan ahli di atas menggambarkan bahwa politik berpengaruh terhadap pendidikan dan pendidikan berpengaruh pada politik. Meskipun secara terang-terangan kondisi seperti ini biasanya tidak terlihat. Sehingga nampak seakan- akan bahwa politik terpisah dari pendidikan. Pada era Pilkada langsung saat inilah kelihatan bahwa politik dan pendidikan keterhubungannya begitu kuat.

Pendidikan, utamanya pendidikan formal sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Karena banyaknya yang membutuhkan sehingga isu pendidikan merupakan pilihan primadona bagi pihak penguasa untuk mengambil simpati masyarakat. Sejak dahulu hingga sekarang dinamika hubungan antara kekuasaan dan penyelenggaraan pendidikan selalu ada. Pihak penguasa atau pemerintah selalu berkepentingan untuk menjadikan pendidikan sebagai alat mengokohkan kedudukannya. Mulai zaman penjajahan Belanda dikenal adanya politik etis untuk menarik simpati dari rakyat. Politik etis dalam bidang pendidikan yaitu pemberian kesempatan kepada kaum pribumi untuk mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal (Wikipedia online).

Perkembangan infiltrasi ’campur tangan’ politik dalam sistem pendidikan di Indonesia mengalami tahapan-tahapan. Menurut Sirozi (2010: 186) ada enam periode perkembangan infiltrasi politik terhadap sistem penyelenggaraan pendidikan dan implikasi sistem pendidikan terhadap dinamika politik, yaitu:

a. Periode pertama (hingga pertengahan tahun 1800-an)

Pendidikan diasuh dan dikontrol oleh tokoh-tokoh agama. Tokoh-tokoh agama memegang otoritas tunggal sampai pada penentuan materi pelajaran yang harus dipelajari, siapa yang mengajar, dan siapa yang menjadi objek materi pelajaran tersebut. Nilai-nilai agama menjadi acuan dasar penyelenggaraan pendidikan. Sampai pada kedatangan pemerintahan kolonial Belanda sudah berdiri sistem pendidikan pondok pesantren tradisional. Pemerintah kolonial dianggap sebagai pemerintah kafir

oleh kaum santri sehingga pondok pesantren dicap oleh pemerintah sebagai sarang para pemberontak.

b. Periode kedua (1800-an – 1942)

Pendidikan diatur oleh pemerintah kolonial Belanda. Terjadi pergumulan antara misi pendidikan kolonial yang ingin menyebarkan nilai-nilai modernitas dan sekularitas untuk memperkuat kedudukannya berhadapan dengan misi dari tokoh- tokoh agama dan aktivis pergerakan kemerdekaan yang dimotori oleh kalangan pribumi terpelajar. Pemerintah Kolonial Belanda berusaha sedemikan rupa dengan berbagai upaya untuk memastikan bahwa pendidikan yang dilaksanakan selalu mendukung misi sosial, politik, ekonomi, dan tidak bertentangan dengan kepentingan kolonialisme. Pada sisi lain, kalangan tokoh agama dan tokoh pribumi terpelajar melalui pendidikan, berusaha membuka mata hati, pikiran, dan menggelorakan semangat anti penjajahan bagi kaum pribumi sehingga bangkit melawan dan berjuang membebaskan diri dari penjajahan Belanda.

c. Periode ketiga (1942 – 1945)

Pendidikan zaman pemerintahan penjajahan Jepang. Gerakan kemerdekaan sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri dan telah menjadi suatu kekuatan politik yang menentukan arah perkembangan berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk bidang pendidikan. Kegiatan pendidikan diarahkan pada diseminasi nilai-nilai dan semangat nasionalisme dan mengobarkan semangat kemerdekaan. Pada periode inilah

bahasa Indonesia secara resmi digunakan sebagai bahasa pengantar pada pendidikan formal. Kuatnya pengaruh semangat nasionalisme menjadi penyebab lahirnya aktivis- aktivis kemerdekaan dari kalangan pribumi dan membuat gerakan-gerakan politik semakin jelas dan terbuka.

d. Periode keempat (1945 – 1966)

Pendidikan era pemerintahan Orde Lama. Pendidikan diarahkan pada pemantapan nilai-nilai nasionalisme, identitas bangsa, dan pembangunan fondasi ideologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun tujuan pendidikannya adalah negara dan pengembangan karakter ”nation and character building”.

Penggerak pendidikan dikuasai oleh tokoh-tokoh nasionalis yang banyak memegang posisi penting dalam pemerintahan. Pemerintah secara sistematis menjadikan pendidikan sebagai bagian integral dalam melakukan sosialisasi ideologi dalam berbangsa dan bernegara.

e. Periode kelima (1966 – 1998)

Pendidikan era pemerintahan Orde Baru setelah Orde Lama berakhir. Pada periode ini pemerintah menjadikan pendidikan sebagai instrumen dalam pelaksanaan program pembangunan di berbagai bidang. Secara khusus bidang pendidikan diarahkan pada pengembangan pedagogi, kurikulum, organisasi, dan evaluasi pendidikan untuk mempercepat proses pembangunan. Adapun ciri-ciri sistem pendidikan pada periode Orde Baru adalah: (1) kegiatan pendidikan diwarnai kebijakan yang bersifat sekularisasi pendidikan, (2) kegiatan pendidikan difungsikan sebagai instrumen

pembangunan ekonomi nasional, (3) kegiatan pendidikan cenderung indoktrinatif, (4) pendekatan pendidikan dijalankan dengan paradigma sentralistik, (5) menteri pendidikan menjadi penguasa tunggal dalam sistem pendidikan nasional, (6) birokrasi ketat, berbelit-belit dan adanya penyeragaman.

f. Periode keenam (dimulai tahun 1998)

Pendidikan era reformasi. Pada periode ini terjadi banyak perubahan yang besar.

Semangat desentralisasi, demokratisasi, dan globalisasi dibawa oleh gerakan reformasi yang merebak ke seluruh sektor pembangunan. Dalam sektor pendidikan, semangat ini menjadi menu utama untuk menata sistem pendidikan nasional.

Era reformasi semakin menguatkan dinamika hubungan kekuasaan dengan penyelenggaraan pendidikan. Jualan partai politik pada saat kampanye menjadikan isu pendidikan sebagai prioritas utama untuk menjadi pemikat bagi calon pemilih.

Pendidikan gratis yang dinikmati saat ini merupakan salah satu hasil dari hubungan politik dan pendidikan.

Era reformasi yang membawa muatan desentralisasi dan demokratisasi di sisi lain telah banyak mengubah paradigma maupun perilaku baru bagi pendidikan. Sebagai contoh adalah aktor pendidikan formal yaitu guru. Guru di era reformasi telah banyak mengalami perubahan dalam peta perpolitikan secara nasional. Guru yang dulunya adalah figur yang anggun dalam kesahajaan saat ini bahkan telah terkontaminasi dalam dinamika perpolitikan. Beberapa fakta menunjukkan bahwa keberadaan guru telah mengalami pergeseran yang cukup berarti. Fakta-fakta tersebut menurut Rohman

(2013) adalah: (1) guru sudah terlibat dalam aksi demonstrasi dalam misi ”perlawanan”

terhadap kebijakan pemerintah, (2) dinamika kebijakan desentralisasi (otoda) telah mengubah keberadaan guru sebagai pejabat fungsional menjadi pejabat struktural.

Sedangkan untuk kondisi kekinian banyak didapati oknum guru terlibat secara praktis dalam dukung-mendukung kekuatan politik tertentu. Hal ini menurut Rohman (2013) sangat memengaruhi profesionalisme guru dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya.

Mencermati uraian periode demi periode keberadaan pendidikan dan politik di atas maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut: (1) terjadinya pergantian periode menunjukkan bahwa tidak ada yang kekal dalam setiap misi politik pendidikan yang diemban oleh penguasa, (2) dalam pendidikan terdapat dinamisasi potensi yang setiap waktu mengalami perubahan, (3) pendidikan selalu menjadi instrumen untuk kepentingan politik, (4) sistem politik yang berlaku merupakan corak warna dari sistem pendidikan yang dibangun, (5) pendidikan merupakan alat netral yang dapat dipola berdasarkan tujuan yang dikehendaki, (6) hasil pendidikan pada taraf tertentu (kedewasaan) dapat mengubah haluan dari tujuan awal (contoh: hasil pendidikan dapat menjadi blunder bagi perancangnya).

Selama ini pendidikan tidak pernah lepas dari kekuatan politik, begitu pula sebaliknya bahwa politik sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Lalu seperti gambaran pendidikan hubungannya dengan politik? Berikut ini adalah penggambaran ilustrasi yang menjelaskan tentang keterhubungan pendidikan dan politik.

Gambar 2.2. Hubungan antara Pendidikan dan Politik (Hasil analisis, 2014)