BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pendidikan dalam Perspektif Teoretis dan Praktis
5. Pendidikan dalam tinjauan psikologis
yang paling tepat mempersiapkan orang untuk membuat tatanan sosial baru (esensi teori rekonstruksionis sosial). Menurut Danim (2010: 102) bahwa teori rekonstruksionis sosial didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat dapat direkonstruksi melalui kontrol penuh dengan pendidikan. Pendidikan merupakan alat untuk memperbaiki kerusakan dan menata kehidupan manusia menurut kodratnya.
”Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang psikologi yang membahas psikologi yang bertalian dengan pendidikan, termasuk (a) tinjauan psikologis mengenai manusia dalam situasi pendidikan (sifat-sifat umum aktivitas manusia, sifat-sifat khas kepribadian manusia, sifat-sifat khas individu, dan perbedaan- perbedaan dalam bakat), dan (b) tinjauan psikologi mengenai manusia dalam proses pendidikan (masalah belajar, perkembangan individu, perubahan individu dalam proses belajar, pengukuran dan penilaian hasil pendidikan).”
(Thalib, 2008).
Definisi ini menggambarkan bahwa dalam mengelola pendidikan tidak terpaku pada guru secara formal saja. Tetapi semua orang dewasa yang berada di sekeliling objek pendidikan (peserta didik) yakni orangtua, guru-guru, orang dewasa dalam lingkup pergaulan masyarakat. Idealnya, jika pendidikan ini dapat berjalan harmonis maka semua pendidik (orangtua, guru, orang dewasa) itu semestinya tahu tentang seluk-beluk manusia secara psikologis.
Berdasarkan definisi ini pula, menguatkan alasan bahwa pengelolaan pendidikan yang baik tidak dapat dikelola tanpa berbasis kemitraan. Kemitraan yang dibangun atas dasar kesatuan pandangan tentang pentingnya transmisi nilai-nilai pendidikan secara umum dan secara khusus. Masalahnya adalah tidak semua aktor pendidik tahu atau mau mengetahui tentang hal ini, sehingga pendidikan berbasis psikologi pendidikan nyaris hanya dilakukan oleh pendidik yang bernama guru dan pemerhati pendidikan.
Berdasarkan definisi psikologi pendidikan di atas juga menunjukkan bagian- bagian psikologi yang dapat dikaji secara khusus. Bagian psikologi yang juga dekat dengan psikologi pendidikan adalah: (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi sosial. Berbicara tentang kedua psikologi tersebut, maka berikut ini masing-masing akan dianalisis secara tersendiri.
b. Psikologi perkembangan
Psikologi perkembangan termasuk kategori ilmu pengetahuan perilaku murni.
Adapun tugasnya adalah mengembangkan teori, konsep, metode, dan teknik melalui eksperimen (Prawitasari, 2012). Ruang lingkup psikologi perkembangan yaitu perkembangan rohani manusia yang dialami sejak dilahirkan sampai menjadi dewasa (Zulkifli, 2005). Dengan memperhatikan ruang lingkup ini ternyata banyak hasil pengamatan dan eksperimen penggiat psikologi perkembangan yang perlu menjadi pertimbangan akademisi dan praktisi pendidikan.
Beberapa ahli masa lalu telah banyak menyumbangkan hasil-hasil pengamatan dan eksperimen yang dapat diaplikasikan dalam memberikan perlakuan terhadap anak.
Menurut Zulkifli (2005) ahli-ahli itu mencurahkan perhatian pada perilaku-perilaku yang terjadi pada seorang anak antara lain: (1) Clara dan William Stern mempelajari permainan dan perkembangan bahasa anak-anak, (2) Meuman mempelajari cara berpikir anak dan salah satu pendapat beliau bahwa ”anak-anak bersifat sugestibel (mudah dipengaruhi) dan lekas malu”, (3) Kerschensteiner mempelajari masa perkembangan menggambar anak, (4) Piaget mempelajari cara berpikir dan bahasa pada anak-anak, (5) Langeveld melalui hasil pengamatannya berkesimpulan bahwa masing-masing masa perkembangan itu tidak mutlak harus dialami setiap anak sampai ia menjadi dewasa, (6) Declory dan Schuyten mengemukakan bahwa bakat dan minat sangat penting diperhatikan dalam pendidikan dan pengajaran anak. Informasi dari hasil pengamatan dan eksperimen seperti inilah yang perlu diketahui oleh pendidik (orang dewasa) untuk dijadikan bekal dalam mendidik anak.
c. Psikologi sosial
Definisi psikologi sosial menurut pandangan ahli berlatar belakang disiplin psikologi seperti dikemukakan oleh Allport (dalam Rahman, 2013) bahwa psikologi sosial adalah suatu disiplin ilmu yang mencoba memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku individu yang dipengaruhi oleh keberadaan orang lain, baik nyata, imajinasi, maupun karena tuntutan peran sosial. Sedangkan psikologi sosial menurut ilmuan berlatar belakang sosiologi mengatakan bahwa psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari keterkaitan antara kehidupan dan struktur sosial atau antara biografi dan masyarakat, Lindsmith, Strauss dan Denzim (dalam Rahman, 2013).
Menurut Rahman (2013) dari kedua definisi tentang psikologi sosial di atas menunjukkan adanya perbedaan penekanan. Pakar psikologi menekankan pada faktor- faktor individu sedangkan pakar sosiologi menekankan pada faktor-faktor sosial.
Walaupun demikian dalam dua definisi ini mengisyaratkan bahwa psikologi sosial mempelajari bagaimana keterhubungan antara idividu dengan masyarakat dan keduanya bisa saja saling memengaruhi (reciprocal).
Menjelaskan keterhubungan antara individu dan sosial, Santoso (2014: 15-24) mengemukakan dua pendekatan, yakni pendekatan menurut S. Stansfeld Sargend meliputi pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis, pendekatan integratif sedangkan menurut David O. Scars meliputi pendekatan biologis, pendekatan belajar, pendekatan insentif, dan pendekatan kognitif. Lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
1) Pendekatan sosiologis
Pendekatan sosiologis tentang keterhubungan individu dan sosial secara rinci dikemukakan oleh Park, Bargess, dan Bogerdus bahwa: (1) ada pengaruh kehidupan kelompok seperti kebiasaan, tingkah laku sosial terhadap kepribadian individu, (2) tidak ada dorongan dari dalam dan faktor biologis sebagai elemen yang menimbulkan tingkah laku sosial individu, (3) terbentuknya kepribadian individu menjadi penyebab dari individu itu memiliki tingkah laku sosial dan pada akhirnya menjadi makhluk sosial. Menurut pendekatan ini faktor sosial lebih memengaruhi perilaku individu.
2) Pendekatan psikologis
Pendekatan psikologis dikemukakan oleh Floyd H. Allport bahwa: (1) tingkah laku sosial individu hanya dapat dipelajari dari individu yang bersangkutan dan bukan dari lingkungan, (2) setiap kelompok memiliki jiwa kelompok yang berbeda dengan jiwa individu, (3) dasar tingkah laku sosial individu berasal dari prepostent reflexes atau semacam insting yang telah diubah oleh pengaruh kondisi sosial. Pendekatan psikologis menekankan bahwa tingkah laku sosial individu harus dipelajari sesuai kebutuhan dan potensi individu itu sendiri dalam proses belajar sosial.
3) Pendekatan integratif
Pendekatan ini merupakan langkah yang dinilai lebih lengkap dibanding dua pendekatan sebelumnya (sosiologis dan psikologis). Kelengkapan ini menurut Santoso (2014) oleh karena merupakan sumbangsih dari berbagai tinjauan yaitu: ahli antropologi, psiko-analisis, dan teori medan. Sumbangan ahli antropologi yang
dimotori oleh Luth Banedict dan Margaret Mend menyimpulkan bahwa kepribadian kebudayaan individu sangat dipengaruhi oleh pola kebudayaan tempat ia dibesarkan.
Sumbangan ahli psiko-analisis yaitu, Sigmund Freud dan Karen Horney mengemukakan bahwa; (1) ada pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian yang menyimpang dari kebiasaan pada umumnya, (2) dasar-dasar kepribadian cenderung mengarah pada pola kebudayaan masyarakat yang sering kali membuat individu itu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Sumbangan dari ahli teori medan (field theory) dengan tokohnya Kurt Lewin dan F.J.Brown. Teori medan berpendapat bahwa situasi sosial selalu memengaruhi individu sehingga yang penting adalah bagaimana individu tersebut menanggapi, menafsirkan, dan berbuat sesuai situasi sosialnya.
4) Pendekatan biologis
Pendekatan biologis menurut Santoso (2014: 18) dibagi atas dua yakni naluri dan perbedaan genetik. Tentang naluri Konrad Lorenz berpendapat bahwa dorongan agresif dalam diri individu ada sejak lahir dan tidak dapat lagi diubah sedangkan Sigmund Freud mengatakan bahwa dorongan bawaan mengarahkan individu melakukan aktivitas yang sifatnya benar atau merusak. Tentang perbedaan genetik dikatakan bahwa perbedaan susunan genetik menimbulkan tingkah laku masing- masing individu berbeda pula (Santoso, 2014).
5) Pendekatan belajar
Pendekatan belajar menjadi dasar teori perilaku dengan tokohnya Thorndike, Pavlov, Clark Hull, dan B.F. Skinner (Santoso, 2014). Berikut ini pendapat mereka.
a) Thorndike dengan teori connecsionisme mengatakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan antara kesan pancaindra dengan kecenderungan bertingkah laku. Salah satu hukum belajar yang diperkenalkannya adalah hukum Skinner yang terdiri dari: (1) Law of readiwess (hukum kesiapan) yang berbunyi; (a) jika ada kecenderungan bertindak dan dilakukan maka dapat menimbulkan kepuasan sehingga tidak melakukan tindakan lainnya, (b) jika ada kecenderungan bertindak dan tidak dilakukan maka dapat berakibat ketidakpuasan dan melakukan tindakan lain untuk mengurangi ketidakpuasan itu, (c) jika tidak ada kecenderungan bertindak dan melakukan tindakan tersebut menimbulkan ketidakpuasan dan dilakukannya tindakan lain untuk mengurangi ketidakpuasannya. (2) Law of exercise (hukum pelatihan) yaitu apa yang dialami sebelumnya (latihan) menjadikan individu dapat bertingkah laku secara benar dan tepat. (3) Law of affect (hukum akibat) yaitu jika tingkah laku itu mendatangkan kepuasan maka tingkah laku itu cenderung diulangi atau sebaliknya.
Hukum ini berkaitan dengan pengaruh pemberian hadiah atau hukuman.
b) Pavlov dengan teori classical conditioning mengatakan bahwa tingkah laku individu akan terbentuk dengan pengaturan lingkungan. Pengaturan tingkah laku didasarkan pada: (1) perangsang tidak bersyarat yaitu perangsang yang secara alami dapat menimbulkan tingkah laku tertentu, (2) perangsang bersyarat yaitu perangsang yang secara alami tidak menimbulkan tingkah laku tertentu.
c) Clark Hull dengan teori systematic behavior mengatakan bahwa penguatan (reinforcemen) penting dalam proses belajar tingkah laku, namun dalam organisasi
belajar terdapat banyak faktor yang dapat memengaruhi respon. Sehingga dibutuhkan proses belajar sistematis agar proses belajar tidak mengalami hambatan. Sebagai contoh bila seorang anak sedang belajar dan tiba-tiba seorang temannya datang mengajak bermain, agar dia tidak terpengaruh meninggalkan pelajarannya maka sebelum anak belajar, sang anak perlu memberi tahu orangtuanya bahwa bila ada yang mencarinya katakan bahwa dia tidak bisa diganggu.
d) B.F. Skinner dengan teori operant conditioning mengatakan bahwa selain hasil hubungan antara ransangan dan respon yang memengaruhi tingkah laku, masih ada dua lagi respon yaitu: (1) reinforcement response yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang tertentu, (2) operant response yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu.
Berdasarkan empat pandangan tokoh tersebut maka menurut Santoso (2014) mekanisme belajar mengandung tiga unsur. Ketiga unsur tersebut yaitu: (1) ada asosiasi dalam belajar, (2) ada penguatan (reinforcement) dalam belajar, dan (3) ada institusi dalam belajar. Berdasarkan uraian pendekatan belajar di atas menekankan bahwa peran orangtua, guru, atau orang dewasa di sekitar anak didik/peserta didik amat dibutuhkan dalam mendesain suasana kondusif untuk perubahan tingkah laku.
6) Pendekatan insentif
Salah satu tokoh pendekatan insentif bernama Edward yang berpendapat bahwa tindakan individu ditentukan oleh insentif yang diperolehnya (Santoso, 2014). Individu
bertindak dengan berhitung keuntungan yang diperoleh atau kerugian yang mungkin menimpanya. Tingkah laku atau tindakan individu dengan pertimbangan insentif merupakan keumuman. Hal ini karena insentif terikat oleh kebutuhan materi dan nonmateri individu itu sendiri. Insentif berhubungan dengan kenyamanan dan ketidaknyamanan manusia.
Pendekatan insentif didukung oleh tiga macam teori (Santoso, 2014). Pertama, teori keputusan rasional (rational decision-marketing theory) yang mengatakan bahwa seorang individu sangat memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari berbagai tingkah lakunya serta secara rasional memilih tingkah laku yang paling baik. Kedua, teori pertukaran (axchange theory) yang mengatakan bahwa tingkah laku individu yang dilakukan terhadap individu yang lain berdasarkan pertimbangan untung-rugi yang timbul akibat adanya interaksi (contoh: persetujuan antara penjual dan pembeli).
Ketiga, teori pemuasan kebutuhan (satisfaction of need theory) menyatakan bahwa seorang individu akan bertingkah laku sedemikian rupa bila tingkah lakunya dapat memenuhi kebutuhannya.
7) Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif berdasar pada apa yang dikenali atau diketahui setiap individu pada situasi sosial (Santoso, 2014). Menurutnya, pendekatan kognitif memunculkan teori atribusi (attribution theory) yaitu bagaimana individu melakukan interpretasi yang bersifat kualitas terhadap situasi sosial, sehingga individu dapat berperilaku dengan tepat sesuai situasi.
Mencermati apa yang dikemukakan oleh para ahli psikologi sosial di atas maka terungkaplah banyak hal yang semestinya menjadi perhatian oleh orang dewasa ketika mendidik anaknya atau mendidik muridnya. Dalam psikologi sosial terdapat banyak teori-teori yang dapat dijadikan sebagai pijakan dalam kaitannya dengan pendidikan (kemitraan pendidikan). Teori-teori tersebut sangat membantu dalam menjelaskan (eksplanasi) gejala-gejala yang nampak sehingga dapat bermanfaat untuk meramalkan (prediksi) hasil dari proses pendidikan yang direncanakan atau sementara dilaksanakan.