• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Umum Tafsir asy-Sya’râwî

BAB III TINJAUAN UMUM TAFSIR AL-QURTHÛBÎ, TAFSIR ASY-

B. Tafsir asy-Sya’râwî

5. Deskripsi Umum Tafsir asy-Sya’râwî

27 Husnul Hakim, Ensklopedi Kitab-Kitab Tafsir (Kumpulan Kitab-Kitab Tafsir dari

masa Klasik sampai Masa Kontemporer), h. 219

28Hasan Muarif Ambary, dkk, Ensiklopedi Islam, h. 186

Kitab tafsir ini pertama kali diterbitkan oleh majalah al-Liwâ al-Islâmî, Kairo, dimulai tahun 1986 M- 1989 M, yang dikenal memiliki corak tarbawî (pendidikan) dan ishlâhi (perbaikan). Sejak awal, kitab tafsir ini tidak pernah dinamai “kitab tafsir” akan tetapi beliau memberi judul Khawâtir asy-Sya’râwî (renungan-renungan asy-Sya’râwî).

Kitab ini merupakan hasil kreasi yang dibuat oleh murid asy- Sya’râwî, yaitu Muhammad al-Sinrawi dan ‘Abd al-Wâris al-Dasuqi dari kumpulan pidato-pidato atau ceramah-ceramah yang dilakukan asy-Sya’râwî. Sementara itu, hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab Tafsir asy-Sya’râwî di takhrij oleh Ahmad ‘Umar Hasyim.

Kitab ini diterbitkan oleh Akhbâr al-Yaum Idârah al-Kutub wa al- Maktabah pada tahun 1991 (tujuh tahun sebelum asy-Sya’râwî meninggal dunia). Dengan demikian, Tafsir asy-Sya’râwî ini merupakan kumpulan hasil-hasil pidato atau ceramah asy-Sya’râwî yang kemudian diedit dalam bentuk tulisan buku oleh murid- muridnya.29

Tujuan penulisan kitab ini adalah untuk memberi pemahaman sekitar ayat-ayat Al-Qur`an. Oleh sebab itu beliau tidak menamainya secara spesifik dengan kitab tafsir. Tulisan ini juga sekaligus sebagai klarifikasi terhadap mereka yang pernah mendengar dan membaca penafsirannya lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti benar. Padahal, ini hanyalah bentuk keprihatinan asy-Sya’râwî yang tentunya sangat relatif antara benar dan salah.

29http://abusyahmin.blogspot.com/2012/08/tafsir-al-syarawi.html, diakses tanggal 27 Juli 2019

55 Kitab ini memiliki 29 jilid, itupun belum selesai semuanya.

Adapun pendapat-pendapatnya yang lain ditulis di beberapa majalah-majalah dan surat-surat kabar.30

Namun dari referensi lain juga ada yang menyebutkan bahwa kitab tafsir ini memiliki 18 jilid, berikut uraiannya :

a) I Pendahuluan, QS. Al-Fatihah sampai QS. Al-Baqarah ayat 154

b) II QS. Al-Baqarah ayat 155 sampai QS. Ali Imran ayat 13.

c) III QS. Ali Imran ayat 14 sampai 189.

d) IV QS. Ali Imran ayat 190 sampai QS. An-Nisa’ ayat 100.

e) V QS. An-Nisa’ ayat 101 sampai QS. Al-Maidah: 54.

f) VI QS. Al-Maidah: 55 sampai QS. Al-An’aam: 109.

g) VII QS. Al-An’aam: 110 sampai QS. Al-A’raf: 188.

h) VIII QS. Al-A’raf: 189 sampai QS. At-Taubah: 44 i) IX QS. At-Taubah: 45 sampai QS. Yunus: 14.

j) X QS. Yunus: 15 sampai QS. Hud: 27.

k) XI QS. Hud: 28 sampai QS. Yusuf: 96.

l) XII QS. Yusuf: 97 sampai QS. Al-Hjr: 47.

m) XIII QS. Al-Hjr: 48 sampai QS. Al-Isra’: 4.

n) XIV QS. Al-Isra’: 5 sampai QS. Al-Kahfi; 98.

o) XV QS. Al-Kahfi; 99 sampai QS. Al-Anbiya’: 90.

p) XVI QS. Al-Anbiya’: 91 sampai QS.An-Nur: 35.

q) XVII QS.An-Nur: 36 sampai QS. Al-Qasas: 29.

r) XVIII QS. Al-Qasas: 30 sampai QS. Ar-Rum: 58.31

30Husnul Hakim, Ensklopedi Kitab-Kitab Tafsir (Kumpulan Kitab-Kitab Tafsir dari masa Klasik sampai Masa Kontemporer), h. 219-220

31http://abusyahmin.blogspot.com/2012/08/tafsir-al-syarawi.html, diakses tanggal 27 Juli 2019

Asy-Sya’râwî mengawali tulisannya dengan menjelaskan keagungan dan keutamaan Al-Qur`an, baik dari sisi sejarah, kemukjizatan maupun tahaddi (tantangan). Di dalam muqaddimahnya asy-Sya’râwî berkata :

لوح ىرطاوخ افص تابه يه امنإ و..نأرقلل اريسفت ينعت لا ميركلا نأرقلا

نكمملا نم نأرقلا نأ ول و ...تايآ عضب وأ ةيآ يف نمؤم بلق ىلع رطخت..ةيئ هنلأ ..هريسفتب سانلا ىلوأ ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر ناكل..رسفي نأ ازجعم ترهظ هل و..لمع و ملع هب و غلب هل و لعفنا هب و لزن هيلع و..هت

مهتجاح ردق ىلع سانلل نيبي نأ ىفتكا ..ملس و هيلع الله ىلص الله لوسر نكل و ))لعفا(( يه و ميركلا نأرقلا يف فيلاكتلا ماكحأ مهل نيبت يتلا ةدابعلا نم ))لعفت لا((

32

“keprihatinan saya seputar Al-Qur`an tidak dimaksudkan untuk menafsirkan Al-Qur`an. Akan tetapi, ini hanyalah semacam obat penenang bagi jiwa kaum mukminin. Sebab, seandainya seluruh Al- Qur`an harus ditafsirkan makan sudah sejak awal Rosululloh saw akan melalukan hal itu, karena beliau adalah orang yang paling mengetahui, namun ternyata beliau hanya membatasi penjelasannya sesuai dengan kebutuhan, yang sekiranya seseorang dapat beribadah dengan benar, yakni meliputi hukum-hukum agama yang paling mendasar.”

2. Sistematika penulisan

Sistematika Tafsir asy-Sya’râwi dimulai dengan menuturkan muqaddimahnya, diawali dengan menjelaskan makna surah, tertib turunnya ayat, lalu beliau menuturkan makna dan hikmah surah

32Muhammad Mutawallî Asy-Sya’râwî, Tafsir Asy-Syarâwî, (Cairo: Majama’ al- Buhûts al-Islamiyyah, 1991 M), juz 1, h. 5

57 tersebut, penjelasan-penjelasan lainnya yang sekiranya memiliki keterkaitan dengannya, mengambil ayat-ayat lain yang memiliki keterkaitan dengan ayat dimaksud. Oleh karena itu beliau dikategorikan sebagai mufassir bi al-Ma’tsur, yakni menfasirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an.33

Asy-Sya’râwî sangat konsen terhadap bahasa Arab dan Seluk beluknya beliau selalu berusaha menunjukkan beberapa makna yang dikandung oleh lafaz tersebut. Bahkan sering dijumpai beliau menampilkan beberapa kandungan makna dari sebuah lafaz, yang selanjutnya memberikan penekanan pada salah satu makna kemudian dinyatakan bahwa ayat tersebut berarti demikian. Sebagai seorang pakar bahasa Arab, tentu saja Beliau juga menuturkan kaidah-kaidah bahasa Arab, seperti Nahwu dan lain-lain.

Sedemikian mendalamnya sehingga si pembaca tidak perlu lagi menafsirkannya.

Asy-Sya’râwî juga berkeyakinan bahwa ayat-ayat Al-Quran merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, beliau selalu melihat keterkaitan makna, antara ayat satu dengan ayat lainnya. Beliau juga kadang berpendapat bahwa diantara beberapa surah ada keterkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Sementara terkait dengan persoalan persoalan akidah dan keimanan, asy-Sya’râwî memiliki metode khusus. Namun, hampir mirip dengan para mufassir modern, seperti Muhammad ‘Abduh, Muhammad Rasyîd ridha, dan Sayyid Quthb. Yakni beliau menjelaskan secara mendalam ayat-ayat yang berkenaan dengan akidah itu. Beliau juga terkadang terlalu bertele-tele pada satu sisi

33Husnul Hakim, Ensklopedi Kitab-Kitab Tafsir (Kumpulan Kitab-Kitab Tafsir dari masa Klasik sampai Masa Kontemporer), h. 222

dan mengadukan permasalahan keilmuan dan akal pada sisi yang lain hal ini beliau lakukan semata-mata agar umat Islam benar-benar memiliki akidah dan keyakinan yang benar-benar kuat bukan atas dasar taqlid. Beliau juga menyeru atau mengajak kepada mereka yang non muslim agar mau masuk agama Allah dengan cara dialog yang argumentatif terlebih dahulu,- baru kemudian memberikan sentuhan kepada qalbu dan emosi beli juga terkadang mainkan mengaitkan penafsirannya dengan teori-teori ilmiah dan rasional meski dengan pembatasan-pembatasan.34

Dokumen terkait