• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Perempuan dalam perekonomian Keluarga

BAB II PERAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

C. Peran Perempuan dalam perekonomian Keluarga

37 mengucapkan (lafaz) sami’allahu liman hamidah, maka jawablah oleh kalian: “ Rabbana walak hamdu”. Jika imam solat (dalam kedaan) berdiri maka solatlah kalian berdiri, dan jika imam solat (dalam keadaan) duduk maka duduklah kalian secara berjamaah.

Akan tetapi jika jamaahnya perempuan saja, maka tentu saja yang menjadi imam boleh perempuan, jika jamaahnya laki- laki dan perempuan makan haruslah laki-laki yang menjadi imam.

Ketika dalam pelaksanaan haji, meskipun pada umumnya banyak persamaan tetapi juga terdapat perbedaan yakni dalam hal berpakaian ihram dan melaksanakan tawaf.

Tawaf adalah ibdah yang dilakukan ketika dalam keadaan suci, dan apabila seorang perempuan sedang dalam keadaan haid, maka tidak dibenarkan melaksanakan tawaf.

Tetapi pada ibadah-ibadah lainnya, misalnya dalam berdo’a, mengeluarkan zakat, solat malam dan yang lainnya.

Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.39

Contoh perempuan yang taat dalam beribadah yaitu Sayyidatina Maryam, di dalam Al-Qur`an sebuah surat menggunakan nama Maryam, dan Maryam merupakan tipe wanita Sholihah, ibu dari seorang Nabi. Ia menjaga kesuciannya dirinya dengan mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada tuhan.40

pokok makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, pengobatan dan kebutuhan rumah tangga lainnya, sesuai dengan kemampuan suami.

Meskipun nafkah rumah tangga dibebankan kepada suami, Islam tidak melarang kepada istri membantu suaminya dalam mencari nafkah dengan persetujuan suami dan tidak menganggu pelaksanaan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 97 :

َۡن م

َُهَن يِيۡحُن ل فَٞنِمۡؤُمَ وُه وََٰ ثَنُأَۡو أَ ر ك ذَنِ مَاٗحِلَٰ صَ لِم ع َ ۥَ

َٗةَٰو ي ح

َ سۡح أِبَمُه رۡج أَۡمُهَن يِزۡج لن وَۡۖٗة بِ ي ط

َ نوُل مۡع يَ اوُن كََا مَ ِن

41

٩٧

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan

QS. At-Taubah ayat 71 :

َ ل و

َ

َ ل َض فَا مَ اۡوَن م ت ت

َُ َللّٱ

َِهِب َ

َ ٞبي ِص نَِلا جِ رلِ لَٖۚ ضۡع بََٰ عَلَۡمُك ضۡع ب ۦَ

َاَمِ م

َۡۖ اوُب س تۡكٱ

َاَمِ مَ ٞبي ِص نَِءٓا سِ نلِل و َ

َۡۚ ۡب س تۡكٱ

َ

َ ۡس و

َ اوُل

َ َللّٱ

َ

َنِم

َِهِل ۡض ف

َۡۚٓۦَ

َ َنِإ

َ َللّٱ

َاٗميِل عَ ء ۡ شََِ لُكِبَ ن كَ َ

42

٣٢

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.

(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

41 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Tafsir Al-Qur`an tematik, (Jakarta: Kamil Pustaka, 2014) jilid 3, h. 56

42 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Tafsir Al-Qur`an tematik, jilid 3, h. 55

39 QS. An-Nisa ayat 124

ن م

َ

َ نِمَ ۡل مۡع ي

َِتَٰ حِلَٰ َصلٱ

َ كِئَٰٓ ل وُأ فَٞنِمۡؤُمَ وُه وََٰ ثَنُأَۡو أَ ر ك ذَنِم َ

َ نوُلُخۡد ي

َ ةَن ۡ لۡٱ

َاٗيِق نَ نوُم ل ۡظُيَ ل و َ

43

١٢٤

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki- laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun

Perkembangan kedudukan dan peranan perempuan saat ini pesat sekali, termasuk kedudukan dan peranan mereka dalam ruang social dan politik, sehingga di berbagai negara turut sertanya perempuan dalam kehidupan kenegaraan dianggap sebagai pertanda kemajuan.44

Salah satu ulama yang mendukung perempuan memiliki peran sosial, politik hingga ekonomi yaitu Dr. Yusuf Al-Qardhawi mengatakan, “ tidak semua pekerjaan perempuan di luar rumah adalah sesuatu yang haram secara syari’at. Tidak ada seorang pun yang berhak mengharamkan sesuatu tanpa ada ada dalil syar’i yang benar dan jelas karena hukum asal dari segala hal dan tingkah laku yang biasa adalah mubah (boleh) sebagaimana hal ini sudah maklum”45

Karena hal inilah, bisa dikatakan bahwa perempuan dibolehkan untuk bekerja, terlebih untuk membantu menopang ekonomi keluarga sehingga membantu suami dalam mencukupi kebutuhan keluarga, ditinggal mati atau dicerai suami sehingga tidak mempunyai penghasilan karena tidak ada keluarga yang menanggungnya, maka bekerja menjadi tuntutan dalam dirinya.

43 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Tafsir Al-Qur`an tematik, jilid 3, h. 56

44 Huzaimah Tahido Yanggo, Fiqih perempuan kontemporer,h. 149

45 Hassan Syamsi Basya,,”Be A Great Teenager”,( Depok: Gema Insani, 2016), h.

167

Sebagaimana diriwayatkan pula bahwa Asma binti Abu Bakar membantu suaminya, Zubair bin Awwam, dalam mengurusi kudanya, menggiling biji-bijian untuk dihaluskan sampai-sampai ia mau membawa biji-bijian di atas kepalanya dari kebun suaminya yang jaraknya cukup jauh dari Madinah.46

Jauh sebelum itu juga, Khadijah r.a merupakan seorang pembisnis yang sukses dan mengelola sendiri urusan-urusan perdagangannya sebelum menikah dengan Rosululloh. Dan Khadijah juga menjadi pelopor bagi upaya memberikan hak kepada kaum wanita untuk tidak diam duduk manis di dalam rumah.47

Terjunnya perempuan dalam dunia kerja banyak memberikan pengaruh terhadap segala aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi dan keluarga, maupun kehidupan masyarakat sekitarnya.

Pertama, dilihat dari sisi ekonomi. Perempuan yang bekerja dapat membantu meringankan beban suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Tekanan inflasi dan kebutuhan manusia semakin bervariasi saat ini, sehingga banyak perempuan membantu suaminya dalam mencari nafkah dalam upaya memnuhi kebutuhan tersebut.

Kedua, dilihat dari sisi psikologisnya, perempuan yang bekerja akan disibukkan dengan sejumlah tanggung jawab di dalam pekerjaannya. Dengan kata lain, mendorongnya untuk banyak berpikir positif dan produktif.48

Adapun ulama yang tidak mendukung akan hal tersebut salah satunya yaitu Syeikh Ali Al-Qadhi, menurut beliau perempuan sangat

46Hassan Syamsi Basya,”Be A Great Teenager”, (Depok: Gema Insani, 2016),h. 167- 168

47 Abdul Mun’in Muhammad Umar, Khadijah Cinta sejati rosululloh, (Jakarta : republika penerbit, 2017), h. 270-271

48 Siti Ermawati, Peran Ganda Wanita Karier, (konflik Peran Ganda Wanita Karier ditinjau dalam Prespektif Islam, h. 63

41 dijunjung tinggi kemuliaan dan keutamaan dirinya oleh Islam, kemuliaan yang tidak ada bandingannya di masyarakat manapun.

Beliau dalam bukunya juga memaparkan bahwa di negara Timur tidak akan ditemui seorang laki-laki yang mengharuskan istri bekerja.49

Selain bekerja di luar rumah, seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga juga memiliki peran penting dalam membangun ekonomi keluarganya. Yaitu sebagai penata ekonomi rumah tangga.

Seorang istri harus menerima dan bersyukur atas penghasilan suaminya. Sebagaimana dalam QS Ibrahim ayat 7 :

َۡذوَإِ

ََنِإَ ۡمُتۡر ف كَ نِئ ل وَۡۖۡمُكَن ديِز لَۡ ۡمُتۡر ك شَنِئ لَ ۡمُكُّب رَ نَذ أ ت َ

َٞديِد ش لَ ِبا ذ ع

50

٧

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"

serta mengatur pengeluarannya agar dapat mencukupi kebutuhan dan tidak bersikap boros. Kelebihan anggaran belanja dapat digunakan sebagai modal, ditabung, disedekahkan dan hal lain yang bermanfaat.

Penggunaan dana harus dilakukan dengan perencanaan secara rasional dan disiplin. Menghindari pengeluaran yang konsumtif dan memprioritaskan pengeluaran yang produktif.51 Seperti firman Allah QS. Al-Isra ayat 27

49Syaikh Ali Al-Qadhi, rumah tanggaku karirku, wahai wanita karir tahukah letak kesalahanmu?, terj. Toha Ma’ruf dan Saiful Hadi, (Jakarta: Mustaqim, 2002) h. 167

50 Huzaimah Tahido Yanggo, Fiqh Perempuan Kontemporer, (Jakarta : Al-Mawardi Prima, 2001), h. 59

51 Huzaimah Tahido Yanggo, Fiqih perempuan kontemporer,h. 59-61

ََنِإ

َ نيِرِ ذ بُمۡلٱ َ

َ نَٰ وۡخِإَ آوُن كَ َ

َنِيِطَٰ ي َشلٱ

َ

َ ن كَ و

َُنَٰ طۡي َشلٱ

َِهِ ب رِل َ ۦَ

َُف ك

َاٗرو

52

٢٧

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara- saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya

52 Huzaimah Tahido yanggo, Fiqh Perempuan Kontemporer, h. 59

43

Dokumen terkait