BAB III METODE PENELITIAN
E. Pengumpulan Data
b) Penelaahan penyelenggaraan SAKIP secara ringkas c) Penyusunan kertas kerja reviu
4. Setelah melakukan reviu, APIP harus membuat pernyataan telah direviu dan surat tersebut merupakan bagian dari laporan kinerja.
5. Reviu dilakukan hanya atas laporan kinerja tingkat kementerian saja.
c. Pelaporan reviu
1. Rangkaian aktivitas dalam pelaporan reviu dititikberatkan pada pertanggungjawaban pelaksanaan reviu yang pada pokoknya mengungkapkan prosedur reviu yang dilakukan, kesalahan atau kelemahan yang ditemui, langkah perbaikan yang disepakati, langkah perbaikan yang telah dilakukan dan saran perbaikan yang tidak atau belum dilaksanakan.
2. Hasil pelaporan reviu merupakan dasar bagi APIP untuk membuat pernyataan telah direviu, yang antara lain menyatakan bahwa : a. Reviu telah dilakukan atas laporan kinerja untuk tahun yang
bersangkutan.
Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang sebelumnya membahas atau berkaitan dengan “Analisis Sistem Nilai Yang Dianut Dalam Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)” :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian
Metode
Penelitian Hasil Penelitian 1 Hasni
Yusrianti Dan Ruka Henda Safitri (2015)
Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Di Lingkungan Pemerintah Kota
Palembang.
Kualitatif Pada evaluasi implementasi SAKIP di Kota Palembang terbentuk 6 (enam) kelas implementasi yaitu kelas Buruk, Sangat Kurang Baik, Kurang Baik, Cukup Baik, Baik dan Sangat Baik dengan jumlah kelas frekuensi terbesar adalah pada kelas kurang baik yaitu 13 SKPD bahkan ada 3 SKPD yang berada pada kelas buruk. Hal ini dapat diartikan bahwa secara umum pencapaian tingkat implementasi SAKIP pada LAKIP SKPD Kota Palembang berada tingkat klasifikasi kurang baik sehingga sangat memerlukan asistensi dalam penyusunan LAKIP oleh BPKP.
2 Ferdelince Lunga Nani,
Efektifitas Sistem Akuntabilitas
Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Instansi Kinerja Pemerintah belum
Hyronimus Rowa Dan Ani Martini (2021)
Kinerja Instansi Pemrintahan Di Kabupaten Sumba Timur
berjalan efektif, sebagaimana tampak dalam tiga dimensi berikut: 1) pencapaian tujuan kurang terpenuhi secara keseluruhan dalam hal ketepatan waktu; 2) Integrasi, dari proses dan prosedur sosialisasi belum berjalan sesuai harapan yakni dari kuantitas kegiatan maupun hasil yang ingin dicapai, masih kurangnya respon perangkat daerah; 3) Adaptasi penyelenggaraan sistem ini dari ketersediaan sarana prasarana pendukung cukup memadai.
3 Muh.
Irfandy Azis (2020)
Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi (SAKIP) Pada Pemerintahan Kabupaten Gunung Kidul
Kualitatif Hasil penelitian terhadap evaluasi SAKIP menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi SAKIP Kabupaten Gunungkidul adalah kejelasan pedoman SAKIP, komitmen Pemerintah Daerah dan bantuan pemerintah pusat.
Sedangkan kendala yang dihadapi Kabupaten Gunungkidul adalah kurangnya pemahaman tentang pedoman SAKIP, kurangnya komitmen Pemerintah Daerah yang ditandai dengan anggaran SAKIP yang kecil sehingga membuat penerapan SAKIP Kabupaten Gunungkidul kurang optimal.
4 Hendri Murdi Dan Anne Putri (2020)
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Efektifitas Penerapan
Kuantitatif Hasil penelitian uji hipotesis menunjukan bahwa komitmen pemerintah daerah dan peran APIP berpengaruh positif signifikan, sedangkan pedoman SAKIP dan
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kota Payakumbuh
budaya kerja tidak berpengaruh terhadap efektivitas penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Pemerintah Kota Payakumbuh.
5 Ati Rosliyati (2014)
Pengaruh Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Terhadap Penerapan Good Governance
Kuantitatif Hasil penelitian yang diperoleh adalah:
(1) Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada BKPLD Kabupaten Tasikmalaya termasuk klasifikasi sangat baik. (2) penerapan Good Governance pada BKPLD Kabupaten Tasikmalaya termasuk dalam klasifikasi sangat baik.(3) Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) berpengaruh signifikan terhadap penerapan Good Governance pada kantor BKPLD kabupaten Tasikmalaya.
6 Zulfatun Ruscitasari (2019)
Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah
Kualitatif Implementasi SPK Dinas PUPESDM DIY dari mulai perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi internal hingga pencapaian kinerjanya masih belum sepenuhnya optimal dan Hasil analisis performance blueprint dari indikator kinerja tahun 2016 masih berorientasi pada penyediaan layanan (services delivery outcomes).
7 Harsya K.
Tahir, Agus T. Poputra,
Faktor-faktor Yang
Mempengaruhu
Kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadarab pada pada peraturan perundang-undangan tidak
Jessy D. L.
Warongan (2016)
Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (SAKIP) Pada Pemerintah provinsi
Sulawesi Utara.
berpengaruh signifikan terhadap penerapan SAKIP dan Komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap penerapan SAKIP dan peran APIP berpengaruh signifikan terhadap penerapan SAKIP.
8 Yunita Christy, Sinta Setiana dan Puput Cintia (2017)
Efektifitas Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Pada Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Studi Kasus Pada Badan
Kepengawaian, Pendidikan Dan Pelatihan;
Bagian Umum Dan
Perlengkapan Dan Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik)
Kuantitatif Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SAKIP berorientasi insentif tidak berpengaruh terhadap kinerja PNS dan SAKIP berorientansi eksplorasi mempegaruhi kinerja PNS di mana Penggunaan sitem pengukuran kinerja eksplorasi yang melibatkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) seperti pembelajaran, pelatihan- pelatihan dan eksperimen-eksperimen cenderung dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja dibandingkan dengan pengukuran kinerja insentif.
9 Teguh Sabaryanto (2017)
Evaluasi implementasi Sakip
Organisasi Publik (Studi Pada
Pemerintah Kabupaten Kebumen)
Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum komponen-komponen SAKIP Kabupaten Kebumen belum menunjukkan kesesuaian informasi (hubungan logis) dan beberapa kekurangannya karena tidak ketidakselasaran indikator sasaran.
10 Dwi Septi Haryani (2019)
Evaluasi Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Di Biro Hukum
Pemerintah Provisnsi Kepulauan Riau
Kualitatif Hasil Penelitian menunjuukan bahwa evaluasi pengimplementasian SAKIP pada Biro Hukum Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sudah terlaksana dengan baik sehingga memberikan kemudahan dalam pembuatan rencana kerja, pelaporan dan evaluasi kinerja yang telah dijalankan, serta dapat membantu pemerintah dalam mewujudkan pembangunan daerah.
Sumber : Peneliti Terdahulu
Perbedaan antara penelitian terdahulu dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitiannya terletak pada sistem nilai yang di anut dalam penerapan SAKIP yang dimana penelitian ini lebih fokus kepada nilai-nilai yang di anut oleh pengawai atau karyawan dalam mencapai tujuan visi dan misi dalam penerapan SAKIP dan juga penelitian ini mengunakan objek Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng (BPKPD) sedangkan penelitian terdahulu lebih fokus pada proses penerapan, efektifitas, evaluasi dan faktor-faktor pada Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Menurut (Relandani & Rohman, 2020) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan sebuah metode penelitian ilmu-ilmu sosial yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata baik itu lisan maupun tulisan dan perbuatan-perbuatan manusia, dimana peneliti tidak berusaha menghitung atau mengkuantifikasi data kualitatif yang telah diperoleh dan dengan demikian tidak menganalisis angka-angka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis sistem nilai yang dianut dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP) di Badan Pengelolaan Keuagan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitianya pada ruang lingkup kegiatan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng yang akan ditelaah adalah penerapan sistem akuntabilitas kinerja isntansi pemerintah (SAKIP) dan permasalahan yang akan dibahas pada lingkup penerapan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah adalah nilai dari perilaku pihak-pihak yang terlibat langsung dalam perapan sistem akuntabiltas kinerja instansi pemerintah.
C. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng yang beralamat di Jalan Salotungo Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng, sedangkan waktu penelitian kurang lebih 2 bulan (Februari-April 2022).
D. Jenis Dan Sumber Data
Jenis data yang gunakan dalam peneltian ini adalah data kualitatif. Pegertian data kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur atau dinilai dengan angka-angka secara langsung atau sifat datanya adalah deskriptif misalnya gambaran suatu objek, pedoman dan peraturan-peraturan yang berlaku. Data kualitatif ini pada umumnya berupa variasi-variasi persepsi bisa dari para responden atau pelanggan.
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian yang diperoleh melalui wawancara dan observasi langsung.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen Renstra yang mendukung hasil analisis penulis atas sistem nilai yang dianut dalam proses penyusunan rencana strategis di BPKPD Kabupaten Soppeng.
E. Metode Pengumpulan Data
Agar diperoleh data yang dapat diuji kebenarannya, relevan, dan lengkap maka dalam penelitian ini digunakan metode pengumpulan data berupa penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan dilakukan dengan melakukan survei secara langsung pada entitas yang akan dijadikan objek penelitian untuk mendapatkan data-data yang lengkap dan akurat yang berguna dalam penelitian.
Penelitian ini akan dilakukan dengan: (1) tanya jawab atau wawancara kepada staf pegawai yang terlibat dalam pelaksanaan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng yaitu Kepala Sub Bagian Program dan Pelaporan, anggota Tim Pelaksana renstra perwakilan, anggota Tim Pelaksana LAKIP perwakilan, serta staf pegawai senior yang terlibat dan memiliki pengetahuan yang memadai terhadap proses pelaksanaan SAKIP di Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng; (2) observasi langsung; dan (3) Studi literatur.
1. Teknik wawancara.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam (in-depth interview), yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan peneliti dengan menggunakan pedoman (guide) wawancara, tape recorder.
2. Observasi.
Teknik observasi digunakan peneliti sebagai upaya peneliti untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, menjawab pertanyaan, membantu mengerti perilaku manusia, dan evaluasi.
3. Studi Dokumentasi.
Dokumentasi dalam hal ini yaitu dengan melakukan kegiatan mencari dan mendaptkan dokumen-dokumen yang berhubungan dan terkait pelaksanaan SAKIP pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Soppeng.