• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

2.2 Penelitian Terdahulu

tetapi risikonya berbeda, maka dipilih yang risiko rendah. Kumpulan portofolio efisien Markowitz terletak pada garis batas (efficient frontier) serangkaian portofolio yang memiliki pengembalian maksimal untuk tingkat pengembalian tertentu. Inti dari efficient frontier Markowitz adalah bagaimana mengalokasikan dana ke masing-masing saham dalam portofolio untuk mencari titik maksimal portofolio.

Keterbatasan model Markowitz adalah penggunaan matriks kovarian dalam perhitungan varian portofolio sehingga teori Markowitz ini terlalu kompleks dan sulit untuk dianalisis bila jumlah saham semakin banyak, karena korelasi pada model markowitz bersifat tidak konstan serta banyak penyimpangan dikarenakan data untuk ekspektasi harus bersifat konstan, tidak boleh berubah-ubah sebab jika ekspektasi tidak akurat maka akan ada penyimpangan riil dan ekspektasi yang besar.

menggunakan metode indeks tunggal, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proporsi saham yang terbaik untuk mendapatkan return yang tertinggi dengan risiko yang rendah pada saham pada indeks LQ-45.

Berdasarkan hasil pembahasan, dapat diambil disimpulkan Pembentukan portofolio optimal pada bulan Juli 2007 – Juni 2009 dari 23 saham LQ-45 yang kontinyu masuk dalam indeks LQ-45, terdapat 4 saham yang dapat membentuk portofolio optimal, yaitu PTBA (Tambang Batubara Bukit Asam Tbk) sebesar 60,4876%, INKP (Indah Kiat Pulp & Paper Tbk) sebesar 27,1575%, UNTR (United Tractors Tbk) sebesar 10,7909%, AALI (Astra Agro Lestari Tbk) sebesar 1,5640%. Portofolio tersebut menjanjikan tingkat pengembalian sebesar 4,8693% per bulan dengan standar deviasi / risiko sebesar 23,8590%.

Sri Wulandari menggunakan 20 emiten pada saham yang termasuk dalam JII dan 20 emiten LQ-45 . Perusahaan yang dijadikan objek penelitian tersebut dipilih secara acak, dan kemudian dilakukan dua tahap sebagai berikut :

1. Dua puluh saham yang termasuk dalam LQ-45 diambil selama satu periode pengamatan yaitu dari bulan Januari hingga Juni 2008 dengan tingkat mayoritas jumlah perusahaan bergerak dibidang yang sama dengan saham lain yang akan diperbandingkan (JII).

2. Saham yang digunakan sebagai pembanding diambil dari 20 saham yang berasal dari JII dengan tingkat mayoritas jumlah perusahaan bergerak dibidang yang sama dengan saham LQ-45.

Dengan menggunakan metode indeks tunggal, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penentuan portofolio dengan menggunakan saham-saham LQ-45 dapat

memberikan return lebih tinggi dibanding dengan saham–saham yang diambil secara random (acak). Dari hasil pengolahan data harian berdasarkan data saham yang termasuk dalam JII dan LQ-45 tahun 2008 periode Januari - Juli diperoleh hasil 4 kandidat portofolio optimal dari saham JII, yakni Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), Timah Tbk (TINS), Bumi Resources Tbk (BUMI) dan 5 kandidat portofolio optimal dari saham LQ-45, yakni Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Panin Life Tbk (PNLF), Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), Timah Tbk (TINS), Bumi Resources Tbk (BUMI). Berikut adalah proporsi dana masing-masing saham yang dihasilkan dalam portofolio adalah :

Tabel 2.1 Persentase Portofolio Saham JII

1 Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) 21%

2 Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) 42%

3 Timah Tbk (TINS) 32%

4 Bumi Resources Tbk (BUMI) 5%

Saham LQ-45

1 Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) 13.5%

2 Panin Life Tbk (PNLF) 7.5%

3 Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) 36%

4 Timah Tbk (TINS) 27%

5 Bumi Resources Tbk (BUMI) 16%

Mokhamad Sukarno menggunakan model indeks tunggal terhadap 33 saham anggota sampel, hasilnya menunjukkan hanya 14 saham yang mempunyai nilai excess return to beta lebih besar dari nilai cut off-point (C*) = 0,024 dan menjadi kandidat portofolio. Portofolio optimal dibentuk dengan cara memilih saham yang mempunyai excess return to beta

terbesar dengan basis perhitungan periode tiga tahun. Jadi dalam penelitian ini portofolio optimal dibentuk oleh saham AALI dan PGAS yang mempunyai nilai ERB terbesar, yaitu ERBAALI = 0,86 % dan ERBPGAS = 0,37 %. Komposisi atau proporsi dana masing- masing saham pembetuk portofolio optimal adalah sebesar 48,54% untuk saham AALI.dan 51,46% untuk saham PGAS. Expected return portofolio sebesar E(Rp) = 0,072 % dengan tingkat risiko sebesar (σp) = 0,196 % dan nilai excess return to beta sebesar ERBp = 0,61 %.

Saham yang mempunyai koefisien beta antar waktu relatif stabil berarti mempunyai nilai excess return to beta yang relatif stabil juga. Oleh karena itu investor perlu membandingkan nilai excess return to beta tiap saham kandidat dengan basis periode waktu yang berbeda. Investasi pada saham selalu mengandung unsur risiko, baik unsystematic risk maupun systematic risk. Unsystematic risk dapat dihindari investor melalui diversifikasi, yaitu dengan membentuk portofolio. Sedangkan systematic risk dapat dihindari investor dengan memilih saham-saham yang mempunyai nilai excess return to beta yang besar.

Informasi nilai beta dan nilai excess return to beta dapat dimanfaatkan untuk mempertimbangkan alternatif investasi dan mengoptimalkan penyusunan portofolio saham.

Yesica Yohantin menggunakan metode CAPM terhadap saham-saham yang terdapat pada indeks JII. Dalam kalkulasi dari pendekatan CAPM dalam menilai risiko dan return pada saham JII menghasilkan 5 saham agresif dan 6 saham yang excess returnnya positif.

Saham-saham yang agresif tersebut adalah Aneka Tambang (Persero), Bumi Resources, International Nickel Indonesia, Tambang Batubara Bukit Asam, dan United Tractors.

Saham-saham yang excess returnnya bernilai positif adalah saham Aneka Tambang (Persero), Bumi Resources, Indocement Tunggal Prakasa, International Nickel Indonesia, Tambang Batubara Bukit Asam, dan United Tractors.

Jika dilihat dari korelasi, linearitas dan signifikansi saham, hampir seluruh saham- saham JII yang diteliti berkorelasi secara nyata, linear dan β saham bernilai signifikan. Ada 6 saham JII yang berkorelasi secara nyata, linear dan memiliki β saham yang signifikan, yaitu saham Aneka Tambang (Persero), Bumi Resources, International Nickel Indonesia, Tambang Batubara Bukit Asam, Telekomunikasi Indonesia, dan United Tractors.

Pilihan berinvestasi yang terbaik pada saham-saham JII di Bursa Efek Indonesia menurut CAPM dilihat dari sisi risiko dan return harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu, antara lain saham tersebut merupakan saham agresif (β > 1), excess return bernilai positif, risiko dan return berkorelasi linear, dan nilai β saham yang signifikan. Dari penelitian pada bab 4, terdapat 5 saham yang memenuhi kriteria tersebut dan layak untuk diinvestasikan yaitu :

Tabel 2.2 Return Portofolio Menggunakan CAPM Saham JII

1 Aneka Tambang E(R) : 0.02035

2 Bumi Resourse E(R) : 0.03327

3 Indocement Er(R): 0.00769

4 Inter Nickel E(R) : 0.08780

5 Tambang Batubara E(R) : 0.06448

Hanur Putro Adhianto menggunakan metode Markowitz untuk menentukan portofolio optimal dari indeks saham LQ-45 pada tahun 2009, kemudian diseleksi hanya perusahaan dari sektor perbankan saja. Berdasarkan kriteria tersebut maka terpilihlah 6

saham perbankan yaitu Bank BCA (BBCA), Bank BNI (BBNI), Bank BRI (BBRI), Bank Danamon (BDMN), Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Pan Indonesia (PNBN).

Selanjutnya, dari saham-saham bank tersebut untuk mengetahui optimalisasi portofolio yang nantinya akan dibentuk akan dilakukan perhitungan terlebih dahulu dalam hal:

Expected return & risk

• Koefisien korelasi & kovarian

Efficient frontier

Setelah melakukan perhitungan dan analisis berdasarkan daftar harga penutupan setiap akhir bulan, maka diperoleh saham-saham yang masuk dalam portofolio yaitu saham Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Bank Danamon (BDMN), Bank Mandiri (BMRI) dengan proporsi sebagai berikut :

Tabel 2.3 Proporsi Saham Portofolio

Saham LQ-45 %

1 Bank BCA (BBCA) 50,2%

2 Bank BRI (BBRI) 33,8%

3 Bank Danamon (BDMN) 9,8%

4 Bank Mandiri (BMRI) 6,2%

Namun seiring berjalannya penelitian ini, peneliti menemukan jawaban lainnya dari pengembangan portofolio yang telah terbentuk, yaitu bahwa:

1. Didapatkan pula Global Minimum Variance (GMV), yaitu pada tingkat return 4,75%

dan standar deviasi 11,0%. Portofolio yang terbentuk pada GMV adalah berisi 53,9% saham BBCA, 36,6% saham BBRI, 9,0% saham BDMN dan 0,5% saham PNBN.

2. Menggunakan pendekatan teori Sharpe yang menyempurnakan teori model Markowitz maka didapatkan portofolio optimum dari perpotongan kurva efficient frontier dan kurva CML pada portofolio yang berisi 8,8% saham BBCA, 27,0%

saham BBNI, 1,1% saham BDMN dan 63,1% saham BMRI. Dengan tingkat return 8,50% dan tingkat standar deviasi 13,7%.

Dokumen terkait