Bab VIII Harga Transfer
B. Penentuan Harga Transfer
Alur dasar penentuan harga transfer
96 1. Keputusan dalam pemilihan sumber (sourcing decision), menetapkan atau menentukan dimana produk harus dibeli dari luar/eksternal perusahaan atau sebaliknya menetapkan pembelian dari dalam perusahaan/internal.
2. Keputusan penetapan/penentuan harga transfer
Jika dibeli didalam perusahaan pada harga transfer berapa yang harus ditetapkan ke pada pembeli. Sehingga tidak terjadi kerugian harga transfer antara penjual dan pembeli.
Tujuan penetapan harga transfer :
1. Dapat memperoleh informasi harga yang relevan
2. Memudahkan pengelolaan harga dan menghindari persaingan harga 3. Dapat membantu mengatur cash flow anak/cabang perusahaan
4. Meminimalkan beban pengenaan pajak, bea masuk dan biaya pengiriman 5. Memotivasi manajer dalam mencapai tujuan
B.PENENTUAN HARGA TRANSFER Alur dasar penentuan harga transfer
Metode penentuan harga transfer ada 4 yaitu : 1. Metode Market Price/Harga pasar
Metode ini paling disukai karena harga transfer dihitung dengan harga yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar, sehingga produk yang dijual oleh divisi penjual dibeli oleh divisi pembeli dengan harga yang sama apabila dijual ke pihak eksternal perusahaan.
Full costing Variabel costing Activity-based costing
Harga Pasar
Variabel costing
Activity-based costing Biaya
sesungguhnya
Biaya standar Biaya
Full costing
Dasar Penentuan harga transfer
97 Teori dan Aplikasi Metode penentuan harga transfer ada 4 yaitu:
1. Metode Market Price/Harga pasar
Metode ini paling disukai karena harga transfer dihitung dengan harga yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar, sehingga produk yang dijual oleh divisi penjual dibeli oleh divisi pembeli dengan harga yang sama apabila dijual ke pihak eksternal perusahaan.
Untuk menghitung harga transfer dengan metode harga pasar menggunakan metode minus jika jual beli dilakukan antara divisi dalam perusahaan. Metode harga pasar minus sebagai berikut:
Harga yang berlaku di pasar Rp xxxxxx
Biaya yang dapat dihindari:
Potongan penjualan Rp xxxx
Biaya iklan Rp xxxx
Biaya angkut penjualan Rp xxxx
Komisi penjualan Rp xxxx
Biaya penagihan Rp xxxx Rp xxxxxx
Harga transfer minus Rp xxxxxx
Kelemahan metode market price adalah jika produk tidak tersedia di pasar, maka tidak bisa menggunakan metode ini. Jika produk yang ditransfer memiliki harga pasar, (harga pasar produk merupakan biaya kesempatan), baik bagi divisi penjual maupun pembeli sehingga harga tersebut merupakan dasar yang adil sebagai dasar penentuan harga transfer bagi divisi yang terlibat. Keunggulan metode market price adalah harga transfernya cukup objektif.
2. Metode Harga Pokok
Metode harga pokok produksi dihitung berdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang ditambah dengan laba, metode ini digunakan apabila tidak diketahui nilai pasar produk/
jasa.
Kelemahan metode ini yaitu:
a. Divisi pembeli akan cenderung membeli diluar dengan harga yang lebih murah, karena apabila divisi tidak mampu secara continously memproduksi barang maka harga transfer produk yang dihasilkan akan jauh lebih tinggi dari pada harga produk
98 Akuntansi Manajemen
yang dijual di perusahaan eksternal.
b. Penentuan harga transfer ini susah untuk mengubah harga yang bertujuan kompetitif atau strategik.
Metode harga pokok ini memperhitungkan harga transfer ber dasarkan komponen biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang bersifat tetap mau pun variabel. Terdapat dua metode perhitungan harga pokok yaitu full costing dan variabel costing. Perbedaan pokok di antara kedua metode ini dapat dilihat pada bab sebelumnya.
3. Metode Negosiasi
Adalah penetapan harga transfer berdasarkan negosiasi/kesepakatan antara kedua pusat pertanggungjawaban.
Ilustrasi:
PT. RODALINK mempunyai dua divisi yaitu divisi A (suku cadang) dan divisi B (produk). Melakukan transaksi, divisi penjual (divisi A) divisi pembeli (divisi B). Devisi A menjual kepada pihak luar, namun apabila tidak menjual pada pihak luar, divisi A akan menjual ke divisi B, maka divisi A dapat menghemat biaya pemasaran dan distribusi.
Semisal perusahaan bekerja selama 300 hari/tahun, dan informasi dari divisi tersebut adalah sebagai berikut:
Divisi A
Unit produk perhari 100
hari kerja (100x300 hari) 30.000
harga jual @Rp.200x30.000 6.000.000
biaya pemasaran dan distribusi 600.000
biaya tetap per tahun 1.500.000
biaya manufaktur variabel 1.500.000
Kedua divisi sepakat melakukan harga transfer negosiasi, dengan menjual produk dari divisi A ke divisi B, maka divisi tidak perlu mengeluarkan biaya pemasaran dan distribusi variabel. Berapa harga transfer negosiasi ?
Jawab:
• Harga transfer minimumnya antar divisi Rp. 6.000.000,00 − Rp. 600.000,00 = Rp. 5.400.000,00
99 Teori dan Aplikasi
• Harga per unitnya Rp. 5.400.000,00/30.000 = Rp. 180,00/
init
• Harga maksimum adalah Rp. 6.000.000,00 atau per unit Rp. 6.000.000,00 /30.000= Rp. 200,00/unit
Kedua divisi hendak merealisasi harga transfer negosiasi yang sudah disepakati yaitu
(Rp. 200,00 + Rp. 180,00)/2 = Rp. 190,00/unit Laba pada divisi A:
Jika harga negosiasi Rp. 190,00/unit,
maka diperoleh (Rp. 190,00 − Rp. 180,00) X 30.000 = Rp.
300.000,00
4. Metode Koordinasi (Arbitrase) dan Penyelesaian Konflik
Metode ini digunakan apabila tidak ditemukan kesepakatan dari negosiasi yang dilakukan sebelumnya dalam penentuan harga transfer yang menyerahkan dan mempercayakan penentuan harga transfer secara tertulis kepada pihak arbitrator.
Ilustrasi:
Pada kasus PT. RODALINK pada soal diatas metode negosiasi, harga transfer disetujui berdasarkan negosiasi Rp. 190,00, tetapi karena masingmasing divisi tidak setuju dengan harga transfer maka direksi sebagai arbitrator dapat menentukan harga transfer sebesar misalnya Rp. 195,00
PEMANTAPAN
1. Jelaskan yang dimaksud dengan harga transfer?
2. Carilah Ilustrasi perusahaan di Indonesia yang menerapkan harga transfer selain PT. Nestlé!
3. Jelaskan perbedaan metode market price/harga pasar dengan metode harga pokok!
4. Sebutkan kelemahan dari metode harga pokok pada harga transfer!
5. Bagaimanakah penerapan metode koordinasi (arbitrase) dan penyelesaian konflik pada harga transfer?
6. Jelaskan latar belakang timbulnya kebutuhan penentuan harga transfer!
7. Carilah Ilustrasi perusahaan yang telah menerapkan harga transfer metode harga pokok!
100 Akuntansi Manajemen
8. Jelaskan penentuan harga transfer metode koordinasi (arbitrase) dan penyelesaian konflik dengan ilustrasi Ilustrasi dari perpektif saudara!
9. PT. XYZ saat ini memiliki dua profit center yaitu divisi X dan divisi Y. Divisi X memproduksi 1.000 unit kompenen printer dan dijual ke divisi Y atau ke pasar eksternal, dengan harga pasar Rp. 1.000,00/unit. Biaya produk kompenen printer yaitu biaya variabel Rp. 300,00, biaya tetap Rp. 500.000,00. Biaya yang dapat dihindari (avoidable cost) jika produk Divisi X dijual ke Divisi Y dengan adanya biaya penjualan terdiri dari: discon pe runit Rp.
60,00. biaya iklan Rp. 40,00/unit dan biaya distribusi dan lainnya sebesar Rp. 20,00/unit. Produk divisi X (kompenen printer) masih dilakukan pengelohan oleh Divisi Y menjadi (alat printer tertentu) dengan biaya tambahan Rp. 1.200,00/unit. Produk dari divisi Y (alat komputer tertentu) dapat dijual dengan harga Rp. 2.500,00/
unit. Dengan biaya pemasaran sebesar Rp. 400,00/unit. Asumsikan kompenen printer (produk divisi X) dihasilkan 60% dijual kepada divisi Y sebagai bahan baku, dan sisanya dijual ke pasar/regular Diminta:
Hitunglah laba dari masingmasing divisi dari perusahaan ini, dengan harga transfer pasar!
10. PT. CURCUMA memiliki divisi A dan B, kebijakan oleh kantor pusat menggunakan transfer pricing dengan “ full cost plus”, namun masing
masing divisi diberi keleluasaan untuk mark-up dalam penetapan harga penuh. Kedua divisi ini setuju menjual produk ke pasar luar Rp.
7.000,00/unit di pasar luar. Divisi B mampu membeli produk divisi A dari pemasok luar dengan harga yang sama pula, namun divisi B dapat konsesi kalau produk itu dibelinya dari internal persahaan (divisi A). Biaya penuh produk A Rp. 5.000,00/unit. Kalau divisi A menjual secara internal maka biaya penjualan dan distribusi sebesar Rp. 1.000,00 dapat dihilangkan/dihindari, dan penjualan mencapai 20.000 unit, sesuai dengan kapasitas propduksi dianggap tidak ada produk yang menganggur. Kedua divisi melakukan negosiasi dengan cost plus transfer pricing.
Diminta: Hitunglah transfer pricing minimum dan maksimum, jika harga transfer adalah nilai tengah antara harga transfer minimum dan maksimum!
101
Bab 9
PENGANGGARAN MODAL
A. PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING)
Istilah penganggaran modal digunakan untuk menggambarkan tindakan perencanaan dan pembelanjaan pengeluaran modal, seperti untuk pembelian peralatan baru, mesin baru, bisnis baru, inovasi produk baru.
Penganggaran modal juga dapat disebut sebagai suatu konsep investasi, sebab penganggaran modal melibatkan suatu pengikatan (penanaman) dana di masa sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan yang dikehendaki di masa mendatang. Keuntungan atau tingkat pengembalian yang diharapkan tidak lepas dari adanya risiko yang harus dihindari. Maka dari itu setiap usulan proyek investasi harus dinilai atau dipertimbangkan terlebih dahulu sehingga keputusan akan menerima atau menolak proyek investasi tersebut tepat atau sesuai dengan tujuan. Maka pihak manajemen memerlukan banyak informasi pendukung untuk memilih investasi terbaik diantara berbagai alternative investasi yang tersedia.
B. METODE PENILAIAN INVESTASI
Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk memilih berbagai macam alternatif investasi:
1. Metode periode pengembalian 2. Average return on investment 3. Metode nilai sekarang bersih 4. Metode indeks profitabilitas
5. Metode internal rate of return – IRR 6. Metode modified internal of return – MIRR
102 Akuntansi Manajemen
1. Metode periode pengembalian (pay back method)
Periode pengembalian (pay back period), merupakan Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan–penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut atau untuk mengukur kecepatan kembalinya dana yang diinvestasikan a. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya berbeda
103 Periode pengembalian (pay back period), merupakan Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan–
penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut atau untuk mengukur kecepatan kembalinya dana yang diinvestasikan
a. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya berbeda a – b
Periode pengambalian = n + x 1 tahun c - b
Dimana:
n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula
a = Jumlah investasi mula-mula
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1
b. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya sama investasi awal
Periode pengambalian = x 1 tahun arus kas
Usulan proyek investasi dengan menggunakan pay back period jika:
Periode pengembalian lebih cepat : layak (usulan layak diterima)
Periode pengembalian lebih lama : tidak layak (usulan ditolak)
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu maka periode pengembalian yang lebih cepat yang dipilih
Ilustrasi arus kas setiap tahun jumlahnya sama
Diketahui Usulan proyek investasi PT. ABC sebesar Rp. 500 juta, umurnya diperkirakan 6 tahun tanpa nilai sisa, arus kas pertahun yang dihasilkan selama umur proyek Rp. 100 juta dan umur proyek yang disyaratkan 4 tahun. Berapa periode pengembalian proyek investasi tersebut adalah :
Rp. 500 juta
Periode pengembalian = x 1 tahun Rp. 100 juta
Dimana:
n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mulamula
a = Jumlah investasi mulamula
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1
b. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya sama
103 Periode pengembalian (pay back period), merupakan Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan–
penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut atau untuk mengukur kecepatan kembalinya dana yang diinvestasikan
a. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya berbeda a – b
Periode pengambalian = n + x 1 tahun c - b
Dimana:
n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula
a = Jumlah investasi mula-mula
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1
b. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya sama investasi awal
Periode pengambalian = x 1 tahun arus kas
Usulan proyek investasi dengan menggunakan pay back period jika:
Periode pengembalian lebih cepat : layak (usulan layak diterima)
Periode pengembalian lebih lama : tidak layak (usulan ditolak)
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu maka periode pengembalian
yang lebih cepat yang dipilih
Ilustrasi arus kas setiap tahun jumlahnya sama
Diketahui Usulan proyek investasi PT. ABC sebesar Rp. 500 juta, umurnya diperkirakan 6 tahun tanpa nilai sisa, arus kas pertahun yang dihasilkan selama umur proyek Rp. 100 juta dan umur proyek yang disyaratkan 4 tahun. Berapa periode pengembalian proyek investasi tersebut adalah :
Rp. 500 juta
Periode pengembalian = x 1 tahun Rp. 100 juta
Usulan proyek investasi dengan menggunakan pay back period jika:
Periode pengembalian lebih cepat: layak (usulan layak diterima)
Periode pengembalian lebih lama: tidak layak (usulan ditolak)
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu maka periode pengembalian yang lebih cepat yang dipilih
Ilustrasi arus kas setiap tahun jumlahnya sama
Diketahui Usulan proyek investasi PT. ABC sebesar Rp. 500 juta, umur nya diperkirakan 6 tahun tanpa nilai sisa, arus kas pertahun yang dihasilkan selama umur proyek Rp. 100 juta dan umur proyek yang disyaratkan 4 tahun. Berapa periode pengembalian proyek inves tasi tersebut adalah:
103 Teori dan Aplikasi
103 Periode pengembalian (pay back period), merupakan Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan–
penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut atau untuk mengukur kecepatan kembalinya dana yang diinvestasikan
a. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya berbeda a – b
Periode pengambalian = n + x 1 tahun c - b
Dimana:
n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula
a = Jumlah investasi mula-mula
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke – n c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1
b. Rumus periode pengembalian jika arus per tahun jumlahnya sama investasi awal
Periode pengambalian = x 1 tahun arus kas
Usulan proyek investasi dengan menggunakan pay back period jika:
Periode pengembalian lebih cepat : layak (usulan layak diterima)
Periode pengembalian lebih lama : tidak layak (usulan ditolak)
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu maka periode pengembalian yang lebih cepat yang dipilih
Ilustrasi arus kas setiap tahun jumlahnya sama
Diketahui Usulan proyek investasi PT. ABC sebesar Rp. 500 juta, umurnya diperkirakan 6 tahun tanpa nilai sisa, arus kas pertahun yang dihasilkan selama umur proyek Rp. 100 juta dan umur proyek yang disyaratkan 4 tahun. Berapa periode pengembalian proyek investasi tersebut adalah :
Rp. 500 juta
Periode pengembalian = x 1 tahun Rp. 100 juta
= 5 tahun
Periode pengembalian 5 tahun lebih kecil dari yang disyaratkan maka usulan proyek investasi adalah diterima
Ilustrasi arus kas setiap tahun jumlahnya berbeda
Suatu usulan proyek investasi senilai Rp. 600 juta dengan umur ekonomis 5 tahun, syarat periode pengembalian 2 tahun dan arus kas pertahun adalah:
• Tahun 1 RP. 300 juta
• Tahun 2 Rp. 250 juta
• Tahun 3 Rp. 200 juta
• Tahun 4 Rp. 150 juta
• Tahun 5 Rp. 100 juta
Arus kas dan arus kas kumulatif
Tahun Arus kas Arus kas kumulatif
1 300.000.000 300.000.000
2 250.000.000 550.000.000
3 200.000.000 750.000.000
4 150.000.000 900.000.000
5 100.000.000 1.000.000.000
Periode Pengembalian
104 = 5 tahun
Periode pengembalian 5 tahun lebih kecil dari yang disyaratkan maka usulan proyek investasi adalah diterima
Ilustrasi arus kas setiap tahun jumlahnya berbeda
Suatu usulan proyek investasi senilai Rp. 600 juta dengan umur ekonomis 5 tahun, syarat periode pengembalian 2 tahun dan arus kas pertahun adalah :
◦ Tahun 1 RP. 300 juta
◦ Tahun 2 Rp. 250 juta
◦ Tahun 3 Rp. 200 juta
◦ Tahun 4 Rp. 150 juta
◦ Tahun 5 Rp. 100 juta Arus kas dan arus kas kumulatif
Tahun Arus kas Arus kas kumulatif
1 300.000.000 300.000.000
2 250.000.000 550.000.000
3 200.000.000 750.000.000
4 150.000.000 900.000.000
5 100.000.000 1.000.000.000
Periode Pengembalian
Rp. 600 juta – Rp. 550 juta
= 2 + x 1 tahun
Rp. 750 juta – Rp. 550 juta
= 2,25 tahun atau 2 tahun 3 bulan
Periode pengembalian lebih dari yang disyaratkan maka usulan proyek investasi ini di tolak
Periode Pengembalian Dengan Diskonto
Periode pembayaran kembali dengan arus kas bersih di diskontokan Periode pengembalian lebih dari yang disyaratkan maka usulan proyek investasi ini di tolak
Periode Pengembalian Dengan Diskonto
• Periode pembayaran kembali dengan arus kas bersih di diskontokan
104 Akuntansi Manajemen
Tahun Arus Kas Diskonto
12 % AK diskonto Kumulatif AK Diskonto 1 300.000.000 0.893 267.900.000 267.900.000 2 250.000.000 0.797 199.250.000 467.150.000 3 200.000.000 0.712 142.400.000 609.550.000 4 150.000.000 0.636 95.400.000 704.950.000 5 100.000.000 0.567 56.700.000 761.650.000
PV 761.650.000
Investasi awal Rp. 600.000.000, maka pada tahun ke 2 investasi belum selesai n = 2
105 Tahun Arus Kas Diskonto 12 % AK diskonto Kumulatif AK
Diskonto 1 300.000.000 0.893 267.900.000 267.900.000 2 250.000.000 0.797 199.250.000 467.150.000 3 200.000.000 0.712 142.400.000 609.550.000 4 150.000.000 0.636 95.400.000 704.950.000 5 100.000.000 0.567 56.700.000 761.650.000
PV 761.650.000
Investasi awal Rp. 600.000.000,- maka pada tahun ke 2 investasi belum selesai n
= 2
a – b
Periode pengembalian = n + x 1 tahun c - b
= 2 + [(600.000.000 – 467.150.000) / (609.550.000 – 467.150.000)]
= 2 + [ 132.850.000 / 142.400.000]
= 2 + 0,9329
= 2,9329 tahun atau 2 tahun 11 bulan 19 hari
Kelemahan pay back method:
1. nilai waktu uang dalam metode ini tidak diperhitungkan
2. pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali tidak diperlihatkan
Kelebihan pay back method:
1. Metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi.
2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua investasi yang mempunyai rate of return dan risiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat.
Kelemahan pay back method:
1. nilai waktu uang dalam metode ini tidak diperhitungkan 2. pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali tidak
diperlihatkan
Kelebihan pay back method:
1. Metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi.
2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua investasi yang mempunyai rate of return dan risiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat.
3. Metode ini merupakan alat yang paling sederhana untuk penilaian usulan proyek investasi
2. Average Return on Investment
Metode ini sering disebut Financial statement method, karena da
lam perhitungannya digunakan angka laba akuntansi
105
106 3. Metode ini merupakan alat yang paling sederhana untuk penilaian usulan
proyek investasi
2. Average Return on Investment
Metode ini sering disebut Financial statement method, karena dalam perhitungannya digunakan angka laba akuntansi
Rata-rata laba sesudah pajak Average Return on Investment =
Rata-rata investasi
Kriteria pemilihan investasi dengan metode ini adalah dimana suatu investasi akan diterima jika tarif pengembalian investasinya dapat memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen.
Ilustrasi Kasus :
Perusahaan “ABC” sedang menilai dua buah proyek A dan B yang masing- masing membutuhkan initial investment proyek A sebesar Rp. 5.000.000,00 dan proyek B Rp 6.000.000,00. Perusahaan akan menggunakan metode garis lurus (stright-line method) dalam mendepresiasi kedua proyek tersebut. Umur ekonomis masing-masing proyek adalah 5 tahun dan tidak ada nilai residu Berdasarkan informasi di atas, maka diketahui bahwa:
Proyek A Proyek B
Initial Investment
Rp 5.000.000,00 Rp 6.000.000,00
Depresiasi Rp 1.000.000,00 Rp 1.100.000,00 Jumlah cash inflow untuk masing-masing proyek dapat dicari dengan cara sebagai berikut:
CI = EAT + D Di mana:
CI = Cash Inflow
EAT = Earning after taxes atau laba bersih sesudah pajak D = Depresiasi
Kriteria pemilihan investasi dengan metode ini adalah dimana suatu investasi akan diterima jika tarif pengembalian investasinya dapat memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen.
Ilustrasi Kasus:
Perusahaan “ABC” sedang menilai dua buah proyek A dan B yang masingmasing membutuhkan initial investment proyek A sebesar Rp. 5.000.000,00 dan proyek B Rp 6.000.000,00. Perusahaan akan menggunakan metode garis lurus (stright-line method) dalam mendepresiasi kedua proyek tersebut. Umur ekonomis masingmasing proyek adalah 5 tahun dan tidak ada nilai residu
Berdasarkan informasi di atas, maka diketahui bahwa:
Proyek A Proyek B
Initial Investment Rp 5.000.000,00 Rp 6.000.000,00 Depresiasi Rp 1.000.000,00 Rp 1.100.000,00
Jumlah cash inflow untuk masingmasing proyek dapat dicari dengan cara sebagai berikut:
CI = EAT + D
Di mana:
CI = Cash Inflow
EAT = Earning after taxes atau laba bersih sesudah pajak D = Depresiasi
106 Akuntansi Manajemen
Initial Investment, Earning After Taxes dan Cash Flow untuk Kedua Usulan Proyek Perusahan “ABC”
Proyek A Proyek B
Initial Investment = Rp 5.000.000,00 Initial Investment = Rp 6.000.000,00
Tahun EAT CI Tahun EAT CI
Rp. Rp. Rp. Rp.
1 1.500.000,00 2.500.000,00 1 3.500.000,00 4.600.000,00 2 1.500.000,00 2.500.000,00 2 2.000.000,00 3.100.000,00 3 1.500.000,00 2.500.000,00 3 1.000.000,00 2.100.000,00 4 1.500.000,00 2.500.000,00 4 800.000,00 1.900.000,00 5 1.500.000,00 2.500.000,00 5 500.000,00 1.600.000,00 Rata-rata 1.500.000,00 2.500.000,00 1.560.000,00 2.660.000,00
Average rate of return
Sering pula disebut dengan istilah “accounting rate of return” yang perhitungannya dilakukan sebagai berikut:
107 Initial Investment, Earning After Taxes dan Cash Flow untuk
Kedua Usulan Proyek Perusahan “ABC”
Proyek A Proyek B
Initial Investment = Rp 5.000.000,00 Initial Investment = Rp 6.000.000,00
Tahun EAT CI Tahun EAT CI
Rp. Rp. Rp. Rp.
1 1.500.000,00 2.500.000,00 1 3.500.000,00 4.600.000,00 2 1.500.000,00 2.500.000,00 2 2.000.000,00 3.100.000,00 3 1.500.000,00 2.500.000,00 3 1.000.000,00 2.100.000,00 4 1.500.000,00 2.500.000,00 4 800.000,00 1.900.000,00 5 1.500.000,00 2.500.000,00 5 500.000,00 1.600.000,00 Rata-
rata 1.500.000,00 2.500.000,00 1.560.000,00 2.660.000,00
Average rate of return
sering pula disebut dengan istilah “accounting rate of return” yang perhitungannya dilakukan sebagai berikut:
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑟𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛=𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡
Average earning after taxes (rata-rata bersih sesudah pajak):
Average EAT =∑EAT n Di mana:
Average EAT = rata-rata keuntungan
∑ EAT = total keuntungan
n = umur ekonomis
Rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak untuk kedua proyek adalah : Average EAT proyek A
=Rp. 6.000.000,00 5
= Rp.1.500.000,00 Average EAT proyek A
107 Initial Investment, Earning After Taxes dan Cash Flow untuk
Kedua Usulan Proyek Perusahan “ABC”
Proyek A Proyek B
Initial Investment = Rp 5.000.000,00 Initial Investment = Rp 6.000.000,00
Tahun EAT CI Tahun EAT CI
Rp. Rp. Rp. Rp.
1 1.500.000,00 2.500.000,00 1 3.500.000,00 4.600.000,00 2 1.500.000,00 2.500.000,00 2 2.000.000,00 3.100.000,00 3 1.500.000,00 2.500.000,00 3 1.000.000,00 2.100.000,00 4 1.500.000,00 2.500.000,00 4 800.000,00 1.900.000,00 5 1.500.000,00 2.500.000,00 5 500.000,00 1.600.000,00 Rata-
rata 1.500.000,00 2.500.000,00 1.560.000,00 2.660.000,00
Average rate of return
sering pula disebut dengan istilah “accounting rate of return” yang perhitungannya dilakukan sebagai berikut:
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑟𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛=𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡
Average earning after taxes (rata-rata bersih sesudah pajak):
Average EAT =∑EAT n Di mana:
Average EAT = rata-rata keuntungan
∑ EAT = total keuntungan
n = umur ekonomis
Rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak untuk kedua proyek adalah : Average EAT proyek A
=Rp. 6.000.000,00 5
= Rp.1.500.000,00 Average EAT proyek A
107 Initial Investment, Earning After Taxes dan Cash Flow untuk
Kedua Usulan Proyek Perusahan “ABC”
Proyek A Proyek B
Initial Investment = Rp 5.000.000,00 Initial Investment = Rp 6.000.000,00
Tahun EAT CI Tahun EAT CI
Rp. Rp. Rp. Rp.
1 1.500.000,00 2.500.000,00 1 3.500.000,00 4.600.000,00 2 1.500.000,00 2.500.000,00 2 2.000.000,00 3.100.000,00 3 1.500.000,00 2.500.000,00 3 1.000.000,00 2.100.000,00 4 1.500.000,00 2.500.000,00 4 800.000,00 1.900.000,00 5 1.500.000,00 2.500.000,00 5 500.000,00 1.600.000,00 Rata-
rata 1.500.000,00 2.500.000,00 1.560.000,00 2.660.000,00
Average rate of return
sering pula disebut dengan istilah “accounting rate of return” yang perhitungannya dilakukan sebagai berikut:
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑟𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛=𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑎𝑥𝑒𝑠 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡
Average earning after taxes (rata-rata bersih sesudah pajak):
Average EAT =∑EAT n Di mana:
Average EAT = rata-rata keuntungan
∑ EAT = total keuntungan
n = umur ekonomis
Rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak untuk kedua proyek adalah : Average EAT proyek A
=Rp. 6.000.000,00 5
= Rp.1.500.000,00 Average EAT proyek A
Average earning after taxes (ratarata bersih sesudah pajak):
Di mana:
Average EAT = ratarata keuntungan
∑
EAT = total keuntungan n = umur ekonomisRatarata keuntungan bersih sesudah pajak untuk kedua proyek adalah:
108
=Rp. 7.800.000,00 5
= Rp.1.560.000,00
Average investment (Rata-rata investasi):
Rata-rata investasi dihitung dengan jalan membagi dua jumlah investasi.
Rata-rata ini mengasumsikan bahwa perusahaan menggunakan metode depresiasi garis lurus dan tidak ada nilai residu pada akhir umur ekonomis proyek.
Rata-rata investasi untuk masng-masingproyek adalah:
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 =𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 2 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 Proyek A =5.000.000
2 = 2.500.000 𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 Proyek B =6.000.000
2 = 3.000.000
Setelah rata-rata laba bersih sesudah pajak dan rata-rata investasi diketahui, maka average rate of return untuk masing-masing proyek adalah sebagai berikut:
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑟𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 Proyek A =1.500.000 2.500.000 = 0,6 atau 60%
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑟𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑟𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 Proyek B =1.560.000 3.000.000 = 0,52 atau 52%
Dari hasil perhitungan di atas maka proyek A lebih baik dari pada proyek B karena average rate of returnnya lebih besar dibandingkan dengan average rate of return proyek B.
Metode lain untuk menghitung average rate of return dengan menggunakan Average cash inflow. Dengan rumus: