BAB IV ANALISA PEMBAHASAN
1. Penetapan Nilai Ganti Kerugian oleh Penilai Publik
Dalam kegiatan tahapan pelaksanaan pengadaan tanah harus sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Dalam Pembangunann Jalan Tol melalui beberapa tahapan kegiatan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dalam pembangunan Jalan Tol Trans Jawa di Kabupaten Gresik adalah sebagai berikut :75
1) Pengajuan Permohonan dan Penetapan Lokasi 2) Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah (P2T) 3) Penyuluhan atau Sosialisasi
4) Pengukuran dan Penentuan Batas-Batas Jalan 5) Pendataan
6) Pengumuman Hasil Pendataan
7) Musyawarah harga dan penetapan bentuk dan besarnya Ganti Kerugian.
8) Pembayaran Ganti Rugi dan Pelepasan Hak.
Pelaksanaan pengadaan tanah sebagimana dimaksud diatas meliputi:
Identifikasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah yang pada Pelaksanaan Pengadaan Tanah pertama melakukan identifikasi dilaksanakan untuk mengetahui Pihak
75 UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum
yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah. Hasil inventarisasi dan identifikasi memuat daftar nominasi Pihak yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah. Pihak yang berhak meliputi nama, alamat dan pekerjaan pihak yang menguasai/memiliki tanah. Objek Pengadaan Tanah meliputi letak, luas, status, serta jenis penggunaan dan pemanfaatan tanah.
Pengadaan tanah yang dimaksud di sini adalah kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak," yaitu pihak yang menguasai atau memiliki objek pengadaan tanah. Sementara, ganti kerugian adalah penggantian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak dalam proses pengadaan tanah. Menurut KBBI, kelayakkan yang berasal dari kata layak memiliki arti yaitu; wajar, pantas, dan patut.76 Sedangkan adil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online adalah sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak pada yang benar dan tidak sewenang-wenang.77 Dengan berbagai muatan makna “adil”
tersebut, secara garis besar keadilan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terdapat kesamaan perlakuan dimata hukum, kesamaan hak kompensasi, hak hidup secara layak, hak menikmati pembangunan dan tidak adanya pihak yang dirugikan serta adanya keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan.
Kriteria ganti kerugian yang yang layak dan adil sering menjadi permasalahan dalam pelaksanaan pengadaan tanah, untuk dapat memprediksi ganti rugi yang diterima oleh pihak yang berhak benar- benar dikaji secara cermat dan seksama, untuk hal ini pemerintah harus dapat memberikan jaminan kepada pemegang hak atas tanah, karena
76 https://kbbi.web.id/layak. Loc.Cit.
77 http://kbbi.web.id/adil. Loc.Cit.
merupakan kewajiban pemerintah untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ganti kerugian yang layak dan adil dengan demikian menjadi pokok yang sangat penting dalam pelaksanaan pengadaan tanah yang diharapkaan agar keadilan serta kelancaran dalam penentuan ganti rugi secara musyawarah dapat tercapai.
Selanjutnya, Putusan Nomor. 61/Pdt.G/2016/Pengadilan negeri Gresik pada tahapan kegiatan Pembangunan Jalan Tol terjadi suatu permasalahan dalam tahap musyawarah harga dan penetapan bentuk dan besarnya Ganti Kerugian. Melihat besarnya nilai kerugian yang akan ditetapkan maka Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah akan mengacu pada hasil penilaian dari jasa penilai atau penilai publik.78 Besarnya nilai ganti rugi diadakan dan ditetapkan oleh ketua pengadaan tanah yang sesuai dengan peraturan perundangan di bidang pengadaan barang atau jasa pemerintah dan dilaksanakan paling lama 30 hari kerja. Mengacu pada penilai publik. Penilai Publik yakni Penilai yang telah memperoleh izin dari Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini atau penilai eksternal sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan di bidang kekayaan negara dan lelang.
Dalam hal Penetapan ganti rugi ini oleh Penilai diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum dalam ketentuan pada Pasal berikut:
Pasal 31 menyatakan bahwa:
(1).“Lembaga Pertanahan menetapkan Penilai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
78 Pasal 63 ayat (1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
(2).Lembaga Pertanahan mengumumkan Penilai yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk melaksanakan penilaian Objek Pengadaan Tanah.“
Penilaian Ganti Kerugian pasal 31 UU Nomor 2 Tahun 2012 menyebutkan bahwa, Lembaga Pertanahan menetapkan Penilai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian Lembaga pertanahan mengumumkan Penilai yang telah ditetapkan untuk melaksanakan penilaian Objek Pengadaan Tanah.
Pasal 32 menyatakan bahwa:
(1).“Penilai yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) wajib bertanggung jawab terhadap penilaian yang telah dilaksanakan.
(2).Pelanggaran terhadap kewajiban Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif dan/atau pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
Penilai yang telah ditetapkan wajib bertanggung jawab terhadap penilaian yang telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pada pasal 32 UU Nomor 2 Tahun 2012 yakni Pelanggaran terhadap kewajiban Penilai terhadap penilaian yang telah dilaksanakan dapat dikenakan sanksi administrasi dan/atau pidana.
Pasal 33 menyatakan bahwa:
“Ketentuan di dalam Pasal 33 Undang-undang No. 2 Tahun 2012, telah menentukan penilaian terhadap besarnya nilai ganti kerugian dilakukan oleh penilai yang akan menilai bidang per bidang tanah, yang meliputi:
1) Tanah;
2) Ruang atas tanah dan bawah tanah;
3) Bangunan;
4) Tanaman;
5) Benda yang berkaitan dengan tanah; dan/atau 6) Kerugian lain yang dapat dinilai.”
Ketentuan Pasal 33 tersebut yang secara tegas telah mengatur mengenai dasar dan cara penilaian besarnya ganti kerugian dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum.
Pasal 34 menyatakan bahwa:
(1).“Nilai Ganti Kerugian yang dinilai oleh Penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 merupakan nilai pada saat pengumuman penetapan lokasi pembangunan untuk Kepentingan Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26.
(2).Besarnya nilai Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Lembaga Pertanahan dengan berita acara.
(3).Nilai Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi dasar musyawarah penetapan Ganti Kerugian.”
Berdasarkan pada UU No. 2 Tahun 2012 pasal 34 angka 3 yang menjelaskan bahwa Nilai Ganti Kerugian didasarkan atas hasil penilaian Penilai, digunakan sebagai dasar dalam musyawarah penetapan Ganti Kerugian. Penafsiran pasal ini menyatakan bahwa musyawarah dalam pengadaan tanah dimaksudkan untuk kepentingan umum agar dilakukan baik terhadap bentuk maupun besaran nilai ganti kerugiannya.
Pasal 35 menyatakan bahwa:
“Dalam hal bidang tanah tertentu yang terkena Pengadaan Tanah terdapat sisa yang tidak lagi dapat difungsikan sesuai dengan peruntukan dan penggunaannya, Pihak yang Berhak dapat meminta penggantian secara utuh atas bidang tanahnya.”
Pasal 36 menyatakan bahwa:
“Pemberian Ganti Kerugian dapat diberikan dalam bentuk:
a. uang;
b. tanah pengganti;
c. permukiman kembali;
d. kepemilikan saham; atau
e. bentuk lain yang disetujui oleh kedua belah pihak.”
Nilai ganti kerugian meliputi tanah; ruang atas tanah dan bawah tanah; bangunan; tanaman; benda yang berkaitan dengan tanah, dan/atau kerugian lain yang dapat dinilai. Namun, bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian tersebut ditetapkan melalui musyawarah penetapan ganti kerugian yang apabila tidak berhasil akan di putus oleh pengadilan. Kemudian dengan diberlakukannya Pasal 36 Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2012 bertujuan untuk menyediakan tanah bagi pembangunan dengan ganti kerugian yang layak dan adil dengan tetap menjamin perlindungan hukum bagi para pihak.
Jenis ganti kerugian harus memperhatikan faktor-faktor bersifat fisik, seperti tanah, bangunan, tanaman, benda-benda lain sesuai dengan kesepakatan yang dicapai dalam musyawarah, begitupun dengan bentuk ganti kerugian. Ganti kerugian selayaknya tidak hanya hanya berbentuk dengan uang tetapi dengan bentuk-bentuk lain yang telah disepakati. Setelah itu, baru ditentukan besarnya ganti kerugian berdasarkan bentuk yang telah disepakati. Jika dalam bentuk uang
berapa jumlahnya, dalam bentuk tanah berapa luasnya, dalam bentuk pemukiman kembali seperti apa kualitas lokasi dan sebagainya.
Dengan diterimanya ganti kerugian tersebut, maka kehidupan pihak yang melepaskan tanahnya akan menjadi lebih baik, atau minimal setara dengan tingkat kehidupan sosial, ekonomi sebelum tanahnya dilepaskan untuk kepentingan umum.
Dalam hal mengenai pihak yang berhak, Pemilik tanah mendapatkan kewenangan untuk memilih jenis ganti kerugian dari beberapa bentuk ganti rugi yang ditentukan undang-undang yaitu ganti rugi bentuk uang; tanah pengganti; pemukiman kembali; kepemilikan saham; dan bentuk lain yang disetujui oleh pihak pemegang tanah dengan pihak yang memerlukan tanah. Nilai ganti kerugian meliputi tanah; ruang atas tanah dan bawah tanah; bangunan; tanaman; benda yang berkaitan dengan tanah, dan/atau kerugian lain yang dapat dinilai.
Namun, terkait dengan bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian tersebut ditetapkan berdasarkan mekanisme musyawarah penetapan ganti kerugian yang apabila tidak berhasil akan di putus oleh pengadilan.79
Konsep ganti kerugian dalam Pembebasan Tanah dan Pelepasan Hak di Kabupaten Gresik ditetapkan oleh Lembaga Independen melalui Jasa Penilai Tanah atau Penilai Publik, sementara persepsi masyarakat selama ini terhadap prosedur pengganti kerugian atau kompensasi terhadap pembebasan tanah untuk kepentingan umum adalah menginginkan ganti kerugian yang layak dan adil. Standar yang digunakan daerah ini dalam pemberian ganti kerugian atau kompensasi terhadap pembebasan tanah untuk kepentingan umum oleh Lembaga Independen Penilai Tanah adalah menggunakan standar
79 Sesuai ketentuan pasal 36 jo pasal 37 jo pasal 38 UU No.2 tahun 2012
Nilai Jual Objek Pajak dan Pajak Bumi dan Bangunan (NJOP PBB) Kecamatan Driyorejo pada tahun 2016 yakni sekitar Rp. 1.387.580/ per meter, namun Penilai Publik menetapkan nilai harga tanah milik pemilik tanah tersebut hanya sebesar Rp. 1.344.280/ per meter.
Proses pembebasan tanah tidak akan pernah lepas dengan adanya masalah ganti rugi, maka perlu diadakan penelitian terlebih dahulu terhadap segala keterangan dan data data yang diajukan dalam mengadakan taksiran pemberian ganti rugi. Apabila telah tercapai suatu kesepakatan yang melalui musyawarah mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi, maka baru dilakukan pembayaran ganti rugi terhadap tanah yang diperlukan untuk suatu pembangunan untuk kepentingan umum.
Yang kemudian setelah diberikan ganti kerugian tersebut, maka pihak pemegang hak akan melepaskan hak atas tanahnya, yang disertakan dengan penyerahan bukti kepemilikannya yang kemudian bukti tersebut akan diberikan melalui lembaga pertanahan. Bukti tersebut merupakan satu-satunya alat bukti yang sah menurut hukum dan tidak dapat diganggu gugat dikemudian hari. Pihak yang Berhak menerima Ganti Kerugian bertanggung jawab atas kebenaran dan keabsahan bukti penguasaan atau kepemilikan yang diserahkan dan bagi yang melanggarnya akan dikenai sanksi pidana sesuai dengan peraturanperundang-undangan.
Perolehan tanah untuk kepentingan umum memiliki makna untuk kepentingan publik yang dilakukan oleh negara. Tanah tersebut diperoleh dari tanah milik masyarakat, sehingga dalam proses perolehan tanah tersebut hendaknya dapat memperhatikan prinsip- prinsip keadilan serta asas-asas pengadaan tanah sehingga tidak merugikan pemegang hak atas yang merupakan pemilik asal.
Seperti yang telah penulis kemukakan sebelumnya diatas bahwa Dr. Eka Sihombing menyatakan mengenai asas-asas perolehan tanah
yang mana menurut penulis apabila dikaitkan dengan penelitian ini maka dari itu terdapat beberapa asas perolehan tanah yang menurut penulis dilanggar oleh pihak yang memerlukan tanah terhadap pemilik tanah dalam putusan Nomor.61/Pdt.G/2016/Pengadilan negeri Gresik ialah sebagai berikut:80
1) Bahwa penguasaan dan pendayagunaan tanah yang berlandaskan hak yang telah diatur sebelumnya oleh hukum tanah nasional, dilindungi oleh hukum daripada gangguan dari pihak manapun, baik oleh sesama anggota masyarakat maupun pihak yang memangku kekuasaan sekalipun. Apabila gangguan tersebut tidak memiliki landasan hukum.
2) Bahwa dalam keadaan normal, diperlukan oleh siapapun dan untuk keperluan apapun (juga untuk proyek kepentingan umum) perolehan tanah yang mana haknya dimiliki oleh seseorang harus melalui musyawarah untuk mencapai suatu mufakat, baik dalam hal penyerahan tanahnya kepada pihak yang memerlukan maupun dalam hal imbalannya yang mana hal tersebut adalah hak pemegang hak atas tanah yang bersangkutan untuk menerimanya.
3) Bahwa hubungan yang penulis sebutkan sebelumnya, dalam keadaan normal, bertujuan agar diperolehnya tanah yang diperlukan tidak dibenarkan apabila terdapat suatu paksaan dalam bentuk apapun dan oleh siapapun kepada pemegang haknya, baik dalam hal menyerahkan tanah kepunyaannya dan atau menerima imbalan yang tidak disepakati, termasuk juga pendayagunaan Lembaga.
4) Bahwa dalam perolehan atau pengambilan tanah, yang mana didasarkan kesepakatan para pihak dan pencabutan hak, pemegang
80 Irene Eka Sihombing, Segi-segi Hukum Tanah Nasional Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan, Loc.cit h.62
hak memiliki hak mendapatkan ganti kerugian atau imbalan, yang tidak sekedar meliputi tanahnya, bangunan dan tanaman pemegang hak, tetapi termasuk di dalamnya kerugian lain yang diderita sebagai akibat penyerahan tanah yang bersangkutan.
5) Bahwa bentuk dan jumlah imbalan atau ganti rugi tersebut, apabila tanah yang bersangkutan diperlukan demi kepentingan umum dan dilakukan pencabutan hak, maka diberlakukan sedemikian rupa, hingga pemegang hak sebelumnya tidak mengalami kemunduran, baik dalam bidang sosial maupun tingkat ekonominya.
Bentuk dan jumlah imbalan ganti kerugian tersebut, juga jika tanahnya diperlukan untuk kepentingan umum dan dilakukan pencabutan hak haruslah sedemikian rupa sehingga pemegang haknya tidak mengalami kemunduran baik dalam bidang sosial maupun tingkat ekonominya. Dengan demikian sulit dipahami apabila masih ada pihak yang belum melepaskan hak atas tanahnya karena tidak bersedia menerima ganti kerugian dan ganti kerugian dititipkan ke Pengadilan Negeri, Tanahnya sudah dapat dikuasai oleh pihak yang memerlukan tanah. Jika hal ini ditempuh melalui cara pencabutan hak atas tanah, memang dibenarkan karena dasar hukumnya adalah Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 mengatur tentang hal tersebut dan pencabutan hak atas tanah tersebut bukanlah perbuatan sewenang-wenang karena keberadaan lembaga pencabutan hak atas tanah didasarkan pada amanat Pasal 18 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Agraria Meskipun telah dijelaskan pada Undang-Undang Agraria dalam Pasal 18 mengenai pengadaan tanah yang menyebutkan sebagai berikut:
"Untuk kepentingan umum termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah
dapat dicabut dengan memberikan ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dalam Undang-undang”
2. Mekanisme musyawarah yang ideal dalam penetapan ganti kerugian Berdasarkan definisi Pengadaan Tanah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Pasal 1 menjelaskan bahwa Pengadaan Tanah yakni suatu kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberikan Ganti Kerugian yang layak dan adil kepada Pihak yang Berhak, konsep tersebut harus terwujud di dalam mekanisme musyawarah. Oleh karena itu, Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum yang dilakukan bagi pelaksanaan pembangunan dilakukan melalui musyawarah dalam rangka memperoleh tanah pada pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum di lokasi tersebut tentang bentuk dan/besarnya ganti rugi. Oleh karena itu, tata cara/mekanisme musyawarah yang ideal dilakukan seperti berikut :
a. Dilakukan secara langsung yang melibatkan antara pemegang hak, instasi yang memerlukan tanah dan panitia.81
b. Dalam hal jumlah pemegang hak tidak memungkinkan terselenggaranya musyawarah secara efekif, dilakukan melalui perwakilan atau melalui kuasanya.82
c. Penunjukkan kuasa dilakukan secara tertulis, bermaterai diketahui kepala desa/kelurahan tau pejabat yang berwenang.83 d. Musyawarah dipimpin oleh ketua panitia pengadaan tanah.
Apabila tercapai kesepakatan antara pemegang hak atas tanah dan instansi pemerintah yang memerlukan tanah, panitia menerbitkan keputusan berupa bentuk dan besarnya ganti rugi
81 Pasal 19 Ayat (2) UU No. 2 Tahun 2012
82 Pasal 19 Ayat (3) UU No. 2 Tahun 2012
83 Ibid., Pasal 19 Ayat (3)
sesuai kesepakatan. Selanjutnya, penggantian kerugian terhadap bidang tanah yang dikuasai dengan hak ulayat diberikan dalam bentuk pembangunan fasilitas umum atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat. Diberlakukan juga jangka waktu dan hasil musyawarah yang meliputi dalam hal kegiatan tidak dialihkan atau dipindahkan secara teknis tata ruang ke tempat lain atau lokasi lain, maka musyawarah dilakukan sejak tanggal undangan pertama. Apabila tidak tercapai kesepakatan panitia menetapkan besar ganti rugi uang kepada Pengadilan Negeri yang wilayah hukumnya meliputi lokasi tanah yang bersangkutan.
Apabila terjadi sengketa kepemilikan setelah penerapan ganti rugi, panitia menitipkan ganti rugi kepada Pengadilan Negeri.
Bentuk ganti rugi berupa uang, tanah pengganti, pemukiman kembali, pemilikan saham, atau bentuk lain yang disetujui oleh kedua belah pihak. Ganti rugi diserahkan kepada pemegang hak atas tanah, nadzir bagi tanah wakaf dan apabila tanah yang satu atau beberapa orang tidak dapat diketemukan, ganti rugi yang menjadi haknya.84
Selanjutnya di dalam tahap persiapan pengadaan tanah, Konsultasi publik pada tahap ini dilaksanakan untuk menetapkan musyawarah atas dasar kesepakatan yang di kehendaki yakni, kesepakatan menyerahkan pelepasan haknya serta pemberian ganti kerugiannya. Dalam hal pelepasan hak, seseorang tidak bisa memaksakan kehendak orang lain untuk melepaskan haknya apabila tidak memperoleh suatu kesepakatan yang diingikan namun tidak tercapai. Pada saat proses itulah masyarakat ingin dilibatkan.
Walaupun penilai publik memiliki legitimasi secara hukum untuk
84 Pasal 37 sampai dengan Pasal 40 UU No.2 Tahun 2012
menilai. namun apabila penilai publik sudah menetapkan harga, seyogyanya beritahukan kepada masyarakat mengenai harga tersebut. Karena pada kenyataannya dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum di dalamnya di atur mengenai besarnya kerugian, namun dalam Peraturan Presiden Nomor 71 tahun 2012 tidak lagi diatur sehingga ada gerbang besar yang kelihatannya tidak bisa lagi membahas mengenai besarnya ganti kerugian. Sehingga kemudian hanya dapat membahas mengenai bentuk ganti kerugian yang nanti nya akan diberikan kepada pemilik tanah.
Musyawarah menghasilkan dua hal, yaitu kesepakatan, dan kedua tidak mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian antara pemegang hak atas tanah, instansi Pemerintah yang memerlukan tanah, dan Panitia Pengadaan Tanah. Sudjito mengemukakan permusyawaratan akan dapat berjalan dengan lancar tanpa melanggar ketentuan yang berlaku apabila memegang prinsip-prinsip sebagai berikut:85
1. Dilakukan secara langsung, bersama dalam kedudukan setara sehingga semua pihak merasa dihargai peran dan kedudukannya sebagai subyek hukum;
2. Semua pihak secara sungguh-sungguh berupaya memberi dan menerima (take and give) pendapat atau pandangan pihak lain;
3. Materi atau subtansi dan target yang dimusyawarahkan jelas dan konkrit mengenai:
a. Pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum, kepentingan investasi atau kepentingan bangsa dan negara;
85 Sudjito, Kajian Yuridis Filosofis UU No. 2/2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dalam Sudjito et all, Op Cit., h.12.
b. Penggunaan, kemanfaatan dan tanggungjawab Pemerintah, investor maupun masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun;
c. Bentuk dan besarnya kompensasi atau ganti rugi.
4. Dalam musyawarah tidak boleh ada pemaksaan kehendak pihak yang satu terhadap pihak yang lain;
5. Semua pihak wajib beritikad baik, menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap terbuka dalam permusyawaratan agar dihasilkan kesepakatan tentang besar, bentuk dan tata cara pembayaran kompensasi atau ganti rugi.
Terkait dengan asas kesepakatan, Konsultasi Publik dalam ketentuannya harus dilaksanakan berdasarkan dengan asas tersebut, hal ini dilakukan bertujuan agar musyawarah antar pihak-pihak yang berkepentingan tercapai kesepakatan dan kesepahaman dalam hal perencanaan Pembangunan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Wilayah II. Konsultasi publik dilakukan paling lama 60 hari kerja. Jika sampai jangka waktu 60 hari kerja masih terdapat pihak yang keberatan, maka dapat dilakukan kembali. Setelah itu, Kesepakatan tersebut dituangkan dalam suatu bentuk berita acara sebagai dasar pengajuan penetapan lokasi. Konsultasi publik itu sendiri merupakan proses komunikasi dialogis atau musyawarah antar pihak yang berkepentingan guna mencapai kesepahaman dan kesepakatan dalam perencanaan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Dalam konsultasi publik, instansi yang memerlukan tanah menjelaskan antara lain mengenai rencana pembangunan, dan cara penghitungan ganti kerugian yang akan dilakukan oleh penilai (Tim Apprasial). Tujuan dari kegiatan konsultasi
publik yakni, untuk mendapatkan kesepakatan lokasi rencana pembangunan dari pihak yang berhak menerima.
Berita acara adalah sebuah bukti legal yang di dalamnya berisi suatu pengesahan atau pernyataan di dalam sebuah acara. Dari berita acara dapat kita lihat proses musyawarah dari setiap kelurahan bahwa pelaksanaan pemberian ganti rugi membutuhkan waktu yang cukup lama sampai menemui titik kesepakatan dan dapat dilihat beberapa alasan warga menolak hasil musyawarah ganti rugi disebabkan harga tanah dan bangunan yang dimiliki tidak sesuai dengan besar ganti rugi yang diinginkan.
Penetapan dari besar dan bentuk ganti kerugian tidak diperbolehkan dilakukan secara sepihak oleh Penilai dan Instansi yang memerlukan tanah, tetapi dilakukan melalui proses musyawarah untuk menyepakati besaran ganti rugi sebagaimana diatur dalam UU No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Pasal 37 sampai dengan Pasal 39, yang akan disebutkan dibawah ini:
Pasal 37 menyatakan bahwa:
(1).“Lembaga Pertanahan melakukan musyawarah dengan Pihak yang Berhak dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak hasil penilaian dari Penilai disampaikan kepada Lembaga Pertanahan untuk menetapkan bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34.
(2).Hasil kesepakatan dalam musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar pemberian Ganti Kerugian kepada Pihak yang Berhak yang dimuat dalam berita acara kesepakatan.”